Senin, 10 November 2014

Tentang Hujan Pertama di Kota Kami

Tik tik tik... 

Bunyi hujan di atas genteng...

Beberapa menit telah berlalu semenjak hujan pertama melancong ke bumi. Ini hujan pertama di kota kami. Kata pengamat, hujan ini akan berlangsung hingga bulan April 2015. Hujan, yang seharusnya juga baru dimulai akhir bulan ini. Hujan, yang katanya lagi, telat dari waktu yang sewajarnya. Ada kemarau yang terlampau lama menyela hujan kali ini. Kemarau yang menyumbangkan banyak umpatan tiada berguna.

Antara derai hujan sore itu, kami berteduh di beranda. Seperti orang-orang yang menunggu senja, kami menanti hujan reda. Akh, tidak, tidak. Tidak lah kami menunggu. Tepatnya, kami menikmati bercumbu dengan hujan. Tak ada salahnya menyapa hujan yang baru pertama menghadiri undangan yang dipanjatkan para manusia berpeluh debu. Lantas semilir petrichor menjadi bau-bauan yang selalu dirindukan para penikmat hujan, seperti saya.

Tapi, maaf, saya bukan orang-orang yang senang mengaitkan hujan dengan kerinduan. Hujan yang sendu tak pernah sengaja memayungi kerinduan berlebih. Hanya orang-orang dramatis saja yang punya skenario menyangkutpautkan hujan dengan iklimitisasi kerinduan. Wajar, ada banyak orang di luar sana yang terjebak dalam genangan masa lalunya. #jangan memandangi saya 

Airnya turun tiada terkira...

Dahan dan ranting pohon di depan beranda kuyup disirami hujan. Tempiasnya menebar kemana-mana. Kertas-kertas surat kabar yang tercecer di kursi jadi basah semua. Sebagiannya lagi memang dipakai untuk melindungi diri dari hujan yang semakin menderas. Hujan pertama, betapa hujan yang berderai. Disambangi cahaya kilat yang saling menyalak dari kejauhan.

“Hei, laptopku...” Saya mengambil koran bekas yang terserak basah sebagian. Menutupkannya pada laptop. Agak menggeser posisi ransel di sebelahnya.

“Saya ingin berhujan-hujanan,” gumam saya dalam hati. Ini kesempatan.

Sudah lama saya menginginkan hujan seperti ini. Langit yang menggelap semenjak petang, membawa kabar-kabar hujan. Apalagi dengan gelegar petir yang memekakkan telinga. Pertanda yang memperkuat hujan akan menyapa pertama kalinya.

Saya dan keempat orang lainnya masih berlindung dari hujan. Sungkan beranjak. Bercengkerama memperbincangkan segala hal. Menertawai banyak hal. Sesekali mengikutkan ekor mata pada hujan yang tak kunjung mereda dalam beberapa menit ke depan.

“Kapan kira-kira hujan ini akan berhenti?” tanya seorang teman.

“Mungkin, sebelum Isya sudah mereda,” jawab saya ngasal. Hujan pembuka biasanya tidak berlangsung begitu lama. Ada banyak awan yang terpencar untuk dikondensasi menjadi uap-uap air. Berikutnya, mungkin hujan akan mengusung awan yang lebih pekat. Kalau bisa, lebih menyeramkan dan menggelapkan.

Cobalah tengok dahan ranting

Dan ketika azan maghrib berkumandang, saya berjalan sendirian ke warung di tepi jalan raya. Sengaja berhujan-hujanan. Ada hangat yang ingin diuapkan lewat segelas (sachet) cappuccino.

Beberapa orang yang menggilai hujan, hanya peduli pada hawa dinginnya. Menikmati sebatas tirai-tirai air untuk mengimbangi suhu panas bumi. Sementara mereka enggan, sekadar bermandikan tempiasnya. Enggan mencintai hujan dengan mengenyahkan payungnya. “Siapa pula yang mau berbasah-basahan? Seperti anak kecil,” Bukankah ketika orang terlalu lama dewasa, ia terlalu sungkan merindukan masa kecilnya? Akh, rindu lagi. Rindu lagi. Saya tak ingin mendekap rindu yang kata orang selalu diprakarasi hujan.

"Kapan-kapan tibalah lebih pagi. Bangunkan aku. Ciumi wajahku. Telusuri rambutku. Kutunjukkan bagaimana cara mencintaimu."


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar