Sabtu, 24 Januari 2015

Kangen Rasa Bermain

Tetiba saja saya ingin kembali ke masa kanak-kanak.

Kemarin, di tengah perbincangan (menunggu dosen), saya dan dua orang teman lainnya sibuk mengenang permainan tradisional yang pernah populer di masa kanak-kanak dulu, di era 90-an. Sebagian mungkin bukan permainan tradisional, namun bisa dikatakan sebagai kegiatan yang dikerjakan untuk membunuh waktu demi berkumpul bersama teman-teman lainnya. demi bermain di luar rumah.

“Kalau dipikir-pikir, permainan semacam itu sudah tidak laku lagi ya? Sekarang kan anak-anak sudah dihujani dengan internet, gadget, dan segala macam permainan yang membuatnya hanya duduk manis di dalam rumah,” ujar salah seorang teman.

"Iya, dulu di pikiran kita memang cuma ada bermain. Sepulang sekolah, langsung bermain," ujar yang lain menimpali.

Saya membenarkan. Perkembangan teknologi, pelan tapi pasti, ikut mematikan kreativitas dan daya berpikir anak-anak. Proses sosialisasi, yang seharusnya dipelajari dari berinteraksi dengan teman-teman, sudah tak lagi banyak ditemukan. Sangat-amat-jarang saya menemukan anak-anak yang bermain seperti dulu. kini, anak-anak sibuk berselancar di dunia maya dan bersosialisasi semu di ranah dunia maya. Sialnya, betapa pun kita sadar bahwa dunia maya itu benar-benar “maya”, tapi kita toh selalu membawa-bawanya ke ranah dunia nyata.

Pokoknya, dunia kanak-kanak di era sekarang, sungguh berbeda dengan dunia kanak-kanak di era 90-an. Meskipun hidup di masa kini lebih banyak “mudah”nya, karena teknologi, di masa kita kecil dulu, orang-orang toh tetap bisa  berkomunikasi dan bekerja dengan baik.

Tanpa perlu dihubungkan hape, orang-orang masih bisa berkomunikasi. Janji ketemuan masih bisa ditepati. Anak-anak juga masih bisa pulang sendiri ke rumah dengan selamat. Tanpa banyak tivi, masyarakat juga sudah kebanjiran informasi. Sadar atau tidak, teknologi media dewasa ini sudah mulai mengaburkan informasi-informasi yang seharuisnya diterima dengan baik. Tak tanggung-tanggung, dampak moral siap diterima anak-anak yang belum cukup umur.

Dulu, kalau hendak main di luar rumah, saya atau teman lainnya pasti datang, sendirian atau rame-rame, memanggil ke rumah yang lainnya.

“Imam! Imam! Main yuk!” teriak salah seorang dari kami, polos.

Atau dengan agak lebih sopan, “Ada Imam, Tante?” sambil tersenyum cengengesan ke orang tua.

Hahahaha…asli, saya merindukan panggilan-panggilan polos seperti itu. Mengajak keluar rumah dan menikmati sajian alam sekitar. Sungguh berbeda dengan sekarang, yang anak kecilnya sudah dilengkapi kemudahan teknologi. Sampai-sampai anak yang baru lahir pun sudah punya akun social media. #Kehidupanga'

Sudahlah. Sembari menyeruput cappuccino pagi, mungkin permainan-permainan ini pernah kita kenali sebagai permainan di masa kecil dulu.

#Kelereng dan Wayang (Kartu)
Bermain kelereng. (Sumber: googling)
Orang di daerah mengenal nama kelereng sebagai goli’. Selain itu, wayang disini bukan seperti wayang (Jawa) kebanyakan yang dilakonkan oleh seorang dalang. Melainkan kartu bergambar, yang biasanya dinomori dan berisi gambar-gambar superhero atau lainnya. Biasanya sampai 36 potongan.

Keduanya merupakan permainan masa kecil saya. Keduanya punya jenis permainan yang berbeda-beda. Wayang; sippappa (ditepuk), qui-qui (semacam poker), sibuang (mengempas pasangan kartu di dinding), dan lainnya. Kelereng juga; puntung, galesong, ada pula yang membuat gambar segitiga atau lingkaran di tanah dan mengisinya dnegan kelereng taruhan untuk selanjutnya diperebutkan dengan pakamba’ masing-masing (saya lupa namanya apa).

Saya tetiba melintas lorong waktu ke masa anak-anak saya.

Bayangkan! Kami juga dari kecil sudah belajar taruhan. Bukan uang sih. Hahaha…tapi dari situ pula, kami, anak-anak, belajar berbisnis. Saya pernah melakoninya.

Kalau koleksi wayang dan kelereng sudah banyak, biasanya sampai setoples kaleng besar, saya akan membuka penawaran kepada teman-teman lain yang tertarik membelinya. Saya menjual wayang dengan harga Rp100,- untuk 100 potongannya. Kelereng agak lebih mahal lagi. Zaman segitu, uang Rp100 masih sangat bernilai, bisa buat beli permen Sugus, Yosan, BigBabol, dan semacamnya 5 butir. 

Wayang dnegan berbagai jenis gambarnya. (Sumber: googling)

Dan hal yang paling lucu adalah ketika saya atau teman lainnya suka mengaplikasinya kecurangan yang bernama patalo lari. Artinya, menang lalu kabur. Di saat bermain dan sudah memenangi banyak taruhan, seseorang akan berhenti dari permainan dengan berbagai alasan.

“Aduh, saya dipanggil ibu. Saya harus pulang sekarang,” contoh alasan yang paling banyak dipakai. Padahal alasan yang sebenarnya: ia sudah menang banyak dan tak ingin keberuntungannya lenyap sewaktu-waktu dan menimbulkan kerugian besar padanya. Hahaha…

Kalau sudah begitu, saya rasa-rasanya mau menimpuk kepala teman yang hendak bermain patalo lari itu.

#Petak Umpet
"Satu, dua, tiga,... sudahmi?" (Sumber: googling)
Tipe permainannya pun ada bermacam-macam. Ada yang hanya tutup mata dan sembunyi, ada pula yang menyertakan tumpukan kayu yang disusun dan harus dijaga oleh Si Penjaga, agar tidak dikenai lawan yang sedang bersembunyi. Kalau tak salah, namanya Sienggo'.

Permainan ini semakin menyenangkan kalau ada persiapan pesta pernikahan di sekitar rumah. Saya dan teman-teman suka bermain di antara tumpukan kursi, tenda, besi-besi pondasi, dan sebagainya. Tidak peduli siang ataupun malam hari. Justru, bermain petak umpet di malam hari jadi semakin seru.

Ah ya, tempat yang paling aman bersembunyi buat saya adalah di rumah sendiri. Tak ada satu pun teman-teman yang akan menyangka. Bisa dibilang, rumah sebagai area bebas pencarian Si Penjaga. #dasarcurang.

Di rumah, saya akan memperkirakan sudah berapa lama bersembunyi. Sambil nonton tivi atau makan. Jika sudah ada teman yang tertangkap, maka saya baru keluar dari rumah dan (sok) mencari tempat persembunyian sebenarnya. Hahaha…curangnya minta ampun! 

Bagi yang pandai memanjat, pohon sebagai tempat berjaga Si Penjaga bisa menjadi nominasi keren sebagai tempat persembunyian terbaik. Bukankah tempat yang paling aman adalah tempat yang paling berbahaya?

#Ceba-ceba Duduk
Entah kenapa dinamakan seperti ini. Karena Ceba itu artinya “monyet”. Jadi, jika diartikan secara harfiah, artinya monyet-monyet yang duduk. Hahahaha… mungkin karena capek dikejar.

Ini permainan yang cukup menghabiskan tenaga. Berlari-larian di lapangan. Satu orang penjaga yang akan mengejar semua peserta hanya untuk menyentuhnya. Kalau sudah kena sentuhan dari Si Penjaga, maka bergantilah tugas mengejar-ngejar itu.

Kalau tak ingin disentuh, bisa memblok diri dengan berjongkok di tempatnya. Namun, tidak bisa ikut berlari lagi sampai ada teman lainnya yang menyentuh untuk membebaskan. Begitu aturan permainan seterusnya. Siapa yang cepat larinya, dia yang dapat untungnya.

Dan lagi, solusi agar tidak kena sentuhan, bisa dengan memanjat pohon. :p


...bersambung

--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar