Sabtu, 27 Juni 2015

10# Petasan

Ramadhan#10 |

Pernah berpikir apa yang menyenangkan dari masa kecil kita? Berbuat sesuatu tanpa perlu banyak pertimbangan rumit-rumit. Bermain petasan contohnya.

Di Makassar, saya masih banyak menemui anak kecil bermain petasan. Setiap subuh, atau sehabis tarawih. Mereka bergantian menyulut, melemparkan, atau mengacung-acungkannya pada yang lain. Tak jarang, mereka berlaku "lempar petasan sembunyi tangan".

Saya suka melihat anak-anak kecil bermain petasan di bulan Ramadhan ini. Lucu saja melihat mereka mengisi Ramadan dengan kemeriahan seperti itu. Bagi saya, bunyi-bunyian petasan menjadi penyemarak tersendiri di bulan suci ini. Yahh, meskipun terkadang mereka ditegur sampai diuber orang-orang tua yang jengkel.

Di kampung, petasan menjadi momok bagi sebagian orang. Kala Ramadhan tiba, larangan memainkan petasan selalu disampaikan lewat TOA masjid. Bunyi-bunyi petasan alhasil hanya bisa dihitung jari.

Di masa kami dulu, generasi 90-an, permainan mercon bambu kian merajalela. Dimana-mana, anak-anak saling beradu bunyi paling besar. Di belakang rumah. Di lapangan. Di kebun. Sampai di atas pohon-pohon.besar. Apalagi kalau bukan demi menciptakan dentuman paling besar.

Bagian paling memacu adrenalin di saat polisi atau tentara menegur atas suara letupan-letupan itu. Kata mereka, suara itu bising mengganggu bulan suci. Padahal, kelak, kita baru tahu bahwa orang dewasa tak ingin diganggu jam tidur lepas subuhnya.

Demi sebatang mercon, kami rela membeli minyak tanah per botol. Dulu, harganya masih kisaran seribu. Botol bekas minuman sprite selalu jadi wadah andalan.

Mendengar anak-anak zaman sekarang bermain petasan, seolah membawa saya kembali ke masa-masa itu. Apalagi mencium aroma-aroma khas mesiunya. Menyenangkan. Oleh karena itu, tak perlu mendelik kasar melihat anak-anak bermain petasa lepas subuh. Saya justru menyukainya. Pun, saya pernah merasainya.

Nah, tempat beli petasan dimana ya?


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar