Sabtu, 28 Februari 2015

[Review Blog] Konsisten Mengabadikan Momen

Februari 28, 2015
Beberapa hari yang lalu, saya dapat giliran challenging untuk me-review blog teman yang juga aktif di komunitas Blogger Anging Mammiri.

Hm, sebenarnya, saya agak risih juga menyebut ini sebagai tantangan. Lha kok? Hanya untuk bertamu ke rumah teman lain mesti “ditantang” dulu. Ada unsur “keterpaksaan” disana. Hahaha…ya sudah. Paling tidak, saya akhirnya menemukan rumah lain yang memang pantas untuk dikunjungi.

***

Setiap kali saya mengunjungi rumah orang lain, saya selalu mengecek postingan terakhirnya. Pada dasarnya, saya bukan orang yang mudah terkesan dengan tampilan luar. Beberapa pengalaman dengan blog, membuat saya menyadari, satu-satunya hal paling penting dalam mengelola blog: konsistensi.



Saya senang menemukan rumah yang ternyata tak pernah lepas dihuni pemiliknya. Dari tulisan-tulisannya, saya menebak, pemilik Unga Tawwa adalah seorang wanita yang sudah berkeluarga. Karena secara spesifik, tak ada yang menunjukkan profil dari penulis blog. Selain itu, di gravatar description-nya juga dituliskan "emak-emak bahagia". Jelas sudah... 

Tapi, jangan salah. Tulisannya masih berasa muda. Apalagi dengan gaya bahasa yang ringan, serasa mendengarkan orang lain sedang bercerita. Nampaknya, penulis juga sering menjadi lahan curhat bagi teman-temannya ya? Seperti salah satu postingannya tentang "cinta".

Tak salah juga, karena memang isinya lebih condong kepada cerita kehidupan si penulis sendiri. Hm…tak jauh beda dengan rumah saya sendiri. 

Ada banyak cara agar tak dilupakan zaman. Salah satunya, ya, memang dengan menulis. Kata Bang Pramoedya, "Menulislah! Maka namamu takkan lekang oleh zaman!" Mungkin, hal seperti ini pula yang terpikir oleh Unga hingga mengabadikan beberapa momen kehidupannya dalam sebuah rumah sederhana di dunia maya. Mulai dari aktivitas sehari-hari, permasalahan orang lain, hingga permasalahan sendiri sembari tetap memetik nilai-nilai hidup di dalamnya. Ternyataa kita sama. I like that!

Dari beberapa stalking yang saya lakukan, ternyata penulis sudah mulai ngeblog sejak tahun 2007 silam. Berarti, konsistensinya dalam merawat rumah patut diacungi jempol. Saya selalu suka mengunjungi rumah yang konsisten dirawat oleh pemiliknya sendiri. 

Berbeda dengan saya, yang baru mulai ngeblog ketika pertama kalinya menginjakkan kaki di kota Makassar, 2009 silam. Pun, kala itu saya masih mencari "jati blog". Tentang kekonsistenan merawat "ingatan" di rumah sendiri, baru dimulai kira-kira sejak 3 tahun silam.

Sayangnya, salah satu halaman masih dalam proses waiting. Saya penasaran saja membukanya. Lagipula, saya juga punya ketertarikan dengan hal-hal yang dibuat dengan tangan sendiri alias handmade. Percaya atau tidak, gelang yang saya kenakan adalah handmade. Blognote harian saya juga handmade. Bahkan, biasanya, hadiah untuk orang yang saya sayangi adalah handmade. #ehh. Bolehlah penasaran dengan isi halaman yang katanya sedang under construction itu.

"Seperti dandelion.. ia hanya tumbuh di rerumputan, terlupakan, namun dapat terbang bersama angin setinggi awan"
Saya tak sengaja menemukan tulisan itu di salah satu postingan, usai mengubek-ubek daftar postingan bertahun-tahunnya. Melihat potongan judulnya, terlintas ingatan pada seseorang yang pernah menamai rumahnya dengan Dandelion... Hm...how is life?

Secara umum, saya suka dengan tulisan-tulisannya. Tentang mengabadikan momen. Tentang membekukan ingatan. Tentang hal-hal yang tak terjawab dalam hidup. Salam kenal!

Ps: Oiya, saya paling suka dengan halaman senam Refresh-nya. Kapan-kapan bolehlah saya terapkan di kala saya lagi sumpek. Hahaha

***

Baru-baru ini saya kembali mendengar petikan kalimat dari seorang arsitek pengembang perumahan di kota Makassar sesaat melakukan wawancara dengannya.

“Rumah itu bukan soal ‘apa-kata-orang’. Tapi, rumah itu adalah tempat yang kita rasai dengan kenyamanan ketika berada disana. Karena rumah, adalah tempat kita kembali,” katanya. 

Nyaris dua tahun silam, saya pernah bertemu dengannya, di tempat yang sama itu; kediamannya.

Nah, terbayang, bukan? Bahwa rumah adalah tempat kita merasa nyaman. tak merasa terganggu oleh apa pun. Jadi, bukan soal keindahannya saja yang menjadi poin utama. Melainkan apa isinya, dan sejauh mana kita mampu mengelola dan merawat rumah itu.

Karena, keindahan itu relatif. Indah di mata orang lain, belum tentu indah bagi diri sendiri. Bahkan, tingkat keindahan itu akan selalu meningkat seiring kita menemukan milik orang lain yang lebih indah. Lantas, mengapa tidak, kita menemukan keindahan atas kenyamanan kita sendiri?


--Imam Rahmanto--

My Playlist is I Am

Februari 28, 2015
Kata orang, playlist lagu bisa menggambarkan kepribadian pemiliknya. Lagu apa yang tersimpan baik di hape kita bisa menggambarkan cukup baik seperti apa kepribadian dan kebiasaan kita.

“Apa jenis musik yang kau punya di ponsel?”
"Aku tidak akan memberimu akses ke koleksi musikku. Tidak akan. Ada banyak hal memalukan, banyak kesalahan disana."
"Punyaku juga. Kau dapat mengerti banyak tentang seseorang dengan apa yang ada di playlist mereka."
"Aku tahu. Kau bisa. Itulah yang mengkhawatirkanku."
(--Begin Again, Film--)

Saya menyukainya. Film tentang musik yang dibintangi oleh Mark Ruffalo dan Keira Knightley. Ada juga vokalis dari Maroon 5, Adam Levine mewarnai kisah dalam film ini. Cerita yang ringan, namun easy listening. Yah, saya memiliki sealbum lagu soundtrack-nya. Kapan-kapan saya review filmnya deh.

Kedua orang yang punya latar belakang bad romance disatukan oleh musik. (Sumber: filmserver.cz)

Bagi yang mengerti tentang musik, akan sangat mudah memahami orang lain dari playlist-nya. Serupa dengan penulis, yang sedikitnya bisa ditebak melalui jenis tulisannya. Poinnya, lagu menggambarkan sejauh mana kepribadian atau momen keadaan yang sedang dirasakan.

Anggap pula hidup ini seperti film-film di layar kaca. Adegannya  takkan hidup dan berwarna jika tak ditingkahi iringan lagu atau musik.

Saya senang menyumbati telinga dengan headphone atau earphone di saat berjalan sendirian hendak ke suatu tempat. Antara dunia dan saya, hanya dijembatani oleh musik yang mengalun. Kadang melemah. Kadang mendentum. Saya bahkan bisa meresapi lirik dari setiap lagu yang mengalun tanpa dijedai suara-suara jalan.

Beberapa lagu, bagi saya, serupa kunci yang memutar kenangan tentang sesuatu. Entah itu sesuatu yang menyenangkan atau bahkan menyedihkan. Di kala sedang mendengarkan lagu di playlist gawai saya, ada beberapa lagu yang memaksa untuk mengingat kenangan tentang lagu itu. Anggap saja itu semacam soundtrack usang yang terus dimainkan dengan gambaran kenangan yang masih bertengger di kepala. Bukankah memory memang satu-satunya cara untuk kembali ke masa dulu.

Tak bisa dipungkiri, setiap momen punya lagu soundtrack-nya masing-masing. Siapa pun orangnya tentu punya lagu yang akan membawanya mengingat sesuatu. Ingatan kepada something, or someone exactly.

Sama halnya dengan lagu-lagu seperti Jetlag (Simple Plan), Rahasia Hati (Nidji), Jodoh Pasti Bertemu (Afgan), Alasanku (SO7), yang tetiba membuka kenangan-kenangan saya tentang beberapa hal. Karena pada kenyataannya, lagu itu ada dalam playlist handphone saya. Yang paling baru, saya memasukkan lagu-lagu dari film "Begin Again".

Akh, namanya kenangan, tentang seseorang sesuatu, hanya bisa menghadirkan sendu atau rindu...

NP: Lost Stars by Keira Knightley




--Imam Rahmanto--

Minggu, 22 Februari 2015

31# Diujiankan

Februari 22, 2015
Apa yang terjadi belakangan ini adalah di luar kehendak saya.

Dua hari yang lalu, saya telah selesai menggelar ujian akhir. Seharusnya, beberapa jam setelahnya dilanjutkan dengan yudisium alias penyematan gelar baru. Tentang gelar itu, aya tidak benar-benar menginginkannya, sesungguhnya. Saya hanya ingin keluar dari kampus dengan baik-baik. Itu saja.

Akan tetapi, salah satu penguji nampaknya mengusulkan agar yudisium saya ditunda dulu hingga merampungkan revisi atas skripsi saya. Sungguh malang. Padahal, kebanyakan mahasiswa lainnya, tak perlu menunggu hingga revisi dulu baru bisa di-yudisium-kan. Pada momen kebanyakan, revisi dikerjakan setelah yudisium. Lah, saya? Nampaknya, saya berhasil benar menjadi unik dan “satu-satunya”. Dasar nasib.

“Tak usah berkecil hati,” kata salah seorang pembimbing.

Saya memang tak pernah berkecil hati. Saya sudah terlatih untuk patah hati. #ehh. Kecewa, maksudnya. Dalam beberapa hal, memang di luar kuasa kita sebagai manusia. Hasil itu akan menjadi refleksi sejauh mana usaha abstrak dan material yang telah kita lakukan.

Ujian yang seharusnya berlangsung jam sepuluh pagi, nyatanya harus ditunda gegara kedua pembimbing ujian saya absen. Salah satu pembimbing baru bisa hadir di kampus menjelang Ashar. Terpaksa, daripada ditunda lagi, saya memaksakan diri ujian lewat dari jam empat. Sungguh malang. Sudah, saya katakan, saya terlatih pat…eh…kecewa.

Setidaknya, saya telah selesai dengan ujian meja. Tak perlu mengulang lagi. Hanya tersisa revisi dan yudisium.

Karena mengkhawatirkan revisi ini, saya agak ragu untuk melanjutkan pekerjaan yang sejak seminggu lalu bertengger di kepala. Bahkan teman-teman juga seenaknya sudah melabelkan pekerjaan itu pada saya. Ckck..

Setelah “disidang” oleh redaktur akibat ulah bandel saya sebagai calon reporter, saya memutuskan hengkang dari pekerjaan ini. Saya tak perlu berpikir terlalu panjang. Suasana pekerjaan akibat “kebandelan” saya itu pada kenyataannya sudah menyulut  kejengkelan beberapa redaktur senior. Hm…benar kata guru saya dulu. Kalau mau jadi orang terkenal, cukup jadi salah satunya; terpintar atau terbandel.

“Sebenarnya hal semacam itu bisa ditaktisi lah. Apalagi kan kau juga sudah selesai ujian meja,” tawar salah seorang redaktur.

Akh, pada banyak perjalanan ini, saya telah belajar untuk memasang prioritas. Beberapa hal yang bertumbukan berpengaruh pula pada perjalanan akademik saya. Setidaknya, saya hanya ingin melangkah keluar dulu dari kampus, secara baik-baik. Selepas itu, barulah saya boleh memasang banyak target lagi.

Seandainya saja saya bisa menggunakan jurus Kage Bunshin-nya Naruto ya, mungkin semuanya bakal lebih mudah. Ada banyak hal di luar sana yang ingin saya lakukan. Sejauh ini, nampaknya hanya pikiran saja yang bisa dilipatgandakan.

Nah, selanjutnya, mari mengerjakan beberapa hal yang tertunda. Firstlytarting to smile…


Ps: lagu dari One Republic, Counting Star, sedang mengalun dari notebook teman saya. Selain karena, sepagi ini, sembari saya menunggu balasan pesan dari seseorang.


--Imam Rahmanto--

Senin, 16 Februari 2015

30# Tak Sabar Lagi

Februari 16, 2015
Aku rindu…

Pada akhirnya, saya akan mencapai "pos pemeriksaan terakhir" sebelum membuka pintu keluar dari dunia kampus. Jelang beberapa hari ke depan, saya akan merasainya. Yah, merasainya sebagai sesuatu yang selama ini diidam-idamkan sekaligus ditakuti setiap mahasiswa seperti kami.

“Kamu mau ujian tutup?”

Seorang dosen seketika bertanya saat melihat saya melintas di koridor jurusan sambil membopong tumpukan skripsi. Sambil cengengesan, saya hanya menjawab singkat, “Iya, Pak. Jumat ini. Hehe…”

“Wah, cepat sekali ya,” lanjutnya lagi agak keheranan. Mungkin, ia agak terkejut, lantaran baru dua bulan yang lalu saya menyelesaikan ujian proposal yang juga ikut dihadirinya. Dosen muda itu hadir sebagai peserta, yang tak ketinggalan melemparkan pertanyaan demi “menguji” saya. Maklum, ia tahu latar belakang saya sebagai seorang pegiat pers kampus.

Mm…ya begitulah, Pak.” Sementara dalam kepala saya berpikir, “Memangnya itu tergolong cepat ya?”

“Memang. Karena ujian proposalmu baru dua bulan yang lalu. Itu tergolong cepat, dibanding yang lainnya,” jawab seorang teman ketika saya langsung menanyakannya.

Saat memulai, untuk mengakhiri.. (Foto: ImamR)

Hm…kalau dipikir-pikir, beberapa hal memang berjalan begitu lancarnya. Beberapa rencana yang saya patok cukup ampuh untuk ngebut di pengerjaan skripsi ini. Saya belajar dari teman-teman yang pernah menjalaninya. Banyak bertanya, banyak menyimak solusi. Pekerjaan seorang wartawan memang lebih banyak bertanya. Itu menjadi satu-satunya “senjata” yang pantas kami miliki, bukan? 

Kalau saya tak mampu "bekerja" lebih baik dan ekstra, apa pula yang membedakan saya dengan teman-teman mahasiswa original lainnya? Sudah sepatutnya latar belakang saya, yang sempat menyita waktu bertahun-tahun itu, bisa menjadi pembeda dan "kelebihan" dari perjalanan mahasiswa mainstream lainnya.

Dan tentang studi akhir ini, memang sudah menjadi prioritas di atas segalanya. Demi mengakhirkan studi, saya harus rela “menutup” pintu segala kemungkinan pekerjaan yang menghampiri. Saya pernah mengalami, the comfort zone ketika kita sudah mencicipi pekerjaan. Zona nyaman itu justru melenakan, dan menggantikan prioritas studi itu. Yeah, namanya bekerja atas dasar passion itu memang selalu menyenangkan.

Mungkin, hanya satu-dua side-job menjadi pondasi bagi saya menyokong penyelesaian studi ini. Maklum, kata orang, jelang tamat kuliah, banyak pembiayaan yang mesti dipenuhi. Saya serasa berkejaran dengan waktu. Pun, pikiran berlaku demikian. Di satu sisi memikirkan urusan skripsi, di sisi lain memikirkan cara untuk mengongkosinya. Haha... Serius, saya nyaris ngos-ngosan gegara itu.

Saya (atau siapa pun) semestinya mulai memahami prioritas. Kewajiban. Kepantasan. Tuntutan. Tugas. Tanggung jawab. Atau apa pun orang-orang menyebutnya. Segala hal yang tak berhubungan dengan kewajiban, ya mesti dikesampingkan dulu. Just focus on it!

“Ingat, pelatihan minggu ini. Semua reporter wajib datang. Dimulai hari Senin. Jangan terlambat!”

Akh, maaf. Saya harus menyelesaikan tugas akhir dulu sebagai mahasiswa tingkat akhir. Mengenai sanksi atas absennya saya, itu belakangan.

“Jadi, nanti Anda yang akan jadi penulisnya. Kami sudah kontrak dengan media itu. Terbitnya akan dua kali sebulan.”

Baiklah. Tapi, dalam rentang seminggu ini saya masih belum akan mengajukan “proposal”nya. Lagipula, tak ada deadline pengajuannya kan, Bu?

“Kalau bisa dipermak sebagus-bagusnya. Secepatnya ya. Orang-orang tak sabar membukanya.”

Pasti! Secepatnya, usai tetek-bengek skripsi ini, saya akan mengerjakannya. Anggap saja saya “berhutang” pelayanan. Terima kasih untuk sokongan materinya.

“Kapan pulang kampung? Ingat, kau janji untuk ke sekolah mau bangun ekskul itu.”

Emm…semoga sempat menunaikannya. Apalagi, selepas menyandang gelar nanti, saya harus langsung terjun ke dunia nyata berikutnya; pekerjaan.  Tapi, saya benar-benar penasaran ingin membantu dan mengembangkan pers di sekolah. Sejauh ini, perasaan challenged saya telah diaktifkan.

“Cepatlah kau selesai. Kita mau backpacking, kan?”

Hahaha…semoga ada waktu untuk berjalan-jalan. Untuk yang satu itu, sungguh menyenangkan bisa menyegarkan kepala yang terlanjur suntuk.

“Kapan pulang, nak? Kami sudah rindu…”

Rumah memang akan selalu menjadi tempat pulang saya. Tak ada yang lain. Maka biarkan saya menyelesaikan benih kebahagiaan kalian dulu, Pak, Bu. Percayalah, anakmu ini akan selalu menunaikan janjinya untuk kembali.

Maka mendoalah...

***

Aku merindu…
Kebebasan atas hidup yang siap merengkuhku
Tangan-tangan yang siap dijabat dan digenggam
Wajah-wajah yang siap dicumbu dan dipeluk

Aku (akan) pulang…
Pada rumah yang selalu terbuka
Untukku,
Dan “untuk semua orang”


--Imam Rahmanto--

Senin, 09 Februari 2015

Rencana oh Rencana

Februari 09, 2015
Maaf, ketika saya meninggalkan “rumah” ini. Saya sedang dialihkan dari sini, ke suatu tempat yang harus dituntaskan dalam rentang sebulan ini. Karena itu akhirnya saya menyempatkan diri “pulang”. Karena tiada tempat lain yang menenteramkan kecuali di “rumah”.

Namanya rencana, tak ada yang bisa menjamin akan berjalan mulus dan baik-baik saja. Perihalnya, ada banyak faktor x yang akan merintangi dan menjadi kendala di tengah jalan. Ketika strategi sudah disusun begitu apiknya, takkan ada yang menyangka jika hasilnya dipengaruhi hal-hal di luar strategi itu. Bagi Tuhan, selalu ada faktor “Surprise” di setiap kejadian yang direncanakanNya. 

Banyak rencana yang telah saya susun sebulan belakangan ini, dalam rangka menyelesaikan pengerjaan Tugas Akhir. Di kepala, saya menyusun banyak planning. Ada plan A, plan B, plan C, hingga rencana-rencana yang tiba pada kemungkinan terburuk. Beberapa target juga dipasang dengan batas-batas waktunya. Pun, beberapa kali, target yang disusun kerap kali melenceng dari rencana awal. Kalau sudah begitu, saya hanya bisa “menerima apa adanya”.

Kalau mengulas kembali, saya pernah menargetkan akan menyelesaikan studi di bulan Desember. Lewat dari itu, saya belum menyelesaikan barang ujian akhir. Selanjutnya, saya kembali menyusun target baru, bahwa akan selesai di bulan Januari, namun ternyata jalan yang saya tempuh masih cukup panjang. Dan lagi, saya berada di awal bulan kedua di tahun 2015 ini. Saya (pun) telah mematok, “Saya akan menyelesaikan semuanya di bulan ini!”

Untuk kali ini, saya betul-betul berharap Tuhan tidak menunjukkan faktor x lainnya yang bisa menggoyahkan rencana tersebut. Ayolah, Tuhan…

Rencana, memang hanyalah rencana. Tuhan yang selalu memutuskan. Tapi ketika manusia telah gagal berencana, maka ia telah gagal mengawali segalanya.

Di luar batas kemampuan saya, segala hal yang telah diusahakan punya ikatan yang saling mengikat satu sama lain. Saya percaya, meskipun rencana-rencana itu pada akhirnya melenceng dari prediksi awal, namun apa yang telah dilakukan terkait hal itu pasti akan saling menghidupkan kelak, Kegagalan di rencana pertama, kegagalan di rencana kedua, dan seterusnya, mungkin akan menjadi pelengkap di rencana selanjutnya.

***


Ya sudahlah. Saya sekadar ingin bersantai di “rumah” mungil ini. Saya tak tega meninggalkannya kosong barang seminggu. Lagipula, saya tak hendak menyalahkan segala hal di luar “rumah” yang sempat menahan saya untuk “pulang”. Pada dasarnya, setiap orang punya prioritas.


--Imam Rahmanto--

Senin, 02 Februari 2015

29# Verbatim

Februari 02, 2015

Verbatim oh verbatim.

Saya baru mengenalnya seminggu belakangan. Sebenarnya, dulu, saya pernah mendengarnya. Hanya saja, sekarang baru menyadari bahwa dalam jenis penelitian kualitatif, melampirkan verbatim adalah hal yang cukup penting.

“Apa itu verbatim?” tanya seorang teman.

Mungkin, orang-orang tak mengenalinya secara nama. Hanya tahu perihal melampirkan draf mentah wawancara yang ditulis kata per kata, berdasarkan wawancara yang sesungguhnya. Orang sering menuliskannya, mengerjakannya, hingga meramunya, namun tak pernah tahu (atau mau cari tahu) apa nama yang sesungguhnya. Akh, perangai orang Indonesia memang begitu: ikut-ikutan, padahal tidak tahu esensinya. 

verbatim /ver•ba•tim/ /vérbatim/ a kata demi kata; menurut apa yg tertuang dl tulisan.”

Pengertian di atas berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Saya cantumkan, biar bahasa saya agak (sok) ilmiah.

Menuliskan ulang percakapan wawancara penelitian sungguh melelahkan. Meskipun tak jauh berbeda dengan menuliskan ulang percakapan dalam wawancara untuk kepentingan liputan berita, namun sungguh menguras waktu. Lucunya, di bagian saya melambatkan kecepatan audio agar bisa diketik secara sempurna. Suara saya, maupun suara narasumber sebagai responden, agak mirip dengan suara tersangka bakso boraks atau berformalin di tivi-tivi yang suaranya disamarkan. Hahaha.. 

Para jurnalis pemula juga terkadang menulis semi-verbatim sebelum menulis beritanya. Dalam menuliskan liputan atau berita, percakapan yang dituangkan hanya seperlunya saja. Percakapan yang tidak penting tak perlu dituliskan dalam outline mentah tulisan. Sangat berbeda dengan verbatim sebagai lampiran skripsi (ecieeesudah lantang meneybutnya skripsi), yang harus dituliskan kata demi kata.

Intinya, semua yang terhimpun dalam percakapan harus dituliskan. Tak peduli hanya menuliskan kata “Ohhh…” atau “Ehh…”, bahkan mimik berpikir atau melakukan sesuatu ketika percakapan sementara berlangsung.

Ternyata dalam penelitian kualitatif, verbatim cukup dibutuhkan. Apalagi penelitian yang berkaitan dengan fenomena sosial-kemasyarakatan. Bukan sekadar penelitian yang meluangkan waktu mengajar (lagi) di sekolah loh.

“Memangnya jurusan apa? Kok bisa ambil judul seperti itu?” orang-orang biasanya bertanya tentang judul skripsi saya, yang sebenarnya tak berkaitan langsung dengan kependidikan.

Entahlah. Mungkin, keberuntungan menyertai saya. Dulu, didorong rasa ingin tahu dan kejenuhan melihat jenis-jenis skripsi di jurusan yang “itu-itu saja”, maka saya mencoba peralihan lain. Salah satunya, judul penelitian (skripsi) yang saya ajukan lebih condong ke fenomena sosial, meskipun masih dalam ranah kependidikan.

Dan ingat, fenomena sosial-kemasyarakatn bukan hanya milik mahasiswa ilmu politik dan sosial. Fenomena kependidikan juga menjadi bagian dari sosial-kemasyarakatan kita.

Mahasiswa cenderung di-setting dengan mindset judul penelitian yang selama ini banyak beredar di jurusannya. Apa yang dilakukan oleh banyak orang, maka individu cenderung akan mengekor kesana. Menganggap hal itu satu-satunya yang benar. So poor. Padahal, kalau kita mau melihat keluar, out of the box, ada banyak hal yang bisa dijadikan bahan agar kita “berbeda” dari yang lain. Come on! Be Unique or The First!

Yah, sekadar saran saja bagi teman-teman mahasiswa lainnya. Terkhusus yang sedang menyelami bidang kependidikan. Kalau mencari judul skripsi, kalau bisa mbokya yang “keren-keren” tah. Biar perpustakaan punya ragam judul yang variatif pula. Apa tidak bosan dengan skripsi yang terkesan “itu-itu saja”? Sementara sebenarnya ada banyak bahan penelitian yang bisa diajukan demi memenuhi beban “sekadar lulus” kuliah itu. Look out!

Nah, kini, saya sedang berpacu dengan segala hal yang berkaitan dengan penyelesaian studi. Mulai dari pengurusan ujian akhir, pemenuhan syarat kelulusan, hingga penulisan hasil penelitian yang menjadi lanjutan Bab IV di skripsi.

Tahu tidak, saya menulis bagian itu dengan cukup luwes. Layaknya ketika saya dulu sedang menulis liputan dan mengolah riset berita. Bedanya cuma di sisi bahasa dan penyajiannya. Kalau berita, isinya dibalut bahasa populer. Kalau skripsi, harus benar-benar berbahasa (sok) ilmiah, kaya data-data mentah, dan sedikit berhitung (banyaknya) halaman. Hahaha…sesekali saya juga menyisipkan opini pribadi. Yeah!


--Imam Rahmanto--