Rabu, 01 April 2015

[update] Nah, Seperti Inikah Kalian?




Notes: Saya menyediakan satu lagu di atas, yang dinyanyikan Novi sebagai pengantar membaca tulisan sekenanya ini. Let's fly to our memory...
  
***


Imam Rahmanto SMADA Pangkep

Akh, beberapa hari ini kalian meneror saya di inbox dengan permintaan serupa. "Kak, describe ta dulu deh..." Saya jadi bingung ingin memenuhi permintaan siapa. 

Meskipun seingat saya, memang, sudah waktunya kalian membuat semacam autobiografi untuk menyelesaikan jenjang kelas kedua kalian. Oh ya autobiografi itu...

Saya masih ingat, untuk mengakhiri kelas kedua di sekolah, kalian diwajibkan membuat autobiografi atas kehidupan kalian sendiri, bukan? Saya kerap menemukan buku-buku tebal berlabel nama siswa SMADA dipajang di perpustakaan kalian. Beberapa diantaranya bahkan dicetak eksklusif. Menyamai cover novel yang beredar di pasaran. Sementara yang lain, dicetak sekadarnya saja. Isinya, ya, ternyata berkisar tentang kehidupan (spesial) sehari-hari siswa SMADA.

"Itu tugas akhir buat siswa kelas dua, Kak. Kalau kelas tiga, tugas akhirnya justru lebih susah lagi: membuat novel," salah seorang siswa selewat menerangkannya. 

Sungguh, saya takjub melihat salah satu keunikan itu. Tidak sembarang tingkat pendidikan yang mau memberatkannya sebagai tugas akhir. Semoga saja guru-guru Bahasa Indonesia di sekolah mana saja mau menerapkan hal serupa. Keren.

Akh, masih hangat pula di kepala saya, dulu, di sela-sela jam mengajar (PPL), saya kerap bertandang ke perpustakaan kalian. Lantaran saya memang punya kecanduan khusus terhadap tempat bernama perpustakaan. Mm...mungkin selain karena saya juga bisa mencandai (dan mencuri pandang) rupa seorang perempuan kecil disana. Saya suka menatap senyumnya yang... manyun kekanak-kanakan. Ah, sudahlah... mengingat kalian memang takkan lepas dari menumbuhkan keping-keping ingatan lainnya.

Oke, oke. Saya akan kembali pada permintaan kalian. Perlukah saya menuliskannya satu per satu? Demi pengabdian saya di tanah pertiwi itu, saya menghargai setiap pinta dari kalian, baik Aljabar maupun Einstein. Selalu.

Darimana saya harus memulainya? Sementara ingatan patah-patah saya tak menjamin sebaris penilaian absolut untuk kalian percayai. Hm...ya sudahlah. Karena ini permintaan "keren" kalian, maka mari membahasnya satu-satu....sedikit demi sedikit.

Dimulai dari Ade, yang selalu bercita-cita menjadi Miss World. Masihkah? Saya salut untukmu, De. Meski sebagian teman selalu menganggap remeh mimpi itu, tapi toh kamu pantang surut memperjuangkannya. Saya senang melihat Ade yang selalu antusias bercerita tentang segudang impiannya, termasuk mendirikan sekolah, ya?

Betapa membahagiakannya melihat orang-orang yang sepenuh hati konsisten dengan tekadnya. Oleh karena itu, berlari-lari tiap pagi dan sore di sepanjang jalanan kota menjadi rutinitasmu. Kelak, jika kau sudah berhasil menurunkan berat tubuh, saya siap menjadi pendengar setia perihal perjuangan itu. :) 

Soal berat tubuh, terkadang kau risih. Terkadang kau malah dibuat kuat. Sekali waktu, berapi-api membalas cemoohan teman sekolah. Ada air mata yang berusaha kau pendam agar tak tumpah sia-sia di depan orang lain. Suaramu yang cempreng justru menjadi kelebihan untuk menggertak orang-orang di sekitarmu loh. Kau orang yang kuat, Ade. Cukup kuat untuk menaksir diam-diam seorang kakak kelasmu, meskipun teman yang lainnya sudah tahu.

Seorang teman sebangku Ade, yang punya suara lebih menggema dan terkadang memekakkan telinga, adalah Sukma. Kalau sudah duet dengan Ade, suara satu kelas bakal tenggelam dibuatnya. dan saya justru heran mengapa kau lebih senang dipanggil Mbesh sih, Sukma? Padahal nama "Sukma" sudah baik dan cantik bagi kebanyakan orang.

Yang paling tak terlupakan darimu Mbesh, ya ketika saya membuatmu menangis. Awalnya saya tak pernah tahu kalau lelucon saya di kelas bakal membuatmu ngambek. Tiba-tiba saja meninggalkan kelas, tanpa mengucapkan sepatah kata. Hingga berselang lama, kau tak kembali ke ruang kelas, saya baru sadar tentang sesuatu. Dasar laki-laki, memang tidak peka. Hahahaha.... 

"Ada yang salah dengan lelucon saya," gumam dalam hati, sembari tak henti menanyakan kelakuanmu pada teman sekelas yang lainnya.

Kejadian tak mengenakkan itu tentu saja harus berakhir dengan permintaan maaf dari saya. Meskipun saya menyesalinya kala itu, namun belakangan saya justru bersyukur. Dari insiden berurai air mata itu engkau lantas mau mengakrabkan diri dengan saya. Tak pelak, kau juga menjadi orang paling cerewet jika harus bertemu dengan saya.

Setiap kali saya berjalan di selasar sekolah, suara menggema yang akan terdengar pertama kali adalah, "Kak Imam!" Tanpa perlu berbalik, saya sudah tahu siapa pemilik suara itu. Hm...ternyata, yang namanya persahabatan, terkadang harus dimulai dari pertengkaran dulu ya?

Di balik sikapmu yang ceplas-ceplos, Mbesh, sebenarnya tersimpan kecerdasan di bidang yang saya ajarkan dulu. Serius. Coba saja untuk memperdalamnya, dengan sedikit rendah hati, kelak kau akan tahu betapa berharganya mempelajari bidang itu. Mmm...jangan mencontoh saya yang kini sudah banyak lupanya. Hehe...

Masih di kelas yang sama, ada Nisa. Perempuan manis yang senang menjajal kejuaraan tenis meja. Saya sampai tak tahu sudah berapa kali engkau menjuarainya. Pun, saya diliputi rasa penasaran ingin menjajal keahlianmu bermain tenis meja. Saya mungkin tidak se-juara denganmu. Tapi tenis meja merupakan satu-satunya olahraga yang sering saya mainkan di masa remaja sepertimu, di kala menanti waktu berbuka puasa.

Diantara teman-temanmu yang lain, mungkin engkau yang paling jarang tersenyum ya? Saya pernah mengatakannya padamu, kan? "Cobalah untuk banyak tersenyum," Lantaran kau senang memasang wajah cemberut. Sementara tanpa kau sadari, sedikit saja kau mengulas senyum, wajah manismu bisa saja menggaet perhatian salah seorang kakak kelasmu. Oiya, kau juga pernah bercerita tentang kakak kelasmu yang sudah kau anggap "kakak" ya? Apa kabarnya sekarang? :P

Perihal komunikasi, dirimulah yang paling banyak menjadi jembatan dengan kenangan terkait sekolahmu. Saya menghargainya, apalagi dengan pertanyaan-pertanyaan lazim yang sungguh sulit terjawab bagi saya, "Kapan ke Pangkep?"

Pertanyaan itu, sungguh, sama dengan pertanyaan yang kerap disampaikan si Centil Irna, dari kelas Einstein. Ahahaha....kenapa Centil? Karena orang yang paling sering menggodai saya dengan ledekan khasnya adalah engkau, Irna. Saya takkan lupa bagaimana tingkahmu "menjodohkan" saya dengan seseorang itu. Di matamu, kami berdua cocok. Namun perjalanan hidup nyatanya selalu memberikan jawaban-jawaban tak terduga atas prasangka yang urung kita bangun.

Tak di sekolah, hal yang sama masih senang kau ungkit-ungkit di media sosial. Usil, benar-benar menjadi ciri khasmu. Tak heran kalau seseorang itu mungkin masih agak rikuh hanya untuk berkomunikasi denganmu. Psstt, hei, Irna, ini rahasia antara kita berdua. Ia tak sekuat kelihatannya. Maka berhentilah meledeknya dengan segala tahumu. ;) 

Sekali waktu, saya melihatmu terdiam di kelas, Irna. Di pertemuan pertama kala itu, saya mengira engkau seorang pendiam. Tak dinyana, kau termasuk salah seorang yang membangun kehebohan tentang hubungan itu. Bahkan sampai kita berpisah pun, kau masih senang menanyakannya. Saya bingung, harus mengaminkan doamu yang di bagian mana. Karena akal dan perasaan tak semudah menebak permainan teka-teki silang.

Di tengah keriuhan kelas, saya menemukan seorang penyanyi dadakan. Saya mengira hanya Sheila seorang yang pandai bernyanyi. Pada kenyataannya, di acara perpisahan KKN-PPL, kau juga menunjukkan kelihaianmu dalam bernyanyi, Novi.

Saya tak pernah menyangka, orang yang lebih banyak diam ketimbang ikut berbuat onar di kelas ternyata punya suara yang tak kalah hebatnya.  Semoga suara unikmu menjadi pengantar setiap orang yang membaca postingan ini. ;)

Saya selalu suka gayamu bernyanyi. Apalagi ketika pertama kali melihatmu mendendangkan Karma di acara perpisahan itu. Melihatmu membawakan lagu dari Cokelat, tiba-tiba membuat saya menyukai lagu itu. Jujur, di kala lagu itu diputar oleh playlist, yang teringat di kepala saya adalah "siswa-smada-yang-pernah-menyanyikannya-dengan-keren".

Dari teman-temanmu, saya tahu, ternyata kau memang punya kegemaran khusus pada bidang tarik suara. Di beberapa kompetisi, tak jarang kau ikut berpartisipasi. Saya tak begitu tahu, seberapa banyak juara yang telah kau raih. Akan tetapi, bukankah itu tak penting? Asalkan kau tak sungkan membagi suara indahmu, itu saja sudah cukup. Tetaplah bergaya keren. Suatu hari nanti, mungkin saya akan mengiringimu dengan gitar.

Aljabar atau Einstein, saya selalu merindukan kalian. Perihal nama-nama yang terdeskripsikan itu, hanya seuntai permintaan belaka, yang mungkin tak seberapa. Jika saya harus menggambarkan bagaimana hebohnya kalian semua, mungkin butuh waktu sejam bagi kalian menamatkan satu tulisan ini. Pun, saya harus berpikir dan mengulas ingatan suntuk berjam-jam lamanya. #fiuhh

Oleh karena itu, tanpa mengurangi rasa rindu, cukuplah saya berbagi tanya kepada kalian:

Aljabar, Hera, Ainun, Fia, Syahruni, Gadis, Ameliyah, Citto, Devi, Hajar, Amalia, Zizah, Ulfa, Irna, Widya, Yaya, Anca, Baso, Maman, Fadel (montok), dan

Einstein, Fitrah, Mayang, Ifha, Lisa, Abrar, Erwin, Ainun, Sheila, Idha, Lilla, Ayu, Icha Ewa, Aslamiyah, Imce, Ridha, Fikri, Reza, Arifin, Arfandi, dan Saeful.

"Hei... apa kabarnya kalian?"


***

Tahu mengapa saya memaksa diri menuntaskan permintaan kalian?

Karena ada seseorang yang terhubung kisah kalian, yang baru saja menyeberangi pekatnya ingatan di kepala, semalam...


--Imam Rahmanto--


update:

Ada ingatan yang mesti disegarkan…

Jangan salahkan saya jika ingatan-ingatan ini akan terus menggema hingga suatu hari nanti. 

Seperti yang saya duga, beberapa dari kalian juga menginginkan hal yang sama. Serius, jangan terlalu banyak meminta pada saya. Waktu yang saya miliki tidak cukup mengimbangi untuk menuliskan segala kehebohan bersama kalian. Untuk menggambarkannya, saya hanya punya sedikit kata-kata.

Tahukah kalian, butuh waktu berhari-hari untuk bisa kembali mengenang segala hal tentang kalian, khususnya tentang….. ah sudahlah.

Akh, kalian kali ini memaksa saya untuk kembali lebay nan alay. Beberapa tulisan ini sangat “berbahaya” karena mengandung ke-lebay-an tingkat akut. Waspadalah! Ada kerinduan di tiap jengkal ketukannya.

Nah, orang paling pertama “mencemburui” saya adalah Ana. Hahaha…maaf, Sipit. Saya baru ingat, ternyata orang yang paling pertama menuntut autobio-desc adalah engkau. Wajar ketika deskripsi tentang teman-temanmu bermunculan, kau langsung mengajukan protes pada saya. Ok. Ok.

Di kelas, Aljabar, engkau termasuk salah satu orang paling ramai. Mm…bukan ramai dalam artian senang membuat gaduh seperti halnya Mbesh dan Ade. Kau justru senang mencari perhatian guru dengan banyak bertanya hal-hal tak penting. Terkadang engkau pula yang memulai gosip itu. Di kelasmu, seingat saya, kau dikenal sebagai orang paling banyak tingkahnya. Pada kenyataannya, tinggal di Asrama Putri, tidak mengubahmu menjadi orang-orang yang pendiam. 

Terima kasih atas pelepasan rindu yang kau sampaikan lewat telepon di awal kami meninggalkan sekolahmu. Di kala sedang mengerjakan tugas-tugas penerbitan kampus, tak jarang kau bersama Hera ribut meneriaki dari telepon sekadar bertanya kabar dan bercerita segala hal terkait sekolahmu. 

Sekali-kali, kepedulianmu cukup membantu untuk mengangkat kenangan tentang sekolahmu. Tapi, tahu tidak, sekali-kali justru menyela aktivitas saya. Dan lagi yang membuat saya agak risih, tidak lepas dari pertanyaan tentang orang yang kau selalu titipkan sepihak pada saya. Saya selalu ingat tulisan terakhir yang kau buat untuk saya di sobekan kertas tabloid itu. Ckck…

Saya menyadari, beberapa kerinduan memang harus disampaikan dengan cara berbeda. Dan mungkin, itu adlah caramu menyampaikannya. Gangguan-gangguan itu serupa sinyal untuk membelokkan ingatan saya pada kalian. 

Keusilanmu semakin menjadi dengan berpura-pura menjadi keluarga salah seorang teman di jurusan saya, Mawaddah. Entah apa yang sudah kalian rencanakan terhadap saya. Entah cerita-cerita seperti apa yang sudah bergulir dari mulutmu kepada teman saya itu. Sampai ia tahu tentang gosip itu! Tanpa kecurigaan sedikit pun, dengan polosnya saya mempercayai bahwa perempuan angkatan 2011 itu adalah sepupumu. Luar biasa! 

Beberapa minggu berlalu, ia baru mengakui keisengan itu. Ia sendiri tak mengerti kenapa dijadikan sebagai sekongkolanmu. Pun saya penasaran.

“Pernah bilang sama  saya, Kak. Katanya ‘karena cantik ki, Kak’ makanya saya mau saja dianggap sepupu,” ceritanya sambil tertawa. Ok. Lucu. -__-“

Terlepas dari itu, sebenarnya, kalian hanya ingin tetap terhubung seperti ini kan? Karena waktu yang semakin menua terkadang tanpa disadari memotong ingatan-ingatan yang tak ingin dilupakan. Menjaga silaturahmi, apapun caranya, bisa dilakukan. Apalagi jika kalian bersedia mengirmkan saya bingkisan penuh es krim dengan potongan bermacam-macam kue di dalamnya. #ngarep-maksimal

Selanjutnya, ada Wulan. Hai Wulan! 

Perempuan yang selalu tersenyum sumringah di dalam kelas. Kalau boleh, saya ingin mengacungi jempol atas pertanyaan-pertanyaan yang kau ajukan. Diantara teman-temanmu yang lain, kau termasuk yang paling antiusias memahami pelajaran Matematika. Meskipun pertanyaan itu lebih sering menyulitkan saya. Bukankah saya sudah pernah bercerita di kelas kalian, tentang passion dan cita-cita apa yang ingin saya jalani?

Oiya, Wulan. Saya harus menggambarkanmu seperti apa ya? Dalam ingatan di kepala saya hanya terlintas tentang perempuan yang selalu tersenyum sumringah memanggil nama saya. Di dalam kelasmu, kau termasuk yang mudah memahami bidang studi hitung-hitungan itu. 

Sementara itu, kau punya impian lain ya: Ingin pergi ke lomba Biologi Internasional di luar negeri, sebagaimana yang kau tuliskan di kertas impianmu dulu. Dengan demikian, saya sedikit menyimpulkan bahwa bidang studi kegemaranmu ada pada Biologi.  

Oleh karena itu, perihal pintamu yang mengatakan, “Kak, buat autoku yang panjang-panjang nah,” saya bingung harus menggambarkan apa. 

Kelak, jikalau kita bertemu lagi, banyak-banyaklah bercerita tentang dirimu. Mungkin saja saya akan menemukan hal lucu lainnya. Kau akan menemukan betapa berharganya setiap cerita yang dibagikan kepada orang lain. Menulis adalah perihal mengelola keabadian.

Tak berbeda dengan Diana. Apa yang terlintas di kepala saya hanya tentangmu, Diana, adalah peremuan yang suka membuat heboh di kelasnya Einstein. Duduk di kolom pasangan meja paling pinggir. Terkesan malu-malu. Namun kalau sudah bergabung dengan geng, ternyata bisa ikut ambil kegaduhan.

Seingat saya, engkau sempat dikabarkan terjangkit penyakit hepatitis. Penyakit yang kala itu dengan cepat menyebar di sekolahmu. Penyebarannya cukup mengkhawatirkan, hingga diberitakan oleh media-media lokal di Makassar. Sepintas membaca nama sekolah itu, tetiba saja saya dibawa pada setitik kepedulian untuk mengunjungi kalian, Aljabar dan Einstein. 

“Datang jauh-jauh dari Makassar hanya mau menjenguk?” Sebagian orang tak mengerti perihal kunjungan itu. Termasuk teman-teman KKN saya. Saya hanya mengiyakan sembari tersenyum ringkas. Ada cemas yang hendak diselamatkan. Lantaran kalian memang selalu berharga di mata saya.

Rumahmu, Diana, menjadi salah satu objek kunjungan ditemani beberapa orang temanmu. Beruntung, kondisimu sudah lumayan membaik. Bahkan sempat mengantar orangtuamu ke pasar ya? Diiringi raungan seorang adik kecilmu yang nakal, suasana menghangat seperti sedia kala. Seperti biasa, ada banyak canda atas kedatangan ke kota kalian. Terima kasih untuk geng Einstein yang selalu menjadi pemandu (guide) di kala saya hendak menjejakkan kaki di kota kalian.

Di kelas Einstein ada juga yang menonjolkan diri di tingkat kecerdasannya. Tengoklah sebentar, Azizah, yang setiap waktu bergelut dengan buku-bukunya. Masih berusaha untuk jadi juara kelas, kan, Azizah?

Hm…seingat saya, engkau termasuk dalam gambaran orang-orang pandai di sekolah loh, Azizah. Banyak hal yang identik dengan para “kutu buku” yang melekat pada dirimu. Untuk seseorang yang baru pertama kali bertemu denganmu, tentu saja kau takkan nampak banyak bicara. Sekadar perempuan pendiam yang aktif menyimak pelajaran apa pun di kelas.

Selain itu, kau termasuk yang gemar mempelajari bidang studi Fisika, kan? Ah, bidang studi ini tiba-tiba… ah sudahlah. Teori relativitasnya memang selalu benar. 

Di sela rutinitas saya mengajarkan Matematika, kau tak pernah ragu bertanya. Terkadang disertai rasa malu. Mungkin, khawatir teman-temanmu yang lain takkan mengerti hal yang kau pertanyakan. Akan tetapi, saya cukup kagum dengan keseriusanmu belajar tatkala teman-temanmu yang lain berusaha membuat gaduh seisi kelas. Terutama Ayu yang senang membajak kursi paling depan dengan sok-sok menyimak pelajaran. Hahaha…

Sekarang, sudah melampaui peringkat berapakah engkau? Semoga semangat belajarmu tak pernah kendur di lintas usia. Akan tetapi, ingat satu hal. Beberapa orang tidak sekadar mengandalkan kepandaiannya dalam menjalani realita hidup. Persaingan butuh sesuatu yang unik untuk ditawarkan demi menjamin hidupmu kelak. Sekali waktu, belajarlah keterampilan lain dan perbanyak teman. Oke?

Nah, seperti inikah yang kalian inginkan? Saya jadi penasaran hendak membaca autobiografi yang kalian buat. Semoga saya bisa memperoleh kesempatan menjadi first reader kalian. :)


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar