Jumat, 26 Juni 2015

Will Married

Tak ada maksud apa-apa membuat judul seperti itu. Saya bukannya orang yang kebelet menikah. Usia saya masih terlalu muda. Haha... Lagipula saya masih perlu menyiapkan banyak bekal untuk pasangan hidup saya nanti, baik harta maupun hati. Hanya saja, entah kenapa, hati saya selalu berdesir jika membayangkan hal demikian. Sembari memilah-milah perempuan seperti apa yang akan mendampingi saya kelak. Adduh...apa ini pertanda jodoh sudah dekat ya? :3

Dulu, saya pernah sedikit bercerita tentang tetek-bengek menikah (cek disini), lantaran menghayati sebuah lagu. Lagu yang selalu membuat saya tersenyum-senyum sendiri meresapi liriknya.

Di beberapa tempat, saya sering tak sengaja mendapati "petunjuk" ihwal pernikahan itu. Mulai dari status teman-teman, suami-istri bahagia yang (seolah) tak sengaja lewat di depan saya, cerita teman yang ditinggal nikah kekasihnya, video.klip, cerita, undangan-undangan pernikahan, sampai teman sebaya yang telah mendahului menikah.

Ah, atau jangan-jangan saya terpengaruh oleh salah satu video yang (sungguh sial) lewat di timeline facebook saya? Berlatar lagu Magic - Rude, di-lipsync-kan seorang laki-laki yang hendak melamar pacarnya di bioskop. Ckck....





Ceritanya, sepasang kekasih sedang menonton film di bioskop. Beberapa menit sebelum pertunjukan film.dimulai, si lelaki pamit ke kamar kecil. Alih-alih kesana, ia justru mempersiapkan kejutan untuk kekasihnya. Film bioskop yang diputar malah video klip si lelaki memerankan lagu Magic - Rude. Di akhir video, si lelaki mendatangi bioskop dengan setelan jas rapi. Muncullah si lelaki dari luar bioskop mengenakan setelan jas di dalam cuplikan videonya.

"Will you marry me?"

Tentu saja, momen itu membuat si wanita terkejut dan tak bisa berkata apa-apa. Selama video durasi 4 menitan itu diputar, ia hanya bisa ertawa-tawa sekaligus berulang mengusap pelupuk matanya. Ia menerima lamaran si lelaki.

Dalam memilih pasangan hidup, saya tak ingin muluk-muluk. Perempuan itu harus selalu menjadi pengingat saya agar tak melalaikan shalat. Tak perlu yang dalam ilmu agamanya. Atau yang bahkan pemahamannya sampai berjuz-juz ayat Quran. Sederhana saja. Selama ia mampu menegakkan tiang agama bersama dengan saya.

Perempuan itu harus yang gemar membaca sehingga kelak bisa membagi waktunya untuk membaca tulisan-tulisan saya. Ia pula yang akan menjadi pembaca pertama atas draft novel saya. Saya juga berharap bisa membuatnya tersenyum lewat tulisan saya yang dibacanya.

Perempuan itu, silakan menulis apa saja. Saya tak pernah ingin membatasinya untuk menulis. Sejatinya, perempuan yang gemar menulis belajar untuk mengolah rasa. Ia juga berusaha agar tak hilang ditelan zaman.

Perempuan itu tak perlu feminin atau sangat mencerminkan kehalusan pekerti seorang Hawa. Saya justru menyukai perempuan-perempuan tangguh. Mandiri. Kelak, saya ingin menciptakan perjalanan kami sendiri mengelilingi banyak tempat di Indonesia.

Perempuan itu, mungkin terlalu sempurna jika pandai bermain musik. Tapi, itu hanya nilai plus. Sama halnya saya yang selalu terpikat dengan perempuan-perempuan berkaca mata.

Dan, masih banyak lagi yang tak tersebutkan. Kalau disebutkan satu-satu, saya bakal disangka ingin mengadakan sayembara mencari jodoh. -_-"

Pernikahan adalah hal sakral. Mengikat dua orang dalam satu pertalian utuh. Mencampurkan darah menjadi sebuah daging. Menyatukan rasa dalam ritme yang seirama.

Saya punya teman yang sudah kebelet menikah. Entah apa alasannya. Saya belum pernah menanyakannya. Padahal, teman lelaki saya itu belum menyelesaikan kuliah S1 yang sudah nyaris 6 tahu dijalaninya. Selain itu, tak ada yang meragukan kepandaian teman sekelas saya itu.

Bagi saya, ada hal-hal penting yang semestinya dijalani sebelum ke jenjang pernikahan. Bukan sekadar menjalankan sunnah Nabi. Atau karena ingin pintu rezekinya dibukakan. Atau hendak menghindarkan diri dari perilaku zina. Alasan-alasan yang menurut saya teramat normatif. Mereka, yang menikah lebih muda, kerap tergesa-gesa mengkambinghitamkan agama. Sudahkah ia punya harta yang cukup? Sudahkah ia punya batin yang kuat? Apa yang hendak dihidupi bersama istrinya?

"Menikah di usia muda bagus dan berguna lantaran melatih kita untuk menghadapi susah bersama-sama," saya biasanya mendengar alasan semacam ini.

Akan tetapi, sejatinya, lelaki baik mana yang mau membikin susah istrinya? Sesayang-sayangnya lelaki kepada pendamping hidupnya, ia tak sampai hati memaksa istrinya hidup bersusah-susah. Lelaki, jangan terlalu egois ingin diturutkan kemauannya hidup susah, lantaran pekerjaannya yang tidak mencukupi. Karena lelaki haruslah membahagiakan pendamping hidupnya. Karena lelaki adalah pengayom hidup keluarganya.


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar