Rabu, 18 Maret 2015

Tentang Hidup yang Dikisahkan Kembali

Hujan mengguyur kota kami tanpa aba-aba. Saya dan seorang teman sedang dalam perjalanan menuju acara komunitas Blogger Angging Mammiri di Kedai Pojok (Kepo). Talkshow yang menghadirkan tokoh jurnalistik kenamaan sebagai pembicaranya ini cukup menggugah minat kami menembus derai hujan. Dari langit, hujan jatuh menderas, sesekali merintik. Sembari mengemudikan motornya, teman saya kuyup dibuatnya.

Beberapa jam sebelumnya, saya juga sudah mengabari teman-teman lain via social media. Apalagi acara-acara seperti ini memang selalu punya tingkat proximity (kedekatan) yang tinggi dengan kami. Sebagai mahasiswa yang bergelut di bidang jurnalistik, kami harus banyak menimba ilmu, baik dari lapangan maupun pengalaman. Dimana saja. Kapan saja. Dari siapa saja.

Sumber: @paccarita
Dan malam itu, satu kesempatan mempertemukan kami dengan seorang pelaku jurnalistik yang telah banyak malang-melintang di dunia media. Adalah kang Maman Suherman, yang telah banyak berkecimpung di dunia jurnalistik hingga jalur infotainment. Pengalamannya sebagai pelaku media tentunya bisa menjadi benih bagi kami dalam menetapkan akal dan hati di dunia penuh tantangan itu.

Meskipun ia lebih banyak dikenal orang lewat acara Indonesia Lawak Klub (ILK). Apalagi orang Indonesia punya kecenderungan yang labil terhadap televisi. Seseorang dianggap “punya-nama” atau populer, kalau ia sudah sering muncul di layar kaca. 

Mm…sejujurnya saya pun baru mengenal kang Maman setelah kemunculan rutinnya di ILK sebagai NoTulen. Kelak, malam itu, saya juga baru tahu bahwa perancang sekaligus pemrakarsa acara itu adalah Maman Suherman, yang hanya kebagian satu segmen terakhir di tiap acara.

Tiba di tempat acara, kami berpapasan dengan Kang Maman yang juga baru saja tiba. Mungkin, tanpa disadarinya, kami beriringan jalan dengannya. Dari jarak beberapa meter, saya sudah bisa mengenalinya. Perawakannya yang selalu tampil botak sudah menjadi ciri khasnya.

“Inilah Kang Maman yang sering “menggugat” lewat kata-kata menyentilnya di televisi!” seru saya dalam hati.

***

Sumber: Septian Side

Kang Maman mengawali kisahnya dengan bercerita muasal namanya. Ia mengaku, nama yang kini ia sandang sebenarnya bukan nama aslinya. Sejak lahir di Bontonompo, Sungguminasa, ia dihadiahi nama oleh ibunya M. Suherman. “M”-nya berasal dari kata “Muhammad”. Akan tetapi, tiba di Sumedang tempatnya pindah sekolah, namanya “diplesetkan” oleh lidah gurunya menjadi “Maman”. Akh, kita senasib, Kang. Gara-gara ijazah, nama keliru bisa mendarah daging.

“Guru saya terlalu kreatif, suka manggil-manggil ‘Man, Maman’. Apalagi orang disana (Sumedang) memang akrab dengan nama Maman. Makanya sampai di ijazah pun diabadikan jadi Maman,” tutur lelaki yang menamatkan kuliahnya di Universitas Indonesia (UI) ini.

Sumber: @ShoutCap
Dalam diskusi malam itu, secara umum Kang Maman lebih banyak bercerita tentang behind the scene penulisan buku-bukunya. Salah satu bukunya, “Re:”, terinspirasi dari kisah dan pengalamannya sendiri. Pengalamannya itu didapat selama ia menuliskan skripsi yang mengangkat masalah LGBT (Lesbian, Guy, Biseksual, dan Transgender).

“Di jurusan saya, Kriminologi, skripsi itu harus hasil investigasi. Bukan sekadar teori dan data-data statistik. Kita meneliti harus terjun sendiri ke lapangan, mengamati, namun tak boleh terlibat langsung,” kisahnya bersemangat mengenang masa-masa kuliahnya.

Wajar jikalau lelaki keturunan tentara ini akhirnya sangat mengenal seluk-beluk “dunia hitam” LGBT di Indonesia. Sebut saja, pelacuran, perdagangan manusia, pemerkosaan, hingga pembunuhan pernah ditemuinya dalam proses menyudahi studi kuliahnya dulu. “Saya sudah pernah merasakan, bagaimana nyawa manusia tidak lebih berharga ketimbang uang,” ungkap lelaki yang pernah menjadi Pemimpin Redaksi Kelompok Kompas Gramedia ini.

Berawal dari pengalaman (skripsi) itulah, dan pertemuannya dengan seorang perempuan pekerja seks yang dipanggilnya Rere, ia menuangkan segala bentuk “kesadisan” dunia kelam itu. Kang Maman mengaku, buku yang kini dicetak bersampul Ungu itu hanyalah sebagian dari 400-an halaman naskah aslinya. Karena ia sendiri masih menyimpan naskah lainnya yang tidak dipublikasikan meluas oleh penerbit.

“Karena masalah LGBT masih sangat sensitif di Indonesia, makanya penerbit juga berhati-hati untuk menerbitkannya,” kata lelaki yang pernah menjadi host acara Mata Hati ini. Beruntung, naskahnya ditawari untuk dibuatkan serial film di stasiun luar negeri HBO.

Saya melihat, betapa mendalamnya Kang Maman ketika tiba di pembahasan seorang perempuan yang bernama Re itu. Meskipun Re bukan nama aslinya, namun betapa Kang Maman menghargai perjuangan hidup salah seorang pekerja seks itu. Perempuan itu rela hidup demi kehidupan anaknya. Ia pun mati, tanpa pernah melupakan anaknya.

“Dari pengalaman-pengalaman itu, saya tersadar akan sesuatu. Kita seringkali menghakimi orang lain kotor, sementara mengklaim diri sendiri bersih. Sementara bukan tugas kita melabeli orang lain, apakah mereka berdosa, apakah mereka bejat, apakah mereka kafir, atau masuk neraka sekalipun. Kita tak punya hak sama sekali. Karena yang berhak adalah Tuhan Yang Maha Kuasa,” pesan Kang Maman, yang mengaku hingga kini masih intens berkomunikasi dengan anak Rere dan berencana membuatkan novel keduanya.

“Apa saya akan masuk neraka, Man?” Re bertanya padanya.

Sejenak, Kang Maman hanya terdiam, dan menjawab pelan, “Soal pahala dan dosa, bukan saya yang menentukan. Itu adalah hak prerogatif Tuhan. Oleh karena itu, rayulah Tuhan dengan banyak berbuat baik.”

Lama saya terhanyut di setiap pengalaman yang diceritakan Kang Maman. Saya tak menyadari, kursi dan meja di Kedai Pojok tidak mampu menampung orang-orang yang antusias ingin mendengar cerita Kang Maman. Para peserta talkshow yang tidak kebagian kursi dengan sukarela berdiri di luar kedai sembari tetap menyimak pemaparan pengalaman dari Kang Maman. Saat hujan mengguyur, mereka tetap berdiri sembari berteduh ke bagian kedai yang tak terkena hujan. Bergabung bersama peserta lainnya yang sudah lebih dulu mendapatkan tempat duduk.

Sumber: goodreads.com
Buku lainnya, Bokis (1 dan 2), bercerita tentang pengalaman Daeng Mamang, begitu moderator acara malam itu menyapanya, sebagai seorang jurnalis. Apalagi semasa menjalankan tugas medianya, ia banyak berkenalan dengan para pesohor, baik artis maupun pejabat negeri.

Lewat bukunya, konseptor penghargaan Panasonic Gobel Award ini mengulik semua “kelicikan” para pesohor di balik kamera. Mulai dari pencitraan artis dan pejabat, skenario film, rating, sensasi, hingga kerja-kerja kewartawanan itu sendiri. Semua dibahasnya tanpa ampun.

“Gara-gara buku ini, saya banyak dimusuhi para wartawan dan artis. Sampai-sampai ada ancaman-ancaman tak mengenakkan,” aku lelaki yang sangat mencintai dunia jurnalistik ini.

Ia menganggap, demi melahirkan moral jurnalistik yang baru, bagian itu harus diketuk dan “dipecahkan” dari dalam, selayaknya telur yang hendak menetaskan kehidupan baru.

Akh, sebagai orang yang beberapa kali menjalankan tugas-tugas jurnalistik, nampaknya saya bisa memahami beberapa pengalaman Kang Maman. Dunia jurnalistik memang terkadang adalah dunia yang ada di belakang kamera. Namun, di balik dunia itu, masih ada dunia lainnya. Behind of behind the scene, begitu saya menyebutnya. Di satu sisi, saya terkadang ingin tertawa menyaksikannya. Di sisi lain, terkadang kita dibuat berkonflik dengan diri sendiri hingga menyasar konflik orang lain.

Akan tetapi, pengalaman yang terpetik dari NoTulen ILK malam itu semakin mengukuhkan keinginan saya untuk berkecimpung di dunia jurnalistik. Apa yang saya tuliskan, sejatinya memang harus bersifat enlightment dan enrichment, seperti kata kang Maman. Tidak sekadar menulis demi memenuhi ego diri atau permintaan pasar. Bahkan dimulai dari rumah sederhana ini, segala tulisan pun harus bersifat mencerahkan. Karena saya percaya, tulisan mencerminkan sekerat bagian jiwa dari penulisnya.

***

Jelang pukul sepuluh kami mengakhiri diskusi malam itu. Selepasnya, orang-orang yang hadir tak ketinggalan berfoto bersama dengan artis ibukota berdarah Sulawesi itu. Kang Maman juga melayani booksigning para pembaca bukunya.

Tak berselang lama, tiba kala penulis Virus Akal Bulus itu melayani kedua orang teman saya melakukan wawancara untuk tabloid kampus. Saya menungguinya. Hujan mulai merintik lemah di luar sana, mengingatkan tentang kerinduan akan rumah, tempat pulang. Oh ya, nyatanya sepotong kalimat dari Kang Maman lekat terngiang di kepala saya,

“Seperti halnya kalimat, Tuhan menganugerahinya dengan jeda (peristirahatan), berupa koma, spasi, atau tanda titik. Dengan begitu, ia akan lebih bermakna,”

“Begitu pula dengan hidup. LIBUR menjadi jeda atas setiap rutinitas kita. Ketika huruf awal dan huruf akhirnya dihilangkan, menjelma IBU yang siap menjadi tempat kembali dan beristirahat kita sebaik-baiknya. Tanpanya, hidup akan kehilangan makna,”

Mendengarkannya, membuat kerinduan saya akan rumah semakin membuncah. Terkhusus Ibu. Betapa pengalaman selalu mengajarkan kita arti hidup yang sesungguhnya…


--Imam Rahmanto--

2 komentar: