Selasa, 30 Juni 2015

12# Kumandang

Ramadhan#12 |

Lantaran setiap subuh kantuk semakin merajalela di bulan Ramadhan, maka berhati-hatilah dengan para pencuri. Bisa jadi, mereka menguntit sejak sahur. Mengamati dari jauh. Menaksir waktu yang tepat untuk beraksi di tengah lelap Ramadhan.

Yah, saya cuma mengingatkan saja...

Saya nyaris terlelap jika bukan karena mendengar kumandang adzan Subuh. Tersentak dan tersadar. Antara ingin melanjutkan tidur atau bagun dan meyambut Subuh. Sekaligus mengingatkan pada banyak hal...

Sewaktu kecil, saya sering menghabiskan waktu di masjid. Saban Dhuhur dan Ashar, berlomba-lomba memakai mikrofon masjid demi mengumandangkan adzan. Tidak hanya sendiri. Saya bersama dua orang teman saya bergantian mengumandangkan adzan.

Betapa semangat "memanggil shalat" itu cukup diapresiasi banyak orang. Perlahan, kami mulai dikenal masyarakat sekitar. Mereka mulai mengenali karakter suara di tiap adzan pada waktu itu. Saya juga menikmatinya, lantaran masa-masa itu keinginan untuk populer cukup mengemuka di kepala. Hahahaha...

Kini, semuanya berbeda. Tak ada lagi kumandang yang dilantunkan sendiri. Semua terasa berjalan biasa-biasa saja...


P.s. Latepost, lantaran jaringan tak memungkinkan untuk memposting.

--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar