Selasa, 16 Juni 2015

*Paradoks

Zaman sekarang, orang-orang sudah mulai enggan mengingat sesuatu. Pikiran dan ingatan mereka sebagian besar telah dipasung dunia digital. Kelak, mungkin kita akan menemui berbagai macam "memory" diperjualbelikan di pasaran dengan paduan kuota di atas "Terrabyte". Seperti lelucon anekdot, otak kita menjadi yang paling segar diantara otak-otak peradaban lainnya. 

Bukankah paradoks yang terbangun tentang bagaimana smartphone, si ponsel pintar justru membuat kita terlihat semakin bodoh? Kita tak tahu lagi "mengingat" tanpa "diingatkan" si ponsel pintar. 

Saya cukup terkesan dengan film Surrogates. Film yang bercerita tentang robot pengganti. Hampir di seluruh dunia bertebaran robot-robot yang penampilannya sangat mirip dengan manusia pada umumnya. Mereka digerakkan para pemiliknya dari rumah. tanpa perlu susah payah bangkit dari tempat tidurnya, manusia sudah bisa hadir di pertemuan, menjadi model, berbelanja di pasar, menangkap penjahat, bekerja, hingga bercinta. Hampir semua orang di perkotaan memanfaatkan produk teknologi canggih yang dinamakan Surrogates itu. Apalagi dengan adanya robot pengganti itu, mereka bisa tampil di tempat umum dengan wajah yang cantik atau bahkan lebih memukau.

Tujuan Dr. Canter menciptakan Surrogates sebenarnya sangat mulia. Ia hanya ingin mempermudah segala aktivitas manusia. Selain itu, dengan robot pengganti, kejahatan di suatu kota bisa diminimalisir. Kejahatan kriminal menurun drastis. Akan tetapi, di penghujung usianya, ia kemudian menyadari bahwa Surrogates membunuh rasa "kemanusiaan" pada diri setiap manusia. 

Orang-orang tak mengenal lagi sentuhan secara langsung. Perasaan alami dalam berjalan, melompat, atau bahkan rasa sakit akibat terkena pukulan. Semakin lama, manusia telah kehilangan "rasa manusia"nya.

"Look at yourselves. Unplug from your chairs, get up and look in the mirror. What you see is how God made you. We're not meant to experience the world through a machine." --Surrogates--

"Lihat dirimu. Cabut kabel dari kursimu, bangun, dan pandangilah cermin. Apa yang kau lihat adalah bagaimana Tuhan menciptakanmu. Kita tidak dimaksudkan untuk menjajal pengalaman di dunia ini melalui sebuah mesin."

Oleh karena itu, seorang polisi, Tom Greer, yang awalnya ingin mengejar pelaku penghancur dan perusak Surrogates, berbalik ingin "melenyapkan" Surrogates itu sendiri. Ia juga menyadari, keintimannya dengan sang istri juga tersekat oleh robot pengganti. Tubuh istrinya yang bak model, bukanlah istri yang dia inginkan. 

Film bertema action-sci-fi ini sungguh mengingatkan saya pada keadaan di era digital seperti sekarang. Mungkin, film Sursogates cukup gamblang menggambarkan bagaimana manusia kecanduan dengan kecanggihan teknologi itu. Hingga pada akhirnya, di saat mereka harus melepaskan kecanggihan itu, mereka tidak tahu lagi bagaimana caranya menjadi "manusia" sejati.

Saya tetiba rindu dengan segala macam non-digitalisasi. Merasai dunia tanpa sekat-sekat jaringan sosial. Bertemu, bertatap mata. Berjabat tangan, bercerita banyak hal. Mengucapkan selamat tidak sekadar lewat jaringan social-media, yang cenderung hanya sekadar berbasa-basi. 

Kalau boleh, kapan-kapan, mari berteman di dunia nyata. Semurni kita bertemu di kedai kopi langganan dan merasai aroma kopi di sudut-sudut ruangannya. Tersenyumlah, sembari memperlihatkan deret gigi yang tak kilap lagi.



--Imam Rahmanto--



P.s. entah kenapa saya tetiba menuliskan ini di luar kepala. Mungkin saya hanya agak kecewa dengan "ingatan-ingatan" yang tersita itu. Ah, sudahlah. Saya pun tersita rutinitas hingga tak mampu memeluk diri sendiri, kemarin, seperti yang disarankan Aan Mansyur dalam sajaknya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar