Jumat, 19 Juni 2015

Investasi Hidup

"Begini-begini, saya memang kelihatan miskin. Tapi, jangan salah, saya punya ribuan koleksi buku di rumah,"

"Kalau sudah punya buku sebanyak itu, ia tak benar-benar miskin dan bakal selalu kaya," saya membenarkan di dalam hati.

***

Saat berada di tempat yang punya banyak koleksi buku atau bahan bacaan, saya rasanya tak ingin cepat-cepat beranjak. Saya selalu mengidam-idamkan punya perpustakaan pribadi. Isinya banyak buku dengan rak dinding yang variatif. Kursi-kursi malas. Area baca. Minimal, mirip Ruang Kreatif (Rutif) yang sempat saya kunjungi malam kemarin.

Sebenarnya, saya terhitung dua sampai tiga kali pernah mengunjunginya. Namun semenjak kedai kopi En House dibuka, melengkapi Rutif yang berada di lantai dua, saya tidak pernah lagi berkunjung kesana. Kedai kopi di seberangnya, yang selalu crowded,  justru membetot hati. Saya sekali-kali hanya bisa memandangi Rutif - En House dari teras kafe seberang. Seperti kata teman saya, entah keunikan apa yang ditawarkan kafe itu hingga membuat kami tak bosan berkunjung saban waktu. "Ada sesuatu yang beda dan memang membuat nyaman ketika sudah duduk disana," ujarnya.

Saya tak ingin berbicara tentang Kafe En House yang tetiba dibebankan liputannya pada saya. Apalagi membandingkannya dengan kafe lain. Saya sudah menuliskannya di kolom feature media tempat saya bekerja. Mungkin, besok saya akan sedikit menumpahkan hasil liputan itu disini. Kafe yang akhirnya memperoleh kesempatannya dikunjungi oleh penikmat cappuccino seperti saya. Kafe keren yang menyediakan ribuan buku di lantai duanya. Lantaran bulan puasa, kafe hanya buka pada malam hari, saya baru bisa menyempatkan wawancara di waktu itu.

Ruang Kreatif  (Rutif) yang berada di lantai 2 Kedai Kopi En House. (Foto: Tawakkal - FAJAR)

Saya hanya ingin berbagi tentang sesuatu yang telah lama saya sebut sebagai investasi tak ternilai; buku. Dan malam itu, secara tak sengaja, jiwa saya "disentak" kembali oleh perbincangan ringan dengan seorang fotografer senior yang bertugas men-tandem saya untuk foto liputan.

"Berarti, masih lebih banyak buku saya di rumah," ujar sang fotografer sesaat tiba di puncak anak tangga yang menghubungkan kedai kopi ke lantai dua. Padahal, saya melihat koleksi buku di Rutif sudah mencapai seribuan. Begitu kata "pustakawan"nya.

Saya tak menyangka, fotografer yang sudah 12 tahun menggeluti pekerjaannya itu ternyata seorang kolektor buku. Ia mengaku, koleksi bukunya mulai dari zaman dia masih kuliah dulu. Tak hanya buku, ternyata ia seorang kolektor musik dan film bioskop. Tak tanggung-tanggung, di rumahnya juga bersemayam 8000 koleksi kaset dan piringan musik. Selain itu, satu ruangan khusus di rumahnya ia gubah menjadi bioskop mini. Saya semakin dibuat iri.

"Kalau saya punya uang, biasanya memang habis gara-gara beli buku, beli kaset musik," ungkapnya di sela-sela mengambil gambar di Rutif. Sekali-kali, ia menyebutkan beberapa judul buku sejarah dan biografi menarik. Termasuk ribuan piringan muusik yang dimilikinya. Hanya saja, semenjak ia mulai berkeluarga dan memiliki anak, ia harus mengurangi kebiasaannya itu. Dari 20 sekali beli, jadi 10 saja sekali beli. Itu juga masih banyaak!

Saya jadi tersentil. Dari dulu, saya memang menganggap bahwa buku adalah investasi paling berharga. Hanya saja, investasi itu tidak dibarengi dengan uang yang cukup. Sekali beli, mungkin saya harus berpikir lebih jauh bagaimana caranya bertahan hidup.

Akan tetapi, seolah sudah diilhamkan malam itu, hati kecil saya tiba-tiba menyentak, "Nah, apa kubilang! Saatnya kau kembali menginvestasikan uangmu pada buku!"

Dengan bahagianya, sang fotografer bercerita tentang semua koleksi bukunya. Koleksi musiknya. Pemutar piringan hitamnya. Tempat-tempat ia memperoleh bukunya. Satu-satu, ia menyebutkan pasar loak buku di daerah Bandung dan Jakarta. Dulu, ia kuliah Ilmu Sosial Politik salah satu kampus ternama disana. Wajar, ketika ia tahu banyak area "ladang buku" disana.

"Saya biasanya lebih suka membeli edisi pertama setiap terbitan buku," ungkapnya. Ia mengaku, punya semua koleksi buku yang dituliskan oleh Pramoedya Ananta Toer. Pram juga merupakan salah satu penulis favoritnya. Ah, saya jadi iri... Argh...

"Kapan-kapan, saya harus berkunjung ke rumah ta, Kak," ujar saya. Ia mengiyakan saja. Rumahnya tak jauh dari lokasi liputan kami.

Seharusnya saya juga mampu menyisihkan sedikit uang untuk membeli sebanyak-banyaknya buku. Sudah lama saya tak membelanjakan uang demi satu buku yang jadi idaman. Jalan-jalan di Gramedia seadanya saja. Hanya menyimpan judulnya di ingatan, lantas melupakannya. Lebih banyak sakit hatinya ketika berkunjung disana (baca: toko buku).

Saya membeli buku terakhir kali.... aduh, lupa kapan. Buku terbaru saya malah didapatkan dari hadiah saat mengikuti (sekaligus meliput) acaranya Andy F. Noya di Kantor Gubernur. Saya selalu memimpikan punya mini-library sendiri, dengan griya keren dan tidak membosankan. Kalau hanya berharap dari "pemberian", kapan saya bisa mewujudkannya?

Baiklah, kelak, jika saya sudah memperoleh gaji "sebagaimana mestinya", saya bakal menginvestasikan uang saya dalam bentuk buku tiap bulan. Mungkin, seperti sang fotografer, saya juga akan membawa pulang buku di setiap penempatan tugas saya. I'll promise!

Eh, saya mendadak teringat ucapan seorang fotografer senior lainnya di waktu yang berbeda, beberapa hari sebelumnya.

"Kau tidak akan pernah benar-benar memiliki sesuatu kalau kau menunggu punya uang dulu untuk memilikinya atau membelinya. Berpikirlah tanpa menyertakan aturan pembelian seperti pada lazimnya," 

#Jlebb. 

Memang benar. Saya menyadari hal itu. Menunggu ada dana malah semakin menyiksa jika tidak kunjung memilikinya. Serius. Semakin lama hanya  akan menjadi angan-angan. Seharusnya, saya mulai berpikir seperti yang selalu dinasihatkan ustadz Aa Gym,

Mulai dari diri sendiri,

Mulai dari yang terkecil,

Mulai dari sekarang!

Perpustakan seperti ini yang keren! (Sumber: hipwee.com)


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar