Jumat, 30 Januari 2015

Inisiatif

Januari 30, 2015
Fase penyelesaian studi, bagi mahasiswa, merupakan fase yang agak “dag-dig-dug”. Sesekali, fase itu akan membawa kita dalam penyerahan tanpa sadar. Bagaimana tidak, tahap itu menjadi penentu, apakah kita betul-betul siap berpindah ke “rumah baru” atau belum sama sekali?

Pernah dengar tentang “Hukum Tarik-Menarik”? It’s called The Law of Attraction! Bahwa hukum semesta berlaku sebagaimana kita memperlakukannya. Kalau kita berlaku baik, maka segala yang datang pada juga akan baik. Kalau kita punya tekad dan kemauan yang keras, maka semesta juga akan membukakan jalan bagi kita. Serupa lah dengan “Hukum Aksi-Reaksi” dalam bidang Fisika.

Saya punya seorang teman sekamar, yang hm…nyaris sepanjang hari hanya menghabiskan waktunya tak kemana-mana. Kalau tak tidur, tak makan, ia hanya terpaku di depan laptopnya. Sementara ia sendiri menyadari bahwa usianya di kampus seharusnya sudah di penghujung "yang-seyogyanya-diakhiri".

“Bagaimana proposalmu?”

Pertanyaan yang sebenarnya retoris (bagi saya) itu hanya dijawab seadanya. Saya tak perlu bertanya untuk tahu perkembangan studi akhirnya. Sebagaimana saya sendiri yang masih bergulat dengan studi akhir. Saya tahu dan paham bagaimana rasanya.

Akan tetapi, saya prihatin saja melihatnya tak melakukan apa-apa. Sepanjang yang saya ketahui, ia hanya senang bersosialisasi dengan teman-teman di rumah kost kami. Sedangkan teman-teman di kampusnya, ia berkata, nyaris telah melenggang lulus keluar kampus. Hal itu menjadi alasannya hanya menghabiskan waktu di kost mengerjakan tugas akhir yang itu-itu-saja.

Padahal, sejauh saya mengerjakan tugas akhir, nuansa akademik begitu penting untuk menyokong penyelesaian tugas akhir itu. Dukungan dari teman-teman seperjuangan, penyesuaian lingkungan kampus, olokan dari teman maupun adik-adik kampus, betapa menjadi poin terpenting selain dukungan dan sokongan dana dari orang tua. Itulah mengapa, saya kerap kali menyambangi kampus tanpa alasan apa-apa.

“Apa kau urus di kampus?” tanya beberapa orang teman yang sebenarnya tahu bagaimana perkembangan perjuangan studi akhir saya.

“Hm…tidak ada. Saya cuma mau menemani si A, (atau si B), di kampus. Katanya dia kesepian,” jawab saya ngasal, sembari tergelak hendak mencairkan suasana.

Sejatinya, saya memang selalu ingin berbagi semangat (studi akhir) kepada teman-teman seangkatan lain. Siapa lagi yang peduli kalau bukan kami-kami yang senasib-sepenanggungan-seskripsi?

Tak jarang saya menyarankan kepada teman lainnya, termasuk kepada teman saya itu, untuk sekali jalan-jalan ke kampus. Kalau kepala sudah sesak dengan segala tetek-bengek skripsi, berkeliling kampus bisa memberikan pemasukan yang berbeda.

Tanpa disadari, sebenarnya, ada banyak sumber daya di kampus yang bisa menjadi pelecut semangat mengerjakan skripsi. Tak peduli teman-teman yang selalu mengolok-olok, teman-teman yang merindukan kehadiran kita, atau adik-adik junior yang sesungguhnya diam-diam merindukan dan mendoakan kita. Sekadar diskusi, berbincang, mengobrol, bukanlah sesuatu yang merugikan. Percayalah!  #justbelieveit!

Tanpa pernah disadari, hal-hal semacam itu sebenarnya menunjukkan sejauh mana usaha yang dilakukan atas apa yang ingin dicapai. Maka, seberapa keras kita mencoba, sebesar itu pula semesta akan mengembalikannya pada kita. Tuhan Maha Tahu sejauh mana “ingin” kita.

Di usia 20-an, seharusnya kita menyadari banyak hal. Hidup tak akan berjalan dengan hanya berdiam diri. Selalu ada banyak alasan bagi kita untuk tak melakukan apa-apa. Apalagi sebagai lelaki, bukanlah hal yang membanggakan jikalau hanya berharap banyak dari bantuan orang lain. Usia yang tak lagi remaja, seharusnya mengajarkan bagaimana caranya hidup mandiri.

Lihat saja, ada banyak “pembenaran” yang bisa dilakukan agar kita tidak melakukan apa-apa.

Hujan sedikit, kita sudah “merasa” dihalangi kemana-mana. Tak ada kendaraan, kita “merasa” tak bisa kemana-mana. Kondisi finansial menipis, kita lagi-lagi “merasa” tak bisa hidup dan melakukan apa-apa. Semuanya memang benar. Pembenaran yang “benar” untuk tak berbuat sesuatu.

Sementara itu, hujan hanya menjadi titik-titik air yang membasahi bumi demi meninggikan tanaman yang butuh banyak kehidupan. Mari menumbuhkan jiwa anak kecil ketika hujan tiba. Tak takut pada hujan dan asal terobos saja. Pun kendaraan bukan segalanya. Kalau kita yakin punya banyak teman, segalanya bisa berlaku apa adanya. Begitu pula dengan kondisi finansial yang senantiasa membelit anak kost. Sudah waktunya di usia seperti ini berpikir tentang menghidupi diri (dan juga orang lain).

Hidup mandiri, tidak lagi persoalan kita bisa hidup jauh dari orang tua. Kehidupan yang sama sekali tak dicampuri orang tua dalam keseharian, seharusnya banyak mengajarkan kita cara untuk bangkit dari keterpurukan atau kegagalan. Bagaimana caranya “memaksa” diri agar berbuat lebih baik. Tak lagi mengharap “perintah” dari bapak dan ibu. Kita bukan lagi anak kecil yang mesti disuruh-suruh untuk berbuat sesuatu.

Hidup mandiri itu tidak semata-mata bisa jauh dari orang tua, berdiri sendiri, dan tak mengandalkan orang tua lagi. Karena bagaimana pun, kita takkan pernah bisa memutus hubungan dengan keluarga. Bagi saya, kesadaran menempatkan inisiatif ke arah yang lebih baik atas kehidupan pribadi, baru dikatakan mandiri. Kalau hidup masih butuh disuruh-suruh baru bisa melakukan sesuatu yang berguna, akh, apa bedanya dengan anak kecil?


--Imam Rahmanto--

Rabu, 28 Januari 2015

Di Maros, Samsung Punya Rumah Belajar

Januari 28, 2015
Pagi belum lama beranjak. Saya baru saja membuka mata dan tiba-tiba teringat dengan kegiatan yang sudah seminggu dipatok dalam loker “Agenda” di kepala. Yah, bahkan di dalam kepala pun ada lemari-lemari yang tersusun secara sistematis menyimpan segala macam memori, mungkin. Meski begitu, saya tetap selalu butuh bangun pagi.

Siapa pun seharusnya mulai membiasakan bangun pagi. Tak peduli selarut apa pun terlelap. Seberat bagaimana pun sekadar membuka kelopak mata. Karena pagi selalu menawarkan pembaruan.

Seperti hari itu, Selasa (27/1), ketika saya akhirnya mendapat kesempatan sejenak menjauh dari adrenalin berkejar-kejaran dengan studi akhir. Saya menganggapnya sebagai one-day-fresh. Refreshing. Sebulan belakangan, kepala saya terlalu berat dibebani alur skripsi.

Bersama beberapa orang anggota komunitas Blogger Anging Mammiri lainnya, saya diajak serta dalam undangan acara launching Rumah Belajar Samsung (RBS) di Maros. Saya tak pernah menyangka menjadi bagian dari undangan itu. Pasalnya, beberapa hari sebelumnya, kami, para pegiat blogging yang tergabung dalam grup Blogger Anging Mammiri hanya diminta mendaftarkan diri dengan menyertakan alamat blog.

Prasasti batu peresmian RBS. (Foto: ImamR)

Dan selanjutnya akan dipilih 10 orang sebagai perwakilan dari komunitas untuk menghadiri acara itu di Maros. Kata Kak Ipul, pemilihan didasarkan pada keaktifan menulis di blog dan jejaring sosial lainnya. Menjelang hari pelaksanaan, teryata hanya 5 orang yang dinyatakan terpilih. Beruntung, saya termasuk dalam rombongan 5 orang itu. Congrats! Selain saya, ada blogger senior Makassar lainnya; Kak Ipul, Kak Mugniar, Kak Mansyur, dan Kak Heru.

Saya terbangun di sekretariat lembaga pers kampus Profesi. Saya sengaja menginap di redaksi, agar pagi-pagi bisa menyusul ke starting-point di Coffeeholic by Sija. Maklum, karena tak punya kendaraan pribadi, saya bisa nebeng dengan teman-teman di redaksi. Yah, hitung-hitung meminimalisir faktor keterlambatan. Selain itu, jika bertemu dengan teman-teman baru, seharusnya “kesan pertama” selalu menjadi hal paling penting, bukan?

Lewat pukul delapan saya baru bisa menemukan kafe yang menjadi titik pertemuan kami. Saya harus mutar-mutar dulu. Saya tidak tahu, ternyata kafe tersebut hanya berjarak sepelemparan batu dari kantor-redaksi salah satu stasiun tivi lokal Makassar. Apalagi stasiun tivi itu juga dulunya dipimpin oleh seseorang yang kami kenal di lembaga pers kampus sebagai tetua senior kami.

Oke. Paling tidak, saya menemukan referensi kafe baru sekadar tempat nongkrong atau kumpul-kumpul bersama teman. Suasana di “Warkop Dg Sija” ini cukup modern. Sudah mendekati model-model kafe lah. Tapi sekilas, saya bisa melihat nilai-nilai kelokalan tetap dipertahankan. Penganan-penganan tradisional seperti bakpao, jalangkote, lumpia, dan sebagainya masih bisa dinikmati. Hmm…keren. Suasananya juga selalu ramai. Mungkin karena berdekatan dengan lokasi kantor stasiun tivi lokal. Ada banyak pekerja media yang memilih rehat dan bersantai di kafe ini.

***


Ayo, berangkat! (Foto: ImamR)
Siap-siap! (Foto: ImamR)

Jelang pukul sembilan, sesuai jadwal, kami berangkat menuju lokasi. Sebuah bus mengantar rombongan kami. Di dalamnya, ada juga beberapa jurnalis Makassar yang ikut serta. Saya baru menyadari, media memang seharusnya menjadi bagian inti dari undangan acara tersebut. Apalagi acara tersebut diprakarsai oleh perusahaan teknologi terkemuka dunia. Dalam rombongan itu, saya juga bertemu dengan salah seorang senior dari lembaga pers kampus kami, yang kini bekerja di salah satu stasiun radio di Makassar.

Untuk diketahui, RBS ini merupakan salah satu Program CSR (Corporate Social Responsibility) dari Samsung Electronics Indonesia (SEIN). Salah satu perusahaan pengembang teknologi terbesar di dunia ini bekerja sama dengan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) mendirikan sekolah non-formal yang menitikberatkan pada pengembangan keterampilan anak-anak kurang mampu. RBS di Maros sendiri merupakan sekolah ke-4 yang telah didirikan di seluruh Indonesia. Sebelumnya, pihak SEIN dan YCAB telah mendirikan RBS di Jakarta, Cikarang, dan Medan.

Dari Makassar, hanya dibutuhkan waktu sejam untuk mencapai lokasi acara launching RBS. Berdasarkan kerja sama yang telah diteken dengan pemerintah daerah Kabupaten Maros, Taman Nasional Bantimurung menjadi lokasinya. Di area seluas 4,8 hektar dibangun gedung-gedung seluas 240 meter persegi dan dibagi dalam beberapa ruangan kelas.

Selamat datang di Rumah Belajar Samsung. (Foto: ImamR)
Penyambutan sebelum memasuki ruangan pembukaan acara. (Foto: ImamR)

Di lokasi yang berdekatan dengan pintu masuk taman nasional itu, nantinya 125 anak-anak kurang mampu akan disekolahkan untuk dilatih keterampilannya dalam hal pengembangan teknologi. Tentu saja, dengan bantuan dan pasokan dana dari pihak Samsung. Tanpa perlu disebutkan jumlahnya, sudah pasti dana yang dikucurkan pihak SEIN bekerja sama dengan YCAB Foundation untuk CSR ini sangatlah besar. Mereka nampaknya juga tidak setengah-setengah dalam memberikan bantuan pendidikan itu.

“Ada yang kelupaan. Tadi, saya sudah keliling-keliling di lokasi RBS. Saya lihat televisi di kamar-kamar ada yang bagus, ada yang rusak. Jadi, nanti saya akan gantikan saja semuanya dengan televisi dari kami,” kelakar Vice President PT SEIN,  Kang Hyun Lee, dengan bahasa Indonesianya yang masih meddok bahasa Asing.

Ia menyampaikannya di sela-sela pemberian bantuan secara simbolik di acara pembukaan. Sontak, hal tersebut disambut tawa dan antusias oleh peserta dan undangan.

Board Advisor YCAB Foundation, Iskandar Irwan. (Foto: ImamR) 

Selain dirinya, ada juga perwakilan dari pemerintahan Kabupaten Maros yang turut serta membuka acara tersebut. Diantaranya Kepala Pusat Pelayanan Sosial Bina Remaja (PPSBR) Maros, Murni Handa yang menjadi pimpinan dari lokasi di taman Nasional Bantimurung itu. Acara yang seharusnya dibuka oleh Gubernur Sulsel pun hanya dihadiri “pengganti”nya, yakni Sekretaris Dinas Sosial, Patriot Haruni.

“Mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi bagi perusahaan swasta lainnya untuk menyalurkan dana program CSR-nya kesini dan bersama-sama kami menyejahterakan masyarakat,” tutur Patriot. Tiba-tiba saja dalam kepala saya bergumam, “Apa pula peran pemerintah jika hanya selalu berharap pada investasi CSR perusahaan luar?”

Sementara itu, Board Advisor YCAB Foundation, Iskandar Irwan juga tak ketinggalan mewakili yayasannya untuk memberikan sambutan. Sebagian besar, ia memaparkan alasan pendirian RBS tersebut.

“Pengetahuan saja tanpa keterampilan itu percuma. Makanya kita menitikberatkan pada keterampilan atau softskill mereka,” pesannya.

Nah, saya sepakat sekali dengan hal itu!

Saya sebenarnya lebih berharap Sekretaris Jenderal YCAB Foundation sendiri yang menyambangi RBS di Maros. Seperti di Medan, dalam acara serupa, YCAB diwakili oleh Sekjennya sendiri, yakni M. Farhan. Yah, lelaki yang lebih banyak kita kenal sebagai host acara-acara tivi dan penyiar di radio itu ternyata ditunjuk sebagai salah satu petinggi di YCAB Foundation itu, yayasan yang bergerak untuk menyejahterakan masyarakat melalui gerakan-gerakan sosialnya. Kalau tidak salah, ia sendiri baru menjabat sebagai Sekretaris Jenderal pada pertengahan 2014 lalu.

Selamat membaca! (Foto: ImamR)

Oiya, ternyata sebagian besar siswa yang didatangkan dari daerah dan akan belajar di RBS adalah kebanyakan dari kabupaten Enrekang. Ya, saya mengetahuinya dari mengobrol di sela-sela pidato yang kata mereka agak membosankan.  Sama. Maklum, meski berdarah Jawa, saya lahir dan dibesarkan disana. Jadi, ketika mereka bercakap satu sama lain, saya memahaminya, saya segera menyergap mereka dengan pertanyaan, “To Enrekang ko mu mane?”  (Kalian orang Enrekang ya?) dan percakapan bisa melumer lebih hangat.

Salah satu dari mereka menjelaskan, baru akan memulai pelatihan di RBS ini. Mereka diusulkan oleh sekolah mereka di daerah. Sebagian besar berasal dari sekolah kejuruan, yang dibina oleh salah seorang tokoh veteran terkemuka disana. Yah, saya juga mengenalinya sebagai pemilik salah satu universitas di Makassar yang akhirnya diakuisisi oleh salah satu perusahaan swasta terbesar di Sulsel.

“Kami akan diasramakan disini selama 6 bulan,” tuturnya masih dalam bahasa daerahnya. Saya mengangguk-angguk dan sesekali menoleh ke arah orang yang memberikan sambutan di atas panggung sana.

Usai acara pembukaan, kami, para undangan dan media diajak berkeliling ke bangunan yang menjadi lokasi belajarnya. Ada 4 ruang kelas dan 1 ruang Smart Library. Masing-masing kelas, merepresentasikan keterampilan elektronik yang akan dipelajari di dalamnya, yakni Mobile Phone (Telepon Selular), Home Appliance (Peralatan Rumah Tangga), Information Technology (Teknologi Informasi) dan Audio Visual. Dijelaskan lebih jauh, kelas keterampilan akan dibagi menjadi beberapa durasi jam belajar agar bisa mengakomodasi tiap peserta didik.

Smart Library tidak dilengkapi banyak buku. Hanya gadget yang menghubungkan ke banyak jaringan referensi.
(Foto: ImamR)

Mari merakit! (Foto: ImamR)
Kalau tidak salah, ini ruang untuk Mobile Phone. (Foto: ImamR)

Aduh, saya iri dengan keterampilan yang bakal mereka pelajari. (Foto: ImamR)

Ini adalah ruang kelas untuk belajar. (Foto: ImamR)

Acara diakhiri dengan konferensi pers yang cukup menarik perhatian. Seperti yang saya katakan, ada beberapa media lokal maupun nasional yang turut hadir meramaikan launching RBS itu. Ada pula blogger-blogger nasional yang ikut dalam acara launching ini. Salah satunya, Om Jay, yang saya kenali sebagai seorang guru dan Kompasianer aktif.

“Kegiatan CSR ini benar-benar murni untuk membantu menyejahterakan masyarakat. Kalau berpikir tentang keuntungan yang akan didapatkan pihak Samsung, saya kira tidak ada. Samsung sudah menjadi brand teknologi terkenal. Kami tidak perlu repot-repot seperti ini kalau hanya untuk menaikkan angka penjualan,” tutur Kang Hyun Lee menjawab beberapa pertanyaan dari para wartawan.

“Oleh karena, kami memang hanya ingin mengembalikan keuntungan yang telah kami dapatkan dari masyarakat. Tidak ada salahnya menyejahterakan masyarakat karena telah mempercayai produk kami selama ini,” lanjutnya lagi.

Yah, bagi saya, niat salah satu brand android ini untuk membantu masyarakat patut diapresiasi. Terlepas dari maksud lain di dalamnya. Mereka telah membuktikan dengan tanpa sungkan mengucurkan dana yang sangat besar. Meksipun tak ada jaminan bagi lulusannya bisa bekerja disana, namun pengangguran di negeri kita bisa sedikit dikurangi. Bukankah ada banyak pengangguran terdidik di luar sana yang menggelandang hanya gara-gara tidak mempunyai keterampilan atau softskill?

Nah, saya justru berharap melalui bantuan seperti ini, pemerintah daerah bisa “tersentil”. Betapa lebih pedulinya pihak asing atas pengembangan pendidikan di Indonesia dibanding orang kita sendiri. Di saat pihak asing berusaha membuktikan kecintaannya pada negeri kita dengan berbagai cara, orang-orang di negeri ini justru sibuk saling sikut demi memperoleh tahta, yang juga dilakukan dengan berbagai macam cara. Tak malukah kita? Alangkah lucunya negeri ini...


Press Conference. Dari kiri ke kanan: Iskandar Irwan, Kang Hyun Lee, Patriot Haruni, dan Murni Handa. (Foto: ImamR)

Terlepas dari itu, selamat atas launching "rumah" pendidikan baru di Maros. Semoga pendidikan di Indonesia bisa terbaharukan.

***

Terima kasih kepada PT SEIN dan YCAB telah mengundang kami. Khususnya kepada komunitas Blogger Anging Mammiri yang juga telah menyertakan saya. Sering-sering saja.

Beberapa jenak, kegiatan ini bisa menarik saya dari alam bawah sadar atas pikiran “skripsi”. Tak peduli ketika sekembalinya dari acara tersebut, saya harus berjalan kaki nyaris satu kilometer jauhnya untuk mencari angkutan umum demi pulang ke rumah. Hahaha…acara yang lumayan keren. Dapat souvenir pula! Thanks.

Inilah para "aktor-aktris" dari Komunitas Blogger Anging Mammiri. (Foto: Mbak "Public Relationship")


--Imam Rahmanto--

Selasa, 27 Januari 2015

Kangen Rasa Bermain (2)

Januari 27, 2015
Tulisan sebelumnya, bisa dilihat DISINI.

#Ketapelan
(Sumber: googling)

Permainan satu ini agak berbahaya kalau disalahgunakan. Lihat saja, di kampus-kampus yang sering bentrokan, termasuk kampus saya, mahasiswa kerap menggunakannya sebagai senjata. Pelurunya dari anak panah kecil atau biasanya busur. Akh, siapa yang tidak ngeri?

Ketapel sederhana terbuat dari kayu berbentuk huruf “Y”. Bahan paling kuat biasanya kami ambil dari pohon jambu biji. Lalu kedua ujungnya dililit karet pentil ban sepeda. Pelurunya, tentu dari batu kerikil. Pernah suatu kali saya begitu polosnya meraup kotoran kambing kering karena mengiranya batu kerikil. 

Di masa kecil dulu, kami menggunakan patta’ (bahasa daerah) tersebut sebagai senjata untuk menangkap burung. Alih-alih menangkap burung, kami justru membidik buah mangga di kebun tetangga. 

Hahaha…meskipun demikian, senakal-nakalnya masa itu, kami tidak pernah kok saling menembakkan ketapel satu sama lain. Amat jauh beda dengan mahasiswa-mahasiswa sekarang yang suka mengancam dengan ketapel busurnya. #miris 

#Pletokan
(Sumber: googling)
Sebelum pistol-pistolan Omega beredar di pasaran, anak-anak banyak mengenal permainan dari bambu ini. Di daerah domisili saya, dikenal dengan nama tembak-tembak. Pelurunya hanya berbahan kertas basah yang diremas-remas. Kalau mau agak “modern”, bisa menggunakan biji tanaman semak (entah apa namanya). Kami biasa menyebutnya biji kere’-kere’

Saya dan teman-teman biasa memainkannya di sekitar rumah. Berburu dan menembak. Keputusan menang atau kalah tidak ditentukan oleh seberapa banyak tembakan yang mengenai sasaran lawan. Melainkan seberapa lelah kami bermain dan terkena tembakan. Lagipula tembakannya tidak sakit-sakit amat. 

Hal yang paling menakutkan dari pletokan ini adalah teman-teman yang menggunakan biji kere’-kere’ sebagai peluru. Mau tidak mau, di awal pembagian regu, kami berbondong-bondong mengikut pada teman yang memiliki pletokan agak “modern” itu. 

#Mercon Bambu
(Sumber: googling)
Dikenal dengan nama Baraccung. Semacam meriam yang terbuat dari bambu besar dengan bahan bakar minyak tanah. Di masa-masa seperti ini, minyak tanah masih merajalela. Saya kerap kali membeli minyak tanah hanya sebotol sprite demi bisa bermain bersama teman-teman. Jikalau tak bisa membeli, maka kami akan mengambil “sedikit” persediaan minyak tanah di dapur rumah masing-masing. Pada akhirnya akan kena omelan dari orang tua.

Saya pernah mengalami kejadian menjengkelkan persoalan Baraccung ini. Gegara Baraccung milik teman saya tak mau bunyi, meskipun sudah beberapa kali disulut api.

“Imam, tolong dong dicek. Kayaknya buntu lubangnya,” pinta teman, yang lebih tua dua tahun dari saya.

Belum genap semenit saya mengintip lubang bambu di ujung mercon, tiba-tiba saja mercon itu meledak. Menyisakan alis mata dan sebagian rambut depan yang menggulung karena tertimpa panas dari tembakan mercon.

Karena tahu saya telah dikerjai, saya mengejar-ngejar teman yang tak habis tergelak itu. Saya hendak menimpuk kepalanya dengan botol minyak tanah. Beruntung, keinginan itu tak tersampaikan.

Kejadian paling seru dari bermain Baraccung tiba di bulan Ramadhan. Anak-anak sering membunyikannya hanya untuk mengundang perhatian tentara Koramil yang mencak-mencak melarang permainan itu di bulan Ramadhan.

#Mengadu Jangkrik

(Sumber: googling)
Ini ada musimnya. Kalau musimnya tiba, kami, anak-anak, suka berkumpul di pasar dan melihat-lihat jangkrik yang diperjualbelikan disana. 

Saya agak berbeda dengan teman lainnya. Kebanyakan teman-teman saya memelihara jangkrik untuk diadu dengan jangkrik lainnya. Sementara saya hanya memeliharanya untuk mendengar suaranya yang melengking di malam hari. Bahkan, saya membuatkannya kandang dari batang es Miami dengan model yang bertingkat-tingkat. 

Namun seberapa hebat pun kita memelihara jangkrik, tetap saja tidak bisa bertahan lama. Mau diberi makan sayuran kubis kek, tumbuhan liar kek, atau sayur kangkung sekali pun, mereka tidak akan hidup sampai 2 bulan. 

#Menangkap Capung
(Sumber: googling)
Hm…kalau diingat-ingat, Ini salah satu kegiatan bermain yang bertema “menyiksa binatang”. Percaya atau tidak, tujuan kami menangkap capung hanya untuk memotong ekornya dan menyambungnya dengan batang rumput. Lantas melepaskannya kembali. Ya Tuhan, ampunilah dosa semasa kecil kami!

Untuk menangkap tikke’ (bahasa daerah), alat yang digunakan tergolong kreatif.  Batang lidi dibentuk melingkar dan ditancapkan pada ujung kayu gamal – daunnya untuk makanan kambing. Nah, batang lidi yang telah dilingkarkan tadi diisi dengan jaring laba-laba. 

Kalau sudah menangkap banyak capung, semuanya akan dihias berdasarkan kreativitas masing-masing. Parah! Tak ada yang peduli, si Capung bakal bisa terbang jauh atau mati dalam perjalanannya. Ya Tuhan, lagi, ampunilah kami yang masih polos itu.

#Layangan
Permainan yang mengenal musim. Jika tiba musimnya, kami berlomba-lomba membuat layangan terbaik. Menghiasinya, dan mengadunya di atas langit. Hiasan paling mainstream, sih, memasangi ekor dari kertas koran, sepanjang-panjangnya. Biar efek berkibar di langit kelihatan sempurna.

Ah, yang paling mengesalkan jika lawan menggunakan benang khusus, namanya gallasa’. Katanya, benang yang terasah dari pecahan kaca itu bisa memotong setiap benang yang disilangnya. Layangan yang dibuat setengah mati bisa putus dan diterbangkan angin tanpa kemudi. Jadilah teman-teman akan berebut kepemilikan baru atas layangan yang sudah putus itu. Siapa cepat, dia dapat!

Oiya, beberapa permainan di atas benar-benar menggugah semangat masa kecil. Bagian paling seru di kala bersama-sama mencari bahan untuk membuat beberapa permainan itu, yakni bambu. Berbekal parang seadanya, kami menelusuri hutan dan kebun untuk membawa pulang sebatang bambu. Kerja sama. Persahabatan. Keakraban. Kemandirian. Kekompakan. Berbagi. Komunikasi. Secara tak langsung, kami mempelajarinya dari sana. 

“Nah, Cop!! Ini punyaku!”


...bersambung (lagi)


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 24 Januari 2015

Kangen Rasa Bermain

Januari 24, 2015
Tetiba saja saya ingin kembali ke masa kanak-kanak.

Kemarin, di tengah perbincangan (menunggu dosen), saya dan dua orang teman lainnya sibuk mengenang permainan tradisional yang pernah populer di masa kanak-kanak dulu, di era 90-an. Sebagian mungkin bukan permainan tradisional, namun bisa dikatakan sebagai kegiatan yang dikerjakan untuk membunuh waktu demi berkumpul bersama teman-teman lainnya. demi bermain di luar rumah.

“Kalau dipikir-pikir, permainan semacam itu sudah tidak laku lagi ya? Sekarang kan anak-anak sudah dihujani dengan internet, gadget, dan segala macam permainan yang membuatnya hanya duduk manis di dalam rumah,” ujar salah seorang teman.

"Iya, dulu di pikiran kita memang cuma ada bermain. Sepulang sekolah, langsung bermain," ujar yang lain menimpali.

Saya membenarkan. Perkembangan teknologi, pelan tapi pasti, ikut mematikan kreativitas dan daya berpikir anak-anak. Proses sosialisasi, yang seharusnya dipelajari dari berinteraksi dengan teman-teman, sudah tak lagi banyak ditemukan. Sangat-amat-jarang saya menemukan anak-anak yang bermain seperti dulu. kini, anak-anak sibuk berselancar di dunia maya dan bersosialisasi semu di ranah dunia maya. Sialnya, betapa pun kita sadar bahwa dunia maya itu benar-benar “maya”, tapi kita toh selalu membawa-bawanya ke ranah dunia nyata.

Pokoknya, dunia kanak-kanak di era sekarang, sungguh berbeda dengan dunia kanak-kanak di era 90-an. Meskipun hidup di masa kini lebih banyak “mudah”nya, karena teknologi, di masa kita kecil dulu, orang-orang toh tetap bisa  berkomunikasi dan bekerja dengan baik.

Tanpa perlu dihubungkan hape, orang-orang masih bisa berkomunikasi. Janji ketemuan masih bisa ditepati. Anak-anak juga masih bisa pulang sendiri ke rumah dengan selamat. Tanpa banyak tivi, masyarakat juga sudah kebanjiran informasi. Sadar atau tidak, teknologi media dewasa ini sudah mulai mengaburkan informasi-informasi yang seharuisnya diterima dengan baik. Tak tanggung-tanggung, dampak moral siap diterima anak-anak yang belum cukup umur.

Dulu, kalau hendak main di luar rumah, saya atau teman lainnya pasti datang, sendirian atau rame-rame, memanggil ke rumah yang lainnya.

“Imam! Imam! Main yuk!” teriak salah seorang dari kami, polos.

Atau dengan agak lebih sopan, “Ada Imam, Tante?” sambil tersenyum cengengesan ke orang tua.

Hahahaha…asli, saya merindukan panggilan-panggilan polos seperti itu. Mengajak keluar rumah dan menikmati sajian alam sekitar. Sungguh berbeda dengan sekarang, yang anak kecilnya sudah dilengkapi kemudahan teknologi. Sampai-sampai anak yang baru lahir pun sudah punya akun social media. #Kehidupanga'

Sudahlah. Sembari menyeruput cappuccino pagi, mungkin permainan-permainan ini pernah kita kenali sebagai permainan di masa kecil dulu.

#Kelereng dan Wayang (Kartu)
Bermain kelereng. (Sumber: googling)
Orang di daerah mengenal nama kelereng sebagai goli’. Selain itu, wayang disini bukan seperti wayang (Jawa) kebanyakan yang dilakonkan oleh seorang dalang. Melainkan kartu bergambar, yang biasanya dinomori dan berisi gambar-gambar superhero atau lainnya. Biasanya sampai 36 potongan.

Keduanya merupakan permainan masa kecil saya. Keduanya punya jenis permainan yang berbeda-beda. Wayang; sippappa (ditepuk), qui-qui (semacam poker), sibuang (mengempas pasangan kartu di dinding), dan lainnya. Kelereng juga; puntung, galesong, ada pula yang membuat gambar segitiga atau lingkaran di tanah dan mengisinya dnegan kelereng taruhan untuk selanjutnya diperebutkan dengan pakamba’ masing-masing (saya lupa namanya apa).

Saya tetiba melintas lorong waktu ke masa anak-anak saya.

Bayangkan! Kami juga dari kecil sudah belajar taruhan. Bukan uang sih. Hahaha…tapi dari situ pula, kami, anak-anak, belajar berbisnis. Saya pernah melakoninya.

Kalau koleksi wayang dan kelereng sudah banyak, biasanya sampai setoples kaleng besar, saya akan membuka penawaran kepada teman-teman lain yang tertarik membelinya. Saya menjual wayang dengan harga Rp100,- untuk 100 potongannya. Kelereng agak lebih mahal lagi. Zaman segitu, uang Rp100 masih sangat bernilai, bisa buat beli permen Sugus, Yosan, BigBabol, dan semacamnya 5 butir. 

Wayang dnegan berbagai jenis gambarnya. (Sumber: googling)

Dan hal yang paling lucu adalah ketika saya atau teman lainnya suka mengaplikasinya kecurangan yang bernama patalo lari. Artinya, menang lalu kabur. Di saat bermain dan sudah memenangi banyak taruhan, seseorang akan berhenti dari permainan dengan berbagai alasan.

“Aduh, saya dipanggil ibu. Saya harus pulang sekarang,” contoh alasan yang paling banyak dipakai. Padahal alasan yang sebenarnya: ia sudah menang banyak dan tak ingin keberuntungannya lenyap sewaktu-waktu dan menimbulkan kerugian besar padanya. Hahaha…

Kalau sudah begitu, saya rasa-rasanya mau menimpuk kepala teman yang hendak bermain patalo lari itu.

#Petak Umpet
"Satu, dua, tiga,... sudahmi?" (Sumber: googling)
Tipe permainannya pun ada bermacam-macam. Ada yang hanya tutup mata dan sembunyi, ada pula yang menyertakan tumpukan kayu yang disusun dan harus dijaga oleh Si Penjaga, agar tidak dikenai lawan yang sedang bersembunyi. Kalau tak salah, namanya Sienggo'.

Permainan ini semakin menyenangkan kalau ada persiapan pesta pernikahan di sekitar rumah. Saya dan teman-teman suka bermain di antara tumpukan kursi, tenda, besi-besi pondasi, dan sebagainya. Tidak peduli siang ataupun malam hari. Justru, bermain petak umpet di malam hari jadi semakin seru.

Ah ya, tempat yang paling aman bersembunyi buat saya adalah di rumah sendiri. Tak ada satu pun teman-teman yang akan menyangka. Bisa dibilang, rumah sebagai area bebas pencarian Si Penjaga. #dasarcurang.

Di rumah, saya akan memperkirakan sudah berapa lama bersembunyi. Sambil nonton tivi atau makan. Jika sudah ada teman yang tertangkap, maka saya baru keluar dari rumah dan (sok) mencari tempat persembunyian sebenarnya. Hahaha…curangnya minta ampun! 

Bagi yang pandai memanjat, pohon sebagai tempat berjaga Si Penjaga bisa menjadi nominasi keren sebagai tempat persembunyian terbaik. Bukankah tempat yang paling aman adalah tempat yang paling berbahaya?

#Ceba-ceba Duduk
Entah kenapa dinamakan seperti ini. Karena Ceba itu artinya “monyet”. Jadi, jika diartikan secara harfiah, artinya monyet-monyet yang duduk. Hahahaha… mungkin karena capek dikejar.

Ini permainan yang cukup menghabiskan tenaga. Berlari-larian di lapangan. Satu orang penjaga yang akan mengejar semua peserta hanya untuk menyentuhnya. Kalau sudah kena sentuhan dari Si Penjaga, maka bergantilah tugas mengejar-ngejar itu.

Kalau tak ingin disentuh, bisa memblok diri dengan berjongkok di tempatnya. Namun, tidak bisa ikut berlari lagi sampai ada teman lainnya yang menyentuh untuk membebaskan. Begitu aturan permainan seterusnya. Siapa yang cepat larinya, dia yang dapat untungnya.

Dan lagi, solusi agar tidak kena sentuhan, bisa dengan memanjat pohon. :p


...bersambung

--Imam Rahmanto--

Rabu, 21 Januari 2015

Mendewasalah

Januari 21, 2015
Ada hal-hal yang tidak bisa dilalui. Ada hal-hal yang bisa diakali. Ada yang selalu mengada-ada dan tidak nyata. Namun tak ada sesuatu yang tak bisa dilalui. Yang dilakukan cukup percaya pada diri sendiri.

Orang-orang boleh kehilangan kepercayaan pada saya. Namun saya tak boleh (dan takkan pernah kehilangan kepercayaan pada diri sendiri. Saya meyakininya sejauh ini.

Suatu waktu, di kala saya harus menahan kantuk di sebuah rapat pertanggungjawaban lembaga pers kampus, beberapa dinamika terjadi di dalamnya. Dinamika yang selalu menguatkan mereka yang tahu artinya berorganisasi dan bersosialisasi.

Saya benci ketika orang lain berbohong. Namun tak seberapa bencinya saya dengan mereka yang kehilangan harapan untuk terus maju dan memantaskan diri.

Sekali waktu, dalam rutinitas tiap triwulan itu, saya menyaksikan salah seorang teman hendak menyudahi perjuangannya. Kata “tidak”, yang memang dari lubuk hatinya secara terang-terangan menunjukkan keletihannya dalam menjalani kehidupannya disana. Setelah berpikir beberapa jenak, kata itu meluncur begitu saja menikam setiap orang yang selalu mempercayainya. Sungguh memilukan.

Entah dia, atau bersama teman-temannya yang lain, terantuk pada kenyataan bahwa mengemban amanah itu memang memberati nyaris sebagian hidup. Setengah kehidupan seolah direnggut demi mempertahankan amanah yang setiap saat siap menggerogoti alur berpikir di dalam kepala. Kepala hanya dilengkapi tengkorak, yang tidak siap menahan serangan ke arah hati yang menyakiti. Bukankah sakit di ulu hati lebih “sakit” ketimbang sakit di dalam kepala?

“Saya ketakuran setengah mati tak bisa melakukan yang terbaik bagi semuanya,” ujarnya di depan semua orang-orang yang harus disuapi kebenaran.

Ah ya, ketakutan itu selalu ada. Bahkan sering kali, ketakutan-ketakutan yang muncul hanyalah sebentuk representasi dari hal-hal yang sebenarnya tak pernah ada. Kepala kita terlalu sibuk memintal ketakutan itu, dan mengandaikannya. Sehingga kita terlanjur takut terhadap apa yang sebenarnya tak kita ketahui atau tak dipahami.

Mari membalik keadaan dimana saya pun mengalaminya…

Rapat pertanggungjawaban tiba. Pekerjaan selama tiga bulan dilalui dengan perasaan tertahan. Keletihan tanpa ujung yang selalu dinilai keliru para penguji dan pengawas. Dalam hal ini, mereka yang mempercayai saya, meski dengan caranya yang berbeda. Kerja keras tak ada apa-apanya. Jawaban hanya sekadar alasan untuk mengalihkan kesalahan. Akh, benar-benar tak ada yang mengesankan dari pekerjaan selama tiga bulan.

Komentar bertubi-tubi, yang jauh dari kesan layak, dilayangkan terang-terangan. Di depan peserta lainnya yang sebagian besar tak tahu apa-apa. Sebagian lainnya pura-pura tak tahu apa-apa. Sebagian lagi, mereka yang hendak dilindungi karena telah memberikan kepercayaannya pada saya.

Jauh di dalam hati, saya tahu, kesan serba salah di mata para senior sebenarnya bukan tanpa andil apa-apa. Saya paham betul, ada hal yang ingin diajarkan tanpa terang-terangan disebutkan; mental pejuang. Terlalu banyak pujian terkadang hanya akan melenakan dan tak akan membuat seseorang berkembang lebih jauh.

“Kau tidak melindungi mereka. Padahal kau pemimpin mereka!” jauh hari kata-kata itu terngiang di kepala. Sudah lama sekali.

Sejujurnya, saya kerap kali berpikir,

“Saya tak kuat lagi. Saya sampai disini saja.” Kalimat itu terngiang bergantian di kepala. Sungguh naas, pekerjaan saya dianggap remeh begitu saja.

Namun, pikiran sehat menunjukkan, saya masih punya alasan untuk terus berjuang sampai akhir. Saya memandangi orang-orang di sekeliling sana, dan memastikan bahwa merekalah orang-orang yang membuat saya tetap berjuang. Ya, benar. Karena saya tak sendirian.

Dan seharusnya, saya melihat hal serupa di malam yang sungguh mengecewakan itu…

Kedewasaan itu diukur dari sejauh mana kita berpikir. Bukan berpikir tentang diri sendiri. Melainkan berpikir tentang orang lain. Tentang apa yang bisa dilakukan untuk orang lain. Perihal berguna bagi orang lain dan kebanyakan yang lainnya.


--Imam Rahmanto--

Senin, 19 Januari 2015

Mari Berterima Kasih

Januari 19, 2015
Designed by me.

Acap kali membeli barang keperluan di warung dekat kost, saya kerap dibuat terharu (yah, paling tidak saya sangat-amat tergugah) oleh empunya warung. Pemilik sekaligus penjaganya yang merupakan seorang ibu paruh baya, berusia di atas 50 tahun, senang sekali berterima kasih kepada pembelinya. Yah, berterima kasih, yang secara harfiahnya memang betul-betul mengucapkan “terima kasih”.

Ummi, sapaan akrab yang diberikan mahasiswa-mahasiswa sekitar kompleks per-kost-an, tak segan pula berterima kasih dengan caranya yang lain,

Kita’ terus ji itu yang kasih laku kopiku, nak,” ujarnya setiap kali saya membeli cappuccino sachetannya. Saya hanya membalasnya dengan mengobrol ringan.

Saya takjub sekaligus  heran mendengar Ummi sebagai orang yang lebih tua tak segan-segan menunjukkan rasa terima kasihnya kepada orang lain. Tak peduli seberapa jauh rentang usia yang menjembatani. Ummi memang selalu ramah kepada siapa saja. Dan lagi, hal-hal itu terkadang bagi saya dan orang awam lainnya dianggap tak perlu mendapatkan ucapan terima kasih. Kalau dipikir-pikir, seberapa besar pengaruh saya yang hanya membeli 2 sachet barangnya jualannya saban hari?

Mengucapkan terima kasih memang sederhana. Dua patah kata saja. Namun pada kenyataannya, orang-orang nyaris lupa bahkan enggan mengucapkannya hanya karena menganggap hal-hal tertentu memang sudah sewajarnya dilakukan. Atau belakangan sebagian dari mereka menganggap bahwa transaksi dalam bentuk jual-beli, ucapan “terima kasih” sudah tergantikan dengan pembayaran sejumlah uang.

Membeli sesuatu? Untuk apa? Kita kan membayar. Menumpang pete-pete (angkutan kota, red)? Kita juga membayar kok. Orang tua di kampung mengirimi uang saku tiap bulan? Hm..itu kan sudah kewajibannya. Dosen memberikan tugas mata kuliah di luar kesanggupan? Ah, ini justru mempersulit bukannya membantu. Orang lain memberikan barang yang diinginkan? Nah, ini baru “terima kasih”.

Kita kerap melupakan esensi pertolongan itu sendiri. Dikotak-kotakkan dalam kategori; mengharapkan imbalan atau tanpa pamrih. Mungkin, kita tak lepas berpikir bahwa orang-orang yang mengharapkan imbalan (hingga bayaran) atas bantuan yang diberikannya tak pantas dihadiahkan terima kasih. Sementara mereka yang tanpa pamrih, diganjar ucapan terima kasih ala kadarnya.

Kita membeli barang lantas dilayani dengan sepantasnya, bukankah sudah sewajarnya kita berucap terima kasih?

Turun dari pete-pete selepas diantarkan ke tempat tujuan, bukan hal yang buruk untuk mengucapkan terima kasih, sembari mengangsurkan uang. Bersyukurlah kalau digratiskan.

Kiriman orang tua tiba tepat waktunya, tanpa kita pernah tahu, sekali-dua kali, mereka berutang sana-sini. Akh, betapa durhakanya kita melewatkan ucapan terima kasih untuk keduanya.

Pun, ketika dosen menugaskan “tugas-di-luar-batas-kemampuan-hambanya”, kita cukup berterima kasih karena ia telah percaya dan mampu memaksa kita untuk berusaha jauh lebih giat lagi.

Saya terkadang geli sendiri melihatnya. Orang-orang lupa caranya berterima kasih. Bahkan cara paling sederhana dalam upaya melisankannya. Sementara beberapa dari kita kolot menuntut orang lain menghargai bantuan yang telah diupayakan sepenuh hati. Ada kalanya kita enggan mengucapkannya hanya karena dibatasi gengsi. Alangkah lucunya manusia ciptaan.

“Biasakan untuk mengatakan terima kasih. Untuk mengekspresikan apresiasi anda, dengan tulus dan tanpa harapan imbalan apa pun. Anda akan menemukan bahwa Anda memiliki lebih dari itu.”  –Ralph Marston, The Daily Motivator

Sejatinya, menyampaikan terima kasih bisa memperbaiki perilaku dalam hubungan antar-manusia. Penelitian yang dilakukan Florida State University, Tallahasse menunjukkan bahwa terima kasih, ketika disampaikan, meningkatkan kekuatan komunal. Mereka yang menyampaikannya, akan memusatkan pada ciri-ciri baik pemberinya. Merasa bertanggung jawab. Sementara mereka yang diberikan ucapan terima kasih, akan membalasnya dengan niat baik, antusias, merasa dihargai, dan terdorong melakukan hal yang sama.

Betapa Ummi yang tak pernah lupa mengucapkan, “Terima kasih di’, nak,” benar-benar menyentuh. Saya merasa dihargai, meskipun untuk hal-hal yang tak seberapa berharga bagi saya. Kadangkala hal-hal yang kita anggap tak seberapa menjadi tak ternilai bagi orang lain. Karenanya, sebagus apa pun cappuccino oplosan yang ditawarkan warung lain, saya lebih memilih membeli di warung Ummi, yang hanya berjarak satu rumah. Ada penghargaan sederhana, yang tanpa sadar, selalu dibiasakannya. Dan kami, para pembeli, meraa dihargai.

Bagi saya, cara paling sederhana untuk menghargai setiap hal yang dilakukan orang lain adalah dengan mengucapkan terima kasih. Apalagi untuk hal-hal yang memang dilakukan tanpa pamrih. Dorongan untuk melisankan terima kasih seharusnya tak begitu berat dilakukan. Sederhana saja.

“Mengucapkan terima kasih bukan sekadar sikap yang baik, tapi spiritualitas yang baik,” –Alfred Painter

Saya tak ingin lupa caranya mengucapkan dua kata sederhana nan penting itu...

Merci beaucoup.

Sas efharisto.

Dank je.

Danke.

Shukriya.

Xie-xie.

Gracias.

Gamsa hamnida.

Arigato gozaimasu.

Syukron.

Thank you.

Terima kasih.



--Imam Rahmanto--

Sabtu, 17 Januari 2015

28# Keep Move

Januari 17, 2015
Yang namanya mahasiswa tingkat akhir itu, nyeseknya ada banyak rasa. Salah satunya ketika ditanya, “Semester berapa?”, dan saya hanya bisa mengingat-ingat sudah semester berapa sekarang? Saya merasa amnesia-ringan.

“Sudah semester berapakah saya sekarang?”   

Dan jawabannya, entah. Satu-satunya hal yang lekat dalam ingatan: saya sudah semester akhir!

Sudah tak penting lagi nominal semester yang sekarang saya emban. Misi paling penting untuk bulan ini, ya menyelesaikan tunggakan tugas akhir studi. Tugas akhir yang sementara on going dalam waktu dekat, kini sudah tiba di tahap penelitian. Sedikit lagi, saya akan sampai pada tahap selanjutnya; ujian meja. Kalaupun penelitiannya berjalan dengan lancar.

Buktinya, dalam agenda #Program24hari yang telah disusun, saya baru bisa menyelesaikan satu wawancara dengan narasumber (baca: subjek penelitian). Sementara masih ada 29 orang lainnya yang mesti diwawancarai. Kebayang tidak, waktu yang harus saya sisihkan demi mewawancarai mereka satu per satu?

Pengumpulan data yang melalui proses wawancara terbuka tersebut sebenarnya bukanlah tanpa alasan. Jauh hari sebelumnya, saya telah menyiapkan kuesioner (beserta pilihan jawaban tertutupnya) untuk dibagikan dalam proses penelitian nanti. Akan tetapi, di sisi lain, pembimbing – yang tahu bahwa saya merupakan demisioner persma (pers mahasiswa) – mengusulkan untuk mengumpulkan data dengan teknik wawancara terbuka.

“Lebih bagus ketika kamu melakukan wawancara terbuka saja. face to face. Kau bisa menggali informasi lainnya yang lebih spesifik,” usulnya.

Sebelumnya, saya juga lebih senang ketika mengumpulkan data dengan cara demikian. Sebagaimana passion yang telah saya bangun sejak dulu. Pemilihan judul skripsi pun berdasarkan kemampuan dan ketertarikan saya sebagai seorang persma. Unik. Punya koneksi. Berbeda dari judul-judul mainstream lainnya: Pengaruh… Perbandingan… Komparasi… Efisiensi… Analisis… Efektivitas… Peningkatan… Argh, sungguh judul yang berat!

Yowis, biar agak berat, mbok ya dijalani saja. Kalau ada kemauan, pasti selalu ada jalan. #justbelieveit. 

Saya bersyukur, hingga kini diberikan beberapa kelancaran dalam pengelolaan tugas akhir itu. Sedikit demi sedikit saya menyelesaikan beberapa pekerjaan atau persyaratan yang sudah bisa dikerjakan sejak dini. Tak perlu mengambil pasca penelitian. Yang namanya ngebut, ya harus mengambil segala kesempatan yang dimiliki.

Bagian-bagian dari skripsi, semisal kata pengantar, halaman judul, halaman pengesahan, motto dan persembahan, daftar isi,  daftar riwayat hidup, semuanya sudah rampung. Beberapa persyaratan pendaftaran ujian meja juga sudah mulai saya persiapkan dari sekarang. Saya tak peduli kalau penelitian saya masih sementara berlangsung. Lagipula, hal-hal semacam itu bisa dikerjakan tanpa menunggu rampungnya pengumpulan data. Sambil menyelam minum air. 

Yeah, saya tinggal menaklukkan penelitian ini. Penelitian yang akan cukup menguras tenaga dan pikiran. Jangan pernah berpikir bahwa membuat judul skripsi yang “beda-dari-yang-lain” itu mengenakkan. Beberapa bagian harus dibuat a la pemikiran sendiri.

“Jadi, bagaimana caramu nanti analisis datanya?” tanya beberapa orang yang takjub penasaran dengan judul skripsi saya.

Hm..dipikirkan lain waktu saja. Paling penting, saya cukup bergerak saja mengiringi watu yang semakin melaju. Move. Move. Move. Saya tak mau lagi ketinggalan hidup yang seharusnya mulai dicicipi dari sekarang. Ini sudah 2015, Men!

Screenshot by film The Secret Life of Walter Milty. 


--Imam Rahmanto-- 

Minggu, 11 Januari 2015

Di Sebuah Putaran

Januari 11, 2015
Saya sedang berteduh dari derai hujan. Di pinggir jalanan kota. Di depan sebuah minimarket yang dijagai tiga orang pelayannya.

Mengamati seorang anak kecil yang berlari-lari menembus hujan. Di tangannya terselip mantel hujan. Sederhana, hanya berbahan dasar kantong plastik kresek. Ia menyusul temannya yang sedang berdiri di tengah pembatas jalan. Temannya itu sedang mengamati seksama mobil-mobil yang melintas. Kali saja ada yang hendak memutar jalan melalui u-turn yang dijaganya. Temannya itu, kuyup dibasuh hujan.

“Hei, darimana saja?” tanya anak yang menanti itu.

“Ini. Saya mengambil ini,” jawabnya sembari membungkus badannya dengan mantel.

Di kepala saya hanya terlintas percakapan seperti itu. Saya menyusun banyak percakapan di kepala sambil tersenyum sendiri melihat tingkah kedua anak itu. Tergelitik juga.

Saya masih mengamatinya. Berjongkok dan menyedekap lutut. Bermandikan tempias hujan di teras minimarket ini. Tepat di depan sana, hanya berjarak sepuluh langkah, mereka berdua berbagi tugas menghalau mobil yang melintasi perputaran arah jalan.

Sesekali, anak yang terlanjur kebasahan itu berlari ke minimarket yang sedang menjadi tempat berteduh saya. Masuk ke dalam. Entah mengambil atau meminjam apa dari kasir minimarket. Lalu berlari lagi, hujan-hujanan, ke “pos” U-turn yang beberapa jenak di tengah hujan ia tinggalkan. Ia tak ingin kehilangan kesempatan meraup rezeki hari itu.

Hujan agak lama. Cukup mengganggu. Saya punya janji yang tak bisa dilewatkan hari ini.

“Kak, Kak, mau menyeberang?”

Anak bermantel hijau berseru ke seorang perempuan yang berada di pinggir jalan, hendak menyeberangi lalu-lalang kendaraan bermotor. Berpayung, perempuan itu menunjukkan mimik muka yang agak risih, ataukah malu, ketika diseru demikian.

“Tunggu disitu saja,” serunya lagi hendak melawan gemuruh hujan.
 
Tanpa menjawab seruan anak bermantel hijau, perempuan itu berbalik arah dan kembali ke minimarket yang tadi dimasukinya. Padahal anak itu sudah menyetop kendaraan yang melaju, bersiap menyeberangkannya dari seberang tempat perempuan tadi berdiri dan berbalik arah.

Beberapa menit berselang, saya tak lagi melihat perempuan itu. Saya terlalu asyik menyaksikan kehidupan kecil dua anak kecil yang berburu rezeki. Sementara perempuan itu mungkin membatalkan niatnya menyeberangi jalan.

Hujan masih menerpa jalanan kota. Kalau berlangsung simultan, akan menggenangi beberapa wilayah di kota ini. Mungkin, ini hanya sebentuk cobaan buat kota ini. Seberapa kuat kota ini hendak melanglang dunia dengan permasalahan banjir yang setiap tahun tak pernah surut. Tahulah.

Anak itu begitu gigih mencari uang di tengah hujan mengguyur seperti ini. Betapa profesionalnya. Rasanya, ia tak peduli seberapa banyak uang yang akan dihasilkannya dari mengumpulkan lembaran uang seribuan dari mobil-mobil yang dihalaunya. Ia hanya tahu, bekerja dapat uang, yang entah akan digunakan untuk apa uang itu.

Hujan dan kedua anak itu tak mempedulikannya. Yang satu tetap bersemangat dengan pakaian yang menetes-neteskan air. Yang satunya lagi, berbalut mantel kedodoran, setia menemani dan bergantian menghalau. Di sela-sela menanti mobil yang berbelok, mereka biasa berbincang satu sama lain yang dilanjutkan dengan tawa. Hal paling sederhana dalam keseharian mereka nyatanya bisa menjadi hal paling lucu untuk ditertawakan. Menertawakan sesuatu itu cukup mudah dan sederhana.

Saya mengalihkan pandangan ke tukang parkir yang lalu-lalang di depan saya.

Seorang tukang parkir yang bekerja secara profesional pula. Saya melihatnya setiap kali memberhentikan mobil yang diparkir. Dengan sigap, ia menadahkan payung kepada orang-orang yang hendak keluar dari mobil. Sebenarnya, tanpa perlu ia menyediakan payung pun, orang-orang tetap saja akan masuk ke dalam warung. Nyaris setiap beberapa menit, warung makan yang berada tepat di sebelah minimarket itu kedatangan pengunjung baru.

Pada mulanya, saya mengira aksinya itu hanyalah sebentuk “tambahan” rupiah bagi dirinya. Akan tetapi, dari pertama kali saya melihatnya mengiringi anak-anak, ibu-ibu, pemuda, pemudi, yang turun dari mobil, ia tidak meminta bayaran sepeser pun. Ia hanya melakukannya sebagai bentuk pengabdian tambahan atas profesi yang dimilikinya.

Tak jarang, pelanggan yang diiringi memegang sendiri payungnya menuju warung makan. Meninggalkan tukang parkir itu kehujanan. Dongkol? Tidak. Ia sudah cukup tertolong melihat pelanggannya tidak kebasahan. Lagipula ia membaluti dirinya dengan mantel hujan.

Saya tak mengenal orang-orang itu. Mungkin hanya pengamatan tak disengaja demi mengusir kebosanan di tengah menanti hujan mereda.

Mereka adalah orang-orang yang bekerja di tengah hujan. Ternyata masih banyak orang-orang yang mengais rezeki dan memanfaatkan hujan tidak sebagai penghalang. Lantas, ada apa dengan kita yang selalu mengeluhkan hujan? Sejauh apa taraf bersyukur kita...

Hujan tersisa sedikit. Saya memutuskan untuk menembus saja tetes yang tersisa. Malu ah menyaksikan orang-orang yang menari di bawah hujan, sementara saya terlena menanti redanya hujan. Tahukah, menanti itu menyimpan banyak pembenaran. Padahal menunggu atau menanti, yang sebatas berdiam diri dan tak melakukan apa-apa, tidaklah lebih baik ketimbang bergerak dan melakukan sesuatu. Move. On.


--Imam Rahmanto-- 

Minggu, 04 Januari 2015

Sudah Tahun 2015, ya?

Januari 04, 2015
Tahun berganti. Sekarang sudah tahun 2015. Seminggu lalu, masih tahun 2014. Hm...rasa-rasanya, realitasnya, waktu berlalu begitu cepatnya, sementara kita selalu berhitung dan memperhatikan pergerakan waktu seolah-olah bergerk begitu lambatnya.

Yeah, di tahun kemarin, masih banyak hal yang belum sempat saya selesaikan. Saya masih menyimpan banyak harapan yang tertunda. Saya juga sudah meninggalkan banyak kegagalan yang hanya membebani pikiran. Mm..sebenarnya saya lebih suka menyebutnya "pembelokan" ketimbang kegagalan. Karena sejatinya Tuhan selalu menunjukkan jalan yang paling baik.

"Terkadang kita harus menemukan hal yang salah untuk menemukan sesuatu yang benar." --by movie.

Menyambut tahun baru 2015, orangberamai-ramai menyatakan, mengungkapkan, menuliskan, menanyakan resolusi. Yang namanya "resolusi" ini jadi tren di kalangan para maniak tahun baru. Maaf, saya bukan termasuk orang yang senang berpesta pora di tahun baru. Saya cenderung memandangnya biasa-biasa saja. Hanya beruntung, teman-teman mengajak makan-makan di tahun baru. Ini soal makan-makannya, bukan merayakan tahun barunya. Beda loh!

Ya sudahlah, maka di tahun 2015 ini, saya akan...

...banyak membaca.
...banyak menulis (apa saja)
...banyak menabung
...banyak beli buku, (lantas uang tabungannya??)
...banyak bekerja (yang keren sesuai passion)
...banyak berdoa dan beribadah
...banyak bersyukur
...banyak berpikir positif
...banyak bergerak (mungkin dengan berjalan kaki)
...banyak makan (biar berat badan saya bertambah)
...banyak bangun pagi (oh, Tuhan dan siapa saja, bantu saya!)
...secepatnya menyelesaikan kuliah (pasti!!)
...banyak menyayanginya (saya harus mulai menyadari dan banyak memperhatikan)
...banyak mencoba hal-hal baru
...banyak mengunjungi tempat-tempat baru (yang keren dan lebih kereeen)
...banyak mengenal orang lain

Dan hal lainnya yang akan berubah seiring bergantinya waktu. Intinya, saya harus lebih baik dibanding hari sebelumnya.


--Imam Rahmanto--

Jumat, 02 Januari 2015

Mengenal Musik Fantasy

Januari 02, 2015
Sumber: Goodreads
Judul Buku: Fantasy | Penulis: Novellina. A | Editor: Ruth Priscillia Angelina | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Tahun terbit: 2014 | Tebal buku: 312 halaman

“Apakah kamu tahu bagaimana Mozart menciptakan Piano Sonata for Two Pianos?” –hal.83

Saya tak pernah menyangka akan membaca (lagi) buku ber-genre metropop. Setahu saya, sebagian besar metropop mempunyai alur kisah yang selalu berputar pada persoalan khas remaja; cinta. Pokoknya, all about love. Saya cenderung risih dengan romantisme dalam buku maupun film-film, khususnya film K-Pop. Kisah percintaannya terlalu digambarkan dengan hyperbolic-romantism.

Oke, mari membahas buku ini.

Buku yang kemudian saya baca rentang dua hari itu, nyatanya memberikan persepsi yang cukup berbeda. Darinya, saya memperbaharui, atau lebih tepatnya, mengawali pengetahuan tentang musik klasik. Tentang Mozart, Beethoven, Scubert, Strauss, Haydn, Igor, dan kawan-kawannya. Tentang komposisi musik, partitur, concerto, orchestra, dan segala hal yang erat kaitannya dengan musik klasik. Saya cukup menikmati membaca buku ini. Sedikit-sedikit, penasaran dengan judul musik klasik yang disebutkan.

Secara umum, buku yang ditulis Novellina A ini mengacu pada cerita kehidupan tiga tokoh sentralnya, yakni Davina, Armitha, dan Awang. Ketiganya terlibat dalam konflik asmara yang lumrah ditemukan di kisah-kisah lainnya.

Bagaimana Awang mencintai Davina, dan berhasil menjadi pacarnya. Armitha, yang merupakan sahabat Davina, juga diam-diam menyukai Awang. Hingga ia rela belajar piano dan berangsur-angsur menyukai musik klasik karena ingin selalu dekat dengan Awang.

“Mungkin, jalan terbaik untuk tidak merasakan kesedihan adalah dengan tidak memikirkannya, menjauh dari kenangan, bahkan jika perlu meninggalkan semuanya untuk memulai hidup baru.” –hal.121

Pada akhirnya kehidupan mereka bertiga “dipercepat” di masa menginjak usia dewasa, dimana Awang telah meninggalkan Indonesia demi impiannya menjadi pianis internasional. Ia telah berkeliling dunia bersama tim orkestranya. Sementara Armitha, yang berasal dari sekolah musik yang sama di masa SMA, juga melalui jenjang pendidikan musik klasiknya di Paris.

Davina, yang berprofesi sebagai jurnalis majalah internasional akan bertemu dan mewawancarai Awang di salah satu perhelatan musik klasik Tokyo. Pada kenyataannya, selain membawa misi liputan, Davina ternyata juga membawa misi lain menemui Awang yang sudah 7 tahun tak ditemuinya. Ia ingin menemui Awang demi sahabatnya, Armitha. Di sisi lain, Awang masih mencintai Davina.

Disini lah kemudian kita akan menemukan konflik cerita yang secara berangsur disampaikan penulis. Davina bermaksud berkorban demi rasa bersalah sekaligus rasa sayang pada sahabatnya sendiri. Sementara Awang, masih mencintai Davina seperti saat pertama kalinya mereka bertemu. Ia memang mencintai Armitha, namun dalam “cara” yang berbeda di hatinya.

“Seperti itulah cinta. Kepercayaan total meskipun dia tidak pernah tahu apakah bisa bersamamu lagi. Pengorbanan bukan hanya tentang tindakanmu tetapi juga perasaanmu. Saat kamu memutuskan pergi, maka yang harus kamu lakukan hanyalah pergi selamanya. Jangan berani-berani kamu kembali,” –hal.281

Cerita dalam buku ini cukup menghibur dan membelajarkan, khususnya pengetahuan mengenai musik klasik. Penulis nampaknya cukup mahir menuliskan deskripsi permainan musik piano, yang berpindah dari satu komposisi ke komposisi lainnya. Beberapa istilah tentang musik klasik juga baru saya temukan dalam buku ini. Termasuk judul-judul musik klasik yang diciptakan komposer-komposer legendaris seperti Beethoven. Sama halnya dengan jenis piano; upright piano, yang baru saya tahu dari buku ini. Ternyata saya sering melihat piano sejenis namun tidak tahu namanya secara spesifik.

Gaya penceritaannya juga menarik. Saya pernah menemukan yang serupa dari penulis yang berbeda. Saya menyukainya. Sudut penceritaan berganti-ganti melalui Davina dan Armitha. Keduanya dijadikan tokoh sentral point of view, sehingga dengan spesifik kamu bisa mendalami perasaan sang tokoh.

Akan tetapi, penceritaannya cenderung hanya mempertontonkan tiga tokoh sentral itu. Perasaan cinta. Perasaan menunggu. Obsesi pada mimpi. Apakah dalam rentang 7 tahun lamanya, kehidupan yang mereka lalui hanya berkutat pada pikiran, "all about love"? Oh, come on! Saya tak habis pikir, bahkan untuk orang secantik Davina yang memutuskan bekerja sebagai jurnalis, ia masih bisa diganggu perasaannya rentang bertahun-tahun lamanya. Pekerjaan jurnalis bisa dikatakan sebagai pekerjaan tersibuk yang "berhak" menyabotase segala bentuk perasaan lain.

Terlepas dari kisahnya yang berputar pada “bagaimana memenangkan hati Awang”, buku ini bisa menjadi sedikit referensi awal mengenal dunia musik klasik. Yah, cukup bagus sebagai bacaan di kala senggangmu sembari mendengarkan musik klasik dan menyeruput segelas cappuccino.

“Komposisi itu satu-satunya yang diciptakan Mozart untuk dua piano. Dia menciptakannya untuk muridnya?” ujarku, antara menjawab dan bertanya.
“Because by playing piano along with his pupils, he wanted to recall himself how to enjoy music purely,” Valenntina menjelaskan. –hal.83

***

"Mungkin, jalan terbaik untuk tidak merasakan kesedihan adalah dengan tidak memikirkannya, menjauh dari kenangan, bahkan jika perlu meninggalkan semuanya untuk memulai hidup baru." --hal.121

"There is no burden in love, because love is always selfish." --hal.126

"Merantai kaki seseorang karena ketakutan kita bukanlah cinta melainkan keegoisan." --hal.126

"Tidak ada yang lebih menyedihkan selain saat seseorang kehilangan harapan. Ketika seseorang bahkan tidak sanggup memimpikan sesuatu. Ketika tidak ada keyakinan dalam dirinya sendiri bahwa akan ada hari esok, yang jauh lebih baik dari hari ini." --hal.133

"...mimpi bukanlah sesuatu yang tidak penting. Mimpi adalah inti dari kehidupan manusia." --hal.171

"Akan ada kemungkinan, walaupun sesaat, di dalam hati manusia, ruang singkat untuk kembali merindukan seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya tidak peduli betapa pekatnya kebencian yang ia miliki." --hal.216

"Seseorang perlu orang lain untuk mendukungnya betapapun besar bakatnya." --hal.260

"Yang lucu adalah kita tidak memerlukan kesempurnaab untuk hidup bahagia, namun kita terus mencarinya bahkan rela mengorbankan jati diri untuk itu. Padahal yang dibutuhkan hanya satu, percaya." --hal.261

"Kamu tahu mengapa manusia begitu suka sulap?"
"..."
"Karena manusia hanya melihat apa yang ingin ia lihat. Dia tidak sadar bahwa bukan mata yang menipu, karena mata hanyalah alat. Pikiran kita sendiri lah yang menipu penglihatan kita." --hal.269-270

"Ada beberapa orang yang memilih untuk tidak menginginkan apapun. Bukan karena dia telah memiliki segalanya, namun karena dia takut jika nanti memilikinya, dia akan terluka saat kehilangan." --hal.270


--Imam_Rahmanto--


P.s: Tulisan ini diposting ulang (dengan editing seperlunya) di WebZine Revius.