Senin, 30 Maret 2015

Strange

Maret 30, 2015
Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan berteman dengan seorang bule. Namanya Selim Celik. Ia menjadi guide berkeliling di salah satu taman wahana air terbesar di Makassar. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan teknis seputar wahana memang dikaitkan langsung dengan pekerjaannya. Oleh karena itu, dengan senang hati, ia menjawab segala pertanyaan saya dengan bahasa Indonesia-aksen Inggris- yang cukup lancar.

Ia berkebangsaan Turki. Mengaku sudah tiga bulan lebih menetap di Indonesia. Bahkan, kini ia punya pekerjaan tetap di perusahaan swasta yang bergerak di bidang properti dan perumahan terbesar di kota ini. Bermula dari pekerjaannya di perusahaan asal yang dikontrakkan dengan perusahaan properti tersebut.

Adalah hal yang menyenangkan bisa berteman dengannya. Bagi saya, hal semacam ini bisa menjadi kesempatan untuk memperdalam keterampilan bercakap Inggris. Saya selalu ingin belajar autodidak untuk bahasa yang satu ini. Belajar melalui lembaga-lembaga formal maupun English Camp, menurut saya, agak mainstream untuk dewasa ini. Dan menghabiskan banyak uang… -_-“

Akhir-akhir ini saya juga sedang mencari teman-teman dari luar negeri agar bisa langsung “dicelup” dalam mempraktekkan bahasa Inggris. Beruntung dipertemukan dengan Selim dan, oh ya, temannya, Mr. Aihan.

Kalau Selim lancar berbahasa Inggris, tidak demikian dengan Mr. Aihan. Ia hanya paham bahasa Inggris atau bahasa Turki. Akan tetapi, saya cukup mengapresiasinya. Apalagi Mr. Aihan dengan senang hati membagi nomor teleponnya pada saya. Ia mengaku tidak punya pin BBM. Bagi Mr. Aihan, nomor telepon sudah cukup menjadi alat komunikasi.

Ada satu hal menarik yang diungkapkan Selim tentang perangai atau perilaku orang Indonesia. Selama pengamatannya, ia ternyata melihat dan mulai membedakan beberapa sifat asli yang cenderung dimiliki oleh orang lokal.

“Orang Indonesia itu suka saling bombe’. Saya tidak suka itu,” ujarnya suatu waktu.

“Seperti apa maksudnya?” tanya saya penasaran.

“Contoh sederhana, kadang, kalau mereka bertengkar di rapat, dibawa sampai keluar. Satunya tidak mau makan di tempat yang ada orang dimusuhinya itu. Itu tidak baik,” ujarnya.

Ia melanjutkan, di negara asalnya, orang-orang saling menghargai pendapat satu sama lain. Kejujuran begitu ditekankan satu sama lain. Diam, bukanlah sifat yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang berkehidupan sosial.

“Kalau memang kamu punya masalah sama dia, bilang saja. Jangan didiamkan orangnya. Dipendam,”

“Di tempatku, orang-orang terbuka ngomong ke lainnya kalau ada yang tidak disukainya. Misalkan dia bilang saja; ‘saya tidak suka caramu begitu bla..bla…bla’ ke orang yang tidak disukainya. Kan jelas masalahnya. Tidak dibawa-bawa keluar,” lanjutnya.

Nampaknya Selim betul-betul mendalami perangai orang Indonesia. Saya sendiri yang lahir dan dibesarkan di tanah pertiwi ini tidak pernah jauh-jauh membandingkan perangai antar-negara. Salut. Meskipun lelaki kelahiran Istanmbul ini punya pribadi yang slengekan, namun ia juga cukup menghargai budaya-budaya yang berlaku di negeri ini. Terlebih ia sendiri pun masih seorang Muslim.

Kata-kata itu sebenarnya sudah lama disampaikannya. Namun, entah dalam wujud apa, mendadak saja mengusik realita saya belakangan ini. Ada hal-hal yang memang tak bisa dimengerti. Atau hal-hal yang memang tak ingin kita mengerti, sebatas menjaga diri agar tak terluka.

Perihal bombe’, nyatanya memang kerap kali terjadi di sekeliling hidup kita. Tak hanya soal pekerjaan. Orang-orang yang terlibat di dalamnya terkadang saling menjaga diri, saling menjauhi diri. Tak saling menegur. Asing. Strange to the other.

Bisa jadi satu sama lain kukuh mempertahankan prinsipnya. Keras kepala. Entahlah, apakah perihal “keras kepala” juga dikategorikan sebagai sifat dasar manusia Indonesia? Atau hanya sifat dasar anak pertama? Kapan-kapan saya harus menanyakannya pada Selim.

Nah, sudah seberapa Indonesia kah kita?

Perihal beberapa keping waktu yang telah berlalu, nyatanya saya masih memendam sebentuk kekecewaan. Abstrak. Memang, tak jelas wujudnya. Hingga saya harus menahan banyak hal di kepala. Hingga sebatas menahan laju lengkung di bibir. Sudahlah, mungkin, sudah saatnya saya kembali bersikap sebagaimana semestinya... #Sorry...


--Imam Rahmanto--

Rabu, 25 Maret 2015

Yang Terlewatkan*

Maret 25, 2015
Tanpa disadari, kegagalan hari ini terkadang menjadi refleksi atas kesalahan yang mungkin pernah kita lakukan di masa lalu. Bisa jadi kesalahan pada orang lain menghambat setiap langkah dewasa ini. Kita tak pernah menyadari bahwa ada orang-orang yang merasa teraniaya karena kita. Ia mendoakan keburukan untuk kita yang baru berlaku di masa sekarang atau masa mendatang.

Cappuccino di kafe itu, di suatu senja. (Foto: ImamR)
Di suatu sore yang nyaris menenggelamkan mata, saya dan dua orang teman berhenti di sebuah kafe. Ngopi (baca: cappuccino). Menikmati sore. Menatap senja yang memantul dari jendela gedung di seberang tempat kami menatap beranda. Sembari menanti teman lama lainnya yang hendak melepas kangen. Akh, dibilang kangen pun tak biasa. Hampir setiap minggu kami bisa bertemu seperti ini di sela kunjungannya ke Makassar dalam rangka pekerjaan atau sekadar bisnis.

Tempat yang sudah lama saya tak kunjungi. Tepat di belakang sebuah franchise junk-food di tepi jalanan kota. Terakhir kali, saya berkunjung kesana bersama teman-teman dari lembaga jurnalistik. Namanya pun dalam ingatan saya tak lagi sama dengan namanya sekarang. Sungguh berbeda.

“Ada banyak hal yang saya lewatkan ya?” kata seorang teman.

Perihal lama ia tak berjumpa dengan kami, sungguh memekakkan kepala. Yah, ada banyak kehidupan yang memang selalu dilewatkan. Tak hanya ia. Pun, saya merasa demikian. Setiap momen yang telah berlalu, nyaris sepelemparan masa ke belakang. Tak bisa lagi diraih. Hanya berbaur menjadi cerita-cerita biasa diantara kami. Seharusnya begitu.

Sebagaimana seorang teman perempuan, di malam itu, menjelaskan perihal masa lampaunya dengan teman lelaki itu. Mendetail, menjelaskan perkara muaranya. Jangan pernah membayangkan kami ada di dalam situasi film-film televisi dengan pertengkaran yang ditingkahi air mata. Berpikirlah yang biasa-biasa. Hanya saja,di balik masa lalu yang diulang, terkadang ada penyesalan yang hendak dibuang. Bukankah setiap orang ingin menjalani kehidupan lebih baik? 

Kesalahan teman lelaki saya yang mengambang di masa kemarin itu, mungkin memang ditanggapi dalam diam oleh si perempuan. Nyatanya, saya paham, dalam diam termaktub sejumlah kekecewaan, serupa menahan diri untuk membangun harapan yang lebih besar. Pun, tak berbeda, saya belakangan ini lebih banyak diam. Lumrah, manusia punya ego tak ingin menyakiti dirinya lebih jauh.

Dua orang teman saya itu, dipertemukan dalam keadaan canggung. Sekali waktu, dengarkanlah lagu Sheila On 7, berjudul Canggung. Tanpa tahu masing-masing akan datang berbagi cerita. Ada kekecewaan yang hakikatnya ingin disembunyikan. Tak perlu diumbar-umbar kepada orang lain di luar hubungan mereka dulu.

Sebetulnya, hal menarik untuk menjabarkan perjalanan asmara semacam itu. Menarik. Sebentuk pengakuan atas kekecewaan seorang perempuan menguap bersama cerita-cerita di masa lalu. Hal itu mendorong saya mengingat-ingat beberapa hal secara mendetail. Dan memaksa pengakuan lainnya lewat cerita yang telah saya bumbu-bumbui. Hahaha…maaf, terkadang rasa ingin tahu saya kelewat batas.

Ah, wajah-wajah yang masih kelihatan muda...
(Foto: mbak waitress, makasih)
Akan tetapi, saya belajar untuk menjadi orang yang tak ingin tahu. Sedikit saja. Karena terkadang, keingintahuan itu hanya berujung pada kekecewaan.  Saya berusaha tidak merepotkan keduanya dengan tingkat penasaran yang lebih jauh. Cukuplah perjalanan panjang itu diketahui lima-anak-muda-tak-ada-kerjaan.

Kesalahan bukan untuk diumbar, melainkan lahan belajar demi membuka masa mendatang yang lebih baik.

Di balik temu singkat itu, tetap saja ada rencana yang hendak dibukukan sepekan ke depan. Semoga terlaksana. Di ujung temu waktu yang nyaris menunjuk angka sepuluh itu, kami akan berjumpa lagi. Saya mempercayainya.

Pertemuan memang selalu menjadi waktu terbaik menjaring kenangan. Ingatan yang saling merangkul satu-satu. Dipilih bersamaan demi membangunkan ingatan yang lain. Berbagi kebahagiaan. Berbagi kekecewaan. Berbagi keresahan. Berbagi kesalahan. Berbagi kejujuran. Hingga berbagi kerinduan, yang mungkin selama ini dipendam dalam diam.

Untuk itu, mari bertemu, sembari meningkahi kehangatan secangkir cappuccino … ^^


*Now Playing: Sheila On 7 – Yang Terlewatkan


--Imam Rahmanto--


Di waktu yang sekian lama itu, pada kenyataannya tak ada dari kami yang berubah. Kami masih saja kami yang dulu. Di mata saya, setiap orang seharusnya berubah. Atau mungkin sekilas pandangan mata saja, tak ada yang berubah. Namun dalam hati, setiap orang mulai mengembangkan potensi dirinya masing-masing. Entahlah. 

Sabtu, 21 Maret 2015

Rumah yang Tertinggalkan

Maret 21, 2015
Ada sebuah rumah. Tak berbilang tua. Tak berbilang muda. Terusir penghuninya. Tertinggalkan pemiliknya. Terabaikan tetangganya. Tertanggalkan masanya.

Diantara jejeran rumah, ia mendesak di ujung kompleks. Jaraknya hanya sepelemparan batu dari pintu gerbang, yang terkadang menyesatkan para pencari alamat. Apa pasal?

Ternyata para pencari alamat bersangkutan, menyangka kompleks perumahan itu bukan bagian dari kompleks perumahan yang dicarinya.

“Akh, pintu masuk kompleks ini memang ada di ujung sana, agak jauh. Gerbang ini bisa dibilang ‘pintu belakang’ saja,” ujar setiap orang yang selalu berseliweran di sepanjang jalan kompleks itu. Satu-dua merupakan penghuni rumah itu, yang menyetia selama 4 tahun.

Tersedialah sebuah masjid. Ladang ibadah bagi penjaga amaliah. Masjid yang berseberangan-belakang dengan rumah yang terpinggirkan itu saban hari meraup wajah-wajah penuh hikmah. Halamannya lapang. Dipagari, baru beberapa bulan kemarin.

Saban sore, di depan pagar masjid yang belum menutup, seorang padagang bakso menanti pelanggan. Penghasilannya kemarin tak serumit sekarang. Ia masih ingat, dan akan selalu ingat, riuh rendah penghuni rumah di seberang matanya. Kala saatnya tiba, ia akan mendengar suara-suara meninggi yang menjelma rezeki dari rumah itu…

Tanpa henti siang-malam, seorang penjaga tua terpaku di tempatnya. Tepat di sisi pagar masjid yang belum menutup. Tugasnya sederhana. Menjaga keamanan dan membuka-tutup portal, yang baru dibangun jelang beberapa bulan kemarin. Mungkin, sesekali, ia pun merindukan suara-suara sengau para aktivis di ujung kompleks. Tak peduli siang, atau malam, warga selalu mengeluhkannya. Sementara sepanjang tugasnya, ia ingat para aktivis itu tak pernah luput sekadar berbagi cemilan malam buatnya. Yah, dari rumah itu juga…

Kini, rumah itu kosong. Meninggalkan suka. Melehkan duka. Merapalkan ingatan setiap orang, yang pernah berdiam di dalamnya.

Kami menyebutnya redaksi. Sapaan akrab bagi kami mahasiswa yang bergelut di dunia jurnalistik. Sebuah rumah sempit, tepat di ujung jalan. Rumah yang sejak awal dikenalkannya, menampung para pegiat jurnalistik kampus. Para aktivis yang terusir dari kampusnya sendiri. Pegiat fakta bagi orang-yang orang lemah, katanya.

Kosong. Tak ada lagi kepala-kepala yang saban hari berteriak dan diteriaki. “Deadline!” Tak ada lagi tangis yang disembunyikan di bilik-bilik ruang. Tetangga sebelah tak bakal lagi menggugat lantaran suara musik sampai ubun-ubun di lelap gulita. Sungguh keterlaluanlah kami. Tak pernah tidur sepanjang malam. Meramu dan mengolah tulisan untuk dikabarkan. Sesekali hanya mengobrol di depan rumah, menjaring pagi. Atau beradu status di jejaring sosial yang menggantung di langit-langit rumah.

Tentang langit-langit rumah, takkan ada lagi pemuda-pemuda nekat yang suka memanjat atap rumah dengan beragam alasan. Membetulkan  atap rumah, mendirikan penyangga antena (Psstt…tak usah bercerita tentang kejadian mistis di atap rumah itu), atau menjemur pakaian. Bahkan, di kala bulan memantulkan sinar merahnya, sekumpulan anak muda duduk dan berdiri di atas sana hanya untuk mengabadikannya. Beruntunglah mereka tak diteriaki tetangga dan komplotannya.

Kini, rumah itu tak memantulkan sinar apa-apa. Kelam. Tertinggalkan. Mungkin, kursi-kursinya semakin lapuk ditetesi hujan dari atap yang bocor.  Gudang belakangnya tak lagi berisi barang bekas atau koran peninggalan zaman dulu. Kamar mandinya masih tak tergugat oleh kloset yang menghadap ke arah orang beribadah. Entahlah, pemiliknya berpikir apa ketika membangunnya. Sama ketika pemiliknya menetapkan rumah itu telah jatuh tempo.

Orang-orang lewat akan bertanya, “Kemana orang yang pernah tinggal disini?” Kami tak pernah bisa membayangkan arah jawabannya. Harus yang menyenangkan atau mengesalkan? Harus tersenyum atau datar saja? Toh, tetangga hanya mengenal kami dari mulut ke mulut atau sekadar membaca papan nama redaksi kami.

Penjaga tua takkan bertemu lagi dengan lelaki muda yang saban pagi berjalan menembus portal sembari melemparinya senyum. Ia mungkin takkan pernah tahu, pemuda itu bangun pagi-pagi sekadar menikmati hangatnya mentari sembari menyeruput cappuccino kesukaannya.

Pedagang bakso takkan bertemu lagi rezekinya yang menjelma dari rumah itu. Sekali waktu, ia hanya bisa melepas rindu dengan satu-dua orang dari mereka. “Saya biasa beli bakso disana sore-sore. Itung-itung lihat kondisi rumah dan beramah-tamah dengan Mas-nya,” tutur salah seorang teman. Akh, sungguh rumah itu pernah menjadi bagian kehidupan kami.

Oiya, hampir lupa, pencuri-pencuri di sekitar kompleks tak perlu lagi repot mengamati rumah itu dari jauh. Rumah tak berpenghuni, tak menggugah nafsu buat dicuri.

***

Pandangan saya selalu tertuju pada rumah kusam itu. Setiap kali melewati jalan raya di ujung gerbang, ada ingatan yang mendesak keluar bahwa, “Kami pernah disini.”

***

Lulus kuliah seperti berpindah dari rumah lama ke rumah baru. Kita harus siap beradaptasi dengan rumah baru yang akan menampung di bagian hidup selanjutnya. Rumah lama, mungkin akan menjadi persinggahan sementara, sekadar mengenang dan menampung masa yang telah berlalu.


--Imam Rahamanto--

Rabu, 18 Maret 2015

Tentang Hidup yang Dikisahkan Kembali

Maret 18, 2015
Hujan mengguyur kota kami tanpa aba-aba. Saya dan seorang teman sedang dalam perjalanan menuju acara komunitas Blogger Angging Mammiri di Kedai Pojok (Kepo). Talkshow yang menghadirkan tokoh jurnalistik kenamaan sebagai pembicaranya ini cukup menggugah minat kami menembus derai hujan. Dari langit, hujan jatuh menderas, sesekali merintik. Sembari mengemudikan motornya, teman saya kuyup dibuatnya.

Beberapa jam sebelumnya, saya juga sudah mengabari teman-teman lain via social media. Apalagi acara-acara seperti ini memang selalu punya tingkat proximity (kedekatan) yang tinggi dengan kami. Sebagai mahasiswa yang bergelut di bidang jurnalistik, kami harus banyak menimba ilmu, baik dari lapangan maupun pengalaman. Dimana saja. Kapan saja. Dari siapa saja.

Sumber: @paccarita
Dan malam itu, satu kesempatan mempertemukan kami dengan seorang pelaku jurnalistik yang telah banyak malang-melintang di dunia media. Adalah kang Maman Suherman, yang telah banyak berkecimpung di dunia jurnalistik hingga jalur infotainment. Pengalamannya sebagai pelaku media tentunya bisa menjadi benih bagi kami dalam menetapkan akal dan hati di dunia penuh tantangan itu.

Meskipun ia lebih banyak dikenal orang lewat acara Indonesia Lawak Klub (ILK). Apalagi orang Indonesia punya kecenderungan yang labil terhadap televisi. Seseorang dianggap “punya-nama” atau populer, kalau ia sudah sering muncul di layar kaca. 

Mm…sejujurnya saya pun baru mengenal kang Maman setelah kemunculan rutinnya di ILK sebagai NoTulen. Kelak, malam itu, saya juga baru tahu bahwa perancang sekaligus pemrakarsa acara itu adalah Maman Suherman, yang hanya kebagian satu segmen terakhir di tiap acara.

Tiba di tempat acara, kami berpapasan dengan Kang Maman yang juga baru saja tiba. Mungkin, tanpa disadarinya, kami beriringan jalan dengannya. Dari jarak beberapa meter, saya sudah bisa mengenalinya. Perawakannya yang selalu tampil botak sudah menjadi ciri khasnya.

“Inilah Kang Maman yang sering “menggugat” lewat kata-kata menyentilnya di televisi!” seru saya dalam hati.

***

Sumber: Septian Side

Kang Maman mengawali kisahnya dengan bercerita muasal namanya. Ia mengaku, nama yang kini ia sandang sebenarnya bukan nama aslinya. Sejak lahir di Bontonompo, Sungguminasa, ia dihadiahi nama oleh ibunya M. Suherman. “M”-nya berasal dari kata “Muhammad”. Akan tetapi, tiba di Sumedang tempatnya pindah sekolah, namanya “diplesetkan” oleh lidah gurunya menjadi “Maman”. Akh, kita senasib, Kang. Gara-gara ijazah, nama keliru bisa mendarah daging.

“Guru saya terlalu kreatif, suka manggil-manggil ‘Man, Maman’. Apalagi orang disana (Sumedang) memang akrab dengan nama Maman. Makanya sampai di ijazah pun diabadikan jadi Maman,” tutur lelaki yang menamatkan kuliahnya di Universitas Indonesia (UI) ini.

Sumber: @ShoutCap
Dalam diskusi malam itu, secara umum Kang Maman lebih banyak bercerita tentang behind the scene penulisan buku-bukunya. Salah satu bukunya, “Re:”, terinspirasi dari kisah dan pengalamannya sendiri. Pengalamannya itu didapat selama ia menuliskan skripsi yang mengangkat masalah LGBT (Lesbian, Guy, Biseksual, dan Transgender).

“Di jurusan saya, Kriminologi, skripsi itu harus hasil investigasi. Bukan sekadar teori dan data-data statistik. Kita meneliti harus terjun sendiri ke lapangan, mengamati, namun tak boleh terlibat langsung,” kisahnya bersemangat mengenang masa-masa kuliahnya.

Wajar jikalau lelaki keturunan tentara ini akhirnya sangat mengenal seluk-beluk “dunia hitam” LGBT di Indonesia. Sebut saja, pelacuran, perdagangan manusia, pemerkosaan, hingga pembunuhan pernah ditemuinya dalam proses menyudahi studi kuliahnya dulu. “Saya sudah pernah merasakan, bagaimana nyawa manusia tidak lebih berharga ketimbang uang,” ungkap lelaki yang pernah menjadi Pemimpin Redaksi Kelompok Kompas Gramedia ini.

Berawal dari pengalaman (skripsi) itulah, dan pertemuannya dengan seorang perempuan pekerja seks yang dipanggilnya Rere, ia menuangkan segala bentuk “kesadisan” dunia kelam itu. Kang Maman mengaku, buku yang kini dicetak bersampul Ungu itu hanyalah sebagian dari 400-an halaman naskah aslinya. Karena ia sendiri masih menyimpan naskah lainnya yang tidak dipublikasikan meluas oleh penerbit.

“Karena masalah LGBT masih sangat sensitif di Indonesia, makanya penerbit juga berhati-hati untuk menerbitkannya,” kata lelaki yang pernah menjadi host acara Mata Hati ini. Beruntung, naskahnya ditawari untuk dibuatkan serial film di stasiun luar negeri HBO.

Saya melihat, betapa mendalamnya Kang Maman ketika tiba di pembahasan seorang perempuan yang bernama Re itu. Meskipun Re bukan nama aslinya, namun betapa Kang Maman menghargai perjuangan hidup salah seorang pekerja seks itu. Perempuan itu rela hidup demi kehidupan anaknya. Ia pun mati, tanpa pernah melupakan anaknya.

“Dari pengalaman-pengalaman itu, saya tersadar akan sesuatu. Kita seringkali menghakimi orang lain kotor, sementara mengklaim diri sendiri bersih. Sementara bukan tugas kita melabeli orang lain, apakah mereka berdosa, apakah mereka bejat, apakah mereka kafir, atau masuk neraka sekalipun. Kita tak punya hak sama sekali. Karena yang berhak adalah Tuhan Yang Maha Kuasa,” pesan Kang Maman, yang mengaku hingga kini masih intens berkomunikasi dengan anak Rere dan berencana membuatkan novel keduanya.

“Apa saya akan masuk neraka, Man?” Re bertanya padanya.

Sejenak, Kang Maman hanya terdiam, dan menjawab pelan, “Soal pahala dan dosa, bukan saya yang menentukan. Itu adalah hak prerogatif Tuhan. Oleh karena itu, rayulah Tuhan dengan banyak berbuat baik.”

Lama saya terhanyut di setiap pengalaman yang diceritakan Kang Maman. Saya tak menyadari, kursi dan meja di Kedai Pojok tidak mampu menampung orang-orang yang antusias ingin mendengar cerita Kang Maman. Para peserta talkshow yang tidak kebagian kursi dengan sukarela berdiri di luar kedai sembari tetap menyimak pemaparan pengalaman dari Kang Maman. Saat hujan mengguyur, mereka tetap berdiri sembari berteduh ke bagian kedai yang tak terkena hujan. Bergabung bersama peserta lainnya yang sudah lebih dulu mendapatkan tempat duduk.

Sumber: goodreads.com
Buku lainnya, Bokis (1 dan 2), bercerita tentang pengalaman Daeng Mamang, begitu moderator acara malam itu menyapanya, sebagai seorang jurnalis. Apalagi semasa menjalankan tugas medianya, ia banyak berkenalan dengan para pesohor, baik artis maupun pejabat negeri.

Lewat bukunya, konseptor penghargaan Panasonic Gobel Award ini mengulik semua “kelicikan” para pesohor di balik kamera. Mulai dari pencitraan artis dan pejabat, skenario film, rating, sensasi, hingga kerja-kerja kewartawanan itu sendiri. Semua dibahasnya tanpa ampun.

“Gara-gara buku ini, saya banyak dimusuhi para wartawan dan artis. Sampai-sampai ada ancaman-ancaman tak mengenakkan,” aku lelaki yang sangat mencintai dunia jurnalistik ini.

Ia menganggap, demi melahirkan moral jurnalistik yang baru, bagian itu harus diketuk dan “dipecahkan” dari dalam, selayaknya telur yang hendak menetaskan kehidupan baru.

Akh, sebagai orang yang beberapa kali menjalankan tugas-tugas jurnalistik, nampaknya saya bisa memahami beberapa pengalaman Kang Maman. Dunia jurnalistik memang terkadang adalah dunia yang ada di belakang kamera. Namun, di balik dunia itu, masih ada dunia lainnya. Behind of behind the scene, begitu saya menyebutnya. Di satu sisi, saya terkadang ingin tertawa menyaksikannya. Di sisi lain, terkadang kita dibuat berkonflik dengan diri sendiri hingga menyasar konflik orang lain.

Akan tetapi, pengalaman yang terpetik dari NoTulen ILK malam itu semakin mengukuhkan keinginan saya untuk berkecimpung di dunia jurnalistik. Apa yang saya tuliskan, sejatinya memang harus bersifat enlightment dan enrichment, seperti kata kang Maman. Tidak sekadar menulis demi memenuhi ego diri atau permintaan pasar. Bahkan dimulai dari rumah sederhana ini, segala tulisan pun harus bersifat mencerahkan. Karena saya percaya, tulisan mencerminkan sekerat bagian jiwa dari penulisnya.

***

Jelang pukul sepuluh kami mengakhiri diskusi malam itu. Selepasnya, orang-orang yang hadir tak ketinggalan berfoto bersama dengan artis ibukota berdarah Sulawesi itu. Kang Maman juga melayani booksigning para pembaca bukunya.

Tak berselang lama, tiba kala penulis Virus Akal Bulus itu melayani kedua orang teman saya melakukan wawancara untuk tabloid kampus. Saya menungguinya. Hujan mulai merintik lemah di luar sana, mengingatkan tentang kerinduan akan rumah, tempat pulang. Oh ya, nyatanya sepotong kalimat dari Kang Maman lekat terngiang di kepala saya,

“Seperti halnya kalimat, Tuhan menganugerahinya dengan jeda (peristirahatan), berupa koma, spasi, atau tanda titik. Dengan begitu, ia akan lebih bermakna,”

“Begitu pula dengan hidup. LIBUR menjadi jeda atas setiap rutinitas kita. Ketika huruf awal dan huruf akhirnya dihilangkan, menjelma IBU yang siap menjadi tempat kembali dan beristirahat kita sebaik-baiknya. Tanpanya, hidup akan kehilangan makna,”

Mendengarkannya, membuat kerinduan saya akan rumah semakin membuncah. Terkhusus Ibu. Betapa pengalaman selalu mengajarkan kita arti hidup yang sesungguhnya…


--Imam Rahmanto--

Senin, 16 Maret 2015

Bekerja dan Passionnya

Maret 16, 2015
Dunia kerja merupakan dunia yang penuh kompetisi. Bagi kebanyakan orang, mencari pekerjaan selepas kuliah jauh lebih sulit ketimbang menyelesaikan studi tepat waktu. Penyelesaian studi, terkadang hanya sebatas ketentuan formal yang harus dilalui sebelum melangkahkan kaki ke dunia nyata. Sementara pada realitasnya, indeks prestasi yang diperoleh selepas masa kuliah tidak banyak membantu untuk mengatasi rasa-rasa pengangguran.

Mungkin, kalimat “Selamat menambah jumlah pengangguran,” yang ditujukan bagi mahasiswa yang telah tamat bukanlah isapan jempol belaka atau sekadar gurauan iseng. Para sarjanawan atau sarjanawati sejatinya sudah menyadari kelanjutan mereka. Selepas kuliah, mau kemanakah kita?

Pertanyaan“Kapan wisuda?” ternyata dilanjutkan lagi dengan pertanyaan, “Sudah kerja apa sekarang?” Pertanyaan ini, menurut teman-teman kebanyakan, jauh lebih menohok. Serius! Demi menghindarinya, beberapa orang rela “melarikan diri” dengan melanjutkan studinya ke program Magister.

Hal semacam ini, saya merasainya sendiri. Meskipun secara seremoni saya belum dinyatakan sebagai alumnus, namun secara teknis, saya bukan lagi mahasiswa di jurusan Matematika. Saya masih punya alibi sebagai “mahasiswa” jika dikenai pertanyaan tentang pekerjaan. Pikiran akan melanglang buana, memikirkan kelanjutan dari status sarjana yang bakal melekat selamanya. Saya tak pernah kepikiran menyematkannya kepada nama.

Yah, soal pekerjaan memang yang paling utama. Bahkan, bagi sebagian orang, akar dari pendidikan itu sendiri adalah demi memperoleh pekerjaan. Ujung-ujungnya pekerjaan, bukan? Lantas, ketika pendidikan telah dilalui, apakah pekerjaan itu terjamin? Jelasnya, tidak.

Ternyata untuk memperoleh pekerjaan, dibutuhkan keterampilan (skill) yang memadai. Indeks prestasi tidak menjadi jaminan bahwa pekerjaan akan menghampiri begitu saja. Jurusan semasa kuliah pun tak pernah mengarahkan bahwa pekerjaan kelak bisa linear dengan background ilmu yang dimiliki.

"Berapa nilai IPK-mu?" bukan menjadi pertanyaan pamungkas di kala para sarjana mencari pekerjaan. Para pencari kerja justru mengabaikan tentang indeks prestasi itu dan mengajukan pertanyaan lain, "Keterampilan apa yang kau miliki?"

Banyak diantara teman-teman sejurusan saya yang berprofesi di luar bidangnya sebagai tenaga pendidik. Ada yang bekerja di bank, marketing suatu perusahaan, wartawan, sales, hingga mendirikan perusahaan sendiri. Padahal, semenjak kuliah, kami hanya diajarkan tentang “bagaimana menjadi guru yang baik dan benar”. Berbahagialah mahasiswa yang masih tetap memegang teguh amanat mendidik hingga lepas kuliah. 

Sumber: googling

Keterampilan-keterampilan di luar “mengajar” itu memang diperoleh secara autodidak. Masing-masing memiliki minat dan passion yang ingin dikembangkan. Seperti halnya saya, yang lebih tertarik ke bidang kepenulisan dan jurnalistik. Sementara keterampilan mata kuliah, mungkin, hanya menjadi bumbu-bumbu demi memuluskan jalan menuju gerbang kelulusan.

Apa yang diinginkan dan keterampilan apa yang dimiliki, harus dijalankan secara simultan. Kalau para sarjana tak punya “kelebihan” dibanding yang lainnya, kelak para sarjana hanya akan menempati urutan ke sekian dari pengangguran-pengangguran terpuruk di negeri ini. Akh, saya tak ingin menjadi salah satunya. Sungguh beruntung teman-teman saya yang kini sudah menemukan passion-nya dan mengembangkannya dalam suatu pekerjaan. Baik dalam bidang mengajar, maupun di bidang lain.

Pada dasarnyaa, mengasah keterampilan adalah hal terpenting. Beberapa sarjana terkadang bingung hendak menjawab apa, di kala ditawari lowongan pekerjaan.

"Masih belum dapat kerja ya?"

"Iya."

"Memangnya mau bekerja apa?"

"Hm..apa saja. Daripada pusing ka ini ndak ada dikerja,"

"Kenapa ndak coba melamar di bank?" saran saya ngasal. Biasanya, tempat pelarian kerja yang paling populer, ya, bank.

"Sudah ka masukkan lamaran. Tapi masih nunggu balasan," jawab teman. Masih saja dengan wajah menggalau jika ditanyai terkait kerjaan.

Soal kehidupan di dunia nyata memang selalu menjadi buah pemikiran. Selepas kuliah, kita sudah harus mulai memikirkan diri sendiri. Kita dipaksa membangun jalan hidup sendiri, tanpa menyusahkan orang tua dan keluarga. Bagaimana caranya bertahan hidup, hingga bagaimana caranya menghidupi orang lain. Tentang menghidupi orang lain, ada taraf yang berbeda antara “sebelum” dan “setelah” menikah.

Pun, saya memilih pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang ingin saya geluti. Tidak sekadar “asal-kerja” demi menghilangkan label pengangguran. Karena bekerja, seyogyanya, menjadi tujuan hidup yang harus dipikirkan matang-matang.

“Kalau mau bekerja ikhlas, maka bekerjalah sesuai passion. Kau akan menemukan, sejauh mana kebahagiaan kerja, tidak ditentukan oleh banyaknya penghasilan kerja.”

Dan, kalau kata film Bollywood, ABCD (Anybody Can Dance);


"Jika kau tak suka dengan pekerjaanmu, maka kau takkan bisa adil. Kau harus melakukan hal yang kau suka." --ABCD, film--

***

Seminggu belakangan, saya sedang memikirkan membangun sebuah jaringan usaha dengan beberapa teman. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penyedia layanan jasa, yang akan menghubungkan banyak perusahaan lainnya. Saya bermimpi membangun perusahaan ini, sembari tetap bekerja mengikuti passion pribadi.

Beruntung, di tengah-tengah kami sementara merumuskannya di kepala, beberapa jalan sudah mulai terbuka. Saya mensyukurinya. Untuk saat ini, learning by doing satu-satunya menjadi pedoman kami.

Memang, memulai sesuatu adalah pekerjaan tersulit. Apalagi terkait memulai sebuah usaha. Namun saya percaya, setelah berhasil memulai sesuatu, maka kelak perjalanan akan terasa lebih ringan. Seperti kata teman saya, yang didapatinya dari chat facebook,

“Tidak ada sesuatu terlalu mudah seperti yang diinginkan. Akan tetapi, tak ada pula sesuatu yang terlalu sulit seperti yang ditakutkan.”

Selamat datang, dunia kerja! :)


--Imam Rahmanto-- 

Senin, 09 Maret 2015

Memaknai Hidup Lewat Lagu

Maret 09, 2015
Setiap orang menyukai musik. Meski berbeda genre, namun tak bisa dipungkiri kehadiran musik memberi beberapa penyegaran atas keseharian kita. Untuk beberapa orang yang mengenal dan mendalami musik, tak jarang mereka menjadikannya sebagai pelepas penat, pelepas rindu, hingga pengobat luka. Akh, mendengar musik memang selalu memunculkan riak-riak tersendiri di beberapa sudut otak. 

Karena tanggal 9 Maret diperingati sebagai Hari Musik Nasional, saya hendak sedikit berbagi tentang salah satu film yang berkisah tentang musik. Padahal review tentang film ini sebenarnya sudah lama nunggak di kepala.

***

Sumber: amazonaws.com

Seminggu lalu, saya baru saja menamatkan sebuah film yang menarik. Begin Again. Film beralur music story ini cukup menyita perhatian saya, lantaran menyisipkan salah satu vokalis band kenamaan, Maroon 5, Adam Levine, sebagai pemain tambahan.

Oke, sejujurnya, tidak semata-mata karena alasan itu saya meluangkan waktu untuk menontonnya. Lagipula saya bukan penggemar fanatik Maroon 5. Saya menontonnya justru karena tertarik melihat kilasan film yang menunjukkan beberapa adegan dimana Keira Knightley sedang mendendangkan lagu sembari memainkan gitar akustiknya. Dan…simsalabim…lagunya benar-benar membuat saya jatuh cinta. 

Nah, mengawali cerita film, penonton akan disuguhi adegan pembuka berupa penampilan akustik dari Gretta (Keira Knightley) di sebuah bar. Penampilan “dadakan” Gretta ternyata menarik perhatian seorang produser rekaman, Dan Mulligan (Mark Ruffalo), yang punya daya kepekaan tinggi terhadap musik-musik bagus.

Sebenarnya, kedua orang itu memiliki latar belakang kisah kehidupan yang buruk. Gretta baru saja putus dari pacarnya, Dave Kohl (Adam Levine), yang merupakan penyanyi terkenal. Dave ketahuan selingkuh dengan salah satu crew label rekamannya. Sementara itu, Dan yang telah lama bercerai dari istrinya, baru saja dipecat dari label rekamannya sendiri. Label rekaman yang sebenarnya ikut dirintisnya dari awal. Keduanya kemudian dipertemukan dalam satu ketertarikan yang sama; musik.

Saya suka dengan alur film ini. Kisahnya tidak bercerita tentang perjalanan karir musik mainstream. Gretta, yang diajukan Dan ke label rekamannya, ditolak mentah-mentah. Pasalnya, Gretta tidak memiliki demo lagunya sendiri.

Sumber: amazonaws.com

Keduanya lalu memutuskan untuk melakukan perekaman album secara indie dengan menggunakan peralatan seadanya. Budget secukupknya.  Mereka melakukan rekaman secara outdoor, dengan melibatkan personil yang direkrut dari orang-orang biasa. Tentu saja orang yang direkrut memiliki keterampilan memainkan alat musik tertentu.

Cukup menyenangkan melihat perjalanan Gretta membuat albumnya sendiri. Bersama Dan, ia merekam lagu yang ditulisnya di beberapa tempat di New York. Rekaman juga dilakukan dalam berbagai momen. Di puncak gedung, di bawah jembatan,  di atas perahu, di dalam kereta bawah tanah, Harlem, Chinatown, dan Katedral.

Dan Mulligan: "Kita tidak perlu demo. Ayo kita rekam album. Kau bahkan tidak memerlukan studio. Setiap lagu kita lakukan di tempat yang berbeda. Seluruh kota New York. dan kita melakukannya selama musim panas. Dan ini akan menjadi penghargaan untuk seluruh keindahan itu."
Gretta: "Oke. Di bawah jembatan sisi timur."
Dan Mulligan: "Di puncak Empire State Building."
Gretta: "Sambil mendayung perahu di Central Park."
Dan Mulligan: "Chinatown. Katedral Saint John the Divine. di bawah Kereta Bawah Tanah."
Gretta: "Lalu apa yang terjadi jika hujan mulai turun?"
Dan Mulligan: "Apapun yang terjadi, kita merekamnya."
Gretta: "Jika kita ditangkap?"
Dan Mulligan: "Tetap direkam! Pasti akan sangat indah."

Dalam perjalanan Indie Project itu, mulai tumbuh ketertarikan antara Gretta dan Dan. Apalagi keduanya memiliki latar belakang bad romance. Gretta pun akrab dengan anak gadis Dan, Violet (Hailee Syainfeld) yang punya masalah dalam pergaulan dan perkembangan sebagai remaja di sekolahnya.

Akan tetapi, tidak seperti yang (akan) dibayangkan, film ini tidak akan berakhir dengan “jadiannya” Gretta – Dan. Keduanya cukup dewasa untuk memaknai hubungan yang selama ini terjalin diantara keduanya. Dan, yang harus kembali pada istri dan anaknya. Sementara Gretta, berusaha memaafkan Dave yang sungguh-sungguh menyesali perbuatannya.

Sebagai film bertema musik, lagu-lagu soundtrack tentunya menjadi pemanis utama dalam film ini. Saya cukup dibuai oleh lagu-lagu yang dinyanyikan Gretta (Keira Knightley). Apalagi lagu terakhir yang digarapnya di puncak gedung, Tell Me If You Wanna Go Home. Di lagu itu, ia juga berduet dengan Violet.

Sesi guitar jamming antara Dan dengan Violet sungguh keren. Aransemen melodinya membuat adrenalin saya selalu bersemangat. Ada sisi emosional yang kemudian diselipkan dalam sesi interlude ayah dan anak itu. Melodinya keren!

Sumber: screen capture
Selain lagu yang dinyanyikan Adam Levine, lagu-lagu Keira seperti A Step You Can’t Take Back, Like A Fool, dan Coming Up Roses sangat keren untuk didengarkan. Bahkan, lagu Adam Levine, Lost Stars, juga menjadi lebih berwarna ketika dinyanyikan oleh Keira Knightley.

Sebagai penutup, film ini juga menegaskan bahwa Playlist is I am. Lagu-lagu yang sering didengarkan setiap orang terkadang menjadi refleksi kepribadian mereka. Kalau ingin menebak kepribadian orang lain, coba cek playlist lagu yang disimpannya. :)

Selamat Hari Musik Nasional!


--Imam Rahmanto--

Selasa, 03 Maret 2015

Usai Itu...

Maret 03, 2015
Saya sering bercanda kepada teman-teman lainnya bahwa batas “ketuaan” seseorang itu diukur dari selesai atau tidaknya mereka menjalani studi. Saya iseng saja membuat ketentuannya sendiri. Seseorang dianggap tua jika sudah melewati batas kemahasiswaannya. Atau dalam artian, ia sudah menyelesaikan studinya.

“Saya masih muda. Orang dianggap tua itu kalau dia sudah selesai kuliah,” canda saya kepada teman-teman yang telah duluan sarjana. Saya harus membalasnya demikian jika mereka memberondong dengan pertanyaan, "Kapan selesai?"

Kini, setelah menjalani proses yudisium beberapa hari lalu, yang tergolong dadakan, saya menyadari sesuatu. Label “tua” lalu tersemat otomatis pada saya. Ehm..saya tak perlu menampiknya. Untuk kali ini, biarlah. Kedewasaan akan tiba pada masanya. Seseorang memang sudah masanya harus menyadari tanggung jawab maupun tugasnya sebagai "orang-yang-tak-lagi-muda".

Kedewasaan pada tahap ini mulai diperhitungkan. Pun, tanggung jawab terukur dari sini. Bukan lagi soal bergantung pada orang tua. Melainkan ia yang seharusnya menjadi tempat bergantung orang lain, khsususnya keluarga.

“Mau lanjut S2?”

Sebagian teman tak lepas menanyakan hal itu. Sejujurnya, saya tak begitu berkeinginan untuk melanjutkan ke jenjang studi “kedua” itu. Dunia nyata, dunia kerja, lebih memberikan porsi yang lebih besar pada animo saya sebagai orang yang baru lulus kuliah. Di samping saya ingin mencari pengalaman yang lebih nyata, saya harus berpikir menyokong kebutuhan keluarga.

Sumber: google.com
Sejatinya, saya memang berpikir bagaimana sedikit-sedikit memapah kondisi keluarga. Bahkan, untuk urusan seremonial kelulusan, saya tak begitu berharap banyak. Sesegera mungkin saya harus bisa membantu meringankan beban disana, maka sebaik itu kondisi akan membaik. Sungguh, apa yang terlihat oleh mata, tak selalu itu yang tampak terjadi.

Bagi saya, melanjutkan pendidikan memang cukup penting. Bahkan, kelak, saya tak mau anak-cucu saya hanya berhenti pada tahap pendidikan kuliah saja. Sebagaimana yakinnya saya, semua orang tua mengharapkan hal demikian. Mana ada orang tua yang tidak menginginkan anaknya lebih berhasil ketimbang dia? 

Namun di satu sisi, saya harus menyusun skala prioritas. Karena hidup adalah pilihan. Bahkan tak memilih pun kita sudah dianggap memilih. Pilihan-pilihan yang ada, dan disodorkan pada saya harus dipilih. Berani memilih, artinya berani dengan segala konsekuensinya. Dan kini, prioritas itulah yang kemudian harus dijalani.

Kini, setelah saya dianggap telah menyandang gelar sarjana yang sepatutnya, saya masih harus menanti prosesi upacara penamatannya; wisuda. Saya tak lagi pusing memikirkannya, atau mengejar target penyelesaiannya dua bulan mendatang. Toh, saya telah menyelesaikan studi. Acara itu hanya seremonial sekaligus ramah tamah dengan keluarga mahasiswa. Tak perlu memaksakannya. Saya harus menerima bahwa; uang masih mengendalikan beberapa hal.

Bukan hanya ketika lulus kuliah orang tua bisa bangga pada anak-anaknya. Bukan ketika mereka hadir di acara yang menjadi perayaan ratusan alumni itu. Sejatinya, orang tua lebih berbangga pada anak-anaknya yang bisa berdiri di kaki sendiri.

Pada tahap ini, saya masih menimbang, menimbang, menimbang, sekaligus memperhtiungkan. Sejauh mana kehidupan akan membagi makna “hidup”nya pada saya.

***

Baru-baru ini, secara tak langsung, saya diingatkan tentang hal penting oleh salah seorang narasumber, yang merupakan arsitek pengembang perumahan ternama di kota ini,

“Lihatlah kondisi bangsa kita ini. Betapa Tuhan banyak mengajarkan kita nilai-nilai tertentu lewat setiap kejadiannya. Meskipun terasa menyakitkan, namun selalu menyembuhkan. Hal yang sama, selalu pula berputar pada hidup kita,”

Seperti obat yang pahit, setiap kejadian bukan kebetulan terjadi dalam hidup kita. Everything happens for a reason. Kejadian itu menjadi penanda bahwa Tuhan masih peduli atas kehidupan yang kita jalani. Setiap kejadian, serupa puzzle terpisah yang saling dihubungkan dan kelak akan menghasilkan satu gambaran utuh atas kehidupan kita. Di akhir itu, barulah kita akan memahami setiap rencana yang berlaku dalam hidup ini.

“Oh, ternyata begini yaa…” kata kita pada akhirnya, menyadari skenario di balik semua kejadian.


--Imam Rahmanto--