Senin, 29 Juni 2015

Sekali Datang, Tak Mau Pergi

Daun Coffee

Tak semua kafe menjanjikan kenyamanan yang membuat para pengunjung betah nongkrong berjam-jam. Nyatanya, Daun Coffee, tak pernah sepi dari pengunjung yang ingin sekadar ngopi atau mendalami tugas hingga pekerjaan.

***

Kafe itu tak nampak dari seberang jalan. Butuh beberapa meter menelusup ke dalam areal pintu masuk sebuah kompleks perumahan. Disana, sepanjang ruas jalan lebar berbeton, kiri kanan berjejer ruko yang diselingi kafe dan tempat kursus.

Daun Coffee sangat mencolok di antara belasan ruko yang berjejer itu. Tanpa perlu melihat plang namanya, orang sudah tahu persis letak strategisnya. Cukup perhatikan motor-motor yang terparkir paling ramai dan meriah. Disana, Daun Coffee menyelip paling lebar dengan tampilan jendela setinggi pintu masuknya.


Kafe ini selalu ramai dengan pengunjung. Entah bagaimana caranya, ada sesuatu yang membuat orang betah berlama-
lama di kafe seluas dua ruko ini. 
Dari namanya, jangan pernah membayangkan konsep kafe dua lantai ini dijejali miniatur alam atau sekumpulan daun yang mempesona. Interior kafe justru didesain lepas dari tema itu. Dindingnya dipenuhi sketsa kopi dan segala jenis cake. Ujung ruangan dilengkapi dengan panggung kecil tempat pengunjung bisa bernyanyi, bermusik, hingga untuk menyampaikan seminar.

Di lantai dua, suasana temaram memberi efek romantis dan kehangatan. Bagi yang butuh angin segar, bisa mencari tempat di beranda kafe yang juga dilengkapi banyak kursi dan meja. Pengunjung tak perlu khawatir berlama-lama, lantaran ruangan didominasi sofa yang empuk dan dua televisi layar datar. Ada pula satu ruangan mushalla, khusus bagi yang ingin menyelingi aktivitasnya dengan bermunajat kepada Tuhan.

Owner Daun Cofee, Leonardo Lomewa mengaku, tak pernah memikirkan konsep khusus untuk nama kafenya. Nama itu muncul begitu saja setelah seorang teman yang dimintanya membuat logo menunjukkan sketsa bentuk daun. "Jadi, tidak ada unsur-unsur filosofis tertentu dari namanya. Malah muncul secara tiba-tiba dari logonya," ungkapnya ketika ditemui, Kamis malam, 25 Juni.

Oleh karena itu, desain interiornya tidak dibuat menyerupai namanya. Wallpaper di tiap dinding dipasang hanya menyesuaikan minat dari target pengunjung yang ingin disasarnya. Tampilan mewah, tapi harga boleh diadu dengan kafe serupa lainnya.

This is the main bar, entrance. 

Leonardo mengungkapkan, pelayanan yang diunggulkannya lebih kepada kenyamanan pengunjung berlama-lama nongkrong kafe. Tak heran, sejak Maret 2014, ia sengaja membangun kafe itu lebih luas daripada umumnya. Selain itu, meja dan kursi didominasi oleh perabotan sofa yang membuat orang tak ingin beranjak dari duduknya.

"Apalagi kan target saya 70 persen memang mahasiswa. Jadi, mereka bisa berlama-lama kerja tugas disini, biar dari pagi sampai malam," ungkap pria kelahiran 33 tahun silam ini santai.

Tak jarang kafenya menjadi pilihan komunitas atau organisasi tertentu untuk menggelar acara bazaar. Kendati demikian, ia tak memperbolehkan acara semacam itu dilangsungkan di lantai 2. Menurutnya, agar di lantai tersebut orang-orang masih bisa mencari kenyamanan dan ketenangan.

(Sejak mengenal Daun Coffee, saya justru tak sreg jika kafe ini disuntikkan konsep bazaar seperti warung-warung kopi di luar sana. Bagi saya, kesan eksklusif sebuah kedai kopi justru memudar seiring dengan keramaian bazaar yang ala kadarnya.)

(Kafe ini memang selalu ramai pengunjung. Dulu, ketika baru berdiri, kami senang menghabiskan waktu disana. Beranda di lantai dua selalu menjadi lokasi ternyaman kami. Hanya saja, dengan keramaiannya sekarang, saya tidak lagi menemukan ketenangan yang saya inginkan jikalau hendak mencari atau mendalami sesuatu, perihal pekerjaan maupun hobi saya. Hm...kafe ini bak seorang "teman" yang mulai lupa siapa teman yang dikenalnya pertama kali lantaran sudah mulai punya banyak teman baru.)

Leo sendiri tak pernah merasa risih jika pengunjungnya ingin menghabiskan waktu sampai berjam-jam. Kafe ini dibangun atas dasar tiga hal penting, yakni harga, rasa, dan wifi. Hingga dalam perjalanannya, ia menambahkan mushalla di lantai 2 agar orang tak lagi kerepotan mencari tempat shalat.

Di samping itu, Leo juga selalu menjaga kualitas kopi yang menjadi jualannya. Ia membeberkan, kopi olahan dasar di kafenya didatangkan langsung dari Toraja dan diolah sendiri di rumahnya. "Kebetulan saya punya keluarga dari sana dan tahu cara mengolah biji kopinya," tambah pria yang telah berkecimpung di dunia bisnis sejak 2005 ini.

Saban hari, Daun Coffee bisa menerima kunjungan lebih dari 300 orang. Mulai dari para pelajar, mahasiswa, hingga para pebisnis. Meskipun beberapa kafe mulai menjamur di sekitarnya, namun Daun Coffee tak pernah kekurangan peminatnya.

"Kalau bersantai di Daun, entah kenapa, kita suka berlama-lama dan merasa nyaman. Selalu ada alasan untuk bisa kembali lagi," tandas salah satu pengunjung, Awal Hidayat, sembari menyesap aroma cappuccinonya. (*)


***

P.s. Feature tentang kafe memang selalu memantik hormon feromon saya. Di satu sisi, saya suka menulis secara bebas dengan sedikit menyisipkan pikiran yang ada di kepala saya. Di sisi lain, saya selalu diikat oleh kedekatan dengan kedai kopi. Jikalau sempat dan memungkinkan, selalu saja ada cara untuk menyelipkan unsur #cappuccino di dalamnya. Cappuccino is how I am... ;)

Foto by Tawakkal, FAJAR Daily Newspaper

Tidak ada komentar:

Posting Komentar