Minggu, 21 Juni 2015

4# Tidur

Ramadhan#4 |

Apa yang menyebabkan di bulan Ramadhan, rasa lelah dan tak berdaya sangat mudah bertransformasi menjadi kantuk? Begitu ia tiba, tidur bakal terasa menggantikan seluruh waktu. Apakah karena tidur dinilai sebagai ibadah, maka orang beramai-ramai membenarkan tidurnya?

Dua hari belakangan, saya begitu mudah diserang kantuk. Kalau sudah ngantuk, saya akan mencari waktu buat tidur(-tiduran). Salah satu penyebabnya mungkin karena tak ada kerjaan. Beberapa liputan yang dibebankan jatuh pada tempo sore hari. Atau, bahkan saya tidak diserahi liputan apa-apa.

Oiya, posisi saya untuk saat ini berbeda dengan pewarta di kebanyakan media. Di media saya, kami tak ditargetkan jumlah minimal berita dalam sehari. Sederhananya (dan menyenangkannya), kami hanya menyelesaikan tugas yang diberikan. Pun, ada perintah, bergerak sesegera mungkin. Begitu saja.

Kalau tak diselingi paksaan bergerak, mungkin saya juga akan senantiasa menghabiskan waktu pagi dengan tidur. Oleh karenanya, setiap pagi, saya lebih memilih bersepeda di keramaian anak-anak kecil di pinggiran tanggul Benteng Sombaopu, ketimbang terbang mengawang-awang di alam mimpi. Tahukah, bersepeda sembari menyaksikan anak-anak bergerombol selepas Subuh betul-betul mendamaikan perasaan. Ada masa kecil dari lubuk hati yang tetiba disirami air segar. Yang kurang, hanya pasangan hati lainnya. #ehh

Meskipun sepulang bersepeda saya segera diserang kantuk berat. Kalau tak ada liputan, saya akan terbaring tak berdaya dan tanpa sadar. Sama saja...

Siang ini, saya juga nyaris melakukan hal demikian. Beruntung, pikiran "kebelet tidur" itu dicerabut paksa oleh tugas dari kantor. Di samping itu, saya juga punya janji menemani seorang teman berkeliling mencari percetakan untuk majalah sekolahnya. Pesan "titah" itu malah nyaris membatalkan janji saya.

Mungkin...

Bulan Ramadhan memang bulan suci yang penuh godaan. Setan-setan tak dibelenggu sepenuhnya. Mereka ganti godaan meniupkan hawa-hawa kantuk bagi orang-orang yang berpuasa, sembari memutarbalikkan pembenaran bahwa tidur adalah ibadah. Tak melakukan apa-apa, mosok ya jadi ibadah?

Ya Tuhan, kurangilah kantuk-ku...

Mungkin...

Tuhan mencoba kita yang berpuasa dengan mantra kantuknya. Makanan dan minuman dijejalkan serupa-rupanya. Kala subuh berlalu, Tuhan membiarkan semilir kantuk bersenyawa dengan udara pagi. Kala Tarawih menjelang, Tuhan menggoda pemuda yang kelebihan takjil dan santapan agar tak kemana-mana membopong perutnya, tak melakukan apa-apa, hingga tertidur saja. Woles lah...

Ketimbang menghabiskan waktu dengan tidur, saya berharap jadi anak kecil saja di bulan Ramadhan ini. Anak kecil yang begitu ceria melawan kantuknya...


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar