Minggu, 11 Januari 2015

Di Sebuah Putaran

Saya sedang berteduh dari derai hujan. Di pinggir jalanan kota. Di depan sebuah minimarket yang dijagai tiga orang pelayannya.

Mengamati seorang anak kecil yang berlari-lari menembus hujan. Di tangannya terselip mantel hujan. Sederhana, hanya berbahan dasar kantong plastik kresek. Ia menyusul temannya yang sedang berdiri di tengah pembatas jalan. Temannya itu sedang mengamati seksama mobil-mobil yang melintas. Kali saja ada yang hendak memutar jalan melalui u-turn yang dijaganya. Temannya itu, kuyup dibasuh hujan.

“Hei, darimana saja?” tanya anak yang menanti itu.

“Ini. Saya mengambil ini,” jawabnya sembari membungkus badannya dengan mantel.

Di kepala saya hanya terlintas percakapan seperti itu. Saya menyusun banyak percakapan di kepala sambil tersenyum sendiri melihat tingkah kedua anak itu. Tergelitik juga.

Saya masih mengamatinya. Berjongkok dan menyedekap lutut. Bermandikan tempias hujan di teras minimarket ini. Tepat di depan sana, hanya berjarak sepuluh langkah, mereka berdua berbagi tugas menghalau mobil yang melintasi perputaran arah jalan.

Sesekali, anak yang terlanjur kebasahan itu berlari ke minimarket yang sedang menjadi tempat berteduh saya. Masuk ke dalam. Entah mengambil atau meminjam apa dari kasir minimarket. Lalu berlari lagi, hujan-hujanan, ke “pos” U-turn yang beberapa jenak di tengah hujan ia tinggalkan. Ia tak ingin kehilangan kesempatan meraup rezeki hari itu.

Hujan agak lama. Cukup mengganggu. Saya punya janji yang tak bisa dilewatkan hari ini.

“Kak, Kak, mau menyeberang?”

Anak bermantel hijau berseru ke seorang perempuan yang berada di pinggir jalan, hendak menyeberangi lalu-lalang kendaraan bermotor. Berpayung, perempuan itu menunjukkan mimik muka yang agak risih, ataukah malu, ketika diseru demikian.

“Tunggu disitu saja,” serunya lagi hendak melawan gemuruh hujan.
 
Tanpa menjawab seruan anak bermantel hijau, perempuan itu berbalik arah dan kembali ke minimarket yang tadi dimasukinya. Padahal anak itu sudah menyetop kendaraan yang melaju, bersiap menyeberangkannya dari seberang tempat perempuan tadi berdiri dan berbalik arah.

Beberapa menit berselang, saya tak lagi melihat perempuan itu. Saya terlalu asyik menyaksikan kehidupan kecil dua anak kecil yang berburu rezeki. Sementara perempuan itu mungkin membatalkan niatnya menyeberangi jalan.

Hujan masih menerpa jalanan kota. Kalau berlangsung simultan, akan menggenangi beberapa wilayah di kota ini. Mungkin, ini hanya sebentuk cobaan buat kota ini. Seberapa kuat kota ini hendak melanglang dunia dengan permasalahan banjir yang setiap tahun tak pernah surut. Tahulah.

Anak itu begitu gigih mencari uang di tengah hujan mengguyur seperti ini. Betapa profesionalnya. Rasanya, ia tak peduli seberapa banyak uang yang akan dihasilkannya dari mengumpulkan lembaran uang seribuan dari mobil-mobil yang dihalaunya. Ia hanya tahu, bekerja dapat uang, yang entah akan digunakan untuk apa uang itu.

Hujan dan kedua anak itu tak mempedulikannya. Yang satu tetap bersemangat dengan pakaian yang menetes-neteskan air. Yang satunya lagi, berbalut mantel kedodoran, setia menemani dan bergantian menghalau. Di sela-sela menanti mobil yang berbelok, mereka biasa berbincang satu sama lain yang dilanjutkan dengan tawa. Hal paling sederhana dalam keseharian mereka nyatanya bisa menjadi hal paling lucu untuk ditertawakan. Menertawakan sesuatu itu cukup mudah dan sederhana.

Saya mengalihkan pandangan ke tukang parkir yang lalu-lalang di depan saya.

Seorang tukang parkir yang bekerja secara profesional pula. Saya melihatnya setiap kali memberhentikan mobil yang diparkir. Dengan sigap, ia menadahkan payung kepada orang-orang yang hendak keluar dari mobil. Sebenarnya, tanpa perlu ia menyediakan payung pun, orang-orang tetap saja akan masuk ke dalam warung. Nyaris setiap beberapa menit, warung makan yang berada tepat di sebelah minimarket itu kedatangan pengunjung baru.

Pada mulanya, saya mengira aksinya itu hanyalah sebentuk “tambahan” rupiah bagi dirinya. Akan tetapi, dari pertama kali saya melihatnya mengiringi anak-anak, ibu-ibu, pemuda, pemudi, yang turun dari mobil, ia tidak meminta bayaran sepeser pun. Ia hanya melakukannya sebagai bentuk pengabdian tambahan atas profesi yang dimilikinya.

Tak jarang, pelanggan yang diiringi memegang sendiri payungnya menuju warung makan. Meninggalkan tukang parkir itu kehujanan. Dongkol? Tidak. Ia sudah cukup tertolong melihat pelanggannya tidak kebasahan. Lagipula ia membaluti dirinya dengan mantel hujan.

Saya tak mengenal orang-orang itu. Mungkin hanya pengamatan tak disengaja demi mengusir kebosanan di tengah menanti hujan mereda.

Mereka adalah orang-orang yang bekerja di tengah hujan. Ternyata masih banyak orang-orang yang mengais rezeki dan memanfaatkan hujan tidak sebagai penghalang. Lantas, ada apa dengan kita yang selalu mengeluhkan hujan? Sejauh apa taraf bersyukur kita...

Hujan tersisa sedikit. Saya memutuskan untuk menembus saja tetes yang tersisa. Malu ah menyaksikan orang-orang yang menari di bawah hujan, sementara saya terlena menanti redanya hujan. Tahukah, menanti itu menyimpan banyak pembenaran. Padahal menunggu atau menanti, yang sebatas berdiam diri dan tak melakukan apa-apa, tidaklah lebih baik ketimbang bergerak dan melakukan sesuatu. Move. On.


--Imam Rahmanto-- 

2 komentar:

  1. Ceritanya cakepp..
    Beberapa orang memang bisa memanfaatkan hujan yang turun dan memilih mensyukurinya. Aku pernah lihat anak kecil (mungkin 6-7 tahun) yang jadi ojek payung. Badannya masih mungil, jadi untuk memayungi orang lain, dia harus mengacungkan payungnya tinggi-tinggi untuk melindungi kepala orang lain, sementara badannya pasti semakin basah. Dia juga harus setengah berlari untuk mengimbangi langkah kaki orang yang dipayunginya. Bersyukur kalau ada yang memberinya uang, tapi dia masih terlihat menikmati saat orang yang dipayunginya tidak memberi uang. Peristiwa yang menohok banget..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku kok mau mewek ya dengar kamu cerita balik. :'(

      Hapus