Jumat, 03 Juli 2015

16# Imsak

Ramadhan#16 |

"Nak, cepat bangun. Sudah waktunya sahur. Keburu imsak loh," ibu saya selalu membangunkan dengan cara itu. Ia menggoyang-goyang badan saya yang terbaring.

Sejak kecil, kami memang diajarkan bahwa batas waktu sahur adalah ketika alarm penanda imsak di tiap masjid sudah mulai dibunyikan. Atau di beberapa tempat, orang-orang berteriak, "Imsaak, Imsaak!" lewat TOA masjid. Pengetahuan mengenai imsak itu terbawa-bawa hingga dewasa.

Sampai dewasa pun, kita terkadang dibuat "tak-ingin-berpikir-susah-susah". Apa yang menjadi tabu atau larangan dari orang tua dulu, kita tak ingin mencari tahu kebenarannya. Padahal, semua hal yang diamanahkan orang tua sesungguhnya punya alasan logis untuk berlaku.

"Hei, cepat sahurnya! Sudah mau imsak," saya mendengar beberapa orang teman saling mengingatkan satu sama lain.

Setahu saya, dari beberapa artikel yang pernah ditemui, batas akhir waktu sahur bukab ketika imsak. Melainkan ketika adzan Subuh sudah berkumandang. Ibarat lampu lalu lintas, imsak hanya sekadar "lampu kuning" yang mengingatkan untuk waspada menahan. Sementara "lampu merah"nya adalah adzan Subuh.

Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Jika seseorang dari kamu mendengar adzan (Subuh), sedangkan bejana (air) sedang di tangannya, maka janganlah dia meletakkan bejananya hingga dia menyelesaikan hajatnya darinya (minum)," ---H.R Abu Dawud---

Di negara Timur Tengah, katanya, tak dikenal yang namanya imsak. Batas waktu sahur ada pada adzan Subuh yang berkumandang. Bahkan, di saat adzan sudah menggema, orang-orang dianjurkan menghabiskan makanannya terlebih dulu sebelum mengakhiri waktu sahurnya.

Kepercayaan kita tentang batas waktu sahur hampir sama dengan kepolosan anak kecil meyakini bahwa menangis bisa membatalkan puasa. Sementara tentang mengeluarkan air mata itu tak pernah termaktub dalam hal-hal yang membatalkan puasa.

Saat "dipaksa" dewasa, kenyataannya pikiran kita semestinya juga "dipaksa" menyesuaikan diri. Maka berpikirlah. Sebagaimana pepatah Yunani, "Cogito Ergo Sum".


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar