Senin, 09 Februari 2015

Rencana oh Rencana

Maaf, ketika saya meninggalkan “rumah” ini. Saya sedang dialihkan dari sini, ke suatu tempat yang harus dituntaskan dalam rentang sebulan ini. Karena itu akhirnya saya menyempatkan diri “pulang”. Karena tiada tempat lain yang menenteramkan kecuali di “rumah”.

Namanya rencana, tak ada yang bisa menjamin akan berjalan mulus dan baik-baik saja. Perihalnya, ada banyak faktor x yang akan merintangi dan menjadi kendala di tengah jalan. Ketika strategi sudah disusun begitu apiknya, takkan ada yang menyangka jika hasilnya dipengaruhi hal-hal di luar strategi itu. Bagi Tuhan, selalu ada faktor “Surprise” di setiap kejadian yang direncanakanNya. 

Banyak rencana yang telah saya susun sebulan belakangan ini, dalam rangka menyelesaikan pengerjaan Tugas Akhir. Di kepala, saya menyusun banyak planning. Ada plan A, plan B, plan C, hingga rencana-rencana yang tiba pada kemungkinan terburuk. Beberapa target juga dipasang dengan batas-batas waktunya. Pun, beberapa kali, target yang disusun kerap kali melenceng dari rencana awal. Kalau sudah begitu, saya hanya bisa “menerima apa adanya”.

Kalau mengulas kembali, saya pernah menargetkan akan menyelesaikan studi di bulan Desember. Lewat dari itu, saya belum menyelesaikan barang ujian akhir. Selanjutnya, saya kembali menyusun target baru, bahwa akan selesai di bulan Januari, namun ternyata jalan yang saya tempuh masih cukup panjang. Dan lagi, saya berada di awal bulan kedua di tahun 2015 ini. Saya (pun) telah mematok, “Saya akan menyelesaikan semuanya di bulan ini!”

Untuk kali ini, saya betul-betul berharap Tuhan tidak menunjukkan faktor x lainnya yang bisa menggoyahkan rencana tersebut. Ayolah, Tuhan…

Rencana, memang hanyalah rencana. Tuhan yang selalu memutuskan. Tapi ketika manusia telah gagal berencana, maka ia telah gagal mengawali segalanya.

Di luar batas kemampuan saya, segala hal yang telah diusahakan punya ikatan yang saling mengikat satu sama lain. Saya percaya, meskipun rencana-rencana itu pada akhirnya melenceng dari prediksi awal, namun apa yang telah dilakukan terkait hal itu pasti akan saling menghidupkan kelak, Kegagalan di rencana pertama, kegagalan di rencana kedua, dan seterusnya, mungkin akan menjadi pelengkap di rencana selanjutnya.

***


Ya sudahlah. Saya sekadar ingin bersantai di “rumah” mungil ini. Saya tak tega meninggalkannya kosong barang seminggu. Lagipula, saya tak hendak menyalahkan segala hal di luar “rumah” yang sempat menahan saya untuk “pulang”. Pada dasarnya, setiap orang punya prioritas.


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar