Minggu, 05 Juli 2015

18# Ceramah

Ramadhan#18 |

Saya baru saja keluar dari rumah saat mendengar seseorang berbicara lewat pengeras suara masjid. "Sebelum memulai acara tarawih berjamaah, izinkan kami untuk menyampaikan...." ucapan yang nyaris sama terulang setiap malamnya. "Pembawa acara" membuka tausiyah agama.

Lepas Isya Ramadhan, masjid-masjid memang mengumandangkan suara para jamaah. Sudah menjadi tradisi di sebagian besar masjid untuk menyelingi ibadah shalat Tarawih dengan ceramah agama. Di kampung halaman, bahkan selalu diselipkan bacaan tilawah/ tadarus Quran sebelum wejangan penceramah dimulai. *Saya jarang menemukan hal demikian di Makassar. Pun, shalat Isya tak selalu diselingi dengan ceramah agama.

Semasa kecil, ceramah agama menjadi hal yang membosankan. Setiap malam Ramadhan, buku-buku Amaliyah Ramadhan dari sekolah memaksa kami duduk tertib mendengarkan da'i berkoar-koar di.atas mimbar. Sesekali, jika penceramah merasa kasihan, ia akan menyebutkan judul ceramahnya terlebih dahulu.

"Nah, untuk anak-anak yang mencatat, judul ceramahnya adalah...." ujar penceramah yang sesigap mungkin diikuti tatapan serius dan menunggu dari anak-anak pemegang buku Amaliyah Ramadhan.

Awalnya, saya menyangka kerjaan mengisi-isi buku Amaliyah semacam itu hanya terjadi di kabupaten kami. Ternyata, teman-teman saya yang dulu pernah berbahagia di masa.kecilnya mengaku punya pengalaman serupa. Termasuk mengemis-ngemis tanda tangan dari penceramah atau marbot masjid.

Subuh lagi, ceramah kultum (kuliah tujuh menit) lagi. Kepala diguyur nasehat-nasehat religius. Saya jarang bertemu kultum subuh di masjid-masjid perkotaan Makassar. Mungkin orang kota terlalu sibuk dengan urusan masing-masing hingga merasa tak perlu membuang-buang waktu mendengarkan ceramah yang nyaris berulang tiap tahunnya.

Ceramah ya? Nyatanya, di saat-saat saya sudah jarang mengikuti ceramah agama rutin jelang tarawih Ramadhan, saya justru cukup merindukannya. Pada hakikatnya, hati memang selalu butuh siraman rohani. Tidak hanya sekali dalam tiap Jumatan.

Kita, orang dewasa, terlalu sok tahu tak ingin digurui. Merasa apa yang tertanam di kepala sudah menyingkap segalanya yang ingin diketahui. Apa yang diketahui juga dianggap sebagai sebuah kebenaran. Tak heran kita cenderung menyepelekan ceramah-ceramah agama di bulan Ramadhan.

Saya rindu mendengar ceramah-ceramah singkat. Wejangan agama yang menyegarkan. Tak jarang saya membuka Youtube sekadar mencari video ceramah agama dari da'i kondang. Saban Subuh nampaknya ceramah-ceramah itu menjadi pengantar tidur saya. Hahaha...

Ceramah, terkadang menyebalkan. Terlalu menggurui. Hanya saja, ketika kita sudah hampir terlalu jauh dari jalan Tuhan, kita butuh pendorong yang mengarahkan jalur kita kembali menggairahkan.

Dalam beberapa minggu belakangan, entah kenapa, saya rindu menjadi anak-anak. Beberapa kejadian di bulan Ramadhan ini seakan mengembalikan semua ingatan masa kecil saya. Menyegarkan masa lalu. Memandikan saya dengan segala laku yang kerap berpilin di kepala.

Melihat anak-anak berlarian sedari tarawih. Melihat orang-orang berpakaian rapi menuju ke masjid. Mendengar petasan diledakkan. Menyimak ceramah lamat-lamat dari kejauhan. Merasai bacaan-bacaan Quran dari orang-orang terdekat. Menitik lantai masjid yang berdebu. Menyemai takjil berbuka puasa di pinggir-pinggir jalan.

Saya seolah enggan menjadi orang dewasa, yang kerap dituntut mencari banyak alasan. Saya rindu tertawa tanpa alasan. Begitu pula menyibukkan diri (bermain) tanpa perlu berusaha menjadikannya alasan mengalihkan diri dari hal yang lain.*


--Imam Rahmanto--

*Serupa menyukai orang lain tanpa perlu banyak pertimbangan tentang kriteria yang ditimbun di sekat kepala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar