Selasa, 30 Juni 2015

13# Berbeda

Juni 30, 2015
Ramadhan#13 |

Kata orang, angka 13 adalah angka keramat. Siapa saja yang pernah berkunjung ke gedung-gedung tinggi perkotaan pasti takkan menemukan lantai yang menunjukkan angka 13. Angka itu biasanya diganti dengan angka lain atau membuat angka sebelumnya bercabang. Semisal 12a, 12b, atau langsung ke angka 14.

Jangan mempercayai angka semacam itu di bulan suci. Itu saja.

Lagipula, bulan di hari ke-13 ini mendekati purnama. Coba tengok langit. Bulan cembung awal. Di atas sana sedang cerah berkibar menunjukkan berkah dari Tuhan. Cerah. Saya baru menemukan sekali hujan turun di tengah Ramadhan. 

Saya agak kesal dengan hasil terbitan koran saya hari ini. Ada kesalahan di dalamnya. Parahnya, kesalahan itu dilakukan berjamaah oleh media lainnya. Bahkan, media sekelas nasional sekalipun. Lebih mengecewakannya lagi, Naskah yang telah saya buat tidak sempat dilirik oleh rubrik yang seharusnya bisa menanggulangi kesalahan itu. Sungguh malang... 

Sudahlah. Bulan puasa adalah bulan bersabar...

Perihal kesalahan itu memang tak langsung disadari orang. Terkadang, segala sesuatu dianggap benar lantaran banyak orang yang menyetujui atau menganggapnya benar. Padahal, berbeda itu belum tentu salah. Saya justru menyukai hal-hal unik. Mengerjakan sesuatu yang unik. Atau menciptakan segala laku yang berbeda dari orang biasanya.

Puasa, tidak menjadikan kita berbeda dari agama lain. Kita justru mencoba untuk menjadi kuat dengan berpuasa. Bersabar menahan lapar. Bersabar menahan nafsu. Bersabar menahan syahwat.

Tak jarang saya menemui orang-orang yang mendadak merasa bersalah saat makan di depan orang yang sedang puasa. "Eh, maaf, ternyata sedang puasa ya?" sambil berlalu mencari tempat aman yang tak nampak bagi orang berpuasa. Padahal, bagi saya, hakikat berpuasa adalah melatih diri dari segala godaan. Jika kita beribadah tanpa "tantangan", bagaimana esensi menjadi kuat bisa terbentuk? Dengan adanya godaan, kita dilatih untuk menghadapinya secara nyata dan berani. Yah, miriplah jika Tuhan selalu menghadapkan cobaan bagi hamba yang dirasa-Nya bertakwa.

Di tengah orang yang menjalani kehidupan seperti biasa, umat Islam berani berbeda. Sebulan menjalani puasa. Hm...meskipun negeri kita didominasi kaum Muslim sih...

Ya sudahlah, semoga puasa kita bernilai ibadah...


P.s. Saya memborong 6 buku baru hari ini. Buku yang saya dapatkan dari lapak obral buku di sebuah mobil boks depan kampus. Bukunya memang bukan terbitan baru. Akan tetapi, buku-buku itu adalah buku yang masih layak baca. Selain itu, saya masih bermimpi memiliki banyak koleksi buku....


Buku-buku baru yang berbeda dari biasanya. Hahaha... (Foto: ImamR)



--Imam Rahmanto--

12# Kumandang

Juni 30, 2015
Ramadhan#12 |

Lantaran setiap subuh kantuk semakin merajalela di bulan Ramadhan, maka berhati-hatilah dengan para pencuri. Bisa jadi, mereka menguntit sejak sahur. Mengamati dari jauh. Menaksir waktu yang tepat untuk beraksi di tengah lelap Ramadhan.

Yah, saya cuma mengingatkan saja...

Saya nyaris terlelap jika bukan karena mendengar kumandang adzan Subuh. Tersentak dan tersadar. Antara ingin melanjutkan tidur atau bagun dan meyambut Subuh. Sekaligus mengingatkan pada banyak hal...

Sewaktu kecil, saya sering menghabiskan waktu di masjid. Saban Dhuhur dan Ashar, berlomba-lomba memakai mikrofon masjid demi mengumandangkan adzan. Tidak hanya sendiri. Saya bersama dua orang teman saya bergantian mengumandangkan adzan.

Betapa semangat "memanggil shalat" itu cukup diapresiasi banyak orang. Perlahan, kami mulai dikenal masyarakat sekitar. Mereka mulai mengenali karakter suara di tiap adzan pada waktu itu. Saya juga menikmatinya, lantaran masa-masa itu keinginan untuk populer cukup mengemuka di kepala. Hahahaha...

Kini, semuanya berbeda. Tak ada lagi kumandang yang dilantunkan sendiri. Semua terasa berjalan biasa-biasa saja...


P.s. Latepost, lantaran jaringan tak memungkinkan untuk memposting.

--Imam Rahmanto--

Senin, 29 Juni 2015

Sekali Datang, Tak Mau Pergi

Juni 29, 2015
Daun Coffee

Tak semua kafe menjanjikan kenyamanan yang membuat para pengunjung betah nongkrong berjam-jam. Nyatanya, Daun Coffee, tak pernah sepi dari pengunjung yang ingin sekadar ngopi atau mendalami tugas hingga pekerjaan.

***

Kafe itu tak nampak dari seberang jalan. Butuh beberapa meter menelusup ke dalam areal pintu masuk sebuah kompleks perumahan. Disana, sepanjang ruas jalan lebar berbeton, kiri kanan berjejer ruko yang diselingi kafe dan tempat kursus.

Daun Coffee sangat mencolok di antara belasan ruko yang berjejer itu. Tanpa perlu melihat plang namanya, orang sudah tahu persis letak strategisnya. Cukup perhatikan motor-motor yang terparkir paling ramai dan meriah. Disana, Daun Coffee menyelip paling lebar dengan tampilan jendela setinggi pintu masuknya.


Kafe ini selalu ramai dengan pengunjung. Entah bagaimana caranya, ada sesuatu yang membuat orang betah berlama-
lama di kafe seluas dua ruko ini. 
Dari namanya, jangan pernah membayangkan konsep kafe dua lantai ini dijejali miniatur alam atau sekumpulan daun yang mempesona. Interior kafe justru didesain lepas dari tema itu. Dindingnya dipenuhi sketsa kopi dan segala jenis cake. Ujung ruangan dilengkapi dengan panggung kecil tempat pengunjung bisa bernyanyi, bermusik, hingga untuk menyampaikan seminar.

Di lantai dua, suasana temaram memberi efek romantis dan kehangatan. Bagi yang butuh angin segar, bisa mencari tempat di beranda kafe yang juga dilengkapi banyak kursi dan meja. Pengunjung tak perlu khawatir berlama-lama, lantaran ruangan didominasi sofa yang empuk dan dua televisi layar datar. Ada pula satu ruangan mushalla, khusus bagi yang ingin menyelingi aktivitasnya dengan bermunajat kepada Tuhan.

Owner Daun Cofee, Leonardo Lomewa mengaku, tak pernah memikirkan konsep khusus untuk nama kafenya. Nama itu muncul begitu saja setelah seorang teman yang dimintanya membuat logo menunjukkan sketsa bentuk daun. "Jadi, tidak ada unsur-unsur filosofis tertentu dari namanya. Malah muncul secara tiba-tiba dari logonya," ungkapnya ketika ditemui, Kamis malam, 25 Juni.

Oleh karena itu, desain interiornya tidak dibuat menyerupai namanya. Wallpaper di tiap dinding dipasang hanya menyesuaikan minat dari target pengunjung yang ingin disasarnya. Tampilan mewah, tapi harga boleh diadu dengan kafe serupa lainnya.

This is the main bar, entrance. 

Leonardo mengungkapkan, pelayanan yang diunggulkannya lebih kepada kenyamanan pengunjung berlama-lama nongkrong kafe. Tak heran, sejak Maret 2014, ia sengaja membangun kafe itu lebih luas daripada umumnya. Selain itu, meja dan kursi didominasi oleh perabotan sofa yang membuat orang tak ingin beranjak dari duduknya.

"Apalagi kan target saya 70 persen memang mahasiswa. Jadi, mereka bisa berlama-lama kerja tugas disini, biar dari pagi sampai malam," ungkap pria kelahiran 33 tahun silam ini santai.

Tak jarang kafenya menjadi pilihan komunitas atau organisasi tertentu untuk menggelar acara bazaar. Kendati demikian, ia tak memperbolehkan acara semacam itu dilangsungkan di lantai 2. Menurutnya, agar di lantai tersebut orang-orang masih bisa mencari kenyamanan dan ketenangan.

(Sejak mengenal Daun Coffee, saya justru tak sreg jika kafe ini disuntikkan konsep bazaar seperti warung-warung kopi di luar sana. Bagi saya, kesan eksklusif sebuah kedai kopi justru memudar seiring dengan keramaian bazaar yang ala kadarnya.)

(Kafe ini memang selalu ramai pengunjung. Dulu, ketika baru berdiri, kami senang menghabiskan waktu disana. Beranda di lantai dua selalu menjadi lokasi ternyaman kami. Hanya saja, dengan keramaiannya sekarang, saya tidak lagi menemukan ketenangan yang saya inginkan jikalau hendak mencari atau mendalami sesuatu, perihal pekerjaan maupun hobi saya. Hm...kafe ini bak seorang "teman" yang mulai lupa siapa teman yang dikenalnya pertama kali lantaran sudah mulai punya banyak teman baru.)

Leo sendiri tak pernah merasa risih jika pengunjungnya ingin menghabiskan waktu sampai berjam-jam. Kafe ini dibangun atas dasar tiga hal penting, yakni harga, rasa, dan wifi. Hingga dalam perjalanannya, ia menambahkan mushalla di lantai 2 agar orang tak lagi kerepotan mencari tempat shalat.

Di samping itu, Leo juga selalu menjaga kualitas kopi yang menjadi jualannya. Ia membeberkan, kopi olahan dasar di kafenya didatangkan langsung dari Toraja dan diolah sendiri di rumahnya. "Kebetulan saya punya keluarga dari sana dan tahu cara mengolah biji kopinya," tambah pria yang telah berkecimpung di dunia bisnis sejak 2005 ini.

Saban hari, Daun Coffee bisa menerima kunjungan lebih dari 300 orang. Mulai dari para pelajar, mahasiswa, hingga para pebisnis. Meskipun beberapa kafe mulai menjamur di sekitarnya, namun Daun Coffee tak pernah kekurangan peminatnya.

"Kalau bersantai di Daun, entah kenapa, kita suka berlama-lama dan merasa nyaman. Selalu ada alasan untuk bisa kembali lagi," tandas salah satu pengunjung, Awal Hidayat, sembari menyesap aroma cappuccinonya. (*)


***

P.s. Feature tentang kafe memang selalu memantik hormon feromon saya. Di satu sisi, saya suka menulis secara bebas dengan sedikit menyisipkan pikiran yang ada di kepala saya. Di sisi lain, saya selalu diikat oleh kedekatan dengan kedai kopi. Jikalau sempat dan memungkinkan, selalu saja ada cara untuk menyelipkan unsur #cappuccino di dalamnya. Cappuccino is how I am... ;)

Foto by Tawakkal, FAJAR Daily Newspaper

Minggu, 28 Juni 2015

11# Sepuluh Kedua

Juni 28, 2015
Ramadhan#11 |

Saya tidak punya jadwal sepadat kemarin di hari puasa kali ini. Hari libur. Meskipun sejatinya pekerjaan pers tak pernah berhenti. Pun, tak punya waktu tetap.

Katanya, di sepuluh hari kedua Ramadhan ini punya keutamaan maghfirah. Artinya, umat Islam diberikan pengampunan. Setelah melalui fase sepuluh hari pertama yang punya keutamaan rahmat. Dianjurkan bagi kita untuk memperbanyak amalan di malam hari. Shalat tarawih, dzikir, hingga shalat tahajud.

Rasulullah SAW bersabda: “Awal bulan Ramadhan adalah Rahmah, pertengahannya Maghfirah dan akhirnya Itqun Minan Nar (pembebasan dari api neraka)." -- Hadist Dari Abu Hurairah r.a--

Padahal kita dibukakan pintu ampunan seluas-luasnya. Jika merefleksikan diri semenjak awal Ramadhan kemarin, saya merasa masih belum berbuat banyak amalan. Kepekatan kepala orang dewasa sepertinya menghalangi usaha-usaha untuk mendekatkan lebih jauh pada amalan-amalan yang jauh berkali lipat. #menghela napas

Ada baiknya memulai di sepuluh kedua Ramadhan ini. Tak ada kata terlambat untuk segala laku baik yang dibayangkan di kepala. Ini Ramadhan, ini saat mempertebal iman. Setidaknya, memulai hitungan pahala yang digandakan berkali lipat oleh Yang Maha Kuasa. Berusaha merealisasikan grafik mendaki pada seisi bulan Ramadhan.

Beruntung, di Ramadhan yang ke-11 ini, saya mendapatkan hadiah dari seorang teman. Anggap saja sebagai hadiah ulang tahun kemarin, sebelum puasa, alih-alih sebagai imbalan atas bantuan saya membantunya rentang beberapa hari.


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 27 Juni 2015

10# Petasan

Juni 27, 2015
Ramadhan#10 |

Pernah berpikir apa yang menyenangkan dari masa kecil kita? Berbuat sesuatu tanpa perlu banyak pertimbangan rumit-rumit. Bermain petasan contohnya.

Di Makassar, saya masih banyak menemui anak kecil bermain petasan. Setiap subuh, atau sehabis tarawih. Mereka bergantian menyulut, melemparkan, atau mengacung-acungkannya pada yang lain. Tak jarang, mereka berlaku "lempar petasan sembunyi tangan".

Saya suka melihat anak-anak kecil bermain petasan di bulan Ramadhan ini. Lucu saja melihat mereka mengisi Ramadan dengan kemeriahan seperti itu. Bagi saya, bunyi-bunyian petasan menjadi penyemarak tersendiri di bulan suci ini. Yahh, meskipun terkadang mereka ditegur sampai diuber orang-orang tua yang jengkel.

Di kampung, petasan menjadi momok bagi sebagian orang. Kala Ramadhan tiba, larangan memainkan petasan selalu disampaikan lewat TOA masjid. Bunyi-bunyi petasan alhasil hanya bisa dihitung jari.

Di masa kami dulu, generasi 90-an, permainan mercon bambu kian merajalela. Dimana-mana, anak-anak saling beradu bunyi paling besar. Di belakang rumah. Di lapangan. Di kebun. Sampai di atas pohon-pohon.besar. Apalagi kalau bukan demi menciptakan dentuman paling besar.

Bagian paling memacu adrenalin di saat polisi atau tentara menegur atas suara letupan-letupan itu. Kata mereka, suara itu bising mengganggu bulan suci. Padahal, kelak, kita baru tahu bahwa orang dewasa tak ingin diganggu jam tidur lepas subuhnya.

Demi sebatang mercon, kami rela membeli minyak tanah per botol. Dulu, harganya masih kisaran seribu. Botol bekas minuman sprite selalu jadi wadah andalan.

Mendengar anak-anak zaman sekarang bermain petasan, seolah membawa saya kembali ke masa-masa itu. Apalagi mencium aroma-aroma khas mesiunya. Menyenangkan. Oleh karena itu, tak perlu mendelik kasar melihat anak-anak bermain petasa lepas subuh. Saya justru menyukainya. Pun, saya pernah merasainya.

Nah, tempat beli petasan dimana ya?


--Imam Rahmanto--

Sungai, Sampan, dan Pagi

Juni 27, 2015
(Foto: ImamR)

Mari berjalan-jalan...

Saya punya tempat yang belum pernah dijelajahi. Tak cukup jauh dari tempat tinggal saya sehari-hari. Di waktu puasa, nampaknya menjadi waktu yang tepat menghabiskan pagi disana.

Fajar jelang menyingsing. Jemaah subuh baru saja bermunajat pada Tuhan. Ramai, orang-orang kembali ke rumahnya. Sebagian besar memilih istirahat tanpa perlu mengikis tenaga di waktu puasa ini. Hanya anak-anak dan remaja yang masih berkumpul bergerombol di depan halaman masjid. Seperti biasa, saling menunggu demi menaklukkan waktu subuh.

Itulah yang saya sukai dari anak-anak. Berbuat sesuatu tanpa perlu berpikir rumit-rumit. Setahu saya, saban subuh mereka akan berkumpul menunggui teman-temannya. Mereka hendak menaklukkan subuh, baik sekadar jalan-jalan maupun bermotor cabe-cabean ke lokasi sentral keramaian. Tak ketinggalan, satu-dua anak melempari petasan ke jalanan. Ck...beli petasan dimana ya? Saya juga mau... :3

Seperti hari-hari sebelumnya, saya mesti memanfaatkan momen puasa ini merasai hal-hal baru. Di bulan puasa ini, saya diberikan kesempatan untuk leluasa bangun lebih awal. Kenapa tidak saya manfaatkan untuk menelusuri banyak hal keren yang tak pernah saya rasai di luar puasa?

Lantaran sahur nyaris telat; jelang imsak, saya punya cukup waktu menunggui shalat Subuh. Bayangkan! Saya masih sempat-sempatnya menyeduh dan minum segelas cappuccino sachetan beberapa menit sebelum adzan Subuh!

Saya menikmati perjalanan bersepeda pagi ini. Urung sampai di keramaian anak-anak muda di ujung tanggul menuju arah benteng Sombaopu. Biasanya saya akan bersepeda di pucuk tanggul hingga menemui jalan buntu pembatas pagar di ujungnya. Menyaksikan anak-anak muda yang hendak mengadu kencang motornya.

Setengah jalan, saya lebih memilih menyusur sungai Jeneberang yang berada di balik tanggul. Untuk melintas kesana cukup mudah. Ada jalan setapak kecil yang bisa dilalui sepeda gunung dari pangkal tanggul.

Betapa damainya menyingkap fajar di seberang sungai sepagi itu. Cahaya kejinggaannya memantul dari air yang beriak meski kelihatan tenang. Sekumpulan eceng gondok di tepian sungai seolah memanggil hendak dibangunkan. "Ini sudah pagi ya? Selamat datang!" katanya penuh imaji.

Di tengah sungai, sampan melintas memotong arus. Mungkin milik penduduk setempat. Katanya, rezeki harus selalu dikejar pagi hari. Orang-orang yang hidup berkecukupan tahu itu dan selalu berpacu dengan sinar mentari. Akh, kenapa pula setiap kerja keras tak terbayarkan lunas.

Sepeda saya pacu agak pelan mengikuti arah sampan yang nampaknya hendak berlabuh. Sampan bermesin itu membawa sejumlah orang. Tak tanggung-tanggung, satu motor dan satu sepeda diangkutnya sepagi itu.

Saya baru tahu, ada dermaga kecil tempat berlabuh perahu penumpang kecil di dekat tanggul. Selain itu, saya juga berputar-putar mengelilingi sebuah pabrik pembuat batako atau paving block di pinggiran sungai. Sepagi itu, suara mesin berlomba dengan matahari yang menyusup di celah pepohonan. Pekerja-pekerjanya hanya mengamati saya, yang sekadar lewat malu-malu memberikan salam.

Nah, ternyata saya menemukan tempat menyepi yang baru. Tepat di pinggir sungai yang hanya berjarak serentangan tangan.

"Itu dulu tempat 'taaruf' saya dengan istri. Soalnya tempat yang romantis dan murah-meriah," kata kakak teman saya, yang mengomentari update gambar di BBM.

Saya suka memandangi warna pantulan fajar yang nyaris
memudar itu. (Foto: ImamR)

Maksudnya 'taaruf' bukan dalam artian sesungguhnya. Saya mengenalnya bukan orang "se-religi" itu. Mungkin, maksudnya adalah menikmati waktu berdua dengan kekasih. Hahahaha...kapan-kapan saya juga ingin mengajak teman kesana.

Sayang, lokasinya berdekatan dengan penimbunan barang-barang bekas. Bersebelahan dengan pabrik batako itu. Bersisian pula dengan dermaga kecil yang menurunkan 5-6 orang penumpang yang saya kejar beberapa menit lalu. Oiya, kapan-kapan saya juga ingin merasakan menumpang sampan itu. Sehingga pemandangan bakal sedikit teralihkan dengan sedikit "sampah" dan timbunan pasir.

Bagi saya, mencoba hal-hal baru memang menyenangkan secara naluriah. Atas dasar itu pula sejatinya saya menyenangi pekerjaan sekarang. Saban hari saya bisa merasai hal baru. Berkenalan dengan orang-orang baru. Mengunjungi tempat-tempat baru. Menikmati momen-momen baru. Segala hal selalu terasa baru. Tak peduli hal baru itu sesederhana apa.

Terkadang, hal-hal yang tak pernah dilalui dan dirasakan memang cukup menakutkan. Ada perasaan waspada terhadapnya. Sementara kitatidak pernah sadar bahwa hal-hal barulah yang memberikan banyak pelajaran penting.

Prinsip dasar hidup ini sebenarnya cukup mudah: berani mencoba. Just be brave! Just believe it! Orang-orang di luar sana berhasil lantaran tak pernah berhenti mencoba. Tak terkecuali dalam.menemukan hal-hal baru. Lantas, kenapa kita harus berhenti mencoba?

Hal sepele pun, ketika baru dijalani bakal memberikan kesan berbeda. Cobalah.

Selamat menikmati pagi...



--Imam Rahmanto--

Jumat, 26 Juni 2015

9# Fluktuasi

Juni 26, 2015
Ramadhan#9 |

Saya tidak sempat berkeliling ke tempat posting liputan hari ini. Satu liputan sudah diselesaikan malam sebelumnya. Lagi, liputan mengenai kafe. Liputan feature, yang memang bisa membuat saya bebas menulis mengalir ala saya. I like it!

Ramadhan makin bergulir tak terhenti. Lewat seminggu. Akan tetapi, ibadah nampaknya masih patah-patah. Bulan yang pahala bisa dikali banyak-banyak, justru dihadapkan pada kesibukan banyak-banyak. Akh, tak elok rasanya kalau saya mengkambinghitamkan kesibukan. Karena saya sendiri benci dengan kesibukan.

Ada fluktuasi keimanan yang terjadi di saat usia bertambah. Ada anekdot yang berkembang, manusia baru meningkatkan intensitas ibadahnya di jelang usia tuanya. Kesadaran akan maut yang menjemput juga semakin terasa. Lihat saja, masjid lebih banyak didominasi oleh orang-orang beranjak tua. Anak muda? Mereka lebih suka menghabiskan masa (tidak sadar) mudanya dengan bersenang-senang.

Di bulan suci ini, ada kekhasan yang senantiasa selalu melekat. Orang-orang yang dulu tak pernah menjalankan ibadah, mendadak jadi rajin mengunjungi masjid. Orang-orang juga semakin gencar memasang aksesoris keagamaan di setiap penampilannya. Apakah keimanan, keagamaan bisa diukur dari penampilan semata? Akh, don't judge book by its cover.

Saya kerap mendapati hal demikian di jejaring sosial. Apa yang mereka tunjukkan, entah nyata atau sekadar meramaikan Ramadhan saja.

Saya heran saja. Kita masih sering menilai orang dari penampilan luarnya. Mereka yang dianggap beragama adalah orang-orang berjenggot dan berpakaian rapi. Sementara yang pakaiannya biasa-biasa saja dipertanyakan keagamaannya. Berhentilah berlaku demikian.

Energy levels...
Posted by The Muslim Show on Wednesday, July 2, 2014


Kondisi berpuasa ini memang selalu menciptakan ibadah yang fluktuatif. Ramadhan bermula, masjid ramai kegiatan ibadah. Ramadhan jalan setengah, orang-orang mulai berguguran. Kala nyaris berakhir, isi masjid bakal kembali seperti sedia kala. Serupa lari sprint, yang lelah kehabisan tenaga di akhirnya.

Kita semestinya memang menyadari fluktuasi itu. Ibadah, bukan sekadar ditunjukkan pada momen-momen tertentu. Apalagi sampai dipamerkan di media sosial. Setiap hari, Tuhan mengajarkan kita hidup untuk beribadah.

“Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)



--Imam Rahmanto--

Will Married

Juni 26, 2015
Tak ada maksud apa-apa membuat judul seperti itu. Saya bukannya orang yang kebelet menikah. Usia saya masih terlalu muda. Haha... Lagipula saya masih perlu menyiapkan banyak bekal untuk pasangan hidup saya nanti, baik harta maupun hati. Hanya saja, entah kenapa, hati saya selalu berdesir jika membayangkan hal demikian. Sembari memilah-milah perempuan seperti apa yang akan mendampingi saya kelak. Adduh...apa ini pertanda jodoh sudah dekat ya? :3

Dulu, saya pernah sedikit bercerita tentang tetek-bengek menikah (cek disini), lantaran menghayati sebuah lagu. Lagu yang selalu membuat saya tersenyum-senyum sendiri meresapi liriknya.

Di beberapa tempat, saya sering tak sengaja mendapati "petunjuk" ihwal pernikahan itu. Mulai dari status teman-teman, suami-istri bahagia yang (seolah) tak sengaja lewat di depan saya, cerita teman yang ditinggal nikah kekasihnya, video.klip, cerita, undangan-undangan pernikahan, sampai teman sebaya yang telah mendahului menikah.

Ah, atau jangan-jangan saya terpengaruh oleh salah satu video yang (sungguh sial) lewat di timeline facebook saya? Berlatar lagu Magic - Rude, di-lipsync-kan seorang laki-laki yang hendak melamar pacarnya di bioskop. Ckck....





Ceritanya, sepasang kekasih sedang menonton film di bioskop. Beberapa menit sebelum pertunjukan film.dimulai, si lelaki pamit ke kamar kecil. Alih-alih kesana, ia justru mempersiapkan kejutan untuk kekasihnya. Film bioskop yang diputar malah video klip si lelaki memerankan lagu Magic - Rude. Di akhir video, si lelaki mendatangi bioskop dengan setelan jas rapi. Muncullah si lelaki dari luar bioskop mengenakan setelan jas di dalam cuplikan videonya.

"Will you marry me?"

Tentu saja, momen itu membuat si wanita terkejut dan tak bisa berkata apa-apa. Selama video durasi 4 menitan itu diputar, ia hanya bisa ertawa-tawa sekaligus berulang mengusap pelupuk matanya. Ia menerima lamaran si lelaki.

Dalam memilih pasangan hidup, saya tak ingin muluk-muluk. Perempuan itu harus selalu menjadi pengingat saya agar tak melalaikan shalat. Tak perlu yang dalam ilmu agamanya. Atau yang bahkan pemahamannya sampai berjuz-juz ayat Quran. Sederhana saja. Selama ia mampu menegakkan tiang agama bersama dengan saya.

Perempuan itu harus yang gemar membaca sehingga kelak bisa membagi waktunya untuk membaca tulisan-tulisan saya. Ia pula yang akan menjadi pembaca pertama atas draft novel saya. Saya juga berharap bisa membuatnya tersenyum lewat tulisan saya yang dibacanya.

Perempuan itu, silakan menulis apa saja. Saya tak pernah ingin membatasinya untuk menulis. Sejatinya, perempuan yang gemar menulis belajar untuk mengolah rasa. Ia juga berusaha agar tak hilang ditelan zaman.

Perempuan itu tak perlu feminin atau sangat mencerminkan kehalusan pekerti seorang Hawa. Saya justru menyukai perempuan-perempuan tangguh. Mandiri. Kelak, saya ingin menciptakan perjalanan kami sendiri mengelilingi banyak tempat di Indonesia.

Perempuan itu, mungkin terlalu sempurna jika pandai bermain musik. Tapi, itu hanya nilai plus. Sama halnya saya yang selalu terpikat dengan perempuan-perempuan berkaca mata.

Dan, masih banyak lagi yang tak tersebutkan. Kalau disebutkan satu-satu, saya bakal disangka ingin mengadakan sayembara mencari jodoh. -_-"

Pernikahan adalah hal sakral. Mengikat dua orang dalam satu pertalian utuh. Mencampurkan darah menjadi sebuah daging. Menyatukan rasa dalam ritme yang seirama.

Saya punya teman yang sudah kebelet menikah. Entah apa alasannya. Saya belum pernah menanyakannya. Padahal, teman lelaki saya itu belum menyelesaikan kuliah S1 yang sudah nyaris 6 tahu dijalaninya. Selain itu, tak ada yang meragukan kepandaian teman sekelas saya itu.

Bagi saya, ada hal-hal penting yang semestinya dijalani sebelum ke jenjang pernikahan. Bukan sekadar menjalankan sunnah Nabi. Atau karena ingin pintu rezekinya dibukakan. Atau hendak menghindarkan diri dari perilaku zina. Alasan-alasan yang menurut saya teramat normatif. Mereka, yang menikah lebih muda, kerap tergesa-gesa mengkambinghitamkan agama. Sudahkah ia punya harta yang cukup? Sudahkah ia punya batin yang kuat? Apa yang hendak dihidupi bersama istrinya?

"Menikah di usia muda bagus dan berguna lantaran melatih kita untuk menghadapi susah bersama-sama," saya biasanya mendengar alasan semacam ini.

Akan tetapi, sejatinya, lelaki baik mana yang mau membikin susah istrinya? Sesayang-sayangnya lelaki kepada pendamping hidupnya, ia tak sampai hati memaksa istrinya hidup bersusah-susah. Lelaki, jangan terlalu egois ingin diturutkan kemauannya hidup susah, lantaran pekerjaannya yang tidak mencukupi. Karena lelaki haruslah membahagiakan pendamping hidupnya. Karena lelaki adalah pengayom hidup keluarganya.


--Imam Rahmanto--

Kamis, 25 Juni 2015

8# Sahur

Juni 25, 2015
Semalam, saat tak sengaja mengulur-ulur timeline di jejaring sosial, saya menemukan "status" galau seorang teman. Ia mengeluhkan sahurnya. Katanya, tak ada orang yang menemani. Kesepian.

Beruntung, Ramadhan tahun ini, saya belum pernah sahur sendirian. Sebisa mungkin, saya akan "mengungsi" ke redaksi kampus untuk sahur bersama teman-teman lainnya. Dua-tiga kali saya pernah ketiduran di kost usai menjalani rutinitas peliputan, namun jelang sahur saya akan melenggang kembali ke sana. Disana, ramai. Ritmik yang selalu digali dan dirindui 

Saya tahu rasanya sahur sendirian. Bukan hanya saya. Semua yang pernah menjadi anak-anak kost, atau perantau pasti pernah merasakannya. Bagaimana susahnya menyediakan sendiri santapan sahur. Berpacu dengan waktu, yang terkadang kita malah melewatkannya. Bangun di saat matahari sudah nyaris terang-benderang. Kalau bareng teman kan, bisa saling mengingatkan.

Di kampung halaman, suasana puasa juga lebih terasa. Ada ibu yang membangunkan di waktu jelang sahur. Ada bapak yang melarang tidur seusai sahur. Kami lebih sering menanti waktu imsak dengan menonton tayangan-tayangan tivi tak berkualitas.

Tak jarang pula ada orang-orang yang berpuasa tanpa sahur. Entah sengaja maupu tidak.

Dulu, di luar Ramadhan, saya sering melakukannya lantaran tak tahu caranya bangun dini hari. Saya termasuk orang yang sulit bangun di waktu yang diinginkan. Setiap kali hendak menjalankan puasa, saya cukup makan sebelum tidur dan melewatkan waktu sahur tanpa sedikit pun rasa bersalah. Toh, saya merasa kuat-kuat saja menjalani ibadah puasa tanpa perlu repot-repot sahur. #nyombong

Hanya saja, saya pernah mendapati bacaan bahwa salah satu syariat yang membedakan puasa orang Islam dengan orang non-Islam adalah sahur. Dari sana, saya mulai mengubah pola puasa saya. Jika hendak menjalankan puasa, baik wajib maupun sunnah, paling tidak saya menyempatkan waktu sahur.

Meskipun sahur bukan rukun puasa, namun sahur bisa menjadi pembeda ciri puasa kita dengan agama lain. Sempatkanlah sahur di tiba waktunya meski sekadarnya saja. Meski dengan segelas cappuccino.

Bagi saya, sahur bukan soal persiapan menghadapi kegiatan tak makan-minum sehari penuh. Sahur menjadi penanda kita akan melaksanakan puasa. Jika sahur hanya menjadi pengisi perut jelang puasa sehari penuh, maka kita seharusnya tak butuh lagi mengeluh karena lapar. Bukankah dengan sahur seharusnya umat Islam jadi kuat berpuasa? Artinya, banyak sedikitnya konsumsi sahur tak selalu menjadi jaminan kita kuat berpuasa.

Tak perlu banyak-banyak. Seadanya saja. Nanti pas buka puasa baru banyak-banyak. Hahaha...


*Saat menuliskan ini, saya sedang menanti waktu berbuka puasa di tempat tugas. Backsong: ost. film Begin Again. Saya sengaja lebih sering mengisi "rumah" saya di waktu puasa ini. Hanya sebentuk challenge to myself. Yang namanya keterampilan harus lebih sering diasah, bukan sekadar diimpikan.


--Imam Rahmanto--

Rabu, 24 Juni 2015

7# Kerja dan Ibadah

Juni 24, 2015
Ramadhan#7 |

Ini sudah seminggu bulan puasa berlalu. Hari ketujuh. Saya tidak tahu hendak bercerita tentang apa. Sedang dalam masa terkantuk-kantuk lantaran 20 jam yang lalu belum mengistirahatkan mata. Untuk sahur pun saya tidak perlu dibangunkan. Saya sudah terbangun sebelum teman-teman lainnya menyiapkan santapan sahur.

Mata saya terpaku di depan dekstop. Mengutak-atik sedikit keahlian yang sudah lama saya tinggalkan. Seorang teman meminta bantuan, emm...sebenarnya saya juga sih yang menawarkannya, untuk editing majalah yang sudah disiapkan anak didiknya. Entah setan apa yang mengusik sampai saya mau bersusah-susah me-refresh kembali ingatan design and layouting. #fiuhh

Teman saya ini sudah setahun lebih berprofesi sebagai guru di kampung halamannya. Masih sebagai guru.honorer. Wajar, di usia-usia kami yang masih "panas" dicetak dari perguruan tinggi masih belum sampai menempati posisi strategis Pe-En-Es. Baru untuk urusan percetakan majalah ini, teman saya yang perempuan itu punya kesempatan buat melenggang keluar dari kampung halamannya.

"Guru memang bukan jiwa saya nampaknya," ujarnya.

Saya banyak mendengar luapan cerita darinya. Tentang ia yang menjalani profesi guru sebagai dalih menghindari pengangguran. Setahun lebih menjalaninya, ia benar-benar takluk oleh waktu. Tak ada kompromi tentang passion yang hingga kini masih belum didapatinya. Padahal, kami dulu tak seakrab seperti sekarang. Terkadang jarak dan waktu.justru mengajarkan kita tentang kedekatan yang sesungguhnya.

"Kalau kau beruntung mendapatkan pekerjaan yang sesuai minat, keinginan, atau passionmu, sungguh hal beruntung sekaligus menyenangkan. Karena ada hal-hal tertentu yang memang tak bisa diukur dari banyaknya gaji,"

Di bulan Ramadhan, patokan ibadah bisa diukur dari sejauh mana kita menjalani pekerjaan. Entah itu pekerjaan yang disenangi, atau justru pekerjaan yang dipaksakan. Bagi saya, semua pekerjaan bernilai ibadah. Asalkan dilakukan setulus hati.

Yang tersisa, sudahkah kita bekerja sesuai minat dan keinginan kita? Kalau sudah, maka saya yakin, soal uang akan jadi pertimbangan kesekian. Setiap kerja bernilai ibadah...


--Imam Rahmanto--

Selasa, 23 Juni 2015

6# Buka Puasa

Juni 23, 2015
Ramadhan#6 |

Satu hal yang paling menjamur di masa-masa Ramadhan: buka puasa bersama. Orang-orang gaul biasa menyingkatnya "bukber". Nyaris di semua tempat menggelar buka puasa bersama. Komunitas. Mahasiswa. Pejabat. Ibu-ibu arisan. Teman-teman. Anak sekolah. Tukang batu. Tukang becak. Tak jarang momen buka puasa bersama menjadi gengsi tersendiri bagi kalangan-kalangan tertentu.

Sejatinya, Ramadhan menjadi momentum untuk berkumpul bersama teman maupun sanak saudara. Buka puasa bisa jadi hanya sebatas alasan agar bisa berkumpul. Nyatanya, berbagai kesibukan menciptakan sekat yang sulit ditemui celahnya. Nah, bulan puasa menjadi titik temu banyak orang.

Dalam beberapa hari Ramadhan ini, saya belum pernah berbuka di tempat yang sama. Selalu berbeda. Bukan kesengajaan lantaran rutinitas dan tuntutan pekerjaan membuat saya harus kemana-mana. Sekali-kali juga tuntutan hati. Hahaha...

Di Ramadhan ke-6 ini, saya cukup beruntung bisa menjalin keakraban dengan teman-teman pers di desk pemprov Sulsel. Sembari menanti berbuka, menyelesaikan tuntutan deadline masing-masing. Kami hendak berbuka sama-sama di ruangan gubernuran yang memang khusus disediakan bagi pekerja pers.

Ah, segila-gilanya mereka, saya masih belum bisa "gila" sepenuhnya. Saya masih serupa anak kalem yang tak banyak celoteh. Masih butuh adaptasi beberapa waktu. Mungkin mereka masih belum melihat saya yang sesungguhnya. _ _"

Buka puasa, ibu-ibu pejabat juga berlomba-lomba menyanyi di tivi. Sebagai ucapan selamat berbuka. Menembangkan lagu kasidah. Yah, meski suaranya juga pas-pasan. Berkelompok, berpakaian paling bagus, memakai make up menor. Kapan lagi bisa tampil di tivi, meskipun channel paling dilupakan masyarakat. Suami-suaminya juga tak ketinggalan. Tak perlu bernyanyi, cukup dengan menyampaikan, "Kami segenap keluarga....bla..bla..bla...mengucapkan......" Di tivi, sebulan penuh Ramadhan. Keuntungan bagi media elektronik.

"Saya agak terharu melihat kita bisa berbuka sama-sama begini," cetus salah seorang wartawan perempuan senior diantara kami. Saya memang menyaksikan ada banyak kegembiraan di waktu-waktu berbuka seperti itu. Satu hal yang pantas disyukuri.

Di kota, buka puasa tak lagi sekadar demi membatalkan puasa. Melainkan tren untuk berkumpul bersama, berbagi keceriaan, cerita, dan pertemanan.


--Imam Rahmanto--

Senin, 22 Juni 2015

5# Kritis dan Krisis

Juni 22, 2015
Ramadhan#5 |

Menjalani puasa di bulan Ramadhan ini nampaknya memang penuh godaan. Banyak. Semakin dewasa manusia, setan yang mengiringinya juga semakin dewasa. Di masa kanak-kanak mungkin setannya juga masih kecil-kecil. Jadi maunya cuma main-main, tidak untuk mengganggu manusia.

Masa-masa disini (baca: persma) juga makin kritis. Semakin banyak hal di luar dugaan yang bergulir makin kencang, makin panas. Tiang satu per satu mulai roboh dan goyang. Entah seperti apa akan berlanjut menjadi lebih baik lagi. Keluarga ini harus segera dibaikkan dengan benar.

Di suatu sore, saya terkadang berharap hukum relativitas Einstein tak berlaku separuhnya. Menatap langit yang ditaburi capung-capung beterbangan. Di atas tembok yang sudah berumur ratusan tahun. Mendengarkan cerita salah seorang teman yang lama tak bertemu. Kebetulan saja, lantaran ia memang punya urusan di Makassar dan meminta saya yang menemaninya.

"Orang-orang biasa menganggap saya berkepribadian ganda loh," tuturnya, "tapi bukan dalam artian yang buruk. Hanya sekali waktu terlihat kalem, di lainnya lagi cerewet."

Saya tersenyum saja melihatnya di tengah perut yang mulai meronta karena kelaparan. Ah, dini hari saya tidak sahur yang cukup. Hanya sekadar 2 potong cokelat "Bengbeng" dan segelas Cappuccino. Lain kali, sahurlah dengan yang hangat-manis-manis. Begitu dulu ibu selalu memberitahukannya.

Ia terus bercerita diselingi obrolan dengan saya. Dari atas tembok batu, matahari yang tergelincir di cakrawala tak jelas nampaknya. Terhalang oleh bangunan kafe di depan sana. Hanya bias cahaya senja yang berburu dengan waktu berbuka puasa.

"Cari tempat berbuka yuk!" ajak saya. Pencarian yang berakhir pada dua botol minuman dingin. -_-"


--Imam Rahmanto--

Minggu, 21 Juni 2015

4# Tidur

Juni 21, 2015
Ramadhan#4 |

Apa yang menyebabkan di bulan Ramadhan, rasa lelah dan tak berdaya sangat mudah bertransformasi menjadi kantuk? Begitu ia tiba, tidur bakal terasa menggantikan seluruh waktu. Apakah karena tidur dinilai sebagai ibadah, maka orang beramai-ramai membenarkan tidurnya?

Dua hari belakangan, saya begitu mudah diserang kantuk. Kalau sudah ngantuk, saya akan mencari waktu buat tidur(-tiduran). Salah satu penyebabnya mungkin karena tak ada kerjaan. Beberapa liputan yang dibebankan jatuh pada tempo sore hari. Atau, bahkan saya tidak diserahi liputan apa-apa.

Oiya, posisi saya untuk saat ini berbeda dengan pewarta di kebanyakan media. Di media saya, kami tak ditargetkan jumlah minimal berita dalam sehari. Sederhananya (dan menyenangkannya), kami hanya menyelesaikan tugas yang diberikan. Pun, ada perintah, bergerak sesegera mungkin. Begitu saja.

Kalau tak diselingi paksaan bergerak, mungkin saya juga akan senantiasa menghabiskan waktu pagi dengan tidur. Oleh karenanya, setiap pagi, saya lebih memilih bersepeda di keramaian anak-anak kecil di pinggiran tanggul Benteng Sombaopu, ketimbang terbang mengawang-awang di alam mimpi. Tahukah, bersepeda sembari menyaksikan anak-anak bergerombol selepas Subuh betul-betul mendamaikan perasaan. Ada masa kecil dari lubuk hati yang tetiba disirami air segar. Yang kurang, hanya pasangan hati lainnya. #ehh

Meskipun sepulang bersepeda saya segera diserang kantuk berat. Kalau tak ada liputan, saya akan terbaring tak berdaya dan tanpa sadar. Sama saja...

Siang ini, saya juga nyaris melakukan hal demikian. Beruntung, pikiran "kebelet tidur" itu dicerabut paksa oleh tugas dari kantor. Di samping itu, saya juga punya janji menemani seorang teman berkeliling mencari percetakan untuk majalah sekolahnya. Pesan "titah" itu malah nyaris membatalkan janji saya.

Mungkin...

Bulan Ramadhan memang bulan suci yang penuh godaan. Setan-setan tak dibelenggu sepenuhnya. Mereka ganti godaan meniupkan hawa-hawa kantuk bagi orang-orang yang berpuasa, sembari memutarbalikkan pembenaran bahwa tidur adalah ibadah. Tak melakukan apa-apa, mosok ya jadi ibadah?

Ya Tuhan, kurangilah kantuk-ku...

Mungkin...

Tuhan mencoba kita yang berpuasa dengan mantra kantuknya. Makanan dan minuman dijejalkan serupa-rupanya. Kala subuh berlalu, Tuhan membiarkan semilir kantuk bersenyawa dengan udara pagi. Kala Tarawih menjelang, Tuhan menggoda pemuda yang kelebihan takjil dan santapan agar tak kemana-mana membopong perutnya, tak melakukan apa-apa, hingga tertidur saja. Woles lah...

Ketimbang menghabiskan waktu dengan tidur, saya berharap jadi anak kecil saja di bulan Ramadhan ini. Anak kecil yang begitu ceria melawan kantuknya...


--Imam Rahmanto--

Buku, Film, Musik, Hingga Seteguk Cappuccino

Juni 21, 2015
*Ruang Kreatif (Rutif) En House

Membaca buku tak hanya bisa dilakukan di perpustakaan. Di Ruang Kreatif (Rutif), aktivitas membaca buku tak lagi menjemukan karena bisa diselingi hobi musik, sembari perlahan menyeruput secangkir cappuccino.

***

Ribuan buku berjejer rapi di atas rak dinding. Masing-masing buku disusun berdasarkan penomoran dan genrenya. Susunan rak yang tak beraturan menambah kesan variatif pada dinding ruangan itu. Ditambah dengan lukisan dan poster yang memberikan kesan elegan.

Sekilas, ruangan yang disebut Rutif itu nampak seperti kamar baca pribadi. Di sekeliling ruangan, selain kursi dan meja panjang, tersedia pula satu-dua kursi "malas" berbahan sofa. Jikalau tak suka duduk di kursi, bisa lesehan di atas rumput sintetis berukuran 3 x 3 meter. Di hamparan rumput hijau itu, ada bangku goyang yang bisa memuat hingga 3 orang.

Rutif tak bisa dianggap perpustakaan biasa, lantaran salah satu pemiliknya, Muh. Fajrin Rahmansyah juga enggan menyebutnya sebagai perpustakaan. Alasannya, istilah perpustakaan terkesan agak formal dan kebanyakan orang agak "fobia" dengan hal itu. Oleh karena itu, ia lebih santai menyebut mini perpustakaannya sebagai Ruang Kreatif.

"Tidak hanya sebagai tempat membaca buku. Disini, bisa menjadi tempat bermain musik, menonton film-film edukatif, hingga menggelar acara-acara diskusi yang melibatkan banyak orang," ungkap Fajrin ketika ditemui di Rutif, Kamis malam, 18 Juni.

Pengunjung bercengkerama. Rutif memang menjadi pilihan menarik bagi mereka yang membutuhkan ketenangan mencari inspirasi. (Foto: Tawakkal - FAJAR)
Seisi ruangan memang diselingi oleh peralatan musik hingga fasilitas-fasilitas mulitimedia lainnya. Untuk mendukung aktivitas kegiatan-kegiatan komunitas disana, ruang lantai dua itu juga menyediakan layar datar berukuran 32 inch. Seperti yang dikatakan Fajrin, layar itu dimanfaatkan untuk kegiatan presentasi hingga pemutaran film. Bahkan, ada pula pemutar piringan hitam yang sesekali difungsikan.

Fajrin mengaku, hiburan semacam itu dibutuhkan untuk memancing ide atau gagasan setiap pengunjung atau pekerja kreatif yang membutuhkan inspirasi. Setiap orang punya karakter yang berbeda-beda dalam menemukan gagasan kreatif.

"Ada yang duduk tenang membaca buku, bisa mendapatkan ide. Ada yang baring-baring membacanya, baru bisa nyaman. Ada yang harus diselingi bermain musik, baru bisa memunculkan ide-ide kreatifnya," cetus pria kelahiran 23 tahun silam ini. Oleh sebab itu, menurutnya, Rutif tidak hanya muncul sebagai perpustakaan tempat menyimpan buku.

Ia menambahkan, Rutif kerap mewadahi setiap orang yang hendak menggelar kegiatan diskusi. Hanya saja, ruangan seluas 15 x 5 meter hanya muat hingga 50 orang. Baru-baru ini, lanjutnya, Polrestabes Selayar pernah menggelar acara bedah buku di Rutif yang dihadiri langsung oleh Wali Kota Makassar.

Tampilan En House dari depan. Come in.... (Foto: Tawakkal - FAJAR)
Kehadiran Rutif juga ditopang oleh kedai kopi En House yang berada tepat di lantai pertama. Kafe yang berjalan selang setahun ini menyediakan menu-menu serupa kafe lainnya. Bedanya, penampakan En House tak kalah menawan karena menawarkan visual desain yang ciamik. Di sisi kafe, ada miniatur atap rumah yang menjadi ciri khas En House. Beberapa kata-kata bijak juga menghiasi dinding di dalam kafe. Menurut Fajrin, konsep penyajian di kafenya juga lebih mengutamakan sisi edukatif dalam memperkenalkan jenis-jenis minuman kopi.

"Kalau ada yang pesan minuman, kita akan perkenalkan jenis minuman itu secara langsung dari bar," ungkap Fajrin. Pengunjung bisa berintraksi langsung dengan baristanya.

Di kedai kopi En House, ada dua bar yang disediakan bagi pengunjung. Slow bar, yang dikhususkan bagi para pengunjung penikmat kopi. Tak tanggung-tanggung, biasanya dilakukan open bar, yakni memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk meracik sendiri kopinya. Sementara di main bar, dikhususkan bagi pesanan minuman blended.

Dari slow bar yang menyambut pintu masuk. (Foto: Tawakkal - FAJAR)
Kehadiran En House selang setahun dengan kemunculan Rutif. Sebelum En House dibuka, lantai pertama merupakan minimarket pendukung Rutif. Akan tetapi, melihat animo anak muda, maka terbersitlah ide Fajrin dan teman-temannya menggubah minimarket itu menjadi kafe yang lebih mengundang minat anak muda.

Fajrin mengaku, kehadiran Rutif En House merupakan gagasan yang diprakarsai oleh dirinya dan ketiga temannya, yakni Nina, Swesti, dan Panji. Mereka ingin membangun usaha yang tidak sekadar menghasilkan uang, melainkan mencerdaskan para pelanggannya. Di samping itu, kebutuhan akan ruang-ruang kreatif untuk menggali ide sangat jarang di kota Makassar.

"Orang tua Nina punya banyak koleksi buku di rumah. Maka dia berpikir bagaimana agar pengetahuan yang sudah dibaca di rumahnya itu juga terbagi ke orang lain. Konsepnya pun harus lebih bersahabat dengan anak muda," kisah Fajrin, yang juga jebolan dari salah satu bank swasta.

Ia memutuskan hengkang dari tempat kerjanya, tak lepas demi membesarkan Rutif En House. Rencananya, Rutif En House dalam waktu dekat bakal melebarkan cabangnya ke salah satu pusat bisnis di Tanjung Bunga. Tambah Fajrin, disana En House akan dibangun lebih kompleks dan komplit.

Baik Rutif maupun En House, keduanya saling melengkapi. Di satu sisi, Rutif menyediakan tempat inspirastif bagi para insan kreatif. Di sisi lain, En House mencukupi kebutuhan gengsi anak muda akan minuman kopi. Keduanya berkombinasi dalam memancing ide-ide kreatif yang muncul ke permukaan. (*)

(Foto: Tawakkal - FAJAR)

---------------------

*Naskah liputan diterbitkan Sabtu, 20 Juni 2015. Dari banyak naskah yang telah terbit, saya memilih untuk menuangkan bagian ini di "rumah" saya. Judulnya, yang sengaja saya buat bersentuhan dengan "cappuccino" (padahal seharusnya bisa "kopi" saja), ternyata diterima oleh redaktur. Haha... judul ini lantaran saya gandrung dengan minuman cappuccino dan punya "rumah" dengan nama serupa. ;)

(Foto: ImamR)

Sabtu, 20 Juni 2015

3# Waktu Subuh

Juni 20, 2015
Ini bukan sepeda saya. (Foto: ImamR)
Ramadhan#3 |

Saya mengayuh sepeda pelan di tepi jalan. Membiarkan udara pagi membelai wajah dan kulit saya. Tak begitu dingin. Cukup mendamaikan. Sesederhana itu saja.

Ketimbang tidur, saya lebih suka terjaga pagi-pagi. Bulan Ramadhan nampaknya menjadi rezeki tersendiri pula buat saya. Saya bisa menghabiskan waktu pagi tanpa takut telat kehabisan masa. Jika sudah tiba saatnya sahur, memulai ritual puasa, teman-teman bakal membangunkan. Berbagi sahur bersama. Untuk subuh kali ini, saya dibangunkan dentum suara perkusi dari orang-orang yang berkeliling mengingatkan waktu sahur.

Tahu tidak, kegiatan membangunkan sahur semacam itu merupakan salah satu khazanah budaya Indonesia yang patut dibanggakan. Di negara lain, tak ada yang menyerupainya.

Di sepanjang jalan, saya berpapasan dengan anak-anak yang tanpa rasa bersalahnya menyalakan petasan. Dengan muka sumringahnya, melemparkan petasan itu ke lawan jenisnya. Suara-suara perempuan yang sebal cukup memuaskan mereka. Anak-anak perempuan yang saya temui juga pagi ini masih rapat mengenakan mukenahnya. Pun, bergerombol jalan-jalan sejauh yang bisa mereka tempuh. Sesekali meminta perhatian dari anak-anak lelaki lainnya.

Beberapa kali saya juga disalip anak-anak yang bergerombol mengendarai motor. Betapa ceria dan bergembiranya mereka berboncengan. Tertawa-tawa dan saling mengolok-olok. Mungkin, mereka juga bahagia lantaran bebas membonceng wanitanya di bulan Ramadhan ini. Berbonceng dua. Berbonceng tiga.

Sejatinya, ada banyak hal yang memang pantas dirindukan di Ramadhan ini. Berhentilah merindu pada orang yang teramat jauh. Setiap kali melihat anak-anak remaja bergerombol menuju masjid, subuh, saya selalu tersentuh. Saya merindukan masa-masa seperti itu ketika saya juga masih kerap menunggui teman-teman sebelah rumah sekadar shalat Subuh bersama-sama.

Seusai shalat Subuh, kami juga tak langsung pulang ke rumah. Tidur terkadang menjadi hal yang kami hindari. Kami lebih suka menghabiskan waktu Subuh dengan jalan bergerombol. Sesekali hendak mencari perhatian teman-teman wanita lainnya. Bulan puasa justru menjadi arena wisata subuh.

Di kampung tinggal saya, ada bukit-bukit kecil yang sering dijadikan pemberhentian oleh kami yang ingin menikmati pagi. Orang-orang senang berada disana. Memanjat di pasir-pasir landainya. Atau duduk bergerombol di kaki bukit lainnya. Zaman kami masih belum ada selfie-selfie-an.

Sebuah pesan singkat masuk di handphone saya. Menyela suara musik dari salah satu channel radio pagi ini. Seorang teman sedang gundah terhadap pilihannya. Akh, jangan berpikir tentang asmara. Bulan Ramadhan begini, kita harus pandai-pandai menjaga hati. Saya membalas seperlunya, lantaran tak ingin ketinggalan momen merasai alam pagi. Kita, manusia, sudah terl;alu banyak disetir oleh teknologi. Sekali waktu, berjalanlah tanpa dipusingkan update status, foto, atau semacamnya yang bisa mengurangi esensi menikmati hidup. Meskipun saya tetap memakainya untuk menyelingi acara bersepeda pagi saya dengan musik.

Saya lama berputar-putar di sepanjang Malengkeri - Dg Tata - Manuruki - Malengkeri - Dg Tata - Dg Tata 3, hingga berakhir di tanggul kompleks Benteng Sombaopu. Seperti yang saya duga, area tanggul memang jadi "wisata subuh" bagi kebanyakan orang. Disana, mudah ditemui banyak remaja yang masih belum berganti pakaian sepulang shalat Subuh. Hingga hampir di ujung jalan, saya menemui sekelompok remaja beradu kecepatan motor. Memang, sepanjang jalan yang bersisian tanggul ini, sangat cocok sebagai sirkuit balapan "liar". Remaja lainnya hanya jadi penonton yang meramaikan seadanya.

Saya berhenti saja, melepaskan penat dari menggowes sepeda. Tapi tidak sampai mau membatalkan puasa. Saya ingin turut bergabung dalam keramaian seperti itu, sembari menanti fajar di ufuk timur. Ah, tidak, ternyata cuaca di langit sedang mendung. Saya hanya menemui semburat jingga yang menggantung di pucuk pepohonan...


--Imam Rahmanto--

Jumat, 19 Juni 2015

Investasi Hidup

Juni 19, 2015
"Begini-begini, saya memang kelihatan miskin. Tapi, jangan salah, saya punya ribuan koleksi buku di rumah,"

"Kalau sudah punya buku sebanyak itu, ia tak benar-benar miskin dan bakal selalu kaya," saya membenarkan di dalam hati.

***

Saat berada di tempat yang punya banyak koleksi buku atau bahan bacaan, saya rasanya tak ingin cepat-cepat beranjak. Saya selalu mengidam-idamkan punya perpustakaan pribadi. Isinya banyak buku dengan rak dinding yang variatif. Kursi-kursi malas. Area baca. Minimal, mirip Ruang Kreatif (Rutif) yang sempat saya kunjungi malam kemarin.

Sebenarnya, saya terhitung dua sampai tiga kali pernah mengunjunginya. Namun semenjak kedai kopi En House dibuka, melengkapi Rutif yang berada di lantai dua, saya tidak pernah lagi berkunjung kesana. Kedai kopi di seberangnya, yang selalu crowded,  justru membetot hati. Saya sekali-kali hanya bisa memandangi Rutif - En House dari teras kafe seberang. Seperti kata teman saya, entah keunikan apa yang ditawarkan kafe itu hingga membuat kami tak bosan berkunjung saban waktu. "Ada sesuatu yang beda dan memang membuat nyaman ketika sudah duduk disana," ujarnya.

Saya tak ingin berbicara tentang Kafe En House yang tetiba dibebankan liputannya pada saya. Apalagi membandingkannya dengan kafe lain. Saya sudah menuliskannya di kolom feature media tempat saya bekerja. Mungkin, besok saya akan sedikit menumpahkan hasil liputan itu disini. Kafe yang akhirnya memperoleh kesempatannya dikunjungi oleh penikmat cappuccino seperti saya. Kafe keren yang menyediakan ribuan buku di lantai duanya. Lantaran bulan puasa, kafe hanya buka pada malam hari, saya baru bisa menyempatkan wawancara di waktu itu.

Ruang Kreatif  (Rutif) yang berada di lantai 2 Kedai Kopi En House. (Foto: Tawakkal - FAJAR)

Saya hanya ingin berbagi tentang sesuatu yang telah lama saya sebut sebagai investasi tak ternilai; buku. Dan malam itu, secara tak sengaja, jiwa saya "disentak" kembali oleh perbincangan ringan dengan seorang fotografer senior yang bertugas men-tandem saya untuk foto liputan.

"Berarti, masih lebih banyak buku saya di rumah," ujar sang fotografer sesaat tiba di puncak anak tangga yang menghubungkan kedai kopi ke lantai dua. Padahal, saya melihat koleksi buku di Rutif sudah mencapai seribuan. Begitu kata "pustakawan"nya.

Saya tak menyangka, fotografer yang sudah 12 tahun menggeluti pekerjaannya itu ternyata seorang kolektor buku. Ia mengaku, koleksi bukunya mulai dari zaman dia masih kuliah dulu. Tak hanya buku, ternyata ia seorang kolektor musik dan film bioskop. Tak tanggung-tanggung, di rumahnya juga bersemayam 8000 koleksi kaset dan piringan musik. Selain itu, satu ruangan khusus di rumahnya ia gubah menjadi bioskop mini. Saya semakin dibuat iri.

"Kalau saya punya uang, biasanya memang habis gara-gara beli buku, beli kaset musik," ungkapnya di sela-sela mengambil gambar di Rutif. Sekali-kali, ia menyebutkan beberapa judul buku sejarah dan biografi menarik. Termasuk ribuan piringan muusik yang dimilikinya. Hanya saja, semenjak ia mulai berkeluarga dan memiliki anak, ia harus mengurangi kebiasaannya itu. Dari 20 sekali beli, jadi 10 saja sekali beli. Itu juga masih banyaak!

Saya jadi tersentil. Dari dulu, saya memang menganggap bahwa buku adalah investasi paling berharga. Hanya saja, investasi itu tidak dibarengi dengan uang yang cukup. Sekali beli, mungkin saya harus berpikir lebih jauh bagaimana caranya bertahan hidup.

Akan tetapi, seolah sudah diilhamkan malam itu, hati kecil saya tiba-tiba menyentak, "Nah, apa kubilang! Saatnya kau kembali menginvestasikan uangmu pada buku!"

Dengan bahagianya, sang fotografer bercerita tentang semua koleksi bukunya. Koleksi musiknya. Pemutar piringan hitamnya. Tempat-tempat ia memperoleh bukunya. Satu-satu, ia menyebutkan pasar loak buku di daerah Bandung dan Jakarta. Dulu, ia kuliah Ilmu Sosial Politik salah satu kampus ternama disana. Wajar, ketika ia tahu banyak area "ladang buku" disana.

"Saya biasanya lebih suka membeli edisi pertama setiap terbitan buku," ungkapnya. Ia mengaku, punya semua koleksi buku yang dituliskan oleh Pramoedya Ananta Toer. Pram juga merupakan salah satu penulis favoritnya. Ah, saya jadi iri... Argh...

"Kapan-kapan, saya harus berkunjung ke rumah ta, Kak," ujar saya. Ia mengiyakan saja. Rumahnya tak jauh dari lokasi liputan kami.

Seharusnya saya juga mampu menyisihkan sedikit uang untuk membeli sebanyak-banyaknya buku. Sudah lama saya tak membelanjakan uang demi satu buku yang jadi idaman. Jalan-jalan di Gramedia seadanya saja. Hanya menyimpan judulnya di ingatan, lantas melupakannya. Lebih banyak sakit hatinya ketika berkunjung disana (baca: toko buku).

Saya membeli buku terakhir kali.... aduh, lupa kapan. Buku terbaru saya malah didapatkan dari hadiah saat mengikuti (sekaligus meliput) acaranya Andy F. Noya di Kantor Gubernur. Saya selalu memimpikan punya mini-library sendiri, dengan griya keren dan tidak membosankan. Kalau hanya berharap dari "pemberian", kapan saya bisa mewujudkannya?

Baiklah, kelak, jika saya sudah memperoleh gaji "sebagaimana mestinya", saya bakal menginvestasikan uang saya dalam bentuk buku tiap bulan. Mungkin, seperti sang fotografer, saya juga akan membawa pulang buku di setiap penempatan tugas saya. I'll promise!

Eh, saya mendadak teringat ucapan seorang fotografer senior lainnya di waktu yang berbeda, beberapa hari sebelumnya.

"Kau tidak akan pernah benar-benar memiliki sesuatu kalau kau menunggu punya uang dulu untuk memilikinya atau membelinya. Berpikirlah tanpa menyertakan aturan pembelian seperti pada lazimnya," 

#Jlebb. 

Memang benar. Saya menyadari hal itu. Menunggu ada dana malah semakin menyiksa jika tidak kunjung memilikinya. Serius. Semakin lama hanya  akan menjadi angan-angan. Seharusnya, saya mulai berpikir seperti yang selalu dinasihatkan ustadz Aa Gym,

Mulai dari diri sendiri,

Mulai dari yang terkecil,

Mulai dari sekarang!

Perpustakan seperti ini yang keren! (Sumber: hipwee.com)


--Imam Rahmanto--

2# Dalih

Juni 19, 2015
Ramadhan#2 |

Di bulan puasa, liputan nampaknya agak berkurang. Pasalnya, jam-jam kerja pegawai negeri juga ikut dikurangi. Segala kegiatan maupun agenda pemerintahan juga dibatasai. Alasannya, selalu sama, karena puasa. Jadinya, saya agak sulit menentukan bahan liputan hingga deadline tiba.

Hampir semua "gerak-gerik" orang di Bulan Ramadhan ini selalu dikaitkan dengan puasa. Parahnya lagi, kita tanpa sadar selalu mengkambinghitamkan salah satu rukun Islam itu.

"Kenapa telat bangun pagi?"
-Saya tertidur habis sahur

"Kenapa tidak olahraga?"
-Kan puasa

"Pulang kok cepat sekali?"
-Puasa. Mau ngabuburit

"Aduh. Saya lupa! Gara-gara puasa ini, makanya kurang fokus,"

Berhitung saja, ada berapa banyak dalih "gara-gara-puasa" yang kita lontarkan sebagai pembenaran di bulan penuh berkah ini? Sementara kita dituntut puasa seharusnya atas dasar keikhlasan dan tanggung jawab. Kalau sepanjang hari kita, manusia, menggerutu dan menjadikan puasa sebagai tameng atas beberapa kelalaian, entah sejauh mana batas keikhlasan kita membangun jiwa puasa. Puasa tak lagi soal menunaikan rukun Islam, melainkan sekadar aturan wajib yang ditunaikan untuk menggugurkan tanggung jawab.

Saya justru berpikir, di waktu puasa seperti ini, segala aktivitas seharusnya berjalan normal-normal saja. Tolerir-tolerir dari instansi tempat kerja dan kebijakan "apalah gitu" malah membuat umat Islam semakin manja dan ngarep dimanjakan.

Kita, umat Muslim, seolah-olah kaum lemah minoritas yang butuh simpati berlebih. Padahal, kan, kita juga berpuasa untuk membangun pribadi yang lebih tangguh. Kemanjaan-kemanjaan semacam itu justru semakin "menina-bobokan" dan membuat sifat malas manusiawi terbangun. Sedikit-sedikit, beralasan puasa. Sedikit-sedkit, mau tidur. Sedikit-sedikit, ngarep tidak melakukan apa-apa. Ya Tuhan ada apa sih dengan manusia-manusia-Mu ini?

Come on! Puasa tidak sekadar menahan lapar, haus, dan nafsu saja. Manusia seyogyanya dilatih kuat bersabar sebagaimana orang-orang dhuafa melakukannya. Dari kesabaran, kekuatan, kebulatan tekad, maka Tuhan berharap manusianya (yang Muslim) bisa naik tingkat level; manusia bertakwa. "La'allakum tattaqun".

Dan hal semacam itu takkan bisa diraih jika jalan yang ditempuh lurus-lurus saja.


--Imam Rahmanto--

Kamis, 18 Juni 2015

1# Puasa Pertama

Juni 18, 2015
Ramadhan#1 |

Awal puasa, banyak teman yang memutuskan pulang ke kampung halaman. Apalagi awal puasa tahun ini dilangsungkan bersamaan antara pihak NU dan Muhammadiyah. Semua orang berseru gembira, tanpa ada perbedaan lagi. Kamu puasa mulai kapan? Kamu ikut NU atau Muhamamdiyah?

Sebagaimana tradisi dan kebiasaan, teman-teman saya hendak merayakan hari pertama puasanya dengan keluarga. Sahur pertama, dibangunkan mamak. Buka puasa pertama, membantu mamak. Ah, betapa ngangeninnya momen-momen seperti itu... 

Saya agak iri sekaligus rindu menikmati momen-momen Ramadhan sepenuh hati. Kemarin malam, di jalan-jalan kota, saya melihat orang-orang bergerombol usai menunaikan tarawih. Sepanjang jalan, ceria, bercerita, hingga anak-anak berkejaran. Betapa mereka membangkitkan keinginan saya bisa berjalan ke masjid tanpa perlu dihantui aroma pekerjaan atau tugas.

Adzan penanda shalat menjadi berbeda auranya di masa-masa Ramadhan. Mungkin lantaran bulan yang melipatgandakan amalan, setiap lafadznya seolah menggetarkan hati. Kepala saya juga diajak berputar pada masa taat dan patuhnya ke masjid meemenuhi panggilan Tuhan.

Betapa tiap Ramadhan dulu, masa remaja saya kerap dihabiskan dengan tinggal berlama-lama di masjid, waktu Dhuhur hingga Ashar. Kalau lelah mengaji, saya mencari kesibukan lain dengan membersihkan sekaligus mengepel lantai masjid. Setelah tak ada kerjaan lainnya lagi, baru diselingi dengan tidur siang sampai waktu Ashar tiba. Bukankah tidurnya orang puasa selalu bernilai ibadah? Apalagi tidur di masjid, pahalanya berkali-kali lipat. Haha...

Terkadang, saya menargetkan khatam Quran di bulan Ramadhan hanya gara-gara ingin bersaing dengan teman lainnya.

"Kamu sudah sampai juz berapa?"

Kendati demikian, meski tak sepenuhnya ikhlas, kuantitas khatam Quran pada masa itu bisa mencapai tiga kali dalam sebulan. Resepnya gampang; mengaji saja 5 lembar setiap usai shalat fardu.

Berbeda dengan sekarang. Jangankan menamatkan 30 juz, membaca ayat-ayat Tuhan dalam sehari saja bisa dihitung tanpa jari. #menghela napas. Mengusahakan agar shalat fardhu tepat waktu juga sudah mulai tertatih-tatih. Ya Tuhan, ampuni saya. Semoga Ramadhan kali ini bisa membangun sisi religius saya yang telah lama tertimbun.

Sahur pertama, saya memang tidak bersama keluarga. Saya hanya bisa menelepon mereka dari jauh. Mengujar selamat sahur dan memperoleh tanya, "Kamu sudah sahur, nak? Sama siapa?" dari orang tua. Sembari tetap membalas ucapan selamat berpuasa dari mereka.

Akan tetapi, keluarga lainnya masih sigap saling menemani, bahu-membahu memasakkan sajian sederhana. Yah, tadi Subuh, kami sahur bersama. Sederhana. Hanya bersama sisa-sisa mahasiswa dan pekerja yang bertahan di padatnya kota Makassar. Paling tidak, untuk menikmati sahur pertama, saya tak perlu merasa sendirian. Saya masih punya keluarga...

Selamat berpuasa (sama-sama). :)


--Imam Rahmanto--

Rabu, 17 Juni 2015

Anak Lelaki Itu

Juni 17, 2015
Alkisah, hiduplah seorang anak yang tidak kaya, tidak pula berkekurangan. Ia hidup sebagaimana orang-orang kampung beregenerasi. Makan tiga kali sehari. Daging ikan sekali-kali. Daging ayam setiap setahun sekali. Mungkin hanya pada saat 2 waktu lebaran tiba.

Bapaknya hanya bekerja sebagai pengepul barang bekas. Sekali waktu menjual pakaian cakar. Ibunya, hanya berlaku sebagai ibu rumah tangga yang baik hati dan berbakti pada suaminya. Kelak, kalian akan tahu seberapa besar baktinya itu menggerus batu di hati suaminya.

Nah, ketika kita memundurkan roda waktu ke belakang, kita akan membuka pintu dimana ia dilahirkan. Tepat pertengahan tahun dan pertengahan bulan. Di tahun lagu-lagu The Muppet dan Ebiet G. Ade merajai pasaran. Kalau engkau tak tahu The Muppet itu band atau grup vokal, dengarkan saja lagunya bermula di Teluk Bayur pada Youtube. Zaman sekarang, lagu apa sih yang tak bisa dicari? Suaranya serupa perempuan cempreng yang dinyaring-nyaringkan.

Kendati demikian, suara itu yang kerap diputar bapaknya sembari menyambut lelap di tengah gulita. Kalau sedang bosan, lagu Gun n Roses bisa menjadi alternatif pilihan kebarat-baratannya. Hanya saja, anak lelakinya justru dibesarkan oleh lagu-lagu Dewa 19, Sheila On 7, dan Padi.

Masa kecil anak lelaki itu masih akrab dengan permainan-permainan tradisional yang tidak mengenal facebook dan twitter. Masih belum mengerti arti retweet atau share. Hanya tahu gundu, wayang, layangan, mercon, berlari-lari, hingga memanjat pohon (untuk memetiki buah jambu).

Ah, ia takkan pernah lupa hadiah pertama dari bapaknya. Sebuah games canggih abad itu, menyaingi games paling canggih Play Station (PS) keluaran pertama. Hadiah itu hasil taruhan bapaknya dengan dirinya.

"Kalau kamu bisa meraih ranking 1 lagi, saya akan belikan games seperti punya temanmu," janji bapaknya. Prestasinya di sekolah masih tak pernah lepas dari 3 besar. Hanya saja, fluktuatif serupa harga bawang merah di pasaran Indonesia.

Anak lelaki itu memenangi pertaruhan. Saban hari, kerjanya mengajak teman-teman sebaya bermain di rumahnya. Mulai dari permainan Tetris, hingga Mario Bros dan Contra jadi andalan mereka. Masih banyak jenis yang lainnya. Maklum, satu disk kotak persegi itu memuat hingga 50 game nintendo.

Kita telah melihat kilas kehidupan anak itu. Hingga beranjak remaja, ia masih dikenal teman-temannya sebagai anak kecil. Secara harfiah, memang kecil, lantaran tubuhnya yang tak pernah tumbuh. Hanya disegani teman-temannya, mungkin karena keunggulan hitung-hitungan dan hafal-hafalannya saja.

Aduh, kalian bakal bingung mendengar kisah anak kerdil itu. Beratus-ratus lembar buku takkan pernah menuntaskan kisahnya. Saban hari hanya menggumam tentang mimpi-mimpi tak jelas. Makin banyak ia membaca novel dan buku motivasi, makin membuat dia gila ingin  merasainya.

Tapi, tahukah kalian, sebagian hidup yang dijalaninya sekarang adalah apa yang diinginkannya dari dulu. Ia memilin impian itu. Perlahan, mengikatnya tepat di alam bawah sadar. Ada rencana yang digambarnya dari pangkal. Tak terpengaruh ajakan atau tawaran menggiurkan orang-orang necis yang menghampiri. Paradigma tentang apa yang benar di tengah masyarakat kelahirannya juga dibuang jauh-jauh. "Saya menjalani apa yang ingin saya jalani," cetusnya.

Kelak, ketika kau bertanya tentang anak kecil itu, di usianya yang sudah menginjak 24, ia dengan bangga hati bakal menjawab, "Saya, kalian telah mengetahuinya."

Akh, besok puasa dan ia merindukan rumah...


--Imam Rahmanto--

Selasa, 16 Juni 2015

*Paradoks

Juni 16, 2015
Zaman sekarang, orang-orang sudah mulai enggan mengingat sesuatu. Pikiran dan ingatan mereka sebagian besar telah dipasung dunia digital. Kelak, mungkin kita akan menemui berbagai macam "memory" diperjualbelikan di pasaran dengan paduan kuota di atas "Terrabyte". Seperti lelucon anekdot, otak kita menjadi yang paling segar diantara otak-otak peradaban lainnya. 

Bukankah paradoks yang terbangun tentang bagaimana smartphone, si ponsel pintar justru membuat kita terlihat semakin bodoh? Kita tak tahu lagi "mengingat" tanpa "diingatkan" si ponsel pintar. 

Saya cukup terkesan dengan film Surrogates. Film yang bercerita tentang robot pengganti. Hampir di seluruh dunia bertebaran robot-robot yang penampilannya sangat mirip dengan manusia pada umumnya. Mereka digerakkan para pemiliknya dari rumah. tanpa perlu susah payah bangkit dari tempat tidurnya, manusia sudah bisa hadir di pertemuan, menjadi model, berbelanja di pasar, menangkap penjahat, bekerja, hingga bercinta. Hampir semua orang di perkotaan memanfaatkan produk teknologi canggih yang dinamakan Surrogates itu. Apalagi dengan adanya robot pengganti itu, mereka bisa tampil di tempat umum dengan wajah yang cantik atau bahkan lebih memukau.

Tujuan Dr. Canter menciptakan Surrogates sebenarnya sangat mulia. Ia hanya ingin mempermudah segala aktivitas manusia. Selain itu, dengan robot pengganti, kejahatan di suatu kota bisa diminimalisir. Kejahatan kriminal menurun drastis. Akan tetapi, di penghujung usianya, ia kemudian menyadari bahwa Surrogates membunuh rasa "kemanusiaan" pada diri setiap manusia. 

Orang-orang tak mengenal lagi sentuhan secara langsung. Perasaan alami dalam berjalan, melompat, atau bahkan rasa sakit akibat terkena pukulan. Semakin lama, manusia telah kehilangan "rasa manusia"nya.

"Look at yourselves. Unplug from your chairs, get up and look in the mirror. What you see is how God made you. We're not meant to experience the world through a machine." --Surrogates--

"Lihat dirimu. Cabut kabel dari kursimu, bangun, dan pandangilah cermin. Apa yang kau lihat adalah bagaimana Tuhan menciptakanmu. Kita tidak dimaksudkan untuk menjajal pengalaman di dunia ini melalui sebuah mesin."

Oleh karena itu, seorang polisi, Tom Greer, yang awalnya ingin mengejar pelaku penghancur dan perusak Surrogates, berbalik ingin "melenyapkan" Surrogates itu sendiri. Ia juga menyadari, keintimannya dengan sang istri juga tersekat oleh robot pengganti. Tubuh istrinya yang bak model, bukanlah istri yang dia inginkan. 

Film bertema action-sci-fi ini sungguh mengingatkan saya pada keadaan di era digital seperti sekarang. Mungkin, film Sursogates cukup gamblang menggambarkan bagaimana manusia kecanduan dengan kecanggihan teknologi itu. Hingga pada akhirnya, di saat mereka harus melepaskan kecanggihan itu, mereka tidak tahu lagi bagaimana caranya menjadi "manusia" sejati.

Saya tetiba rindu dengan segala macam non-digitalisasi. Merasai dunia tanpa sekat-sekat jaringan sosial. Bertemu, bertatap mata. Berjabat tangan, bercerita banyak hal. Mengucapkan selamat tidak sekadar lewat jaringan social-media, yang cenderung hanya sekadar berbasa-basi. 

Kalau boleh, kapan-kapan, mari berteman di dunia nyata. Semurni kita bertemu di kedai kopi langganan dan merasai aroma kopi di sudut-sudut ruangannya. Tersenyumlah, sembari memperlihatkan deret gigi yang tak kilap lagi.



--Imam Rahmanto--



P.s. entah kenapa saya tetiba menuliskan ini di luar kepala. Mungkin saya hanya agak kecewa dengan "ingatan-ingatan" yang tersita itu. Ah, sudahlah. Saya pun tersita rutinitas hingga tak mampu memeluk diri sendiri, kemarin, seperti yang disarankan Aan Mansyur dalam sajaknya. 

Kamis, 11 Juni 2015

Jeda yang Menghubungkan

Juni 11, 2015

“Seperti halnya kalimat, Tuhan menganugerahi hidup dengan jeda (peristirahatan), berupa koma, spasi, atau tanda titik. Dengan begitu, ia akan lebih bermakna,” --Maman Suherman--

Malam itu, kami duduk berempat. Saling menatap, menyimak kepribadian masing-masing. Sesekali melepas bincang tanpa perlu hati-hati. Bertanya kabar sebagai basa-basi lumrah. 

"Ngopi yuk,"

Saya memang sudah lama merindukan ajakan semacam itu. Sejak kemarin, beberapa kali, saya ingin menyesap cappuccino di kafe yang sudah menjadi langganan. Bukan soal kafe atau lokasinya. Saya selalu merasai kafe itu sebagai tempat bermula cappuccino saya. Tempat bermula yang kami ramaikan.

Sebenarnya bukan sesuatu yang istimewa. Seorang teman mengajak "ngopi" di malam yang suntuk. Saya segera mengiyakan ajakannya. Teman-teman yang lain pun saya galang via BBM dan sms.

Empat orang lelaki. Tanpa teman-teman atau demen-demen perempuan. Anggap saja keempatnya masih single. Keempatnya sudah tak pernah lagi menginjakkan kaki di kampus, yang membesarkan dan mendekatkan mereka. Kabar masing-masing hanya terbaca lewat kilas timeline social media dan kabar burung yang dibawa setiap kenalan. Beberapa jam sebelum penghujung malam berakhir, mereka bertemu memperbincangkan banyak hal.

"Ternyata sekarang kau 'disitu' ya?"

Jeda diantara pertemuan memang membawa banyak topik untuk diperbincangkan. Hal biasa. Tak sekadar mengulas ingatan atau membasuh peristiwa, juga menghitung-hitung kemungkinan masa depan yang akan dilalui. 

Bagi saya, berkumpul dengan teman-teman lama adalah hal istimewa. Di balik semua kesibukan yang melanda, mencari quality time, sekadar berbasa-basi bertanya kabar menjadi sesuatu yang sangat langka. Saya sendiri kini tak bisa lagi merinci kemana teman-teman saya menyebar. Masing-masing sudah memiliki kesibukan dan waktu kerja yang tak bisa diganggu gugat. Betapa hidup sudah mulai mengalihkan perhatian kami.

Tak terhitung lagi hari dimana kami saling melupakan sejenak. Kepala lebih condong diisi tentang "bagaimana-menyelesaikan-pekerjaan". Atau paling tidak, hari-hari kami diisi dengan berinteraksi setiap "teman baru" yang kini (mungkin) lebih banyak bertemu di tempat kerja. Klien. Narasumber. Murid. Guru. Pelanggan. Pembeli. Nama beserta nomor baru yang mulai tersimpan di kontak hape.

Spasikomatitikkomaspasi.

“Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkan ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang?” -- Dee, Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade

Saya mempelajari satu hal malam itu. Bahwa perpisahan bukan semata-mata mengisyaratkan kesedihan atau kekosongan. Ia berlaku serupa "jeda". Sejatinya, pertemuan dan perpisahan adalah dua hal yang berlaku seperti daur ulang. Siklus hidup. Re-cycle. 

Di setiap perjumpaan, pasti ada perpisahan. Selain untuk memendam dan menumpuk rasa rindu, berlaku pula bahwa di setiap perpisahan, memungkinkan ada perjumpaan. Ia bergantung pada sebesar apa kita mengusahakan perjumpaan itu. Justru dengan perpisahan, orang-orang dipaksa untuk mencari kembali pertemuan yang telah lama hilang itu. Membangun pertemuan yang berkualitas. Menghimpun beragam cerita. Tidak sekadar bertemu dan memainkan gadget. Membangun relasi yang bermakna. Seperti kata Kang Maman, ada jeda diantara hidup yang berjalan tiada henti.

Malam itu, di selang 4 jam terakhir, saya lebih banyak menatapi mereka. Mengobrol satu-satu tak kelar, tetiba berganti topik lain. Menelikung waktu. Menikmati konsep dasar teori relativitas "waktu" Einstein. Sesekali tertawa.  Mungkin menertawakan kebodohan masa lalu, termasuk bercerita odo'-odo' perempuan. Menyusun kedewasaan berpikir di masa mendatang. Setingkat kemapanan. Pada dasarnya, setiap orang merancang masa depannya tidak lagi sekadar untuk "main-main", seperti halnya dalam mencari wanita pendamping hidupnya.

Aduh. Kenapa saya tetiba berbicara hal-hal tua seperti ini ya? Padahal saya masih muda. Beberapa hari lagi, baru menginjak usia yang ke-24. Ini masih muda! Masih banyak hal yang perlu dicapai. Come-on...

Ok, lantaran saya menikmati pertemuan singkat, tak terencana, di tempat sederhana nan dirindukan itu. I called it, quality-friend-coffee-time... 

Sumber; googling



--Imam Rahmanto--


P.s. Ucapan selamat juga saya haturkan kepada seseorang dan beberapa orang teman yang selangkah lagi bakal mencapai mimpi pendidikannya di luar negeri. Semoga terus tersenyum.

Sabtu, 06 Juni 2015

Perempuan yang Menyita Ingatan

Juni 06, 2015
[sambungan dari sini]


Malam ini, saya baru saja usai menyeruput segelas cappuccino. Saya terpikir sesuatu di dalam kepala, yang mungkin menggumpal hendak dikeluarkan atau diluapkan, tanpa perlu dilupakan. Akh, bukan perkara kekesalan, keganasan, atau perasaan yang bercampur-baur. Hanya ide yang enggan bergeming lama-lama di dalam kepala. Ya, apa pun di kepalamu, hendaknya keluarkan saja.

Ini bulan Juni, dan hujan masih turun sesekali. Ini bulan Juni, semoga hadiah turun sesekali.

*sebentar, saya sedang merebus air. Ada satu sachet lagi yang harus dituangkan dalam gelas.*

"Siapa orang yang pertama kali kau sukai?"

Pada hakikatnya, saya hanya akan menjawab "ibu". Siapa pun yang pernah mengenal dunia, pasti mengenal siapa yang melahirkannya. Tak ada yang bisa memungkiri, kasih paling besar ada pada seorang ibu. Oke, oke. Sudah. Sekarang kita beralih pada pertanyaan yang lebih serius, dengan jawaban yang sangat serius. 

Hahahaha....Ya, ya. Saya cukup rindu berlaku begini, it's me!

Saya mengenal perasaan "malu-malu" itu di masa SMA dulu. Tahu, bukan, "malu-malu" seperti apa yang saya maksud? Perasaan malu sekadar menatap langsung matanya. Berbicara di hadapannya, sekadarnya saja. Memanggil nama, terselip sedikit keinginan menyelipkan "sayang". Sungguh gusar orang yang sedang menyukai lawan jenisnya.

Perempuan itu, saya mengenalnya sudah sejak lama. Jauh sebelum kami memasuki sekolah-tingkat-menengah-atas yang sama. Di sekolah-tingkat-menengah-pertama, saya sudah mengenalnya. Hm...seingat saya, kami berasal dari kelas unggulan yang sama. Saya mengenalnya sebatas perempuan yang juga berprestasi di tingkat sekolah kami. Akh, tentu saja masih belum bisa menyaingi tingkat prestisius saya. #nyombong. Kami berteman baik.

Terkadang kita tidak pernah tahu bagaimana mekanisme Tuhan membolak-balikkan hati. Saya sudah tak ingat lagi bagaimana muasal menyukai perempuan itu. Diam-diam, saya hanya mulai mengaguminya. Mengamatinya dalam diam. Mungkin, bermula ketika saya dan dirinya berada dalam satu kepengurusan organisasi yang sama.

Laksana remaja yang baru mencapai masa pubernya, saya mulai keranjingan menikmati kehadirannya. Tahu, kan, bagaimana rasanya merindukan seseorang yang disukai? Sehari saja tak bertemu, rasanya nyaris setahun. Saya baru menyadarinya jauh di kemudian hari bahwa teori Einstein benar berlaku dalam kehidupan cinta; sejam duduk di samping perempuan cantik, rasanya seperti semenit saja. Sedangkan semenit duduk di atas tungku yang membara, serasa duduk sejam lamanya. Mungkin, ini yang dimaksud relativitas (cinta)? Hahahaha...

Saya tidak bisa mengingat detail atas alasan apa saya menyukainya. Sejatinya, yang namanya cinta memang tak terjelaskan dan tak terelakkan, bukan? Serius. Di dalam kepala, saya hanya tahu bahwa pernah menyukainya. Sebegitu benarnya, hanya salah satu memori saja yang tak lekang di ingatan saya.

"Masih ingat ya tentang kejadian itu?" 

Saya berjumpa kembali dengannya suatu waktu kedatangan kami di sekolah dalam pelatihan jurnalistik. Saya bersama beberapa orang teman dari lembaga jurnalistik kampus memang hendak melaksanakan pelatihan di sekolah tempatnya mengabdikan diri. Sebenarnya mantan sekolah kami dulu. Perjumpaan terencana. Saya menyengajainya. Bukan hendak mengulas apa yang telah berlalu dan mencoba menumbuhkan benihnya kembali. Saya hanya mencoba meredam segala bentuk suka dengan menghadapinya secara langsung. Meski canggung, untuk perempuan satu ini, saya menganggap segalanya berjalan biasa-biasa saja. Saya masih rindu mengobrol banyak "kejujuran" dengannya. Tak ada yang perlu disembunyikan. Tak ada yang perlu ditakutkan. Saya kini, bukanlah saya dulu, yang malu-malu menyampaikan gejolak di kepala, maupun di dada.

"Tentu saja," meski ia menjawab dengan malu-malu dan sengaja menutup-nutupi sesuatu diantara kami. Ia masih seperti dulu, tak banyak berubah. Wajar, kami memang tak hanya berdua. Sembari menunggui acara pelatihan jurnalistik di dalam ruangan, sekelompok teman lainnya juga mencuri-curi dengar. Tak ayal, menjelma bingar ledekan. #Ecieeee..... Beberapa teman SMA yang ikut pada waktu itu memang tahu sejarah antara saya dan perasaan yang terpendam dulu.

"Memang, apa isinya hadiahnya?" seorang teman berusaha mengorek cerita, yang tentu saja disambut senyum malu-malu dari perempuan itu.

Jauh beberapa tahun silam, hal paling berani yang saya lakukan untuk perempuan yang saya sukai, memberi hadiah ulang tahun. Akh, sampai kini pun, hadiah ulang tahun dianggap momen paling berharga menunjukkan perhatian seseorang. Meski terlewat beberapa hari, saya tetap menganggapnya spesial. Hanya saja, ah, setiap kali mengingat momen itu, saya justru ingin tertawa sendiri.

"Apa sih isinya?" paksa yang lainnya.

Saya, yang ingin menjawab mewakilinya, sebenarnya juga lupa dengan hadiah pemberian itu. Kalau pun tahu, mungkin saya akan menjawabnya dengan lugas. Bagi saya, di saat seperti ini, tak ada lagi yang perlu disembunyikan. Hanya saja....saya benar-benar lupa. x_x. Sementara, menurut pengakuannya, ia masih menyimpan hadiah pemberian itu. 

***

"Mau pulang?"

"Iya,"

"Ayo, saya antar. Kebetulan saya mau ke rumahnya si A,"

Saya berdalih untuk menguatkan alasan. Padahal, sejak pelajaran sekolah berakhir, saya sudah mengancang-ancang, mengamati, mengintai, dan mengatur skenario agar bisa mengantarnya pulang. Meski rumah saya sebenarnya berlawanan arah. Saya hendak memberikannya hadiah ulang tahun. Aneh, memang. Saya masih belum tahu caranya bertindak benar mendekati seorang perempuan. 

"Eh, tapi sebelum itu, kita ke rumahku dulu ya? Ada sesuatu yang ketinggalan di rumah,"

Kalau dipikir-pikir, saya bodoh sekali ya? Niat mengantar pulang, justru membawa ke arah sebaliknya. Bagaimana tidak, "sesuatu" itu adalah hadiah untuknya yang saya tinggalkan di rumah. Saya tidak punya cukup keberanian untuk membawanya ke sekolah, menambah ketebalan isi tas.

Mungkin, ia sudah mulai agak ragu. Akan tetapi, karena "tak enak", ia ikut saja. Seusai mengambil "sesuatu", yang kemudian saya selipkan ke dalam tas, saya mengantarkannya pulang. Jarak rumahnya, dua kali jarak rumah saya yang berlawanan arah.

Di tengah perjalanan, hujan turun. Setengah menderas. Lantaran tak membawa jaket, saya berhenti di tengah jalan dan mengetuk pintu rumah salah seorang teman. Saya hendak meminjam jaket. *Kurang romantis apa, coba?

Ternyata hujan tak begitu deras. Hanya rinai-rinai kecil yang mengantarkan saya dan dia ke depan rumahnya. Setibanya, saya segera mengangsurkan pemberian yang sudah direncanakan itu. Hadiah yang kelak saya tak ingat lagi apa wujudnya.

Ah iya, perjalanan saya tetap berlanjut menuju rumah teman saya, sesuai skenario awal, agar tak mencurigakan. Hahaha...

***

"Benar, kau tidak ingat lagi apa isinya?" tanyanya meyakinkan. Saya hanya mengiyakan.

Padahal menurutnya, sesuatu itu masih disimpannya hingga kini. Saya tak menanggapinya serius. Bagi saya, ia yang menyimpannya sekadar dianggap pemberian dari seorang teman. Saya tak pernah (atau tak ingin) mereka-reka bahwa ia juga punya perasaan yang sama dengan saya. Toh, semenjak ia kuliah hingga lebih dulu tamat dibanding saya, ia sudah memiliki seorang kekasih hati. 

"Kau pasti sudah tahu kan, bahwa saya dulu pernah menyukaimu?" tanya saya blak-blakan. 

Akh, saya tak peduli dengan raut "mengejek" teman-teman di sekitar sana. Saya hanya menyuarakan apa yang hendak saya ketahui, tanpa perlu dipendam-pendam lagi. 

"Emm...ngomong-ngomong darimana kau tahu? Padahal kan saya ndak pernah bilang langsung," lanjut saya. 

Seperti biasa. Ia hanya tersenyum dan malu menjawabnya. Sesekali ia menghindar, menjauh. Mengisyaratkan agar tak perlu membahas hal seperti itu lagi. Apalagi diusik dengan suara berisik teman-teman yang penasaran dan "haus" ingin mem-bully.

***

Hanya ingin tahu, seberapa besar kehidupan telah berputar. Seberapa kuat kita menahan diri dari kecanggungan yang melintas masa. Dulu, kau dan aku, hanya sekadar perasaan di batas awang-awang yang tak tersampaikan ke lubuk hati. Ia hanya gubuk tak bertuan. Sama-sama menanti, perasaan yang mengaitkan satu sama lain.

Apakah kita sengaja mengelabui waktu? Menanti suatu masa yang akan membelokkan takdir pada kehendak. 

***

Saya tak menyesal pernah menyukainya. Pun, saya tak perlu menyesal hanya memendamnya. Hingga kini, kami masih berteman baik. Setiap kali saya pulang "kampung", saya selalu menyempatkan diri bertemu, bertamu, atau berkumpul bersama teman-teman lainnya. Antara saya dan dirinya, tak ada lagi persoalan hati. Bagaimana pun, saya sudah belajar membedakan perasaan itu.

Perihal rindu, saya tak perlu menampiknya jauh-jauh. Suatu waktu, lama tak bersua, saya ingin selalu merindukannya. Serasa ingin melihat senyumnya yang dewasa. Mendengar suara sederhana yang bersahaja. Merindukan duduk berdua membicarakan kejujuran masa silam dengannya. Untuk perasaan yang satu ini, saya sudah berdamai dengannya. Pun, seberapa kuat dan memaksanya teman yang lain menggali dan menumbuhkan kembali untuk kami, saya harus menyadari ada hal-hal yang tak perlu lagi dipaksakan. Diterima saja. Lapang dada, kata Sheila On 7.

Saya tak perlu melenyapkan perasaan "suka" itu. Cukup belajar saja menerimanya. Lagipula, semakin saya memaksa menampik hal itu, saya justru menjerumuskan diri dalam perkara yang lebih pelik. Toh, dalam beberapa putaran tahun menjalani kuliah di kota ini, saya menemukan perasaan yang jauh lebih membahagiakan. Perasaan yang mampu membuat saya berani mengemukakan perkara hati. Lantas berani memulai dan mengawali sesuatu. Perasaan yang juga mengajari tentang "luka" itu sendiri...



 --Imam Rahmanto--