Selasa, 18 November 2014

25# Lega!

Tentang hujan kedua, saya merasainya di sela-sela luapan seremonial selaku mahasiswa tingkat akhir. Sebagaimana riuhnya atap dijatuhi bulir-bulir air dari langit. Sejenak, orang-orang mengalihkan fokusnya, sekadar menegaskan bahwa hujan benar-benar turun, untuk kedua kalinya di kota yang meradang ini.

“Ya, hujan pun tiba di seremonial kecil itu, menegaskan diri sebagai teman.”

***

Saya kini cukup berlega hati lantaran telah melalui tahap pertama menyelesaikan studi di kampus; seminar proposal. Pun, seminar proposal dikategorikan sebagai salah satu mata kuliah di jurusan saya yang menghimpun 2 satuan kredit semester (sks). Namanya Tugas Akhir I (TA I). 

Bagi sebagian besar mahasiswa, menjalani seminar proposal adalah hal yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang cukup istimewa. Tidak bagi saya, yang tercatat sudah lama menunda-nundanya. Akh, tahap itu, saya menganggapnya sebagai suatu loncatan yang cukup menyenangkan sekaligus membahagiakan. Saya menghargainya, teruntuk diri sendiri. Saya hanya selalu berusaha memberikan penghargaan atas usaha apapun yang telah dilakukan, baik orang lain maupun diri saya sendiri.

Wajar saja ketika jadwal ujian seminar telah ditetapkan, betapa hebohnya saya menyampaikannya kepada teman-teman lainnya. Tak lepas saya menginformasikan jadwal ujian kepada siapa saja yang saya temui. Layaknya orang yang hendak menikah, undangan disebar kemana-mana. Huahaha…

Untuk ujian seminar yang telah berlangsung hari itu, saya ingin mengucap terima kasih kepada siapa saja yang menyempatkan diri duduk seruangan memperhatikan saya mengoceh kepada para penguji. Saya justru lebih menghargai teman-teman yang hadir demi menghabiskan konsumsi di dalam ruangan ketimbang mahasiswa-mahasiswa yang hendak memenuhi kartu kontrolnya. Dan kenyataannya, mereka yang hadir tidak lebih dari 20 orang di ruangan saat itu, merupakan teman-teman yang secara sukarela hadir mendampingi ujian singkat saya itu. Yeah, saya membanggakan kalian! 

Hihihi...keren banget presentasinya. #ehh (Foto: Dhiny)
Saya mencatat yang hadir diantaranya, adalah teman-teman sejurusan, seangkatan, yang kini juga tengah menyelesaikan skripsi seperti saya. Yang telah sarjana juga ada. Ada teman-teman sejurusan yang selalu berbagi pengalaman skripsinya dengan saya. Ada beberapa orang teman dari jurusan lain. Ada teman-teman yang merupakan rekan kerja di lembaga pers. Bahkan ada dosen yang selang beberapa menit kemudian ikut nimbrung di dalam ruang ujian dan memberikan pertanyaannya kepada saya. Hm…dosen itu pernah menjadi pembimbing di masa KKN saya, dulu.

Kepada mereka, saya ingin berterima kasih. Hadir dan berjibaku mata, sungguh memberikan daya tiada terkira dalam ruangan sempit itu. Bagaimanapun, banyak semangat yang saya peroleh dari sana, dari teman-teman itu. Sekadar mengangguk-angguk atas pendapat saya. Atau sekadar bertanya dan menanggapi apa yang tersampaikan dalam presentasi singkat.

Masa-masa sulit itu bisa terlalui dengan cukup baik. Bagaimana saya harus dibangunkan pagi-pagi oleh seorang teman. Dipaksa menyiapkan segalanya lebih awal ketimbang hari-hari biasanya. Teman saya yang mengurusi konsumsi itu juga sempat ditilang polisi lalu lintas. Menyisakan perasaan deg-degan bagi saya yang menanti-nanti kehadiran dosen penguji dan pembimbing di kampus. Saya mendapati pula teman-teman lain yang telah lebih dulu hadir di jurusan ketimbang saya yang empunya acara.

Saya juga harus bertaruh dengan keadaan, dimana kampus baru saja mengalami dukanya yang begitu mendalam. Insting UNM. Puluhan polisi, sehari sebelumnya, baru saja menyerang kampus kami dengan brutal, merusak segala fasilitas kampus, fasilitas mahasiswa, motor, kendaraan, hingga mengusir dan bertindak kekerasan kepada warga kampus, gegara demonstrasi penolakan kenaiikan BBM oleh mahasiswa di kampus kami. Yang paling bikin kesal dan geram adalah tindakan mereka melukai beberapa wartawan media yang hendak meliput penyerangan itu. Damn! 

Kampus di Pettarani harus diliburkan selama beberapa hari. Berbeda, di kampus saya yang terpisah dengan kampus pusat, perkuliahan masih terus berlangsung. Alhasil, ujian saya masih bisa tetap berlanjut.

Ketika penguji memberikan penutupnya, menyampaikan sedikit hal yang butuh perbaikan dalam proposal yang saya ajukan, senyum lebar mengembang di wajah. “Ternyata selesai juga,” saya membatin. Senyum itu menular kepada teman-teman lainnya sembari berucap selamat. Kalau kita mau, ternyata selalu ada jalan, kan?

"Nah, selanjutnya kita akan bertemu untuk perbaikanmu ya?" ujar pembimbing saya. Ia tersenyum memberikan selamat sesaat meninggalkan ruangan seminar. Saya mengangguk.

Terima kasih. Selanjutnya, giliran kalian! (Foto: Dhiny)

***

Saya sedang berbahagia, namun bingung bagaimana membahasakannya. Karena sekadar terima kasih mungkin tak sepadan. Cukup lama saya harus menyiapkan diri menuliskan ini. Selain karena laptop kesayangan sedang bermasalah, saya sedang ingin bersantai dengan perasaan-perassan lega ini, sejenak waktu. Dan tulisan ini hanya sebagian kecil menggambarkan kebahagiaan saya. Anggap saja saya sedang tersenyum-senyum sendiri sepanjang waktu.


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar