Rabu, 10 Desember 2014

Sibuk Cari Hidup

Saya sedang merindu. Kerinduan yang menyeruak beberapa minggu terakhir. Kerinduan bersibuk-sibuk ria. Aneh.

Di luar sana, hujan tengah memandikan jalan. Kota Makassar memang sedang ramai-ramainya diguyur hujan mengawali bulan Desember kemarin, hingga kini. Pertanda bagus. Loh, hujan adalah rahmat Tuhan, kan? Diprediksi, menurut pakar cuaca, musim penghujan akan mengalami puncaknya hingga januari mendatang. Semoga kita tak dicekoki hp (harapan palsu).

Karena hujan, saya tak bisa ke mana-mana. Hanya berdiam diri di kamar. Hanya bisa memelototi layar gawai yang menampilkan sejumlah nama. Sesekali terkikik. Di kali lainnya, mengetik terburu-buru. Tak ada kerjaan. Mungkin, hal semacam ini yang disebut "terperangkap" dunia maya.

Padahal, semasa kecil dulu, betapa menyenangkannya keluar rumah di kala hujan. Bahkan di masa kanak-kanak, kita rela berhujan-hujanan demi bisa bermain bola sepak dengan teman-teman. Tak peduli lumpur di sekujur tubuh. Apalagi cuma guyuran air hujan. Segalanya terasa menyenangkan dan NYATA.

Akhir-akhir ini saya sedang mencari kesibukan baru. Saya harus menyelingi kegiatan mengerjakan tugas akhir kuliah saya. Kalau tidak, saya bisa gila! Apa pun. Selepas saya demisioner dari kepengurusan organisasi kampus, tak ada lagi kesibukan yang cukup untuk dilakoni. Kalau dulu, saya selalu sibuk (sok) saban hari.

Di kala ada kegiatan yang dihelat komunitas tertentu di Makassar, saya jalan-jalan sembari nimbrung di sana. Di saat ada pekerjaan freelance yang ditawarkan seorang teman, saya menyanggupinya. Di kala teman mengajak hang-out, saya ikut-ikutan. Asalkan saya tidak perlu mengeluarkan banyak duit. Bisa jadi, sebentuk tulisan ini pun hanya salah satu cara untuk menghidupkan kesibukan.

Saya rindu berpetualang. Mengunjungi banyak tempat. Mengenal orang-orang baru. Mempelajari hal-hal baru. Menuliskan pengelaman-pengalaman itu, sekadar menjadi bahan cerita untuk orang lain. Paling tidak, untuk anak-cucu saya kelak. Pokoknya, keep moving forward.

Tengoklah seorang daydreamer yang bernama Walter Mitty. Seorang Manajer Aset Foto di penerbitan Majalah LIFE. Saban hari, di tengah-tengah rutinitasnya yang monoton, ia suka melamun. Parahnya, ia bisa melamun kapan saja dan dimana saja, bahkan ketika sedang berbicara dengan orang lain. Sementara ia sudah lama bekerja di majalah yang menjadi impian banyak orang dengan penghasilan yang cukup menjanjikan.

Suatu waktu, karena keisengan fotografer Sean O’Connell, ia “dipaksa” melenggang ke dunia luar. Negatif film ke-25 yang harus dicetak sebagai sampul LIFE di edisi terakhirnya (sebelum beralih ke online) terpisah dari roll-nya. Fotografer hanya mengirimkan foto-fotonya selama ini lewat pos. Untuk menghubungi atau menemuinya, tak ada alamat yang jelas. Berbekal petunjuk foto yang ada, dimulailah petualangan Walter Mitty menyelami hidup, melintas negara dan benua, demi menemukan sang fotografer.

“To see the world, thing dangerous to come to, to see behind walls, to draw closer, to find each other and to feel. That is purpose of LIFE.”

Saya paling suka dengan motto perusahaan LIFE. Benar-benar menyarankan hidup sejatinya. “Untuk menyaksikan dunia, hal-hal berbahaya yang berdatangan, untuk melihat yang ada di balik dinding, menariknya lebih dekat, dan merasakannya. Itulah tujuan hidup.”

Sumber: googling
Esensi hidup yang sebenarnya telah banyak dilupakan. Sebagian besar dari diri kita cenderung lebih suka dalam comfort zone-nya. Kita tak pernah menyadari ada yang lebih “hidup” di luar garis kenyamanan itu.

Di kehidupan kita yang serba canggih, ada terlalu banyak teknologi instan yang membuat kita enggan beranjak dari duduk. Kebutuhan akan informasi, permainan, perjalanan, pengalaman, teman, dan semacamnya bisa dimainkan dengan ujung sentuhan jari. Ada perasaan nyaman “semu” yang mulai terdoktrin perlahan-lahan.

Kita seolah lebih senang berdiam diri. Menikmati semuanya tanpa gerakan. Sama paradoksnya penjulukan “smartphone” – ponsel pintar, yang justru membuat penggunanya semakin kehilangan cara berpikir. Perhatikan pula orang-orang di kafe atau tempat umum lainnya, yang sibuk tak acuh memainkan gadget ketimbang berinteraksi dengan teman-teman di hadapannya. Segala hal yang ditawarkan untuk mempermudah hidup, justru lambat-laun menghilangkan esensi kehidupan itu sendiri.

…to find each other and to feel”

Baru-baru ini saya membaca tentang pegawai staf Google yang justru menyekolahkan anaknya di sekolah yang tidak menyediakan komputer dan teknologi-teknologi canggih lainnya. Ia berkata,

“Komputer itu sangat mudah. Kami di Google sengaja membuat perangkat yang ibaratnya bisa digunakan tanpa harus berpikir. Anak-anak toh tetap bisa mempelajari komputer sendiri jika usia mereka sudah dewasa.” 

Bukankah ini menakjubkan? Ia seorang ahli teknologi, tak benar-benar mengagumi teknologi seutuhnya. Ia tahu betapa lebih “hidup”nya kehidupan sebelum penjajahan teknologi.

Nah, kembali ke film The Secret Life Of Walter Mitty. Sekali waktu, tontonlah film keren ini! Seorang pengkhayal akut yang mencoba keluar dari garis nyamannya, dan merasai kehidupan sebenarnya.

Walter Mitty yang salah memahami perintah melompat dari pilot helikopter. (Sumber: screenshot)
Pengalaman nyaris tenggelam di samudera karena melompat dari helikopter, bersepeda sendirian di Islandia, meluncur di perbukitan Islandia, hingga mendaki wilayah Himalaya justru menjadi pengisi kekosongan dalam hidupnya. Usai menyelami pengalaman-pengalaman menegangkan, ia tidak pernah lagi melamun. Kesibukan bertualang yang dilakoninya menutup segala kebiasaan mengkhayal akutnya. Ia akhirnya benar-benar “hidup”.

Akh, petualangannya itu membuat saya mupeng (muka pengen), hendak melenggang merasai dunia. Meskipun sebenarnya di nusantara, banyak pula tempat-tempat yang cukup eksotis untuk dikunjungi. Mungkin, ala-ala backpacker. Selagi masih muda, perkaya diri dengan pengalaman-pengalaman menarik. Sebaiknya, ada banyak hal dari hidup yang bisa diceritakan untuk anak-cucu kita kelak. Duh, sial, saya masih punya skripsi yang harus diselesaikan di penghujung tahun ini…


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar