Sabtu, 06 Juni 2015

Perempuan yang Menyita Ingatan

[sambungan dari sini]


Malam ini, saya baru saja usai menyeruput segelas cappuccino. Saya terpikir sesuatu di dalam kepala, yang mungkin menggumpal hendak dikeluarkan atau diluapkan, tanpa perlu dilupakan. Akh, bukan perkara kekesalan, keganasan, atau perasaan yang bercampur-baur. Hanya ide yang enggan bergeming lama-lama di dalam kepala. Ya, apa pun di kepalamu, hendaknya keluarkan saja.

Ini bulan Juni, dan hujan masih turun sesekali. Ini bulan Juni, semoga hadiah turun sesekali.

*sebentar, saya sedang merebus air. Ada satu sachet lagi yang harus dituangkan dalam gelas.*

"Siapa orang yang pertama kali kau sukai?"

Pada hakikatnya, saya hanya akan menjawab "ibu". Siapa pun yang pernah mengenal dunia, pasti mengenal siapa yang melahirkannya. Tak ada yang bisa memungkiri, kasih paling besar ada pada seorang ibu. Oke, oke. Sudah. Sekarang kita beralih pada pertanyaan yang lebih serius, dengan jawaban yang sangat serius. 

Hahahaha....Ya, ya. Saya cukup rindu berlaku begini, it's me!

Saya mengenal perasaan "malu-malu" itu di masa SMA dulu. Tahu, bukan, "malu-malu" seperti apa yang saya maksud? Perasaan malu sekadar menatap langsung matanya. Berbicara di hadapannya, sekadarnya saja. Memanggil nama, terselip sedikit keinginan menyelipkan "sayang". Sungguh gusar orang yang sedang menyukai lawan jenisnya.

Perempuan itu, saya mengenalnya sudah sejak lama. Jauh sebelum kami memasuki sekolah-tingkat-menengah-atas yang sama. Di sekolah-tingkat-menengah-pertama, saya sudah mengenalnya. Hm...seingat saya, kami berasal dari kelas unggulan yang sama. Saya mengenalnya sebatas perempuan yang juga berprestasi di tingkat sekolah kami. Akh, tentu saja masih belum bisa menyaingi tingkat prestisius saya. #nyombong. Kami berteman baik.

Terkadang kita tidak pernah tahu bagaimana mekanisme Tuhan membolak-balikkan hati. Saya sudah tak ingat lagi bagaimana muasal menyukai perempuan itu. Diam-diam, saya hanya mulai mengaguminya. Mengamatinya dalam diam. Mungkin, bermula ketika saya dan dirinya berada dalam satu kepengurusan organisasi yang sama.

Laksana remaja yang baru mencapai masa pubernya, saya mulai keranjingan menikmati kehadirannya. Tahu, kan, bagaimana rasanya merindukan seseorang yang disukai? Sehari saja tak bertemu, rasanya nyaris setahun. Saya baru menyadarinya jauh di kemudian hari bahwa teori Einstein benar berlaku dalam kehidupan cinta; sejam duduk di samping perempuan cantik, rasanya seperti semenit saja. Sedangkan semenit duduk di atas tungku yang membara, serasa duduk sejam lamanya. Mungkin, ini yang dimaksud relativitas (cinta)? Hahahaha...

Saya tidak bisa mengingat detail atas alasan apa saya menyukainya. Sejatinya, yang namanya cinta memang tak terjelaskan dan tak terelakkan, bukan? Serius. Di dalam kepala, saya hanya tahu bahwa pernah menyukainya. Sebegitu benarnya, hanya salah satu memori saja yang tak lekang di ingatan saya.

"Masih ingat ya tentang kejadian itu?" 

Saya berjumpa kembali dengannya suatu waktu kedatangan kami di sekolah dalam pelatihan jurnalistik. Saya bersama beberapa orang teman dari lembaga jurnalistik kampus memang hendak melaksanakan pelatihan di sekolah tempatnya mengabdikan diri. Sebenarnya mantan sekolah kami dulu. Perjumpaan terencana. Saya menyengajainya. Bukan hendak mengulas apa yang telah berlalu dan mencoba menumbuhkan benihnya kembali. Saya hanya mencoba meredam segala bentuk suka dengan menghadapinya secara langsung. Meski canggung, untuk perempuan satu ini, saya menganggap segalanya berjalan biasa-biasa saja. Saya masih rindu mengobrol banyak "kejujuran" dengannya. Tak ada yang perlu disembunyikan. Tak ada yang perlu ditakutkan. Saya kini, bukanlah saya dulu, yang malu-malu menyampaikan gejolak di kepala, maupun di dada.

"Tentu saja," meski ia menjawab dengan malu-malu dan sengaja menutup-nutupi sesuatu diantara kami. Ia masih seperti dulu, tak banyak berubah. Wajar, kami memang tak hanya berdua. Sembari menunggui acara pelatihan jurnalistik di dalam ruangan, sekelompok teman lainnya juga mencuri-curi dengar. Tak ayal, menjelma bingar ledekan. #Ecieeee..... Beberapa teman SMA yang ikut pada waktu itu memang tahu sejarah antara saya dan perasaan yang terpendam dulu.

"Memang, apa isinya hadiahnya?" seorang teman berusaha mengorek cerita, yang tentu saja disambut senyum malu-malu dari perempuan itu.

Jauh beberapa tahun silam, hal paling berani yang saya lakukan untuk perempuan yang saya sukai, memberi hadiah ulang tahun. Akh, sampai kini pun, hadiah ulang tahun dianggap momen paling berharga menunjukkan perhatian seseorang. Meski terlewat beberapa hari, saya tetap menganggapnya spesial. Hanya saja, ah, setiap kali mengingat momen itu, saya justru ingin tertawa sendiri.

"Apa sih isinya?" paksa yang lainnya.

Saya, yang ingin menjawab mewakilinya, sebenarnya juga lupa dengan hadiah pemberian itu. Kalau pun tahu, mungkin saya akan menjawabnya dengan lugas. Bagi saya, di saat seperti ini, tak ada lagi yang perlu disembunyikan. Hanya saja....saya benar-benar lupa. x_x. Sementara, menurut pengakuannya, ia masih menyimpan hadiah pemberian itu. 

***

"Mau pulang?"

"Iya,"

"Ayo, saya antar. Kebetulan saya mau ke rumahnya si A,"

Saya berdalih untuk menguatkan alasan. Padahal, sejak pelajaran sekolah berakhir, saya sudah mengancang-ancang, mengamati, mengintai, dan mengatur skenario agar bisa mengantarnya pulang. Meski rumah saya sebenarnya berlawanan arah. Saya hendak memberikannya hadiah ulang tahun. Aneh, memang. Saya masih belum tahu caranya bertindak benar mendekati seorang perempuan. 

"Eh, tapi sebelum itu, kita ke rumahku dulu ya? Ada sesuatu yang ketinggalan di rumah,"

Kalau dipikir-pikir, saya bodoh sekali ya? Niat mengantar pulang, justru membawa ke arah sebaliknya. Bagaimana tidak, "sesuatu" itu adalah hadiah untuknya yang saya tinggalkan di rumah. Saya tidak punya cukup keberanian untuk membawanya ke sekolah, menambah ketebalan isi tas.

Mungkin, ia sudah mulai agak ragu. Akan tetapi, karena "tak enak", ia ikut saja. Seusai mengambil "sesuatu", yang kemudian saya selipkan ke dalam tas, saya mengantarkannya pulang. Jarak rumahnya, dua kali jarak rumah saya yang berlawanan arah.

Di tengah perjalanan, hujan turun. Setengah menderas. Lantaran tak membawa jaket, saya berhenti di tengah jalan dan mengetuk pintu rumah salah seorang teman. Saya hendak meminjam jaket. *Kurang romantis apa, coba?

Ternyata hujan tak begitu deras. Hanya rinai-rinai kecil yang mengantarkan saya dan dia ke depan rumahnya. Setibanya, saya segera mengangsurkan pemberian yang sudah direncanakan itu. Hadiah yang kelak saya tak ingat lagi apa wujudnya.

Ah iya, perjalanan saya tetap berlanjut menuju rumah teman saya, sesuai skenario awal, agar tak mencurigakan. Hahaha...

***

"Benar, kau tidak ingat lagi apa isinya?" tanyanya meyakinkan. Saya hanya mengiyakan.

Padahal menurutnya, sesuatu itu masih disimpannya hingga kini. Saya tak menanggapinya serius. Bagi saya, ia yang menyimpannya sekadar dianggap pemberian dari seorang teman. Saya tak pernah (atau tak ingin) mereka-reka bahwa ia juga punya perasaan yang sama dengan saya. Toh, semenjak ia kuliah hingga lebih dulu tamat dibanding saya, ia sudah memiliki seorang kekasih hati. 

"Kau pasti sudah tahu kan, bahwa saya dulu pernah menyukaimu?" tanya saya blak-blakan. 

Akh, saya tak peduli dengan raut "mengejek" teman-teman di sekitar sana. Saya hanya menyuarakan apa yang hendak saya ketahui, tanpa perlu dipendam-pendam lagi. 

"Emm...ngomong-ngomong darimana kau tahu? Padahal kan saya ndak pernah bilang langsung," lanjut saya. 

Seperti biasa. Ia hanya tersenyum dan malu menjawabnya. Sesekali ia menghindar, menjauh. Mengisyaratkan agar tak perlu membahas hal seperti itu lagi. Apalagi diusik dengan suara berisik teman-teman yang penasaran dan "haus" ingin mem-bully.

***

Hanya ingin tahu, seberapa besar kehidupan telah berputar. Seberapa kuat kita menahan diri dari kecanggungan yang melintas masa. Dulu, kau dan aku, hanya sekadar perasaan di batas awang-awang yang tak tersampaikan ke lubuk hati. Ia hanya gubuk tak bertuan. Sama-sama menanti, perasaan yang mengaitkan satu sama lain.

Apakah kita sengaja mengelabui waktu? Menanti suatu masa yang akan membelokkan takdir pada kehendak. 

***

Saya tak menyesal pernah menyukainya. Pun, saya tak perlu menyesal hanya memendamnya. Hingga kini, kami masih berteman baik. Setiap kali saya pulang "kampung", saya selalu menyempatkan diri bertemu, bertamu, atau berkumpul bersama teman-teman lainnya. Antara saya dan dirinya, tak ada lagi persoalan hati. Bagaimana pun, saya sudah belajar membedakan perasaan itu.

Perihal rindu, saya tak perlu menampiknya jauh-jauh. Suatu waktu, lama tak bersua, saya ingin selalu merindukannya. Serasa ingin melihat senyumnya yang dewasa. Mendengar suara sederhana yang bersahaja. Merindukan duduk berdua membicarakan kejujuran masa silam dengannya. Untuk perasaan yang satu ini, saya sudah berdamai dengannya. Pun, seberapa kuat dan memaksanya teman yang lain menggali dan menumbuhkan kembali untuk kami, saya harus menyadari ada hal-hal yang tak perlu lagi dipaksakan. Diterima saja. Lapang dada, kata Sheila On 7.

Saya tak perlu melenyapkan perasaan "suka" itu. Cukup belajar saja menerimanya. Lagipula, semakin saya memaksa menampik hal itu, saya justru menjerumuskan diri dalam perkara yang lebih pelik. Toh, dalam beberapa putaran tahun menjalani kuliah di kota ini, saya menemukan perasaan yang jauh lebih membahagiakan. Perasaan yang mampu membuat saya berani mengemukakan perkara hati. Lantas berani memulai dan mengawali sesuatu. Perasaan yang juga mengajari tentang "luka" itu sendiri...



 --Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar