Senin, 11 Mei 2015

Beranjak 39

Selamat milad!

Keluarga besar LPM Profesi UNM. (Foto: dokumentasi)

Seharusnya lagu dari Ten2five - Happy Birthday menjadi backsong postingan ini.

Sebenarnya agak telat pula menyampaikan ucapan itu. Lembaga jurnalistik kesayangan saya baru saja menginjak usianya yang ke-39, tertanggal 5 Mei lalu. Kendati demikian, perayaan puncaknya baru digelar beberapa hari setelahnya, Sabtu malam.

Bagi saya, momentum perayaan ini cukup berharga. Terlebih ketika tahun lalu saya melewatkannya begitu saja. Saya tak punya jepretan gambar satupun. Tahun ini, saya sudah bertekad mengikutinya meski pekerjaan tepat menumpuk di malam itu. Ada deadline berita yang menuntut dikerjakan malam itu.

Soal deadline, saya selalu mencanduinya. Tantangan yang selalu menjadi pemicu adrenalin untuk bertumbuh dan memompa pikiran untuk bertindak lebih efektif. Orang-orang menyebutnya: mestakung – semesta mendukung!

Di lembaga ini, saya tumbuh menjadi seorang calon jurnalis sekaligus penulis. Sejak dulu, saya selalu punya minat khusus terhadap dunia kepenulisan. Akan tetapi, untuk menempuh jalan itu, saya hendak mempertebal pengalaman lebih dahulu lewat kehidupan jurnalistik.

“Kampus mana? Jurusan apa?”

“UNM. Matematika,”

“Lah kok jadi wartawan?”

Hingga kini, semenjak aktif di salah satu media profesional di kota Makassar, saya sudah kenyang dengan pertanyaan semacam itu. Orang-orang mungkin terkejut (atau takjub?) melihat “penyimpangan” dalam jalur kuliah saya. Di dalam mindset mereka tertanam; kuliah di kependidikan, ujung-ujungnya jadi guru. Hahaha… sementara hal yang berbeda justru berlaku dalam kehidupan saya.

Lantas, saya mesti menjawab apa? Tersenyum saja, mungkin, takkan membahasakan apa-apa.

Sejatinya, saya memang pernah mengidamkan menjadi seorang guru. Di kala itu, saya masih menyisipkan kegemaran saya dalam hal menulis.

Rentang berjalannya perkuliahan, saya menemukan kesenangan baru. Saya mulai melebarkan kegemaran itu. Saya diperkenalkan pada lembaga pers kampus setelah sempat terantuk pada lembaga penelitian kampus. Nyaris saja saya menjadi salah satu bagian dari para peneliti muda di kampus itu. Akan tetapi, skenario Tuhan memang selalu berjalan sebagaimana mestinya. Mungkin saat itu, Tuhan memang tidak mematok hati saya terlalu kuat hingga harus berhenti di tengah-tengah ujian calon anggota baru. Ada jalan lain yang disediakan.

Dan bertemulah saya dengan para pelaku jurnalistik kampus. Orang-orang yang militan dan senantiasa mengajarkan bagaimana cara berkomunikasi yang baik. Saya menemukan dunia "saya" disini. Menulis dan mengabarkan sesuatu. Menulis yang tak perlu dijejali pakem-pakem kolot. Menulis yang dikerjakan dengan cara menyenangkan sembari membangun relasi.

Di sela-sela pembelajaran itu, saya juga menemukan teman-teman yang lebih dari sekadar rekan kerja. Kami adalah teman, dan selamanya akan selalu teman. Berbagi peluh. Berbagi kesah. Hingga berbagi olok, yang tak jarang merenggangkan hubungan kami.

Tak ada yang sempurna dalam sebuah hubungan. Kesempurnaan justru datang dari penerimaan kita terhadap kekurangan masing-masing. Mungkin ada yang omongannya ceplas-ceplos. Ada yang suka mengumbar olok-olok di depan teman lainnya. Ada yang senang marah-marah. Ada yang terlalu manja. Ada yang kerap kali tak peduli. Ada yang selalu ingin menang sendiri. Ada yang ingin cari sensasi. Setiap orang punya pribadi identik, yang saling melengkapi dan butuh dimengerti. Saya mempelajarinya dalam sebuah harmoni paguyuban Profesi.

Semata-mata, tentang pertemanan itu, hanyalah bonus dari kehidupan 5 tahun silam. Kunci utama ada pada passion yang sejak dulu ingin saya bangun dan kembangkan. Jikalau ada yang bertanya, “Kenapa bisa jadi wartawan?” nah, saya dengan senang hati bakal menjawab: karena saya mencintainya. #Hm…tentu saja dengan dihiasi senyum paling manis saya.

Saya belum bisa memberikan kado apa-apa pada lembaga yang menumbuhkan keterampilan jurnalistik ini. Mungkin, orang mengenal lembaga ini sebagai pencetak jurnalis-jurnalis maupun birokrat tanah air. Orang-orang di media lokal selalu mafhum dengan hembusan namanya di jalan-jalan kota. Akan tetapi, bagi saya, lembaga ini tetap akan menjadi keluarga kedua saya.

Narsis dikit, habis kejar deadline, bolehlah. Here we are, #Ben10. Minus "bapak" dan "emak"nya. (Foto: dokumentasi)


Selamat milad LPM Profesi UNM!

Kelak, ketika tua di penghujung usia, kesuksesan bergantian merupa, ingatkan kami untuk selalu berpaling padamu. 


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar