Selasa, 02 Desember 2014

Mengenal Sepenggal Pram

Ini bukan resensi buku, meski sedikit mengulasnya. Hanya seutas benang perkenalan pada seorang  penulis yang mengukirkan namanya di dinding  sejarah kesusastraan Indonesia…

Siapa tak kenal Pramoedya Ananta Toer? Seorang penulis yang suaranya tak mampu dilibas oleh zaman. Tulisannya diabadikan dalam berbagai terjemahan internasional. Berbagai karyanya dibaca dan dikaji hingga kelas-kelas sastra perkuliahan. Bukti nyata ia berhasil memperpanjang umurnya dengan tulisan-tulisannya. Bukti nyata bahwa suaranya tak bisa dipenjara.

Pramoedya Ananta Toer di masa tuanya. Ia tutup usia pada umur ke-81. (Sumber: googling
Saya mengenalnya - sepenggal - , baru belakangan ini. Meskipun namanya sudah lama bergaung di kepala saya. Pernah suatu kali saya membaca novel karyanya Di Tepi Kali Bekasi. Namun berakhir dengan ketidakpuasan saya, lantaran bahasanya yang sudah dianggap kaku untuk ukuran literatur dewasa ini. Selain itu, isinya juga yang sudah kepalang ketinggalan; tentang masa perjuangan. Karena saya termasuk anak muda yang dibesarkan era teknologi hingga tidak mengenal pentingnya perjuangan kemerdekaan Indonesia, maka saya tidak lagi tertarik mencari tahu tulisan-tulisan Pram. Saya agak traumatik dengan gaya bahasa “tempoe doeloe”. Untuk menerjemahkannya, otak butuh berpikir ekstra keras.

Bukan suatu kebetulan saya akhirnya harus berkenalan kembali dengan “Mbah” Pram lewat buku Anak Semua Bangsa-nya. Ini pun hasil “menodong” seorang teman. Biasalah, saya seorang books-addict (pecandu buku), tapi koleksi buku saya masih minim. Ada yang berniat “menyumbangkan” koleksi bukunya?

“Tidak lengkap rasanya kalau langsung membaca buku ini. Pasalnya, Anak Semua Bangsa adalah buku kedua dari Tetralogi Bumi Manusia yang ditulis Pramoedya di masa pengasingannya di Pulau Buru dulu,” ujar teman saya yang meminjamkannya.

Ya sudahlah. Saya tetap menamatkannya, yang pada akhirnya membuka cakrawala kepenasaran saya tentang peraih banyak penghargaan ini. Lewat bukunya itu, saya dituntut mengenal lebih jauh karya-karya nominator peraih penghargaan nobel kesusastraan ini.

Buku Anak Semua Bangsa, mengajarkan pada pembacanya tentang sejarah Indonesia dari sisi berbeda. Ada pergolakan konflik antara pribumi dan penjajah. Kisahnya tidak banyak bercerita tentang peperangan fisik maupun senjata. Pram justru menceritakan peperangan tokoh utamanya melawan penindasan dan kebodohan lewat tulisan-tulisannya dan pencarian jati dirinya tentang ke-Indonesiaan. Ada konflik-konflik pemikiran yang cenderung dipaparkan pada beberapa tokohnya.

Akh, gegara membacanya, saya jadi sedikit-sedikit tahu bagaimana sejarah kebangsaan di masa kemerdekaan dulu. Bagaimana cara memandang hidup seorang pribumi. Apa itu revolusi yang selama ini diagung-angungkan oleh penggiat Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) ini. Dan lagi, tingkat curiosity saya pada tulisan-tulisan Pram yang lainnya bertambah. Apalagi dengan gaya bahasanya yang sangat intelektual, menurut saya.

Berlanjut, saya dipertemukan (lagi) dengan buku (tentang) Pram lainnya. The Wisdom Of Pramoedya Ananta Toer, karya Tofik Pram. Ini juga hasil minjam. Meskipun penulisnya bukan Pram sendiri, namun isinya merupakan kumpulan tulisan Pramoedya Ananta Toer yang pernah diterbitkan, baik dalam bentuk artikel maupun pidato-pidato. Lagipula, buku ini terbit setelah pejuang revolusi ini tumbang dimakan usia.

Nah, di buku yang satu ini saya merasa baru mengenal (sepenggal) seorang Pram, melalui esai-esai dan pidatonya. Ia seorang penulis yang lebih cenderung ke ranah realisme-sosial. Semua karyanya selalu memiliki tujuan dan falsafah hidup untuk kepentingan kebenaran, khususnya demi melawan penindasan di masanya. Ia hidup di masa perjuangan dan dikungkung di masa kemerdekaan. Wajar ketika membaca tulisan Pram, rezim Orba kalang kabut hendak menyingkirkan Pram. Ia diasingkan di Pulau Buru. Di masa pengasingannya itu, ada banyak pula karyanya yang ikut dimusnahkan. Namun sebagai penulis, suaranya takkan pernah padam, hingga akhirnya ia melahirkan Tetralogi Pulau Buru.

Ia juga tidak segan berurusan dengan sesama sastrawan lainnya. Jika ada sastrawan yang dianggap melenceng dari kesusastraan yang dipahaminya, maka ia tanpa tedeng aling-aling melayangkan kritik di setiap tulisannya. Dalam beberapa tulisan itu, ia tanpa ragu menyebutkan nama.

Di awal membaca setiap tulisan Pram, kita akan dihadapkan pada semacam “pelajaran” sejarah. Mungkin, kita perlu menyiapkan diri menghalau rasa bosan membaca tulisan-tulisan non-fiktif itu.  Akan tetapi, jika membaca lebih banyak karyanya, kita justru akan semakin dipahamkan tentang sejarah tanpa perlu digurui. Malahan, saya menemukan bahwa ada pelajaran sejarah yang sengaja dijejalkan melenceng di masa SD dulu. 

Selain itu, saya lebih banyak belajar tentang kesusastraan dari penulis yang pernah meraih Raymond Magsaysay Award. Meskipun bukan mahasiswa jurusan Sastra, ada banyak terkait sastra yang bisa dipetik melalui “obrolan” dengan Pram itu. Paling tidak, sebagai orang yang gandrung dunia tulis-menulis, saya jadi aufklarung (tercerahkan, kiasan yang sering dipakai Pram).

Benar kata Daniel Mahendra di sampul depan buku The Wisdom Of Pramoedya Ananta Toer bahwa:

“Membaca (karya) Pramoedya sama halnya membaca sejarah berdirinya sebuah bangunan bernama Indonesia. Karya-karyanya tidak berlagak genit dengan mencoba memberikan segerobak solusi dari setiap persoalan yang ada di negeri ini. Tetapi, lebih dari ittu: sebagai cara pandang kita dalam melihat Indonesia dari kacamata yang paling jujur.”

Pram memang seorang pemberani dengan kasryanya. Satu-satunya yang ia tahu hanya menulis. Namun, tak satu pun kegelisahan yang ia luput tanpa menuliskannya. Sederhananya, ketika ia melihat sesuatu yang “hitam”, maka ia akan katakan “hitam” dengan tegas dan jelas. Kalau “putih”, ya “putih”. Tak peduli orang-orang di sekitarnya akan tersinggung dan menghujatnya. Terbukti, banyak pertentangan yang ditimbulkannya dalam dunia kesusastraan terhadap sastrawan yang kita kenal karyanya hingga dewasa ini.

Bagaimana pun, saya selalu percaya, tulisan tetap menjadi cerminan seorang penulisnya. Kalau ingin menilai penulis, maka bacalah tulisannya. Dan Pramoedya Ananta Toer benar-benar mencurahkan segala mimik, gestur, tindakan, sikap, dan perilakunya dalam ratusan paragraf tulisannya. Ia tahu caranya berjuang untuk melawan lupa.

“Jika umurmu tak sepanjang umur dunia, sambunglah dengan tulisan,” –Pramoedya Ananta Toer

Untuk siapa saja yang ingin mengenal sastra Indonesia, ada baiknya membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Buku apa saja, terserah. Pun dengan saya, yang masih meraba-raba mengenal “sepenggal” Pram.

Oke, saya sedang mencari buku Pram lainnya… 


--Imam Rahmanto--

P.s: Tulisan ini diposting ulang (dengan editing seperlunya) di website Revius.

2 komentar:

  1. Pram itu apa ya.. luar biasa tentunya. Kalo kamu ingin kenal pram coba baca nyanyi sunyi seorang bisu. Itu semacam otobigrafi dia. Bagaimana dia bisa tetap menulua walau sedang dipenjara dan karyanya ya ga usah dijelasin ya hehehe.. just recomend..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, lagi nyari bacaan dari Pramoedya nih... :D

      Hapus