Selasa, 28 Juli 2015

Oh, Bukan Kopi

Juli 28, 2015
"Wah, kuat sekali ya minum kopi," celetuk salah seorang teman.

Sedari siang, saya memang suka menghabiskan waktu liputan bersama seorang jurnalis senior dari media yang sama. Mau tidak mau, lantaran saya masih harus banyak berguru perihal sepak bola dan pertandingan padanya. Tahu sendiri kan, bagaimana parahnya saya mengabaikan dunia sepakbola. Teman-teman sampai menertawai saya lantaran minus pengetahuan bola.

Kami biasanya menghabiskan waktu luang atau waiting time di sebuah warung kopi (warkop) sederhana di tepi jalan. Posisinya persis di samping stadion kebanggaan warga kota Makassar, stadion Mattoanging. Suasana cukup nyaman, menu sederhana, dilengkapi wifi, sudah cukup mendaulat Warkop Orange sebagai persinggahan para wartawan olahraga.

Karena tak menyediakan cappuccino, saya harus membiasakan diri minuman lain. Alternatifnya, kopi susu. Masih lebih baik ketimbang kopi pekat. Masih berstatus anak-pinak keturunan kopi. Beberapa kali mencicipinya, kopi susu disana ternasuk yang paling enak sih.

Pun ketika baru mulai bertugas di desk olahraga pada bulan Ramadhan kemarin, saya selalu berbuka puasa dengan segelas minuman khas warkop itu.

"Minum yang dingin-dingin dulu. Atau yang manis-manis lah. Apa lambungmu tidak bermasalah langsung berbuka dengan kopi begitu?" tanyanya yang segera saya jawab "tidak". Saya sudah terbiasa kelaparan, maka penyakit maag itu sudah mulai beradaptasi membentuk vaksinnya sendiri. Haha...

Entah sejak kapan saya mulai terbiasa dengan minuman keluarga kopi itu. Khususnya cappuccino. Kalau kopi pekat, saya agak menjaga jarak. Bisa dikatakan, saya membencinya. Saya agak kepayahan mau menyebut istilah nge-cappuccino dengan ngopi. Mau bagaimana lagi, menyebut nge-cappuccino masih terlalu panjang dan aneh di telinga orang-orang awam.

Saya lebih dibuai oleh minuman a la Italia itu jika bertandang di sebuah coffeeshop. Kalau pun tak tersedia, alternatif substitusinya cukup kopi susu. Asalkan bukan kopi pekat, lagi. Bahkan di rumah pun saya harus mencari cappuccino oplosan untuk memulai aroma pagi. Seolah-olah hari saya takkan secerah matahari di luar jika tak menyesap segelas-dua gelas cappuccino.

Pun di kantor redaksi, saya suka berlama-lama. Perihalnya, ada persediaan kopi susu dan teh untuk para awak redaksi bekerja. Serupa pulang ke rumah, sang istri seolah sudah menyiapkan penghangat untuk teman di depan komputer. Siapa pun istri saya kelak, ia harus tahu bagaimana cara membuat cappuccino yang enak.

Jika kalian berkunjung ke tempat saya terkadang menyibukkan diri, ruangan pantry kecil itu ada di pojok ruangan. Tepat di belakang huruf-huruf raksasa, dimana kalian biasa berlomba-lomba mengabadikan gambar saat berkunjung ke kantor di lantai 4 ini. Yah, kalian selalu tertarik dengan label besar itu, seolah-olah ingin menunjukkan pada dunia bahwa "lihat-saya-ada-disini-dan-pernah-kemari". Masuk saja lewat pintu mungilnya. Ambil segelas-dua gelas kopi susu atau teh, sesuai selera.

Sebenarnya, bagi saya, menyeruput cappuccino (atau anggap saja kopi) bukan semacam adiktif. Toh, tidak seperti orang yang mencandui rokok, saya masih bisa menahannya tatkala benar-benar kepayahan untuk menyediakannya. Lagi, bukan kopi. Saya juga belum sampai pada momen membaui permukaan gelas sebelum menyeruputnya dalam-dalam. Saya belum saampai pada orang-orang yang menggemari wine atau minuman anggur sampai tahu spesifikasi tahun pembuatannya.

Mungkin hanya semacam kebutuhan atau kesukaan pada aromanya yang menebar cabang-cabang filosofis. Kepala saya mungkin sudah mematok bahwa setiap kali hendak bersantai, membaca buku, memulai pagi, dan menulis, saya butuh ditemani segelas minuman penghangat.

Toh, di luar sana tetap bertebaran banyak orang yang juga punya minuman kesukaannya masing-masing. Sebagian besar nyaris menggambarkan kepribadian para penikmatnya. Sisanya lagi mungkin sekadar menyumpal isi perut agar tak kehausan.

Lantas, kamu, apa minumanmu?

***

Di suatu waktu nanti, di negeri antah berantah di luar ibu pertiwi, saya akan bersantai dengan segelas cappuccino di meja. Menyeruputnya di pinggir kanal yang tak henti dilintasi perahu-perahu kecil yang dikemudikan nelayan. Atau, di pinggir trotoar jalan yang ditangkupi payung besar. Duduk di atas kursi mahoni sembari memandangi orang-orang yang lalu lalang berjalan kaki. Yah, di luar sana, saya sudah pernah melihatnya di film-film.

Kata teman saya, di tempatnya bekerja (di negeri kanguru), ada banyak kafe yang berkonsep seperti itu. Yah, kelak saya akan mampir kesana dan bersama-sama menikmati hari dengan secangkir latte atau cappuccino. Pasti.

(Sumber: Clare's Cafe Chronicles)


--Imam Rahmanto--

(S)Talking

Juli 28, 2015
(Sumber: google.com)
Jelang tengah malam, seorang perempuan belum lelap dalam mimpinya. Di ujung kamar, sembari berbaring malas-malasan, ia menyentuh dan menggerakkan jemarinya pada layar gadget model terbaru. Mungkin, ia baru membelinya setahun perkenalannya dengan dunia kampus.

Matanya yang lentik tekun menyusuri satu-satu tulisan yang lewat di hadapan wajahnya. Antara matanya yang sayu dan layar yang mulai kusam, hanya berjarak sejengkal tangan halusnya.

Apa yang sedang kau lakukan? | Aku sedang mencari tahu tentangnya.

Siapa? | Kau pasti tahu. Tak usah pura-pura bodoh.

Mana aku tahu kalau kau tak memberitahuku? | Bukannya kau orang paling kepo di dunia?

Akh, pekerjaan itu sudah lama kutinggalkan | Aku tak percaya.

Terserahlah | Kau bisa kan memeriksa kebenarannya.

Aku bukan seorang psikolog. | Jangan melempar kesalahan pada seorang psikolog. Zaman telah berubah.

Maksudmu? | Kau ingin tahu, periksa saja jejaring sosialnya.

Sesekali, wajah perempuan itu menegang. Belum berselang lama, tiba-tiba merengut. Atau tidak, ia mengerutkan keningnya. Aduh, sungguh wajah perempuan agak pelik ditebak. Tak tahu mengapa, matanya lantas berkaca-kaca tanpa permisi. Seandainya kalian mengerti irama jantung, mungkin saat ini kalian akan mengerti bagaimana detak jantung bekerja lewat penglihatan. Tulisan yang dibacanya berpengaruh pada saraf otaknya dan memberikan respon sepersekian detik pada memori dan cara detak jantung.

Temannya pernah menasehati, "Berhentilah mengusik kehidupanmu dengan mengusik timelinemu." Saban malam, ia mengantar lelapnya dengan membuka akun jejaring sosial. Salah satu akun tak pernah luput diperiksanya. Ditarik satu-satu, hingga berulang tulisan yang telah dibacanya kemarin. Ia hanya menjawab pilu, "Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarnya"

***

Stalking. 

Di dunia perjejaringan maya, tak ada yang tak mengenalnya. Setiap orang bahkan tak lepas melakukannya. Tanpa dikomando, kita sebenarnya sudah sampai pada tahap itu saat mengulur timeline hingga ujung terbawah. Stalking itu tak terbatas pada orang yang dituju. Meskipun arti sebenarnya adalah "penguntit", namun stalking populer di kalangan remaja. Apalagi saat jejaring sosial sudah mulai mewabah dan bisa diakses dimana-mana.

Beberapa dari kita memilih diam-diam mengamati akun-akun itu. Lantaran kita, para manusia, ingin ternama, maka ramai-ramailah kita berlomba memamerkan segala hal tentang diri. Orang lain tak butuh banyak bertanya hanya untuk tahu kita-ada-dimana atau sedang-apa. Stalking meraja.

Kita seolah sudah lupa bagaimana cara berkomunikasi yang benar. Ingin tahu tentang kabar seseorang saja harus dengan stalking. Sementara tulisan-tulisan yang bertebaran di timeline hanya bersifat satu arah. Stalker hanya tahu sebatas apa yang dibaca dan diduganya. Kalau tak beruntung, ia harus dibuat kecewa harapan sendiri. 

Sebaliknya, karena dunia stalking sudah menjamur, maka orang-orang sudah pelit bicara. Mereka hanya menanti kabar temannya lewat status di dunia maya. Apa yang ingin mereka ketahui tentang seseorang, cukup ditunggu di timeline-nya. Seolah-olah juga orang yang jarang hadir di dunia maya itulah yang bakal dilupakan. Apa setiap orang berpikir bahwa segalanya akan tertuang di dunia maya? Kita sakit, apa mesti di-update dulu? Kita berlibur, apa mesti pamer dulu? 

Talking

Sementara, hal paling esensi dari sebuah komunikasi mulai dilupakan orang. Talking. Perbedaan antara keduanya hanya pada huruf yang dalam abjad berselisih satu jalan. Usai satu, muncul lagi yang lainnya untuk dilafalkan. S-T. Hanya saja, kenyataannya, satunya mengungkapkan kata lewat mulut, satunya lagi lewat tatapan selidik.

Wajar kalau salah satu brand teh di Indonesia mengajak kita untuk selalu "Mari Bicara". Saya pun belajar dari hal itu. Hubungan yang baik baru bisa dibangun lewat bicara tatap mata. Sambil nge-cappuccino semua bisa lumer di dalam hati. Tak ada yang perlu disembunyikan atas dasar bahasa yang ambigu.  

Tahukah, tatap antara dua mata tanpa berbicara sekalipun sudah menanamkan seribu bahasa dalam kepala. Ia bercakap lewat dunia nyata, yang jauh dari imaji dan kemayaan.


--Imam Rahmanto--

Selasa, 21 Juli 2015

Katarsis

Juli 21, 2015
(Sumber: goodreads)
Sebenarnya, saya punya daftar buku yang telah tamat dua-tiga minggu belakangan ini. Hampir semuanya saya rangkum dalam akun Goodreads, beserta reviewnya. Bagi yang belum berkenalan dengan Goodreads, "ia" serupa akun jejaring sosial untuk berbagi bahan bacaan. Untuk buku-buku khusus, yang menurut saya sangat menarik, baru saya akan melampirkan reviewnya disini. Sudah jadi kebiasaan. Cekidot

Katarsis. Saking penasarannya, saya juga baru tahu makna kata ini beberapa hari yang lalu. Artinya, salah satu teknik untuk menyalurkan emosi yang terpendam, atau bisa dikatakan pelepasan kecemasan dan ketegangan yang terpendam dalam diri seseorang, misalnya dengan curhat, menulis, (atau bahkan melukai diri sendiri maupun orang lain). Istilah katarsis sendiri dipopulerkan oleh Sigmund Freud, Bapak Pelopor Psikoanalisa.

Nah, secara sekilas, buku ini memang kelihatan seperti novel teen-lit pada umumnya. Judulnya agak retro, seolah-olah menggambarkan isi bukunya yang tak jauh dari tema asmara. Tapi jangan salah kaprah. Perhatikan baik-baik gambar covernya. Sedikitnya, gambar tunggal itu mencerminkan sebagian isi ceritanya yang tak jauh berputar pada kisah seorang psikopat dan sosiopat.

Oh, tidak! Jangan bertanya apa arti psikopat dan sosiopat itu lagi. Kita kerap menemuinya dalam film-film thriller layar kaca atau layar lebar. Kalau kamu menemukan para pembunuh berdarah dingin, tanpa rasa takut, tanpa rasa sakit, tanpa penyesalan, justru kepuasan, itu sudah mendekati gangguan jiwa yang dinamakan psikopat. Antara sosiopat dan psikopat, keduanya punya kesamaan.

Nah, saya suka buku setebal 246 halaman ini. Ceritanya benar-benar membawa kita pada ketegangan dan penasaran berlapis. Membaca setiap babnya, saya dipaksa untuk membuka lembaran berikutnya lantaran dibebat penasaran. Apalagi setiap bab buku bercerita tidak panjang. Satu bab bisa habis dibaca 5-6 lembar. Singkat, padat, dan mematikan!

Sejujurnya, buku ini sudah lama masuk dalam daftar antrian saya. Namun baru kemarin malam punya waktu untuk membacanya. Pun membacanya hanya sekali lahap, saking kerennya.

Isi buku dibuka dengan kejadian ditemukannya Tara Johandi, gadis yang nyaris mati di dalam kotak perkakas kayu. Ia diduga menjadi korban perampokan di rumahnya yang menewaskan ayah, bibi, dan juga sepupunya. Ia yang disebut sebagai "gadis yang selamat itu" ternyata menyimpan kisah kelam yang sebenarnya membawa fakta baru atas kejadian perampokan itu. Akh, bukan perampokan! Melainkan pembunuhan yang didalangi dirinya sendiri, yang terkurung di kotak perkakas kayu.

Kehadiran tokoh lain, Ello, sebagai sudut pandang cerita kedua dikemas cukup apik. Bukannya tokoh-tokoh itu dibuat sebagai "orang baik", mereka justru dibungkus sebagai peran antagonis. So, jangan berharap menemukan "tokoh baik" dengan akhir bahagia dalam buku ini. Ini novel thriller, men!

Sudah saya katakan, buku ini bercerita tentang pembunuhan dan segala intriknya. Tak ada detektif dalam pemecahan kasusnya. Tak ada orang pintar yang membantu misteri terkuak. Polisi, cuma menjadi pemanis suasana. Pembaca akan dibawa pada tebak-menebak-acak pelaku (yang sesungguhnya sudah jelas namun dibuat membingungkan lewat intriknya). Keren!

Ceritanya yang tak klise membuat otak saya ikut berputar dan tersegarkan. Penulisnya, Anastasa Aemilia, nampaknya cukup cerdas mengolah ketegangan-ketegangan di dalamnya. Jarang-jarang loh penulis perempuan yang berbicara non-cinta dalam setiap tulisannya.

Hanya saja, pembaca harus berhati-hati. Tanpa menyelami isi buku, kita akan terjebak pada alur cerita yang terkadang maju-mundur tanpa aba-aba. Di salah satu sesi juga akan ditemukan gaya penceritaan yang tiba-tiba saja terbagi pada dua sudut pandang. Antara Tara dan Ello yang bergantian "masuk panggung". Meski demikian, saya tetap tidak kesulitan mengidentifikasi tokoh yang tengah bercerita.

Pokoknya buku ini keren. Di luar kebiasaan. Unik. Bahasanya tidak mendayu-dayu, meski penggambaran kejadiannya cukup detail. Kisah asmara antara dua psikopat juga diselipkan tanpa perlu manis-manis. Biasa-biasa saja.  Alhasil, buku yang patut direkomendasikan untuk mempelajari bagaimana seorang psikopat atau sosiopat merespon sekitarnya.

"Rasa sakit itu ada untuk melindungi dan mengajarimu banyak hal" Katarsis


--Imam Rahmanto--

Minggu, 19 Juli 2015

Lepat

Juli 19, 2015
Semilir angin menghembus pelan. Kontras dengan cuaca panas yang sedang menggulungnya. Daun-daun dibuatnya bergemerisik. Yang kering, terbang menjauh, berputar-putar mencari landasan jatuh. Esok hari dimakan bakteri pengurai tanah. Yang ranum, hanya melambai-lambai di atas tangkainya, enggan beranjak. Esok hari ingin berbunga, memperelok taman kecil di depan rumah.

Siang-siang begini, saya sedang berada di depan teras redaksi pers kampus. Menyendiri. Terlampau bosan menonton acara tivi yang itu-itu saja. Berita-berita juga masih tak lepas dari mudik dan Idul Fitri. Oiya, yang terbaru tentu saja tentang kerusuhan di Tolikara, Papua. Saya tak perlu ikut-ikut memanasi keadaan dengan menyebarkannya kiri-kanan.

Saya sedang meliburkan diri dari aktivitas kerja. Padahal isi BBM sudah mulai menanyakan jadwal liputan. Lebaran kemarin, saya tak pulang merengkuh kedua tangan bapak dan mamak di kampung halaman (baca: domisili). Anggap saja di "kampung halaman", lantaran saya terlahir disana, meskipun secara garis darah dan keturunan kampung halaman saya ada di Jawa. Pekerjaan sedang menuntut jauh lebih banyak dari yang disediakan keinginan. Betapa rindu tertimbun semakin banyak seperti cucian yang tak tanggung dicuci tiap minggunya.

Sementara esok hari saya sudah harus mulai bekerja lagi. Akh, tidak. Justru hari ini.

"Lebaran dimana?" tanya beberapa orang.

Sederhana saja. Saya berlebaran jauh dari orang tua. Ini bukan pertama kalinya. Saya bahkan pernah merasai lebaran yang benar-benar jauh dari orang tua. Tak terhitung jarak, karena jarak kala itu sudah dihapuskan. Wajar jikalau saya sedikitnya mampu menekan rindu untuk berkumpul bersama keluarga.

Lebaran kemarin, saya nyaris telat mengikuti ritual tahunan itu. Lewat pukul 6 baru terbangun oleh seorang teman dan buru-buru menyiapkan segala sesuatu. Saya punya tugas peliputan mengikuti shalat Ied di Masjid Raya. Jarak yang cukup jauh sebenarnya dari tempat tinggal saya di redaksi kampus.

Alhasil, saya berlebaran di dua tempat. Shalat Ied di tengah perjalanan, di Kumala. Selepas shalat, berlanjut mendengarkan khutbah di Masjid Raya. Ruas-ruas jalan ditutupi orang yang duduk menggelar koran dan sajadahnya. Motor terparkir tak jauh dari sana.

Suasana lebaran juga tak seramai di kampung. Hampir seharian saya menghabiskan waktu berlebaran di rumah. Tak kemana-mana. Mau kemana coba? Teman-teman pada mudik ke kampungnya masing-masing. Saya mencoba bersahabat saja dengan yang namanya kesunyian. Terkadang kesunyian dan kesenyapan bersahabat dengan perenungan.

Mendewasa memang terkadang memaksa untuk menahan segala bentuk kepuasan diri. Bekerja, artinya harus siap tak lagi meremaja. Kalau dulu saya bisa sepuasnya berkunjung dari rumah satu ke rumah lainnya, kini saya harus menahan keinginan itu. Saya tak lagi pulang, karena saya mencoba bekerja lebih baik. Lagipula, saya suka dengan pekerjaan ini. Saya mencintainya.

Di jejaring sosial, saya hanya bisa tersenyum-senyum melihat betapa cerianya hari lebaran. Keluarga. Teman-teman. Sahabat. Kenalan. Kalau kadung suka, saya cukup mengacungkan "jempol maya" saja di akun milik mereka. Temanya seragam: baju baru, santapan lebaran, dan maaf-maafan. Maaf.

apa kabar? betapa canggung makin menciptakan jarak diantara kita, ya? :) entah kenapa, saya selalu teringat lebaran dua tahun lalu. sendirian. tapi, serasa ramai. ada kamu, tersenyum tanpa malu, yang dirajam masa lalu. dulu. pun, jadi satu-satunya tujuan kunjungan lebaran saya. haha... 


--Imam Rahmanto--


P.s. Ramadhan kemarin, saya menguji diri sendiri. Self-challenge. Sebulan memposting tulisan-tulisan tentang Ramadhan. Setiap hari, tanpa putus. Meskipun dua-tiga kali sempat telat mengisi "rumah" ini. ASetiap orang perlu membuktikan bahwa dirinya konsisten dalam menjalani sesuatu. Komitmen.

Kamis, 16 Juli 2015

29# Takbir

Juli 16, 2015

Di luar sana, takbir mengalun bertalu-talu. Arak-arakan kegembiraan menjalar di setiap sudut kota. Semua berseru yang sama: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallahu allahu akbar. Allahu Akbar Wa lillah ilham.

Betapa mendamaikannya mendengarkan lantunan kegembiraan itu. Dari dalam rumah, saya mendengar suara anak-anak serempak mengalunkannya lewat pengeras masjid. Itu mengingatkan saya, ketika pada umur yang sama, juga senang bertakbir di masjid. Meriah bersama teman-teman lainnya.

Hm...mengingat yang lalu membuat saya agak melankolis begitu ya... Ini kan malam kemenangan. Seharusnya saya menyambutnya dengan gembira. Biar pun sendirian, harus dilalui pula dengan wajah gembira. Segembira penonton yang tadi sore menyaksikan pertandingan final sepak bola di stadion Mattoanging. Seaktraktif mereka yang ribut-ribut hingga memaksa panitia menunda pertandingannya lepas lebaran. Tadi, takbir kemenangan sudah mulai berkumandang tanpa hasil pemenang liga sepak bola itu.

Saya bermimpi, kelak bakal datang dari tempat yang jauh untuk pulang ke rumah. Di tengah perjalanan, saya mendengarkan takbir yang bertalu-talu. Berganti dari masjid satu ke masjid lain. Menatap jalan yang ramai arak-arakan takbir berkeliling.

Seperti terakhir kali pulang ke kampung halaman keluarga besar, Jawa, saya pertama kalinya bepergian laut sendiri. Beli karcis sendiri. Ngecek jam keberangkatan sendiri. Berkemas sendiri. Mengantri pintu kapal sendiri. Hingga memperkenalkan diri sendiri kepada "tetangga" tidur sebelah di dek kelas ekonomi kapal.

Saat itu, saya belajar untuk mencari teman seperjalanan. Karena muka saya masih unyu-unyu, seorang anak lelaki yang masih berstatus pelajar SMA menjadi teman seperjalanan saya. Ia juga mudik sendirian dan hendak ke rumah bapaknya di Jawa. Karena senasib, kami berteman dalam perjalanan. Apa kabar ya anak itu sekarang. Malah saya tak ingat lagi bagaimana rupa anak itu.

Bekerjalah jauh dari orang tua agar kamu tahu bagaimana rasanya merindukan rumah. Agar kita tahu bagaimana menghargai kebersamaan dengan keluarga.

Di linimassa, saya hanya bisa memandangi status teman-teman yang pulang ke kampung halaman masing-masing. Di jalanan, mereka beramai-ramai melaporkan lokasi dan kejadian secara langsung. Pun, sampai di rumah, masih tak lepas dari laporan ke teman-teman di dunia maya.

***

Kita mesti bersyukur, besok lebarannya kompakan. Pemerintah sudah memutuskan tak ada perselisihan waktu lebaran antara dua organisasi Islam terbesar di Indonesia. Nah, begini kan lebih baik... 

Ramadhan sudah berlalu. Siapa yang menjamin kita bakal bertemu lagi dengannya di tahun mendatang? Semoga segala amalan tahun ini lebih baik dari tahun silam.

(Sumber: google, edited)

***

.: Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin :.

Rabu, 15 Juli 2015

28# Sepi

Juli 15, 2015
Ramadhan#28 |

Ini sudah H-2 Lebaran. Malam ini adalah malam terakhir Ramadhan. Esok, kita akan mendengar lantunan takbir yang menggema di segala penjuru tanah air. Segala budaya dan variasinya yang khas menggemakan kemenangan. Semua sama, di kota maupun di perkampungan. 

Saya sendiri, menyepi di tengah diberangusnya keramaian kota. Bagaimana tidak, lebih dari setengah kawanan manusia kota itu tersusun oleh orang-orang dari kampung dan pedesaan. Di musim ini, musim yang hidup sekali dalam setahun, orang-orang berhijrah ke tempat pulang masing-masing. Menyemai rindu yang ditanam dalam keterasingan rantau.

Bukan pertama kalinya saya harus menghabiskan waktu berlebaran di tengah kota. Dua tahun sebelumnya, saya pernah memutuskan tak pulang. Secara harfiah, benar-benar tak ingin pulang ke ruimah. Saya menghapus segala rindu yang tumbuh bak gulma. Setiap kali dipotong, tak butuh waktu lama untuk tumbuh dan berkembang.

Kini, saya mempelajari hal berbeda. Saya benar-benar ingin pulang melepas kerinduan. Meski barang sehari atau dua hari sekalipun. Menyetor muka seadanya kepada bapak dan ibu. Memijat-mijat kaki bapak. Membantu ibu memotong ayam. Berfoto selfie dengan adik di rumah. 

Akan tetapi, tugas dan tanggung jawab pekerjaan kini memaksa saya meredam segala keinginan itu. Biarkan saja rindu itu tumbuh menyerupai belukar. Tuhan selalu menyiapkan perjalanan tak terduga dalam kehidupan siapa pun.

Saya merasai kota ini menjadi ladang kesunyian. Orang-orang yang saya kenal satu per satu mulai meninggalkan kesibukannya di kota. Dua-tiga hari ke depan, katanya, baru kembali menenggelamkan diri dalam kesibukan duniawi. Tak pelak, saya dilanda sepi di tengah bingar perkotaan.

"Hei, kenapa tidak pulang?" sudahlah. Saya terbiasa mendengar pertanyaan semacam itu. Semestinya saya yang mendengar, "Tunggu saya yang akan mengobati kesepianmu," dari sudut antah berantah yang belum terjamah oleh waktu... 

Besok, takbir menggema. Semoga kemenangan Ramadhan jauh melantun dalam palung lubuk hati saya, mengatur laju abstrak chemistry dengan bapak dan mamak yang berharap anaknya hadir di rumah...


--Imam Rahmanto--

Tertantang

Juli 15, 2015
"Kamu bukan pecinta bola ya? Mana ada bahasa tendangan semacam itu?" ujar salah seorang redaktur, yang terkenal kegarangannya.

Saya hanya mengiyakan pertanyaan redaktur saya itu sembari cengar-cengir. Mendengar bahasa yang saya tuliskan pun saya malah dibuat tertawa. Akh, akibat deadline mendera. Sejak awal, saya memang tak pernah menggilai permainan sepak kaki itu. Satu-satunya yang membuat saya terhubung dengan olahraga sejuta umat itu hanya games Play Station.

Toh, bukan hal wajib setiap lelaki harus menggandrungi permainan itu. Redaktur saya, yang perempuan itu mungkin jauh lebih banyak tahu persepakbolaan ketimbang saya. Kendati saya tetap suka menjadi berbeda ketimbang kebanyakan laki-laki lainnya. #lagak

"Kalau memang kamu tak suka bola, saya masih bisa kok menggeser kamu untuk liputan lain. Saya tak mungkin memaksakan untuk sesuatu yang tak kamu cintai," lanjutnya lagi. Katanya, kalau saya tak mencintai sesuatu, maka saya takkan menjiwainya.

Haha...pada dasarnya, saya memang tak punya banyak pengetahuan tentang olahraga itu. Menyaksikan pertandingan klub populer di layar kaca saja, saya selalu absen. Di kala teman-teman saling mengolok tim kesayangannya, saya justru diam tanpa banyak bicara.

Sejatinya, apa yang diucapkan redaktur saya tak keliru. Saya justru tercekat lewat kata-kata itu. "Tanpa mencintai sesuatu, kita takkan menjiwai dalam mengerjakannya."

Saya tak menyukainya, bukan berarti takkan pernah menyukainya. Lewat proses yang awalnya dipaksakan, saya belajar mencintai. Saya belajar memahami seluk-beluk dunia itu. Saya menghitung dan menyimak satu-satu. Merekam segala hal yang dibutuhkan di kepala. Ini bukan tentang "memaksakan sesuatu". Melainkan mencoba hal-hal baru, demi menjebol batas diri.

Satu hal yang membuat saya selalu hidup: tantangan. Saya menyukainya. Kehidupan rasanya berjalan monoton tanpa tantangan. Untuk memperkaya pengalaman diri, kita harus selalu mencoba hal-hal baru. Merasainya. Seberapa nikmat melintas batas dan keluar dari zona nyaman (comfort zone). Apa hakikat belajar jika sudah memahami apa yang ingin diketahui? Kamu belajar, kalau mencari tahu. Dari tidak tahu menjadi tahu.

Saya menyukai tantangan...

Saya pernah mewanti-wanti, "Kalau seandainya saya mendapatkan desk liputan bola, bisa mati deh!" saat pertama kali bergelut di dunia pers profesional. Mengingat kegandrungan saya yang sangat bertolak belakang. Namun, saya selalu berprinsip, menerobos zona nyaman. "Kalau tak bisa jadi orang pandai, percayalah, kita bisa jadi orang berani!"

Saya menyukai tantangan. Menjajal hal-hal baru. Menikmati kosmos yang berganti sepersekian detik. Demi alam semesta, kita hidup untuk menyerap partikel pengetahuan dan pengalaman yang berputar di dalamnya.

(Sumber: lockerdome.com)


--Imam Rahmanto--

Selasa, 14 Juli 2015

27# Jajanan

Juli 14, 2015
Ramadhan#27 |

Siapa yang tak bergembira bisa pulang ke kampung halaman? Berkumpul bersama keluarga terkasih. Mencoba satu-satu makanan dan santapan di rumah. Tapi... saya tak termasuk di dalamnya. #menghela napas# Saya hanya akan menyaksikan kebahagiaan teman-teman dari pinggiran kota ini.

Santapan dan kue-kue lebaran termasuk hal yang saya rindukan di permulaan Syawal itu. Meski terkadang santapan di rumah itu tak seistimewa rumah-rumah pejabat atau PNS sekalipun. Saya dan adik tetap berbesar hati dengan hidangan sirup dan kue-kue sederhana yang sebagian besar dibeli di pasar. Santapan di rumah bukan nikmat karena kemewahannya. Bapak dan ibu selalu menjadi komposisi pemanis buatannya.

Di hari lebaran, satu-satunya yang murni menjadi jajanan olahan sendiri ya kacang goreng. Kacang yang "lupa akan kulitnya" lalu digoreng biasa. Atau lebih dari itu, kacang yang dibalut terigu. Sisanya, penganan-penganan dari wafer, biskuit, kue kering, adalah jajanan dari pasar terdekat.

Saya juga selalu merindukan makanan lepet (dalam bahasa Jawa) yang dibuat Mamak. Makanan berbahan dasar ketan itu diolah seperti songkolo (bagi orang Sulawesi) namun dibalut daun kelapa. Tak jarang, hidangan lemper juga selalu menjadi khas bagi orang-orang di rumah.

Kalau orang di kampung, lebih banyak menghidangkan burasa'. Ia mirip ketupat. Biasanya menjadi campuran aneka lauk di hari raya. Termasuk opor ayam.

Ck..berbicara makanan, membuat saya terbayang-bayang aneka rupa santapan itu. Padahal, saya bakal hanya bisa membayangkannya saja dari sini. Hm...semoga ada teman di kota ini yang berbaik hati mengantarkan sajian hari rayanya. Saya rindu....

***

P.s.
Di penghujung Ramadhan ini, saya ketiban sial. Gara-gara median jalan, saya celaka berkendara. Dua gigi depan saya patah saat perjalanan pulang dari kantor. Kalau tersenyum bakal kelihatan aneh. Hahaha..... :( :'(   Ini makin mengukuhkan niat saya tak pulang ke rumah.


--Imam Rahmanto--

Senin, 13 Juli 2015

26# Musim Rindu

Juli 13, 2015
Ramadhan#26 |

H-4 Idul Fitri, ada banyak rindu yang tertahan. Bisa dikatakan, akhir Ramadhan selalu jadi musim rindu. Di Indonesia, tak hanya buah-buahan saja yang punya musim. Rindu juga punya waktunya untuk disemai. Orang-orang menahan rindu bertemu dengan keluarga. Hari lebaran, mudik menjadi salah satu wadahnya.

Kalau bicara tentang rindu, ada banyak definisinya. Seperti cinta, setiap orang punya pengertian yang berbeda-beda. Rindu itu semacam gatal, yang rasanya "gimana gitu" kalau tak digaruk. Ahahaha....

Orang tua selalu menjadi rindu hakiki. Bapak, ibu, adik, keluarga di rumah. Tentang "anak orang" yang dirindukan, itu hal lain lagi. Jangan menambah sesak hati dengan rindu-rindu yang tak terbayar lunas.

Rindu menjadi alasan utama pulang kampung. Siapa yang tak merindukan makan ketupat di rumah? Siapa yang tak merindu mencium tangkup tangan orang tua? Siapa yang tak kangen beranjangsana ke rumah teman-teman lama? Siapa yang tidak rindu menyusur jalanan-jalanan masa kecil? Akh, semua itu berputar-putar di kepala. -_-

***

Nampaknya rindu benar-benar menemui musimnya Ramadhan kali ini. Bagaimana tidak, beberapa jam lalu saya mendapati nama sebagai "pewarta-yang-dengan-malangnya-meliput-nuansa-lebaran-di-salah-satu-sudut-kota". Argh... dengan sialnya, dan muka polos, saya menerima saja tanggungan yang "tak-boleh-ditolak-sebagai-orang-baru".

Apa yang harus saya kerjakan di kota senyap ini? Kota ini akan kehilangan separuh penduduknya di masa lebaran. Mereka mudik, menikmati momen bersama keluarga. Dan saya... harus mencari keluarga di tengah kota ini. Berlebaran sendiri itu rasanya..."gimanaa gitu". #menghela napas

Sudahlah.

Saya mau istirahat saja malam ini...


--Imam Rahmanto--


Minggu, 12 Juli 2015

25# Baju Baru

Juli 12, 2015
Ramadhan#25 |

Saya mulai melihat jalanan penuh dengan pedagang dadakan. Sebagian besar menjajakan barang-barang berupa sandang, baik sandal, sepatu, baju, celana, dan segala pernak-pernik aksesoris busana. Maklum, lebaran tak sampai seminggu lagi.

Keinginan saya memenuhi nafsu "berbaju baru" nampaknya harus ditepis tahun ini. Lagipula, sudah beberapa tahun ini saya tak lagi memikirkan hal semacam itu. Semenjak saya mampu hidup jauh dari orang tua. Memangnya kita anak kecil yang harus merengek ketika tak punya baju baru?

Seorang teman saya justru lebih memilih memuaskan nafsu "buku"nya ketimbang nafsu "pakaian baru". Baginya, buku bisa memuaskan waktu-waktu liburannya di kampung, dan takkan kusam dimakan usia. Saya juga sebenarnya punya program "sebulan-satu buku" dari penghasilan sementara. Namun, 6 buku yang sebelumnya sudah diborong di depan kampus tempo hari membuat saya menahan-nahan perasaan itu.

Tanpa perlu meminta-minta pakaian lebaran, orang tua selalu saja ingin menghadiahkan baju baru untuk anak-anaknya. Tahun kemarin, bapak dan ibu mengiming-imingi saya dengan pakaian baru.

"Kamu ikut sana sama Mak-mu. Pilih baju bagus di rumahnya Haji," ujar bapak jelang lebaran beberapa hari.

Haji yang dimaksud adalah tetangga sebelah rumah yang punya stok dagang pakaian di kampung. Saban hari pasar, Selasa dan Jumat, menggelar dagangannya. Sudah jadi kebiasaan bagi keluarga kami untuk "ngutang" dagangan dari tetangga itu. Sejak saya kecil, hingga saya memasuki usia perkuliahan.

Saya enggan mengabulkan maksud bapak. Selain sungkan, saya agak risih harus memilih-milih baju di rumah Haji. Sedewasa ini, dan saya masih mengharap dipilihkan baju? Lagipula, di usia sadar sekarang, saya seharusnya paham tentang kesulitan keluarga. Tidak perlu lagi menambah-nambahnya hanya karena ingin memuaskan nafsu lebaran.

"Tidak usah, Pa',"

Saya sadar, orang tua di belahan dunia mana pun selalu ingin memberikan sesuatu untuk anaknya. Bukankah kita memang tidak bisa mencintai tanpa selalu diselingi perasaan ingin memberi kepada orang yang dicintai itu? Hakikat sayang orang tua sejatinya seperti itu. Setua apa pun anaknya, mereka akan selalu berusaha memberikan sesuatu yang mereka anggap dibutuhkan anaknya. Dan kita, anaknya, hanya bisa menerima tanpa maksud menyusahkan. Sekadar menyenangkan hati keduanya.

"Tidak usah, Pa'. Saya bawa baju sendiri kok," saya mencoba mengelak. Satu-dua potong pakaian "baru" memang tak lupa saya pamerkan untuk mereka. Padahal itu hasil berburu pakaian cakar. Hahaha...

Untuk lebaran tahun ini, saya tak tahu harus berbekal kebaruan seperti apa. Penghasilan kemarin sudah diinvestasikan untuk keperluan penting lainnya, di proses akademik. Emm...sebisanya, saya hanya butuh hal-hal baru untuk dikisahkan kepada orang tua. Sebisanya, keadaan semestinya sudah berbalik. Bukan lagi orang tua yang menghadiahi anaknya. Melainkan anak berbakti memberikan hadiah kepada bapak dan ibu walau tak seberapa.

Baru atau pun kuno, tak pernah menjamin jiwa kita suci dan terbebas dari api neraka. Lepas dari Ramadhan, yang paling penting adalah menyucikan jiwa. Sejauh mana kita telah menjalani Ramadhan yang penuh berkah? Ramadhan yang seharusnya dijejali oleh pahala berkali-kali lipat.

"Lantas, sudah berapa banyak tarawihmu?"

Err...pertanyaan itu lagi.... _ _"


--Imam Rahmanto--

Arah Hidup

Juli 12, 2015
(Sumber: kompas.com)
Malam, seorang diri, saya mengatur langkah menyusuri jalanan kota. Saya baru saja pulang dari kantor redaksi. Tidak seperti biasa, saya hanya memanfaatkan kendaraan angkutan kota. Disini, orang menyebutnya pete-pete. Teman yang biasanya mengantar saya pulang sedang tak berada di kantor.

Mobil berhenti tepat di ujung jalan besar. Perjalanan saya masih harus ditempuh sejauh 1 km ke tempat pulang. Beberapa tukang becak sempat menawari tumpangan. Hanya saja, saya menepisnya. Saya cuma ingin merasai suasana perkotaan di malam Ramadhan ini.

Lampu-lampu jalan silih berganti menyapa. Raung kendaraan yang melintas beradu dengan lantunan musik di telinga. Ada adegan-adegan melankolis yang tercipta, ada pula ritmis membuat saya harus bergerak mengikuti nada. Seandainya saya tak melintasi banyak orang di pinggir jalan, mungkin saya dengan senang hati bakal berjoget.

So maybe, I won't let your memory haunt me. I'll be sleepwalking, with the lonely.... *

Dalam beberapa kesempatan, saya suka berjalan kaki. Saya banyak belajar mengamati dari memperlambat waktu demikian. Meski sendirian, toh keramaian masih membuncah dari sudut dan kelok jalan kota. Ini kota, yang geliatnya tak terbatas waktu. Kadang kita akan menemukan banyak keramaian di sela-sela penghujung malam Ramadhan.

Warung-warung makan yang menguapkan aroma andalannya. Toko-toko kelontong yang berjejer menanti pelanggan. Mobil mewah yang berhenti di depan toko souvenir boneka. Gerobak gorengan yang tak berhenti memamerkan pamflet harganya. Ada rasa cokelat, keju, biasa, spesial, hingga istimewa. Pedagang buah-buahan yang menambahi stok kelapanya di bulan Ramadhan. Penjaja takjil yang menawarkan penglaris akhir dagangannya. Cahaya lampu neon juga menimpa pemuda-pemudi yang berhenti di pinggir jalan. Sejenak berdiskusi, hendak menghabiskan malam minggu dimana. Mengabaikan saya yang melintas seorang diri dan terlarut dalam lamunan lagu di headset.

Seharusnya kita jengah dengan kehidupan kota. Percepatannya tak luput menghisap segala kemampuan menikmati keadaan. Bak berkendara, lajunya yang cepat tak memberi kesempatan mengamati sekitar secara tepat. Ada rasa yang tak terukur dari percepatan itu. Padahal ada banyak keindahan yang seyogyanya dinikmati agar manusia tak luput dari rasa syukur.

Maybe, You don't have to smile so sad. Laugh when you're feeling bad. I promise I won't... *

"Apa tidak capek berjalan kaki sejauh itu?"

Saya tak merasakan tenaga yang terkuras, selama perjalanan saya punya tujuan pulang yang pasti. Saya.justru senang mengeksplor tempat-tempat baru dan merekamnya di kepala. Lagipula saya membayangkan diri sedang tersesat di negeri antah berantah. Berpapasan dengan setiap orang yang memandangi saya seperti ingin menerkam isi kepala. Membangun harap agar berpapasan dengan seseorang di kepala.

Siapa yang menyangka, kehidupan kita serupa berjalan kaki sendirian. Lelah atau malu takkan tersingkap jika sedari mula kita punya tujuan. Kemana kaki akan melangkah. Sejauh apa hidup akan dibawa.

Hidup harusnya serupa itu. Punya tujuan. Memasangnya di depan kepala. Menanamnya di bawah alam sadar. Agar di setiap laku dan langkah tak pernah lepas demi mencapai tujuan akhir tersebut. Di samping kita juga akan menikmati setiap perjalanan sebagai sebuah tour yang menyenangkan. Kepala akan selalu jadi guide dalam memandu arahnya.

Karena menjalani hidup tak sekadar mengikuti arah angin atau terhanyut aliran air...


--Imam Rahmanto--


*Lagu dari Keira Knightley, Tell Me If You Wanna Go Home

Sabtu, 11 Juli 2015

24# Mudik

Juli 11, 2015
Ramadhan#24 |


*Now playing: Michael Buble - Home

Saya belum mudik untuk saat ini. Jadi, rindu masih saja tertahan disini. *nunjuk dada. Masih menunggu waktu yang tepat, menyesuaikan dengan skema libur pekerjaan.

"Apa kamu tidak bisa ambil cuti?" bapak baru saja bertanya melalui telepon. Lazimnya pertanyaan orang tua yang merindukan anaknya. Lazimnya, bapak yang mulai tak ingin banyak berdebat soal esensi hidup anaknya.

"Mana bisa, Pa'e. Saya kan masih (orang) baru disini," saya usai menyampaikan jumlah hari libur yang disubsidi oleh kantor. Tak seberapa banyak kerinduan yang bisa dihabiskan dalam jumlah itu.

Saya sebenarnya tak sabar lagi menyusur jalan di kampung. Menikmati udara segar pedesaan. Mendaki bukit-bukit yang masih hijau. Hingga bertemu dan mengulas masa dulu bersama teman-tema SMA. Akh, tapi, sekali lagi, 3 hari nampaknya bukan waktu yang banyak untuk bisa memilin-milin ingatan di kepala.

Untuk saat ini, saya akan banyak merindukan keluarga. Saya harus belajar berpikir, "Sepulang saya di rumah, sejauh apa saya akan memberikan sesuatu untuk keluarga di rumah?" Sesuatu yang lebih condong pada penghasilan atau materi.

Itulah kenapa saya masih belum jauh berpikir melanjutkan studi, seperti yang selalu digembar-gemborkan teman-teman sebaya. *Sebagai anak pertama, kamu harus sadar akan tanggung jawabmu. Lagipula beberapa hal memang tak pernah memojokkam saya perihal studi itu. Saya punya impian lain, yang sudah jelas kemana hulu atau hilirnya...

Suasana mudik memang sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun. Memasuki minggu terakhir, orang-orang sudah mulai menyusun jadwal pulang ke rumah. Teman-teman di rumah kost saya tinggal menyisakan 2-3 orang saja. Katanya, orang-orang harus merantau supaya tahu bagaimana merindukan kampung halaman. Katanya juga, orang-orang juga harus merantau agar tahu mahalnya tiket pulang.

Pulang, memang selalu menjadi hal paling mendasar yang dirindukan setiap orang. Karena pulang adalah dasar esensi kehidupan manusia. Sejauh mana kita berpetualang, kelak tetap akan berpulang, ke hadirat-Nya.


--Imam Rahmanto--

Jumat, 10 Juli 2015

23# Berdiam Diri

Juli 10, 2015
Ramadhan#23 |

Semalam, saya sempat menyendiri di masjid yang lampunya mulai redup dalam keremangan. Apa pasal? Saya terpaksa shalat di masjid yang masih dibiarkan terbuka lewat tengah malam itu lantaran sekretariat (redaksi) kami kehilangan kuncinya. Tak bisa masuk rumah. Sejam lebih hanya menunggu di luar rumah. Sementara saya belum menunaikan salah satu shalat fardhu.

Di saat menghadap ke haribaan, saya dilemparkan kembali ke masa silam. Di masa saya masih remaja dan sedang hangat-hangatnya menikmati Ramadhan beserta keistimewaannya.

"Saya pernah shalat lewat tengah malam seperti ini, diimami oleh seorang ustadz. Merasai udara lewat sepertiga malam di sepuluh hari terakhir Ramadhan," saya berujar dalam hati. Saya benar-benar tidak mampu menahan perasaan terlempar pada ingatan di sela sujud, mendaratkan kening di atas sajadah.

"Ayo kita coba yang namanya i'tikaf," ajak salah seorang teman yang sering menemani "bersaing" memperbanyak waktu tidur di masjid selepas Dhuhur.

"Kalau untuk kalian, tidak apa-apa 3 hari saja. Siapa tahu kalian beruntunh mendapatkan Lailatul Qadr di malam terakhir itu," pesan ustadz yang kini saya tak tahu dimana keberadaannya.

Meskipun sebenarnya, ia hanya menghibur kami dengan ajakan halusnya. Mungkin, ia yang saban tahun selalu menunaikan i'tikaf mencoba mencari teman. Mana ada anak remaja seperti kami yang sudah ketiban malam keberuntungan tetiba begitu? Kami hanya hendak belajar tentang agama.

"Boleh. Kita coba tinggal di masjid ya,"

Sekali itu merasai berdiam diri di masjid. Jarak rumah saya dan masjid  hanya sepelemparan batu. Akan tetapi, kami tidak boleh keluar dari lokasi masjid rentang 3 hari tersebut. Segala hal kami kerjakan di dalam masjid, bersama-sama. Makan, mandi, sahur, berbuka, dan semacamnya.

Kami banyak belajar darinya. Mulai dari hal remeh seperti adab menletakkan Alquran, tidur, duduk, buang air, hingga amalan-amalan fardhu lainnya. Bahkan untuk makan pun kami harus mengikuti sunnah. Akh, betapa berbedanya dewasa ini.

Setiap sepertiga malam, kantuk masih menggantung ketika ustadz membangunkan untuk shalat Tahajud. Apalagi menjadi makmum sujud yang nyaris menghabiskan waktu 15 menit lamanya. Kalau tak bertahan, bisa saja kami tertidur dalam keadaan bersujud. Lampu masjid yang nyaris gulita dan kesenyapan masjid semakin menambah khusuk ustadz kami dalam beribadah. Sementara kami lelah tiada terkira.

Saya takkan pernah lupa, secerah apa kami melewati pengalaman berdiam diri di masjid itu. Saya, seorang teman, dan ustadz yang saban hari memberi wejangannya buat kami. Terkadang saya selalu ingin berterima kasih padanya.

Betapa Tuhan tak lepas dari mengingatkan kita di bulan yang suci ini. Kita hanya mafhum, beberapa noda mulai menghalangi suara dari nurani. Kita paham, tapi kita menghindar. Seberapa bebal pikiran kita ingin selalu diempaskan pada ingatan masa silam?

Saya menyambar pintu masjid yang terbuka setengahnya. Menyisakan ruang kosong menganga diantara kesunyian malam. Masjid kembali senyap. Sembari berjalan, menyusun amalan yang sengaja terabaikan di kepala. Menyusun waktu yang hendak dilemparkan kembali.


--Imam Rahmanto--

Kamis, 09 Juli 2015

22# Berapa

Juli 09, 2015
Ramadhan#22 |

"Tarwihmu sudah berapa?"

Saya kerap kali mendengar pertanyaan seperti itu dari teman-teman sebaya. Dimana-mana, Ramadan, kami cenderung bertukar tanya yang serupa. Menjajal sejauh mana kita menyikapi Ramadan yang nyaris melenggang pergi. Ditanya begitu, saya juga hendak melengos pergi.

"Tarwihmu sudah berapa?" Akh, saya segan menjawabnya. Saya nampaknya perlu bercermin, sejauh mana menyikapi Ramadan ini.

Kenyataannya, jamaah di masjid sudah mulai surut. Anak-anak sudah bosan melempar petasan. Kantuk semakin banyak mendera. Saya juga kerap dihantui perasaan satu ini. Ibu-ibu mulai menghitung takjil sebagai kue lebaran. Para pegawai menanti Tunjangan Hari Raya, di saat para jomblo menanti Tunangan Hari Raya.

"Puasamu ada berapa?"

Kalau satu ini adalah hal tabu untuk ditinggalkan. Seburuk-buruknya iman, rukun Islam jangan ikut dirusak.

Seburuk apa pun kondisi kota dalam menaungi orang berpuasa, saya takkan pernah mengabaikan salah satu rukun puasa ini. Orang-orang kota terlalu mudah melakukan "pembenaran" atas perilakunya yang tak berpuasa. Saya banyak menemukan "yang-tak-berpuasa" di lokasi peliputan saya; olahraga.

"Lebaranmu tanggal berapa?"

Bahkan, umat Islam "lurus" pun masih terbagi dalam 2 garis utama di Indonesia. Kita siap-siap lagi mendebar rasa melihat para pimpinan pemerintahan menakar alasan atas penentuan lebaran nanti. Di awal Ramadhan, umat Muslim sudah menyatu dalam satu tanggal yang sama. Lantas, apa pula yang harus menjembatani perbedaan di akhir Ramadan? Ya sudahlah, orang Indonesia memang paling pandai mencari alasan.

Untuk saat ini, saya lebih senang ditanyai, "Kapan wisuda?" Toh, saya akan menjawabnya sembari tersenyum sumringah? Di bulan puasa ini, karena senyum adalah sedekah, maka pahalanya akan berlipat-lipat hingga 700 tingkatan.


--Imam Rahmanto--

21# Berantakan

Juli 09, 2015
Ramadhan#22 |

Rambut saya sudah panjang belakangan ini. Agak berantakan. Padahal, bisa dibilang, saya orang yang biasa-biasa saja dalam penampilan. Lebih terkesan rapi. #eciee. Namun, pekerjaan sebagai pewarta memaksa saya sedikit berubah. Menyesuaikan dengan kondisi lapangan.  

Padahal, rambut yang panjang ini seharusnya dipotong beberapa hari lalu. Mungkin, potong rambut jelang lebaran saja. Tak ada pakaian baru, potongan rambut baru okelah... 

Ramadhan ini bukannya menambah amalan, malah menambah panjangnya rambut. Apa yang dilakukan masih saja konstan dengan tahun lalu. Sejauh mana amalan kita?

Puasa ini, saya sudah dua kali tidak mengawalinya dengan santap sahur. Salah satunya lantaran ketiduran sampai pagi datang. Sementara, di rumah kost tak terdengar lagi ribut-ribut orang sahur. Orang-orang sudah mudik ke kampung halaman masing-masing.

Sebenarnya, bagi saya, hal semacam itu bukanlah masalah. Dulu, saya terbiasa mengawali puasa tanpa perlu sahur. Akan tetapi, di bulan Ramadhan ini, saya hanya mencoba menikmati waktu sahur, sendirian atau ramai-ramai bersama teman. Kita banyak belajar jika mampu merasai dan menyimak segala hal. Seksama.

Akh, beberapa kesempatan memang agak berantakan...


--Imam Rahmanto--

P.s. Semalam, saya punya sedikit pekerjaan untuk diselesaikan. Agak telat ingin memposting challenge seperti ini. Bagaimana pun, saya tidak ingin membiarkannya kosong. Konsisten.

Selasa, 07 Juli 2015

20# Membaca

Juli 07, 2015
Ramadhan#20 |

Ini sudah 2/3 Ramadhan. Ia berlalu tanpa menjejakkan kesulitan apapun. Kita tak tahu, Tuhan menerima ibadah sebagaimana keseharian yang dijalani. Selagi kita mereka-reka, malaikat sudah sibuk mengalikan dan melipatgandakan amalan orang yang benar-benar tawadhu pada Tuhan.

Oh, Ramadhan...

Seharusnya saya memanfaatkan waktu ini dengan membaca. Sejujurnya, saya belum menamatkan juz 1 dari Alquran. Entah bagaimana banyak hal menyulitkan saya dari sekadar menamatkan se-juz Alquran itu. Saya merasa berdosa.

Selain kitab suci, saya malah menimang-nimang beberapa bacaan novel. Seminggu lalu, saya memborongnya di toko buku berjalan. Kebetulan ada sebuah mobil boks berisi penuh buku menggelar dagangannya di depan kampus. Di kiri-kanan lokasinya, dipasangai penanda "Serba Rp10.000."

Kerinduan saya dengan membaca akhirnya sempat terbayar lunas. Meskipun bukan buku-buku terbaru. Melainkan keluaran lama. Setidaknya saya punya stok untuk mengisi perpustakaan pribadi yang sejak dulu saya idam-idamkan.

Bukan main. Kemarin saya malah lebih dulu (sibuk) menamatkan buku novel ketimbang Alquran. Ckck... Ditambah, saya sedang membaca kelanjutan sekuel novel itu.

Oke. Ingatkan saya untuk menamatkan, paling sederhana, target 2 juz saja hingga menjelang Ramadhan berakhir. #tawarmenawar _ _"

Sesulit apa sih membaca? Waktu untuk mengerjakan sesuatu itu yang sulit dialokasikan. Banyak hal yang dianggap lebih prioritas dan wajib dijalankan. Antara kedua genre membaca itu pun, saya lebih condong kepada bacaan novel. Argh, betapa berdosanya saya...

"Iqra'!" 

Kita selalu mendengarnya saat ustadz berceramah di masjid. Artinya, bacalah! Firman pertama yang diturunkan untuk Rasul terakhir umat Muslim.

Saya meyakini, membaca adalah pondasi dasar bagi kita untuk belajar. Belajar apa saja. Membaca apa saja. Hakikatnya, malaikat Tuhan menyerukan kepada Rasul untuk "membaca" di saat ia tak membawa tulisan apa-apa. Maka, "bacalah, apa yang ada di sekitarmu. Kehidupanmu. Napasmu. Jiwamu." 

Tuhan sudah menjamin, wadah segala pengetahuan dan sunnatullah terangkum dalam kitab suci. Bacalah, agar ia berlipat di bulan nan suci ini.

Ingatkan saya lagi untuk membacanya, seperti saat anak-anak dulu. Seperti ketika berdiam selepas Dhuhur di masjid dan berlomba dengan teman sebelah duduk hingga juz keberapa. Seperti ketika jelang maghrib, sembari menanti waktu berbuka puasa di rumah. Seperti ketika menanti fajar menyingsing sendirian diantara lelap keluarga di rumah. Seperti saat fardhu berakhir, menggantikan zikir yang digumamkan. Dulu...


--Imam Rahmanto--

Senin, 06 Juli 2015

19# Teh Manis

Juli 06, 2015
Ramadhan#19 |

Saya selalu kehilangan satu hal dari santapan sahur di waktu Ramadhan. Sesuatu yang sederhana. Satu kelengkapan sederhana itu mulai tersisih. Entah dilupakan, atau sekadar diabaikan.

Teh manis...

Saya selalu ingat bagaimana mamak di rumah menyajikannya saban Subuh. Menunjukkannya di ujung meja setelah saya melahap habis makanan berat untuk menyambut imsak. Minuman sederhana itu tak pernah luput dari sajian kami sekeluarga.

"Bangun, nak. Saatnya sahur," mamak selalu membangunkan dengan caranya. Tanpa mengancam, meski sedikit menggerutu. Saya membalasnya ogah-ogahan. Saya yakin, nyaris semua lelaki di dunia ini menggerutu ketika dibangunkan ibunya.

Teh manis hangat...

Kini digantikan oleh segelas hangat minuman cappuccino sachet seharga Rp2 ribuan. Kualitas yang sangat jauh berbeda dengan racikan para barista di coffeeshop. Suatu waktu, saya akan punya peracik kopi sendiri. Menikmati pagi, sembari bereksperimen segala aneka rasa cappuccino.

Padahal, manisnya cappuccino sangat jauh berbeda dengan seduhan daun teh. Dulu, kata mamak, minum teh sewaktu sahur bisa memberikan tambahan tenaga (kalori) untuk menjalani sahur. "Kalau sahur, minumlah yang manis-manis," pesannya, "Tak perlu makan banyak-banyak, asalkan air tubuhmu terpenuhi." Hm...saya tak ingat mamak yang lulusan SD sepandai itu.

Sementara "candu" saya itu, hanya cukup manis dalam beberapa kecap di mulut. Selebihnya, pahit terasa. Mungkin, seperti itulah gambaran pola hidup dewasa. Kita tak perlu berharap selalu kebagian perjalanan yang manis-manis. Rasa pahit, dicecap saja. Karena cappuccino atau latte tak menemukan penggemarnya tanpa espresso dalam racikannya.

Teh manis banget...

Katanya, berbukalah dengan yang manis-manis. Sementara di negeri ini, saya lebih banyak menemui yang miris-miris. Orang Indonesia, kata teman, lebih suka berbuka dengan yang miris-miris.

Hingga hari ini, saya belum pernah lagi menjumpai minuman sederhana itu di kala memulai ibadah puasa. Saya hanya menjumpai minuman-minuman komersil dalam kemasan. Dingin. Bukan yang hangat. Ah tidak. Saya pernah meminta salah seorang teman membuatkan teh hangat di waktu-waktu sahur jelang imsak. Sekali.

Kamu manis banget...

Saya berjumpa dengan seorang teman lama. Ia punya semacam "alergi" dengan kopi dan aromanya. Tak terkecuali dengan cokelat. Ada yah perempuan yang tak suka dengan cokelat?

"Dulu, saya sangat suka dengan cokelat. Saya bahkan suka dengan yang pahit, aslinya cokleat," katanya. Semenjak hidup di kota metropolitan, entah bagaimana, ia mulai "keracunan" dengan cokelat dan aromanya.

Aneh. Berganti ia menggilai minuman teh. Bukan yang manis. Ia justru lebih suka teh tanpa gula. Semakin tawar, katanya, semakin nikmat. Semakin alami, dari seduhan daun teh kering, semakin keren. Akh, manis gulanya mungkin disimpannya sendiri. #ehh

Ah, iya? Saya kehilangan fokus melihat wajahnya. Kamu kok mulai ganjen ya di Ramadan ini? -_-"


--Imam Rahmanto--

Minggu, 05 Juli 2015

18# Ceramah

Juli 05, 2015
Ramadhan#18 |

Saya baru saja keluar dari rumah saat mendengar seseorang berbicara lewat pengeras suara masjid. "Sebelum memulai acara tarawih berjamaah, izinkan kami untuk menyampaikan...." ucapan yang nyaris sama terulang setiap malamnya. "Pembawa acara" membuka tausiyah agama.

Lepas Isya Ramadhan, masjid-masjid memang mengumandangkan suara para jamaah. Sudah menjadi tradisi di sebagian besar masjid untuk menyelingi ibadah shalat Tarawih dengan ceramah agama. Di kampung halaman, bahkan selalu diselipkan bacaan tilawah/ tadarus Quran sebelum wejangan penceramah dimulai. *Saya jarang menemukan hal demikian di Makassar. Pun, shalat Isya tak selalu diselingi dengan ceramah agama.

Semasa kecil, ceramah agama menjadi hal yang membosankan. Setiap malam Ramadhan, buku-buku Amaliyah Ramadhan dari sekolah memaksa kami duduk tertib mendengarkan da'i berkoar-koar di.atas mimbar. Sesekali, jika penceramah merasa kasihan, ia akan menyebutkan judul ceramahnya terlebih dahulu.

"Nah, untuk anak-anak yang mencatat, judul ceramahnya adalah...." ujar penceramah yang sesigap mungkin diikuti tatapan serius dan menunggu dari anak-anak pemegang buku Amaliyah Ramadhan.

Awalnya, saya menyangka kerjaan mengisi-isi buku Amaliyah semacam itu hanya terjadi di kabupaten kami. Ternyata, teman-teman saya yang dulu pernah berbahagia di masa.kecilnya mengaku punya pengalaman serupa. Termasuk mengemis-ngemis tanda tangan dari penceramah atau marbot masjid.

Subuh lagi, ceramah kultum (kuliah tujuh menit) lagi. Kepala diguyur nasehat-nasehat religius. Saya jarang bertemu kultum subuh di masjid-masjid perkotaan Makassar. Mungkin orang kota terlalu sibuk dengan urusan masing-masing hingga merasa tak perlu membuang-buang waktu mendengarkan ceramah yang nyaris berulang tiap tahunnya.

Ceramah ya? Nyatanya, di saat-saat saya sudah jarang mengikuti ceramah agama rutin jelang tarawih Ramadhan, saya justru cukup merindukannya. Pada hakikatnya, hati memang selalu butuh siraman rohani. Tidak hanya sekali dalam tiap Jumatan.

Kita, orang dewasa, terlalu sok tahu tak ingin digurui. Merasa apa yang tertanam di kepala sudah menyingkap segalanya yang ingin diketahui. Apa yang diketahui juga dianggap sebagai sebuah kebenaran. Tak heran kita cenderung menyepelekan ceramah-ceramah agama di bulan Ramadhan.

Saya rindu mendengar ceramah-ceramah singkat. Wejangan agama yang menyegarkan. Tak jarang saya membuka Youtube sekadar mencari video ceramah agama dari da'i kondang. Saban Subuh nampaknya ceramah-ceramah itu menjadi pengantar tidur saya. Hahaha...

Ceramah, terkadang menyebalkan. Terlalu menggurui. Hanya saja, ketika kita sudah hampir terlalu jauh dari jalan Tuhan, kita butuh pendorong yang mengarahkan jalur kita kembali menggairahkan.

Dalam beberapa minggu belakangan, entah kenapa, saya rindu menjadi anak-anak. Beberapa kejadian di bulan Ramadhan ini seakan mengembalikan semua ingatan masa kecil saya. Menyegarkan masa lalu. Memandikan saya dengan segala laku yang kerap berpilin di kepala.

Melihat anak-anak berlarian sedari tarawih. Melihat orang-orang berpakaian rapi menuju ke masjid. Mendengar petasan diledakkan. Menyimak ceramah lamat-lamat dari kejauhan. Merasai bacaan-bacaan Quran dari orang-orang terdekat. Menitik lantai masjid yang berdebu. Menyemai takjil berbuka puasa di pinggir-pinggir jalan.

Saya seolah enggan menjadi orang dewasa, yang kerap dituntut mencari banyak alasan. Saya rindu tertawa tanpa alasan. Begitu pula menyibukkan diri (bermain) tanpa perlu berusaha menjadikannya alasan mengalihkan diri dari hal yang lain.*


--Imam Rahmanto--

*Serupa menyukai orang lain tanpa perlu banyak pertimbangan tentang kriteria yang ditimbun di sekat kepala.

17# Tamu

Juli 05, 2015
Ramadhan#17 |

Saya agak telat memposting yang satu ini. Beberapa jam sebelumnya saya sedang menghabiskan waktu dengan teman-teman lama di kampus. Teman-teman seangkatan yang hingga kini masih berkutat di kampus, nyaris menyelesaikan studi. Berbincang banyak rupa.

Diantara itu, saya hanya tak ingin mengganggu kesenangan bertatap muka dengan teman-teman secara nyata. Semestinya dalam setiap pertemuan memang ya begitu, tidak diganggu oleh perangkat yang "menundukkan kepala". Kita sudah terlalu lama hidup monoton menatap layar notifikasi dan timeline di dunia maya. Just create your quality time...

Bertemu dan berbincang dengan teman-teman lama memang selalu menghadirkan banyak cerita-cerita baru.

Saya sudah tak terhitung lagi absen dari kegiatan kampus. Bertemu dengan teman-teman lama seyogyanya membuka banyak ingatan dan kenangan tentang kampus. Teman-teman saya ini hampir semuanya masih dalam status penyelesaian studi. Yah, selain itu, cara paling asasi memupus kejenuhan dengan menciptakan momen-momen yang hanya melibatkan mulut, mata, dan telinga.

Saya tak ingin berbicara tentang bagaimana mereka yang saat ini sedang berusaha mengejar target akhir. Saya hanya berpikir, penyesalan selalu datang belakangan.

"Saya sendiri bingung, apa saja yang membuat saya terjengkang beberapa tahun belakangan ini," sesal salah seorang teman saya. Ia hingga kini masih menyimpan banyak "tunggakan" atas mata kuliahnya.

Betapa 5 tahun silam saya masih mengingatnya ketika ia berujar, "Lima tahun dari sekarang, kita akan bertemu kembali dan akan saling menceritakan, akan jadi apa kita." Saya dulu mengenalnya sebagai mahasiswa paling bersemangata dengan setampuk target di kepalanya. Aktif menyelesaikan segala sesuatunya. Berorganisasi dan akademik tak pernah lepas dilakoninya. Hanya saja, entah sejak kapan, kami mulai kehilangannya. Berbeda dengan kami yang sedikit tertunda lantaran aktif dalam organisasi kampus, ia tak tahu rimbanya kemana. Kami tak pernah tahu, apakah ia sibuk mencari nafkah untuk istri yang dinikahinya lepas setahun perkuliahan, ataukah ia memang menghilang tanpa alasan apa-apa.

Dari gerak-geriknya malam itu, saya menyimak sesal yang ingin ditebusnya dewasa ini, Mungkin tak ingin lagi berpikir tentang yang lalu. Berpikir untuk hal-hal yang saat ini saja. Saya juga mengenal seorang teman yang terlalu kompleks dalam berpikir. Kebanyakan orang dewasa seperti itu, lantaran lupa bagaimana caranya menjadi anak-anak. 

"Maksudnya setelah kuliah yang disepakati dulu,"

"Bukanlah. Saya ingat betul, terlepas dari kita menyelesaikan kuliah atau belum, hitungannya tetap lima tahun sejak saat itu," saya membantah.

Akh, sebenarnya saya tak ingin bercerita tentang banyak hal itu. Setiap hari Ramadhan punya bagian ceritanya masing-masing. Kemarin seharusnya menjadi waktu yang baik untuk menyambut peringatan turunnya Quran, yang dinamai Nuzulul Quran. Kalau di kampung, tak ada peringatan khusus. Penceramah hanya menyelipkannya sebagai salah satu ceramah tematik.

Dan hari Ramadhan ini yang membuat saya kembali menyuburkan temu dan tamu di kepala, dengan teman-teman lama...


--Imam Rahmanto--

Jumat, 03 Juli 2015

16# Imsak

Juli 03, 2015
Ramadhan#16 |

"Nak, cepat bangun. Sudah waktunya sahur. Keburu imsak loh," ibu saya selalu membangunkan dengan cara itu. Ia menggoyang-goyang badan saya yang terbaring.

Sejak kecil, kami memang diajarkan bahwa batas waktu sahur adalah ketika alarm penanda imsak di tiap masjid sudah mulai dibunyikan. Atau di beberapa tempat, orang-orang berteriak, "Imsaak, Imsaak!" lewat TOA masjid. Pengetahuan mengenai imsak itu terbawa-bawa hingga dewasa.

Sampai dewasa pun, kita terkadang dibuat "tak-ingin-berpikir-susah-susah". Apa yang menjadi tabu atau larangan dari orang tua dulu, kita tak ingin mencari tahu kebenarannya. Padahal, semua hal yang diamanahkan orang tua sesungguhnya punya alasan logis untuk berlaku.

"Hei, cepat sahurnya! Sudah mau imsak," saya mendengar beberapa orang teman saling mengingatkan satu sama lain.

Setahu saya, dari beberapa artikel yang pernah ditemui, batas akhir waktu sahur bukab ketika imsak. Melainkan ketika adzan Subuh sudah berkumandang. Ibarat lampu lalu lintas, imsak hanya sekadar "lampu kuning" yang mengingatkan untuk waspada menahan. Sementara "lampu merah"nya adalah adzan Subuh.

Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Jika seseorang dari kamu mendengar adzan (Subuh), sedangkan bejana (air) sedang di tangannya, maka janganlah dia meletakkan bejananya hingga dia menyelesaikan hajatnya darinya (minum)," ---H.R Abu Dawud---

Di negara Timur Tengah, katanya, tak dikenal yang namanya imsak. Batas waktu sahur ada pada adzan Subuh yang berkumandang. Bahkan, di saat adzan sudah menggema, orang-orang dianjurkan menghabiskan makanannya terlebih dulu sebelum mengakhiri waktu sahurnya.

Kepercayaan kita tentang batas waktu sahur hampir sama dengan kepolosan anak kecil meyakini bahwa menangis bisa membatalkan puasa. Sementara tentang mengeluarkan air mata itu tak pernah termaktub dalam hal-hal yang membatalkan puasa.

Saat "dipaksa" dewasa, kenyataannya pikiran kita semestinya juga "dipaksa" menyesuaikan diri. Maka berpikirlah. Sebagaimana pepatah Yunani, "Cogito Ergo Sum".


--Imam Rahmanto--

Kamis, 02 Juli 2015

15# Belajar

Juli 02, 2015
Ramadhan#15 |

Saya bukan tipe olahragawan. Bermain sepak bola saja, saya harus berpikir panjang. Saya lebih suka bermain sepak bola via Play Station. Satu-satunya olahraga yang saya mahir di dalamnya adalah tenis meja. Boleh diadu. 

Bagaimana pun Tuhan selalu punya cara terbaik untuk belajar. Terhitung hari ini, Ramadhan ke-15, saya diamanahi tanggung jawab liputan olahraga. Untuk pertama kalinya pula, saya harus menanggung liputan sepak bola. Ah, saya benar-benar dibuat kecele lantaran tidak tahu banyak tentang istilah sepak bola.

Di saat orang demam Piala Dunia sekalipun saya menjadi orang paling "langka" sedunia. Gegap gempitanya tidak mempengaruhi minat saya sekadar menyaksikan orang berlari-lari di tengah lapangan memperebutkan bola. Mending nonton Naruto atau One Piece. Hahaha...

Nah, saya diberi kesempatan merasai banyak hal baru dari sini. Mungkin Tuhan memang tahu yang saya butuhkan saat ini. Banyak belajar. Belajar banyak.

Melihat orang-orang berlari menggiring bola. Merumput di lapangan luas. Mendengar suporter berteriak. Segalanya beratapkan langit luas dan semilir angin sore. *Yaahh...kalau pertandingannya sore hari.

"Ini poinnya. Dia mencetak di menit begini. Orangnya yang ini di klasemen..." ujar panitia turnamen sepak bola sembari menunjuki kertas di tangannya.

Saya baru saja datang sore itu, dan langsung diterima seketika tahu dari salah satu media. Hanya saja, saya masih bingung dengan daftar tabel yang ditunjukkannya berisi singkatan-singkatan mengenai istilah bola. Agar tak kelihatan "kosong", saya mengangguk-angguk saja sambil berpikir dan diam-diam browsing di gadget. #gubrak.

"Mereka baru saja mencetak gol. Hasilnya imbang, tapi mereka berhasil melaju ke babak selanjutnya," ujarnya lagi di tengah-tengah kami menyimak pertandingan.

Ah, saya juga tak begitu mengerti tentang klasemen yang memakai perhitungan poin dan semacamnya. Asli, saya nampaknya harus banyak membaca hingga menonton pertandingan bola. Memperkaya kosa kata olahraga.

Merasai pengalaman baru adalah salah satu cara belajar paling keren. Menantang diri melewati batas kemampuan yang dimiliki. Over the limit!


--Imam Rahmanto--

Rabu, 01 Juli 2015

14# Bersama

Juli 01, 2015
Ramadhan#14 |

Lagi, saya beramai-ramai dengan teman pewarta lainnya mengikuti salah satu aktivitas gubernur. Ia dijadwalkan melakukan launching Bus Rapid Transit (BRT) atau yang lebih dikenal sebagai Busway di wilayah Maminasata. Pun, saya ditugaskan untuk berita yang nyaris mendekati waktu deadline.

Akan tetapi, entah kenapa, terkadang saya menyukai tantangan semacam itu. Ada candu menegangkan dalam menyelesaikannya di tengah lapangan, di sela waktu kosong. Di saat-saat terakhir, saya baru bisa mengirimkan naskahnya. Terkadang saya bahkan hanya meyelesaikan separuhnya dulu. Apalagi kalau kondisi gadget saya tak memadai lagi.

Peluncuran bus trans Mamminasata kami berakhir di Trans Studio Mall (TSM). Tentunya, jelang waktu buka puasa. Gubernur beserta jajarannya berbuka di sebuah restoran, diikuti para pewarta. Ramai sekali.

Saya teringat tatkala kecil dulu kerap berbuka puasa bersama di masjid dekat rumah. Bagi kami anak kecil, ada dua keuntungan saat berbuka di masjid. Pertama, kami punya pilihan kue yang lebih variatif di masjid. Dua, kami takkan kehabisan santapan berbuka di rumah. Istilahnya, kami dua kali lebih kenyang.

Jelang berbuka, kami sudah beramai-ramai berkumpul di masjid. Sesekali kami akan membantu orang tua menyiapkan sajian buka puasa jika tiba giliran keluarga. Di lain waktu, kami akan mencuri-curi santap sisa-sisa makanan berbuka puasa di masjid.

Berbuka puasa rame-rame selalu menyenangkan. Tak peduli jenis kue atau santapannya. Bagi saya, makanan apapun di waktu bulan puasa semuanya kelihatan lezat dan punya selera. Wajar, saya biasanya lebih suka mencari keramaian berbuka puasa di tengah-tengah keluarga kampus saya. Enak atau tidak, itu urusan belakangan...


--Imam Rahmanto--