Senin, 09 Maret 2015

Memaknai Hidup Lewat Lagu

Setiap orang menyukai musik. Meski berbeda genre, namun tak bisa dipungkiri kehadiran musik memberi beberapa penyegaran atas keseharian kita. Untuk beberapa orang yang mengenal dan mendalami musik, tak jarang mereka menjadikannya sebagai pelepas penat, pelepas rindu, hingga pengobat luka. Akh, mendengar musik memang selalu memunculkan riak-riak tersendiri di beberapa sudut otak. 

Karena tanggal 9 Maret diperingati sebagai Hari Musik Nasional, saya hendak sedikit berbagi tentang salah satu film yang berkisah tentang musik. Padahal review tentang film ini sebenarnya sudah lama nunggak di kepala.

***

Sumber: amazonaws.com

Seminggu lalu, saya baru saja menamatkan sebuah film yang menarik. Begin Again. Film beralur music story ini cukup menyita perhatian saya, lantaran menyisipkan salah satu vokalis band kenamaan, Maroon 5, Adam Levine, sebagai pemain tambahan.

Oke, sejujurnya, tidak semata-mata karena alasan itu saya meluangkan waktu untuk menontonnya. Lagipula saya bukan penggemar fanatik Maroon 5. Saya menontonnya justru karena tertarik melihat kilasan film yang menunjukkan beberapa adegan dimana Keira Knightley sedang mendendangkan lagu sembari memainkan gitar akustiknya. Dan…simsalabim…lagunya benar-benar membuat saya jatuh cinta. 

Nah, mengawali cerita film, penonton akan disuguhi adegan pembuka berupa penampilan akustik dari Gretta (Keira Knightley) di sebuah bar. Penampilan “dadakan” Gretta ternyata menarik perhatian seorang produser rekaman, Dan Mulligan (Mark Ruffalo), yang punya daya kepekaan tinggi terhadap musik-musik bagus.

Sebenarnya, kedua orang itu memiliki latar belakang kisah kehidupan yang buruk. Gretta baru saja putus dari pacarnya, Dave Kohl (Adam Levine), yang merupakan penyanyi terkenal. Dave ketahuan selingkuh dengan salah satu crew label rekamannya. Sementara itu, Dan yang telah lama bercerai dari istrinya, baru saja dipecat dari label rekamannya sendiri. Label rekaman yang sebenarnya ikut dirintisnya dari awal. Keduanya kemudian dipertemukan dalam satu ketertarikan yang sama; musik.

Saya suka dengan alur film ini. Kisahnya tidak bercerita tentang perjalanan karir musik mainstream. Gretta, yang diajukan Dan ke label rekamannya, ditolak mentah-mentah. Pasalnya, Gretta tidak memiliki demo lagunya sendiri.

Sumber: amazonaws.com

Keduanya lalu memutuskan untuk melakukan perekaman album secara indie dengan menggunakan peralatan seadanya. Budget secukupknya.  Mereka melakukan rekaman secara outdoor, dengan melibatkan personil yang direkrut dari orang-orang biasa. Tentu saja orang yang direkrut memiliki keterampilan memainkan alat musik tertentu.

Cukup menyenangkan melihat perjalanan Gretta membuat albumnya sendiri. Bersama Dan, ia merekam lagu yang ditulisnya di beberapa tempat di New York. Rekaman juga dilakukan dalam berbagai momen. Di puncak gedung, di bawah jembatan,  di atas perahu, di dalam kereta bawah tanah, Harlem, Chinatown, dan Katedral.

Dan Mulligan: "Kita tidak perlu demo. Ayo kita rekam album. Kau bahkan tidak memerlukan studio. Setiap lagu kita lakukan di tempat yang berbeda. Seluruh kota New York. dan kita melakukannya selama musim panas. Dan ini akan menjadi penghargaan untuk seluruh keindahan itu."
Gretta: "Oke. Di bawah jembatan sisi timur."
Dan Mulligan: "Di puncak Empire State Building."
Gretta: "Sambil mendayung perahu di Central Park."
Dan Mulligan: "Chinatown. Katedral Saint John the Divine. di bawah Kereta Bawah Tanah."
Gretta: "Lalu apa yang terjadi jika hujan mulai turun?"
Dan Mulligan: "Apapun yang terjadi, kita merekamnya."
Gretta: "Jika kita ditangkap?"
Dan Mulligan: "Tetap direkam! Pasti akan sangat indah."

Dalam perjalanan Indie Project itu, mulai tumbuh ketertarikan antara Gretta dan Dan. Apalagi keduanya memiliki latar belakang bad romance. Gretta pun akrab dengan anak gadis Dan, Violet (Hailee Syainfeld) yang punya masalah dalam pergaulan dan perkembangan sebagai remaja di sekolahnya.

Akan tetapi, tidak seperti yang (akan) dibayangkan, film ini tidak akan berakhir dengan “jadiannya” Gretta – Dan. Keduanya cukup dewasa untuk memaknai hubungan yang selama ini terjalin diantara keduanya. Dan, yang harus kembali pada istri dan anaknya. Sementara Gretta, berusaha memaafkan Dave yang sungguh-sungguh menyesali perbuatannya.

Sebagai film bertema musik, lagu-lagu soundtrack tentunya menjadi pemanis utama dalam film ini. Saya cukup dibuai oleh lagu-lagu yang dinyanyikan Gretta (Keira Knightley). Apalagi lagu terakhir yang digarapnya di puncak gedung, Tell Me If You Wanna Go Home. Di lagu itu, ia juga berduet dengan Violet.

Sesi guitar jamming antara Dan dengan Violet sungguh keren. Aransemen melodinya membuat adrenalin saya selalu bersemangat. Ada sisi emosional yang kemudian diselipkan dalam sesi interlude ayah dan anak itu. Melodinya keren!

Sumber: screen capture
Selain lagu yang dinyanyikan Adam Levine, lagu-lagu Keira seperti A Step You Can’t Take Back, Like A Fool, dan Coming Up Roses sangat keren untuk didengarkan. Bahkan, lagu Adam Levine, Lost Stars, juga menjadi lebih berwarna ketika dinyanyikan oleh Keira Knightley.

Sebagai penutup, film ini juga menegaskan bahwa Playlist is I am. Lagu-lagu yang sering didengarkan setiap orang terkadang menjadi refleksi kepribadian mereka. Kalau ingin menebak kepribadian orang lain, coba cek playlist lagu yang disimpannya. :)

Selamat Hari Musik Nasional!


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar