Rabu, 30 Desember 2015

Lelah, Boleh. Nyerah, Ogah.

Desember 30, 2015
"Boleh lelah, asal jangan menyerah."

Entah dimana saya pernah mendengar quote seperti itu. Tetapi, memang ada benarnya. Perihal lelah, atau capek, itu hal manusiawi. Toh, semanusia-manusianya manusia, punya batas kesanggupan juga dalam memikul beban. 

Selasa, selalu menjadi hard-day buat saya. Salah satunya karena mesti membackup salah satu halaman, yang terkadang saya sendiri bingung bagaimana menanganinya secara utuh. Ini nih akibatnya ketinggalan isu. Seseorang juga sedang tak jelas-jelasnya tanpa kabar.

"Dan ini kali pertama gue lihat kakak yg satu ini mengeluh =D"

Seorang teman perempuan mengirimkan pesan. Aduh. Segembira, segokil, seusil, se-kepo apa sih gue (saya)? Sampai dianggap tak pernah lelah dan mengeluh. _ _"

Pernah menonton film "Inside Out"? Salah satu film, yang menurut saya, cukup menarik. Kesampingkan alasan lain bahwa saya juga masih suka film kartun. Saya baru beberapa hari lalu menamatkan film itu usai berlelah-lelah ria di lapangan liputan. Sengaja meluangkan sedikit waktu menonton film dari laptop seorang kawan.

Soal emosi yang mengontrol kehidupan manusia. Sad (sedih), Joy (gembira), Fear (ketakutan), Anger (kemarahan), dan Disgust (jijik). Mereka semua digambarkan hidup di kepala seorang anak perempuan periang bernama Riley. Merekalah yang mengontrol emosi dan menghias keseharian sang gadis berusia 11 tahun itu.

Film itu mengajarkan bahwa setiap emosi itu berharga. Sedih, marah, jijik, takut punya perannya masing-masing. Itulah yang membuat manusia jadi manusia seutuhnya.

Joy : How did you do that?                    
Sad : Oh, I don't know. He was sad. So I listened to what...                                                 

Itu adegan dimana Bing Bong, tokoh khayalan Riley, bersedih lantaran kereta roketnya juga ikut dihapus (dilupakan). Saking sedihnya, ia nyaris tidak mau melanjutkan perjalanan bersama Joy dan Sad yang tersesat di dunia memory dan harus segera kembali ke "kantor pusat."

Awalnya, Joy dengan karakteristik riang gembiranya, mencoba menghibur Bing Bong. Apa daya, Bing Bong hanya bisa duduk termenung tanpa mengucapkan sepatah kata. Ia teramat sedih. Bing Bong yang lucu, saat bersedih, air matanya justru berupa permen.

Akan tetapi, Sad justru melakukan hal berbeda. Duduk di samping Bing Bong. Diam. Ikut mengatakan belasungkawanya. Dan mendengarkan Bing Bong bercerita panjang lebar tentang roket kesayangannya. Bing Bong bahkan sempat bersandar di bahu Sad, yang seolah paham perasaan sedih Bing Bong.


Inside Out mengajarkan kita tentang kegunaan masing-masing emosi. Kesedihan, tak selamanya buruk. Ada saatnya setiap orang butuh bersedih, meluapkan segala uneh-unegnya, agar orang lain tahu yang terpendam di kepalanya. Setiap emosi, punya waktunya sendiri untuk berguna. Namun, emosi pula yang membangun karakter dasar setiap kepribadian manusia. Entah periang, penggalau, pemarah, atau penakut. Di film itu, dijelaskan pula bagaimana setiap hobi, keluarga, pertemanan, kekonyolan, asmara, dan semacamnya dibangun dari ingatan-ingatan yang didasari emosi dominan.

Ah, yang namanya capek juga serupa itu. Mungkin, saya hanya butuh tidur sebentar dan besok sudah lupa semuanya. Ah, mau tidur, saya masih kelaparan...

***

"Jadi PNS saja. Jadi guru. Bisa dengan mulai mengambil langkah di SM-3T biar gampang terangkat," ujar salah seorang perempuan pada saya. Apa yang dikatakan selanjutnya, off the record. :3

Sedari awal, saya sudah ngotot tak ingin menjalani pekerjaan yang berbau pemerintahan. Tak mau masuk kantor dengan rentang aturan tertentu. Menangani hal yang sama hampir setiap hari. Mengenakan seragam yang sudah diwajibkan.

Sekali lagi, saya belum berminat...

Meski bekerja sebagai jurnalis, seperti sekarang ini, saya akui banyak kehilangan waktu bersantai.

Waktu luang yang harus tersisihkan oleh momen mencari dan merangkum berita. Sesudahnya, saya masih harus ke kantor "nyetor muka" ke redaktur terkait berita yang dikirimkan. Saya hanya sekali-kali saja mangkir-mangkir nakal. -,-

Tak cukup lagi waktu bersantai dan nge-cappuccino dengan teman-teman sekadar berbagi tawa. Meluangkan waktu melirik gadis-gadis manis. Kehilangan waktu cuci mata di toko-toko buku. Tak ada lagi waktu menonton film. Tak punya banyak waktu menemui adik-adik di lembaga pers kampus (LPM Profesi) sekadar "mendorong" kabar tabloidnya.

Namun, saya mencanduinya....

Berapa kali pun saya memasang wajah memelas usai diomeli redaktur, mengulangi tulisan yang masih harus diupgrade keesokan harinya, kecewa saat tulisan tak dimuat, kecewa pula saat tulisan yang dimuat tak sebanyak yang terkirim, kelaparan menunggui rapat listing malam hari oleh redaktur di desk olahraga, ketinggalan angkot dan tidak dapat tebengan motor, saya tetap suka kesulitan itu.

Pada dasarnya, saya menikmati tantangannya. Kedewasaan dan cara berpikir dewasa dibangun dari sebanyak apa menghadapi masalah... :)



--Imam Rahmanto--

*bagi kalian yang tergolong suka bermanja-manja dan tak suka tantangan, ya sudah, saya takkan pernah menyarankan jadi jurnalis.

Sabtu, 26 Desember 2015

Dari Atas Pesawat

Desember 26, 2015
(Sumber: ariesadhar.com)

Baru-baru ini saya menyelesaikan lagi satu novel yang sudah lama masuk dalam antrean baca. Akh, untuk menamatkan novel setebal 344 halaman saja saya mesti mencicilnya hampir seminggu. Kalau dihitung dari awalan baca di Goodreads, ada sekira 10 hari lamanya rentang waktu menuntaskan novel "Critical Eleven". Malu juga sih rasanya tidak baca buku di saat kamar punya jejeran rak buku yang menarik di depan mata.

Sebenarnya, salah satu alasan membaca novel ini karena penasaran dengan karya terbaru Ika Natassa. Buku pertama yang sempat saya baca dari penulis nyentrik ini adalah Antologi Rasa-nya. Hm...nuansa baca yang mengagumkan, lantaran ia mampu menyatukan semua sudut pandang dari beberapa tokoh yang diangkatnya.

Dibekap penasaran dengan buku lainnya, saya mulai mencicip karya Ika Natassa yang lain. Ada Divortiare, Twivortiare. Dan dari hasil bacaan itu, gaya menulisnya: sama!

Sungguh, Ika nampaknya sudah menasbihkan karakter menulisnya selalu demikian.

Tak heran ketika membaca karya teranyarnya ini, saya mendapati suguhan yang sama. Meski hanya dua sudut pandang dari tokoh utama, Anya dan Ale,namun itu sudah menunjukkan keahlian penulis dalam meramu sudut pandang penceritaannya. Salut!

Kisah "Critical Eleven" ini bercerita tentang salah satu prahara rumah tangga antar pasangan suami-istri. Di awal membaca novel ini, mungkin kita hanya akan menyangka ceritanya berputar pada kisah percintaan romantis dewasa. Di awal membuka novel, bercerita tentang pertemuan Anya Baskoro dan Aldebaran Risjad di atas pesawat sebelum take off.

"Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya."

Akan tetapi, setelah melahap hampir separuh buku ini, saya baru menyadari hal unik lainnya. Penulis mencoba memutar-mutar alurnya diantara dua tokoh yang bertindak sebagai pusat cerita ini. Saya suka cara bercerita "mundur"nya yang tak monoton. Ditambah pula dengan cerita dari sudut pandang orang yang berbeda.

Dua hal lain yang tak pernah hilang dari karakter novel Ika: latar dan gaya bertutur yang berkelas.

Latar novelnya selalu tak lepas dari kehidupan kalangan tingkat menengah ke atas. Bisa dibilang, sebagian tokohnya adalah orang-orang glamor nan elegan. Saya sedikit sekali menemukan tokoh yang punya latar belakang keluarga dan pekerjaan yang biasa-biasa saja.

Gaya hidup elit itu juga berimbas pada gaya bertutur sang tokoh. Isi novel bisa jadi cukup merepotkan bagi orang-orang yang tak paham berbahasa Inggris. Tak ada terjemahan khusus untuk setiap kalimat yang menggunakan bahasa bule itu. Bagus juga buat belajar memperdalam bahasa Inggris.

Yah, mungkin inilah satu ciri khas Ika Natassa.

Selebihnya, saya menganggap novel ini sungguh menarik. Kendati banyak orang yang mencap novel terbitan dalam negeri kurang berbobot, saya tetap menganggap beberapa penulis punya gayanya sendiri mempertahankan pembaca. Seperti halnya novel, beberapa film Indonesia juga masih punya kualitasnya kok.



 ***

"Berani menjalin hubungan berarti berani menyerahkan sebagian kendali atas perasaan kita kepada orang lain. Menerima fakta bahwa sebagian dari rasa kita ditentukan oleh orang yang menjadi pasangan kita," --hal. 8

"Waktu adalah satu-satunya hal di dunia ini yang terukur dengan skala sama bagi semua orang, tapi memiliki nilai berbeda bagi setiap orang. Satu menit tetap senilai enam puluh detik, namun lamanya satu menit itu berbeda bagi orang yang sedang sesak napas kena serangan asma, dengan yang sedang dimabuk cinta." --hal.17

"Hal-hal terbaik dalam hidupjustru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu," --hal.31

"Kata orang, saat kita berbohong satu kali, sebenarnya kita berbohong dua kali. Bohong yang kita ceritakan ke orang, dan bohong yang kita ceritakan ke diri kita sendiri." --hal.57

"In life, there are no heroes and villains, only various states of comproomise." --hal.112

"Hujan dan kenangan bukan perpaduan yang sehat untuk seseorang yang sedang berjuang melupakan." --hal.190

"Orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita." --hal.252


--Imam Rahmanto--

Minggu, 20 Desember 2015

Balada Hujan

Desember 20, 2015
Kau tak dengar suara di luar? Itu hujan. Ya, hujan. Ia pernah datang, sekali tahun, mengguyur tanah yang gersang

Belakangan, kota ini, memang lebih sering terguyur hujan. Air tumpah dari langit nyaris tak pernah berhenti. Dua hari mengguyur tak jeda, sehari berikutnya hanya menyisakan mendung tanpa secer(c)ah cahaya dari langit.

Gelap makin cepat datang. Azan Ashar yang berkumandang seolah mendahului maghrib yang masih berselang tiga jam. Langit gelap tertutup mendung, diselingi kilat yang berburu di permukaan awan.

Saya jadi terbiasa dengan air hujan. Di beberapa kesempatan, saya (sengaja) berhujan-hujanan. Sekadar menikmati apa yang tak bisa ditemui di musim yang lalu. Pakaian basah tiada terkira. Pertama kali bertemu hujan di musim ini, deras, saya harus menahan kecepatan laju kendaraan dari Maros hingga Makassar. Itu saat saya pulang menyambangi kampung kelahiran saya. Mungkin, sebulan kemarin...

"Kita jadi tak bisa kemana-mana kalau hujan," ujar teman saya.

Benar. Sekali waktu, saya menikmati rasa "tak-kemana-mana" itu di kamar kost-an.

Oiya, saya punya kamar di kost-an baru. Dekorasi pertamanya, saya dan seorang kawan mengisinya dengan rak untuk koleksi buku bacaan kami. Melihat koleksi bukunya sedikit lebih banyak, saya jadi terlecut ingin menambah lebih banyak koleksi buku lagi. Akh, saatnya menggalakkan program "investasi dua buku - sekali gaji". Hahahaha....

Bukannya tak punya agenda liputan. Beberapa agenda liputan on the spot justru terganggu dengan hujan yang tak henti mengguyur kota Makassar. Banjir dimana-mana. Jalanan beton tak punya jalur pengairan khusus untuk buangan airnya. Di kiriman grup BBM kantor, saya melihat jalanan protokol di depan kantor Gubernuran justru sudah menyerupai sungai.

Saya mencoba menikmati kenyamanan tak dipusingkan tuntutan berita. Lagipula, saya masih punya strategi khusus untuk memenuhi target (pribadi) berita tiap hari. Apalagi kalau tak ada acara resmi on the spot.

"Kalau jadi jurnalis olahraga, agak santai ya?" ujar teman sekantor saya.

Hm... padahal dulu saya cukup menghindari ditempatkan di salah satu desk ini. Entah bagaimana caranya, saya menikmatinya perlahan. Meski kata "mitos" di dunia garis kiri jurnalisme, tugas wartawan olahraga sama sekali tak menggiurkan. Amat jauh dari kesejahteraan sebagai seorang wartawan. #masa bodoh

Kesibukan baru terpacu di kala ada laga atau turnamen yang sedang berlangsung. Saya tak bisa hanya mengandalkan beberapa channel kenalan maupun kreativitas mengolah isu. Apalagi jika sudah berkaitan dengan salah satu skuat kebanggaan kota ini, PSM.

Di saat menjalani liputan pun saya masih sering disapa hujan. Di kala menanti pete-pete (baca: angkutan umum), saya harus berteduh sesekali. Menumpang pete-pete di kala hujan seolah bertemu dengan mobil alphard. Seolah malaikat penyelamat.

Di atas mobil, muncul wajah-wajah lega usai berhadapan hujan di pinggir jalan. Hujan menampar-nampar kaca depan mobil. Nyanyian hujan terdengar cukup jelas dari arah kaca depan dan atap kendaraan.

Hujan sungguh menggelikan. Sekali waktu ingin membuat terlelap. Sekali waktu memaksa wajah tetap terjaga rasa kantuk. Sekali waktu mengesalkan. Sekali waktu mengundang galau.

"Jangan sering kehujanan. Nanti sakit berdatangan,"

Biarlah. Sembari menguji ketahanan tubuh, saya ingin mencicip sedikit perhatian(nya).

Kau tau hujan, ia menderas kala rindu terlampau pekat. Bukankah manusia di bumi terlalu sering menguapkan rindunya ke atas langit? Karena rindu separuh bumi terlampau berat didekap langit sendirian. Sudah kubilang, rindu itu berat.


--Imam Rahmanto--



*Hah? Hujan membuat saya mengigau...

Selasa, 15 Desember 2015

Pilihan-pilihan

Desember 15, 2015
Belakangan, di akun medsos teman-teman saya sedang ramai selebrasi beasiswa LPDP. Memang, pengumuman kelulusan penerima beasiswa itu baru dicetuskan beberapa hari sebelumnya. Bagi sebagian besar mahasiswa, itu termasuk beasiswa bergengsi. Selain dibiayai sepenuhnya oleh Kementerian Keuangan untuk kuliah anywhere-you-wanna-go, beasiswa itu juga bisa menjadi batu loncatan meraup gelar S2 yang lebih "bernilai" dan berkelas (katanya) di mata masyarakat.

"Kalau begitu, setelah setahun bekerja nanti, kamu bisa kan mendaftar beasiswa itu?" tanya seorang kawan.

Saya hanya membalasnya dengan senyuman. Saya masih bergeming. Di kepala saya, masih kukuh keinginan tak lagi mengejar gelar kependidikan. Bukannya tak mampu, saya hanya terlalu letih menjalani pendidikan berlatar belakang "sekolah formal". Belajar di ruang kelas, mendengarkan penjelasan guru atau dosen, membuat makalah, presentasi kelompok, skripsi, browsing referensi karya tulis, dan semacamnya.

Sejujurnya, saya juga nyaris lelah mengejar prestasi kependidikan lagi. Kehidupan sekolah formal sudah terlalu padat direkami prestasi sebagai "anak pintar". Dalam kehidupan yang telah terlewat, saya baru menyadari, kenapa tidak menjajal sedikit "belokan" di masa sekolah dulu? Toh, kasta kehidupan sekarang tak pernah ditentukan langsung dari seberapa besar nilai akademik dahulu.

Gelar kependidikan hanya sebatas sematan di belakang nama untuk dipamerkan kepada orang lain yang memerlukannya. Sementara hanya sebagian kecil dari lulusan yang punya kompetensi akademik sebanding. Saya sendiri bahkan tak pernah membawa-bawa gelar "S.Pd" kemana pun melangkah. Cukup menjadi apa adanya, tanpa batasan bergaul dengan siapa saja.

"Kamu tak ada niat lanjut S2?"

Saya masih punya sedikit keinginan melanjutkan pada jenjang lebih tinggi. Akan tetapi, kelanjutan dari gelar saya sebelumnya mungkin akan diabaikan. Saya hanya akan mengejar pemahaman pada jurusan yang ingin saya selami. Tidak pada gelar S2-nya.

Semisal, gelar "S.Pd" saya di jurusan Matematika tidak akan berlanjut ke jenjang magisternya. Saya justru penasaran menjajal Imu Komunikasi di jenjang S2. Nah, tak linear, bukan? Memang. Karena tujuan saya tak mentok untuk kepentingan gelar semata. Saya hanya benar-benar ingin mempelajarinya. Itu saja. Tapi, entah kapan waktunya.

Di rumah pun, bapak selalu memancing keinginan saya agar melanjutkan gelar kependidikan ke ranah pegawai negeri. Apa daya? Saban mengobrol, bapak selalu menunjukkan ekspektasinya kepada pekerjaan, yang katanya, punya jaminan masa tua terbaik itu.

"Sudahlah, Pa'. Saya dasarnya memang tak suka pekerjaan pemerintahan begitu. Masuk rutin tiap hari, ngabsen. Pakai baju seragam. Bengong di dalam ruangan ber-AC. Saya masih butuh banyak pengalaman dan perjalanan," kekesalan saya meledak suatu waktu.

Saya sedang menikmati masa-masa paruh waktu saya sebagai seorang jurnalis. Banyak hal baru yang seutuhnya tak saya temukan di lingkungan sekolah resmi. Di saat orang-orang membanggakan pekerjaan sebagai Pe-En-Es, saya justru bangga menjadi bagian koorporasi media, untuk sementara waktu.

Masih banyak tempat yang belum saya jelajahi. Khususnya di luar negeri. Akan tetapi, sebelum mengenali tanah orang, kenali dulu tanahmu sendiri. Dan hingga kini, saya baru menginjak lima-enam kota di Indonesia. Sangat minim, bukan?

Lantas, beasiswa yang menjadi buruan para mahasiswa itu memang menjadi jalan melenggang ke negara lain. Hanya saja, saya lebih memilih melakukan perjalanan tanpa perlu direcoki dengan urusan akademik dan belajar nyaris setiap hari. Senyata-nyatanya, saya ingin menikmati perjalanan karena kesenangan dan hobi terhadap sesuatu. Mungkin, dalam hal perjalanan melaporkan suatu peristiwa.

Bagaimana pun, sejatinya saya cenderung lebih tertarik menyelami "sekolah kehidupan". Ruang kelas dimana saja. Guru siapa saja. Tak berbatas waktu. Praktek sehari-hari. Berkenalan dengan partner yang cukup berbeda secara visi maupun misi.

Dengan begitu, saya tak akan menyesali apa-apa...

(Sumber: google.com)

***

Fiuhh...

Saya sedang menjalani hari yang berat hari ini. Ada banyak beban di kepala (baca: liputan) yang memaksa diselesaikan. Cuaca hujan juga agak menghambat. Namun, namanya wartawan, hadangan apapun harus bisa dijinakkan.

Saya agak kelimpungan menyelesaikan beberapa bahan hari ini. Mungkin, saya agak lupa untuk start di awal waktu. Lupa pula kalau harus memback-up salah seorang rekan yang kena libur hari ini. Jadinya, satu-dua bahan jadi tak nyangkut dalam listing pribadi saya. #damn

Akan tetapi...

Tahukah...

Kelimpungan begini yang cukup mencandui keseharian saya di lapangan. Besok-besok, pasti sudah lupa lagi. Serius. Saya perlahan mulai belajar menertawakan kesulitan saya. Mengapresiasinya sebagai bahan belajar dan berbenah diri. Bukankah hidup ini memang lucu, tergantung kadar humor yang kita kantongi?

Mari tetap bersyukur sembari tetap mengencangkan tiang pancang mimpi-mimpi kita.


--Imam Rahmanto--

Kamis, 10 Desember 2015

Pesan-pesan

Desember 10, 2015
"Nak, kalau pagi, jangan lupa tetap sarapan. Biar mo' (cuma) mie instan saja. Yang penting perutmu terisi," pesan mamak beberapa minggu lalu.

Saya memang baru saja pulang dari kampung halaman. Menuntaskan rindu yang tertahan, diiringkan dengan tuntutan adminsitrasi kependudukan saya. Biar cuma sehari, selalu ada wajah ibu yang berseri-seri menyambut anaknya.

Saya selalu suka membuat kejutan saat hendak pulang ke rumah. Dengan begitu, saya bisa menikmati kerutan di rona wajah mamak yang kian menua. Ia terkejut sejenak. Berlanjut wajah data. Mamak memang tak mampu berekspresi layaknya sinetron yang kerap ditontonnya tiap hari.

"Loh, kamu kok pulang?"

Saya kerap hanya menjawab dengan senyum sumringah. Saya rindu masakan mamak. Biar cuma sehari, mamak juga suka membuatkan makanan kesukaan anaknya.

Pulang mendadak, sebenarnya sekaligus tak ingin terlalu banyak "diawasi" di perjalanan. Setiap jam menanyakan kabar tentang keberadaan di jalan. Hehe...

"Tetap shalat loh nak, apapun keadaanmu. Tak boleh bolong," pesan bapak, selalu.

Dulu, bapak hanya berpesan tanpa pernah menunjukkan kewajibannya itu. Mungkin, sebagai orang tua yang baik, ia ingin mengajarkan hal-hal baik pada anaknya. Setelah menderita sakit berkepanjangan, paraplegia, ia baru menyadari betapa pentingnya meluangkan waktu barang 5-10 menit "mengobrol" dengan Yang Kuasa. Kini, waktu shalat Bapak juga ditambahi dengan membaca kitab Suci Alquran.

Bapak memang banyak berubah. Tak lagi mengisap rokok. Tak lagi menyeruput kopi pekat. Hanya saja, keinginan agar anak-anaknya berlabuh di Pe-En-Es masih kukuh hingga kemarin. Itu menjadi satu-satunya pekerjaan yang menurut Bapak punya jaminan masa tua buat anak-anaknya.

Wajar jikalau saya mesti lebih banyak berjuang untuk membuktikan bahwa pekerjaan sebagai jurnalis justru lebih menjanjikan. Banyak pengalaman. Banyak perjalanan. Banyak kenalan. Banyak tantangan. Hingga banyak pendapatan (semoga).

"Jangan bertengkar lagi ya, Kak," pesan adik saya.                                                                 

Ia selalu tahu kapan harus menenangkan saya. Setiap kali mendengar omongan Bapak tentang keluarga, saya harus menahan kepala yang berkecamuk. Terkadang, saya tak bisa hanya diam menanggapi obrolan Bapak. Sudah sewajarnya karena anaknya tak sekecil dulu lagi.

Lekat di kepala, adik saya yang dulu selalu terisak-isak di tengah perbincangan telepon. Lantaran rindu dan sakit yang berpadu jadi satu. Saya jadi tak tega menelantarkan rindunya, hingga memutuskan "kembali" ke pelukan bapak dan mamak.

***

"Bangun. Shalat subuh, ndak boleh lupa," dan satu suara yang tak bosan membuka mata saban hari. 

Seseorang yang justru tak pernah saya sangka bakal menyita separuh perhatian saya.

Saya dipertemukannya kembali dengan pagi. Semenjak bergelut di liputan olahraga, yang sebagian besar beraktivitas siang dan sore, ritme bangun pagi saya mulai berubah. Saya terbiasa bangun di atas pukul 8 pagi. Akh, shalat subuh pun sudah serupa shalat dhuha.

Maka ia menjadi "alarm" khusus tiap pagi. Meski, sekali-dua kali saya masih sempat keterusan tidur usai mencermati suaranya dari seberang telepon. _ _"

Meski begitu, saya perlahan menikmatinya. Caranya menyadarkan saya setiap fajar. Caranya membuat saya lupa akan sesuatu. Caranya mencintai pagi hari, kendati saya lebih menyukai senja. Bukankah perbedaan saling melengkapkan? Sama halnya dulu ketika saya menikmati banyak persamaan, yang justru tak melekatkan. Seperti kutub magnet.

"Bersyukurlah," pesan Tuhan dalam salah satu ayatnya...




--Imam Rahmanto--

Minggu, 06 Desember 2015

Medan Story#5 [end]

Desember 06, 2015
Hawa dingin mulai menjalar di sekujur tubuh. Pemandangan di luar sudah mulai agak memudar karena terhalang kabut dari dataran tinggi. Semakin mendekati Danau Toba, suhu udara memang semakin dingin.

"Kita sebentar lagi sampai di Taman Simalem Resort," ujar Pak Robin, sang pemandu di bus kami.

Saya yang iseng nyaris terkantuk-kantuk mendadak mengucek mata untuk menormalkan penglihatan. Saya ingin melihat suasana di luar bus yang cukup teduh di sepanjang pegunungan. Kabut. Kabut. Dan hujan agak merinai.

Taman Simalem Resort memang diperuntukkqn bagi wisatawan kelas atas. Di areanya yang teramat luas di puncak pegunungan, ada beberapa wisma atau villa untuk tempat menginap. Area Simalem Resort juga dibangun dengan taman yang sangat asri dan membuat mata tak letih memandang.

Akan tetapi, di balik kemewahan dan kemegahan tersiratnya, saya tak menemukan kedekatan dengan Danau Toba. Sebagai orang yang senang berpetualang, saya justru risih hanya duduk-duduk dari atas restoran "nyaman" yang menyajikan pemandangan kawah Danau Toba di depan mata.

Yah, nyatanya, kami di Taman Simalem Resort hanya singgah untuk menikmati makan siang dengan pemandangan danau nan luas itu. Sebuah restoran sederhana nampak elegan menyajikan sajian prasmanan untuk dinikmati para wisatawan rombongan dua bus: kami.

Foto yang dijepret lewat kamera orang lain. -_- (Foto: Imam R)

"Wow...indahnya!"

"Keren!!"

Berbagai ucapan takjub keluar perlahan dari hati saya dan teman-teman sesaat turun dari bus. Tak lupa, gadget berbagai merk berlomba mengabadikan momen sekali (mungkin) seumur hidup itu. Terkecuali hape saya yang hanya bisa menangkap momen seadanya.

"Ayo, makan dulu. Pemandangan sudah indah, kita makan dulu," ujar pimpinan rombongan.

Teras restoran menghadap ke arah Danau Toba. Jejeran kursi dan meja segera diisi oleh kedatangan kami. Sembari melepas penat, kami memandangi danau yang terpampang luas di hadapan kami.

Saya mengawali waktu santai dengan memesan segelas kopi-susu dan cemilan onde-onde yang sudah tersaji di meja prasmanan. Sambil menyesap minuman perlahan, saya meladeni obrolan salah seorang pimpinan perusahaan yang semeja di teras itu. Sebagian besar obrolan tentang keindahan Danau Toba pastinya. Sisanya, tentang media tempat saya bekerja.

Ah, kendati mata dimanjakan dengan tampilan danau dari atas begini, saya merasa masih ada yang kurang. Bagi saya, merasai danau secara dekat dan nyata jauh lebih mengasyikkan. Mungkin dengan memecah riak di tepian danau. Melempar batu dari pinggir dermaga. Atau lainnya yang lebih mendekatkan dengan "suasana" danau yang sesungguhnya. Kalau perlu melintasi danau menuju Pulau Samosir yang masih dikenal kental dengan suku Toba-nya.

Nyatanya, kami hanya menghabiskan waktu sekira sejam di Taman Simalem Resort. Usai makan, kami berpencar mencari spot-spot menarik untuk dipotret. Ah, saya menyesal tak mempersiapkan kamera.

Rinai hujan juga menyambut acara hunting momen itu. Akan tetapi, menurut teman saya, rinai itu bukan hujan, melainkan embun yang cukup tebal lantaran kami berada di ketinggian pegunungan. Kabut memecah menjadi butir-butir air menyerupai rinai hujan.

"Tahu tidak, antara Suku Batak dan Toraja sebenarnya mereka berasal dari 'ibu' yang sama. Coba lihat model.rumahnya, ritual adat upacaranya, hingga kepercayaan yang dianutnya," tutur Robin di sela-sela kami hendak meninggalkan Taman Simalem Resort.

"Suatu ketika, tiga bersaudara berlayar dan berpisah di tengah laut. Satu ke arah Sumatera, itulah Batak. Satu ke Kalimantan, itulah Dayak. Satu ke Sulawesi, itulah Toraja," ceritanya lagi.

Saya pun berpikir, ketiga suku itu memang punya kemiripan khusus. Sebenarnya, banyak artikel yang juga membahas tentang Batak dan Toraja berasal dari satu rumpun. Sayangnya, kami tak bisa lebih jauh bertanya ke suku aslinya.

Sungguh percuma rasanya, perjalanan delapan jam hanya untuk menikmati Danau Toba dari jauh sejam lamanya. Jadi, siapa pun yang hendak mengunjungi Danau Toba, semestinya meluangkan waktu untuk menginap di sana. Saya menyarankan mencari tempat-tempat penginapan yang murah dan tak merepotkan.

Akhirnya, saya pulang dengan perasaan masih menggantung. Kelak, saya harus mengunjungi dan menumpangi perahu di permukaan Danau Toba.

Suasana juga mendung, tertutup kabut. (Foto: ImamR)

***

Jelang kepulangan, saya masih "haus" mengunjungi tempat-tempat baru. Serasa masih ada yang belum terpuaskan.

Saking penasarannya, saya mengetuk-ngetuk jari di peta GPS dan mencari lokasi menarik terdekat. Ketemunya ya Gramedia. Tak ingin menelan penyesalan lebih banyak, saya menyusuri jalan kota sendirian.

(Foto: ImamR)
Meskipun begitu, toko buku di Jl. Gajah Mada itu merupakan toko buku tertua di Medan. Koleksinya pun sangat banyak. Buku yang tidak pernah bisa saya temukan di Makassar, tersedia cukup banyak di Gramedia itu. Saya pun memborong enam buku setelah berkeliling lebih dari dua jam. Sepanjang hidup, saya baru sekali itu membeli buku dalam jumlah banyak. 

Toko buku itu terdiri dari dua lantai. Lantai pertama memamerkan alat-alat tulis dan peralatan kantor. Sementara lantai dua didominasi buku-buku terbitan baru maupun terbitan lama. Saya pertama kali menemukan koleksi lengkap novel Pramoedya Ananta Toer disana, yang kelak baru saya ketahui sudah didistribusikan pula di kota Gramedia kota Makassar.

Paling tidak, beberapa buku yang saya bawa pulang menjadi pengobat hati tak mengunjungi tempat-tempat menarik di Medan. Suatu ketika nanti, saya masih berharap bisa mengunjungi Medan tanpa ragu berkelana sendirian. Saya masih butuh menuntaskan rasa penasaran di kepala saya.




--Imam Rahmanto--

Senin, 30 November 2015

No Excuse

November 30, 2015

Pekan lalu, saya menyambangi tanah kelahiran di pelosok Kabupaten Enrekang. Selain menuntaskan rindu bersama bapak-mamak (meski harus menahan telinga dari segala wejangan dan omelan dari bapak), saya hendak memperbaharui dokumen kependudukan alias KTP. Kalau bukan diminta oleh kantor tempat saya bekerja, tentu saya bakal menggunungkan watak penunda-nunda saya.

Di sisi lain, saya merasa beruntung "dipaksa" demikian. Sudah lama sebenarnya saya hendak memperbaharui KTP yang sudah mati setahun silam.

Sebenarnya saya termasuk orang yang sangat benci dengan urusan-urusan administrasi. Saya tak suka terlalu direpotkan dengan berkas-berkas yang harus hilir-mudik mendapat cap atau tanda tangan. Apalagi dengan aturan-aturan yang superketat. Saya orangnya terlalu "apa adanya". Hahaha....

Wajar ketika beberapa tahun silam, pemerintah kecamatan di kampung sedang melakukan perekaman e-KTP gratis, saya justru tidak pulang meskipun sudah diwanti-wanti oleh bapak. "Ah, saya juga masih punya KTP yang lama, kok," gumam saya dalam hati.

Akan tetapi, beberapa kejadian memutar pemikiran saya. Bagaimana saya tak bisa berurusan dengan kantor pos lantaran KTP yang mati. Bagaimana saya tak bisa menarik uang di rekening lantaran KTP yang kadaluarsa. Bagaimana saya mau kredit kalau tak punya KTP? #nariknapas

Saya juga mulai sadar, kelak saya sangat membutuhkan kelengkapan dokumen seperti itu jika ingin melenggang keluar kota, apalagi keluar negeri. Gara-gara buku torehan anak didik Prof. Rhenald Kasali pula, saya jadi ikut bersemangat memperbaharui dan melengkapi dokumen-dokumen administrasi itu. Satu tujuan akhir: Paspor!

"Untuk apa paspor?"

Ketika diajukan pertanyaan semacam itu pun saya juga tak tahu hendak menjawab apa. Saya hanya terdorong untuk ikut membuat salah satu identitas internasional itu. Itu juga bisa jadi langkah awal saya mengepakkan saya ke belahan dunia lain. Paspor tersedia, ready to go saja, bukan?

Pernah mendengar tentang impian yang dipancangkan pada kenyataan sebetulnya? Seperti saat kita tidak sekadar membuat list/ daftar keinginan dalam hidup kita. Kita bahkan seharusnya membuatkan gambaran real dari keinginan itu.

Semisal "ingin memiliki mobil alphard", maka seharusnya dalam listing itu kita mencantumkan gambar mobil alphard impian kita. Kalau bermimpi punya rumah besar, ya pasang gambar atau foto detail rumah yang diinginkan seperti apa. Itu semacam kolase "masa depan".

Nah, karena kelak saya berharap bisa menginjakkan kaki di negara selain tanah air Indonesia ini, maka saya harus membuat paspor. Selagi semangat saya sedang berapi-api di ubun-ubun, apa salahnya meluangkan waktu dan sedikit uang untuk mewujudkan satu dokumen penting itu?

***

Di kampung halaman, saya mewujudkan satu urusan administrasi itu. Meski awalnya saya mendengar kabar-kabar buruk dan mematahkan harapan terkait pengurusan itu.

"Tidak usah pulang. Blankonya habis. Kalaupun ada, biasanya baru selesai dalam waktu lama,"

"Buat di Makassar saja. Coba cari jalan pintas atau bantuan. Kamu kan wartawan,"

Ditambah, jarak kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) kabupaten cukup jauh dari rumah tempat tinggal saya. Di kantor itulah saya harus mengurus segala urusan kependudukan, termasuk KTP. Letaknya tepat di ibukota kabupaten. Sementara saya bermukim di pelosok pegunungan, yang menghabiskan satu jam perjalanan dari ibukota itu.

Akan tetapi, selagi salah seorang senior di kantor meminjamkan motornya, saya memaksa: harus dicoba!

Dari kantor kelurahan pun saya mendapatkan kata-kata pesimistis serupa dari petugasnya. "Biasanya baru bisa selesai tiga minggu kemudian. Makanya saya juga cuma sempat ambil KTP sementara untuk ngurus rekening bank," jelasnya di tengah mencatatkan surat pengantar. Ia juga memperlihatkan model KTP sementara yang disimpan di dalam tas sebelah mejanya.

Yah, saya sudah bertekad. Saya tak peduli. Kalau belum dicoba, saya takkan tahu hasilnya, bukan? Lagipula, percuma kan saya sudah jauh-jauh enam jam beerkendara dari Makassar - rumah hanya untuk selembar KTP jikalau harus mundur sebelum mencoba? Saya hanya mengangguk-angguk disertai "Oohhh" panjang mendengarkan penjelasan lelaki berperawakan ustadz itu.

Saya berangkat cukup pagi untuk mengantisipasi kalau-kalau ada antrean panjang para pengurus dokumen lainnya. Sayangnya, di ibukota sana pun, saya masih harus mencari-cari lokasi Disdukcapil yang belum pernah saya kunjungi seumur saya berstatus sebagai penduduk Kabupaten Enrekang. Di kepala saya, kata "nyasar" sudah menjadi semacam mantra untuk berani bertanya. *Akh, ini gara-gara ide Prof. Rhenald Kasali lagi.

Kenyataannya, saya menemukan kantor itu lebih cepat dari dugaan. Tak sulit menemukannya. Lokasinya hanya bersebelahan dengan Pasar Sentral di Kabupaten Enrekang.

***

Kini, saya sudah bisa menikmati kartu kependudukan yang baru. Tak tanggung-tanggung, jenis pekerjaan yang tertera di KTP adalah "wartawan". Yah, bangga juga rasanya sudah punya pekerjaan sesuai dengan keinginan dan kekinian. Hahahaha.....

Maaf ya, bapak. Biarpun saya disarankan atau dipaksa jadi Pe-En-Es, saya lebih memilih mengikuti kata hati. Karena sejatinya saya ingin berbahagia dengan pilihan saya sendiri.
Ternyata, apa yang saya takutkan tidak banyak terjadi. Pembuatan kartu kependudukan itu cukup singkat. Setelah mengajukan Kartu Keluarga dan Surat Pengantar, perekaman wajah, mata, dan sidik jari langsung dilakukan.

"Katanya sekitar tiga minggu ya baru selesai kartunya, mbak?" tanya saya penasaran.

Wanita muda yang memandu perekaman saya hanya menanggapinya tersenyum dan membalas, "Ndak kok. Nanti silakan dicek sebelum waktu istirahat. Biasanya sudah bisa diambil."

Padahal waktu istirahat masih dua-tiga jam lagi. Mau menunggu di kantor itu, pasti agak membosankan. Mau menunggu di rumah teman, saya tak punya kenalan siapa-siapa di kota Enrekang ini. Alhasil, di kepala saya terlintas satu tempat alternatif, yang juga selama ini membuat saya penasaran: perpustakaan kota.

Di tempat itulah saya menghabiskan waktu "menunggu" dengan buku-buku bacaan apa-adanya. Buku 168 Jam Dalam Sandera, dari Meutya Hafid, wartawati yang pernah disandera saat konflik pemilihan presiden di Irak jadi selingan sekaligus membangkitkan rasa penasaran terhadap ceritanya. Oke, list bacaan saya berikutnya adalah buku itu. Namun entah bagaimana memperoleh buku keluaran lama itu.

***

Saya belajar, untuk urusan administrasi semacam itu tak perlu jadi momok. Saya membuktikan segalanya bisa diselesaikan sesuai perkiraan. Apa yang ditakutkan justru melenceng dan menjadi bayang-bayang semata. Keesokan harinya, saya sudah bisa mengambil e-KTP seperti yang dijanjikan para petugasnya. Lengkap beserta label pekerjaan barunya yang tak-lagi-pelajar-atau-mahasiswa.

Selama apa yang dilakukan benar-benar berdasar kemauan dan kesungguhan, percayalah, alam selalu berkonspirasi membuka jalan. Oiya, seperti kata Prof. Rhenald Kasali kepada mahasiswa-mahasiswanya yang bakal mengurus paspor:


 "If you really want to do something, you'll find a way. If you don't, you'll find an excuse,"


--Imam Rahmanto--

Jumat, 27 November 2015

Medan Story#4

November 27, 2015
....sambungan dari sebelumnya

"Oiya, si Malin Kundang juga berasal dari sini, ya?"

"Ah, bukan. Malin itu asalnya dari Minang sana, Bang, Sumatera Barat,"

Ah, iya. Saya gelagapan baru ingat, legenda asal Sumatera Utara yang dikisahkan turun-temurun di buku Bahasa Indonesia jaman SD dulu adalah Danau Toba.

***

Berkunjung ke Medan, tak lengkap rasanya jika tak mencoba salah satu objek wisata andalannya. Akan tetapi, banyak orang (termasuk saya) yang salah kaprah menyangka wisata Danau Toba hanya berhitung sepelemparan batu dari ibukota provinsinya.

"Jarak kesana, kalau hitungan jam sekitar 4 jam, Bang,"

Saya sendiri baru menyadari, bertanya tentang "dimana-Danau-Toba" itu kepada orang Medan, sama halnya dengan bertanya "dimana-Tana-Toraja" kepada orang Makassar. Keduanya punya kasus yang serupa; menyangka objek wisata andalan berdempetan dengan ibukota provinsinya. #tepokjidat

Kalau dipikir-pikir, jarak sejauh itu sangat sayang dihabiskan di sisa sehari bermukim di kota Medan. Total delapan jam bakal habis di perjalanan. Sementara, waktu sebanyak itu sebenarnya bisa dihabiskan dengan mengunjungi tempat-tempat "fresh" lainnya di kota Medan. Mungkin seperti, kota bangunan tua Kesawan, Kampung India, atau Istana Maimun, yang saban hari selalu kami lewati.

"Tapi anak-anak (atlet) banyak yang mau kesana. Bos-bos juga sudah menyetujui," ucap seorang kawan saya lagi. Kalau sudah suara mayoritas, saya mau apa lagi?

Untuk berjaga-jaga, saya mencoba mengontak satu-dua orang teman dari Medan. Yah, saya (kami) punya kenalan dari anak-anak lembaga pers kampus dulu. Dengan harapan, ada yang bisa membantu saya "melarikan diri" dari wisata ke Danau Toba.

Salah seorang teman perempuan sebenarnya sudah mengiyakan bakal mengantar saya berkeliling tempat-tempat menarik di kota Medan. Jaraknya rumahnya, kata perempuan manis itu, hanya 45 menit dari hotel kami menginap. Sayangnya, jelang keberangkatan ke Danau Toba, jalur komunikasi dengannya terputus sama sekali. Sehari setelahnya, saya baru dikabari bahwa hapenya ketinggalan saat ia mengunjungi kerabat ke Berastagi.

Ya sudah... Berangkatlah saya dengan segala bayangan tempat menarik lainnya di kota Medan (yang saya sesali tak dikunjungi sedari awal) berputar-putar di kepala.

***

Sebagai tamu dari tuan rumah penyelenggara kegiatan, transportasi kami cukup dipermudah. Dua bus pariwisata mengantarkan kami ke empat jam perjalanan ke depan. Sudah malang akan menghabiskan 4 jam yang cukup lowong, kamera pinjaman pun tak bisa terpakai. "Lantas, apa yang bisa saya perbuat dengan kamera hape segini?" gerutu saya dalam hati sembari mematut-matut hape-yang-sungguh-malang.

Saya tak ingat betul, lokasi-lokasi mana saja yang sempat kami lalui. Di kepala saya hanya teringat jelas bagaimana guide kami, bernama Pak Robin, menjelaskan satu-dua-banyak hal terkait Medan hingga Sumatera Utara.

"Kalau Horas, itu salam umumnya di Medan. Nah, nanti kalau di Toba atau (Kabupaten) Karo, mereka tidak mengenal sapaan semacam itu. Mereka lebih akrab dengan sapaan khasnya, 'Mejuah-juah'", jelas pemandu kami yang kelihatan berusia kepala empat itu.

"Mejuah-juah!"

Ia juga menjelaskan perihal lima cabang suku Batak yang asli. Diantaranya seperti Batak Karo, Batak Fakfak, Batak Simalemun, Batak Toba, hingga Batak Mandailing. Dari lima "akar" batak itulah, suku-suku Batak lain beranak-pinak dengan masing-masing marga kebanggaannya.

Pemaparan yang menarik. Hal-hal baru memang selalu mengundang banyak tanya. Lumrahnya, beberapa penumpang di dalam bus bergantian bertanya tentang,

"Kalau marga Simorangkir, itu Batak apa?"

"Itu agama apa? Islam atau Kristen?"

dan berlanjut beberapa pertanyaan yang sama, hanya label "marga"nya dan "religi"nya saja yang berbeda karena dilontarkan penumpang berbeda.

Hampir lupa, di Medan (atau Sumut) penduduk mayoritas memang beragama Kristen. Tak heran, di sepanjang jalan kota, warung-warung makan saling berlomba memperdagangkan BPK. Di baliho-baliho warung tercantum dengan gamblangnya, "Menyediakan BPK".

BPK atau Babi Panggang Karo adalah makanan favorit warga Medan. Tak ada yang tak mengenali satu jenis makanan berbahan dasar daging ini. Bahkan, disajikan dalam dua varian, B1 (babi) dan B2 (anjing). Tentu saja, bagi pengunjung yang beragama Islam dilarang keras mengonsumsi makanan ini.

"Begitulah di Medan ini. Makanya tak perlu heran banyak anjing juga berkeliaran. Tapi ada cerita lucunya,"

"Coba perhatikan, setiap anjing yang berkeliaran di area pemukiman pasti ekornya berdiri tegak. Tapi, coba saja kalau lewat di depan warung BPK,ekornya malah turun sambil nunduk-nunduk," ujar Pak Robin yang disambut tawa seluruh penumpang setelah mereka sempat sejenak berpikir.

Memasuki Sibolangit, suhu udara bisa mencapai 20 derajat celcius. Kalau dibanding-bandingkan, suhunya lebih dingin daripada alam Malino di Sulawesi Selatan. Tetapi, saya justru menyukai suhu sedingin itu. Di kota kami, Makassar, polusi sudah berjamur dengan cuaca panas yang tak kunjung mendatangkan hujan. Gerah. Kapan-kapan, untuk berjalan-jalan, saya lebih memilih tempat tujuan bersuhu sejuk atau dingin.

Di daerah pegunungan ini masih terasa nuansa asrinya. Meski bus kami harus menanjak dan berbelok, kami disuguhi pemandangan yang sedikitnya tertutup kabut. Kalau tak salah, dari lokasi itu, kami juga bisa menyaksikan Gunung Sinabung yang hingga kini masih aktif.

Karena masih kental dengan pegunungan, mata air juga cukup melimpah di Sibolangit. Banyak penduduk yang memanfaatkan air pegunungan untuk kehidupan sehari-hari. Bahkan, salah satu produk air kemasan Aq*a juga mendirikan salah satu pabrik besarnya disini. Kami sempat disuguhi pemandangan betapa besarnya pabrik yang menampung mata air untuk dikomersilkan itu.

"Di sekitar sini, banyak truk-truk yang juga singgah untuk mencuci mobil. Gratis dan melimpah soalnya, Bang. Sebagian besar malah mendistribusikan air-air bersih dari pegunungan sini," jelas pemandu kami. Mata saya mematut pemandangan truk-truk terparkir di pinggir jalan yang ditingkapi terpal di masing-masing baknya.

Nampaknya Sibolangit memang menyimpan banyak cerita. Sayangnya, ini hanya perjalanan "sekadar lewat" kami. Masih ada sekira dua jam mencapai Danau Toba, oh ya lebih tepatnya Taman Simalem Resort...


--Imam Rahmanto--

Minggu, 22 November 2015

Separuh Hati Perempuan

November 22, 2015
Tuhan Maha membolak-balikkan hati manusia. Sementara manusia tak pernah bisa mengubah masa lalunya. Lantas? Yah, karena keduanya selalu punya kaitan yang tak terelakkan, antara perasaan dan masa lalu.


***

Ini tentang perempuan. Tentang mereka yang kerap saya temui masih menjunjung masa lalu di kepalanya. Mereka seolah tak terbebani dengan senyum-senyum sumringahnya. Terkadang tawa lepasnya adalah beban yang menekan terlampau padat. Bukankah beban perasaan cenderung lebih menyiksa ketimbang beban pikiran?

Sebulan lalu, saya dan beberapa orang bertemu. Bercerita segala hal. Yah, saya lebih menyukai bercerita bukan-soal-pekerjaan saat duduk di beranda kafe atau menghadapi segelas minuman hangat. Pekerjaan seharian sudah terlalu padat untuk diisi lagi dengan pikiran-pikiran semacam itu.

Sebagaimana saya mengenal teman yang satu ini, ia masih menyimpan rapat seorang lelaki yang tak lagi bersamanya. Lelaki yang dulu sangat diidamkannya, diintip diam-diam, hingga akhirnya mereka menjalin hubungan yang harus kandas. Entah karena apa.

"Saya tak bisa melupakannya. Mau bagaimana lagi? Ndak tau kenapa begitu," kata seorang sahabat.

Hingga kini, ia masih sulit menyukai lelaki lain. Atau entahlah. Mungkin juga sudah pernah ada lelaki lain yang mengutarakan perasaaan padanya. Hanya saja, kepalanya masih rentan dengan lelaki "terbaik"nya itu.

Tetiba, ingatan saya dibawa ke masa  saya menjumpai perempuan serupa. Saat dimana saya mencoba menyelami kehidupan perempuan yang masih menjunjung kenangan di pelupuk matanya. Tak jarang, air mata mengalir dari ujung kelopaknya seiring ingatan yang lepas satu-satu tentang lelakinya.

Seberapa kerasnya saya mencoba menjadi orang baru bagi perempuan itu, ia tetap menyimpan memori tentang orang tersayangnya. Akan tetapi, saya terlanjur egois "memaksakan" seorang perempuan untuk menutup masa lalunya. Padahal, mengingat masa lalunya bukan berarti ingin kembali bersama lelakinya. Mungkin, ia hanya rindu. Itu saja.

Seorang teman lainnya, dua malam lalu, juga bercerita tentang seorang teman perempuan kami yang sudah melepas masa lajangnya. Ia sudah menikah dan kini hidup berbahagia dengan kekasih semasa kuliahnya itu.

"Kau tahu seperti apa sehari menjelang akad pernikahannya dilangsungkan? Saya ikut menangis dibuatnya," ujar teman itu bercerita mengenai sahabatnya.

Sahabatnya itu, katanya, masih menyebut-nyebut lelaki (baca: mantan pacar semasa SMA-nya) lain. Ia bercerita banyak tentang lelaki itu di hadapan teman saya sembari berurai air mata. Ia tak mampu membendung masa lalunya yang meluncur bagai air bah.

Lelaki yang disebutkannya itu juga sahabat saya. Beberapa malam lalu kami sempat berkumpul kembali lantaran dipanggil oleh Bunda yang sedang berada di kota ini. Bunda sedang mengantarkan adik-adik SMA yang hendak mengikuti lomba di kota ini. Pun, saya masih senang meledek-ledeknya dengan perempuan yang pernah menjadi kekasihnya di masa SMA itu.

"Ia sudah menikah, lantas kamu kapan? Menyelesaikan sarjanamu saja belum," yang hanya bisa disambut senyum mesam-mesem olehnya.

Akan tetapi, toh semua itu hanya pelengkap cerita masa sekarangnya. Lelaki itu, kini juga sudah punya kekasih. Sementara perempuannya (teman kami itu), juga sudah melangsungkan pernikahannya. Ingatannya hanya sekadar luapan kenangan yang ingin dibawa kembali, bukan dirasai kembali.

Jikalaupun kami berkumpul kembali, diantara keduanya tak ada lagi perasaan ingin menjalin hubungan seperti dulu. Meski masing-masing sebenarnya mengakui, masa itulah yang terindah. Namun kita sejatinya bukan hidup di masa lalu, kan?

"Just beause the past didn't turn out likke you wanted it to, doesn't mean your future can't be better than you ever imagined,"

***

Tentang masa lalu itu, perempuan memang kerap terlalu rapat menyimpannya. Jikalau perempuan sudah menyayangi seseorang yang teramat berkesan baginya, entah yang pertama atau ke sekian, ia sejatinya memang sudah siap melepas separuh hatinya. Dan diserahkannya separuh hati itu kepada lelaki yang istimewa menurutnya.

Separuh hati perempuan itu akan dibawa pergi kemana pun lelaki meninggalkannya. Seketika itu, perempuan mesti menyadari bahwa lelaki itu bakal memenuhi ingatannya setiap waktu. Ketika berpisah, kalau tak baik, maka separuh hati itu masih akan terbawa-bawa.

Ketika perempuan tak meminta hatinya kembali, secara baik-baik, seumur hidup ia akan terbebani masa lalunya dengan lelaki itu. Separuh hati itu menjadi semacam penghubung tak kasat mata kenangannya dengan lelaki itu.

Saya menyadari, perempuan-perempuan yang masih menjunjung masa lalunya itu bukan berarti ingin kembali bersama lelakinya. Mereka hanya teringat, terbayang-bayang, atau sekadar rindu. Bagaimana tidak, separuh hatinya masih pergi bersama lelakinya. Ada semacam ikatan "rindu" yang semestinya ingin diselesaikan agar tak melukai terlalu jauh.

Kelak, ketika kamu bertemu perempuan yang separuh hatinya juga masih direngkuh lelaki lain, jangan kecewa. Biarkan ia. Pahami. Bantu ia melewati masa sulit itu, sembari tetap mengingatkan, engkau hanya akan hidup untuk masa depannya.



--Imam Rahmanto--

Selasa, 17 November 2015

Paspor dari Profesor

November 17, 2015
Belakangan ini, menyelesaikan satu buku bacaan saja sangat susah. Saya harus mencari-cari (hingga mencuri-curi) waktu demi menamatkan satu buku yang sudah menetap di kepala. Ada beberapa buku yang mengantri dan ingin dibaca sekaligus.

***

(Foto: ImamR)

"Life is negotiable," --Rhenald Kasali                                                                                   

Kemarin, saya baru saja menyelesaikan satu buku yang telah lama saya incar-incar. Saya justru menemukannya di kota lain, Medan. Itu lantaran di kota Makassar, Gramedia selalu kehabisan stock setiap kali saya mengecek dua mall besar disana.

Pernah mendengar buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor? Kalau belum, maka cari dan bacalah! Saya teramat-sangat merekomendasikannya.

Buku yang ditelurkan lewat pemikiran "self driving" seorang dosen nyentrik Universitas Indonesia (UI) ini sungguh mencerahkan. Yah, sekaligus membuat saya menggebu-gebu ingin membuat paspor! Ya, passport! Tanpanya, saya takkan pernah bisa menginjakkan kaki ke luar negeri.

Gara-gara membaca tulisannya pula, saya terdorong membaca tulisannya yang lain.

Buku setebal 328 halaman ini dirangkum oleh J.S Khairen, yang berisi kumpulan kisah perjalanan 30 mahasiswa "nyasar" di luar negeri. Sebenarnya, mereka tidak benar-benar kesasar dalam artian sesungguhnya. Akan tetapi, tugas dari "pemikiran unik" Prof. Rhenald Kasali di kelasnya lah yang memaksa mereka berpetualang sendirian ke luar negeri.

Negara yang berbeda, kisah yang berbeda. Semua bermula dari kelas sang Profesor dengan mata kuliah Sang Profesor, Pemasaran Internasional (Pemintal). Setiap mahasiswa diwajibkan memilih salah satu negara tujuan observasi.

Negara yang dituju tak boleh berbahasa melayu dan bahasa Indonesia, semisal Malaysia, Singapura, atau Brunei. Satu orang pun tak boleh memilih negara yang sama dengan teman-teman lainnya. Ditambah lagi, mereka harus pergi seorang diri ke negara tujuannya, tanpa keluarga, sanak saudara, atau teman.

"Uang untuk beli tiketnya bagaimana, Pak?"

Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari.uang. Begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin. --Rhenald Kasali

Dan bertebaranlah para mahasiswa kampus UI itu di pilihan negaranya masing-masing. Berbekal pengalaman dan Bahasa Inggris seadanya...

Buku dua seri ini membuktikan bahwa perjalanan keluar negeri memang bisa dilakukan seorang diri meski berbekal kenekatan. Uang, mungkin jadi pilihan ke sekian dari beberapa kendala yang menghadang. "If you really want to do something, you'll find a way. If you don't, you'll find an excuse," Jim Rohn said.

Saya punya seorang teman yang sudah pernah melakukan perjalanan serupa seorang diri. Biaya perjalanannya ia tabung dari hasil kerja setahun sebagai Barista di salah satu kafe franchise. Hasilnya? Lebih sebulan ia berpetualang ke beberapa negara di Asia; Malaysia, Thailand, Filipina, hingga China. Meskipun sebenarnya, kata dia, masih melenceng dari target awal perencanaannya.

Bahkan, salah satu mahasiswa yang berkisah di dalam buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor itu, Delinda, pernah saya temui di kampus UI. Di kepala saya masih jelas tertampung nama perempuan kecil yang menjadi L.O (pemandu) kami dalam event Journalist Days, nyaris 3 tahun silam. Seperti diceritakannya, ia sukses menginjakkan kaki di negara impiannya, Korea Selatan.

Saya sungguh suka dengan pemikiran Prof. Rhenald Kasali. Ia termasuk dosen yang suka berpikir "out of the box". Tugas di kelasnya tak melulu soal paper, soal, atau bacaan. Ia justru menunjukkan praktek langsung menjalani kehidupan, termasuk saat memberikan tugas membuat paspor kepada semua mahasiswanya. Seandainya semua dosen di kampus saya juga begitu...

Meski buku ini tak ditulis langsung olehnya, buku ini menjadi bagian dari penerapan self driving yang kerap disampaikannya kepada mahasiswa. Seperti saat membaca pengantar Pak Rhenald di awal membuka buku ini, saya ikut tertampar. Itu juga bagian terpentingnya.

Cerita-cerita yang menarik tentu menjadi suguhan buku ini. Banyak hal unik yang terjadi di negeri orang. Mulai dari bagaimana beradaptasi soal bahasa, mencari lokasi lewat peta, memanfaatkan transportasi yang tersedia, hingga cerita-cerita berkesan saat berteman dengan penduduk lokal. Semua cerita disajikan dengan gaya bahasa masing-masing penulisnya. Wajar, jikalau membaca buku tidak akan habis dalam sekali seruput cappuccino.

"Kita pergi jauh untuk menyadari dimana rumah kita yang sebenarnya." --hal.21             

***

Duh, Pak Rhenald, gara-gara pemikiran-pemikiran Anda yang unik, saya jadi tergoda ingin berbincang banyak hal dengan Anda. Kelak, mari kita bertemu sekadar mengobrol ringan di kedai kopi langganan Anda. Mungkin, tak jauh dari kampus tempat Anda mengajarkan "self driving". ^^

Saya juga suka sampul bukunya. Selanjutnya, cerita siap dilanjutkan ke buku keduanya. (Foto: ImamR)


--Imam Rahmanto--

Minggu, 15 November 2015

Medan Story#3

November 15, 2015
*Sambungan dari sebelumnya

Hidup di kota orang, nyatanya bisa membuat saya bangun lebih awal. Kasur empuk justru membuat kualitas tidur makin baik. Padahal saya agak cemas tidur di tempat yang kelewat nyaman. Khawatir terlalu menikmati tidur dan abai di awal waktu.

Di hotel kami menginap, sarapan sudah menjadi pelayanan sepaket tiap hari. Tinggal turun 16 tingkat dari kamar di lantai 17. Untuk pertama kalinya, saya mendapati prasmanan ala hotel berbintang lima. Yah, mau makan apa saja, semua sudah tersedia. Mulai dari nasi, hingga cemilan kue atau roti. Tak ketinggalan minuman hangat di pagi hari.

Naris kehilangan momen menyeruput cappuccino. Tahu sendiri, kan? Kalau tidak menikmatinya pagi-pagi atau malam, terasa ada yang kurang dalam hidup saya. #sadaap. Beruntung, saya masih bisa mendapatkannya di minimarket seberang hotel. Apalagi di dalam kamar juga sudah tersedia teko pemanasnya.

Oiya, kamar hotel 1710 dihuni saya dan dua orang karyawan dari Production House (PH) yang disewa perusahaan untuk mendokumentasikan acara dan mengolah video teaser. Lantaran berlabel mewah, kamar mandi pun sudah berlabel mewah seperti di film-film. Mau nangis di bawah pancuran? Bisa. Mau berendam sambil luluran? Bisa.

Saya bertemu dengan banyak orang di ruang makan. Atlet dari kontingen Pelindo lainnya juga ikut meramaikan tiap sarapan pagi. Sebenarnya, saya masih belum banyak mengenal para atlet dan petinggi di lingkup kontingen kami. Keakraban saya bermula dari kontingen futsal, yang memang selalu saya ikuti perkembangannya sebelum berangkat ke Medan. Akan tetapi, di beberapa hari ke depan, saya tak canggung lagi berinteraksi dengan mereka. Beberapa orang bahkan sangat akrab.

Pagi-pagi benar saya harus mengikuti pelaksanaan masing-masing cabang olahraga (cabor). Itu berlangsung hampir empat hari. Saya menjelajah dari satu cabor ke cabor lain. Pun, lokasinya masing-masing berjauhan.

"Kita sengaja buat berjauhan, Bang. Biar pegawai-pegawai Pelindo yang belum pernah main ke Medan bisa rasakan suasananya, keliling-keliling kota," ujar salah seorang panitia.

Sayangnya, kendaraan tak memadai untuk bisa mencapai semua lokasi itu. Harus memilih satu diantara cabor yang bertanding nyaris bersamaan. Lagipula, dalam pelaporan event seperti ini, saya hanya perlu melaporkan secara keseluruhan, umumnya perolehan medali dan perkembangannya.

Universitas Negeri Medan (Unimed) termasuk salah satu venue pembukaan Porseni tersebut. Disana, tiap kontingen akan menampilkan parade defile-nya. Kalau tak tahu apa yang dimaksud defile, itu semacam parade perkenalan masing-masing kontingen. Biasanya dimeriahkan dengan yel-yel maupun tarian. Salah satunya, kontingen Pelindo IV yang memadukan kultur budaya tiap wilayah yang diwakilinya.

Kampus Unimed tergolong luas. Lokasinya agak menjorok di tengah kota. Berbeda dengan kampus Universitas Sumatera Utara (USU), yang berada di pinggiran kota. Ibarat keduanya seperti UNM dan Unhas di kota Makassar.

Sayang beribu sayang, di Medan, saya tak punya banyak waktu santai. Event berlangsung hingga petang. Waktu berjalan-jalan hanya bisa dicuri di sela waktu istirahat pertandingan. Malam hari sebenarnya bisa jadi waktu yang strategis. Hanya saja, saya masih belum berani mengambil langkah terlalu jauh sendirian disana. Saya masih harus menghubungi satu-satu kenalan yang ada di Medan.

"Kita mau jalan-jalan juga tidak ada kendaraan. Tak tahu arah pula," ujar salah seorang teman dari kontingen. Kesempatan cuci mata hanya ada di sekitar Cambridge Mall, yang bersisian langsung dengan hotel.

Dan sialnya, kamera (pinjaman) DSLR yang saya bawa harus kehabisan daya di hari pertama. Parahnya lagi, saya tak membawa chargernya. Diantara beberapa fotografer (humas) yang saya temui di hotel, tak satu pun yang punya charger dengan tipe baterai serupa. #duhh pening pala Abang



--Imam Rahmanto--

*Kesempatan menuliskan ini juga seyogyanya sejak kepulangan saya seminggu lalu. Tetapi, tahulah, saya agak kesulitan menyorongkan waktu bagi diri sendiri. Ada yang hilang; waktu.

Minggu, 08 November 2015

Medan Story#2

November 08, 2015
...sambungan dari Di Tanah Melayu Deli


"Disini, ada satu kendaraan yang berbahaya,"

Ridha, salah seorang pemandu mencoba mengambil perhatian kami yang sebagian masih dilanda jetlag. "Apa itu?" salah seorang penasaran bertanya.

"Becak gitu," sembari tangannya menunjuk keluar jendela bus, "kalau udah jalan di tengah kota, hanya Tuhan dan supirnya yang tahu kapan dia berhenti (mendadak)."

Penumpang seisi bus tertawa. Saya pernah mendengar lelucon serupa. Di kota kami, lelucon itu diutarakan untuk mobil angkutan umum, pete-pete. Salah satu kendaraan penyebab kemacetan kota, kendati membawa ragam kehidupan di dalamnya.

Ah ya, sedari meninggalkan bandara, saya melihat ada banyak kendaraan beroda tiga serupa becak berlalu-lalang di jalan-jalan kota. Jumlahnya bersaing dengan mobil angkutan umum. Dilihat sepintas, kendaraan itu mirip dengan angkutan khas di kota kami, becak motor a.k.a Bentor. Akan tetapi, ada yang berbeda dari bentuknya.

Becak mesin, khas Medan. (Foto: ImamR)
Di Medan, ternyata orang-orang mengenalnya dengan sebutan becak. Kata teman saya, ada dua ragam becak; becak mesin dan becak dayung. Di kota ini, bahasa Melayu masih kental dipakai dalam keseharian. Serupa kendaraan mobil yang disebut "kereta" oleh orang-orang Melayu.

Becak Mesin, masih serumpun dengan bentor di Makassar. Pun, penggunaannya tak banyak berbeda. Hanya modelnya saja yang cukup "aman" bagi penumpang. Itu lantaran kemudi supir dengan motornya berada di sebelah kanan ruang penumpang.

"Ini justru lebih safety dari bentor ya. Di Makassar, kalau ada apa-apa, justru penumpang yang jadi tameng di depan supirnya," tukas salah seorang teman saya.

Becak dayung? Hanya berbeda dari kendaraan pengangkutnya, sepeda. Di Medan, mendayung artinya sama dengan mengayuh pedal sepeda. Saya sempat salah mengartikannya sebagai mendayung di atas permukaan air, tak jauh dari perahu.

Saya tak lepas mengamati kendaraan khas kota itu. Justru, kendaraan tradisional sangat jarang melintas di jalan-jalan kota. Saya berpikir, nampaknya, becak-sepeda memang tak populer di kota ini.

Di samping modelnya yang lebih sederhana, motor yang dipakai sebagai "gandengan"nya juga bukanlah motor-motor keluaran terbaru. Sebagian besar justru memanfaatkan motor "laki" keluaran lama seperti GL-Pro, CB, dan sejenisnya. "Makanya, mungkin biaya ngebuatnya jauh lebih murah ya?" sambung teman saya lagi.

Keramaian kota Medan nyaris tak jauh berbeda dengan kota Makassar. Lalu lalang kendaraan tiap menitnya. Kemacetan di jam-jam sibuk. Gedung-gedung tinggi yang menjulang. Pasar dan mall yang terpisah di setiap kepadatan. Para pengemis yang masih bertahan satu-dua di lampu merah.

Akan tetapi, dari sisi estetika, saya cukup menyukai kota Batak ini. Kendati banyak tergusur dari para keluarga Tionghoa (keturunan China), pemerintah masih kukuh mempertahankan beberapa bangunan kolonialnya. Di beberapa ruas jalan, saya melihat beberapa bangunan milik pemerintah (bahkan swasta) yang dipugar tanpa meninggalkan nilai sejarahnya.

Gedung-gedung tinggi juga menjamur lebih banyak di Medan. Kota kami masih kalah banyak. Tetapi, itu mungkin hanya sementara, lantaran kota kami juga sedang giat-giatnya membangun gedung perhotelan hingga apartemen. Sebentar lagi, ketika Center Point of Indonesia (CPI) prakarsa Ciputra selesai dibangun di tepian Losari, Makassar bakal menjadi kota ramai hingar-bingar. Saya secepatnya harus mencari kedamaian dan perjalanan baru di luar kota.

Di kota kami, bangunan-bangunan tua mulai diruntuhkan. Berganti usia dengan kemegahan tatanan kota. Penglihatan makin sempit. Ruang makin menipis. Pantai kian terkikis. Kami harus berlomba-lomba menghirup udara segar yang dicemari polusi tak bersuara.

Mungkin, satu-dua bangunan tetap dipertahankan pemerintah. Hanya yang berlatar sebagai objek wisata, seperti benteng atau museum. If you know what i mean. Pemerintah kami terlalu sibuk membangun tatanan kota dunia tanpa peduli bangunan-bangunan yang mengingatkannya pada sejarah. Di tengah slogan andalan yang selalu bernuansa etnis daerah, bangunan-bangunan mewah dipugar tanpa henti.

Sungguh, di tanah Batak ini, kultur budaya dan estetika tempo doeloe-nya masih cukup menggiurkan bagi sebagian isi kepala saya. Mungkin, di suatu waktu nanti, menjadi pembuka jalan untuk kembali mengunjunginya...

***

Saya bersama rombongan atlet dilabuhkan di hotel berbintang lima. Jangan tanya seberapa tinggi gedungnya. Apalagi pelayanan kamarnya. Semua ada di tingkatan zona modernisasi. Untuk orang-orang sekelas saya, banyak hal-hal mewah yang masih luput di kepala.

Hanya berselang beberapa jam kedatangan, beberapa manajer cabang olahraga (cabor) harus mengikuti technical meeting Porseni, yang bakal dibuka besok. Sebagian orang memutuskan berisitirahat di kamar masing-masing. Tersisa saya, yang di saat-saat akhir baru mendapatkan kamar di lantai 17.

"Kamu ikut saya," ujar salah seorang pria saat bertemu saya di depan lift. Ia terlihat sibuk mondar-mandir kesana-kemari. Ia juga termasuk rombongan kami.

Awalnya, saya mengira dia salah satu petinggi perusahaan. Kelak, saya baru tahu bahwa ia merupakan pemilik PH (Production House) yang disewa perusahaan untuk mendokumentasikan event dua tahunan ini. Yah, termasuk karena ia dan seorang anggotanya berbagi kamar yang sama dengan saya.

Sembari mengecek GPS gadget, mengamati peta kota, mencari satu-dua tempat menarik dekat hotel, saya tertidur pulas di atas kasur hotel yang tak pernah saya rasai selama hidup di kost-kostan.




--Imam Rahmanto--


*Saya baru tahu, ternyata hari ini diperingati sebagai Hari Capuccino Dunia. Mari bersulang!!

Rabu, 04 November 2015

Di Tanah Melayu Medali

November 04, 2015
 
(Foto: Imam R)

Horas!

Selamat datang di kota Medan.

Seperti mimpi saja ketika menginjakkan kaki di Bandara Kuala Namu. Perjalanan nyaris sembilan jam sudah bertemu hulunya. Sebuah kota yang dikenal dengan julukan Melayu Deli. Horas!

Sejatinya, perjalanan Makassar - Medan hanya menghabiskan waktu sekira empat jam. Akan tetapi, pesawat mesti transit dahulu di ibukota negara, Jakarta. Terkadang mampir di bandara itu bisa menghabiskan waktu hingga empat jam lamanya.

Gak apa-apa sudah. Saya tetap excited bisa tiba di kota Medan dengan selamat sentosa, hanya kekurangan barang bawaan. Kepala masih pusing gegara jetlag harus ditambahi "bonus" deadline berita yang meminta segera dikerjakan. Selisih waktu sejam antara Medan dan Makassar memaksa saya memenuhi tuntutan yang lebih cepat. Mengetik berita di dalam kendaraan yang sedang melaju, jadi pening pala aku...

***

Dua hari sebelumnya...

Medan seolah tak pernah masuk dalam daftar kota "wanna go" di kepala saya. Kendati menyaksikan beberapa teman pernah kesana, bercerita satu-dua bagiannya, saya tak begitu tergiur merancang perjalanan kesana. Dalam benak saya, kota itu sudah terpatok sebagai "tak-jauh-beda-dengan-Makassar". Saya jauh tertarik ke Kota Pelajar, Yogyakarta.

Tuhan memang selalu bekerja tak terduga.

"Oke, kamu berangkat ya. Sudah dipesankan tiket. Butuh surat atau tidak?" tanya suara dari seberang telepon.

Saya sedang duduk sendirian menyelesaikan satu-dua berita di tepian Lapangan Karebosi. Sesekali melirik orang-orang yang terobsesi menurunkan berat badannya. Otomatis, jantung saya berdetak tak biasanya, hidung saya sudah kembang kempis, bibir saya tak henti menyunggingkan senyum.

Saya sudah lama mengenal orang di ujung telepon itu. Diawali liputan perdana saya untuk perusahaannya, yang sementara menggelar turnamen olahraga. Dari hasil menggali informasi, mereka sedang menyiapkan bertandang di acara olahraga yang lebih besar di Medan.

Di dunia sekarang, saya belajar untuk lebih banyak mengenal orang lain. Lebih banyak berinteraksi. Menantang hingga mencoba hal-hal baru. Menyatukan semuanya dalam sebuah hubungan pertemanan. Yah, bagi saya (selalu), tak ada yang namanya rekan kerja. Otak kita sudah terlampau sumpek dengan istilah serba formal seperti itu. Apa susahnya kita menyebut semua orang sebagai teman kita?

"Siap, Pak. Nantilah saya coba tanya orang di kantor dulu. Apa butuh surat atau tidak," jawab saya segera.

"Jangan lupa besok ya pelepasannya," balasnya lagi.

Ajakan liputan keluar kota itu nyaris membuat saya melompat kegirangan. Saya hendak mengabarkannya kepada redaktur, yang sejak awal sudah mewanti-wanti untuk membangun dan menindaklanjuti hubungan dengan perusahaan itu.

Sedari awal, saya tetap memancang target ke kota itu. Tak ada salahnya memasang banyak target dalam list wanna go saya. Itu semacam doa tak kasat maya yang selalu memaksa sya berusaha melebihi batas kemampuan yang dimiliki.

Bagaimanapun, saya memang punya impian bisa mengunjungi banyak tempat. Selagi muda, mengunjungi kota-selain-Makassar adalah hal wajib. Go anywhere, know anyone...

***

Sehari sebelumnya...

"Besok ikut juga, kan?" tanyanya usai pelepasan kontingennya di halaman kantor perusahaannya. Pelepasan itu dihadiri langsung Direktur Personalia dan SDM-nya.

"Iya, Pak. Berangkat jam berapa?"

"Pagi-pagi, jam 7 kumpul di bandara,"

#jlebb. Saya punya kebiasaan bangun lewat dari jam itu. Entah kenapa semenjak dibebani desk olahraga, ritme pagi saya mulai terganggu. Tapi kelak, di kota Melayu Deli, ritme bangun lebih pagi saya kembali seperti sedia kala.

"Oke, Pak," tanpa tahu, saya harus mengakali apa bangun pagi nanti. Tetapi harus bangun pagi! Ini demi kemaslahatan saya...

"Tapi, saya butuh suratnya. Bisa, kan?" tanya saya lagi.

"Bisa. bisa. Atau saya kirimkan lewat email saja ya nanti?"

"Oke deh, Pak,"

***

Hm, namanya hal-hal baru memang selalu menawarkan kesegaran tertentu. Pikiran seolah terputar kembali menyisakan ruang untuk pengalaman-pengalaman baru. Bonus: teman-teman baru pastinya.

Buktinya, di bandara, saya bisa hadir lebih awal. Beberapa orang yang saya titipkan pesan untuk membangunkan di pagi hari ternyata tidak lebih mujarab dari usaha saya sendiri. Entah bagaimana prosesnya, kepala saya terparkir saja di pagi keberangkatan itu.  Itu seolah ada kekuatan (atau luapan perasaan gembira) yang berkata lewat alam bawah sadar saya, "Ayo, sudah saatnya bangun pagi!"

Dari bandara terbesar kedua di Indonesia, perjalanan kami menghabiskan waktu selama hampir dua jam. Sepanjang perjalanan, mata saya tak henti mengamati bangunan kota. Jalan. Gedung-gedung megah. Kios. Rambu-rambu. Poster. Baliho. Perempuan manis.

Sepintas, suasananya tak jauh beda dengan kota Makassar. Keramaiannya nyaris serupa. Hanya logat bahasanya saja yang berbeda. Pun, gedung-gedungnya, lebih menawarkan banyak kemegahan. Termasuk hotel tempat saya menginap, megah, menyatu dengan salah satu pusat perbelanjaan.

Walau begitu, saya tetap percaya bakal menemukan hal berbeda disini, di kota Melayu Deli...

Sekali lagi, percayalah, Tuhan memang selalu bekerja dengan cara yang terduga.

...to be continued

Merekalah para atlet dan manajer kontingen Pelindo IV, yang bakal menjaditeman-teman baru di kota orang. (Foto: ImamR)


--Imam Rahmanto--


*Saat menuliskan postingan ini, saya baru saja menyelesaikan sarapan di hotel. Saya dan teman-teman sedang bersiap ke lapangan pertandingan futsal.

Kamis, 29 Oktober 2015

Liburan Indie

Oktober 29, 2015
Saat ku berjalan, tanpa ragu, tanpa bimbang.....

Itu lagu terakhir yang dilantunkan penyanyinya, Endah N Rhesa, di atas panggung malam lalu. Saya menikmatinya. Semua menikmatinya. Ini lagu pertama yang saya kenal dari kedua penyanyi Indie itu lantaran penasaran dengan liriknya, ada kata "SO7"-nya. Tak ketinggalan pula liriknya menyebutkan band-band kenamaan lain.

Baru memasuki intronya, semua penonton mulai bersorak. Saya yang berada di belakang panggung segera mencari tempat strategis untuk menyaksikan aksi sepasang suami-istri itu. Rasa-rasanya, kalau Endah N Rhesa tak menyanyikan Liburan Indie, seakan ada yang kurang sedap.

Dua lagu penyela sebelumnya, diberi judul Thanks to dan Promo. Bahkan untuk lagu yang dadakan atau iseng-iseng begitu, suara Endah Widiastuti dan iringan bass Rhesa Aditya tetap memukau. Saya hanya bisa tersenyum-senyun mendengar Endah melantunkan sederet nama untuk diucapkan terima kasih.

(Foto: Awal Hidayat)

Ehem... ehem...

Yah, pertengahan malam itu, saya sedang dibebani liputan manggung artis. Sebenarnya di luar kapasitas saya sebagai pemangku desk olahraga. Akan tetapi, kehadiran duo musisi itu di kota kami sontak menarik bagian neuron terjauh dalam kepala saya. Apalagi Endah N Rhesa termasuk penyanyi keren dalam "playlist" saya.

"Setidaknya saya harus bisa menikmati musiknya live dari atas panggung," begitu pikir saya. Selain itu, sesi entertainment juga menjadi bagian tersendiri dari desk olahraga secara umum. Jadi, saya bisa mengambil bagian (tugas) di dalamnya.

Hadir di pementasan tengah malam itu, saya berasa remaja. Akh, bukan berarti saya sudah melipir tua loh ya? Saya justru merasa fresh dengan menemukan suasana-suasana baru (dan muka-muka baru). Cuma... belum dapat jodoh aja. #ehh

Beberapa anak SMA mondar-mandir di depan saya. Mulai dari panitia, peserta basket, hingga yang sekadar ingin menonton (bersama pacar) di sekitar area lapangan. Saya mengenali satu-dua orang. Di hari sebelumnya, saya sudah bertemu karena urusan liputan.

"Bisa nanti saya bertemu dengan Endah N Rhesa? Saya mau wawancara sebentar sebelum mereka mentas," pinta saya pada salah seorang panitia cewek yang mengurusi bintang tamunya.

Kata teman, gadis itu manis untuk seukuran remaja seperti dia. Apalagi kalau pakai kacamata yang sementara disangkutkan di atas kepalanya. Entah kenapa, wanita berkacamata selalu manis bagi saya.

"How do i know the truth if you didn't say so. I would understand if you trust and believe in me," 
--Blue Day

"Oh, iya. Sebentar saya tanya," ujarnya singkat bersandar di pagar venue. Hanya saja, saya sudah terlalu terpatok usia jauh sekali dengan anak-anak remaja ini.

Sekilas menyaksikan anak-anak band di belakang panggung, saya serasa ingin ikut bermain musik juga. Sayangnya, saya mempelajari gitar hanya untuk mengisi waktu luang. Suara saya masih pas-pasan buat dikomersilkan. Malah, saya juga terobsesi ingin belajar alat musik lainnya; drum.

"And I stare at the moon and hope we’ll meet there, hope we’ll meet there ‘cause I miss you? I wish you were here," 
--Wish You Were Here

Saya harus menunggu Endah N Rhesa usai manggung. Manajemennya justru menunda-nunda sampai acara selesai. Demi tugas, saya menunggu sembari menikmati pentas Endah N Rhesa, dari belakang.

"Habis manggung aja ya, Mas," ujar manajer Endah N Rhesa.

Saya hanya membalasnya tersenyum. Padahal saya ingin menikmati penampilan kedua musisi itu tanpa beban apapun usai manggung.

Agak membosankan juga menunggu artis manggung. Satu hal yang membuat saya risih untuk liputan semacam ini; menunggu. Bahkan sebagian besar artis agak tak kooperatif soal wawancara dengan wartawan. Jangan heran jika kelak menemui artis yang sangat bertolak belakang dengan aksinya di layar kaca. Saya sudah sering menemui yang seperti itu.

"Berkali-kali ku lewati jalan ini namun sekarang terasa berbeda..." 

"Mungkin perjalanan ini memakan waktu hingga kita lelah, tak sabar menunggu..."

--Seluas Harapan

Kalau dengar lagu yang satu itu, saya tiba-tiba teringat kenangan dua tahun silam. ...kulewati jalan ini, namun sekarang terasa berbeda.... Pernah berjalan di tepian sungai bersama seseorang. Pagi-pagi. Nongkrong di bangku taman sebentar. Mencari jajanan eskrim. (Ah, sudah, sudah. Saya harus menahan senyum mengingat satu kenangan ini. Bisa-bisa dikira tidak waras sama teman kantor. #deg)

Beberapa lagu Endah N Rhesa memang cukup memikat bagi anak muda. Saya suka. Meski tak semuanya, tapi lagunya cenderung memiliki lirik yang erat dengan kepala dan perasaan. Mendengar lagu indie semacam itu sangat cocok untuk waktu luang. Sambil minum cappuccino. Sambil mengamati bulan yang sedang purnama. 

(Foto: Awal Hidayat)
Kemarin, nyaris purnama saat menyimak aksi Endah N Rhesa. Saya hanya berdiri di pojok belakang panggung. Enggan bergabung bersama beberapa panitia di depan panggung. Meski begitu, saya tetap bisa menyaksikan aksi mesra Endah bersama suaminya. Tak jarang, sorang girang muncul dari penonton di depan panggung.

Saking antusiasnya, seorang teman juga memilih view dari depan panggung itu sekaligus menunaikan tugas (dadakan) motretnya (yang masih amatir).

"Saat lagu When You Love... itu, saya tak mau ketinggalan menikmatinya. Saya duduk sambil menghayatinya," aku teman saya. Akh, dia ini terlalu terbawa perasaan.

Usai manggung, saya segera menunaikan tugas. Tengah malam sudah lewat. Kami berempat mengobrol di belakang panggung. Yah, tidak seperti artis lainnya, Endah dan Rhesa tergolong ramah. Hanya saja, manajemennya yang (mungkin) terlalu protektif.

"Tiba-tiba panggilan kerjaan tak bisa diabaikan. Kami harus lakukan kembali," 
--Liburan Indie

Seperti kata Endah N Rhesa, saya pun harus kembali bekerja...

(Foto: Awal Hidayat)


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 24 Oktober 2015

Sepak Bola yang Njlimet

Oktober 24, 2015
"Itu si Muchlis. Yang nomor 27 itu Maldini. Terus Dewa yang nomor punggung 25," gumam saya dalam hati.

Perlahan, saya mulai mengenali para pemain-pemain skuat Pasukan Ramang - julukan PSM -. Bagaimana tidak, saban sore saya mesti menyambangi latihannya. Mengikuti perkembangan skuat kebanggaan masyarakat Sulsel itu mempermantap persiapan turnamen. FYI, di pertengahan November nanti ada perhelatan besar juga mempertemukan 14 klub ISL di Indonesia. Itu menjadi turnamen kedua yang digelar Mahaka sebagai salah satu operator pertandingan semenjak Liga Indonesia dibekukan.

Nyaris empat bulan saya menyelami dunia olahraga ini, khususnya dunia sepak bola. Saya mulai memahami bagaimana sepak bola membangun hubungan antar masyarakat, termasuk antara insan pelaksananya dengan masyarakat sebagai penikmatnya. Lambat laun, di kepala saya juga mulai menjalar, bagaimana peduli mengamati kisruh sepak bola yang sudah mengungkung negeri ini.

Semula, saya hanya sekadar menjalankan tugas di dunia sepak bola ini. Sebagai seorang pewarta yang baik, sudah menjadi tugas saya menyelesaikan setiap liputan yang dibebankan oleh atasan. Sebagai pewarta yang baik pula, saya wajib banyak tahu dan menggali segala hal terkait spesialisasi itu.

Waktu ternyata selalu berhasil mengubah seseorang. Mungkin, waktu pula yang mampu menanamkan cinta di hati seseorang.

Sedikit demi sedikit, perhatian saya mulai teralih ke dunia yang dulunya terasa asing. Saya banyak belajar dari interaksi dengan para pegiat olahraga kulit bundar itu. Para legenda yang awalnya sama sekali tak saya kenali. Diskusi, curhat, berbagi pengalaman menjadi lorong waktu yang mengangkat isi kepala saya untuk belajar peduli terhadap sepak bola di Indonesia.

"Sepak bola kita terlalu banyak masalah," hal yang kerap saya dengarkan di lapangan.

Saya sejatinya mengiyakan hal itu. Hati saya bergetar menyaksikan langsung euforia para suporter menyaksikan tim kesayangannya bertanding. Seperti apa tingkah mereka yang begitu "mencintai" klub-klub yang mendominasi pakaian mereka di tribun stadion. Wajar, Kalau sudah cinta, logika entah kemana.

(Sumber: google.com)
Euforia itu mengalir bersamaan dengan rutinitas saya mengamati perkembangan sepak bola. Bagaimana pun, yang namanya semangat memang selalu menemukan jalannya untuk menular. Betapa saya (dan masyarakat pecinta sepak bola) mulai merindukan sepak bola Indonesia mulai bergulir kembali. Pun, saya seolah merasa memiliki.

Akh...sejujurnya, saya belum banyak mengerti bola. Saya belum paham, kenapa Kemenpora begitu kukuh membekukan PSSI, yang katanya ditengarai banyak diisi mafia pertandingan. Saya tak habis pikir, kisruh yang terjadi antara institusi yang seharusnya berjalan beriringan itu mulai merembes ke ranah pribadi.

Katanya, Menpora sangat-amat-teramat berseberangan dengan Ketua PSSI. Katanya, dulu bermula di suatu pemilihan ketua. Tidak adakah dari keduanya yang ingin berdamai? Mengalah, bukan berarti kalah. Ini bukan lagi soal ego pribadi, melainkan kepentingan banyak orang.

Sebagai orang yang pernah mengecap dunia organisasi, saya pernah belajar menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik itu tak lagi berpikir tentang dirinya sendiri. Ia tak lagi hidup sendiri. Di kepalanya bukan lagi seputar "bagaimana dengan aku". Melainkan, ia seharusnya belajar berpikir, "bagaimana dengan mereka" yang dipimpinnya.

Bukankah orang tua kita hidup memimpin anak-anaknya tanpa pernah berpikir tentang diri sendiri? Mau beli baju, ia berpikir dulu bagaimana dengan anak-anaknya. Mau makan, mereka akan menyuruh anak-anaknya menyantap duluan. Mau bekerja, mereka tak pernah malu diolok-olok, asalkan anak-anaknya bisa makan.

Lihatlah di luar sana, para pemain sepak bola yang terpaksa "turun kasta" demi sesuap nasi. Mereka yang tergolong "artis" di lapangan sepak bola harus turun merumput di turnamen-turnamen antar kampung. Saya pertama kali menyaksikan laga para bintang ISL itu secara langsung di Liga Ramadan.

Evan Dimas (merah) saat bermain di Liga Ramadan Makassar. (Foto: Tawakkal-FAJAR)
PSSI dibekukan, berujung pada Liga Indonesia yang berhenti mendadak. Kemenpora tak lagi mengizinkan pertandingan digawangi PSSI. Alhasil, para pemain harus mencari pertandingan yang bisa memakai jasa mereka, meskipun dibayar dengan hitungan tiap laga di lapangan.

Jelang akhir bulan ini, salah satu turnamen besar di Parepare (Habibie Cup) yang mengikutsertakan klub-klub daerah juga dibanjiri para pemain bintang. Mereka menyeberang ke pelosok daerah Sulsel dengan harapan bisa dibayar mahal. Karena kompetisi di Indonesia sedang vakum, pemerintah daerah berlomba-lomba menggaet para bintang ISL itu. Di samping unsur politis, setidaknya mereka sudah berniat memberikan hiburan yang bagus bagi masyarakat.

Mau bagaimana lagi? Liga berhenti, banyak klub yang tidak lagi mengakomodasi pemainnya lantaran lowong jam pertandingan resmi. Sementara penghasilan klub, setahu saya, sebagian besar berasal dari hasil-hasil pertandingan yang digelar di Indonesia. Para sponsor baru mengalirkan dukungannya jika pertandingan berjalan dan dinikmati masyarakat.

"Klub butuh pertandingan, masyarakat butuh hiburan,"

Satu hal yang saya pahami. Ketika laga berlangsung, betapa kehidupan begitu menjalar di sekitar lapangan pertandingan. Suporter yang berseru-seru mendukung tim kesayangannya. Pedagang asongan berkeliling di sepanjang tribun. Anak-anak yang tak tahu hendak kemana diajak kakak-kakaknya menyaksikan idolanya. Para pemain yang sumringah diadang para fans-fansnya. Mereka takjub dan berdegup di tengah lapangan karena bermain dikelilingi para pendukungnya. Lapangan seolah kembali bernyawa. Ada tawa dimana-mana.

"Kami rindu geliat keramaian itu," bahasa seluruh gurat wajah para suporter dan masyarakat pecinta bola.

Saya mulai memahami, sepak bola ternyata menghidupi banyak orang. Dari rakyat kecil, hingga para petinggi yang tak tahu berterima kasih. Tengoklah di laga final Piala Presiden kemarin. Stadion Gelora Bung Karno sungguh menjadi pemandangan menakjubkan bagi masyarakat pecinta sepak bola. Itu semacam wujud kerinduan yang membuncah ke ubun-ubun. Seperti rasanya saat berjumpa seseorang yang kerap dirindukan.

Kendati tak paham pokok perkaranya, saya hanya berharap Menpora, PSSI cepat akur. Saya tak perlu menghakimi siapa yang salah. Berdamai sajalah. Jangan mengacaukan sepak bola Indonesia yang kian terpuruk. Berhentilah mengobarkan kebencian, yang mengorbankan masyarakat di nusantara.

Seharusnya segala kepentingan pribadi dipinggirkan dahulu dan duduk bersama membahas kepentingan masyarakat. Cukuplah masyarakat muak dengan panggung sandiwara perpolitikan Indonesia. Tak usah sandiwara semacam itu merembet ke ranah olahraga.

Kalau ibu pertiwi sudah bosan dimonopoli para petinggi negeri, maka ajarkanlah kami bersikap ksatria di tengah hijaunya lapangan nusantara...

Klub Persib memboyong juara pertama di Piala Presiden. (Foto: bola.com)


--Imam Rahmanto--