Jumat, 29 Mei 2015

Sekolah di Atas Awan

PAUD Komunitas Menara

Ruang kelas yang unik. (Foto: ImamR)
Kami tiba di Rannaloe. Di depan kami, terpampang pagar warna-warni yang identik dengan anak kecil. Di atas anak tangga juga tertegun seorang anak kecil yang begitu polosnya memandang kedatangan kami. Melihat Pak Ilyas yang mengantarkan kami, anak-anak tersebut berlarian kecil menjejaki anak tangga, kembali ke dalam ruangan yang serupa kelas di atas sana.

Itu memang sebuah ruangan kelas. Dari luar, saya bisa memandangi anak-anak sedang belajar dan bermain. Seorang perempuan paruh baya mengajarkan membuat bendera merah putih, sembari sesekali bernyanyi.

"Kasih ibu...kepada beta...tak terhingga sepanjang masa...."

Lagu itu membuat mata saya terkena-sengatan-aroma-bawang-merah.

Tiba-tiba saja saya teringat masa kecil. Bagaimana melihat mereka bernyanyi bersama, mengingatkan saya kembali usia masa kanak-kanak. Usia dewasa memang tak ubahnya memaksa kita merindukan usia kanak-kanak. Di usia itu, kita takkan pernah pusing memikirkan sesuatu. Bermain, ya bermain saja. berlari, ya berlari saja. Amat berbeda ketika dewasa, yang harus diselingi dengan sebab dan akibat.

Merdeka! (Foto: ImamR)
Saya sangat suka dengan anak kecil. Tak heran ketika diperlihatkan gambar tentang sekolah PAUD ini, saya begitu tertarik mengunjunginya. Di pedalaman asli begini, memandangi wajah anak kecil yang ceria, tertawa, mungkin bisa membagi sedikit kebahagiaan mereka tentang hidup. Bahwa: hidup sesederhana ini adanya…

Sekolah untuk anak usia dini ini sebenarnya sudah lama didirikan oleh Bu Masruhah, seorang alumni perguruan tinggi pendidikan agama Islam. Hanya saja, sejak memulainya di tahun 2004, ia belum memiliki gedung permanen sebagai tempat belajarnya. Ia hanya memanfaatkan gubuk-gubuk penduduk dan teras rumahnya sebagai tempat belajar anak-anak usia dini itu.

Sembari menyesap air nira yang disuguhkan khusus siang itu di rumahnya, Bu Masruhah banyak bercerita tentang Rannaloe dan PAUD Komunitas Menara kepada kami. Selama ini saya hanya mendengar air nira dari televisi. Namun, siang itu, saya berkesempatan meneguk rasa manisnya, meskipun baunya agak kecut. Kalau difermentasi, air nira inilah yang kemudian disebut dengan ballo'

Bagaimana ia mulai membangun PAUD, atas kekecewaannya melihat anak-anak usia balita di Rannaloe yang dipaksa orang tuanya masuk SD. Akibatnya, pemikiran mereka dipaksa untuk menyerap pelajaran anak usia SD yang seharusnya belum bisa mereka cerna dengan baik.

“Bayangkan, anak usia 3 tahun sudah dipaksa masuk SD hanya gara-gara teman-temannya juga masuk SD,”

Ia akhirnya mendirikan PAUD “berjalan” itu. Sambil tetap mengajak ibu-ibu di desa memasukkan anaknya ke sekolah yang dikelolanya secara gratis. Guru-guru yang mengajar pun direkrutnya dari ibu-ibu PKK. Belakangan, mereka yang mengajar disana berguguran lantaran tidak sanggup dengan gaya bekerja “gratisan” alias tanpa digaji. Tersisa satu orang saja yang masih loyal dengan Bu Masruhah hingga sekarang.

Bersamaan dengan inisiatifnya membangun PAUD “berjalan” itu, ia juga memanfaatkan lahan dari suaminya yang merupakan Kepala Desa untuk membangun sekolah Aliyah. Kini, ia menjabat sebagai Kepala Sekolah di Madrasah Aliyah itu. Salah satu guru yang mengajar disana adalah Khaeruddin, yang juga menjabat sebagai Kepala Posyandu di Desa Rannaloe.

“Dulu, di lahan itu, tempatnya orang-orang persembahan sesajen. Orang-orang disini dulunya memang masih punya kepercayaan seperti itu,” Bu Masruhah menceritakan sesaat kami menyambangi rumahnya yang berada di bawah lokasi PAUD Komunitas Menara.

Selamat datang, kakak-kakaks! (Foto: Pak Ilyas)

Mari bermain bersama kami. Ajarkan kami yang namanya cita-cita dan impian! (Foto: Pak Ilyas)
Tak jauh beda, sebenarnya salah satu rekomendasi lokasi pembangunan gedung permanen yang kemudian diusulkan ke Komunitas Menara dulunya adalah tempat persembahan semacam itu. Hanya saja, orang “pintar” yang memeriksa tempat itu kemudian melarang dan menganjurkan mencari tempat lain yang lebih cocok dibangunkan kelas PAUD. Katanya, tak cocok buat tempat belajar anak kecil.

Ah, ya tunggu dulu, saya belum menceritakan bagaimana tiba-tiba seorang penulis novel Best Seller, Ahmad Fuadi bisa menyelipkan namanya di desa yang jauh dari hiruk-pikuk ibukota. Oke, begini asal-muasalnya.

Mulanya, Pak Ilyas sebagai relawan sebuah institusi sudah lama mengenal lokasi di Desa Rannaloe. Ia bahkan mengaku sudah menjadikan desa itu sebagai bagian dari hidupnya. “Ayah saya dulunya seorang tentara dan sering mengajak saya ke desa ini,” kisah Pak Ilyas. Kondisi Rannaloe dulu di masa kecil Pak Ilyas juga sangat jauh dari hegemoni kemajuan.

Hingga dewasa dan selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan, Pak Ilyas tak lupa menyelipkan desa ini di kepalanya. Wajarlah ketika ia bertemu dengan relawan lain di Jakarta, yang sedang mencari sekolah PAUD untuk dibantu, di kepalanya segera mencuat Desa Rannaloe.

“Saat itu, syarat dari teman relawan itu bahwa PAUD yang akan dibantu itu bukan baru akan dibuat. Tapi sudah berjalan selama beberapa tahun,”

Syarat yang diajukan tidak jauh berbeda dengan kondisi PAUD yang dipelopori oleh Bu Masruhah, kenalannya di Rannaloe. Saat itu juga, ia mengusulkan sekaligus memperkenalkan desa itu kepada teman relawan yang berasal dari Komunitas Menara, asuhan bang Ahmad Fuadi.

Tibalah pembangunan yang tak pernah diduga Bu Masruhah pada sekolah yang telah lama dirintisnya. Ia tak pernah menyangka, PAUD “berjalan”nya bisa mendapatkan bangunan permanen. Bahkan, pembangunan yang hanya berjalan sebulan itu disambut baik oleh warga sekitar. Mereka berbondong-bondong menyelesaikan pembangunan sekolah yang berkomposisi setengah beton itu.

“Bagi saya, bagaimana pun modelnya, paling tidak anak-anak sudah punya tempat belajar. Mereka sudah bisa mendapatkan pendidikan yang layak,” syukur Bu Masruhah.

Hingga kini, ada 25 anak didik di PAUD gratis itu. Mendengar itu, saya jadi tersentuh… Dan lagi, 3 orang guru yang kini mengabdi disitu disekolahkan PG-TK di salah satu sekolah tinggi di Manggarupi.

Pak Ilyas biasa menyebutnya, PAUD Di Atas Awan, lantaran ketika petang tiba, lokasi desa diselimuti kabut. Jika berkesempatan naik gunung, maka kita akan mendapati awan melintasi desa ini. Di desa, ada perbukitan yang cukup menarik jika didaki, kata Bu Masruhah. Apalagi buat orang-orang yang menyukai senja. Saya dibuai penasaran.

Untuk yang satu ini, saya berkeinginan mencobanya suatu waktu. Dan lagi, katanya, di atas desa ada lokasi wisata air terjun dan gua yang baru ditemukan dan belum banyak terjamah publisitas.

Ndak usah terlalu banyak dikasih tahu semuanya, Bu. Supaya mereka datang lagi kesini cari informasi,” canda Pak Ilyas masuk akal. Makanya bikin saya penasaran.

“Kapan-kapan, berkunjunglah lagi kesini, dek” ajak Bu Masruhah ramah. Tentu saja, mungkin rasa penasaran itu bisa jadi bahan saya berikutnya. ^_^.

Kami anak-anak dari Tanah Rannaloe! (Foto: Pak Ilyas)


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar