Minggu, 21 Juni 2015

Buku, Film, Musik, Hingga Seteguk Cappuccino

*Ruang Kreatif (Rutif) En House

Membaca buku tak hanya bisa dilakukan di perpustakaan. Di Ruang Kreatif (Rutif), aktivitas membaca buku tak lagi menjemukan karena bisa diselingi hobi musik, sembari perlahan menyeruput secangkir cappuccino.

***

Ribuan buku berjejer rapi di atas rak dinding. Masing-masing buku disusun berdasarkan penomoran dan genrenya. Susunan rak yang tak beraturan menambah kesan variatif pada dinding ruangan itu. Ditambah dengan lukisan dan poster yang memberikan kesan elegan.

Sekilas, ruangan yang disebut Rutif itu nampak seperti kamar baca pribadi. Di sekeliling ruangan, selain kursi dan meja panjang, tersedia pula satu-dua kursi "malas" berbahan sofa. Jikalau tak suka duduk di kursi, bisa lesehan di atas rumput sintetis berukuran 3 x 3 meter. Di hamparan rumput hijau itu, ada bangku goyang yang bisa memuat hingga 3 orang.

Rutif tak bisa dianggap perpustakaan biasa, lantaran salah satu pemiliknya, Muh. Fajrin Rahmansyah juga enggan menyebutnya sebagai perpustakaan. Alasannya, istilah perpustakaan terkesan agak formal dan kebanyakan orang agak "fobia" dengan hal itu. Oleh karena itu, ia lebih santai menyebut mini perpustakaannya sebagai Ruang Kreatif.

"Tidak hanya sebagai tempat membaca buku. Disini, bisa menjadi tempat bermain musik, menonton film-film edukatif, hingga menggelar acara-acara diskusi yang melibatkan banyak orang," ungkap Fajrin ketika ditemui di Rutif, Kamis malam, 18 Juni.

Pengunjung bercengkerama. Rutif memang menjadi pilihan menarik bagi mereka yang membutuhkan ketenangan mencari inspirasi. (Foto: Tawakkal - FAJAR)
Seisi ruangan memang diselingi oleh peralatan musik hingga fasilitas-fasilitas mulitimedia lainnya. Untuk mendukung aktivitas kegiatan-kegiatan komunitas disana, ruang lantai dua itu juga menyediakan layar datar berukuran 32 inch. Seperti yang dikatakan Fajrin, layar itu dimanfaatkan untuk kegiatan presentasi hingga pemutaran film. Bahkan, ada pula pemutar piringan hitam yang sesekali difungsikan.

Fajrin mengaku, hiburan semacam itu dibutuhkan untuk memancing ide atau gagasan setiap pengunjung atau pekerja kreatif yang membutuhkan inspirasi. Setiap orang punya karakter yang berbeda-beda dalam menemukan gagasan kreatif.

"Ada yang duduk tenang membaca buku, bisa mendapatkan ide. Ada yang baring-baring membacanya, baru bisa nyaman. Ada yang harus diselingi bermain musik, baru bisa memunculkan ide-ide kreatifnya," cetus pria kelahiran 23 tahun silam ini. Oleh sebab itu, menurutnya, Rutif tidak hanya muncul sebagai perpustakaan tempat menyimpan buku.

Ia menambahkan, Rutif kerap mewadahi setiap orang yang hendak menggelar kegiatan diskusi. Hanya saja, ruangan seluas 15 x 5 meter hanya muat hingga 50 orang. Baru-baru ini, lanjutnya, Polrestabes Selayar pernah menggelar acara bedah buku di Rutif yang dihadiri langsung oleh Wali Kota Makassar.

Tampilan En House dari depan. Come in.... (Foto: Tawakkal - FAJAR)
Kehadiran Rutif juga ditopang oleh kedai kopi En House yang berada tepat di lantai pertama. Kafe yang berjalan selang setahun ini menyediakan menu-menu serupa kafe lainnya. Bedanya, penampakan En House tak kalah menawan karena menawarkan visual desain yang ciamik. Di sisi kafe, ada miniatur atap rumah yang menjadi ciri khas En House. Beberapa kata-kata bijak juga menghiasi dinding di dalam kafe. Menurut Fajrin, konsep penyajian di kafenya juga lebih mengutamakan sisi edukatif dalam memperkenalkan jenis-jenis minuman kopi.

"Kalau ada yang pesan minuman, kita akan perkenalkan jenis minuman itu secara langsung dari bar," ungkap Fajrin. Pengunjung bisa berintraksi langsung dengan baristanya.

Di kedai kopi En House, ada dua bar yang disediakan bagi pengunjung. Slow bar, yang dikhususkan bagi para pengunjung penikmat kopi. Tak tanggung-tanggung, biasanya dilakukan open bar, yakni memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk meracik sendiri kopinya. Sementara di main bar, dikhususkan bagi pesanan minuman blended.

Dari slow bar yang menyambut pintu masuk. (Foto: Tawakkal - FAJAR)
Kehadiran En House selang setahun dengan kemunculan Rutif. Sebelum En House dibuka, lantai pertama merupakan minimarket pendukung Rutif. Akan tetapi, melihat animo anak muda, maka terbersitlah ide Fajrin dan teman-temannya menggubah minimarket itu menjadi kafe yang lebih mengundang minat anak muda.

Fajrin mengaku, kehadiran Rutif En House merupakan gagasan yang diprakarsai oleh dirinya dan ketiga temannya, yakni Nina, Swesti, dan Panji. Mereka ingin membangun usaha yang tidak sekadar menghasilkan uang, melainkan mencerdaskan para pelanggannya. Di samping itu, kebutuhan akan ruang-ruang kreatif untuk menggali ide sangat jarang di kota Makassar.

"Orang tua Nina punya banyak koleksi buku di rumah. Maka dia berpikir bagaimana agar pengetahuan yang sudah dibaca di rumahnya itu juga terbagi ke orang lain. Konsepnya pun harus lebih bersahabat dengan anak muda," kisah Fajrin, yang juga jebolan dari salah satu bank swasta.

Ia memutuskan hengkang dari tempat kerjanya, tak lepas demi membesarkan Rutif En House. Rencananya, Rutif En House dalam waktu dekat bakal melebarkan cabangnya ke salah satu pusat bisnis di Tanjung Bunga. Tambah Fajrin, disana En House akan dibangun lebih kompleks dan komplit.

Baik Rutif maupun En House, keduanya saling melengkapi. Di satu sisi, Rutif menyediakan tempat inspirastif bagi para insan kreatif. Di sisi lain, En House mencukupi kebutuhan gengsi anak muda akan minuman kopi. Keduanya berkombinasi dalam memancing ide-ide kreatif yang muncul ke permukaan. (*)

(Foto: Tawakkal - FAJAR)

---------------------

*Naskah liputan diterbitkan Sabtu, 20 Juni 2015. Dari banyak naskah yang telah terbit, saya memilih untuk menuangkan bagian ini di "rumah" saya. Judulnya, yang sengaja saya buat bersentuhan dengan "cappuccino" (padahal seharusnya bisa "kopi" saja), ternyata diterima oleh redaktur. Haha... judul ini lantaran saya gandrung dengan minuman cappuccino dan punya "rumah" dengan nama serupa. ;)

(Foto: ImamR)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar