Selasa, 21 April 2015

Kehilangan

Petang itu, di tengah saya sedang memenuhi tuntutan deadline, kabar mengejutkan bertebaran melalui profile message teman-teman di BBM. Saya sungguh terkejut dibuatnya. Tiada sebab khusus, tiba-tiba saja ibu salah seorang teman saya menghembuskan napas terakhirnya. Innalillah…

Setahu saya, ibunya tidak dalam keadaan sakit atau bahkan mengidap penyakit tertentu. Atau ia yang sengaja menyembunyikannya dari kami? Hmm…akhir-akhir ini ia memang nampaknya sedang menyembunyikan sesuatu. Saya tak seakrab dulu lagi dengannya…

Tentang kematian, tak ada yang bisa menentangnya...

Di ruang tunggu bandara, tak usah banyak berpikir bagaimana cara saya menembus pintu keberangkatan (departure), saya melihatnya terdiam. Matanya sembap. Entah sudah seberapa banyak air mata yang terkuras siang itu. Meski pelan-pelan, saya yakin belum bisa menyamai kehilangan yang dirasakannya.

Saya pernah kehilangan orang terdekat, kakek saya. Hal yang sungguh berbeda. Saya mengenal kakek hanya dalam kilasan masa kecil dan ingatan ketika berkunjung ke kampung halaman (Jawa). Sekadar nama, wajah, dan panggilannya saja yang tersisa di ingatan.

Dan ketika ia pergi, juga hanya meninggalkan nama dan wajahnya dalam kilasan kawat nun jauh disana. Saya dan keluarga tak bisa menemaninya hingga ke liang lahat terakhir. Bapak yang masih mengidap paraplegia tak memungkinkan kami sekeluarga melakukan perjalanan lintas laut maupun udara. Demi siapa pun yang pernah dikasihinya, kami merelakannya. Mendoakannya dari seberang pulau, dengan tausiah kecil-kecilan di rumah, sembari mengundang sanak-saudara-setanah-Jawa.

Ia merasai kehilangan. Orang yang mungkin paling dicintai semasa hidupnya adalah orang pertama yang menyentuh kehidupannya. Kini, kehidupan yang pernah dibagi demi melahirkannya itu, dipinta kembali oleh Yang Maha Kuasa. Tak bakal bisa dibagi lagi. Siapa pun menyadari, tak ada lagi "ibu" sebenar-benar perempuan terkasih baginya.

Kata teman saya, tak ada yang mengalahi rasa kasih kepada ibunya. Namun siapa yang menyangka, rasa kasihnya harus berganti segmen dimensi kehidupan.

Di ruang tunggu bandara, saya ditemani seorang teman lainnya, menungguinya. Menemaninya sebentar. Mungkin, membagi sedikit senyuman atas kehilangan yang menguras batinnya. Betapa saya ingin berlaku bodoh demi membuatnya tertawa. Hanya saja, seorang calon penumpang lain yang duduk di samping saya tak henti mengobrol tentang segala hal. Argh, terkadang, saya tak bisa berhenti menanyai semua orang di sekitar saya, bahkan yang baru dikenali. Demi adab sopan santun, saya meladeni saja dosen dari kampus Muhammadiyah Kendari itu.

Hingga menapak gerbang keberangkatan, di wajahnya masih terukir jelas gurat kesedihan. Mungkin, untuk waktu yang agak lama, saya tak bakal lagi menemui senyumnya. Saya selalu menyebutnya 'manusia dari planet lain', karena senyum dan tawanya yang seolah baru belajar menyesuaikan diri. Semoga, ketika dunia sudah mengajarinya tentang kerelaan, ia bisa tersenyum (lebih lebar) lagi di hadapan kami, teman-temannya.

***

Tak ada yang bisa menampik, kehilangan terberat adalah di hadapan ajal yang menjemput. Kematian tak mengenal kasta dan usia. Tua. Muda. Kaya. Miskin. Sakit. Sehat. Kecelakaan. Direncanakan. Semuanya telah diramu secara misterius. Apa kuasa kita menentukan kehidupan untuk diri atau orang lain?

Tak ada yang bisa menguatkan diri setelah dihadapkan pada kisah kematian berkali-kali.

"Hey, Nus. Ada (beberapa) hal-yang membuat sesak-ketika kita sudah menghadapinya beberapa kali, kita bisa kuat ketika hal itu datang lagi.
Tapi, tidak pernah dengan kematian.
Tidak pernah." --Fitrah Amalina                                                                                        

Memang, tidak pernah…

Pernahkah kita membayangkannya? Ketika rindu rumah, kepada siapa lagi perempuan terkasih yang akan kita jamah peluk hangatnya?

Perihal kematian, ia selalu mengajarkan arti hidup. Seberapa besar nilai kehidupan. Seberapa banyak kita membagi manfaat untuk orang lain. Seberapa jauh kita membahagiakan perempuan yang pernah melahirkan kita.

Lantas,sudahkah kita menyayangi ibu sebelum ia tak terjamah lagi? Sebelum ajal tanpa rasa mengenyahkan rindu itu...


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar