Sabtu, 17 Januari 2015

28# Keep Move

Yang namanya mahasiswa tingkat akhir itu, nyeseknya ada banyak rasa. Salah satunya ketika ditanya, “Semester berapa?”, dan saya hanya bisa mengingat-ingat sudah semester berapa sekarang? Saya merasa amnesia-ringan.

“Sudah semester berapakah saya sekarang?”   

Dan jawabannya, entah. Satu-satunya hal yang lekat dalam ingatan: saya sudah semester akhir!

Sudah tak penting lagi nominal semester yang sekarang saya emban. Misi paling penting untuk bulan ini, ya menyelesaikan tunggakan tugas akhir studi. Tugas akhir yang sementara on going dalam waktu dekat, kini sudah tiba di tahap penelitian. Sedikit lagi, saya akan sampai pada tahap selanjutnya; ujian meja. Kalaupun penelitiannya berjalan dengan lancar.

Buktinya, dalam agenda #Program24hari yang telah disusun, saya baru bisa menyelesaikan satu wawancara dengan narasumber (baca: subjek penelitian). Sementara masih ada 29 orang lainnya yang mesti diwawancarai. Kebayang tidak, waktu yang harus saya sisihkan demi mewawancarai mereka satu per satu?

Pengumpulan data yang melalui proses wawancara terbuka tersebut sebenarnya bukanlah tanpa alasan. Jauh hari sebelumnya, saya telah menyiapkan kuesioner (beserta pilihan jawaban tertutupnya) untuk dibagikan dalam proses penelitian nanti. Akan tetapi, di sisi lain, pembimbing – yang tahu bahwa saya merupakan demisioner persma (pers mahasiswa) – mengusulkan untuk mengumpulkan data dengan teknik wawancara terbuka.

“Lebih bagus ketika kamu melakukan wawancara terbuka saja. face to face. Kau bisa menggali informasi lainnya yang lebih spesifik,” usulnya.

Sebelumnya, saya juga lebih senang ketika mengumpulkan data dengan cara demikian. Sebagaimana passion yang telah saya bangun sejak dulu. Pemilihan judul skripsi pun berdasarkan kemampuan dan ketertarikan saya sebagai seorang persma. Unik. Punya koneksi. Berbeda dari judul-judul mainstream lainnya: Pengaruh… Perbandingan… Komparasi… Efisiensi… Analisis… Efektivitas… Peningkatan… Argh, sungguh judul yang berat!

Yowis, biar agak berat, mbok ya dijalani saja. Kalau ada kemauan, pasti selalu ada jalan. #justbelieveit. 

Saya bersyukur, hingga kini diberikan beberapa kelancaran dalam pengelolaan tugas akhir itu. Sedikit demi sedikit saya menyelesaikan beberapa pekerjaan atau persyaratan yang sudah bisa dikerjakan sejak dini. Tak perlu mengambil pasca penelitian. Yang namanya ngebut, ya harus mengambil segala kesempatan yang dimiliki.

Bagian-bagian dari skripsi, semisal kata pengantar, halaman judul, halaman pengesahan, motto dan persembahan, daftar isi,  daftar riwayat hidup, semuanya sudah rampung. Beberapa persyaratan pendaftaran ujian meja juga sudah mulai saya persiapkan dari sekarang. Saya tak peduli kalau penelitian saya masih sementara berlangsung. Lagipula, hal-hal semacam itu bisa dikerjakan tanpa menunggu rampungnya pengumpulan data. Sambil menyelam minum air. 

Yeah, saya tinggal menaklukkan penelitian ini. Penelitian yang akan cukup menguras tenaga dan pikiran. Jangan pernah berpikir bahwa membuat judul skripsi yang “beda-dari-yang-lain” itu mengenakkan. Beberapa bagian harus dibuat a la pemikiran sendiri.

“Jadi, bagaimana caramu nanti analisis datanya?” tanya beberapa orang yang takjub penasaran dengan judul skripsi saya.

Hm..dipikirkan lain waktu saja. Paling penting, saya cukup bergerak saja mengiringi watu yang semakin melaju. Move. Move. Move. Saya tak mau lagi ketinggalan hidup yang seharusnya mulai dicicipi dari sekarang. Ini sudah 2015, Men!

Screenshot by film The Secret Life of Walter Milty. 


--Imam Rahmanto-- 

2 komentar:

  1. Perasaan yang sama juga dialami mahasiswa-mahasiswa senasib di luar sana.
    Kalau ditanya "skripsi sampai mana?" kadang aku memilih buat jawab, "Sampai lupa". Hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jawaban yang bagus deh buat ditiru.... :P

      Hapus