Selasa, 28 April 2015

Pulanglah Saya(ng)

Saya selalu mengatakan, kembali ke rumah sama halnya dengan mengulas kembali setiap ingatan yang dimiliki. Karena segala hal yang kini terjadi dalam hidup ini dimulai dari: rumah.

Beberapa hari lalu, saya baru saja pulang ke rumah. Setelah sekian lama, saya tak pernah menjejakkan kaki di tanah Duri, tanah kelahiran saya. Yah, meskipun pada kenyataannya saya tidak lahir dari rahim seorang ibu asli Enrekang. Saya justru memiliki ikatan yang masih terjalin rapi dengan keluarga-keluarga di Jawa. Bapak, ibu, paman, bibi, hingga keluarga terjauh berasal dari sana.

Lebih dari 6 bulan silam, saya sudah berkomitmen, “Saya tak akan pulang sebelum dijudisiumkan.” Berselang waktu, saya menyelesaikannya. Dan Tuhan kemudian berseru, “Sudah saatnya kamu pulang!”

Saya pulang. Keraguan sempat terbersit dalam hati ketika merencanakan perjalanan pulang itu. Bagaimana tidak, rencana kepulangan yang dipatok seminggu harus berkurang drastis dalam dua hari. Gara-garanya, saya sedang dalam masa tes dan pelatihan jurnalistik. Seminggu lebih, saya sudah merasai dunia jurnalistik profesional. Ruang yang berubah. Dimensi yang tak lagi sama.

“Oke, kamu dibolehkan. Tapi tidak tiga hari. Cukup dua hari,” tegas pemimpin redaksi, yang tak asing lagi bagi saya.

Tentu saja saya tak mampu menolaknya. Sebagai orang baru, saya harus menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang diterapkan. Saya beruntung bisa menyisipkan salah satu alasan misi pelatihan jurnalistik demi meloloskan permintaan kepulangan itu. Dan lagi, saya sudah cukup mengenal pemimpin redaksi yang kini menaungi kami.

Dimulai awal pekan itu, sore yang tak dihinggapi semburat jingga, saya dan seorang teman lainnya memulai perjalanan ke tanah Massenrempulu. Akh, sudah lama saya tak mendalami perasaan pulang seperti ini. Mobil yang bakal mengantarkan kami harus ditemui di terminal kota.

Sehari sebelumnya, teman-teman dari lembaga pers kampus (Profesi UNM) sudah mengawali perjalanan. Sebagaimana rencana semula, mereka (dan saya) akan berbagi pengetahuan dan pengalaman jurnalistik di salah satu sekolah yang mengundang, SMA Negeri 1 Alla. Tahu tidak, undangan itu juga serupa tiket kepulangan yang mengantarkan saya pada kerinduan. Berempat, mereka tiba dan merasai aroma udara Enrekang yang hanya pernah dirasainya sekilas. Menginap di rumah salah seorang teman semasa SMA.

“Pernah melewatinya dan sempat singgah memandangi gunungnya,” ujar setiap orang yang menikmati alam kampung kami hanya dari pemandangan Gunung Nona-nya.

Sekali waktu, berkunjunglah ke tanah yang asri itu. Nikmati setiap jengkal alam yang masih belum banyak terjamah pembangunan kota. Berjalanlah, maka kau akan mendapati setiap lekuk jalannya, dihiasi lengkung senyum orang yang menemuimu. Memandangi saja, tak sesempurna melangkahinya.

Kami menyusul dua belas jam berikutnya. Perjalanan dari Makassar ke Enrekang bisa ditempuh dalam rentang 6-8 jam. Melintasi lekuk jalan yang dipagari tebing dan lembah, suasana dingin langsung menyergap. Aroma petrichor mengiringi kami hingga ke tempat tujuan. Hujan baru saja berhenti. Gerimis setitik menebarkan hawa dingin identik puncak pegunungan.

Orang-orang sudah terlelap. Di kampung kami, suara binatang malam menggantikannya. Bersahut-sahutan dari belukar yang tak pernah luput dari tanah subur kami. Oh ya, di kampung ini memang ternama sebagai salah satu penghasil sayur terbesar di Sulawesi Selatan. Bahkan, tak jarang menjadi pilihan ekspor ke luar negeri.

Di akhir kepulangan, tanpa mengetahuinya, kami malah dibawa mengelilingi perkebunan bawang merah yang teramat luas. Menyusur dan mendaki di ketinggian gunung. Saya, yang sejak kecil dibesarkan di tanah Duri, juga baru tahu tempat seelok itu. 

***

Saya mengetuk pintu sembari lirih mengucapkan salam. Lampu di dalam sana menyala. Terdengar suara langkah kaki dipercepat. Tak berselang lama, pintu dibuka.

“Saya pulang,” lirih, saya berkata sembari mengulas senyum.

Meski tak ada peluk merindu, tapi kehangatan malam telah membahasakannya. Senyum (kaget) dan beberapa pertanyaan bapak sudah meluapkan keletihan.

“Sudah makan? Itu sana, makan disik,”

Kasih sayang ibu memang selalu seperti ini. Saya selalu merindukan masakan-masakannya, cara mencintai seorang ibu yang paling sederhana. 

***

Kalian tahu perasaan kembali pulang itu?

Adalah pulang sebuah melankoli rindu yang diidamkan tiap manusia. Sejauh apa pun kaki melangkah, rumah selalu menjadi muasal segala cerita. Sedalam apa pun ingatan melepaskan, rumah selalu jadi penawar rindu. Ketika kehilangan arah, kita bisa memulainya kembali dari rumah. Bukankah rumah adalah musabab atas kehidupan yang dipilih dan dijalani hari ini?

Kamu tahu, rumah tak selalu perihal bangunan sederhana tempat menghabiskan masa ditimang ibu. Atau kamar-kamar tempat menghabiskan masa mengurung diri ketika dibentak dan ditegur bapak. Akan tetapi, satu hal yang selalu saya pahami, rumah selalu berarti: tempat pulang…

Suatu sore di seberang Gunung Nona, bersama teman-teman dan guru. (Foto: Imam R)


[bersambung] -- #part 2


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar