Sabtu, 30 Mei 2015

Lapang Dada-nya SO7

Mei 30, 2015
Tepat sejam yang lalu, saya terbangun. Mungkin gara-gara nyamuk nakal. Mungkin karena lapar pula. Akh, sial. Mana ada warung yang buka di tengah malam begini?

*Now playing: Sheila On 7 – Lapang Dada, on Youtube




*Padahal sebenarnya sedang memutar lagu dangdut modern. Memutarnya keras-keras di headset sambil berjoget sendirian di tengah-tengah teman yang sedang mengigau.


Apa yang salah dengan lagu ini?

Kenapa kembali ku mengingatmu

Seperti aku bisa merasakan

Getaran jantung dan langkah kakimu

Kemana ini kan membawaku…

Saya paling suka dengan video klip ini. Cuplikan videonya selalu membuat saya tersenyum geli sekaligus getir. Ada yang terasa nyata di dalam lagu itu. Lagipula band sepanjang masa ini, beberapa waktu lalu berhasil memenangi penghargaan Indonesia Choice awards yang dihelat oleh Net TV. Keren!

Bahwa…

Kau harus bisa, bisa berlapang dada

Kau harus bisa, bisa ambil hikmahnya

Saya pernah meyakini, jika kisah asmara seseorang sudah seperti dalam cuplikan video itu, bakal langgeng sampai ke jenjang pernikahan. Betapa beruntung mereka yang merasai kisah cinta romantis seperti itu. Saya pernah membayangkannya.

Saling mendengarkan dan berbagi lagu yang disukai. Berjalan berdua, sembari berbagi headset dengan lagu itu. Setiap pagi, menikmati minuman hangat hasil racikan orang tersayang. Cappuccino, mungkin. Mencari keseruan berdua dengan mendatangi beberapa tempat baru. Meski memiliki hobi yang berbeda, tapi masing-masing saling mendukung dengan kegemaran itu.

Di suatu waktu, mengisi waktu dengan memasak bersama. Berbagi rasa pada masakan. Jikalau takaran tak sama, mungkin bisa diisi dengan debat-debat kecil, yang sengaja diciptakan hanya untuk mengganggu pasangan. Ala film banget ya??

Betapa mendambanya kan hubungan semacam itu?

Itu kopi, teh, susu, air biasa, atau cappuccino ya? (Sumber:Screenshot)
Akan tetapi, pada kenyataannya hidup tak selalu seperti yang kita inginkan. Perempuan yang menjadi pasangan kita saat ini dan merasa sangat cocok dengannya, bisa jadi tidak akan bersama kita di kemudian hari. Ada banyak faktor yang tidak mampu kita prediksi yang bakal mengubah arah hidup ke depannya. Seperti kita kehilangan seorang teman seperjalanan lantaran salah satu dari kita tiba-tiba mengubah arahnya.

Pernah dengar berita tentang seorang perempuan muda yang menangis ketika berpelukan dengan salah seorang mempelai laki-laki? Gara-garanya mempelai laki-laki itu adalah mantan kekasihnya. Tentu saja ia menangisinya. Setelah 7 tahun mereka memadu keindahan kisah kasih, mereka justru bertemu di pelaminan bukan sebagai pasangan mempelai. Akh, hidup…

Kita memang tidak pernah bisa memaksakan diri atas apa yang diinginkan. Apa yang dimiliki sekarang, bukan berarti akan dimiliki seterusnya. Apa yang dirasai sekarang, tak mesti akan berlaku untuk seterusnya. Siapa yang dicintai dan dimiliki hatinya harinya, apakah mungkin akan bertimbal balik mencintai dan memiliki hati kita di kemudian hari? Who knows...

Saya pernah merasai sayang pada seorang perempuan. Kata kebanyakan orang, perempuan itu begitu cocok dengan saya. Tak bisa dipungkiri, beberapa hal darinya memang cukup identik dengan diri saya. Bagaimana seorang remaja kasmaran, saya merasakannya pada saat itu juga. Boleh saya tersenyum sendiri mengingat-ingatnya?

Mungkin sampai detik ini, saya nyaris tak percaya akan kehilangan momen itu. Bukan kehilangan secara harfiah. Melainkan perasaan saya dan dirinya yang kemudian memudar, entah dimulai dari mana, dan dari siapa. Sebenarnya, kalau ingin menggali lebih jauh, saya pernah berharap agar “dia saja”lah yang menjadi pasangan saya di kemudian hari. Perasan saya sudah terpatok padanya. Bahkan saya dan dirinya sudah saling berjanji untuk melakukan perjalanan sama-sama.

Meskipun ia bukan orang pertama yang menaklukkan hati saya, akan tetapi ia orang pertama yang membuat saya merasa diterima apa adanya. Ialah orang yang setiap kabar kehadirannya saya pedulikan. Orang pertama yang tak luput membuat saya hendak menerjang apa saja ketika tahu ia sedang menangis. Orang pertama yang tak pernah lupa meminta sekaligus menghadiahi ucapan pengantar tidur. Akh, saya mengingatnya sebagai perempuan kecil yang meracuni kelogisan berpikir saya.

Pada waktunya, kita akan sadar tentang segala hal yang harus dilapangkan. Dilepaskan. Direlakan. Seperti kata Duta, “Kau harus bisa, bisa berlapang dada”. Yah, sekali lagi, saya hanya bisa tersenyum-senyum sendiri melihat video itu. Ternyata, perempuan yang paling cantik, paling mesra, paling romantis, paling dicinta, paling nyaman, paling istimewa, atau paling cocok sekalipun tak menjamin akan menjadi pendamping hidup kelak. Siapa yang bisa menyangka, jangan-jangan perempuan yang baru kita temui 5 menit yang lalu, akan menjadi pendamping hidup 5 tahun mendatang? Who knows? Tuhan selalu berlaku tak seperti yang kita duga…

Kau harus bisa, bisa berlapang dada… 

Kau harus bisa, bisa ambil hikmahnya

Karena semua, semua tak lagi sama,

Walau kau tahu dia pun merasakannya…

Nah, pesan lagu itu, ya segala hal yang tak berlaku sesuai dengan keinginan atau prediksi, mbok ya dimaklumi saja. Lapang dada. Kalau kata keluarga saya di Jawa, legowo, nerimo ing pandum...

Atau…pada dasarnya saya memang selalu suka saja dengan band yang satu ini, apa pun lagunya. Ahahaha... 



--Imam Rahmanto--


P.s. hujan sementara mengguyur lemah ketika saya menyelesaikan tulisan ini. Adzan Subuh juga ramai bersahut-sahutan di luar sana. Hm...mungkin sudah waktunya saya mencari sesuatu-yang-bisa-dimakan. Lapar...

Jumat, 29 Mei 2015

Sekolah di Atas Awan

Mei 29, 2015
PAUD Komunitas Menara

Ruang kelas yang unik. (Foto: ImamR)
Kami tiba di Rannaloe. Di depan kami, terpampang pagar warna-warni yang identik dengan anak kecil. Di atas anak tangga juga tertegun seorang anak kecil yang begitu polosnya memandang kedatangan kami. Melihat Pak Ilyas yang mengantarkan kami, anak-anak tersebut berlarian kecil menjejaki anak tangga, kembali ke dalam ruangan yang serupa kelas di atas sana.

Itu memang sebuah ruangan kelas. Dari luar, saya bisa memandangi anak-anak sedang belajar dan bermain. Seorang perempuan paruh baya mengajarkan membuat bendera merah putih, sembari sesekali bernyanyi.

"Kasih ibu...kepada beta...tak terhingga sepanjang masa...."

Lagu itu membuat mata saya terkena-sengatan-aroma-bawang-merah.

Tiba-tiba saja saya teringat masa kecil. Bagaimana melihat mereka bernyanyi bersama, mengingatkan saya kembali usia masa kanak-kanak. Usia dewasa memang tak ubahnya memaksa kita merindukan usia kanak-kanak. Di usia itu, kita takkan pernah pusing memikirkan sesuatu. Bermain, ya bermain saja. berlari, ya berlari saja. Amat berbeda ketika dewasa, yang harus diselingi dengan sebab dan akibat.

Merdeka! (Foto: ImamR)
Saya sangat suka dengan anak kecil. Tak heran ketika diperlihatkan gambar tentang sekolah PAUD ini, saya begitu tertarik mengunjunginya. Di pedalaman asli begini, memandangi wajah anak kecil yang ceria, tertawa, mungkin bisa membagi sedikit kebahagiaan mereka tentang hidup. Bahwa: hidup sesederhana ini adanya…

Sekolah untuk anak usia dini ini sebenarnya sudah lama didirikan oleh Bu Masruhah, seorang alumni perguruan tinggi pendidikan agama Islam. Hanya saja, sejak memulainya di tahun 2004, ia belum memiliki gedung permanen sebagai tempat belajarnya. Ia hanya memanfaatkan gubuk-gubuk penduduk dan teras rumahnya sebagai tempat belajar anak-anak usia dini itu.

Sembari menyesap air nira yang disuguhkan khusus siang itu di rumahnya, Bu Masruhah banyak bercerita tentang Rannaloe dan PAUD Komunitas Menara kepada kami. Selama ini saya hanya mendengar air nira dari televisi. Namun, siang itu, saya berkesempatan meneguk rasa manisnya, meskipun baunya agak kecut. Kalau difermentasi, air nira inilah yang kemudian disebut dengan ballo'

Bagaimana ia mulai membangun PAUD, atas kekecewaannya melihat anak-anak usia balita di Rannaloe yang dipaksa orang tuanya masuk SD. Akibatnya, pemikiran mereka dipaksa untuk menyerap pelajaran anak usia SD yang seharusnya belum bisa mereka cerna dengan baik.

“Bayangkan, anak usia 3 tahun sudah dipaksa masuk SD hanya gara-gara teman-temannya juga masuk SD,”

Ia akhirnya mendirikan PAUD “berjalan” itu. Sambil tetap mengajak ibu-ibu di desa memasukkan anaknya ke sekolah yang dikelolanya secara gratis. Guru-guru yang mengajar pun direkrutnya dari ibu-ibu PKK. Belakangan, mereka yang mengajar disana berguguran lantaran tidak sanggup dengan gaya bekerja “gratisan” alias tanpa digaji. Tersisa satu orang saja yang masih loyal dengan Bu Masruhah hingga sekarang.

Bersamaan dengan inisiatifnya membangun PAUD “berjalan” itu, ia juga memanfaatkan lahan dari suaminya yang merupakan Kepala Desa untuk membangun sekolah Aliyah. Kini, ia menjabat sebagai Kepala Sekolah di Madrasah Aliyah itu. Salah satu guru yang mengajar disana adalah Khaeruddin, yang juga menjabat sebagai Kepala Posyandu di Desa Rannaloe.

“Dulu, di lahan itu, tempatnya orang-orang persembahan sesajen. Orang-orang disini dulunya memang masih punya kepercayaan seperti itu,” Bu Masruhah menceritakan sesaat kami menyambangi rumahnya yang berada di bawah lokasi PAUD Komunitas Menara.

Selamat datang, kakak-kakaks! (Foto: Pak Ilyas)

Mari bermain bersama kami. Ajarkan kami yang namanya cita-cita dan impian! (Foto: Pak Ilyas)
Tak jauh beda, sebenarnya salah satu rekomendasi lokasi pembangunan gedung permanen yang kemudian diusulkan ke Komunitas Menara dulunya adalah tempat persembahan semacam itu. Hanya saja, orang “pintar” yang memeriksa tempat itu kemudian melarang dan menganjurkan mencari tempat lain yang lebih cocok dibangunkan kelas PAUD. Katanya, tak cocok buat tempat belajar anak kecil.

Ah, ya tunggu dulu, saya belum menceritakan bagaimana tiba-tiba seorang penulis novel Best Seller, Ahmad Fuadi bisa menyelipkan namanya di desa yang jauh dari hiruk-pikuk ibukota. Oke, begini asal-muasalnya.

Mulanya, Pak Ilyas sebagai relawan sebuah institusi sudah lama mengenal lokasi di Desa Rannaloe. Ia bahkan mengaku sudah menjadikan desa itu sebagai bagian dari hidupnya. “Ayah saya dulunya seorang tentara dan sering mengajak saya ke desa ini,” kisah Pak Ilyas. Kondisi Rannaloe dulu di masa kecil Pak Ilyas juga sangat jauh dari hegemoni kemajuan.

Hingga dewasa dan selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan, Pak Ilyas tak lupa menyelipkan desa ini di kepalanya. Wajarlah ketika ia bertemu dengan relawan lain di Jakarta, yang sedang mencari sekolah PAUD untuk dibantu, di kepalanya segera mencuat Desa Rannaloe.

“Saat itu, syarat dari teman relawan itu bahwa PAUD yang akan dibantu itu bukan baru akan dibuat. Tapi sudah berjalan selama beberapa tahun,”

Syarat yang diajukan tidak jauh berbeda dengan kondisi PAUD yang dipelopori oleh Bu Masruhah, kenalannya di Rannaloe. Saat itu juga, ia mengusulkan sekaligus memperkenalkan desa itu kepada teman relawan yang berasal dari Komunitas Menara, asuhan bang Ahmad Fuadi.

Tibalah pembangunan yang tak pernah diduga Bu Masruhah pada sekolah yang telah lama dirintisnya. Ia tak pernah menyangka, PAUD “berjalan”nya bisa mendapatkan bangunan permanen. Bahkan, pembangunan yang hanya berjalan sebulan itu disambut baik oleh warga sekitar. Mereka berbondong-bondong menyelesaikan pembangunan sekolah yang berkomposisi setengah beton itu.

“Bagi saya, bagaimana pun modelnya, paling tidak anak-anak sudah punya tempat belajar. Mereka sudah bisa mendapatkan pendidikan yang layak,” syukur Bu Masruhah.

Hingga kini, ada 25 anak didik di PAUD gratis itu. Mendengar itu, saya jadi tersentuh… Dan lagi, 3 orang guru yang kini mengabdi disitu disekolahkan PG-TK di salah satu sekolah tinggi di Manggarupi.

Pak Ilyas biasa menyebutnya, PAUD Di Atas Awan, lantaran ketika petang tiba, lokasi desa diselimuti kabut. Jika berkesempatan naik gunung, maka kita akan mendapati awan melintasi desa ini. Di desa, ada perbukitan yang cukup menarik jika didaki, kata Bu Masruhah. Apalagi buat orang-orang yang menyukai senja. Saya dibuai penasaran.

Untuk yang satu ini, saya berkeinginan mencobanya suatu waktu. Dan lagi, katanya, di atas desa ada lokasi wisata air terjun dan gua yang baru ditemukan dan belum banyak terjamah publisitas.

Ndak usah terlalu banyak dikasih tahu semuanya, Bu. Supaya mereka datang lagi kesini cari informasi,” canda Pak Ilyas masuk akal. Makanya bikin saya penasaran.

“Kapan-kapan, berkunjunglah lagi kesini, dek” ajak Bu Masruhah ramah. Tentu saja, mungkin rasa penasaran itu bisa jadi bahan saya berikutnya. ^_^.

Kami anak-anak dari Tanah Rannaloe! (Foto: Pak Ilyas)


--Imam Rahmanto--

Mencari "Menara" di Tanah Rannaloe

Mei 29, 2015
Saya selalu memimpikan menyela rutinitas kerja dengan berkunjung ke tempat-tempat yang baru. Hiruk-pikuk perkotaan kerap membuat saya jenuh. Sesekali, saya ingin berkunjung ke daerah asri yang belum tercemar hutan beton. Atau telentang di atas permadani rumput sembari menatap bintang tanpa diganggu polusi kota.

“Sekali waktu, berkunjunglah ke Desa Rannaloe untuk melihat PAUD Komunitas Menara,” ajak seorang "teman baru" lewat BBM-nya. Saya lama mengenalnya lewat karya-karya novel fenomenalnya. Hanya saja baru berkesempatan mengenalnya lebih dekat dua minggu yang lalu.

Akh, saya lupa namanya. (Foto: ImamR)
Saya menjanjikan bakal mengunjungi PAUD yang sebenarnya belum pernah pula dikunjunginya itu. Sekolah untuk anak usia dini itu, baru dibangunnya setahun silam atas usulan relawan disana.

Dari ceritanya, saya cukup membayangkan sebuah desa yang tidak jauh berbeda dengan domisili saya di Enrekang dulu. Pegunungan. Lembah. Pohon-pohon. Jalanan menanjak. Bukit terjal. Udara yang asri. Penduduk yang ramah.

Saya, dan seorang teman dari Harian Nasional, Kak Debbie, tertarik berkunjung kesana. Apalagi dengan kesediaan salah seorang relawan, Pak Ilyas, mengantar kami hingga ke tanah Rannaloe. Sebenarnya saya juga mengajak beberapa orang teman untuk ikut serta. Hanya saja, mereka punya aktivitas masing-masing di akhir pekan itu. Pun, saya bisa “melenggang” ke luar kota Makassar lantaran mendapat izin peliputan PAUD ke redaktur beberapa hari sebelumnya. Yah, sambil menyelam minum air

Pagi benar saya harus bersiap. Kami berencana berangkat bersama pada pukul 7 tepat, sesuai permintaan Pak Ilyas. Akan tetapi, kebiasaan begadang semenjak mahasiswa, dan aktiivitas di sekretariat (redaksi) LPM Profesi malam itu, membuat saya nyaris bangun kesiangan. Saya baru terbangun lewat setengah tujuh. #gubrakk!

Perjalanan kami dimulai dari puskesmas Kalegoa yang tak jauh dari kediaman Pak Ilyas. Jalan poros yang dilalui Pak Ilyas masih terasa asing bagi saya. Bukan jalan poros yang berujung ke Malino, seperti yang selama ini saya lalui. Melainkan jalan poros yang…. entahlah. Saya nampaknya belum pernah melaluinya.

Menurut Pak Ilyas, jalan poros tersebut melintasi perbatasan Gowa-Takalar. Akan tetapi, area Kabupaten Takalar yang akan kami lalui tidak cukup luas. Berselang beberapa menit, kami sudah memasuki kembali area Kabupaten Gowa. “Area Gowa memang cukup luas. Perbatasannya banyak menyentuh beberapa kabupaten di Sulsel. Ada Takalar, Sinjai….” tutur Pak Ilyas di belakang kemudi. Sepanjang perjalanan, Pak Ilyas memang banyak bercerita.

Di sepanjang jalan, saya menemui perumahan yang masih identik dengan pemandangan alam. Saya menikmatinya. Apalagi ketika kami ditraktir untuk mencicipi Coto Kuda. Mata saya selama ini sudah terlalu dibiasakan melihat gedung-gedung tinggi perkotaan. Melihat pohon-pohon hijau rasanya seperti menyemai perasaan. Damai. Di kiri-kanan jalan terbentang lahan persawahan yang cukup luas yang memanjakan mata. Lantaran berangkat pagi, udara panas masih belum terasa.

“Nah, kita akan belok kanan. Kalau terus, maka jalanannya bakal berujung buntu,” jelas Pak Ilyas lagi. Saya tak habis pikir, jalanan beraspal yang kami lalui ini bakal berujung pada jalanan buntu. “Soalnya jalanan selanjutnya itu tidak diaspal, dan sulit dilalui kendaraan mobil,” lanjutnya, seperti bisa membaca pikiran kami. Ia menambahi, perjalanan kami seterusnya akan dilalui dengan tanjakan.

Dari pertigaan jalan poros, kami tiba kurang dari 1 jam di Desa Rannaloe. Melintasi jurang dan dinding perbukitan. Jalan poros yang mengantar kami memang bisa dilalui mobil. Hanya saja, di beberapa titik, batu-batu mencuat dari aspal yang rusak. Termasuk di banyak tikungan yang nyaris memutar sudut 180 derajat. Pun, jalanannya hanya cukup untuk satu mobil.

“Makanya saya tidak berani membawa mobil yang putaran mesinnya di ban depan. Saya pasti pakai mobil yang dorongannya dari belakang, 4WD,” ujarnya di tengah perjalanan.

Saya tak mengerti banyak hal tentang mobil. Dalam bayangan saya, seperti mobil mainan tamiya, yang terbagi dalam dua pelatakan mesin dinamo. Dinamo depan dan dinamo belakang. Mm...mungkin seperti itu.

Berkali-kali ia mengambil ancang-ancang memasuki tikungan yang cukup curam. Ban belakang mobil tak henti bising terselip. Burnout. Menyisakan bunyi yang agak memekakkan telinga. Salah sedikit, mobil yang kami tumpangi bisa mundur dan terperosok ke jurang. Entah ada berapa tikungan yang harus kami taklukkan hingga mencapai Desa Rannaloe. Satu-dua orang yang berpapasan dengan kami menandakan bahwa kami sudah menuju pemukiman yang tepat.

“Itu Desa Rannaloe,” tunjuk Pak Ilyas di tengah-tengah perjalanan kami menaklukkan tanjakan. Ia menunjuk pegunungan yang ada di sebelah kiri kami. “Itu yang ada rumah warna putihnya,” tunjuknya lagi menembus lokasi persawahan yang berada di sisi kanan perjalanan.

Nah, Desa Rannaloe ada di gunung itu. Ngambil gambarnya dari atas mobil yang sedang bermanuver.
(Foto: ImamR)
Pemandangannya tidak jauh beda dengan beberapa daerah di tanah kelahiran saya. (Foto: ImamR)
Akh, saya semakin merindukan menghabiskan waktu di daerah pegunungan begini. Sawahnya. Sungainya. Pohonnya. Teman-teman masa kecil. Eh, iya, apa kabar sekarang ya?

Bagi saya yang terbiasa tinggal di daerah pegunungan, lokasi Desa Rannaloe tidak cukup jauh. Di pedalaman Enrekang, ada lebih banyak daerah yang sulit dijangkau dengan kendaraan biasa. Jika menggunakan motor ke Rannaloe, sebenarnya tidak akan sesulit menggunakan mobil.

Jalan menuju Desa Rannaloe bisa dipilin aspal atas iming-iming para caleg yang berkampanye. Jembatan yang menghubungkan Rannaloe dengan “kehidupan” di luar juga dibangun sebagai upaya untuk meningkatkan perekonomian desa.

“Bayangkan, dulu orang-orangkalau mau jual hasil panenya harus jalan keluar berjam-jam. Sampai-sampai, gula merahnya biasa meleleh di tengah perjalanan,” ujar Pak Ilyas. Salah satu komoditi yang biasa dimanfaatkan penduduk desa ini juga adalah Gula Merah yang diolah dari pohon aren. Kapan-kapan saya ingin melihat proses pengolahan gula merahnya.

Desa Rannaloe tidak bisa terjangkau oleh sinyal handphone. Untuk listrik sendiri, baru disambungkan sekira dua-tiga tahun yang lalu. Pak Ilyas, sebagai relawan, biasanya berkomunikasi dengan menggunakan handy-talkie (HT). HT itu dipegang oleh Ketua Posyandu, Bu Desa, dan Kepala Posyandu.

Biasanya, HT dimanfaatkan ketika ada keperluan kesehatan di desa-desa tetangga, seperti ibu melahirkan. Atas alasan mobilitas pula, Ketua Posyandu di Desa Rannaloe adalah seorang laki-laki. Jikalau ada ibu-ibu melahirkan, maka Ketua Posyandu yang bernama Khaeruddin Syam itu akan mengantarkan satu-satunya bidan desa menembus belantara. Yah, benar-benar belantara, ketika jalan beraspal tak lagi menyambung jalan transportasi.

“Kalau ada yang melahirkan, kami harus kesana. Bagaimana pun medannya, harus ditanggulangi,” ujar Khaeruddin. Ia masih muda. Lulusan Pendidikan Agama Islam, namun kembali mengabdikan diri di desa yang telah melahirkannya.

Kami bercakap di sebuah Posyandu sederhana yang dibangun atas bantuan sebuah institusi swasta atas prakarsa Pak Ilyas. Kalau penasaran dengan Pak Ilyas, saya menemukan tautannya disini. Kebetulan, hari itu masyarakat sedang memenuhi jadwal penimbangan berat badan dan pemeriksaan kesehatan anak-anaknya. Posyandu itu juga merangkap sebagai perpustakaan desa, meskipun dengan buku-buku yang masih minim. Saya menghitung, tidak sampai seratus buku yang tersusun di rak yang menempel di dinding seadanya.

Meski terpencil, Desa Rannaloe termasuk salah satu desa di Kecamatan Bungaya yang paling maju di bidang pendidikan. Desa ini memiliki sekolah madrasah, meskipun masih belum selengkap sekolah-sekolah di kota. Katanya, banyak anak-anak penduduk desa tetangga yang bersekolah di Desa Rannaloe.

Satu yang cukup spesial, salah satu sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di atas gunung itu, terselip nama seorang penulis novel best seller. Bagi orang-orang yang sudah pernahh membaca novelnya, tentu tak perlu berpikir panjang ketika mendengar nama PAUD yang menyertakan label "Komunitas Menara". Yah, siapa lagi kalau bukan Ahmad Fuadi.

Selamat datang di tempat belajar kami! (Foto: ImamR)

Berikutnya: PAUD di Atas Awan


--Imam Rahmanto--

Minggu, 24 Mei 2015

Jokowi, oh, Jokowi

Mei 24, 2015
Ada yang terbebaskan dari dalam diri saya. Sesuatu yang mungkin selama ini agak mengganjal segala tindak laku. Entah bagaimana, beberapa jam yang lalu, bagi saya, semuanya terasa ringan. Tertawa, ya tertawa saja sekeras-kerasnya. Berujar tanpa perlu ditahan-tahan. Berceloteh seriang apa pun. Yahh…saya merasainya, dari momen kejar-mengejar sang Bapak Presiden, Jumat siang kemarin…

***

Saya tidak sedang ingin menuliskan seuatu yang membuat pilu, sendu, atau galau. Sudahlah. Tak perlu menenggelamkan diri dalam hal semacam itu. Kehidupan ini terus bergerak. Ia tak pernah menanti orang-orang yang duduk menatapi satu pintu tanpa menyadari pintu lainnya yang masih terbuka.

Saya hanya ingin berbagi dan sekaligus menyimpan momen terbaik (sejauh ini) yang pernah saya alami semenjak menjajal dunia jurnalistik profesional. Yeahh!! 

“Oke, kamu liput di gedung perpajakan ya,” seperti biasa, rutin tiap malamnya, kami mendapatkan tugas liputan untuk keesokan harinya. Malam sebelumnya, saya didaulat meliput sebuah acara simbolis pemusnahan barang-barang illegal (rokok dan miras) yang tidak lolos syarat dari pihak Bea dan Cukai.

Menjelang tengah hari, Jumatan, saya dan beberapa wartawan masih menunggu kedatangan orang nomor satu di Kementerian Keuangan, Bapak Bambang SP Brodjonegoro. Rencananya, ia yang akan membuka pemusnahan tersebut, didampingi orang-orang dari Dirjen Bea dan Cukai. Hanya saja, lewat sejam, Menkeu belum tiba. Beberapa wartawan pun mengeluh dan bersungut-sungut. Apalagi, matahari juga sedang membakar kerumunan pers di bawah tenda.

Oh ya, saya mengenal beberapa dari mereka. Sebagian besar merupakan wartawan hukum dan kriminal. Acara pemusnahan barang illegal ini memang seharusnya menjadi lahan peliputan mereka. Namun, mau bagaimana lagi, saya mendapat tugas-yang-tak-elok-ditolak.

Selang beberapa menit, orang yang ditunggu-tunggu pun datang. Bapak Menkeu dan sedikit rombongannya tiba. Ia segera bergabung dengan kerumunan acara di bawah tenda, didampingi oleh Plt Dirjen Bea dan Cukai Supraptono. “Yang namanya pejabat, kalau telat, amat jarang yang mau minta maaf. Dasar Indonesia,”

“Kak, kesini bareng siapa?” tanya saya pada salah seorang wartawan.

Saya mengenalnya sebagai salah seorang teman wartawan dari media nasional yang selama ini posting di Kantor Gubernur, sama seperti saya. “Sendirian sih,” jawabnya, masih dengan logat Bandungnya yang khas.

“Saya nebeng deh kalau begitu. Boleh, ndak?”

“Boleh,” tuturnya.

Saya dan beberapa wartawan lain sudah menyelesaikan bahan untuk penulisan berita. Kalau bahan sudah lengkap, biasanya tidak butuh waktu sejam untuk mengerjakan beritanya, baik lewat gadget maupun laptop. Saban hari, saya menenteng tas (kesayangan) yang berisikan laptop (kesayangan).

Awalnya, saya ingin langsung mampir ke kantor redaksi. Sementara teman saya itu ingin segera ke postingan biasanya, di Gubernuran. Apalagi, saya sempat berpikir,  untuk apa lagi standby di Gubernuran kalau Pak Presiden RI berencana kunjungan kerja hari ini? Biasanya orang-orang di gubernuran sudah mengosongkan agenda disana dan merapat ke Pak Presiden yang berkunjung ke Makassar.

Sebagai “anak baru”, saya biasanya tidak diikutkan dalam momen-momen seperti itu. Dari media kami, sudah ada beberapa orang yang sudah ditugaskan.

Akan tetapi, saya kemudian berubah pikiran. Saya ngikut saja ke gubernuran. Sambil menulis berita disana, bisa sambil santai menunggui yang lain. Mungkin ada kejadian atau acara di gubernuran yang layak liput, pikir saya.

Usai menjalankan kewajiban Jumatan, saya bergegas menyelesaikan berita yang akan dikirimkan. Saya agak menghindari yang namanya menghindari pekerjaan. Apalagi terkait penulisan berita seperti ini. Satu naskah rampung, biasanya pikiran akan langsung *plonggg!!*

“Imam, kau standby disini ya,” pinta salah seorang senior mentor di media tempat saya bekerja.

“Siap, Kak!” jawaban standar. Saya memang menduga akan seperti itu.

Ia dan beberapa wartawan lainnya menuju ke lokasi peliputan lain. Menurut kabar, ada Menteri Sosial yang tiba di salah satu kantor Bulog. Menurut mereka, itu bahan peliputan yang menarik. Sembari menunggu kedatangan Jokowi di Makassar, mereka “menyelami” liputan lain. Menurut Humas yang berjaga disana, Jokowi baru akan tiba di Makassar jam 3. Jadi, masih ada waktu untuk menunggu kedatangannya.

“Imam, kalau disitu ada si A, kamu ikut ke rujab saja pakai mobilnya. Kamu ikut saja ke peliputannya Pak Jokowi,” ujar senior mentor saya itu melalui telepon. Ia nampaknya belum selesai dengan peliputannya. Mungkin, untuk berjaga-jaga, saya memang harus mem-backup-nya.

Sesaat sebelumnya, ia memang mengajak saya untuk nimbrung meskipun tanpa ID card. Saya sendiri tak menyangkanya. Kartu pengenal pers itu sehari sebelumnya sudah dibagikan kepada para wartawan yang didaftarkan medianya untuk meliput kedatangan Jokowi. Jadilah saya ke rujab, menumpang mobil salah seorang tetua Humas yang sudah saya kenali semenjak awal posting di gubernuran.

“Ayo, berangkat. Pak Jokowi sudah mau mendarat di bandara. Kalau kita tidak cepat menunggu di pelabuhan, kita tidak akan keburu,” usulnya sembari memacu mobilnya ke rujab Gubernur. Saya hanya berdua dengannya karena teman-teman se-posting masih mengejar lliputan di Bulog.

Hingga tiba di rujab, kami masih berdua menunggu teman-teman wartawan lain. Sesuai rencana, mereka seharusnya berkumpul disini dan bersama-sama menuju pelabuhan Seokarno-Hatta untuk menghadiri peletakan batu pertama Makassar New Port (MNP) oleh Jokowi. Sayangnya, lewat setengah jam, mereka (yang meliput di Bulog) belum menampakkan batang hidungnya. Hanya dua orang wartawan pemprov yang kemudian muncul dan bergabung bersama kami.

“Kita berangkat duluan deh. Kalau tidak, kita akan ketinggalan acaranya,” usul salah seorang dari kami. Humas pun menyetujui. Akan tetapi, belum sampai 10 meter mobil bergerak meninggalkan rujab, kami berpapasan dengan teman-teman wartawan yang ditunggu. Mereka mengendarai motor.

“Itu mereka!” seru salah seorang dari kami, yang kemudian ditanggapi supir mobil yang berbalik arah kembali ke rujab. Lima orang tambahan untuk satu mobil yang sudah berisi 7 orang. Mati!

Inilah momen paling berkesannya. Sepanjang perjalanan menuju pelabuhan memang diisi dengan gerutuan dan candaan. Bayangkan, di jejeran kursi paling belakang sudah terisi 4 orang, lantas ditambahi dengan kursi tengah yang dimuati 6 orang. Hahahaha….

Sepanjang perjalanan, muncul komentar-komentar yang menimbulkan tawa. Mungkin, bisa dibilang, kami hanya bisa tertawa di dalam mobil. Ada yang kegencet karena sesak. Ada yang dipangku. Ada yang terjepit. Ada yang hendak buang angin. Ada yang ambil kesempatan. Pokoknya, para wartawan ini rela menderita dalam satu mobil demi memenuhi tugas liputan Jokowi. Tak peduli laki atau perempuan.

“Aduh, hati-hati ‘pisang-ijo’ku hancur nanti,” canda salah seorang yang kebagian memangku teman lainnya. Tak tanggung-tanggung, teman perempuan pun juga ikutan dipangku.

“Jangan banyak gerak. Bau!” seru yang lainnya lagi. Tak pelak, diikuti dengan semprotan minyak wangi.

Bahkan tiba di tempat pemeriksaan, polisi yang memeriksa mobil sempat menertawai kami yang “kelebihan muatan”.

“Aduh, deh. Tidak usah dibuka jendelanya. Nanti orang-orang kaget lihat kita sesak muatan begini,” komentar salah satu diantara kami. Hahahahaha….saya hanya bisa tertawa-tawa mengingat momen naik mobil berdesak-desakan itu.

***

Ah, ini pertama kalinya. :') tapi, tentu bukan terakhir kalinya.
(Foto: ImamR)
Bagi kami, para pewarta, tidak ada alasan untuk tak mengerjakan peliputan. Bagaimana pun caranya, kami harus mengerjakan liputan yang diberikan. Militansi sebuah jurnalisme diuji. Kalau orang bersungguh-sungguh, segalanya jadi mungkin.

Di lokasi peliputan, saya baru mendapatkan ID card pers. Sebelum berangkat, saya memang sudah mewanti-wanti Humas untuk meminjamkan ID card yang dimilikinya. Mungkin karena iba, ia mengiyakannya saja. Toh, pada akhirnya saya memperolehnya. Saya bisa pula merasai bagaimana pekerjaan pewarta yang mengejar-ngejar orang sepenting Presiden RI Jokowi.

Mulai dari bergabung dengan wartawan dari media lain. Tak ketinggalan media nasional yang didatangkan langsung dari pusat bersama presiden. Mengikuti setiap perbincangan dan sambutan yang diarahkan para petinggi.

Satu hal yang paling mengesalkan adalah ketika gadget yang seharusnya menjadi tempat saya mengetik semua catatan dan berita terpaksa kehabisan daya. Saya tak menemukan sambungan listrik dimana-mana. Mau tak mau, saya harus kembali ke cara manual: menulis. Padahal, banyak momen yang bisa diangkat menjadi bahan berita saat itu juga.

Setelah di Pelindo, presiden beranjak ke pelabuhan rakyat Paotere. Saya, masih bersama mobil Humas pemprov, mendahului rombongan presiden. Kami meungguinya disana, yang sudah ramai oleh anak-anak hingga orang tua. Di sepanjang jalan menuju Paotere, saya melihat banyak anak SD mengibarkan bendera merah putih. Mereka hendak menyambut rombongan kepresidenan yang lewat.

Lain kali, saya harus punya kamera (dan gadget) yang lebih oke untuk momen seperti ini. (Foto: ImamR)

Ah, mengejar orang se-nomor satu Presiden RI memang agak menegangkan dan jauh lebih sulit. Dimana-mana paspampres berjaga. Untuk wawancara pun, paspampres sangat ketat tak membolehkan wartawan lewat. Saya sampai berdesak-desakan dengan mereka. Tidak hanya paspampres, bahkan sesama wartawan lain yang mau ingin wawancara door-stop dengan Pak Jokowi harus saling sikut. “Ini Presiden RI, Bung!”

Saya sempat menjumpai beberapa menteri yang ikut dengan Pak Jokowi. Hanya saja, saya tak banyak mengenali mereka. Saya hanya mengenali Menteri Sosial Khafifah. Seseorang yang cukup familiar sebagai Ignasius Jonan, Menteri Perhubungan, agak membuat saya ragu. Saya ingin men-google-nya. Sayang, lagi-lagi, gadget saya dalam kondisi daya kritis.

Meskipun demikian, saya cukup menikmatinya. Beberapa pengalaman “berburu” itu cukup mengesankan. Adrenalin memacu sekencang yang mampu diusahakan. Wajar ketika saya tak ingin kehilangan momen itu dari kepala dan menuliskannya disini.

Saya ingin lebih banyak belajar hidup. Banyak-banyak berjalan dan bertemu orang-orang baru. Maka saya menemukan, betapa dunia saya masih tidak lebih luas dibanding selembar daun kelor.


--Imam Rahmanto--


P.s. untuk momen begini, saya terkadang ingin mengabadikan diri sendiri dengan foto. Apalagi sesaat saya mendapatkan ID Card nasional itu. Tapi, tugas menguber-uber informasi agak menyela semua hal yang berkaitan dengan "kepentingan pribadi". #fiuhh



Selasa, 19 Mei 2015

Perbincangan Kopi

Mei 19, 2015
Malam belum benar-benar larut gulita ketika kami tinggal berdua. Saya, dan seorang teman. Di beranda sebuah sekretariat lembaga pers kampus. Membincangkan banyak hal. Sesekali, bergosip hal yang remeh-temeh.

Beberapa jam sebelumnya, saya baru saja pulang dari rutinitas malam di kantor. Setiap malam, kami wajib mengikuti rapat redaksi, pembahasan terkait rencana-rencana liputan yang akan dijalankan esok harinya. Sebagai "anak baru" di media profesional, saya harus banyak bersosialisasi pula di kantor. 


Di penghujung kedua mata nyaris mengatup, kami terlibat beberapa perbincangan yang menarik. Tentang kopi. Kenapa pula baru sekarang saya berbincang tentang kopi di blog yang sebagian besar kepalanya merujuk pada kopi?

Yah, salah satu minuman yang sebenarnya menjadi komoditas di daerah domisili saya, Kabupaten Enrekang. Sementara, teman saya yang sebagian keluarganya juga berasal dari sana, juga punya pengalaman sebagai seorang barista. Nyaris setahun lamanya ia bergelut dengan kopi dan racikannya.

"Di Enrekang, ada kopi arabika ya? Kopi kalosi itu apa termasuk kopi arabika?"

Ada satu hal yang ingin saya luruskan dalam hal ini. Kopi kalosi memang tergolong dalam rumpun kopi arabika. Hanya saja, penamaan "Kalosi" itu sebenarnya tidak mengacu pada daerah penghasil kopinya.

Sekali waktu, berkunjunglah ke daerah yang disebut Kalosi itu. Di sana, sejauh saya mengenalnya, tak ada kopi spesial seperti yang selama ini di-branding-kan. Wilayahnya lebih cenderung ke arah perkotaan yang menjadi pusat perdagangan dan distribusi beberapa komoditi. Nah, mungkin atas dasar itulah, penamaan "Kalosi" melekat pada nama kopi arabika.

"Dan lagi, daerah Kalosi itu tepat terlihat di dalam peta, kan?" ujar saya sedikit bercanda. 

Nama Kalosi sendiri, sejak kapan ia digunakan sebagai nomina sebuah kopi yang merepresentasikan daerah sekaligus cita rasa, masihlah kabur. Secara historis, penamaan suatu kopi dengan identitas tempat bisa bermakna macam-macam. Dua makna yang paling sering dipakai adalah nama tempat dan pelabuhan. Seperti nama Java atau Jawa dan Mukha, pada abad 19, itu tidak berarti kopi tersebut ditanam di daerah Pulau Jawa dan Mukha, melainkan juga bisa berarti kopi yang diberangkatkan dari suatu pelabuhan di Pulau Jawa atau di Mukha. Kalosi sendiri bisa berarti pasar dan tempat. Meski di Kalosi ada tanaman kopi, pada saat yang sama mempertimbangkan sebaran kopi spesial Kalosi (sekali lagi, kopi spesial [specialty coffee] bukan kopi secara umum) di berbagai daerah di luar Kalosi yang melampaui daya produksi tanaman kopi di Kalosi, kopi Kalosi bisa berarti kopi yang dibeli atau dijual oleh penjual kopi asalan di pasar Kalosi yang kopinya bisa berasal dari luar Kalosi. --Sumber--

Sementara itu, saya pernah bertemu dengan seorang distributor kopi arabika dari Enrekang. Ia bercerita, sebetulnya kopi arabika yang dilabeli nama "Kalosi" itu berasal dari daerah pegunungan Benteng Alla Utara. Dari Kalosi, berjalanlah ke arah utara hingga menanjak ke area pegunungan tinggi. Di tempat itulah perkebunan kopi banyak ditemui. Biji kopi yang siap dijual, kemungkinan besar berasal dari tempat ini dan dipasarkan di sekitar Kalosi. Wajar ketika orang-orang lebih mengenalnya dengan nama Kopi Kalosi.

Hingga kini, lelaki yang bukan asli tanah Massenrempulu itu justru gencar mebangun branding Kopi Kalosi dengan nama Kopi Benteng Alla. Katanya, ia hendak mengembalikan kejayaan nama penghasil komoditas utama kopi itu.

"Orang kan tahunya cuma Kopi Kalosi dan Kopi Toraja. Sementara mereka sebenarnya tak pernah dasar, yang dinamakan Kopi Kalosi itu adalah Kopi Benteng Alla," saya menjelaskan kepada teman, berdasar pengamatan yang selama ini saya temui di daerah Enrekang.

Penampakan daerah Benteng Alla Utara, yang terkenal sebagai penghasil kopi di Enrekang. (Sumber: philocoffeeproject)
Ketika siap dipanen. (Sumber: philocoffeeproject)

Entah bagaimana caranya, perbincangan kami berputar pada bagian coffeeshop. "Di Makassar memang sudah banyak saya temui orang-orang yang 'latah' mendirikan kafe," ujar teman saya. Sebagai orang yang pernah menghabiskan waktunya bekerja di kafe, ia paham betul tentang mekanisme pasar dan pertumbuhannya.

Memang, bukan hal yang asing lagi. Di kota kami, ada banyak coffeeshop yang menjamur. Satu per satu muncu dengan konsep masing-masing. Msekipun nyaris semuanya berkonsep dasar vintage. Akan tetapi, persaingan kafe semacam itu justru semakin memperkeruh esensi para pecinta kopi yang hendak menikmati kopi.

Fenomenanya, coffeeshop yang ada kini justru tidak bersifat sebagai "toko kopi". Lihat saja, dimana-mana, nyaris semua kafe menyediakan minuman-minuman selain kopi. Padahal, sejatinya, yang namanya "kedai kopi" hanya menyajikan beberapa jenis minuman berbahan dasar kopi.

"Kalau coffeeshop asli, bahkan mereka tidak perlu menyediakan wifi. Konsep murninya kan kedai kopi memang dikhususkan bagi para pecinta kopi, bukan untuk para pecinta nongkrong-lama-lama," tambah teman saya itu. Hanya saja, kebutuhan pasar selalu melewatkan idealisme yang seharusnya diusung setiap barista.

"Seseorang belum disebut pecinta kopi, kalau ia belum merasai yang namanya espresso,"

Sekadar informasi, espresso adalah hasil perasan bubuk kopi yang benar-benar di-press oleh mesin khusus. Semacam sari pati langsung dari bubuk kopi. Oleh karenanya, tak perlu heran ketika memesan espresso di kafe dan Anda disuguhi minuman kopi pahit dengan ukuran gelas jauh lebih kecil. 

Beberapa minuman seperti cappuccino, moccachino, latte, macchiato sebenarnya merupakan "turunan" dari espresso. Semisal cappuccino, yang merupakan hasil racikan dari 1/3 espresso, 1/3 susu segar, dan 1/3 steam foam.

Secara sederhana, "turunan" espresso" seperti pada gambar. (Sumber: google)

Saya hendak menuliskan lebih banyak lagi. Tentang usaha membangun kafe. Alat-alat yang dibutuhkan. Perbedaan rasa kopi. Rekomendasi kedai kopi favorit di kota kami. Esensi mencintai kopi.

Akan tetapi, saya harus istirahat malam ini. Saya terlalu takut bangun kesiangan dengan beberapa tugas liputan yang sudah dibebankan sejak semalam. Oke, nite...

"Kami bukan pecinta kopi. Kami hanya penikmat,"

--Imam Rahmanto--


Ps: Saya terpaksa menuliskan hal ini karena tak ingin kehilangan momen dari kepala saya. Tentang kopi. Tentang asalnya. Tentang kafe. Tentang kesukaan akan minuman itu. Atau tentang cerita yang dibangun lewat cengkerama tanpa gangguan mata yang disibukkan oleh gadget setiap waktu.

Kamis, 14 Mei 2015

Tanya yang Senantiasa Terulang

Mei 14, 2015
“Kenapa menjadi jurnalis?” 

Pertanyaan itu kembali menghampiri saya. Sudah saya bilang, kan? Setiap orang akan terkejut (kelak boleh takjub) mengetahui latar belakang pendidikan saya yang sama sekali tak berkaitan dengan pekerjaan sekarang.

Namun, pertanyaan itu kini dilontarkan oleh orang yang berbeda.

“Kenapa menjadi jurnalis?” tanya Andy F Noya, presenter Kick Andy Show, di hadapan para peserta talkshow. Saya dan seorang rekan jurnalis dari Republika sedang berdiri di atas panggung bersamanya. Ditemani pula oleh salah seorang penulis novel best seller, Trilogi Negeri 5 Menara.

***

Lagi, saya agak telat bangun pagi. Kalau tak ada jadwal liputan pagi, saya terkadang tidur kebablasan. Kalau sudah begini, Subuh-an pun telat. Padahal, saya berharap, pekerjaan sebagai jurnalis cukup mengubah pola tidur saya sebulan belakangan ini. Nampaknya saya butuh seseorang (perempuan) untuk membangunkan saya setiap pagi. Haha…

Setiap hari, saya bertugas di Kantor Gubernur Sulsel. Dalam dunia jurnalistik profesional, masing-masing jurnalis punya desk atau bidang liputan. Berdasarkan desk yang menaungi, maka saya di”dinas”kan di pusat pemerintahan provinsi itu.

Kalau sedang tak ada agenda, saya terkadang agak telat bergabung dengan teman-teman jurnalis lainnya. Apalagi status saya yang masih reporter magang. Pun, disana sudah ada seorang senior yang memang sudah lama ditugaskan. Saya hanya sebagai pelengkap, sekaligus pembelajar. Menyelesaikan liputan penugasan biasanya sudah cukup bagi kami, para magang. Kami lebih sering dijejali dengan liputan-liputan seremoni. Liputan kontrol lebih banyak ditangani senior di media bersangkutan.

Di kala sedang menikmati segelas cappuccino (di kost teman), sebuah pesan BBM masuk di gawai. Pesan dari redaktur. Saya diinstruksikan meliput sebuah diskusi RUU di kampus UNM, yang merupakan kampus saya sendiri.

“Beruntung, saya belum beranjak ke gubernuran,” gumam saya dalam hati. Jaraknya juga tidak terlalu jauh dari kost saya. Hanya saja, waktu pelaksanaan kegiatannya nyaris berbenturan dengan agenda di gubernuran. Tepat tengah hari, saya harus segera ke kantor gubernur untuk meliput acara yang nampaknya bakal keren.

“Kalau begitu saya nebeng sampai kampus Gunung Sari saja ya?” pinta saya pada teman yang sedang bersiap-siap hendak keluar rumah. Ia pun mengiyakan.

Untuk menuju lokasi peliputan, saya terkadang harus memutar otak saya lantaran tak punya kendaraan. Selain memanfaatkan angkutan umum, saya biasanya nebeng ke teman-teman lainnya yang searah (atau dipaksa searah) dengan lokasi peliputan.

Beberapa jam berikutnya, saya sudah meluncur ke lokasi peliputan. Disana, saya bertemu beberapa orang dari media lokal lain, yang sebenarnya berasal dari satu lembaga jurnalistik kampus dengan saya. Kebanyakan, mereka adalah kakak senior saya di kampus. Saya sempat tertawa sendiri melihatnya. Kami berasal dari media lokal yang berbeda, tapi sebenarnya masih se-ibu di kampus ini. Dan lagi, dua orang adik junior dari lembaga jurnalistik kampus yang sama juga hadir meliput kegiatan tersebut. Lengkap sudah.

Berbekal pinjaman kendaraan dari seorang teman di kampus, saya membalap ke kantor gubernur. Saya tiba disana telat sejam dari jadwal di agenda. Perkiraan saya, acara yang seharusnya menjadi liputan penugasan itu bakal berantakan. Namun kenyataan berkata lain.

Ahmad Fuady dan Andy F Noya sedang menunggu waktu talkshow. (Foto: ImamR)

Setiba di belakang Ruang Pola, dua orang yang lamat-lamat saya kenali sedang dikerubuti oleh para pegawai dinas. Tak ketinggalan pula beberapa teman jurnalis lain bergantian mengambil gambar keduanya. Kedua orang itu, Andy F Noya dan Ahmad Fuadi, nampak santai menanggapi permintaan penggemarnya itu satu-satu.

“Sial, hape saya lowbat,” rutuk saya dalam hati. Gadget saya memang sudah tua dan soak. Sekali diisi dayanya, hanya bisa bertahan hingga dua-tiga jam. Selebihnya, harus diisi daya lagi. Padahal, ini kesempatan yang bagus untuk mengobrol sekaligus wawancara dengan kedua tokoh itu.

Sembari mencari-cari stop kontak, yang ternyata dipakai teman lain, saya menunggu momen yang tepat untuk ikut nimbrung mengobrol dengan kedua orang itu. Mau tak mau, saya harus menggunakan catatan manual dan modal ingatan. Biasanya, perbincangan-perbincangan menarik (dengan tokoh idola) itu bakal mengendap di ingatan. 

Siapa pula yang tak mengenal kedua tokoh itu. Yang satu, hampir setiap minggu muncul di layar televisi. Ia hadir sebagai host acara talkshow, Kick Andy Show yang selalu menginspirasi banyak orang. Satunya lagi, penulis novel best seller yang selama ini saya kagumi. Saya pernah bertemu dengannya, tapi tak pernah sedekat dan selama ini. Bahkan, keduanya punya latar belakang sebagai jurnalis. Keren!

Bukan tanpa alasan mereka hadir di gedung pemerintahan itu. Di Ruang Pola, baru saja dilangsungkan pengukuhan pengurus perpustakaan daerah terkait program gemar membaca. Salah satu rangkaian acara terakhirnya, yakni talkshow “gemar membaca” dengan menghadirkan Bang Andy sebagai seorang Duta Baca Nasional. Dihadirkan pula Bang Fuadi selaku seorang penulis novel yang banyak menginspirasi masyarakat di Indonesia.

Di belakang panggung, saya bergabung dengan seorang teman lainnya dari Republika. Saya duduk di sampingnya. Sementara di sampingnya lagi, Bang Fuadi mengobrol bebas. Bang Andy yang duduk tepat di samping Bang Fuadi sibuk dimintai berfoto bersama oleh para penggemarnya. Saya sebenarnya juga hendak mengabadikan momen itu, tapi ya sudahlah, hape saya sedang kehabisan daya. Lagipula, saya meyakini bukan terakhir kalinya saya akan bertemu dengan kedua orang ini.

“Dari cerita-cerita kalian, nampaknya kalian ini memang suka nulis ya?” Bang Andy tiba-tiba nyeletuk. Mungkin di tengah kesibukannya melayani foto bareng penggemar, ia mencuri dengar perbincangan kami.

“Kalau begitu, nanti kalian berdua saya undang naik ke atas panggung. Kalian berbagi tentang apa pentingnya menulis dan membaca,” lanjut Bang Andy.

Waduh. Saya terkejut sekaligus bahagia. Tidak menyangka bakal “terkenal” beberapa menit di gubernuran. Hahaha…

“Meski pun dari latar belakang yang bertolak belakang, tak mempengaruhi minat mereka untuk terus menulis. Satunya dari Jurusan Matematika, satunya lagi dari Jurusan Tekstil. Kita panggil Imam dan Debbie!!” serunya setelah Bang Fuadi menyampaikan ilmu dan pengalamannya sebagai penulis.

Kami yang sejak awal sedang mencatat liputan di dalam ruangan, di samping jejeran kursi penonton, segera menjadi titik fokus pandangan Bang Andy. Otomatis, seluruh peserta di ruangan itu juga mengikutkan pandangan menyelidiknya ke kami. Aduh, agak kikuk juga nih.

Di atas panggung, kami diberi pertanyaan yang sama secara bergantian. Mulai dari alasan suka menulis, alasan suka membaca, arti buku bagi kami, hingga bercerita tentang latar belakang menjadi jurnalis. Bahkan, Bang Andy menanyakan tentang blog yang menjadi tempat saya mengabadikan tulisan-tulisan sayaBeberapa jawaban kami sampaikan secara umum. Akh, seandainya disitu ada kamera dan kami masuk tivi, moga orang tua saya melihat dan mendengar bagaimana saya betul-betul bahagia dengan pekerjaan saya saat ini. 

Meskipun tidak berlangsung sampai setengah jam, kami dihadiahi tiga buku dari tim Bang Andy. Mungkin semacam ucapan terima kasih. Satu novel Negeri 5 Menara, dan dua buku hasil keluaran acara Kick Andy Show.

Saya menjumpai beberapa pelajar yang histeris ingin berfoto dengan Andy F Noya dan Ahmad Fuadi. (Foto: ImamR)

Tambahan buku gratis saya!! :D :D (foto: ImamR)

***

Saya selalu percaya, pekerjaan apapun yang dijalani dengan senang hati akan membuahkan hasil yang sepadan. Seperti slogan yang selalu dimasyarakatkan Bang Fuadi, Man Jadda Wa Jada, barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan mendapatkan hasilnya. Tentu, hasil yang sepadan dengan usaha, doa, dan kebahagiaannya.

Do what you love. Love what you do. Kerjakan hal yang memang kita sukai. Dan cintailah apa yang dikerjakan. Kerjakan sesuatu yang memang pilihan kita. Bukan justru karena tak ada pilihan lain.

Jika orang di luar sana berbondong-bondong mengidamkan pekerjaan sebagai Pe-En-Es, saya justru tak menginginkannya sama sekali. Serius! Saya terkadang geli sendiri mendengar teman-teman saya mengatakan, “Tak ada pekerjaan lain, makanya kita jadi jurnalis.” Karena sejatinya saya tak pernah menjadikan pekerjaan sebagai jurnalis sebagai alternatif terakhir.

Meskipun kata bapak saya, jangan terlalu membenci sesuatu. Jangan sampai kelak kesempatan akan datang dan tak ada pilihan lain kamu harus memilihnya. Namun, sebagai orang yang keras kepala, saya tetap pada pilihan saya. Yah, saya memang orang yang keras kepala.

Sebelum menamatkan kuliah di akhir Februari silam, saya sudah bertekad akan bekerja di bidang kepenulisan. Saya hendak bekerja dengan sepenuh hati. Bahwa setiap hari adalah tantangan, menjadi alasan utama saya untuk tetap hidup dan bekerja keras. Bahwa setiap hari bertemu dengan hal-hal baru, adalah alasan saya untuk selalu berbahagia.

Hingga kini, sejak pertemuan dengan Bang Fuadi, saya masih berhubungan via sms dan BBM dengannya. Kami berbicara tentang Komunitas Menara-nya di Gowa. Di PAUD tersebut masih kekurangan sukarelawan. Oleh karenanya, Bang Fuadi butuh dukungan mencari sukarelawan yang berminat mengurusnya. Kapan-kapan saya akan jalan-jalan kesana, yang katanya di pelosok Gowa.

Nah, bukankah pekerjaan ini menyenangkan? Kelak, saya bakal bertemu lebih banyak lagi hal-hal baru, tempat-tempat baru, hingga orang-orang baru. Jika tempo hari saya bertemu dengan orang-orang hebat, maka besok saya akan bertemu dengan orang-orang yang jauh lebih hebat. #just believe it!

Karena setiap hari adalah tantangan!


--Imam Rahmanto--

Senin, 11 Mei 2015

Beranjak 39

Mei 11, 2015
Selamat milad!

Keluarga besar LPM Profesi UNM. (Foto: dokumentasi)

Seharusnya lagu dari Ten2five - Happy Birthday menjadi backsong postingan ini.

Sebenarnya agak telat pula menyampaikan ucapan itu. Lembaga jurnalistik kesayangan saya baru saja menginjak usianya yang ke-39, tertanggal 5 Mei lalu. Kendati demikian, perayaan puncaknya baru digelar beberapa hari setelahnya, Sabtu malam.

Bagi saya, momentum perayaan ini cukup berharga. Terlebih ketika tahun lalu saya melewatkannya begitu saja. Saya tak punya jepretan gambar satupun. Tahun ini, saya sudah bertekad mengikutinya meski pekerjaan tepat menumpuk di malam itu. Ada deadline berita yang menuntut dikerjakan malam itu.

Soal deadline, saya selalu mencanduinya. Tantangan yang selalu menjadi pemicu adrenalin untuk bertumbuh dan memompa pikiran untuk bertindak lebih efektif. Orang-orang menyebutnya: mestakung – semesta mendukung!

Di lembaga ini, saya tumbuh menjadi seorang calon jurnalis sekaligus penulis. Sejak dulu, saya selalu punya minat khusus terhadap dunia kepenulisan. Akan tetapi, untuk menempuh jalan itu, saya hendak mempertebal pengalaman lebih dahulu lewat kehidupan jurnalistik.

“Kampus mana? Jurusan apa?”

“UNM. Matematika,”

“Lah kok jadi wartawan?”

Hingga kini, semenjak aktif di salah satu media profesional di kota Makassar, saya sudah kenyang dengan pertanyaan semacam itu. Orang-orang mungkin terkejut (atau takjub?) melihat “penyimpangan” dalam jalur kuliah saya. Di dalam mindset mereka tertanam; kuliah di kependidikan, ujung-ujungnya jadi guru. Hahaha… sementara hal yang berbeda justru berlaku dalam kehidupan saya.

Lantas, saya mesti menjawab apa? Tersenyum saja, mungkin, takkan membahasakan apa-apa.

Sejatinya, saya memang pernah mengidamkan menjadi seorang guru. Di kala itu, saya masih menyisipkan kegemaran saya dalam hal menulis.

Rentang berjalannya perkuliahan, saya menemukan kesenangan baru. Saya mulai melebarkan kegemaran itu. Saya diperkenalkan pada lembaga pers kampus setelah sempat terantuk pada lembaga penelitian kampus. Nyaris saja saya menjadi salah satu bagian dari para peneliti muda di kampus itu. Akan tetapi, skenario Tuhan memang selalu berjalan sebagaimana mestinya. Mungkin saat itu, Tuhan memang tidak mematok hati saya terlalu kuat hingga harus berhenti di tengah-tengah ujian calon anggota baru. Ada jalan lain yang disediakan.

Dan bertemulah saya dengan para pelaku jurnalistik kampus. Orang-orang yang militan dan senantiasa mengajarkan bagaimana cara berkomunikasi yang baik. Saya menemukan dunia "saya" disini. Menulis dan mengabarkan sesuatu. Menulis yang tak perlu dijejali pakem-pakem kolot. Menulis yang dikerjakan dengan cara menyenangkan sembari membangun relasi.

Di sela-sela pembelajaran itu, saya juga menemukan teman-teman yang lebih dari sekadar rekan kerja. Kami adalah teman, dan selamanya akan selalu teman. Berbagi peluh. Berbagi kesah. Hingga berbagi olok, yang tak jarang merenggangkan hubungan kami.

Tak ada yang sempurna dalam sebuah hubungan. Kesempurnaan justru datang dari penerimaan kita terhadap kekurangan masing-masing. Mungkin ada yang omongannya ceplas-ceplos. Ada yang suka mengumbar olok-olok di depan teman lainnya. Ada yang senang marah-marah. Ada yang terlalu manja. Ada yang kerap kali tak peduli. Ada yang selalu ingin menang sendiri. Ada yang ingin cari sensasi. Setiap orang punya pribadi identik, yang saling melengkapi dan butuh dimengerti. Saya mempelajarinya dalam sebuah harmoni paguyuban Profesi.

Semata-mata, tentang pertemanan itu, hanyalah bonus dari kehidupan 5 tahun silam. Kunci utama ada pada passion yang sejak dulu ingin saya bangun dan kembangkan. Jikalau ada yang bertanya, “Kenapa bisa jadi wartawan?” nah, saya dengan senang hati bakal menjawab: karena saya mencintainya. #Hm…tentu saja dengan dihiasi senyum paling manis saya.

Saya belum bisa memberikan kado apa-apa pada lembaga yang menumbuhkan keterampilan jurnalistik ini. Mungkin, orang mengenal lembaga ini sebagai pencetak jurnalis-jurnalis maupun birokrat tanah air. Orang-orang di media lokal selalu mafhum dengan hembusan namanya di jalan-jalan kota. Akan tetapi, bagi saya, lembaga ini tetap akan menjadi keluarga kedua saya.

Narsis dikit, habis kejar deadline, bolehlah. Here we are, #Ben10. Minus "bapak" dan "emak"nya. (Foto: dokumentasi)


Selamat milad LPM Profesi UNM!

Kelak, ketika tua di penghujung usia, kesuksesan bergantian merupa, ingatkan kami untuk selalu berpaling padamu. 


--Imam Rahmanto--

Minggu, 03 Mei 2015

Sekolah dan Ceritanya

Mei 03, 2015
“Wah, ternyata kamu sudah tambah besar ya?”

Saya tak asing lagi mendengarkan kata-kata serupa jika bertemu dengan orang dari kampung halaman. Apalagi guru-guru SMA yang pernah mendapati saya hanya setinggi dadanya.

Tepat pukul 2 siang, bersama 6 orang teman lainnya, kami menjejakkan diri di sekolah yang pernah membesarkan saya. Kami hendak belajar menjadi praktisi jurnalistik yang baik. Bukankah cara terbaik memperluas wawasan adalah dengan membagikannya kepada orang lain? Karena satu-satunya hal yang takkan pernah habis dibagi, melainkan selalu bertambah, adalah ilmu dan pengalaman.

Banyak hal yang telah berubah setelah sekian tahun saya tak mengunjunginya. Saya hanya melihat perkembangannya lewat dunia maya. Sekolah ini semakin maju dan, tentunya, membanggakan.

Sumber; facebook

Gedung-gedung baru berdiri cukup kokoh di sebelah kiri tanjakan yang dulu pernah membuat saya repot karena tak pandai memakai motor kopling untuk menanjak. Kantor yang diperluas, dengan perabot dan isinya yang semakin canggih. Ruang UKS yang dipindahkan di sebelah ruang kelas. Kamar kecil yang direnovasi semakin kinclong. Satu ruang kelas baru yang mengurangi kapling lapangan voli. Namun di ujung sekolah, bertambah pula lapangan olahraga baru.

Ruang perpustakaan, juga katanya, semakin kaya buku-buku bacaan. Saya selalu ingat dengan perpustakaan ini. Dulu, saya menjadi pengunjung-peminjam-buku-terbanyak. Mungkin, nyaris setiap bulan saya harus menambahi kuota kartu perpustakaan saya. Sungguh merugilah siswa-siswa zaman sekarang yang tidak memanfaatkan perpustakaannya yang sekarang berlimpah buku.

“Kalau dulu, di masamu, belum sebanyak pembangunan sekarang,”

“Kau sudah rasakan sendiri kan dulu waktu di OSIS bagaimana caranya cari uang sendiri,” kenang Bu Baroroh, salah satu guru andalan kami di sekolah.

Tanpa perlu dikomando lagi, kepingan memori saya terbawa pada masa silam ketika kami harus menggelar acara bazaar. Itu untuk pertama kalinya bagi kami. Dengan sarana seadanya, demi menggelar acara sebesar-besarnya.

Bazaar di sekolah, tidak seperti bazaar yang kerap dihelat kebanyakan mahasiswa di kota Makassar. Kami menggelar bazaar dengan cara yang bagi kami saat itu juga masih terasa baru. Tiket-tiket disebarkan masing-masing anggota. Saya ingat, tiket itu merupakan inisiasi dari seorang teman, yang kini menjadi seorang aktivis sukses di Jakarta sana. Pedagang-pedagang bakso, gado-gado, mie kuah, dan semacamnya didatangkan langsung sebagai penyedia santapannya. Acara-acara kesenian kami tampilkan dari masing-masing kelas yang dipelopori salah satu pembina kesenian terbaik kami, Pak Najib. Panggungnya pun amat sederhana, hanya jejeran meja belajar yang ditutupi terpal dan kain lebar. Pameran karya seni, seperti lukisan, prakarya, miniatur dari Styrofoam, bersaing menyambut tetamu yang hadir dari berbagai sekolah dan kalangan.

Bunda, begitu saya memanggilnya, selalu teringat pada adegan ia memarahi saya di tengah-tengah persiapan bazaar. Sebenarnya ada kesalahpahaman tentang tugas saya pada saat itu. Meskipun demikian, acara kami berakhir sukses, dan memberi pemasukan yang cukup banyak saat itu. Hingga kini, menurut Bunda, kami masih memegang rekor sebagai penyelenggara bazaar terakhir. Karena selepas itu, tak ada lagi periode kepengurusan yang mau bersusah-susah mencantumkan acara bazaar sebagai salah satu program kerjanya.

Tiba di depan gerbang, siswa-siswa sudah pulang dari sekolah. Berhamburan di depan gerbang. Beberapa orang bergerombol di halte menunggu jemputan bus sekolah. Lainnya, berdiri sendiri menunggu seseorang yang akan datang menjemputnya, entah pacar atau saudara.

“Dulu, Imam itu cuma setinggi ini,” tutur kepala sekolah antusias, sambil menggambarkannya pada teman-teman saya, “Tapi saya selalu bilang, saya juga dulu begitu. Nanti kalau sudah kuliah, baru kelihatan pertumbuhannya.”

Dan entah bagaimana caranya, kata-kata kepala sekolah memang benar adanya.

Kata orang, masa SMA adalah masa-masa yang paling seru. Di masa itu ada banyak momen yang tak terlupakan. Mungkin seperti masa-masa kenakalan remaja, masa labilnya, kalau zaman sekarang masa lebay, masa membangkang pada orang tua secara langsung, dan masa-masa patut dihukum.

Hal itu justru tak berlaku mutlak pada saya. Saya melalui masa-masa SMA seperti biasa, tanpa mencoba melakukan hal-hal luar biasa, di luar kehendak yang ingin saya utarakan. Di luar kategori prestasi-prestasi yang disematkan.

Kalau muncul pertanyaan, “Siapa orang yang pertama kali pernah kau sukai?” entah dikategorikan sebagai rasa sayang atau sekadar suka, maka saya akan menjawabnya, dari seorang perempuan di masa sekolah saya dulu.

Baiklah, sembari menyeruput segelas cappuccino, saya dengan sukarela akan menceritakannya…

[bersambung]


--Imam Rahmanto--