Jumat, 03 April 2015

Tak Selalu Ideal

“…Bukan seakan-akan hidup sendiri. Memang sendiri. Planet sendiri,”

Saya membaca pesan itu di depan beranda. Seorang teman mengirimkannya. Hanya sepenggal dari puluhan baris pesan yang dikirimkannya pada saya di sela-sela malam yang nyaris bergulir. Saya sering kebingungan, ada yang berbeda dari cara pandang perihal menyikapi hidupnya sendiri.

Sejatinya, saya bukan orang yang paham bagaimana menjalani hidup. Toh, beberapa kali saya juga pernah mengalami kegagalan. Pernah mengalami kecewa. Pernah mendengki. Pernah memusuhi. Pernah berbuat tak baik. Hanya saja, terlepas dari itu, saya berusaha untuk berlaku baik atas kehidupan saya. Di samping, orang tua selalu berpetuah, “Sebejat-bejat apapun jadimu, tetaplah menegakkan shalat.”

Ada yang berbeda tentang pandangannya terhadap teman. Entah siapa yang memulai, syndrom-mengganggap-teman-hanya-sebatas-rekan menyebar luas di lingkungan itu. Beberapa kali kata-kata “tak-keren” itu melintas di timeline jejaring sosial. Hingga saya harus menahan kesal dibuatnya. Saya benci melihat orang-orang yang tak menghargai pengisi kekosongannya.

Satu hal yang perlu dipahami, jika menganggap teman sebagai “bukan-teman”, lantas siapakah yang bisa dianggap sebagai teman? Sebagaimana menganggap teman di kantor sebatas rekan kerja, maka istilah-istilah lainnya pun serupa. Tengok saja, ada “tetangga”, “sekelas”, “sejurusan”, “sekampung”, “kenalan”, dan seterusnya. Anggaplah mereka hanya dibatasi oleh label itu masing-masing. Nah, siapakah dalam hidup ini yang bisa dikategorikan sebagai teman?

“Tidak berharap ja semua datang. Satu orang cukup ji. Tapi tidak ada memang yang peduli.”

Ada persepsi berdasarkan asumsi yang mesti diluruskan…

Kadar kepedulian teman seperti apa yang sebenarnya diinginkan setiap orang? Seindah apa pertemanan itu diinginkan? Sedramatis apa? Seberapa ideal yang diimpikan?

Sumber: kaskus.co.id
Dalam memaknai yang namanya pertemanan, tak lazimnya seperti yang selalu didramatisir oleh setiap cerita di layar kaca. Orang-orang perlu sadar, televisi dan segala kroninya tak patut dijadikan contoh atas segala hal yang terjadi atas kehidupan kita. Soal cinta. Soal persahabatan. Soal asmara. Soal lelaki idaman. Soal perempuan sempurna. Soal kepintaran. Soal sekolah. Segalanya. Buang tontonan itu dan nikmati realita!

Seburuk apa pun yang terjadi pada diri sendiri, tak adil rasanya menyalahkan teman-teman di sekitar kita. Menganggap tak ada yang peduli. Hingga akhirnya kita sendiri yang membangun harapan tentang teman yang ideal. Berharap ketika berada dalam kondisi tak menyenangkan, ada teman yang akan menenangkan. Menginginkan teman yang sempurna; ada dalam suka maupun duka.

Teman itu peduli. Yah, dalam konteks yang sewajarnya. Tanpa mengekspektasikan ideal yang terlalu tinggi. Di kala seorang teman tak mendampinginya di tengah kesusahan, bukan berarti acuh tak acuh. Bisa jadi seorang teman punya kesibukan lain. Atau sifat bawaan manusia; lupa. Kita terkadang hanya berpikir tentang “saya” tanpa mau berpikir tentang alasan hakiki orang lain.

Perlu disadari, setiap hal punya alasan di balik layar masing-masing. Jika tak ingin mengira-ngira, cara paling sederhana adalah dengan menanyakannya. Bercerita. Berbagi perasaan. Ungkapkan saja. “Kenapa engkau tak datang?”

Seseorang yang terlambat kerja, hanya dianggap terlambat kerja. Padahal di tengah jalan, ia harus menolong orang lain yang tertabrak mobil. Seseorang membatalkan janjiannya, hanya dianggap orang yang ingkar. Sementara ia harus mengunjungi neneknya yang tiba-tiba masuk rumah sakit. Seseorang yang kedapatan mencuri, dianggap penjahat. Padahal, orang-orang tak tahu betapa sulitnya mencari makan untuk anak-istrinya di rumah.

“Kalau kau ingin dikunjungi, kenapa tak sampaikan langsung saja?” saya membalas beberapa pesan yang menyesakkan dadanya.

Saya sekali lagi teringat dengan perkataan seorang teman bule, yang menganggap orang Indonesia adalah para pembohong ulung. Baginya, manusia di negeri ini terlalu suka memendam tanya dan memendam rasa.

“Kalau memang tak suka, ya katakan saja tak suka. Katakan tak sukanya di bagian mana? Tak usah dipendam-pendam. Perihal apa pun itu baiknya disampaikan saja,” ungkapnya.

Seburuk apa pun seorang teman memperlakukan teman lainnya, saya menganggap itu masih sewajarnya. Tak perlu mengerdilkan makna pertemanan dalam label-label tak penting. Kelak, di fase kehidupan yang lain, kita baru menyadari bahwa teman memang tak selalu bertindak sebagai teman. Sebagai manusia, itulah bentuk penerimaan atas kekurangan yang dimilikinya. Bukankah manusia hidup untuk saling melengkapi?

Hidup bukan hanya ketaksempurnaan di antara suka ataupun duka. Melainkan penerimaan kita atas ketaksempurnaan dalam menghadapi harapan yang salah atas setiap momen kehidupan kita. Jika tak ingin kecewa terlalu jauh, tak usah berharap banyak-banyak. Jalani saja baik-baik. Berpikir lebih bijak. Dan berhenti berpikir tentang diri sendiri.

“Teman itu adalah orang yang menyelamatkan dari neraka bernama kesepian,”--Naruto, Anime--


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar