Kamis, 18 Juni 2015

1# Puasa Pertama

Ramadhan#1 |

Awal puasa, banyak teman yang memutuskan pulang ke kampung halaman. Apalagi awal puasa tahun ini dilangsungkan bersamaan antara pihak NU dan Muhammadiyah. Semua orang berseru gembira, tanpa ada perbedaan lagi. Kamu puasa mulai kapan? Kamu ikut NU atau Muhamamdiyah?

Sebagaimana tradisi dan kebiasaan, teman-teman saya hendak merayakan hari pertama puasanya dengan keluarga. Sahur pertama, dibangunkan mamak. Buka puasa pertama, membantu mamak. Ah, betapa ngangeninnya momen-momen seperti itu... 

Saya agak iri sekaligus rindu menikmati momen-momen Ramadhan sepenuh hati. Kemarin malam, di jalan-jalan kota, saya melihat orang-orang bergerombol usai menunaikan tarawih. Sepanjang jalan, ceria, bercerita, hingga anak-anak berkejaran. Betapa mereka membangkitkan keinginan saya bisa berjalan ke masjid tanpa perlu dihantui aroma pekerjaan atau tugas.

Adzan penanda shalat menjadi berbeda auranya di masa-masa Ramadhan. Mungkin lantaran bulan yang melipatgandakan amalan, setiap lafadznya seolah menggetarkan hati. Kepala saya juga diajak berputar pada masa taat dan patuhnya ke masjid meemenuhi panggilan Tuhan.

Betapa tiap Ramadhan dulu, masa remaja saya kerap dihabiskan dengan tinggal berlama-lama di masjid, waktu Dhuhur hingga Ashar. Kalau lelah mengaji, saya mencari kesibukan lain dengan membersihkan sekaligus mengepel lantai masjid. Setelah tak ada kerjaan lainnya lagi, baru diselingi dengan tidur siang sampai waktu Ashar tiba. Bukankah tidurnya orang puasa selalu bernilai ibadah? Apalagi tidur di masjid, pahalanya berkali-kali lipat. Haha...

Terkadang, saya menargetkan khatam Quran di bulan Ramadhan hanya gara-gara ingin bersaing dengan teman lainnya.

"Kamu sudah sampai juz berapa?"

Kendati demikian, meski tak sepenuhnya ikhlas, kuantitas khatam Quran pada masa itu bisa mencapai tiga kali dalam sebulan. Resepnya gampang; mengaji saja 5 lembar setiap usai shalat fardu.

Berbeda dengan sekarang. Jangankan menamatkan 30 juz, membaca ayat-ayat Tuhan dalam sehari saja bisa dihitung tanpa jari. #menghela napas. Mengusahakan agar shalat fardhu tepat waktu juga sudah mulai tertatih-tatih. Ya Tuhan, ampuni saya. Semoga Ramadhan kali ini bisa membangun sisi religius saya yang telah lama tertimbun.

Sahur pertama, saya memang tidak bersama keluarga. Saya hanya bisa menelepon mereka dari jauh. Mengujar selamat sahur dan memperoleh tanya, "Kamu sudah sahur, nak? Sama siapa?" dari orang tua. Sembari tetap membalas ucapan selamat berpuasa dari mereka.

Akan tetapi, keluarga lainnya masih sigap saling menemani, bahu-membahu memasakkan sajian sederhana. Yah, tadi Subuh, kami sahur bersama. Sederhana. Hanya bersama sisa-sisa mahasiswa dan pekerja yang bertahan di padatnya kota Makassar. Paling tidak, untuk menikmati sahur pertama, saya tak perlu merasa sendirian. Saya masih punya keluarga...

Selamat berpuasa (sama-sama). :)


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar