Senin, 06 Juli 2015

19# Teh Manis

Ramadhan#19 |

Saya selalu kehilangan satu hal dari santapan sahur di waktu Ramadhan. Sesuatu yang sederhana. Satu kelengkapan sederhana itu mulai tersisih. Entah dilupakan, atau sekadar diabaikan.

Teh manis...

Saya selalu ingat bagaimana mamak di rumah menyajikannya saban Subuh. Menunjukkannya di ujung meja setelah saya melahap habis makanan berat untuk menyambut imsak. Minuman sederhana itu tak pernah luput dari sajian kami sekeluarga.

"Bangun, nak. Saatnya sahur," mamak selalu membangunkan dengan caranya. Tanpa mengancam, meski sedikit menggerutu. Saya membalasnya ogah-ogahan. Saya yakin, nyaris semua lelaki di dunia ini menggerutu ketika dibangunkan ibunya.

Teh manis hangat...

Kini digantikan oleh segelas hangat minuman cappuccino sachet seharga Rp2 ribuan. Kualitas yang sangat jauh berbeda dengan racikan para barista di coffeeshop. Suatu waktu, saya akan punya peracik kopi sendiri. Menikmati pagi, sembari bereksperimen segala aneka rasa cappuccino.

Padahal, manisnya cappuccino sangat jauh berbeda dengan seduhan daun teh. Dulu, kata mamak, minum teh sewaktu sahur bisa memberikan tambahan tenaga (kalori) untuk menjalani sahur. "Kalau sahur, minumlah yang manis-manis," pesannya, "Tak perlu makan banyak-banyak, asalkan air tubuhmu terpenuhi." Hm...saya tak ingat mamak yang lulusan SD sepandai itu.

Sementara "candu" saya itu, hanya cukup manis dalam beberapa kecap di mulut. Selebihnya, pahit terasa. Mungkin, seperti itulah gambaran pola hidup dewasa. Kita tak perlu berharap selalu kebagian perjalanan yang manis-manis. Rasa pahit, dicecap saja. Karena cappuccino atau latte tak menemukan penggemarnya tanpa espresso dalam racikannya.

Teh manis banget...

Katanya, berbukalah dengan yang manis-manis. Sementara di negeri ini, saya lebih banyak menemui yang miris-miris. Orang Indonesia, kata teman, lebih suka berbuka dengan yang miris-miris.

Hingga hari ini, saya belum pernah lagi menjumpai minuman sederhana itu di kala memulai ibadah puasa. Saya hanya menjumpai minuman-minuman komersil dalam kemasan. Dingin. Bukan yang hangat. Ah tidak. Saya pernah meminta salah seorang teman membuatkan teh hangat di waktu-waktu sahur jelang imsak. Sekali.

Kamu manis banget...

Saya berjumpa dengan seorang teman lama. Ia punya semacam "alergi" dengan kopi dan aromanya. Tak terkecuali dengan cokelat. Ada yah perempuan yang tak suka dengan cokelat?

"Dulu, saya sangat suka dengan cokelat. Saya bahkan suka dengan yang pahit, aslinya cokleat," katanya. Semenjak hidup di kota metropolitan, entah bagaimana, ia mulai "keracunan" dengan cokelat dan aromanya.

Aneh. Berganti ia menggilai minuman teh. Bukan yang manis. Ia justru lebih suka teh tanpa gula. Semakin tawar, katanya, semakin nikmat. Semakin alami, dari seduhan daun teh kering, semakin keren. Akh, manis gulanya mungkin disimpannya sendiri. #ehh

Ah, iya? Saya kehilangan fokus melihat wajahnya. Kamu kok mulai ganjen ya di Ramadan ini? -_-"


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar