Kamis, 30 April 2015

Quality Time

April 30, 2015
#part-2

Karena tahu rasanya pergi, maka saya benar-benar tahu rasanya menghargai kebersamaan itu. Saya yang amat jarang duduk mengobrol bersama bapak, di rumah, mencari cara meluapkan momen itu. Tak peduli jika kami hanya duduk hening. Ditingkahi gambar-gambar bergerak di televisi. Mengomentarinya artisnya. Mencibir para koruptor. Atau mungkin berbicara hal-hal tak penting lainnya, seperti kartu seluler mana yang memberikan bonus nelepon paling banyak?

“Itu kok presiden gak tegas begitu,” komentar bapak saya di depan televisi. “Mbok ya ndak usah takut sama Bu Mega tah,”

Quality time. Orang-orang menyebutnya demikian. Jika ingin membangun hubungan yang baik, maka ciptakanlah waktu bersama. Mengobrol berhadap-hadapan jauh lebih baik ketimbang mengobrol lewat seluler atau akun-akun jejaring sosial di dunia maya sekalipun. Saya belajar merasai kebersamaan yang dulu pernah saya enyahkan itu.

Sumber: writingsoflife.com

Pernah menonton film I'm Not Stupid too? Film asal Singapura itu mengajarkan pentingnya waktu bersama keluarga. Seorang anak kecil, Jerry, ingin membeli waktu ayahnya. Ia menganggap, ayahnya tak pernah punya waktu untuknya. Ayahnya terlalu disibukkan oleh pekerjaan di kantor. Padahal, meski hanya sejam saja, Jerry ingin ayahnya melihat ia mementaskan drama di sekolahnya. Oleh karena itu, ia berusaha mengumpulkan uang demi bisa membeli waktu ayahnya, sebagaimana kantor membayarnya sebagai konsultan $50 per jam.

Suatu ketika, Jerry kedapatan mencuri. Ia dipukuli ayahnya, yang tak habis pikir, bagaimana anaknya bisa mencuri. Sementara, semua permintaan Jerry selalu dipenuhi. “Aku..hanya ingin membeli waktu ayah satu jam saja untuk menghadiri pentas dramaku. tapi untuk mencapai 500 dolar, aku harus menunggu sampai tahun depan. Dan saat itu pentas dramaku sudah berakhir,” ujar Jerry sambil terisak ketika dipukuli ayahnya.

Betapa waktu bersama keluarga adalah hal berharga. Saya menyadari hal itu, semenjak bapak selalu menelepon sekadar menanyakan kabar. Atau berbincang hal-hal yang sebenarnya sudah jelas baginya. Ia rindu mengobrol dengan anak lelakinya.

“Sekarang aku lebih suka nonton beginian,” ujar bapak sesaat mengganti channel di acara keagamaan Mamah Dedeh. Di layar tivi, Mamah dedeh sedang melayani pertanyaan para penonton.

Wajar, nampaknya bapak sekarang lebih banyak memperbaiki sisi religiusnya. Semenjak paraplegia menggerogotinya, ia tak pernah lagi meninggalkan shalat lima waktu. Berdzikir saban usianya, dan membaca Al-Qur’an sedikit demi sedikit.

“Aku sekarang sudah mulai ngapal Quran juga loh,” timpal bapak, "tapi belum sampai juz satu."

Ia mematut kitab suci itu di tangannya, sembari mengukur-ukur tali karet yang saya temukan dari dalam kamar. Ia hendak membuatkan pembatas bagi kitab yang sudah lecek itu. Warna kertasnya sudah kecokelat-cokelatan. Sampulnya sudah nyaris terlepas.

“Kok tidak pakai Al Quran yang dari Mekah itu saja, Pa'? Yang hadiah dari Paklik Peno” saya teringat dengan pemberian seorang paman yang pernah menginjakkan kaki di tanah suci Mekah. Di dalam kamar, saya juga mendapati kitab itu masih tersimpan amat rapi.

“Tulisannya agak kecil. Lebih enak baca yang ini,” jawabnya seraya mengelus-elus sampulnya yang sudah tak halus lagi, membentuk alur tak beraturan karena dihujani panas dan dingin.

Dulu, kata bapak, kitab itu adalah mahar pernikahannya dengan ibu. Seperangkat alat shalat dibayar tunai. Pun, sajadahnya, masih saya jumpai hingga kini. Ditambah dengan uang sebesar Rp 5ribu (atau Rp 6ribu).

Perihal menikahi seorang gadis, amat berbeda dengan zaman sekarang yang butuh mahar berlipat-lipat. Apalagi di daerah Sulsel yang menerapkan uang panaik. Besarnya panaik tergantung kecantikan, keturunan, hingga  pendidikan si gadis. Saya terkadang berpikir, ada “transaksi” jual-beli yang tega dilakoni bapak-ibunya demi merelakan si anak gadis dinikahi orang. Ckckck…

Sudahlah, membahas pernikahan masih belum sampai di kebutuhan hidup saya. Mencari pendamping hidup pun hingga kini masih tersandung kesana-kemari. Luka, luka….#ambil Hansaplast 

Melihat bapak begitu antusias mendalami sisi religiusnya, saya jadi tersentil. Di saat anaknya perlahan mulai melubangi shalat lima waktunya, ia justru sregep (rajin) menunaikannya.

Sejujurnya, semakin usia saya bertambah, entah kenapa saya mulai menjauhi Tuhan. Bukan dalam artian yang sebenarnya. Melainkan dalam artian segala ibadah untuk mendekatkan diri padanya mulai berguguran sedikit demi sedikit. Perasaan gelisah saya ketika tidak menjalankannya pun sedikit demi sedikit mulai tercerabut. Terkadang, ada suatu momen, saya tak merasa gelisah jika meninggalkan waktu shalat itu.

Kebiasaan saya bangun pagi, sedikit demi sedikit tergerus hingga terpaksa shalat out of time. Beberapa aktivitas yang merongrong waktu, terkadang tidak memberikan kesempatan untuk menunaikannya. Atau sebenarnya di dalam hati saya tidak menenamkan tekad untuk mencari waktu saja. Alhasil, semakin hal itu berlangsung, semakin perasaan saya menganggapnya hal biasa. Kalau dibiarkan, ke-biasa-an itu akan menjadi kebiasaan.

“Kamu mesti rajin-rajin shalat, nak. Dunga, doa yang banyak,” pesan bapak.

Tentu saja, Pa’. Pasti...

Rumah, selalu menjadi tempat saya menempa ulang kehidupan. Kepulangan saya disana sebagai langkah awal membangun kembali segala hal yang telah saya biarkan tercecer beberapa tahun belakangan. Saya ingin menanamnya kembali. Memupuknya. Merawatnya. Menyiangi ilalang yang sedemikian tingginya. Hingga kelak menyemainya sebagai sesuatu yang membanggakan...

[bersambung]


--Imam Rahmanto--

Selasa, 28 April 2015

Pulanglah Saya(ng)

April 28, 2015
Saya selalu mengatakan, kembali ke rumah sama halnya dengan mengulas kembali setiap ingatan yang dimiliki. Karena segala hal yang kini terjadi dalam hidup ini dimulai dari: rumah.

Beberapa hari lalu, saya baru saja pulang ke rumah. Setelah sekian lama, saya tak pernah menjejakkan kaki di tanah Duri, tanah kelahiran saya. Yah, meskipun pada kenyataannya saya tidak lahir dari rahim seorang ibu asli Enrekang. Saya justru memiliki ikatan yang masih terjalin rapi dengan keluarga-keluarga di Jawa. Bapak, ibu, paman, bibi, hingga keluarga terjauh berasal dari sana.

Lebih dari 6 bulan silam, saya sudah berkomitmen, “Saya tak akan pulang sebelum dijudisiumkan.” Berselang waktu, saya menyelesaikannya. Dan Tuhan kemudian berseru, “Sudah saatnya kamu pulang!”

Saya pulang. Keraguan sempat terbersit dalam hati ketika merencanakan perjalanan pulang itu. Bagaimana tidak, rencana kepulangan yang dipatok seminggu harus berkurang drastis dalam dua hari. Gara-garanya, saya sedang dalam masa tes dan pelatihan jurnalistik. Seminggu lebih, saya sudah merasai dunia jurnalistik profesional. Ruang yang berubah. Dimensi yang tak lagi sama.

“Oke, kamu dibolehkan. Tapi tidak tiga hari. Cukup dua hari,” tegas pemimpin redaksi, yang tak asing lagi bagi saya.

Tentu saja saya tak mampu menolaknya. Sebagai orang baru, saya harus menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang diterapkan. Saya beruntung bisa menyisipkan salah satu alasan misi pelatihan jurnalistik demi meloloskan permintaan kepulangan itu. Dan lagi, saya sudah cukup mengenal pemimpin redaksi yang kini menaungi kami.

Dimulai awal pekan itu, sore yang tak dihinggapi semburat jingga, saya dan seorang teman lainnya memulai perjalanan ke tanah Massenrempulu. Akh, sudah lama saya tak mendalami perasaan pulang seperti ini. Mobil yang bakal mengantarkan kami harus ditemui di terminal kota.

Sehari sebelumnya, teman-teman dari lembaga pers kampus (Profesi UNM) sudah mengawali perjalanan. Sebagaimana rencana semula, mereka (dan saya) akan berbagi pengetahuan dan pengalaman jurnalistik di salah satu sekolah yang mengundang, SMA Negeri 1 Alla. Tahu tidak, undangan itu juga serupa tiket kepulangan yang mengantarkan saya pada kerinduan. Berempat, mereka tiba dan merasai aroma udara Enrekang yang hanya pernah dirasainya sekilas. Menginap di rumah salah seorang teman semasa SMA.

“Pernah melewatinya dan sempat singgah memandangi gunungnya,” ujar setiap orang yang menikmati alam kampung kami hanya dari pemandangan Gunung Nona-nya.

Sekali waktu, berkunjunglah ke tanah yang asri itu. Nikmati setiap jengkal alam yang masih belum banyak terjamah pembangunan kota. Berjalanlah, maka kau akan mendapati setiap lekuk jalannya, dihiasi lengkung senyum orang yang menemuimu. Memandangi saja, tak sesempurna melangkahinya.

Kami menyusul dua belas jam berikutnya. Perjalanan dari Makassar ke Enrekang bisa ditempuh dalam rentang 6-8 jam. Melintasi lekuk jalan yang dipagari tebing dan lembah, suasana dingin langsung menyergap. Aroma petrichor mengiringi kami hingga ke tempat tujuan. Hujan baru saja berhenti. Gerimis setitik menebarkan hawa dingin identik puncak pegunungan.

Orang-orang sudah terlelap. Di kampung kami, suara binatang malam menggantikannya. Bersahut-sahutan dari belukar yang tak pernah luput dari tanah subur kami. Oh ya, di kampung ini memang ternama sebagai salah satu penghasil sayur terbesar di Sulawesi Selatan. Bahkan, tak jarang menjadi pilihan ekspor ke luar negeri.

Di akhir kepulangan, tanpa mengetahuinya, kami malah dibawa mengelilingi perkebunan bawang merah yang teramat luas. Menyusur dan mendaki di ketinggian gunung. Saya, yang sejak kecil dibesarkan di tanah Duri, juga baru tahu tempat seelok itu. 

***

Saya mengetuk pintu sembari lirih mengucapkan salam. Lampu di dalam sana menyala. Terdengar suara langkah kaki dipercepat. Tak berselang lama, pintu dibuka.

“Saya pulang,” lirih, saya berkata sembari mengulas senyum.

Meski tak ada peluk merindu, tapi kehangatan malam telah membahasakannya. Senyum (kaget) dan beberapa pertanyaan bapak sudah meluapkan keletihan.

“Sudah makan? Itu sana, makan disik,”

Kasih sayang ibu memang selalu seperti ini. Saya selalu merindukan masakan-masakannya, cara mencintai seorang ibu yang paling sederhana. 

***

Kalian tahu perasaan kembali pulang itu?

Adalah pulang sebuah melankoli rindu yang diidamkan tiap manusia. Sejauh apa pun kaki melangkah, rumah selalu menjadi muasal segala cerita. Sedalam apa pun ingatan melepaskan, rumah selalu jadi penawar rindu. Ketika kehilangan arah, kita bisa memulainya kembali dari rumah. Bukankah rumah adalah musabab atas kehidupan yang dipilih dan dijalani hari ini?

Kamu tahu, rumah tak selalu perihal bangunan sederhana tempat menghabiskan masa ditimang ibu. Atau kamar-kamar tempat menghabiskan masa mengurung diri ketika dibentak dan ditegur bapak. Akan tetapi, satu hal yang selalu saya pahami, rumah selalu berarti: tempat pulang…

Suatu sore di seberang Gunung Nona, bersama teman-teman dan guru. (Foto: Imam R)


[bersambung] -- #part 2


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 25 April 2015

Selasa, 21 April 2015

Kehilangan

April 21, 2015
Petang itu, di tengah saya sedang memenuhi tuntutan deadline, kabar mengejutkan bertebaran melalui profile message teman-teman di BBM. Saya sungguh terkejut dibuatnya. Tiada sebab khusus, tiba-tiba saja ibu salah seorang teman saya menghembuskan napas terakhirnya. Innalillah…

Setahu saya, ibunya tidak dalam keadaan sakit atau bahkan mengidap penyakit tertentu. Atau ia yang sengaja menyembunyikannya dari kami? Hmm…akhir-akhir ini ia memang nampaknya sedang menyembunyikan sesuatu. Saya tak seakrab dulu lagi dengannya…

Tentang kematian, tak ada yang bisa menentangnya...

Di ruang tunggu bandara, tak usah banyak berpikir bagaimana cara saya menembus pintu keberangkatan (departure), saya melihatnya terdiam. Matanya sembap. Entah sudah seberapa banyak air mata yang terkuras siang itu. Meski pelan-pelan, saya yakin belum bisa menyamai kehilangan yang dirasakannya.

Saya pernah kehilangan orang terdekat, kakek saya. Hal yang sungguh berbeda. Saya mengenal kakek hanya dalam kilasan masa kecil dan ingatan ketika berkunjung ke kampung halaman (Jawa). Sekadar nama, wajah, dan panggilannya saja yang tersisa di ingatan.

Dan ketika ia pergi, juga hanya meninggalkan nama dan wajahnya dalam kilasan kawat nun jauh disana. Saya dan keluarga tak bisa menemaninya hingga ke liang lahat terakhir. Bapak yang masih mengidap paraplegia tak memungkinkan kami sekeluarga melakukan perjalanan lintas laut maupun udara. Demi siapa pun yang pernah dikasihinya, kami merelakannya. Mendoakannya dari seberang pulau, dengan tausiah kecil-kecilan di rumah, sembari mengundang sanak-saudara-setanah-Jawa.

Ia merasai kehilangan. Orang yang mungkin paling dicintai semasa hidupnya adalah orang pertama yang menyentuh kehidupannya. Kini, kehidupan yang pernah dibagi demi melahirkannya itu, dipinta kembali oleh Yang Maha Kuasa. Tak bakal bisa dibagi lagi. Siapa pun menyadari, tak ada lagi "ibu" sebenar-benar perempuan terkasih baginya.

Kata teman saya, tak ada yang mengalahi rasa kasih kepada ibunya. Namun siapa yang menyangka, rasa kasihnya harus berganti segmen dimensi kehidupan.

Di ruang tunggu bandara, saya ditemani seorang teman lainnya, menungguinya. Menemaninya sebentar. Mungkin, membagi sedikit senyuman atas kehilangan yang menguras batinnya. Betapa saya ingin berlaku bodoh demi membuatnya tertawa. Hanya saja, seorang calon penumpang lain yang duduk di samping saya tak henti mengobrol tentang segala hal. Argh, terkadang, saya tak bisa berhenti menanyai semua orang di sekitar saya, bahkan yang baru dikenali. Demi adab sopan santun, saya meladeni saja dosen dari kampus Muhammadiyah Kendari itu.

Hingga menapak gerbang keberangkatan, di wajahnya masih terukir jelas gurat kesedihan. Mungkin, untuk waktu yang agak lama, saya tak bakal lagi menemui senyumnya. Saya selalu menyebutnya 'manusia dari planet lain', karena senyum dan tawanya yang seolah baru belajar menyesuaikan diri. Semoga, ketika dunia sudah mengajarinya tentang kerelaan, ia bisa tersenyum (lebih lebar) lagi di hadapan kami, teman-temannya.

***

Tak ada yang bisa menampik, kehilangan terberat adalah di hadapan ajal yang menjemput. Kematian tak mengenal kasta dan usia. Tua. Muda. Kaya. Miskin. Sakit. Sehat. Kecelakaan. Direncanakan. Semuanya telah diramu secara misterius. Apa kuasa kita menentukan kehidupan untuk diri atau orang lain?

Tak ada yang bisa menguatkan diri setelah dihadapkan pada kisah kematian berkali-kali.

"Hey, Nus. Ada (beberapa) hal-yang membuat sesak-ketika kita sudah menghadapinya beberapa kali, kita bisa kuat ketika hal itu datang lagi.
Tapi, tidak pernah dengan kematian.
Tidak pernah." --Fitrah Amalina                                                                                        

Memang, tidak pernah…

Pernahkah kita membayangkannya? Ketika rindu rumah, kepada siapa lagi perempuan terkasih yang akan kita jamah peluk hangatnya?

Perihal kematian, ia selalu mengajarkan arti hidup. Seberapa besar nilai kehidupan. Seberapa banyak kita membagi manfaat untuk orang lain. Seberapa jauh kita membahagiakan perempuan yang pernah melahirkan kita.

Lantas,sudahkah kita menyayangi ibu sebelum ia tak terjamah lagi? Sebelum ajal tanpa rasa mengenyahkan rindu itu...


--Imam Rahmanto--

Minggu, 19 April 2015

Pagi dan Percakapan

April 19, 2015
Alarm saya menggema pagi-pagi. Sebuah tembang dari Banda Neira, Berjalan Lebih Jauh, mengalun nyaring dari balik saku saya. Saya tersadar, namun tak ingin cepat-cepat mematikannya. Saya suka mendengarkan liriknya.

Bangun, 
sebab pagi terlalu berharga 
tuk kita lewati dengan tertidur
Bangun,
sebab pagi terlalu berharga 
tuk kita lalui dengan bersungut-sungut

Saya mengambil jeda sejenak. Mematikan suara yang mulai membising itu. Tak ingin mengganggu teman-teman yang terbaring di sekitar saya. Beberapa orang baru saja tergeletak kelelahan setelah semalaman menggelar rapat evaluasi triwulan. Saya mengerti bagaimana melelahkannya.

Usai melaksanakan kewajiban, saya mengambil tempat di tepi beranda sebuah rumah. Katanya, rumah ini representasi dari rumah adat Mandar yang sebenarnya. Duduk menanti mentari bersinar. Hari ini agak mendung, sehingga matahari yang baru muncul tak bisa diamati dari balik gunung.

Di ujung beranda, seorang teman perempuan sudah lebih dulu mengambil tempat. Entah sudah berapa lama. Ia hanya diam saja melihat saya bergabung dengannya. Menjawab seperlunya ketika disapa. Sesekali tak urung saya mengamatinya melukis. Bukan pemandangan pagi di seberang sana yang ia lukis. Hanya sebuah ilustrasi, yang akunya, tugas dari jurusannya.

"..."

"Kak, apa yang membuat kita mau masuk disini?" 

Mendadak, ia memecah keheningan pagi dengan pertanyaan yang diajukannya malu-malu. Saya agak terkejut dengan sedikit pertanyaan basa-basi itu. Sebagai anak baru, perempuan kecil ini tergolong orang yang masih labil dalam mempertahankan pilihannya.

Tak ingin mengecewakannya, saya menjawab sekenanya. "Kenapa ya? Emm...saya sendiri bingung dengan pertanyaanmu. Haha...

Saya memandangnya sekilas. Ia kembali buru-buru mengalihkan pandangan ke lukisan yang sementara diwarnainya.

"Karena memang saya suka dengan dunia seperti ini. Saya suka menulis," jawab saya singkat, tak melepas pandangan di depan sana. 

"Trus, apa yang membuat kita bertahan?" lanjutnya lagi. Masih dengan perangainya yang malu-malu dan takut-takut.

"Karena saya suka dengan apa yang saya lakukan,"

"Hm...lebih tepatnya, mungkin karena saya punya keluarga disini. Dan teman-teman yang peduli..."

"..."

Esensi percakapan itu, tanpa sadar, senyatanya mulai menjelma dalam kehidupan nyata. Kini, saya sedang memutuskan aktif di pekerjaan yang lebih profesional. Tentu dengan tantangan yang lebih besar dan kerap menjatuhkan. 

Tentang "alasan" itu, saya meyakini sebagai hal yang sama saja. Sementara tentang "alasan" berikutnya saya bisa bertahan, semoga saya menemukannya pula disana. 

Setiap orang mesti saling mengerti dan saling memahami...


--Imam Rahmanto--

Minggu, 12 April 2015

Yang Berbeda dari "Filosofi Kopi" Movie

April 12, 2015
Sumber: googling
Ringkasan Film bisa dilihat di postingan sebelumnya.

***

Tak disangka, saya memperoleh kesempatan menonton penayangan perdana film Filosofi Kopi itu dari sebuah kuis twitter. Beberapa waktu lalu, Madama Radio menggelar kuis yang menjanjikan satu tiket gratis untuk film itu. Meskipun pada akhirnya saya tetap memperoleh 2 tiket nonton.

Promosi besar-besaran film ini memang cukup gencar dilakukan oleh manajemennya. Baik di twitter, maupun roadshow di beberapa kota, termasuk di Makassar. Bahkan, seminggu sebelumnya, saya diajak seorang teman menghadiri meet n greet-nya di salah satu kafe baru Makassar. Di kedai kopi sederhana yang diberi nama Kopiteori itu, Chico Jericho dan Rio Dewanto bercerita tentang film yang dibintanginya.

Sejujurnya, film Filosofi Kopi yang saya tonton benar-benar di luar ekspektasi. Skenarionya sungguh berbeda dari cerita yang ada di dalam buku Dewi “Dee” Lestari. Kalau di dalam cerpennya, Dee menggambarkan ceritanya agak sederhana dan “rendah hati”. Entah kenapa, saya justru melihat penggambaran cerita di film agak mewah dan “angkuh”.

“Bukannya semua adaptasi novel yang dijadikan film memang biasanya berbeda dari cerita aslinya?” tanggap seorang teman.

Sejauh pengalaman saya, film yang diadaptasi dari novel memang banyak mengalami pengubahan cerita disana-sini. Diantara novel karya Dee yang sudah difilmkan, nyaris semuanya mengalami pengubahan “ekspektasi” pembaca, kecuali Perahu Kertas. Menurut saya, film yang dibuat dua seri itu cukup mewakili isi dalam novelnya sendiri.

Nah, Filosofi Kopi-lah yang paling banyak mengalami pengubahan dan “pembelokan” dari sisi cerita. Kalau boleh, mungkin lebih tepat jika saya katakan “perombakan” cerita. Banyak improvisasi yang dilakukan di dalam film.

Sosok Perempuan Bernama El
Saya harus mengatakan, lagi-lagi perempuan dijadikan bahan “jualan” bagi penikmat seni.

Julie Estelle, memerankan El. (Sumber: Filkop Movie)
Salah satu yang paling jelas terlihat adalah adalah kehadiran tokoh perempuan bernama El (Julie Estelle), yang turut mempengaruhi jalan cerita Ben dan Jody dalam menemukan ramuan kopi terenak. Kalau bukan karena El, tentu saja Ben dan Jody tidak akan melakukan perjalanan ke sebuah desa menemukan ramuan kopi terenak, Kopi Tiwus.

Padahal, dalam cerita aslinya, Ben dan Jody menemukan Kopi Tiwus tidak “diantarkan” oleh El. Ceritanya, seingat saya, tidak mengikutsertakan sosok perempuan itu. Sosok El di film ini justru menggantikan sosok seorang bapak-bapak dalam cerpen, yang datang berkunjung ke kedai kopi Ben dan Jody.

Bapak-bapak perawakan sederhana, datang mengepit koran di ketiaknya, yang tidak terpengaruh rasa sempurna Ben’s Perfecto. Ekspresinya yang biasa-biasa saja pada kopi yang terenak di kedai itu memancing emosi dan rasa penasaran Ben. Ia pun bertanya tentang kopi apa yang bisa lebih enak dari kopi buatannya. Disinilah si bapak-bapak dari desa ini menunjukkan jalan menuju sebuah warung kecil milik Pak Seno di desanya.

Saya sendiri sebenarnya lebih sreg jika jalan ceritanya seperti di dalam buku itu. Sebagai seorang Q Grader Internasional, food traveler blogger, saya masih belum percaya seorang perempuan cantik dan mulus kulitnya seperti El pernah mampir di sebuah warung kecil pedesaan, sekadar mencicipi kopinya. What the...?

Di akhir cerita, saya baru ngeh, kalau sosok perempuan terpelajar ini digambarkan sebagai seorang penulis yang juga menerbitkan buku berjudul Filosofi Kopi. Ia juga bakal ditautkan pada pemeran utama lainnya.

Pada dasarnya, produksi audio-visual memang selalu mengikutsertakan perempuan cantik sebagai “pemanis”nya. Cerita di dalam buku Dee terkesan maskulin, tanpa sentuhan perempuan mana pun. Sementara jika film harus mengikuti cerita aslinya, tanpa kehadiran “eksploitasi” perempuan, mungkin diyakini sutradaranya film tidak akan laku di pasaran. Akh, selalu, perempuan cantik menjadi “jualan”.

Cerita Utuh
Bagi pembaca yang jeli, tentu tahu bagaimana jalan cerita yang sesungguhnya dari Filosofi Kopi. Alur film jelas-jelas menyatukan semua bagian secara utuh. Dalam artian, habis-sekali-babat.

Pencarian Ben dan Jody terhadap kopi terenak berakhir pada Kopi Tiwus, dengan alur sebagai berikut:

ditantang seorang pengusaha – meracik Ben’s Perfecto – El bilang masih ada kopi yang lebih enak – mendatangi Pak Seno – meracik Kopi Tiwus – pengusaha puas dan menyerahkan ceknya

Sementara di bukunya, saya mencatat alurnya justru agak berselisih paham sedikit,

ditantang seorang pengusaha – meracik Ben’s Perfecto – pengusaha puas dan menyerahkan ceknya – seorang bapak-bapak datang minum kopi dan bilang rasanya lumayan – mendatangi Pak Seno – meracik Kopi tiwus

Jadi, cerita di buku tidak menghubungkan langsung antara Kopi Tiwus dengan pengusaha itu. Justru pengusaha sudah merasa terpenuhi dengan Ben’s Perfecto dan menghadiahi mereka cek senilai Rp 50juta rupiah. Pengusaha di buku malah tak pernah menyesap aroma Kopi Tiwus.

“Sukses adalah wujud kesempurnaan hidup,” Ben’s Perfecto, card.

Sementara Kopi Tiwus bukanlah soal Ben memenuhi tantangan kepada pengusaha, melainkan tantangan atas obsesinya sendiri. Dari sana, ia disadarkan dengan “keangkuhannya” atas kopi yang selama ini dibanggakannya.

"Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan," --Filosofi Kopi--

Penyadaran itu diperolehnya dari Pak Seno yang sederhana nan lugu. Ditambah dengan sentuhan seorang sahabat terbaik seperti Jody. Bahwa tak ada yang sempurna dalam hidup ini.


Latar Belakang Ben Mencintai Kopi
Nah, di sisi film, hal ini cukup dibuat berbeda oleh sang sutradara. Jika di buku tidak disebutkan latar belakang Ben sangat terobsesi dengan kopi, maka di filmnya, keping demi keping ditunjukkan bagaimana sebuah peristiwa membuat Ben sungguh mencintai dunianya.

Ben yang berasal dari keluarga petani kopi. Lahan yang harus berganti dan ditanami sawit oleh pemerintah. Ibunya yang meninggal di tengah pergolakan masyarakat atas kebijakan tersebut. Bapaknya yang dulu sangat mencintai kopi berubah jadi sangat membenci kopi sepeninggal ibunya.

Cerita mengenai latar belakang kehidupan Ben ini ini menjadi bagian tersendiri dalam mendramatisir beberapa adegan. Kisah-kisah tersebut sengaja dibuat demi mengantar penonton pada keharuan. Ada sisi sentimentil penonton yang ingin disentuh oleh sutradara maupun produser film.

Saya sendiri dibuat menitikkan air mata ketika menyimak adegan Ben pulang kampung, memutuskan pensiun dari pekerjaannya membuat kopi. Kehangatan bersama bapaknya di rumah sungguh mengingatkan saya tentang rumah.

Ada sisi kelam hidup saya yang nyaris mendekati kisah Ben yang pergi dari rumah. Mengingatkan dan membuat saya banjir air mata. Ah, sudahlah, saya tidak ingin menangis hanya karena menghingat-ingat bagian seperti ini dan menuliskannya. Serius, mata saya sekarang sedang berkaca-kaca.

“Buatkan bapak kopi. Sudah 13 tahun bapak tidak merasakan kopi buatan kamu,” ujar bapaknya, yang menyodorkan sebungkus biji kopi kepada Ben di meja makan.

Kopi itu adalah kopi terakhir yang disimpannya, setelah ia mengamuk membakari semua karung kopinya dulu. Demi menunggu kepulangan anaknya belasan tahun, ia menyimpannya.

Di sisi lain, sutradara berhasil mengundang haru dari penontonnya. Di tengah bioskop, saya mendengar beberapa orang di belakang saya sedikit menangis karena adegannya. Apalagi ketika Ben menemani Pak Seno ke kebun kopinya dan terputarlah kembali ingatan Ben tentang masa kecilnya dulu. Kalau yang bagian ini saya biasa-biasa saja.


Ben di tengah-tengah kebun kopi dketika diantar Pak Seno dan sitrinya. Ia merenung tentang masa kecilnya.
(Sumber: Filkop Movie)

Penemuan Jati Diri Ben
Saya kehilangan sentuhan dengan penyadaran akan obsesi Ben di filmnya. Setelah menemukan Kopi Tiwus memang yang terenak, mengalahkan Ben’s Perfecto, Ben merasa terpukul. Ia tak terima kopi racikannya bisa dikalahkan oleh kopi seduhan biasa yang dibuat oleh petani desa. Ia pun memutuskan pensiun dari pekerjaannya sebagai peracik kopi.

“Gue gak pernah main-main soal kopi,” tutur Ben, di film, selalu kepada Jody tentang kecintaannya pada kopi.

Antara buku dan filmnya, keduanya memiliki hubungan yang sama. Sayangnya, proses penyadaran Ben kembali yang agak berbeda.

Di film, dengan memanfaatkan sisi “pemanis” El sebagai seorang wanita cantik, Ben tersadarkan oleh pertengakarannya dengan El di sebuah wisma setelah mereka berkunjung ke warung Pak Seno. Biasa kan dalam film, tokoh yang akan saling-suka bertengkar hebat dulu, bahkan saling membenci, yang ujung-ujungnya bakal saling naksir. Hal itu ditunjukkan pula dalam film ini, kelak di akhir filmnya.

Selain itu, Ben juga kembali menemukan jalan hidupnya usai dari “pulang kampung”. Dari sana, ia menemukan kembali makna kehidupannya. Menemani bapaknya selama beberapa hari di rumah memberinya kesadaran tentang passion-nya itu. Sebagai sahabat, Jody juga mengunjungi dan mengajaknya kembali.

“Ibarat tubuh, kalau gue adalah otaknya, maka loe adalah hatinya,” pesan Jody.

“Jadi, maksud loe, gue gak punya otak gitu?” canda Ben tiba-tiba, sembari tertawa.

Yang berbeda, di bukunya, Ben justru menemukan kesadaran dirinya benar-benar berasal dari persahabatannya dengan Jody. Di bagian ini saya merasa bagian paling manis. Manis sekali. Bagian yang justru dibelokkan dalam filmnya. Di saat Jody untuk pertama kalinya membuat sendiri kopi dan membaginya dengan Ben.

“Ayolah. Kapan lagi gue yang cuma bisa bikin kopi sachetan bisa bikinin loe kopi kayak gini,” usul Jody.

Ben tersadar dengan kopi yang diminumnya. Sesegera Jody mengangsurkan kartu dari kopi yang telah disesap Ben, yang berbunyi,


"Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya." --Kopi Tiwus, card--

Jody juga tak lupa memberikan setumpuk surat dari penggemar Kedai Filosofi Kopi semenjak pensiunnya Ben dari pekerjaan meracik kopi di kedainya. Nah, bagian ini yang menurut saya cukup mendorong Ben untuk kembali menekuni passion-nya.

"Aku sudah diperalat oleh seseorang yang merasa punya segala-galanya, menjebakku dalam tantangan bodoh yang cuma jadi pemuas egonya saja, dan aku sendiri terperangkap dalam kesempurnaan palsu, artifisial! serunya gemas, "Aku malu kepada diriku sendiri, kepada semua orang yang sudah kujejali dengan kegomalan Ben's Perfecto." --Filosofi Kopi, kumpulan cerpen--


Penggambaran Pak Seno
Di sini, penggambaran Pak Seno juga agak di luar dari ekspektasi saya. Pak Seno yang diperankan oleh aktor senior Slamet Rahardjo sudah terkesan agak modern dan tak lagi memiliki sisi sederhana nan lugu. Ditambah kacamata penampilan Pak Seno justru terkesan sebagai seorang tua yang memang berpendidikan. Tidak serupa dengan petani-petani biasanya.

Salah satu adegan penutup yang paling saya sukai di dalam cerpen juga dihilangkan. Di saat Pak Seno dengan polosnya bertanya kepada istrinya perihal kertas yang ada di tangannya. Mereka tidak tahu bahwa kertas tersebut adalah cek yang bernilai uang puluhan juta rupiah.

***

Sebenarnya, masih ada banyak pembeda yang mengusung cerita Filosofi Kopi. Terlepas dari iklan produk yang beberapa kali melintas dan agak mengganggu penampakan film. Suara “slurpp” minum kopi para pemeran yang sengaja didramatisir demi mengundang keinginan penonton minum kopi. Jumlah uang taruhan yang berbeda dan terkesan tidak masuk akal. Ending cerita yang dibuat dengan sentuhan berbeda.

Meskipun secara mendasar, ceritanya tetap dibuat sama. Dewi Lestari sebagai penulisnya juga merasa terkesan oleh pengubahan ceritanya. Entahlah, apakah karena tuntutan pasar, zaman, atau kondisi internal penggarapan film itu sendiri.

Bagi penonton yang belum pernah membaca kisahnya di buku secara langsung, tentu saja akan merasa excited dengan film yang berdurasi 117 menit itu. Apalagi dengan tokoh ganteng (bagi cewek) seperti Chico Jericho dan Rio Dewanto. Oiya, Baim Wong juga turut memerankan salah satu tokoh dalam film itu.

Terlepas dari segala perbedaan itu, film adaptasi memang tak pernah bisa sesempurna cerita aslinya. Bagaimanapun juga, imajinasi tiap orang berbeda-beda. Membuat film yang memenuhi keinginan setiap kepala itu sangatlah sulit pastinya, dan membutuhkan budget yang tak sedikit.

Oke, dikarenakan saya seorang pecinta cappuccino, maka saya cukup terhibur dengan film ini. Apalagi dengan gebrakan cerita yang dilakukan sang sutradara. Menarik!

Selamat menikmati kopi paling sempurna! (Sumber: The Jakarta Post)


--Imam Rahmanto-- 


P.s. Hm…tapi tolong dong, bagian-bagian keren di cerita aslinya tidak dihilangkan.

Meracik Ramuan Kopi Terbaik

April 12, 2015

"Sesempurna apapun kopi yang kamu buat, kopi tetaplah kopi, yang memiliki sisi pahit yang tidak akan mungkin bisa kamu sembunyikan." --Filosofi Kopi, kumpulan cerpen--

Bagi penikmati kopi (dan sejenisnya), mungkin akan menyukai salah satu film besutan Angga Dwimas Sasongko ini. Film ini diangkat dari cerpen yang berjudul sama. Bagi penikmat karya-karya Dee tentu tak asing lagi dengan salah satu buku kumpulan cerpen dan prosa satu dekade itu.

Film ini bercerita tentang dua orang sahabat, Ben (Chico Jericho) dan Jody (Rio Dewanto), yang bekerja sama mendirikan sebuah kedai kopi, Filosofi Kopi. Selain itu, hutang yang ditinggalkan ayah Jody memaksa mereka harus bekerja lebih giat dengan menghidupi kafe tersebut.

Kafe yang memang unik itu lambat laun mendapat tempat di hati para penggemar kopi. Hingga pada suatu hari, datanglah tantangan dari seseorang yang ingin meloloskan proyek tender usahanya. Ia menantang Ben membuat kopi paling enak. Kopi itu rencananya akan disajikan kepada seorang pengusaha targetnya lantaran gemar minum kopi.

Kecintaan obsesif Ben terhadap dunia kopi membuatnya menerima tantangan tersebut. Bahkan, tanpa disangka-sangka, Ben berani menaikkan tingkat taruhannya menjadi Rp 1 Miliar. Di tengah-tengah kekalutan membayar sewa dan angsuran pinjaman, Jody pun ikut dengan pertaruhan yang sebenarnya di luar rencananya itu.

“Bagaimana kalau bapak menambah 1 lagi angka nol lagi di belakang jumlah itu?” usul Ben kepada pengusaha yang menantangnya itu. Ia dan Jody sedang dalam proses negosiasi tantangan Rp 100juta di sela-sela lapangan golf pengusaha tersebut.

Dimulailah pergulatan Ben dan Jody mencari resep kopi terenak selama dua minggu. Dengan segala kemampuan dan pengalaman yang dilmiki, Ben meracik segala jenis kopi yang dikenalnya demi menemukan ramuan kopi terenak.

Dalam pencariannya itu, ia disadarkan pada beberapa pilihan hidup. Termasuk ketika ia harus kembali pulang ke kampung halamannya, yang pernah menyebabkan trauma. Tentang bagaimana ia bisa mencintai dunia kopi begitu besarnya. Hingga penyadaran dirinya akan makna kehidupan dan kesempurnaan yang sesungguhnya.

"Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya." --Kopi Tiwus, card--

***

Saya cukup suka dengan penggambaran dua sahabat ini. meski berbeda latar belakang kepribadian, namun mereka saling melengkapi. Ben, yang tergila-gila dengan kopi. Sedangkan Jody, yang penuh perhatian dan hitung-hitungan dalam segala sesuatu. Kalau Ben "menghitung" dengan hati, maka Jody "menghitung" dengan kepala.

Meskipun demikian, setelah menonton film ini saya merasa, "Kok ada banyak bagian yang terkesan berbeda ya." Cerita film nyaris merombak adegan-adegan di dalam cerita aslinya. Seperti apa perbedaannya? Nah, selanjutnya saya ungkapkan banyak "kegelisahan" tentang film itu. Tsahh...


--Imam Rahmanto--

P.s. karena postingan bakal terlalu panjang, maka saya memisahkannya di postingan selanjutnya. Cek Disini. Beuhh....benar-benar kegelisahan terhadap film keren nih.

Jumat, 10 April 2015

Mendadak

April 10, 2015
“Saya sedang muak dengan segalanya,” seorang teman mengeluh.

Katanya, ia sedang dalam keadaan jenuh atas keadaannya. Segalanya berlaku rutin baginya. Tak ada lagi yang dikerjakan sepenuh hati. Semuanya berubah dalam satu helaan napas.

“Mungkin kamu butuh mencoba sesuatu yang baru. Mengerjakan hal-hal yang belum pernah kamu kerjakan, mungkin?” saran saya tanpa melihatnya. Saya sedang asyik menyantap mie kuah yang masih hangat-hangatnya.

“Iya,” balasnya. “Saya kayaknya ingin merasakan yang namanya pacaran deh,” lanjutnya santai.

#Glekk. Saya menelan ludah. Gerakan menyuap saya tiba-tiba berhenti di udara. Saya melihat ke samping. Heran. Sementara teman perempuan saya itu juga sedang asyik menyantap makanannya. Secara pribadi, saya justru tak ingin menyarankan “hal baru” semacam itu.

Saya mengalihkan pandangan lagi. Melanjutkan suapan makanan saya. Agak kikuk dan tertawa kecil. Kemudian bertanya penasaran, “Mm…kenapa tiba-tiba mau pacaran?”

Teman perempuan saya itu hanya menjawab seadanya. Tentang kerumitan di kepala. Tentang orang-orang yang merangkum segalanya. Tentang pengalih perhatian. Sebagaimana orang yang memang belum pernah merasakan namanya pacaran.

Padahal, menurut saya (dan kebanyakan orang lainnya), ia merupakan perempuan dengan paras wajah cantik. Cukup anggun bagi kebanyakan orang lainnya. Sepengetahuan saya, ia juga sudah beberapa kali menolak laki-laki yang datang menghampirinya sekadar menyatakan saya-suka-kamu-maukah-jadi-pacarku. Saya juga punya seorang teman sejurusan yang terang-terangan mengatakan pernah mendekatinya.

Kan kalau kamu memang mau, dari dulu kan sudah bisa?” tanggap saya santai. Saya masih sibuk melahap makanan yang dibayarkan olehnya.

Lumrah, ia hanya menjawab, belum menemukan orang yang tepat. Ah, yang namanya perempuan memang suka milih-milih.

Sejatinya, bukan hal semacam itu yang dibutuhkannya. Hal-hal baru, bagi saya, mungkin bisa pula sesuatu yang dikerjakan tiba-tiba. Tanpa rencana apa pun. Dadakan.

***

Sabtu pagi, saya hanya ingin menghabiskan waktu merasai aroma pagi. Berjalan-jalan dari kamar kontrakan (kost) ke redaksi lembaga pers kampus kami. Lokasi yang baru. Jaraknya kini tidak cukup jauh, bisa saya tempuh dengan berjalan kaki. Hanya membutuhkan waktu 10-15 menit. Sekitar 4-5 lagu yang melantun di playlist lagu saya.

Jikalau cuaca tak panas, saya senang berjalan sepanjang lorong menikmati pemandangan kumuhnya. Berpapasan dengan orang-orang yang tak saling menyapa. Melintasi para penjual yang menjajakan dagangannya di pasar kecil. Ya, di jalan yang kerap saya tempuh, ada pasar kecil yang hanya buka hingga jelang sore. Hingga menghindari anak-anak kecil yang berlarian dengan teman sepermainannya.

Karena sedang libur, saya tak membawa “perlengkapan” wajib yang saban hari menemani keseharian saya. Tiba di redaksi, saya hanya ingin mengobrol lepas dengan teman-teman lain. Sekali-kali mengunjungi dunia maya lewat jaringan wifi  yang disediakan redaksi.

“Oi, dimana?” sapa seorang teman di telepon. Ana.

Nampaknya ia memang sudah tiba di kota ini. Bersama 3 orang teman perempuan lainnya hendak merencanakan acara ngumpul-ngumpul. Saya bisa menebak dari status-status di BBM mereka. Apalagi seorang teman kami, Asri, baru saja merayakan seremoni kelulusannya.

Mm…lagi di redaksi,” jawab saya. Dilanjutkan dengan beberapa ajakan untuk keluar dan berkumpul bersama teman-teman lainnya hari itu.
Meski sempat ogah-ogahan, saya mengiyakan saja ajakan mereka. Tanpa perlu membenahi diri (baca: mandi), saya bergegas menemui mereka, yang sudah berkumpul di rumah kost Asri. Lagipula saya juga merasa bersalah tidak menghadiri perayaan kelulusan teman saya itu hari sebelumnya. Untuk menebusnya, kami memutuskan menggelar perayaan #Ben10 sendiri.

Butuh beberapa jam sebelum kami memutuskan hendak makan-makan dimana. Sembari menunggu yang lainnya. Untuk saat itu, kami hanya bertujuh. Dua orang lainnya, Iyan dan Ilham, sudah tak menjejakkan kaki di Indonesia. Iyan, sedang backpacking menjelajah Asia. Ilham, sedang menyelesaikan studinya di Australia. Sementara seorang lainnya, Ical, sedang menuntaskan penelitian skripsi di kampung halamannya.

Kalau sudah kumpul-kumpul seperti itu, waktu serasa tak ingin dilepaskan. Kami ingin merasakan momen keseruan lainnya. Hanya saja, kami bukan lagi anak-anak muda yang hanya menghabiskan waktunya dengan kuliah dan berorganisasi mengasah keterampilan. Setiap waktu kami harus sadar, ada banyak hal yang harus dilakukan demi menopang hidup yang tak mungkin lagi bergantung pada orang tua.

“Ayo karaokean,” usul salah seorang dari kami. Lantas disetujui teman-teman lainnya.

Saya sebenarnya bukan orang yang benar-benar menyukai salah satu cara-menghilangkan-kebosanan itu. Bukan karena suara saya memang tak ada cocoknya bernyanyi. Melainkan beberapa gaya hidup “kelas atas” seperti itu agak kurang cocok untuk saya. Hal-hal sederhana, saya lebih menyukainya.

Karena tak ingin merusak suasana, saya ikut saja dengan teman-teman lainnya. Lumayan lah untuk melepas kerinduan dengan teman-teman lama.

“Serius? Tapi saya belum mandi dari tadi pagi. Gara-gara Jane buru-buru ngajaknya,” ujar salah seorang diantara kami, Amy.

“Saya juga belum, Amy,” tekan saya agak kesal.

Teman perempuan kami yang satu ini tergolong perempuan yang tingkat paranoid-nya sangat tinggi. Perempuan yang mudah panikan. Tak peduli ia salah satu angkatan paling tua diantara kami. Bahkan, hanya karena ia belum mandi, ia sempat menahan diri masuk dalam adegan foto-bareng kami.

Teman yang lain juga menekankan hal serupa. Nyaris tak ada diantara kami yang menyiapkan diri sekadar mandi hari itu. Bahkan seorang teman, Cinno, baru saja menuntaskan permainan futsal-nya ketika menerima panggilan dadakan dari Ana.

Panggilan tiba-tiba. Ditraktir. Hari libur. Tak ada kerjaan. Teman-teman se-gila sepenanggungan. Bukan ketemu odo’-odo’*. Maka tak ada alasan yang memberatkan bagi kami untuk bergegas menunaikan pertemuan itu.

“Aduh, Amy. Kayak kita mau kemana saja. Kita-kita ji juga deh,” protes teman yang lainnya.

Sebelum meninggalkan tempat makan, kami menghadiahi Ana sedikit surprise. Ulang tahun perempuan stylish, yang kini berprofesi sebagai pegawai bank di kampung halamannya ini, sudah lewat beberapa minggu. Namun, sudah menjadi ritual diantara #Ben10, memberikan surprise tidak tepat di hari ulang tahunnya. Karena tepat di hari ulang tahun itu sudah mainstream. Bahkan, jika memungkinkan, teman-teman terkadang membundel dua hingga tiga bornday dalam satu waktu. Ckckck

MAKasihh kalian my best friend ben10, wlopun telat tp za senang bgt surprisex:)
Posted by AnHa Rukmana Mansyur on Saturday, April 4, 2015

Usai itu, Dhiny, harus memisahkan diri lantaran rapat evaluasi yang digelar kantor redaksinya sore itu. Ah ya, perempuan cengeng itu sudah sebulan lebih menasbihkan diri sebagai seorang wartawati salah satu media baru di kota kami. Tentu saja, meski sangat mengidamkannya, ia tak bisa berlama-lama bersama kami.

Saya mengantarkannya. Saya cukup tahu kantor media baru itu karena pernah hampir bergabung di dalamnya.

Selepasnya, saya mampir ke lokasi karaokean yang sudah dibooking teman. Berkumpul dan tertawa-tawa hingga time elapsed di layar menunjukkan angka 00:00. Sampai kami juga harus tersadarkan kembali bahwa: masih ada yang harus dikerjakan masing-masing.

Ana yang sedang berlibur demi meluangkan waktu untuk #Ben10 juga sempat mengajak bermain Ice Skating. Ya, saya selalu rindu mempelajari salah satu permainan di atas es itu. Hanya saja, kami harus menundanya lain waktu. Saya tak punya kendaraan-pinjaman untuk malam itu. Malam di saat gerhana bulan mulai menampakkan dirinya. Blood-moon.

Gerhana itu tak bisa kami nikmati seutuhnya. Di redaksi kami yang lama, kami biasa memanjati atap untuk menyaksikan kejadian langka seperti itu. Kini, tak ada lagi atap atau loteng yang bisa dipanjati di redaksi baru. Pun, tak ada ruang bagi kami untuk menatap langit berbintang sepanjang malam.

Semoga kelak kesampaian. (Foto yang dikirim-
kan Iyan dari Negeri Tirai Bambu) 
Cukup menyenangkan bisa berkumpul bersama teman-teman yang kini mulai menyibukkan diri pada aktivitas masing-masing. Kami tidak punya banyak kesempatan lagi seperti dulu, sekadar ngobrol dan saling menyalahkan satu sama lain. Saling mencela satu sama lain. Atau menyemangati perihal tugas-tugas kelembagaan yang menumpuk di kepala.

Meski dadakan, pertemuan hari itu cukup melegakan. Mereka sedang “menculik” saya. Saya sedikitnya bisa melupakan beberapa hal yang menjadi rutinitas. Kami bisa berbagi ide, pengalaman, hingga ingatan yang sudah sedikit usang. Saya menikmatinya. Mungkin sama halnya ketika kami berlibur sehari ke Pulau Lanjukang dulu.

Saya membayangkan, suatu hari nanti, di saat saya sedang jenuh mengerjakan sesuatu, seseorang datang “menculik” dan membawa saya menjelajah ke suatu tempat. Sejam, sehari, dua hari, bahkan seminggu, memaksa untuk melupakan segala kerumitan di kepala.

Yeah. Tak bisa dipungkiri, pertemuan yang tak direncanakan kadang kala membuat kita berpikir hal-hal baru jauh lebih baik. Berpikir lebih jernih. Hidup bukan hanya sekadar menjalani rutinitas yang monoton. Cobalah lebih banyak hal-hal baru di luar kebiasaan. Mendadak. Dan kamu akan menemukan, ada lebih banyak hal yang patut disyukuri ketimbang menggalaukan orang lain.

Jika isi kepalamu nyaris meledak, tak ada tempat berpaling, maka beranjaklah dari tempatmu. Keluarlah. Larilah. Mungkin kamu butuh teman-teman untuk “menggila” di luar sana. :)


--Imam Rahmanto--

Minggu, 05 April 2015

Lucky No. 15 Reading Challenge

April 05, 2015
Sumber: books to share
Saya tertarik mengikuti online-event Lucky No. 15 Reading Challenge, yang baru-baru ini tanpa sengaja saya temukan di kala blogwalking. Tantangan bagi diri sendiri untuk memenuhi target baca selama setahun. Jika biasanya saya membaca buku berdasarkan pilihan sendiri, maka kali ini ada beberapa kategori yang mengharuskan “hal-hal baru” lebih diperhitungkan.

Berdasarkan syarat yang harus dipenuhi, pada event Reading Challenge (RC)ini, ditetapkan 15 kategori yang akan dipedomani setiap peserta dalam setahun.

1. Chunky Brick: Grab that book with more than 500 pages that you’d always been afraid to tackle. You know you can do it!

2. Something New: Just purchased a book lately? Don’t let it buried in your stacks, read it now!

3. Something Borrowed: Read a book that you borrowed from someone else. Don’t make the owner waiting forever for you to finish it. (Books borrowed from friends, libraries, or even rental places, are allowed)

4. It’s Been There Forever: Dig your TBR pile and read a book that has been there more than a year. It’s time for you to appreciate it :)

5. Freebies Time: What’s the LAST free book you’ve got? Whether it’s from giveaway, a birthday gift or a surprise from someone special, don’t hold back any longer. Open the book and start reading it now :D

6. Bargain All The Way: Ever buying a book because it’s so cheap you don’t really care about the content? Now it’s time to open the book and find out whether it’s really worth your cents.

7. Favorite Color: Pick a book from your shelf which has your favorite color for its cover! Is it pink, red or black? You decide.

8. First Initial: Read a book that has been written by an author whose first initial is the same with you (Example: My name is Astrid, and I can read anything written by Agatha Christie, Aesop, Arthur Conan Doyle, etc)

9. Super Series: Read one (or more!) books that belong in a series, it can be trilogy, or tetralogy, or anything.

10. Opposites Attract: Read a book that’s been written by a writer whose gender is different from your own.

11. Randomly Picked: Ask someone else (a friend, your spouse, even your kids!) to randomly pick a book from your TBR pile. Don’t complain whatever they choose for you, just read it :)

12. Cover Lust: Grab a book from your shelf that you bought because you fell in love with the cover. Is the content as good as the cover?

13. Who Are You Again?: You’ve never read a book from this author, maybe you haven’t even heard his/her name before. But who knows? Maybe he/she will become your new favorite author!

14. One Word Only!: Read a book that only has one word for its title (number is allowed as long as it’s only consisted of one word, e.g: 1, 2, 11).

15. Dream Destination: Read a book that has setting in a place you’ve never visited before – but would like to if you have a chance. Could be real places or even fictional!

Peraturan lebih lengkapnya bisa dilihat DISINI.

Lewat tantangan ini, saya hendak memasang target pada diri sendiri. Menekan diri. Push myself! Mencoba hal-hal baru. Karena sejujurnya, saya baru pertama kali mengikuti Reading Challenge seperti ini. Yah, meskipun terkadang saya sukarela saja mereview beberapa buku yang memang bisa direkomendasikan untuk orang lain. Review-review itu lebih banyak saya arsipkan di jejaring Goodreads. 

Saya berharap, melalui event keroyokan seperti ini, bisa menemukan banyak hal baru sekaligus teman-teman baru. Mencoba hal-hal baru adalah cara paling ampuh membunuh kejenuhan dan menciptakan ide-ide baru. Di samping saya sebenarnya sedang tertarik memperdalam Bahasa Inggris secara autodidak. Makanya, ketika melihat postingan Reading Challenge tersebut dalam Bahasa Inggris, saya tak boleh merasa asing dan harus tetap maju. Hahaha…. 

Nah, bagi yang suka membaca, apa salahnya mengikuti tantangan ini? Mari meramaikan dan memperkaya diri dengan banyak membaca buku. Banyak baca, banyak tahu!

Let’s begin and…. Do it!


--Imam Rahmanto--


Daftar Buku:

Buku-buku apa saja yang akan menjadi list Reading Challenge saya? Berikut buku-buku yang hendak saya tamatkan berdasarkan kategori-kategori Lucky No. 15 Reading Challenge:

Chunky Brick:
- Kinanthi Terlahir Kembali 

Something New:
- Koala Kumal

Something Borrowed:
- Re: 
- Bokis 2

It’s Been There Forever:
- Ternyata Aku Sudah Islam

Freebies Time:
- Beyond The Darkness

Bargain All The Way:
- Dumba-dumba Gleter

Favourite Color:
-

First Initial:
- Spring In London

Super Series:
- City of Lost Souls

Opposites Attract:
- Saman

Randomly Picked:
- Mengawini Ibu

Cover Lust:
- In the Bag
- Jurnalisme Pejalan Kaki - Kiat Membuat Foto Untuk Laporan Jurnalistik

Who Are you Again?
- Peter Nimble and His Fantastic Eyes
- Follow Your Passion

One Word Only!:
- Carrie

Dream Destination:


Note: Daftar di atas sewaktu-waktu bisa berubah dan akan mengikuti update setiap buku yang telah saya baca, sesuai dengan kategori yang ditentukan. 

[Review Blog] Belajar Gizi dari Manjilala

April 05, 2015
Sekilas, membaca nama manjilala agak asing dan aneh bagi saya. Meskipun saya beberapa kali menjumpai nama tersebut di dunia pergoblokan (baca: per-go-blog-an). Pun, untuk membuka dan mengunjunginya, saya hanya menyempatkannya sesekali. Saya juga baru menyadari, sosoknya tak jarang saya temui dalam acara-acara yang digelar Komunitas Blogger Anging Mammiri. Maaf ya, Kak. Hehe…

Dari tagline “Informasi seputar pemberian ASI dan gizi remaja”, sudah bisa ditebak sebagian besar isi dari blog tersebut tak jauh-jauh dari informasi tentang gizi dan kesehatan. Mungkin, lantaran penulisnya merupakan seorang dosen dari jurusan Gizi di Poltekkes Makassar. Tak heran jika pria yang memang bernama Manji Lala ini lebih suka berbagi pengetahuannya tentang bidang yang digelutinya itu.

Meskipun saya senang membaca, namun hal itu tidak berlaku untuk hal-hal yang terkesan serius. Apalagi perihal ilmu-ilmiah. Sodorkan novel setebal 500 halaman, maka saya akan menamatkannya. Tapi jangan sekali-kali menyuruh saya membaca diktat, buku kuliah, buku pelajaran, karena hanya akan membuat mata saya tertutup lebih cepat. Serius!

Diperankan oleh model. (Foto: Imam Rahmanto)

Bagi saya, blog manjilala termasuk dalam golongan blogger-serius. Sebagian besar isinya nyaris berlatar informasi dan data-data ilmiah. Yah, tujuannya kan memang satu: berbagi informasi dan mengedukasi pembacanya. Kalaupun ada tema postingan yang agak ringan, seperti pada kategori "Artikel Bebas", namun pembahasannya tetap tak jauh dari gizi dan kesehatan. Saya suka dengan postingan "Kudapan Manis dari Kota Makassar", berhubung tampilan gambarnya yang memang menggiurkan. Hahaha...

Sangat berbeda dengan “rumah” saya, yang justru berisi hal-hal tak penting. Memang sih. Saya sekadar menuliskan apa saja yang bisa ditulis. Pasalnya, saya sudah terlalu banyak membuat tulisan serius, semacam berita dan laporan, hingga butuh tempat “pelarian” untuk menjadi “apa adanya” saya. 

Informasi-informasi yang dibagikan oleh pria kelahiran Maros ini cukup bermanfaat dan relevan dijadikan bahan kajian oleh para akademisi. Bahkan, di beberapa postingan saya bisa melihat komentar-komentar yang antusias menanyakan seputar topik postingan. Miriplah semacam diskusi dalam kelas.

Jika ada yang mencari referensi tentang gizi dan kesehatan, blog yang diarsipkan sejak tahun 2012 ini sangat tepat sebagai rekomendasi. Apalagi dengan gaya bahasanya yang cukup ramah dan mudah dimengerti bagi siapa saja. Latar penulisnya sebagai dosen sama sekali tidak ditonjolkan dalam setiap tulisannya. Saya sendiri baru tahu penulis adalah seorang dosen selepas membaca capture artikel tentang Kelas Belajar Oky (KBO) di Harian Fajar. Sedikit bocoran, KBO ini merupakan kelas belajar non-formal yang digawanginya sejak tahun 2012 silam. Dari sini, mungkin bisa disimpulkan pula bahwa "Pak Dosen" sangat dekat dengan anak-anak.

Dari segi tampilan, saya tidak perlu banyak mengomentari. Toh, tampilan yang sederhana sudah memudahkan pembaca untuk berjalan-jalan disana. Para blogger yang rajin memposting tulisannya memang tak banyak neko-neko perihal tampilan. Biar sederhana, asal berbobot, dan terus update.

Hanya kotak komentar platform facebook-nya yang agak kontras. Warnanya hitam, bertolak belakang dengan warna dasar blog manjilala yang cenderung bertema cerah atau terang.

Salam blogging!


--Imam Rahmanto--

Jumat, 03 April 2015

Tak Selalu Ideal

April 03, 2015
“…Bukan seakan-akan hidup sendiri. Memang sendiri. Planet sendiri,”

Saya membaca pesan itu di depan beranda. Seorang teman mengirimkannya. Hanya sepenggal dari puluhan baris pesan yang dikirimkannya pada saya di sela-sela malam yang nyaris bergulir. Saya sering kebingungan, ada yang berbeda dari cara pandang perihal menyikapi hidupnya sendiri.

Sejatinya, saya bukan orang yang paham bagaimana menjalani hidup. Toh, beberapa kali saya juga pernah mengalami kegagalan. Pernah mengalami kecewa. Pernah mendengki. Pernah memusuhi. Pernah berbuat tak baik. Hanya saja, terlepas dari itu, saya berusaha untuk berlaku baik atas kehidupan saya. Di samping, orang tua selalu berpetuah, “Sebejat-bejat apapun jadimu, tetaplah menegakkan shalat.”

Ada yang berbeda tentang pandangannya terhadap teman. Entah siapa yang memulai, syndrom-mengganggap-teman-hanya-sebatas-rekan menyebar luas di lingkungan itu. Beberapa kali kata-kata “tak-keren” itu melintas di timeline jejaring sosial. Hingga saya harus menahan kesal dibuatnya. Saya benci melihat orang-orang yang tak menghargai pengisi kekosongannya.

Satu hal yang perlu dipahami, jika menganggap teman sebagai “bukan-teman”, lantas siapakah yang bisa dianggap sebagai teman? Sebagaimana menganggap teman di kantor sebatas rekan kerja, maka istilah-istilah lainnya pun serupa. Tengok saja, ada “tetangga”, “sekelas”, “sejurusan”, “sekampung”, “kenalan”, dan seterusnya. Anggaplah mereka hanya dibatasi oleh label itu masing-masing. Nah, siapakah dalam hidup ini yang bisa dikategorikan sebagai teman?

“Tidak berharap ja semua datang. Satu orang cukup ji. Tapi tidak ada memang yang peduli.”

Ada persepsi berdasarkan asumsi yang mesti diluruskan…

Kadar kepedulian teman seperti apa yang sebenarnya diinginkan setiap orang? Seindah apa pertemanan itu diinginkan? Sedramatis apa? Seberapa ideal yang diimpikan?

Sumber: kaskus.co.id
Dalam memaknai yang namanya pertemanan, tak lazimnya seperti yang selalu didramatisir oleh setiap cerita di layar kaca. Orang-orang perlu sadar, televisi dan segala kroninya tak patut dijadikan contoh atas segala hal yang terjadi atas kehidupan kita. Soal cinta. Soal persahabatan. Soal asmara. Soal lelaki idaman. Soal perempuan sempurna. Soal kepintaran. Soal sekolah. Segalanya. Buang tontonan itu dan nikmati realita!

Seburuk apa pun yang terjadi pada diri sendiri, tak adil rasanya menyalahkan teman-teman di sekitar kita. Menganggap tak ada yang peduli. Hingga akhirnya kita sendiri yang membangun harapan tentang teman yang ideal. Berharap ketika berada dalam kondisi tak menyenangkan, ada teman yang akan menenangkan. Menginginkan teman yang sempurna; ada dalam suka maupun duka.

Teman itu peduli. Yah, dalam konteks yang sewajarnya. Tanpa mengekspektasikan ideal yang terlalu tinggi. Di kala seorang teman tak mendampinginya di tengah kesusahan, bukan berarti acuh tak acuh. Bisa jadi seorang teman punya kesibukan lain. Atau sifat bawaan manusia; lupa. Kita terkadang hanya berpikir tentang “saya” tanpa mau berpikir tentang alasan hakiki orang lain.

Perlu disadari, setiap hal punya alasan di balik layar masing-masing. Jika tak ingin mengira-ngira, cara paling sederhana adalah dengan menanyakannya. Bercerita. Berbagi perasaan. Ungkapkan saja. “Kenapa engkau tak datang?”

Seseorang yang terlambat kerja, hanya dianggap terlambat kerja. Padahal di tengah jalan, ia harus menolong orang lain yang tertabrak mobil. Seseorang membatalkan janjiannya, hanya dianggap orang yang ingkar. Sementara ia harus mengunjungi neneknya yang tiba-tiba masuk rumah sakit. Seseorang yang kedapatan mencuri, dianggap penjahat. Padahal, orang-orang tak tahu betapa sulitnya mencari makan untuk anak-istrinya di rumah.

“Kalau kau ingin dikunjungi, kenapa tak sampaikan langsung saja?” saya membalas beberapa pesan yang menyesakkan dadanya.

Saya sekali lagi teringat dengan perkataan seorang teman bule, yang menganggap orang Indonesia adalah para pembohong ulung. Baginya, manusia di negeri ini terlalu suka memendam tanya dan memendam rasa.

“Kalau memang tak suka, ya katakan saja tak suka. Katakan tak sukanya di bagian mana? Tak usah dipendam-pendam. Perihal apa pun itu baiknya disampaikan saja,” ungkapnya.

Seburuk apa pun seorang teman memperlakukan teman lainnya, saya menganggap itu masih sewajarnya. Tak perlu mengerdilkan makna pertemanan dalam label-label tak penting. Kelak, di fase kehidupan yang lain, kita baru menyadari bahwa teman memang tak selalu bertindak sebagai teman. Sebagai manusia, itulah bentuk penerimaan atas kekurangan yang dimilikinya. Bukankah manusia hidup untuk saling melengkapi?

Hidup bukan hanya ketaksempurnaan di antara suka ataupun duka. Melainkan penerimaan kita atas ketaksempurnaan dalam menghadapi harapan yang salah atas setiap momen kehidupan kita. Jika tak ingin kecewa terlalu jauh, tak usah berharap banyak-banyak. Jalani saja baik-baik. Berpikir lebih bijak. Dan berhenti berpikir tentang diri sendiri.

“Teman itu adalah orang yang menyelamatkan dari neraka bernama kesepian,”--Naruto, Anime--


--Imam Rahmanto--

Rabu, 01 April 2015

[update] Nah, Seperti Inikah Kalian?

April 01, 2015



Notes: Saya menyediakan satu lagu di atas, yang dinyanyikan Novi sebagai pengantar membaca tulisan sekenanya ini. Let's fly to our memory...
  
***


Imam Rahmanto SMADA Pangkep

Akh, beberapa hari ini kalian meneror saya di inbox dengan permintaan serupa. "Kak, describe ta dulu deh..." Saya jadi bingung ingin memenuhi permintaan siapa. 

Meskipun seingat saya, memang, sudah waktunya kalian membuat semacam autobiografi untuk menyelesaikan jenjang kelas kedua kalian. Oh ya autobiografi itu...

Saya masih ingat, untuk mengakhiri kelas kedua di sekolah, kalian diwajibkan membuat autobiografi atas kehidupan kalian sendiri, bukan? Saya kerap menemukan buku-buku tebal berlabel nama siswa SMADA dipajang di perpustakaan kalian. Beberapa diantaranya bahkan dicetak eksklusif. Menyamai cover novel yang beredar di pasaran. Sementara yang lain, dicetak sekadarnya saja. Isinya, ya, ternyata berkisar tentang kehidupan (spesial) sehari-hari siswa SMADA.

"Itu tugas akhir buat siswa kelas dua, Kak. Kalau kelas tiga, tugas akhirnya justru lebih susah lagi: membuat novel," salah seorang siswa selewat menerangkannya. 

Sungguh, saya takjub melihat salah satu keunikan itu. Tidak sembarang tingkat pendidikan yang mau memberatkannya sebagai tugas akhir. Semoga saja guru-guru Bahasa Indonesia di sekolah mana saja mau menerapkan hal serupa. Keren.

Akh, masih hangat pula di kepala saya, dulu, di sela-sela jam mengajar (PPL), saya kerap bertandang ke perpustakaan kalian. Lantaran saya memang punya kecanduan khusus terhadap tempat bernama perpustakaan. Mm...mungkin selain karena saya juga bisa mencandai (dan mencuri pandang) rupa seorang perempuan kecil disana. Saya suka menatap senyumnya yang... manyun kekanak-kanakan. Ah, sudahlah... mengingat kalian memang takkan lepas dari menumbuhkan keping-keping ingatan lainnya.

Oke, oke. Saya akan kembali pada permintaan kalian. Perlukah saya menuliskannya satu per satu? Demi pengabdian saya di tanah pertiwi itu, saya menghargai setiap pinta dari kalian, baik Aljabar maupun Einstein. Selalu.

Darimana saya harus memulainya? Sementara ingatan patah-patah saya tak menjamin sebaris penilaian absolut untuk kalian percayai. Hm...ya sudahlah. Karena ini permintaan "keren" kalian, maka mari membahasnya satu-satu....sedikit demi sedikit.

Dimulai dari Ade, yang selalu bercita-cita menjadi Miss World. Masihkah? Saya salut untukmu, De. Meski sebagian teman selalu menganggap remeh mimpi itu, tapi toh kamu pantang surut memperjuangkannya. Saya senang melihat Ade yang selalu antusias bercerita tentang segudang impiannya, termasuk mendirikan sekolah, ya?

Betapa membahagiakannya melihat orang-orang yang sepenuh hati konsisten dengan tekadnya. Oleh karena itu, berlari-lari tiap pagi dan sore di sepanjang jalanan kota menjadi rutinitasmu. Kelak, jika kau sudah berhasil menurunkan berat tubuh, saya siap menjadi pendengar setia perihal perjuangan itu. :) 

Soal berat tubuh, terkadang kau risih. Terkadang kau malah dibuat kuat. Sekali waktu, berapi-api membalas cemoohan teman sekolah. Ada air mata yang berusaha kau pendam agar tak tumpah sia-sia di depan orang lain. Suaramu yang cempreng justru menjadi kelebihan untuk menggertak orang-orang di sekitarmu loh. Kau orang yang kuat, Ade. Cukup kuat untuk menaksir diam-diam seorang kakak kelasmu, meskipun teman yang lainnya sudah tahu.

Seorang teman sebangku Ade, yang punya suara lebih menggema dan terkadang memekakkan telinga, adalah Sukma. Kalau sudah duet dengan Ade, suara satu kelas bakal tenggelam dibuatnya. dan saya justru heran mengapa kau lebih senang dipanggil Mbesh sih, Sukma? Padahal nama "Sukma" sudah baik dan cantik bagi kebanyakan orang.

Yang paling tak terlupakan darimu Mbesh, ya ketika saya membuatmu menangis. Awalnya saya tak pernah tahu kalau lelucon saya di kelas bakal membuatmu ngambek. Tiba-tiba saja meninggalkan kelas, tanpa mengucapkan sepatah kata. Hingga berselang lama, kau tak kembali ke ruang kelas, saya baru sadar tentang sesuatu. Dasar laki-laki, memang tidak peka. Hahahaha.... 

"Ada yang salah dengan lelucon saya," gumam dalam hati, sembari tak henti menanyakan kelakuanmu pada teman sekelas yang lainnya.

Kejadian tak mengenakkan itu tentu saja harus berakhir dengan permintaan maaf dari saya. Meskipun saya menyesalinya kala itu, namun belakangan saya justru bersyukur. Dari insiden berurai air mata itu engkau lantas mau mengakrabkan diri dengan saya. Tak pelak, kau juga menjadi orang paling cerewet jika harus bertemu dengan saya.

Setiap kali saya berjalan di selasar sekolah, suara menggema yang akan terdengar pertama kali adalah, "Kak Imam!" Tanpa perlu berbalik, saya sudah tahu siapa pemilik suara itu. Hm...ternyata, yang namanya persahabatan, terkadang harus dimulai dari pertengkaran dulu ya?

Di balik sikapmu yang ceplas-ceplos, Mbesh, sebenarnya tersimpan kecerdasan di bidang yang saya ajarkan dulu. Serius. Coba saja untuk memperdalamnya, dengan sedikit rendah hati, kelak kau akan tahu betapa berharganya mempelajari bidang itu. Mmm...jangan mencontoh saya yang kini sudah banyak lupanya. Hehe...

Masih di kelas yang sama, ada Nisa. Perempuan manis yang senang menjajal kejuaraan tenis meja. Saya sampai tak tahu sudah berapa kali engkau menjuarainya. Pun, saya diliputi rasa penasaran ingin menjajal keahlianmu bermain tenis meja. Saya mungkin tidak se-juara denganmu. Tapi tenis meja merupakan satu-satunya olahraga yang sering saya mainkan di masa remaja sepertimu, di kala menanti waktu berbuka puasa.

Diantara teman-temanmu yang lain, mungkin engkau yang paling jarang tersenyum ya? Saya pernah mengatakannya padamu, kan? "Cobalah untuk banyak tersenyum," Lantaran kau senang memasang wajah cemberut. Sementara tanpa kau sadari, sedikit saja kau mengulas senyum, wajah manismu bisa saja menggaet perhatian salah seorang kakak kelasmu. Oiya, kau juga pernah bercerita tentang kakak kelasmu yang sudah kau anggap "kakak" ya? Apa kabarnya sekarang? :P

Perihal komunikasi, dirimulah yang paling banyak menjadi jembatan dengan kenangan terkait sekolahmu. Saya menghargainya, apalagi dengan pertanyaan-pertanyaan lazim yang sungguh sulit terjawab bagi saya, "Kapan ke Pangkep?"

Pertanyaan itu, sungguh, sama dengan pertanyaan yang kerap disampaikan si Centil Irna, dari kelas Einstein. Ahahaha....kenapa Centil? Karena orang yang paling sering menggodai saya dengan ledekan khasnya adalah engkau, Irna. Saya takkan lupa bagaimana tingkahmu "menjodohkan" saya dengan seseorang itu. Di matamu, kami berdua cocok. Namun perjalanan hidup nyatanya selalu memberikan jawaban-jawaban tak terduga atas prasangka yang urung kita bangun.

Tak di sekolah, hal yang sama masih senang kau ungkit-ungkit di media sosial. Usil, benar-benar menjadi ciri khasmu. Tak heran kalau seseorang itu mungkin masih agak rikuh hanya untuk berkomunikasi denganmu. Psstt, hei, Irna, ini rahasia antara kita berdua. Ia tak sekuat kelihatannya. Maka berhentilah meledeknya dengan segala tahumu. ;) 

Sekali waktu, saya melihatmu terdiam di kelas, Irna. Di pertemuan pertama kala itu, saya mengira engkau seorang pendiam. Tak dinyana, kau termasuk salah seorang yang membangun kehebohan tentang hubungan itu. Bahkan sampai kita berpisah pun, kau masih senang menanyakannya. Saya bingung, harus mengaminkan doamu yang di bagian mana. Karena akal dan perasaan tak semudah menebak permainan teka-teki silang.

Di tengah keriuhan kelas, saya menemukan seorang penyanyi dadakan. Saya mengira hanya Sheila seorang yang pandai bernyanyi. Pada kenyataannya, di acara perpisahan KKN-PPL, kau juga menunjukkan kelihaianmu dalam bernyanyi, Novi.

Saya tak pernah menyangka, orang yang lebih banyak diam ketimbang ikut berbuat onar di kelas ternyata punya suara yang tak kalah hebatnya.  Semoga suara unikmu menjadi pengantar setiap orang yang membaca postingan ini. ;)

Saya selalu suka gayamu bernyanyi. Apalagi ketika pertama kali melihatmu mendendangkan Karma di acara perpisahan itu. Melihatmu membawakan lagu dari Cokelat, tiba-tiba membuat saya menyukai lagu itu. Jujur, di kala lagu itu diputar oleh playlist, yang teringat di kepala saya adalah "siswa-smada-yang-pernah-menyanyikannya-dengan-keren".

Dari teman-temanmu, saya tahu, ternyata kau memang punya kegemaran khusus pada bidang tarik suara. Di beberapa kompetisi, tak jarang kau ikut berpartisipasi. Saya tak begitu tahu, seberapa banyak juara yang telah kau raih. Akan tetapi, bukankah itu tak penting? Asalkan kau tak sungkan membagi suara indahmu, itu saja sudah cukup. Tetaplah bergaya keren. Suatu hari nanti, mungkin saya akan mengiringimu dengan gitar.

Aljabar atau Einstein, saya selalu merindukan kalian. Perihal nama-nama yang terdeskripsikan itu, hanya seuntai permintaan belaka, yang mungkin tak seberapa. Jika saya harus menggambarkan bagaimana hebohnya kalian semua, mungkin butuh waktu sejam bagi kalian menamatkan satu tulisan ini. Pun, saya harus berpikir dan mengulas ingatan suntuk berjam-jam lamanya. #fiuhh

Oleh karena itu, tanpa mengurangi rasa rindu, cukuplah saya berbagi tanya kepada kalian:

Aljabar, Hera, Ainun, Fia, Syahruni, Gadis, Ameliyah, Citto, Devi, Hajar, Amalia, Zizah, Ulfa, Irna, Widya, Yaya, Anca, Baso, Maman, Fadel (montok), dan

Einstein, Fitrah, Mayang, Ifha, Lisa, Abrar, Erwin, Ainun, Sheila, Idha, Lilla, Ayu, Icha Ewa, Aslamiyah, Imce, Ridha, Fikri, Reza, Arifin, Arfandi, dan Saeful.

"Hei... apa kabarnya kalian?"


***

Tahu mengapa saya memaksa diri menuntaskan permintaan kalian?

Karena ada seseorang yang terhubung kisah kalian, yang baru saja menyeberangi pekatnya ingatan di kepala, semalam...


--Imam Rahmanto--


update:

Ada ingatan yang mesti disegarkan…

Jangan salahkan saya jika ingatan-ingatan ini akan terus menggema hingga suatu hari nanti. 

Seperti yang saya duga, beberapa dari kalian juga menginginkan hal yang sama. Serius, jangan terlalu banyak meminta pada saya. Waktu yang saya miliki tidak cukup mengimbangi untuk menuliskan segala kehebohan bersama kalian. Untuk menggambarkannya, saya hanya punya sedikit kata-kata.

Tahukah kalian, butuh waktu berhari-hari untuk bisa kembali mengenang segala hal tentang kalian, khususnya tentang….. ah sudahlah.

Akh, kalian kali ini memaksa saya untuk kembali lebay nan alay. Beberapa tulisan ini sangat “berbahaya” karena mengandung ke-lebay-an tingkat akut. Waspadalah! Ada kerinduan di tiap jengkal ketukannya.

Nah, orang paling pertama “mencemburui” saya adalah Ana. Hahaha…maaf, Sipit. Saya baru ingat, ternyata orang yang paling pertama menuntut autobio-desc adalah engkau. Wajar ketika deskripsi tentang teman-temanmu bermunculan, kau langsung mengajukan protes pada saya. Ok. Ok.

Di kelas, Aljabar, engkau termasuk salah satu orang paling ramai. Mm…bukan ramai dalam artian senang membuat gaduh seperti halnya Mbesh dan Ade. Kau justru senang mencari perhatian guru dengan banyak bertanya hal-hal tak penting. Terkadang engkau pula yang memulai gosip itu. Di kelasmu, seingat saya, kau dikenal sebagai orang paling banyak tingkahnya. Pada kenyataannya, tinggal di Asrama Putri, tidak mengubahmu menjadi orang-orang yang pendiam. 

Terima kasih atas pelepasan rindu yang kau sampaikan lewat telepon di awal kami meninggalkan sekolahmu. Di kala sedang mengerjakan tugas-tugas penerbitan kampus, tak jarang kau bersama Hera ribut meneriaki dari telepon sekadar bertanya kabar dan bercerita segala hal terkait sekolahmu. 

Sekali-kali, kepedulianmu cukup membantu untuk mengangkat kenangan tentang sekolahmu. Tapi, tahu tidak, sekali-kali justru menyela aktivitas saya. Dan lagi yang membuat saya agak risih, tidak lepas dari pertanyaan tentang orang yang kau selalu titipkan sepihak pada saya. Saya selalu ingat tulisan terakhir yang kau buat untuk saya di sobekan kertas tabloid itu. Ckck…

Saya menyadari, beberapa kerinduan memang harus disampaikan dengan cara berbeda. Dan mungkin, itu adlah caramu menyampaikannya. Gangguan-gangguan itu serupa sinyal untuk membelokkan ingatan saya pada kalian. 

Keusilanmu semakin menjadi dengan berpura-pura menjadi keluarga salah seorang teman di jurusan saya, Mawaddah. Entah apa yang sudah kalian rencanakan terhadap saya. Entah cerita-cerita seperti apa yang sudah bergulir dari mulutmu kepada teman saya itu. Sampai ia tahu tentang gosip itu! Tanpa kecurigaan sedikit pun, dengan polosnya saya mempercayai bahwa perempuan angkatan 2011 itu adalah sepupumu. Luar biasa! 

Beberapa minggu berlalu, ia baru mengakui keisengan itu. Ia sendiri tak mengerti kenapa dijadikan sebagai sekongkolanmu. Pun saya penasaran.

“Pernah bilang sama  saya, Kak. Katanya ‘karena cantik ki, Kak’ makanya saya mau saja dianggap sepupu,” ceritanya sambil tertawa. Ok. Lucu. -__-“

Terlepas dari itu, sebenarnya, kalian hanya ingin tetap terhubung seperti ini kan? Karena waktu yang semakin menua terkadang tanpa disadari memotong ingatan-ingatan yang tak ingin dilupakan. Menjaga silaturahmi, apapun caranya, bisa dilakukan. Apalagi jika kalian bersedia mengirmkan saya bingkisan penuh es krim dengan potongan bermacam-macam kue di dalamnya. #ngarep-maksimal

Selanjutnya, ada Wulan. Hai Wulan! 

Perempuan yang selalu tersenyum sumringah di dalam kelas. Kalau boleh, saya ingin mengacungi jempol atas pertanyaan-pertanyaan yang kau ajukan. Diantara teman-temanmu yang lain, kau termasuk yang paling antiusias memahami pelajaran Matematika. Meskipun pertanyaan itu lebih sering menyulitkan saya. Bukankah saya sudah pernah bercerita di kelas kalian, tentang passion dan cita-cita apa yang ingin saya jalani?

Oiya, Wulan. Saya harus menggambarkanmu seperti apa ya? Dalam ingatan di kepala saya hanya terlintas tentang perempuan yang selalu tersenyum sumringah memanggil nama saya. Di dalam kelasmu, kau termasuk yang mudah memahami bidang studi hitung-hitungan itu. 

Sementara itu, kau punya impian lain ya: Ingin pergi ke lomba Biologi Internasional di luar negeri, sebagaimana yang kau tuliskan di kertas impianmu dulu. Dengan demikian, saya sedikit menyimpulkan bahwa bidang studi kegemaranmu ada pada Biologi.  

Oleh karena itu, perihal pintamu yang mengatakan, “Kak, buat autoku yang panjang-panjang nah,” saya bingung harus menggambarkan apa. 

Kelak, jikalau kita bertemu lagi, banyak-banyaklah bercerita tentang dirimu. Mungkin saja saya akan menemukan hal lucu lainnya. Kau akan menemukan betapa berharganya setiap cerita yang dibagikan kepada orang lain. Menulis adalah perihal mengelola keabadian.

Tak berbeda dengan Diana. Apa yang terlintas di kepala saya hanya tentangmu, Diana, adalah peremuan yang suka membuat heboh di kelasnya Einstein. Duduk di kolom pasangan meja paling pinggir. Terkesan malu-malu. Namun kalau sudah bergabung dengan geng, ternyata bisa ikut ambil kegaduhan.

Seingat saya, engkau sempat dikabarkan terjangkit penyakit hepatitis. Penyakit yang kala itu dengan cepat menyebar di sekolahmu. Penyebarannya cukup mengkhawatirkan, hingga diberitakan oleh media-media lokal di Makassar. Sepintas membaca nama sekolah itu, tetiba saja saya dibawa pada setitik kepedulian untuk mengunjungi kalian, Aljabar dan Einstein. 

“Datang jauh-jauh dari Makassar hanya mau menjenguk?” Sebagian orang tak mengerti perihal kunjungan itu. Termasuk teman-teman KKN saya. Saya hanya mengiyakan sembari tersenyum ringkas. Ada cemas yang hendak diselamatkan. Lantaran kalian memang selalu berharga di mata saya.

Rumahmu, Diana, menjadi salah satu objek kunjungan ditemani beberapa orang temanmu. Beruntung, kondisimu sudah lumayan membaik. Bahkan sempat mengantar orangtuamu ke pasar ya? Diiringi raungan seorang adik kecilmu yang nakal, suasana menghangat seperti sedia kala. Seperti biasa, ada banyak canda atas kedatangan ke kota kalian. Terima kasih untuk geng Einstein yang selalu menjadi pemandu (guide) di kala saya hendak menjejakkan kaki di kota kalian.

Di kelas Einstein ada juga yang menonjolkan diri di tingkat kecerdasannya. Tengoklah sebentar, Azizah, yang setiap waktu bergelut dengan buku-bukunya. Masih berusaha untuk jadi juara kelas, kan, Azizah?

Hm…seingat saya, engkau termasuk dalam gambaran orang-orang pandai di sekolah loh, Azizah. Banyak hal yang identik dengan para “kutu buku” yang melekat pada dirimu. Untuk seseorang yang baru pertama kali bertemu denganmu, tentu saja kau takkan nampak banyak bicara. Sekadar perempuan pendiam yang aktif menyimak pelajaran apa pun di kelas.

Selain itu, kau termasuk yang gemar mempelajari bidang studi Fisika, kan? Ah, bidang studi ini tiba-tiba… ah sudahlah. Teori relativitasnya memang selalu benar. 

Di sela rutinitas saya mengajarkan Matematika, kau tak pernah ragu bertanya. Terkadang disertai rasa malu. Mungkin, khawatir teman-temanmu yang lain takkan mengerti hal yang kau pertanyakan. Akan tetapi, saya cukup kagum dengan keseriusanmu belajar tatkala teman-temanmu yang lain berusaha membuat gaduh seisi kelas. Terutama Ayu yang senang membajak kursi paling depan dengan sok-sok menyimak pelajaran. Hahaha…

Sekarang, sudah melampaui peringkat berapakah engkau? Semoga semangat belajarmu tak pernah kendur di lintas usia. Akan tetapi, ingat satu hal. Beberapa orang tidak sekadar mengandalkan kepandaiannya dalam menjalani realita hidup. Persaingan butuh sesuatu yang unik untuk ditawarkan demi menjamin hidupmu kelak. Sekali waktu, belajarlah keterampilan lain dan perbanyak teman. Oke?

Nah, seperti inikah yang kalian inginkan? Saya jadi penasaran hendak membaca autobiografi yang kalian buat. Semoga saya bisa memperoleh kesempatan menjadi first reader kalian. :)


--Imam Rahmanto--