Sabtu, 20 Juni 2015

3# Waktu Subuh

Ini bukan sepeda saya. (Foto: ImamR)
Ramadhan#3 |

Saya mengayuh sepeda pelan di tepi jalan. Membiarkan udara pagi membelai wajah dan kulit saya. Tak begitu dingin. Cukup mendamaikan. Sesederhana itu saja.

Ketimbang tidur, saya lebih suka terjaga pagi-pagi. Bulan Ramadhan nampaknya menjadi rezeki tersendiri pula buat saya. Saya bisa menghabiskan waktu pagi tanpa takut telat kehabisan masa. Jika sudah tiba saatnya sahur, memulai ritual puasa, teman-teman bakal membangunkan. Berbagi sahur bersama. Untuk subuh kali ini, saya dibangunkan dentum suara perkusi dari orang-orang yang berkeliling mengingatkan waktu sahur.

Tahu tidak, kegiatan membangunkan sahur semacam itu merupakan salah satu khazanah budaya Indonesia yang patut dibanggakan. Di negara lain, tak ada yang menyerupainya.

Di sepanjang jalan, saya berpapasan dengan anak-anak yang tanpa rasa bersalahnya menyalakan petasan. Dengan muka sumringahnya, melemparkan petasan itu ke lawan jenisnya. Suara-suara perempuan yang sebal cukup memuaskan mereka. Anak-anak perempuan yang saya temui juga pagi ini masih rapat mengenakan mukenahnya. Pun, bergerombol jalan-jalan sejauh yang bisa mereka tempuh. Sesekali meminta perhatian dari anak-anak lelaki lainnya.

Beberapa kali saya juga disalip anak-anak yang bergerombol mengendarai motor. Betapa ceria dan bergembiranya mereka berboncengan. Tertawa-tawa dan saling mengolok-olok. Mungkin, mereka juga bahagia lantaran bebas membonceng wanitanya di bulan Ramadhan ini. Berbonceng dua. Berbonceng tiga.

Sejatinya, ada banyak hal yang memang pantas dirindukan di Ramadhan ini. Berhentilah merindu pada orang yang teramat jauh. Setiap kali melihat anak-anak remaja bergerombol menuju masjid, subuh, saya selalu tersentuh. Saya merindukan masa-masa seperti itu ketika saya juga masih kerap menunggui teman-teman sebelah rumah sekadar shalat Subuh bersama-sama.

Seusai shalat Subuh, kami juga tak langsung pulang ke rumah. Tidur terkadang menjadi hal yang kami hindari. Kami lebih suka menghabiskan waktu Subuh dengan jalan bergerombol. Sesekali hendak mencari perhatian teman-teman wanita lainnya. Bulan puasa justru menjadi arena wisata subuh.

Di kampung tinggal saya, ada bukit-bukit kecil yang sering dijadikan pemberhentian oleh kami yang ingin menikmati pagi. Orang-orang senang berada disana. Memanjat di pasir-pasir landainya. Atau duduk bergerombol di kaki bukit lainnya. Zaman kami masih belum ada selfie-selfie-an.

Sebuah pesan singkat masuk di handphone saya. Menyela suara musik dari salah satu channel radio pagi ini. Seorang teman sedang gundah terhadap pilihannya. Akh, jangan berpikir tentang asmara. Bulan Ramadhan begini, kita harus pandai-pandai menjaga hati. Saya membalas seperlunya, lantaran tak ingin ketinggalan momen merasai alam pagi. Kita, manusia, sudah terl;alu banyak disetir oleh teknologi. Sekali waktu, berjalanlah tanpa dipusingkan update status, foto, atau semacamnya yang bisa mengurangi esensi menikmati hidup. Meskipun saya tetap memakainya untuk menyelingi acara bersepeda pagi saya dengan musik.

Saya lama berputar-putar di sepanjang Malengkeri - Dg Tata - Manuruki - Malengkeri - Dg Tata - Dg Tata 3, hingga berakhir di tanggul kompleks Benteng Sombaopu. Seperti yang saya duga, area tanggul memang jadi "wisata subuh" bagi kebanyakan orang. Disana, mudah ditemui banyak remaja yang masih belum berganti pakaian sepulang shalat Subuh. Hingga hampir di ujung jalan, saya menemui sekelompok remaja beradu kecepatan motor. Memang, sepanjang jalan yang bersisian tanggul ini, sangat cocok sebagai sirkuit balapan "liar". Remaja lainnya hanya jadi penonton yang meramaikan seadanya.

Saya berhenti saja, melepaskan penat dari menggowes sepeda. Tapi tidak sampai mau membatalkan puasa. Saya ingin turut bergabung dalam keramaian seperti itu, sembari menanti fajar di ufuk timur. Ah, tidak, ternyata cuaca di langit sedang mendung. Saya hanya menemui semburat jingga yang menggantung di pucuk pepohonan...


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar