Selasa, 30 Desember 2014

27# Lebih Jauh

Desember 30, 2014
Hujan baru saja mengguyur kota ini tiada henti. Sambung-menyambung. Di momen tertentu hujan itu menderas dan tak memperbolehkan siapa pun melintas di bawahnya. Di momen lainnya, hujan itu menderai menjadi rinai, namun tak mereda.

Hujan nampaknya sedang melampiaskan kerinduannya pada bumi. Seingat saya, dua-tiga hari ini teriknya mentari memang mengambil alih posisinya di bumi. Sedikit memberikan waktu bagi hujan untuk menabung rindu, lantas menumpahkannya kemarin.

Saya sedang berada di kampus ketika hujan berderai. Ada banyak hal yang kemudian harus dilanjutkan, mengingat status sebagai mahasiswa tingkat akhir. Terlalu lama saya berdiam, dan berperang sendiri dengan pikiran-pikiran bodoh lainnya. Bukankah rentang satu bulan selepas ujian proposal itu lama sekali ya?

Seperti inilah yang dinamakan rehat. Akh, beruntungnya lagi, saya cepat tersadar. Ada banyak wake up call. Teman-teman seangkatan, yang pernah mengenyam bangku sekolah yang sama, bergiliran menyelesaikan studinya. Lainnya lagi, sudah berumah tangga. Saya? Masih disibukkan pikiran sendiri akan kemana selepas ujian proposal ini. Hah!

Mengerjakan apa yang bisa dikerjakan, mungkin sepertinya menjadi pilihan untuk mempercepat jam terbang saya di kampus. Target bulan ini tak terkejar, seharusnya bisa bergeser ke bulan berikutnya. Paling tidak, saya sudah merencanakan. Katanya, kalau gagal merencanakan berarti gagal pula mengerjakannya. Yeah, kita, manusia, memang hanya bisa merencanakan tanpa tahu bahwa Tuhan lah yang selalu menentukan. Plus, orang lain yang mengomentari.

Saya masih berada di kampus sesaat bentrokan mahasiswa nyaris dimulai lagi. Entahlah. Saya juga heran melihat kebiasaan kampus saya, yang saban minggu (nyaris) bentrok. Hujan mungkin saja berhasil melerai kedua fakultas yang sudah siap saling lempar itu. Sebagaimana hujan pula yang menahan saya berjam-jam di beranda masjid. Di dalam masjid sedang berlangsung kajian, sementara saya hanya berdiri memandangi hujan dengan telinga yang terpasang earphone bervolume maksimal.

Saya memandangi orang-orang yang mempercepat langkahnya menghindari hujan. Ada yang berjalan di bawah naungan payung. Sepayung boleh berdua. Di atas motor, orang-orang mengenakan mantel tak tertebus air. Laju motor dipercepat demi menghindari hujan yang nampaknya tak ingin berhenti barang sebentar. Di pinggir bangunan-bangunan yang menjanjikan keteduhan, orang menunggui hujan. Hujan, kapan kau mereda? Ada banyak urusan hari ini? Begitu kata hati masing-masing, mungkin.

Lewat pukul lima, hujan mulai merinai dan membolehkan saya beranjak dari masjid. Saya harus berjalan pulang. Hujan, tak apalah. Hujan seperti ini tak akan pernah menyakiti saya. Sejatinya, manusialah yang membuat-buat sakitnya dan menyalahkan hujan. Hm…hujan sedramatis dan seromantis ini dikatakan membawa penyakit?

Apa guna kesempatan jika tak digunakan. Saya sudah cukup lama beristirahat dari pekatnya kepala. Ini sudah sampai pada akhir tahun. Meski kampus bakal diliburkan lagi (pastinya), sudah saatnya saya berjalan lagi. Mengerjakan apa yang memang bisa dikerjakan. Berjalan lebih jauh, kata Banda Neira, karena hujan hanya di mimpi…

Now playing: Banda Neira - Berjalan Lebih Jauh




--Imam Rahmanto--

Selasa, 23 Desember 2014

Selamat Hari Ibu, Mak...

Desember 23, 2014
Sumber: anneahira.com
Kata orang, tanggal 22 adalah momen yang paling penting buat Ibu. Dikenal sebagai Hari Ibu. Maka perkenankanlah saya bercerita, sedikit saja, perihal ibu saya…

***

Ibu saya bukan siapa-siapa. Ia tidak seperti Ibu Negara yang dikenal seantero nusantara. Bahkan bukan pula Ibu Lurah yang punya jabatan strategis dalam pemerintahan daerah.

Ibu saya justru biasa-biasa saja, seperti kebanyakan ibu lainnya di pelosok negeri ini. Pun, seberapa besar saya mengistimewakannya atau melebih-lebihkannya di hari istimewa kemarin, ia tetap seorang wanita tua lazimnya yang telah melahirkan dan merawat dua orang anaknya, dari kecil hingga dewasa. Ibu memang taat aturan pemerintah saat itu yang mewajibkan program Keluarga berencana: Dua anak sudah cukup!

Akh, sebenarnya usia ibu juga belum tergolong tua. Tengoklah, ia lahir tahun 1971, di masa Pak Soeharto masih berkuasa. Ia lebih muda 4 tahun dari bapak. Kehidupan yang pas-pasan di masa itu memaksa ibu memupus harapannya mengenyam pendidikan lebih tinggi selepas SD.

Ibu saya tak begitu ayu. Badannya juga setinggi wanita pada umumnya. Mungkin, kecilnya tubuh saya di masa sekolah menurun dari ibu. Ia tak pandai bersolek. Kalau ke acara kondangan, berdandan seadanya. Bapak kadang dibuat kesal karena dandanannya yang apa-adanya.

Namun entah bagaimana caranya bapak di masa muda bisa kesemsem oleh Ibu. Setahu saya, sebagian besar perempuan muda Jawa di itu memang kemayu dan kalem. Dijodohkan sekalipun, mereka biasanya akan berbesar hati. Embel-embel uang panai’ seadanya.

Jikalau berkunjung ke kampung halamannya di Jawa, kami sekeluarga akan bermukim di rumah salah seorang Simbah (baca: nenek) di desa Keting. Simbah di desa ini sebenarnya bukan orang tua kandung ibu saya, melainkan orang tua angkatnya.

Ibu pernah bercerita, di masa mudanya ia memang “diambil” anak oleh pasangan di desa Keting itu. Pasangan yang biasa-biasa saja. Bukan orang berada. Bukan pula orang terpandang. Bahkan, menurut bapak, perangai simbah cenderung menjengkelkan.

“Simbahmu itu ndak punya anak. Dulu karena Ma’e sering dolan ke Keting, jadinya diangkat anak sama Simbahmu,”

Jembatan Kendal. (Sumber: googling)
Ibu dan orang tua kandungnya sebenarnya bertempat tinggal di desa seberang, Duri Kulon, yang dipisahkan Kali Bengawan Solo. Ibu punya dua orang saudara perempuan. Di desa itu pula pusat keramaian desa yang terpisah beberapa dusun berlangsung, termasuk pasar pagi.

Dulu, jika warga desa hendak menyeberangi sungai, mereka hanya memanfaatkan rakit atau perahu yang beroperasi di pinggiran sungai. Biasanya hanya bermodalkan galah bambu.

Sangat berbeda dengan kondisi sekarang. Terakhir kali saya pulang ke kampung halaman, perahu-perahu sudah menggunakan mesin. Kalau mau lebih praktis, orang-orang biasanya memutar arah tak begitu jauh melewati jembatan Kendal, bendungan Bengawan Solo. Saya jadi kangen pulang kampung..…

Karena ibu bukan orang berpendidikan, wajar jika kebiasaannya ceplas-ceplos terbawa-bawa sampai sekarang. Ngomong biasa, Ibu seakan-akan sedang jengkel. Tekanan nada suaranya memang berbeda dibanding cara orang lain berbicara. Bapak sering marah gegara sifat buruk Ibu itu. Tak ketinggalan, sifat yang satu ini nampaknya menurun pula pada anaknya yang lelaki. #fiuhh

Ibu tak pandai pula memasak. Saban hari, masakannya hampir sama. Dulu, setiap pagi, jelang anak-anaknya berangkat sekolah, Ibu hanya menyiapkan nasi goreng atau mie instan yang divariasi sedemikian rupa dengan sayur-mayur. Ala kadarnya. Serius! Ibu saya bukan orang yang pandai memasak. Justru bapak yang terkadang mengajarkan ibu caranya memasak beberapa jenis masakan dengan benar.

Saya juga terkadang kesal dengan perangai ibu yang cenderung pelit kepada kedua anaknya. Di rumah, semasa kecil, saya tak bisa makan sesuka hati. Ibu selalu menyuruh makan secukupnya. Menyisakan untuk bapak dan adik saya.

Ini ibu saya. (Foto: ImamR)
Tapi, lebih dari itu semua...

Ibu selalu memperhatikan penampilan kedua anaknya. Ibu sering kali kesal jika melihat saya memakai baju yang itu-itu-saja. Demi memakaikan baju baru, ia rela berutang di tetangga sebelah rumah yang kebetulan berdagang pakaian.

Tiap lebaran di ujung mata, ibu selalu mengajak saya ke tetangga sebelah dan memilihkan baju yang pas. Beruntung, tetangga kami orang yang ramah, dan mengerti akan kondisi keluarga kami. Ia sudah paham di luar kepala jika tiba saatnya ibu berujar, “Bayarnya belakangan ya, Haji.”

Di saat sekarang pun, kalau pulang ke rumah, ibu selalu berharap bisa membelikan sesuatu untuk saya. Baju, buah-buahan, makanan, dan segala hal yang dirasanya bisa membuat saya “hidup”. Beranjak dewasa, saya cenderung menolaknya.

Namun, berjalannya waktu. saya disadarkan bahwa orang tua memang selalu menyayangi anaknya dengan rupa-rupa pemberian. Ia selalu berharap bisa memberikan sesuatu yang memang dibutuhkan anaknya. Karena kasih sayang, selalu tak pernah pamrih. Maka terimalah semampunya apa yang diberikan orang tuamu…

Meski tak bertitel tinggi, ibu pandai menjaga shalatnya. Tak luput ia mengingatkan saya untuk shalat 5 waktu. Pun di waktu Subuh, ibu sering membangunkan. Tak ayal meski berbalas gerutuan dari saya.

“Mau sebejat apa pun kehidupan kamu, nak, jangan pernah ninggali shalatmu,” pesannya.

Dan, ketika saya berpisah dengannya, hal lain yang membuat saya merasa kehilangan, “Siapa lagi yang akan membangunkan saya jelang Subuh?”

Saya tak pernah membayangkan memiliki ibu yang lebih dari sekarang. Ibu saya tak cocok menjadi tempat mencurahkan segala perasaan dan masalah yang saya miliki. Kami tak sedekat itu. Hanya saja, ibu saya tahu bagaimana cara untuk lebih dekat pada anaknya. Ia berdoa pada Tuhan, dan Tuhan mendekatkan anaknya padanya. Bukankah segala keberhasilan yang dilalui dalam hidup ini atas doa-doanya?

Ibu juga orang yang kuat. Tegar. Ia lebih kuat dari kelihatannya. Ia tak pernah mengeluh apalagi lari dari kenyataan hidup keluarga kami. Meskipun selalu mengelami perdebatan yang tak nyaman dengan bapak. Saya tahu bagaimana kerasnya bapak. Saya terlalu sering sakit hati melihat perlakuannya pada ibu. Tapi lebih sakit lagi, ketika kanak-kanak saya tak bisa melakukan apa-apa.

Saya bangga dengan kesetiaan ibu. Ia selalu menjadi orang yang selalu ada untuk pasangannya. Seburuk apa pun bapak memperlakukannya, ia melupakannya. Ia hanya orang biasa yang berusaha menjagai bapak di luar kebiasaannya. Semenjak bapak mengidap Paraplegia, ibu menjadi orang nomor satu yang selalu ada mendampingi dan merawat keseharian bapak. Tak lepas dari peran baru ibu menjadi tulang punggung keluarga kami.

Masakan ibu selalu yang saya rindukan. Pulang ke rumah, ibu selalu bertanya, mau dimasakkan apa. Ibu selalu tahu masakan apa yang saya sukai. Masakan ibu, bukan perkara lezat atau tidaknya. Melainkan kasih sayangnya selalu dijadikan resep utama agar mengikat kerinduan anaknya untuk pulang ke rumah.

Dan…

Dulu, kepergian saya selalu menggelayuti pikirannya. Ketika saya hendak pergi, ibu lah orang yang pertama kali menangisi saya. Ia tak rela. Dari matanya, saya masih ingat, bagaimana kilau air mata yang siap menderas menyaksikan tekad bodoh anaknya. Menatap matanya itu, saya hanya bisa melelehi pipi dengan air mata. Saya memang tak berniat membendungnya. Sebagaimana semua kelelakian luruh di hadapan air mata setiap ibu.

Akan tetapi, balik keraguannya itu, ia tak hendak menghalangi. Ia membesarkan hatinya sendiri. Ia berpesan agar baik-baik saja di kehidupan yang akan saya jalani tanpanya. Saya melangkah, tanpa menoleh kepadanya lagi. Bodoh sekali. Meninggalkan sisa air matanya di bayang-bayang bapak yang sedang tertidur.

Ketika saya kembali dalam rentang waktu yang lama, ia pula orang pertama yang menyambut dengan ledak tangisannya. Ikut pula tangannya yang melayang keras di pipi saya. Saya tak peduli, karena tangisnya. Menyusul adik, dan bapak. Lagi-lagi saya tak berniat membendung air mata yang tumpah. Saya biarkan air mata setumpah-tumpahnya. Karena hari itu saya sadar, kalau kau tak bisa kembali karena bapak, maka kembalilah untuk ibu dan adikmu. Bukankah kau menyayangi ibu dan adikmu?

Yah, saya tak ingin pergi lagi. Terlalu bodoh rasanya mengabaikan kehadiran seorang ibu yang selalu melap ingus kanak-kanak saya. Karena saya telah membuatnya menangis. Membuatnya selalu bertanya-tanya kepada bapak tentang keberadaan saya. Mencemaskan anaknya yang tak pernah ingin ditemukan. Diam-diam mempelajari handphone milik bapak demi bisa memijit nomor telepon saya.

Untuk segala hal bodoh yang telah saya perbuat, maaf, Mak.

***

Saya membuka telepon di malam itu. Bertepatan hari Ibu kemarin, saya memutuskan menelepon bapak dan mendengarkan suara ibu lewatnya. Saya ingin mengucapkan, “Selamat Hari Ibu, Mak!” namun terlalu dipenuhi gengsi.

Lagipula, ibu tak pernah tahu ada perayaan semacam itu. Mungkin ia hanya akan terbengong-bengong mendengarnya. Oleh sebab itu, saya hanya bertanya kabar,

“Mak, piye kabare? Mak, lahir tahun piro?”

dan sedikit berlama-lama membicarakan apa saja dengan bapak malam itu…


--Imam Rahmanto--

Ps: Ternyata bapak lahir di hari yang sama dengan Hari Ibu. Saya juga sudah mengucapkan selamat ulang tahun untuknya, meskipun ditanggapinya biasa-biasa saja. Hahaha…

Minggu, 21 Desember 2014

Teman Lupa (2)

Desember 21, 2014

PING!!!

Notifikasi pesan di perangkat gawai tak henti berbunyi. Menandakan chatting teman-teman alumni sekolah dasar sedang mengobrol. Meskipun anggota di grup BBM itu masih berkisar 10 orang saja.

Akh, teman lama, ya? Saya jadi teringat segala kelucuan, keluguan, kepolosan, kebodohan, keisengan masa anak-anak dulu, ketika pertama kalinya mengenal mereka...

Sebagian besar anak-anak di masa kecilnya mungkin baru mempunyai banyak teman di saat usia menginjak sekolah dasar. Sebelum itu, bisa di taman kanak-kanak sih. Namun, tidak semua anak yang menginjak sekolah dasar pernah menikmati bersekolah di sana. Pun, sekarang, ada banyak teman saya yang tidak pernah merasai bersekolah di TK. Kalau di kota, banyak pula menjamur playgroup.

Padahal, di sekolah kanak-kanak itu, kesempatan untuk memenuhi hak dasar anak-anak: bermain. Di masa itu, saya bisa menggambar sepuasnya tanpa takut kekurangan crayon. Menyanyi dengan riang gembira, tanpa takut dianggap sumbang. Membuat origami, tanpa takut kekurangan kertas. Membangun bentuk mobil, kapal, rumah, orang, dengan plastisin. Lebih dari itu, semuanya dilakukan dengan teman-teman. Yah, meskipun terkadang jambak-jambakan, saling lempar, menangis, merengek, hanya gara-gara rebutan bahan. Namanya juga anak-anak…

Saya menganggap, sekolah dasar menjadi tempat sosial paling menarik untuk memperoleh banyak teman. Di sekolah, anak-anak mulai belajar bersosialisasi, mengenal satu sama lain. Anak-anak juga sedikit-demi-sedikit mulai belajar mandiri. Kalau di TK, antar-jemput orang tua masih terlihat lumrah. Memasuki usia SD, anak-anak mulai dituntut untuk pergi-pulang sekolah sendiri. Atau paling tidak, bersama teman-temannya.

Seperti halnya saya…

Sumber: gooogling

***

"Wah, sudah lama ya? Saya jadi tidak mengenal kalian lagi. Kalau dulu, kita masih bolokan (ingusan; bahasa daerah-red), sekarang pasti sudah pada cantik-cantik dan gagah-gagah,”

Long time no see!!

Saya tak lagi banyak mengingat segala rupa pertemanan di masa SD dulu. Hanya beberapa momen yang saya anggap paling istimewa atau unik yang bisa bertahan tak lekang di kepala saya. Lagipula, di masa-masa itu saya masih belum mengenal “se-gila” apa itu cinta. Masih polos. Masih bolokan. Jadi, belum tercemari urusan-urusan demikian. Hanya sebatas olok-olokan coretan pasangan nama yang menyertakan kata “Dan” sembari melingkarinya gambar hati. Sehabis itu diiringi seruan “Cieeee…cieeee…cieee!!”

Lucu membayangkan wajah polos anak-anak yang memberengut hanya karena namanya disandingkan dengan nama teman lawan jenisnya. Tak jarang ada yang sampai menangis. Hahaha…saya pernah nyaris melempar batu teman saya gara-gara gambar saya dikatai jelek.

“Dia yang mana? Itu termasuk teman seangkatan kita ya?”

Di atas kertas, saya mencoba menuliskan beberapa nama yang terangkai sebagai teman kelas dahulu. Satu tingkatan kelas, hanya ditampung satu ruangan. Satu guru, tidak hanya satu mata pelajaran.

Sekolah kami sederhana. Tapi masih jauh lebih beruntung dibanding sekolahnya Lintang di film Laskar Pelangi. Jumlah siswanya juga masih jauh lebih banyak dibanding sekolah di Belitong itu. Tak sampai 40 orang. Bisa dibilang, sekolah kami termasuk sekolah berprestasi di tingkat kabupaten. Tak urung, ruangan dan fasilitasnya lumayan lengkap, meski pas-pasan.

Ada perpustakaan, tempat saya berkenalan untuk pertama kalinya dengan majalah anak-anak Asyik. Saya senang melarikan satu-dua majalah keluar perpustakaan. Ada mushalla kecil. Ada kantin, yang bersebelahan dengan rumah dinas guru-guru kami. Ada kantor kepala sekolah. Ada ruang guru. Sekolah kami juga dilengkapi lapangan yang hanya seluas lapangan tenis. Setiap Senin menjadi tempat yang memadai untuk menggelar upacara bendera, acara yang paling membosankan seumur sekolah.

Dan tempat yang paling saya sukai ada di seberang lapangan itu. Pohon bunga kertas yang menjadi tempat nongkrong saya dan beberapa teman sekelas di waktu istirahat. Kami memanjatinya. Tidur selonjoran di atasnya, di sela-sela cabang yang tidak berduri. Tak lupa, bekal ngemil tersedia di tangan.

Apatah lagi, di samping pohon, terdapat sebuah kolam berukuran setengah lapangan badminton.  Di dalamnya terdapat miniatur kepulauan Nusantara. Kala hujan turun, tenggelamlah pulau-pulau itu beberapa senti dari permukaan. Kalau tak ada kerjaan, kami senang melompat di atasnya, dari pulau-ke pulau.

“Suatu hari nanti, saya akan kesini,” ujar salah seorang dari kami melompat ke pulau Jawa.

“Kalau saya disini!” yang lainnya tak mau kalah, melompat ke pulau yang lebih besar, Kalimantan.

Cop!! Saya disini!” teman yang lainnya melompat ke pulau paling kecil. Ia berdiri satu kaki di atasnya sembari meringis. Namanya anak-anak, mau dikata.

Hal-hal itu, tanpa kami sadari, sebenarnya menggariskan seberapa besar jalan hidup yang akan kami lalui. Tentang cita-cita, impian, dan segala hal yang ingin dijalani dengan baik atau biasa-biasa saja di masa depan kelak.

Kolam itu juga menjadi tempat berendam kaki kami di musim penghujan. Jalanan dari rumah ke sekolah selalu becek lantaran belum diaspal. Tak jarang kami bertelanjang kaki ke sekolah demi menghindari sepatu yang kotor. Setiba di sekolah, sepatu kami pakai lagi.

“Ada berapa orang dulu di kelas kita ya?”

Pastinya, saya lupa ada berapa orang dalam satu kelas kami kala itu. Sebagian nama lengkapnya juga ikut terlupa. Hanya tersangkut pada beberapa nama panggilan saja. Terlepas dari itu, mimik wajah kanak-kanak nama mereka masih jelas terekam di kepala saya.

Hanya saja… entah kini seperti apa raut dewasa mereka ketika sebagian besar diantara kami tak pernah bertemu lagi. Setiap orang yang usianya bertambah, ia bertumbuh, menyertakan separuh dirinya ikut berubah.

Wajah mereka, tak lepas dari kenakalan-kenakalan masa kecil. Akh, saya menyesal, kenapa di masa anak-anak dulu tidak menjadi “sedikit” nakal? Pernah suatu kali, nyaris semua teman kelas laki-laki pernah bersamaan mendapat hukuman. Persoalannya, seusai jam pelajaran olahraga, mereka berenang ke sungai yang tak jauh dari sekolah kami. Sementara sungai itu sudah menjadi blacklist di sekolah kami. Hanya saya dan seorang teman yang tidak mendapat hukuman karena tidak ikut. Wajar, hingga kini, saya tak tahu berenang. Padahal, kata orang, orang kampung biasanya paling pandai berenang.

“Iya. Mereka dulu itu kalau sudah sama-sama, pasti tak pernah lepas lagi. Kayak tiga serangkai, lucu,”

Saya punya beberapa teman yang di sekolah selalu bersama-sama. Melakukan segalanya sama-sama. Bahkan, bermain di luar jam sekolah pun selalu sama-sama. Mungkin, karena mereka merasa dari latar dan budaya yang berbeda.  Eh, eh, saya juga bukan orang “pribumi” malah.

“Bahkan, saya sudah tidak ingat seutuhnya lagi siapa teman-teman kita yang masih bertahan sampai ujian nasional dulu. Lucu ya momen kerja samanya,”

Betapa lucu dan menegangkannya momen ujian nasional yang pertama kalinya bagi usia kami. Wajar ingatan saya masih menggolongkan momen ujian rame-rame itu sebagai momen paling lucu dan unik. Gegara strategi menyontek kami yang nyaris ketahuan dan harus ditutupi dengan akal bulus “sakit perut” saya. Saya baru nyadar, sudah belajar ngeles sejak es-de dulu. Eh…

Sebelum ujian dilangsungkan, kami juga beramai-ramai membentuk kelompok belajar. Salah satunya, berpusat di rumah salah seorang teman kami. Jika tiba waktunya pulang, kami akan beramai-ramai mengantar teman yang rumahnya jauh. Kendaraan di kala itu masih sangat minim. Apalagi di malam hari. Kami bisa berjalan kaki sampai sejauh dua kilometer demi memulangkan teman perempuan yang takut pulang sendirian.

Kejadian paling lucu, pernah suatu kali di tengah perjalanan, kampung kami mengalami pemadaman listrik. Mendadak, kami ketakutan setengah mati, khususnya perempuan. Sebagian dari rombongan, yang laki-laki biasa-biasa saja kok. Segera saja teman-teman perempuan berpegangan pada kami, yang laki-laki. Begitu eratnya hingga membuat kami, para lelaki, tersenyum-senyum puas dan berlagak sok-sok melindungi malam itu.

Pengalaman ini masih membuat saya tersenyum sendiri, dan membangunkan cerita dengan teman-teman lelaki di waktu itu. Kami membanding-bandingkan, siapa-dipegang-siapa malam itu. Hahaha…gubrak!

Usia sekolah dasar kami ditutup dengan liburan ke Tana Toraja. Untuk pertama kalinya, di waktu itu, saya bisa berjalan-jalan ke tempat jauh. Hanya berjarak satu jam lebih ke arah utara dari sekolah kami.
Betapa kami menikmati momen selepas ujian nasional itu. Kerja keras kami terbayar lunas.

Kalau saja dokumentasi di zaman itu bisa semudah sekarang, mungkin saya bisa tersenyum-senyum mengenang memandangi foto kebersamaan kami. Memamerkannya di beranda facebook dan “memanggil” satu per satu mereka yang terlihat di foto. Akh, zaman itu kamera paling banter masih golongan kamera Kodak, yang harus dicuci-cetak dulu.

Kami, begitu senangnya diajak berkunjung ke Tator dengan segala pernak-pernik kebudayaan daerahnya. Keliling-keliling dan menjelajahi pekuburan batu Londa. Menyebur-nyebur di pemandian air panas, Wai Makula’.  Saya masih merasainya dalam bayang-bayang sampai sekarang; menyenangkan.

***

Terlepas dari itu, segalanya berakhir dengan ceria, tanpa air mata. Di masa itu, kami, anak-anak, belum mengenal keharuan dari arti perpisahan. Pertemanan di masa sekolah dasar hanya menjadi landasan untuk menemukan teman-teman baru lainnya, di titik selanjutnya. Kami menutup kisah, untuk memulai kisah lainnya.

Kami berpisah. Beberapa teman memutuskan sekolah di tempat baru. Satu-dua orang tak berminat melanjutkan sekolah. Mereka lebih memilih membantu orang tua bekerja.  Tetap saja dengan impian dan keinginan yang terpancang di dalam hati. Sebagiannya lagi masih tetap sama-sama menjalani keseharian, meski dengan sekolah yang sudah berbeda.

Jalan yang ditempuh pada akhirnya memang berbeda, dan terkadang melenceng dari impian awal. Tak jarang proses kehidupan justru membelokkan ke arah yang lebih baik. Sejatinya Tuhan selalu menunjukkan jalan yang terbaik. Kelak tiba saatnya, kami bercerita kembali sembari berdecak kagum atas hal-hal yang berubah dan mendewasakan kami.

Setiap orang yang usianya bertambah, ia bertumbuh, menyertakan separuh dirinya ikut berubah.

Akan tetapi, bagi saya, satu hal yang tak pernah berubah dari kami tentang masa itu, bahwa kami adalah TEMAN.

Selamanya.

“Kawan, kapan kita bisa bertemu dan ngumpul-ngumpul bareng?”

PING!!!

Sumber: googling


--Imam Rahmanto--

Ps:
Suprianto, Kusmawati, Agus, Nining, Reskiyarti, Nisniati, Imam Saleh, Masnur, Wenni, Ilham, Yusriana, Mutmainnah, Winda, Nurfadilah, Amri, Tison, Muharwati, yance, Herman Eli, Hasmiati, Novi, Reski van Putri, Angga, Jais, Asgar, Hasdiana, Indri, Zulkifli, Yuda,Firman Maharani, Ririn Velayati, Adi (alm), Ilyas, Fajar, Furqan, Jenal, Missy. 


Nah, dimana pun kalian berada, semoga kita berjumpa dalam keadaan terbaik.

Kamis, 18 Desember 2014

Teman Lupa

Desember 18, 2014
Kehidupan nyatanya terus berjalan. Segala hal yang tertinggalkan waktu menjadi bahan yang baik untuk merindu. Memutar memori, sejauh mana ingatan mampu bertahan. 

“Bagaimana kalau kita bikin reunian teman-teman SD?”

Salah seorang teman lama, teman se-geng di masa “jahiliyah” sekolah dulu, menyeletuk. Kami dipertemukan dalam acara wisuda seorang teman lama lainnya.

Saya ingat, nama yang kami sematkan untuk geng kami, D’ Blazen, plesetan dari kampung domisili kami; Belajen. Kampung ini hanya berjarak satu kilometer dari Kalosi, kampung yang dikenal banyak orang karena produksi kopi Arabika-nya.

Semenjak duduk di bangku sekolah dasar, kami kerap kumpul-kumpul di rumah salah seorang teman kami. Sekadar berbincang. Bergosip. Berencana. Bermain. Dan semuanya. Nyaris setiap hari kami bertemu di sela waktu bebas dari pekerjaan rumah.

Baru pada  kesempatan ini saya menyempatkan diri menghadiri acara syukuran wisuda seorang teman. Sebelumnya, ada banyak acara wisuda yang hanya berakhir di kotak inbox sms maupun social media. Saya agak risih hadir di acara yang akan berbuah puluhan tanya beranak-pinak tentang wisuda. Bahkan, saya tidak memenuhi undangan acara dari seseorang yang satu-satunya masih….yah, tahulah..

Celetukan teman saya itu berlanjut dengan menyebutkan nama-nama yang sudah nyaris luput di kepala saat ini. Kemana mereka? Seperti apa mereka saat ini? Apakah mereka masih sama? Sudahkah mereka berkeluarga? Pada dasarnya, mengingat teman lama tidak akan terlepas dari ingatan-ingatan tentang teman itu.

“Dimana ya dia sekarang?”

“Katanya sudah menikah dengan si anu,”

“Benarkah? Kok saya tidak tahu?”

“Kalau tidak salah sekarang dia kerja di…….”

Kalau sudah menyeberang ke masa lalu, semua menjadi menarik diperbincangkan. Ada banyak kenangan yang tercerabut satu-satu.

Tapi, saya juga penasaran dengan mereka. Apa kabar? Saya tak sekecil dulu lagi. Setiap orang yang pernah mengenal saya di masa lalu, selalu takjub dengan perkembangan tumbuh saya sekarang.

Sejujurnya, kalau disuruh mengingat teman lama, saya agak kesulitan. Minimnya waktu pulang ke rumah orang tua, membuat saya lupa banyak hal. Beragam orang yang dikenali di kemudian hari sedikit menutupi ingatan tentang mereka. Orang-orang baru, pengalaman-pengalaman baru, semua menyatu dan menumpuk saling menindih. Kalau tak pernah bertemu, maka jangan berharap bisa mengenali raut muka teman-teman lama. Apalagi teman-teman masa SD dulu...

Meskipun demikian, sejatinya saya tak pernah melupakan orang-orang yang pernah mengenal saya. Kepala saya hanya butuh diajak sedikit berdamai untuk merunut waktu. Jadi, kesan "sombong" tidak semena-mena harus disematkan kalau kita "lupa" mengenali orang lain.

Sering kali terulang kejadian, saya tak mengenali teman-teman yang menyapa saya. Beberapa menit berselang, sepeninggal teman itu, saya baru mengingat lamat-lamat siapa orang yang menyapa saya. Agak kikuk rasanya.

Sudahlah. Saya yakin, ada banyak yang berubah dari teman-teman nun jauh disana. Everything has changed. Setiap orang menjalani hidup dengan caranya masing-masing.

But some of them, not change… 
 

--Imam Rahmanto--

Minggu, 14 Desember 2014

Sudahkah Kita Membaca Banyak Buku?

Desember 14, 2014
Alamak, ini sudah penghujung tahun 2014. Menurut Goodreads, target bacaan saya baru mencapai 70 persen, atau 35  dari 50 buku yang hendak saya selesaikan. Masih ada sekitar 15 buku lagi. Lihat, betapa sulitnya sekadar meluangkan waktu untuk membaca buku.

Saya lebih senang membaca buku (cerita) ketimbang membaca diktat kuliah. Maaf. Hal itu sudah berlangsung sejak lama. Namun baru mencapai puncaknya di tahun awal perkuliahan dulu. Apalagi dengan bergabungnya saya di lembaga jurnalistik kampus. Mau tidak mau, sebagaimana tanggung jawab yang diemban, saya harus lebih banyak belajar dari buku. Membaca. Membaca. Dan membaca.

Tugas yang diemban dulu memaksa saya harus lebih banyak belajar. Lebih banyak membaca. Lebih banyak mengamati. Lebih banyak membuka buku-buku jurnalistik. Selain mengasah kepekaan-isu-sosial, tentunya. Di samping saya selalu suka tantangan!

Karena kegandrungan membaca itulah, dan kejemuan menyimak keluhan-keluhan, cacian, curhatan, perasaan-ingin-diperhatikan di ranah facebook hingga twitter, saya mencari tempat jalan-jalan lain. Tempat yang tidak hanya sekadar menjadi “sampah” di dunia maya.

Saya lupa sejak kapan bergabung dengan jejaring sosial Goodreads. Mungkin, setahun yang lalu. Bahkan beberapa hari lalu, saya melihat ada perhelatan akbar di Jakarta oleh Goodreads Indonesia, yakni Festival Pembaca Indonesia, Akh, betapa mupeng-nya saya ingin ikut hadir dalam kegiatan seru itu. Arghh!

Berselancar di jejaring itu benar-benar membawa saya pada bayangan:

tumpukan buku yang berserakan dimana-mana. Rak-rak dengan jejeran buku dari penulis tanah air maupun penulis mancanegara. Orang-orang yang selonjoran membaca buku. Ada pula yang tidur-tiduran. Tulisan-tulisan pada buku banyak ditandai sebagai quote penting. Kotak-kotak trivia yang membahas buku tertentu. Para penulis yang berinteraksi dengan pembacanya. Diskusi-dikusi pembaca mengenai buku yang pantas direkomendasikan.

Semuanya, all about books, beserta ke-keren-an di dalamnya. Meskipun buku-buku di dalamnya tak bisa bebas dibaca, karena hanya sebatas resensi atau review. Namun pada dasarnya, disinilah tempat para pembaca berdiskusi dan berbagi tentang buku-buku yang telah (dan akan) dibaca. Keren!

Lama-lama, saya jadi tersentil melihat orang-orang yang bergabung di jejaring “berbagi-bacaan” ini. Berbagai macam latar-belakang, tua-muda, namun nyatanya mampu menyelesaikan banyak bacaan. Koleksi bukunya juga banyak. Saya tersinggung. Sebagai generasi muda yang masih harus banyak belajar, saya begitu mudahnya membenarkan segala alasan untuk meninggalkan pekerjaan membaca buku.

Dari sanalah target membaca saya bermula. Saya nyinyir pada diri sendiri,

“Sudah berapa buku kah yang saya baca dalam sehari?”

Bukan. Seminggu? Oh, tidak. Sebulan? Hm…atau mungkin setahun? Sungguh memalukan ketika kita hidup dalam dunia akademik dan lingkungannya, sementara dalam setahun kita hanya menamatkan buku yang tidak mencapai jumlah belasan. Kita lebih senang terhipnotis tayangan-tayangan televisi yang cenderung merusak moral generasi muda. Mari berhitung sendiri, ketika kecil (hingga dewasa), ada berapa jam dalam sehari kita bisa menghabiskan waktu di depan layar kaca?

Sumber: myquoteshome.com
Saya mencoba menantang diri sendiri. Jejaring sosial yang keren itu menjadi tempat “belajar” bagi orang-orang yang senang membaca. Termasuk dengan menyediakan “program-tantangan” bagi para pemilik akunnya.

2014 Reading Chalenge. Imam has read 35 books toward his goal of 50 books.”  Saya dan siapa saja bisa mengatur total buku yang hendak dibaca dalam setahun. Terserah, buku apa saja. Setiap buku yang telah dibaca dalam keseharian, akan ditandai pada jejaring sosial tersebut. Serunya lagi, kita bisa menandai sudah sejauh mana halaman buku yang sementara dibaca. Oiya, ada banyak fasilitas-baca di Goodreads. Termasuk menandai judul-judul buku yang ingin-dibaca.

Meskipun saya tak punya banyak koleksi buku, namun saya punya banyak “koleksi” teman. Biasanya, saya meminjam buku dari mereka. Pun kalau kehabisan stock, di kota Anging Mammiri ini masih punya banyak persediaan buku di beberapa perpustakaannya. Tidak hanya itu. Di kota seribu daeng ini juga punya beberapa perpustakaan keren yang diprakarsai oleh orang-orang maupun komunitas kreatif di Makassar. Sebut saja katakerja, Kedai Buku Jenny, Kampung Buku, dan beberapa kafe yang menyediakan buku sebagai alternatif bacaan. I like it! Lapak-lapak baca semacam itulah yang semestinya diperbanyak di kota yang katanya sedang menggiatkan gerakan gemar membaca ini.

Apa kita pernah sadar bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang gemar membaca?

“Anda tidak perlu harus membakar buku untuk memusnahkan budaya suatu bangsa. Hanya dengan membuat mereka berhenti membaca tentang sejarah bangsanya saja.” --RayBradbury

Mungkin 10 buku dalam setahun sudah menjadi rekor paling banyak bagi sebagian orang. Namun, sadarkah kita bahwa kebiasaan membaca di negara-negara maju jauh lebih tinggi? Di Jepang, orang-orang membaca bahkan sambil berdiri.

Menurut Yoshiko Shimbun, sebuah harian nasional Jepang terbitan Tokyo, kebiasaan membaca di Jepang diawali dari sekolah. Para guru mewajibkan siswanya untuk membaca selama 10 menit sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Kebijakan ini telah berlangsung secara behaviouristik, membentuk perilaku kegemaran membaca pada masyarakat Jepang.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Tengok saja pemberitaan yang lebih banyak menohok bahwa bangsa kita ternyata sangat kurang dalam budaya baca! Dan semakin mengesalkan melihat betapa diri sendiri masih tergolong ke dalamnya. Sebagai generasi muda yang masih punya banyak letupan semangat, sudah seyogyanya membangun budaya baca sedari sekarang. Kapan pun. Dimana pun. Apa pun.

Nah, sekarang, berapa buku kah yang telah kamu baca tahun ini?

***

Baru-baru ini saya mendapatkan voucher belanja Gramedia senilai 200ribu. Yah, dihadiahkan oleh komunitas Blogger Anging Mammiri karena berhasil menyabet nominasi dalam lomba yang digelar bertepatan dengan hari Blogger Nasional lalu, 27 Oktober. Terima kasih. Lihat postingan disini.

“Tiket” belanja itu kemudian saya pakai untuk membeli buku keesokan harinya. Betapa menggembirakan bisa berbelanja buku lagi. Sebenarnya saya sangat ingin membeli buku “30 Paspor di Kelas Sang Profesor”. Buku yang terinspirasi dari kelas Profesor Rhenald Kasali, Guru besar Universitas Indonesia (UI). Dari beberapa referensi yang saya baca, cara mengajarnya betul-betul nyentrik. Bukunya ada 2 jilid. Coba googling  saja untuk melihat review-nya.

Sayang beribu sayang, stock-nya keburu habis. Sebagai “pelarian”, saya membeli saja buku yang telah lama saya endus keberadaannya. Malangnya lagi, stock untuk seri pertamanya juga sudah habis. Jadilah saya dan seorang teman berkeliling tak tentu arah di rak-rak buku lainnya. (*)

Dua buku sebelah kiri, gratisan. Satunya lagi, pinjaman. Sebenarnya ada 3 buku gratisan lainnya yang saya dapatkan dari voucher. Namun, satunya saya hadiahkan buat teman yang juga sudah mulai menunjukkan keinginan membaca.
(Foto: ImamR)


--Imam Rahmanto--

P.s: Tulisan ini diposting ulang (dengan editing seperlunya) di WebZine Revius.

Rabu, 10 Desember 2014

Sibuk Cari Hidup

Desember 10, 2014
Saya sedang merindu. Kerinduan yang menyeruak beberapa minggu terakhir. Kerinduan bersibuk-sibuk ria. Aneh.

Di luar sana, hujan tengah memandikan jalan. Kota Makassar memang sedang ramai-ramainya diguyur hujan mengawali bulan Desember kemarin, hingga kini. Pertanda bagus. Loh, hujan adalah rahmat Tuhan, kan? Diprediksi, menurut pakar cuaca, musim penghujan akan mengalami puncaknya hingga januari mendatang. Semoga kita tak dicekoki hp (harapan palsu).

Karena hujan, saya tak bisa ke mana-mana. Hanya berdiam diri di kamar. Hanya bisa memelototi layar gawai yang menampilkan sejumlah nama. Sesekali terkikik. Di kali lainnya, mengetik terburu-buru. Tak ada kerjaan. Mungkin, hal semacam ini yang disebut "terperangkap" dunia maya.

Padahal, semasa kecil dulu, betapa menyenangkannya keluar rumah di kala hujan. Bahkan di masa kanak-kanak, kita rela berhujan-hujanan demi bisa bermain bola sepak dengan teman-teman. Tak peduli lumpur di sekujur tubuh. Apalagi cuma guyuran air hujan. Segalanya terasa menyenangkan dan NYATA.

Akhir-akhir ini saya sedang mencari kesibukan baru. Saya harus menyelingi kegiatan mengerjakan tugas akhir kuliah saya. Kalau tidak, saya bisa gila! Apa pun. Selepas saya demisioner dari kepengurusan organisasi kampus, tak ada lagi kesibukan yang cukup untuk dilakoni. Kalau dulu, saya selalu sibuk (sok) saban hari.

Di kala ada kegiatan yang dihelat komunitas tertentu di Makassar, saya jalan-jalan sembari nimbrung di sana. Di saat ada pekerjaan freelance yang ditawarkan seorang teman, saya menyanggupinya. Di kala teman mengajak hang-out, saya ikut-ikutan. Asalkan saya tidak perlu mengeluarkan banyak duit. Bisa jadi, sebentuk tulisan ini pun hanya salah satu cara untuk menghidupkan kesibukan.

Saya rindu berpetualang. Mengunjungi banyak tempat. Mengenal orang-orang baru. Mempelajari hal-hal baru. Menuliskan pengelaman-pengalaman itu, sekadar menjadi bahan cerita untuk orang lain. Paling tidak, untuk anak-cucu saya kelak. Pokoknya, keep moving forward.

Tengoklah seorang daydreamer yang bernama Walter Mitty. Seorang Manajer Aset Foto di penerbitan Majalah LIFE. Saban hari, di tengah-tengah rutinitasnya yang monoton, ia suka melamun. Parahnya, ia bisa melamun kapan saja dan dimana saja, bahkan ketika sedang berbicara dengan orang lain. Sementara ia sudah lama bekerja di majalah yang menjadi impian banyak orang dengan penghasilan yang cukup menjanjikan.

Suatu waktu, karena keisengan fotografer Sean O’Connell, ia “dipaksa” melenggang ke dunia luar. Negatif film ke-25 yang harus dicetak sebagai sampul LIFE di edisi terakhirnya (sebelum beralih ke online) terpisah dari roll-nya. Fotografer hanya mengirimkan foto-fotonya selama ini lewat pos. Untuk menghubungi atau menemuinya, tak ada alamat yang jelas. Berbekal petunjuk foto yang ada, dimulailah petualangan Walter Mitty menyelami hidup, melintas negara dan benua, demi menemukan sang fotografer.

“To see the world, thing dangerous to come to, to see behind walls, to draw closer, to find each other and to feel. That is purpose of LIFE.”

Saya paling suka dengan motto perusahaan LIFE. Benar-benar menyarankan hidup sejatinya. “Untuk menyaksikan dunia, hal-hal berbahaya yang berdatangan, untuk melihat yang ada di balik dinding, menariknya lebih dekat, dan merasakannya. Itulah tujuan hidup.”

Sumber: googling
Esensi hidup yang sebenarnya telah banyak dilupakan. Sebagian besar dari diri kita cenderung lebih suka dalam comfort zone-nya. Kita tak pernah menyadari ada yang lebih “hidup” di luar garis kenyamanan itu.

Di kehidupan kita yang serba canggih, ada terlalu banyak teknologi instan yang membuat kita enggan beranjak dari duduk. Kebutuhan akan informasi, permainan, perjalanan, pengalaman, teman, dan semacamnya bisa dimainkan dengan ujung sentuhan jari. Ada perasaan nyaman “semu” yang mulai terdoktrin perlahan-lahan.

Kita seolah lebih senang berdiam diri. Menikmati semuanya tanpa gerakan. Sama paradoksnya penjulukan “smartphone” – ponsel pintar, yang justru membuat penggunanya semakin kehilangan cara berpikir. Perhatikan pula orang-orang di kafe atau tempat umum lainnya, yang sibuk tak acuh memainkan gadget ketimbang berinteraksi dengan teman-teman di hadapannya. Segala hal yang ditawarkan untuk mempermudah hidup, justru lambat-laun menghilangkan esensi kehidupan itu sendiri.

…to find each other and to feel”

Baru-baru ini saya membaca tentang pegawai staf Google yang justru menyekolahkan anaknya di sekolah yang tidak menyediakan komputer dan teknologi-teknologi canggih lainnya. Ia berkata,

“Komputer itu sangat mudah. Kami di Google sengaja membuat perangkat yang ibaratnya bisa digunakan tanpa harus berpikir. Anak-anak toh tetap bisa mempelajari komputer sendiri jika usia mereka sudah dewasa.” 

Bukankah ini menakjubkan? Ia seorang ahli teknologi, tak benar-benar mengagumi teknologi seutuhnya. Ia tahu betapa lebih “hidup”nya kehidupan sebelum penjajahan teknologi.

Nah, kembali ke film The Secret Life Of Walter Mitty. Sekali waktu, tontonlah film keren ini! Seorang pengkhayal akut yang mencoba keluar dari garis nyamannya, dan merasai kehidupan sebenarnya.

Walter Mitty yang salah memahami perintah melompat dari pilot helikopter. (Sumber: screenshot)
Pengalaman nyaris tenggelam di samudera karena melompat dari helikopter, bersepeda sendirian di Islandia, meluncur di perbukitan Islandia, hingga mendaki wilayah Himalaya justru menjadi pengisi kekosongan dalam hidupnya. Usai menyelami pengalaman-pengalaman menegangkan, ia tidak pernah lagi melamun. Kesibukan bertualang yang dilakoninya menutup segala kebiasaan mengkhayal akutnya. Ia akhirnya benar-benar “hidup”.

Akh, petualangannya itu membuat saya mupeng (muka pengen), hendak melenggang merasai dunia. Meskipun sebenarnya di nusantara, banyak pula tempat-tempat yang cukup eksotis untuk dikunjungi. Mungkin, ala-ala backpacker. Selagi masih muda, perkaya diri dengan pengalaman-pengalaman menarik. Sebaiknya, ada banyak hal dari hidup yang bisa diceritakan untuk anak-cucu kita kelak. Duh, sial, saya masih punya skripsi yang harus diselesaikan di penghujung tahun ini…


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 06 Desember 2014

Sekali Waktu, Cobalah!

Desember 06, 2014
Di luar sedang hujan, entah yang ke berapa mengawali Desember. Angin menyertainya. Ke kiri, ke kanan. Deras, melemah. Dari dalam rumah, irama hujan yang bersahut-sahutan dengan desau angin terdengar berirama. Ini seperti suara nyanyian hujan di tengah badai. Bolehlah hujan kali ini disebut badai. Saya tak peduli. Asalkan hujan masih bisa mengenai tubuh dan membasuh ingatan saya.

Kemarin pagi, saya menemukan empat-lima orang anak bermain bola di tengah jalan kompleks perumahan kost. Mereka menendang-nendang bola di bawah rintik hujan. Saya lewat  saja di celah-celah mereka yang berhenti sebentar karena melihat kendaraan saya hendak melintas. Setelahnya, permainan mereka berlanjut. Hujan-hujanan.

Terkadang, saya suka memainkan rinai-rinai hujan. Bepergian ke luar rumah di tengah guyurannya. Tak membutuhkan payung. Zaman kini, payung agak ketinggalan masa, meski tak ketinggalan nuansa romansanya. 

Tik…tik…tik…bunyi hujan 

Saya menyengaja banyak hal agar bisa “mandi” gerimis. Berjalan-jalan sebentar ke warung pinggir jalan, demi membeli se-sachet cappuccino. Bagaimana pun, saya suka menikmati hangatnya cappuccino di sela memainkan gitar atau membaca buku di depan beranda. Berjalan ke luar, menyingkirkan perasaan ingin meringkuk di dalam kamar. Menyingkap lengan dan kepala hoody sweater. Kala berkendara, menyengaja tak memakai helm. Memelankan laju kendaraan. Memilih jalan paling panjang sampai di rumah kost.

Dramatis, bukan? Memang. Saya agak bosan selalu berada di perputaran orang dewasa, yang tak bebas melakukan apa saja. Menjadi orang dewasa, ada batas-batas tak kasat mata yang mesti dipatuhi. Tak baik ini-lah. Tak baik itu-lah. Sekadar menembus hujan saja, terlalu banyak menyela pikiran. Sekali waktu, cobalah berhujan-hujanan, melepaskan keriangan jiwa masa kanak-kanak.

“Sok dramatis begitu, baru tahu rasa nanti kalau demam gara-gara hujan,” seorang teman selalu memperingatkan.

Pada dasarnya saya memang keras kepala. Lagipula, tidak setiap hari kan saya bisa menikmati hujan begini. Hm..iya sih, kalau hujannya sudah melaju deras, siapa pula yang mau berhujan-hujanan. Di samping itu, ketahanan tubuh saya okelah. Nyombong-dikit-boleh. Soal sakit dan perihalnya, biarkan Tuhan yang mengkalkulasi. Hujan tak selalu membuat badan sakit. Justru, orang-orang yang menumbuhkan kenangan lewat hujan yang terbiasa menyakiti batinnya.

Tak baik menggerutu di kala hujan. Bukankah sejak kecil kita diajarkan untuk tak takut dengan hujan? Hujan adalah rahmat. Ingat puisi “Hujan”, yang tersemat di buku pelajaran sekolah dasar dulu.

Walau hujan, aku tetap pergi ke sekolah                                                                  
Walau hujan, ibu tetap pergi pasar
                                                                  
Walau hujan, ayah tetap pergi ke sawah
                                                                  
Karena hujan adalah rahmat Tuhan
                                                                  
Betapa hujan tak menjadi halangan untuk melakukan aktivitas                                           

Di waktu kanak-kanak dulu, saya dan teman-teman justru senang bukan kepalang kalau hujan datang. Kami senang bermain di tengah hujan. Menyepak bola. Menyipratkan lumpur. Berlari dan berkejaran. Kesamaan pada diri kami semua hanya satu: tertawa dan menikmatinya.

Kalau sudah kepayahan, kami pulang ke rumah masing-masing, menembus hujan. Di rumah, ibuk, kerap kali merengut melihat anaknya hujan-hujanan. Wajahnya kesal bukan main. Tangannya seolah-olah bergurau hendak memukul. Tentu, ia tak benar-benar melakukannya. Ibuk hanya cemas anaknya bakal sakit. Di masa kanak-kanak, kondisi tubuh memang masih harus berjibaku dengan kesehatan yang labil.

Akan tetapi, hujan tak pernah jadi musuh bagi kami. Kala ibuk menyuruh mandi, saya justru berhujan-hujanan, lagi. Maklum, di dalam rumah, kami tak punya kamar mandi. Di belakang rumah hanya ada dua kolam dengan dua drum bekas tempat menampung air keperluan sehari-hari. Di sebelahnya ada kamar kecil tertutup, bukan untuk mandi. Jadi, kalau hendak mandi, saya akan setengah telanjang di belakang rumah menghadap kolam-kolam yang berisi air itu. Itu dulu, sebelum kami sekeluarga pindah rumah, tak jauh dari sana. 

Saya suka mandi di tengah siraman hujan. Seolah itu shower dari langit. Masa kecil dulu, mana pernah saya merasakan mandi pakai shower? Saya hanya bisa mengidamkannya. Sebagaimana wujudnya di televisi yang selama ini mendoktrin pemikiran kami, anak-anak kampung.

Hingga jauh masa ini, saya masih mendapati teknologi instan berkuasa. Tak ada lagi kesenangan masa kecil seperti itu. Anak-anak yang dipelihara era teknologi tak ubahnya orang-orang apatis. Mereka tak lagi mengenal kebahagiaan lahiriah. Kebahagiaan mereka cenderung disetir teknologi instan. Mana ada anak-anak “modern” yang rela berhujan-hujanan di luar ketika mereka bisa duduk kalem menghabiskan waktu dengan Facebook,Ttwitter, Path, Instagram di dalam rumah?

Hujan turun. Anak-anak (hingga orang dewasa) semakin tenang mendekam di posisi teduhnya. Mata mereka tak lepas dari jejaring sosial, game-game di gawai (gadget), dan apa pun yang bisa digerakkannya tanpa beranjak. Akh, semua update status di jejaring sosial juga bakal nyaris seragam ketika hujan turun. 

Oleh karenanya, ini bukan tentang memaksa kalian berhujan-hujanan di luar. Apatah lagi, hujan yang membasahi pakaian. Menghadang segala laku aktivitas yang padat merayap. Menyirami jalan-jalan kota, hingga menenggelamkannya. Menggusur para pedagang jajanan es dan minuman dingin.

Ini hanya tentang menggenapi rasa takut akan hujan. Sekali waktu, cobalah riang menantang hujan.

Tik, tik, tik, bunyi hujan di atas langit.

Airnya turun, syahdu sekali

Cobalah tengok, hujan-hujanan

Hujannya turun gak bikin sakit*

*Lagu kanak-kanak dengan sedikit pengubahan lirik. Bernyanyilah. Saya siap mengiringinya.

***

Di luar masih hujan.

Kalau musim hujan begini, apa kabar ya dengan Bukit Manggarupi? Kata teman saya, yang suka menyendiri, tanahnya yang dahulu gersang akan lembab dan berubah keren. Dahan dan ranting basah semua. Sekali waktu di musim penghujan ini, mari mengunjunginya.


--Imam Rahmanto--

Selasa, 02 Desember 2014

Mengenal Sepenggal Pram

Desember 02, 2014
Ini bukan resensi buku, meski sedikit mengulasnya. Hanya seutas benang perkenalan pada seorang  penulis yang mengukirkan namanya di dinding  sejarah kesusastraan Indonesia…

Siapa tak kenal Pramoedya Ananta Toer? Seorang penulis yang suaranya tak mampu dilibas oleh zaman. Tulisannya diabadikan dalam berbagai terjemahan internasional. Berbagai karyanya dibaca dan dikaji hingga kelas-kelas sastra perkuliahan. Bukti nyata ia berhasil memperpanjang umurnya dengan tulisan-tulisannya. Bukti nyata bahwa suaranya tak bisa dipenjara.

Pramoedya Ananta Toer di masa tuanya. Ia tutup usia pada umur ke-81. (Sumber: googling
Saya mengenalnya - sepenggal - , baru belakangan ini. Meskipun namanya sudah lama bergaung di kepala saya. Pernah suatu kali saya membaca novel karyanya Di Tepi Kali Bekasi. Namun berakhir dengan ketidakpuasan saya, lantaran bahasanya yang sudah dianggap kaku untuk ukuran literatur dewasa ini. Selain itu, isinya juga yang sudah kepalang ketinggalan; tentang masa perjuangan. Karena saya termasuk anak muda yang dibesarkan era teknologi hingga tidak mengenal pentingnya perjuangan kemerdekaan Indonesia, maka saya tidak lagi tertarik mencari tahu tulisan-tulisan Pram. Saya agak traumatik dengan gaya bahasa “tempoe doeloe”. Untuk menerjemahkannya, otak butuh berpikir ekstra keras.

Bukan suatu kebetulan saya akhirnya harus berkenalan kembali dengan “Mbah” Pram lewat buku Anak Semua Bangsa-nya. Ini pun hasil “menodong” seorang teman. Biasalah, saya seorang books-addict (pecandu buku), tapi koleksi buku saya masih minim. Ada yang berniat “menyumbangkan” koleksi bukunya?

“Tidak lengkap rasanya kalau langsung membaca buku ini. Pasalnya, Anak Semua Bangsa adalah buku kedua dari Tetralogi Bumi Manusia yang ditulis Pramoedya di masa pengasingannya di Pulau Buru dulu,” ujar teman saya yang meminjamkannya.

Ya sudahlah. Saya tetap menamatkannya, yang pada akhirnya membuka cakrawala kepenasaran saya tentang peraih banyak penghargaan ini. Lewat bukunya itu, saya dituntut mengenal lebih jauh karya-karya nominator peraih penghargaan nobel kesusastraan ini.

Buku Anak Semua Bangsa, mengajarkan pada pembacanya tentang sejarah Indonesia dari sisi berbeda. Ada pergolakan konflik antara pribumi dan penjajah. Kisahnya tidak banyak bercerita tentang peperangan fisik maupun senjata. Pram justru menceritakan peperangan tokoh utamanya melawan penindasan dan kebodohan lewat tulisan-tulisannya dan pencarian jati dirinya tentang ke-Indonesiaan. Ada konflik-konflik pemikiran yang cenderung dipaparkan pada beberapa tokohnya.

Akh, gegara membacanya, saya jadi sedikit-sedikit tahu bagaimana sejarah kebangsaan di masa kemerdekaan dulu. Bagaimana cara memandang hidup seorang pribumi. Apa itu revolusi yang selama ini diagung-angungkan oleh penggiat Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) ini. Dan lagi, tingkat curiosity saya pada tulisan-tulisan Pram yang lainnya bertambah. Apalagi dengan gaya bahasanya yang sangat intelektual, menurut saya.

Berlanjut, saya dipertemukan (lagi) dengan buku (tentang) Pram lainnya. The Wisdom Of Pramoedya Ananta Toer, karya Tofik Pram. Ini juga hasil minjam. Meskipun penulisnya bukan Pram sendiri, namun isinya merupakan kumpulan tulisan Pramoedya Ananta Toer yang pernah diterbitkan, baik dalam bentuk artikel maupun pidato-pidato. Lagipula, buku ini terbit setelah pejuang revolusi ini tumbang dimakan usia.

Nah, di buku yang satu ini saya merasa baru mengenal (sepenggal) seorang Pram, melalui esai-esai dan pidatonya. Ia seorang penulis yang lebih cenderung ke ranah realisme-sosial. Semua karyanya selalu memiliki tujuan dan falsafah hidup untuk kepentingan kebenaran, khususnya demi melawan penindasan di masanya. Ia hidup di masa perjuangan dan dikungkung di masa kemerdekaan. Wajar ketika membaca tulisan Pram, rezim Orba kalang kabut hendak menyingkirkan Pram. Ia diasingkan di Pulau Buru. Di masa pengasingannya itu, ada banyak pula karyanya yang ikut dimusnahkan. Namun sebagai penulis, suaranya takkan pernah padam, hingga akhirnya ia melahirkan Tetralogi Pulau Buru.

Ia juga tidak segan berurusan dengan sesama sastrawan lainnya. Jika ada sastrawan yang dianggap melenceng dari kesusastraan yang dipahaminya, maka ia tanpa tedeng aling-aling melayangkan kritik di setiap tulisannya. Dalam beberapa tulisan itu, ia tanpa ragu menyebutkan nama.

Di awal membaca setiap tulisan Pram, kita akan dihadapkan pada semacam “pelajaran” sejarah. Mungkin, kita perlu menyiapkan diri menghalau rasa bosan membaca tulisan-tulisan non-fiktif itu.  Akan tetapi, jika membaca lebih banyak karyanya, kita justru akan semakin dipahamkan tentang sejarah tanpa perlu digurui. Malahan, saya menemukan bahwa ada pelajaran sejarah yang sengaja dijejalkan melenceng di masa SD dulu. 

Selain itu, saya lebih banyak belajar tentang kesusastraan dari penulis yang pernah meraih Raymond Magsaysay Award. Meskipun bukan mahasiswa jurusan Sastra, ada banyak terkait sastra yang bisa dipetik melalui “obrolan” dengan Pram itu. Paling tidak, sebagai orang yang gandrung dunia tulis-menulis, saya jadi aufklarung (tercerahkan, kiasan yang sering dipakai Pram).

Benar kata Daniel Mahendra di sampul depan buku The Wisdom Of Pramoedya Ananta Toer bahwa:

“Membaca (karya) Pramoedya sama halnya membaca sejarah berdirinya sebuah bangunan bernama Indonesia. Karya-karyanya tidak berlagak genit dengan mencoba memberikan segerobak solusi dari setiap persoalan yang ada di negeri ini. Tetapi, lebih dari ittu: sebagai cara pandang kita dalam melihat Indonesia dari kacamata yang paling jujur.”

Pram memang seorang pemberani dengan kasryanya. Satu-satunya yang ia tahu hanya menulis. Namun, tak satu pun kegelisahan yang ia luput tanpa menuliskannya. Sederhananya, ketika ia melihat sesuatu yang “hitam”, maka ia akan katakan “hitam” dengan tegas dan jelas. Kalau “putih”, ya “putih”. Tak peduli orang-orang di sekitarnya akan tersinggung dan menghujatnya. Terbukti, banyak pertentangan yang ditimbulkannya dalam dunia kesusastraan terhadap sastrawan yang kita kenal karyanya hingga dewasa ini.

Bagaimana pun, saya selalu percaya, tulisan tetap menjadi cerminan seorang penulisnya. Kalau ingin menilai penulis, maka bacalah tulisannya. Dan Pramoedya Ananta Toer benar-benar mencurahkan segala mimik, gestur, tindakan, sikap, dan perilakunya dalam ratusan paragraf tulisannya. Ia tahu caranya berjuang untuk melawan lupa.

“Jika umurmu tak sepanjang umur dunia, sambunglah dengan tulisan,” –Pramoedya Ananta Toer

Untuk siapa saja yang ingin mengenal sastra Indonesia, ada baiknya membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Buku apa saja, terserah. Pun dengan saya, yang masih meraba-raba mengenal “sepenggal” Pram.

Oke, saya sedang mencari buku Pram lainnya… 


--Imam Rahmanto--

P.s: Tulisan ini diposting ulang (dengan editing seperlunya) di website Revius.