Sabtu, 29 November 2014

26# Beranjak dari Rehat

November 29, 2014
Usai melangsungkan ujian seminar proposal, ada jeda yang berlangsung dalam proses studi akhir. Pikiran dan perasaan menyatu mendorong kata: rehat. Saya jadi terlalu pongah hanya gara-gara baru menyelesaikan tahap pertama itu. Sementara abai terhadap tahap berikutnya, yang katanya, jauh lebih sulit dan kerap membuat ingin “berhenti” cukup lama.

Ck…saya harus mencerabut lagi kebiasaan lama saya yang mulai tumbuh perlahan: menunda-nunda.

Masa-masa rehat saya juga didukung dengan “kebetulan” luar biasa. Mengingat kota kami sedang berada dalam taraf ricuh luar biasa akibat kenaikan harga BBM. Demonstrasi terjadi dimana-mana. Mahasiswa bergerak demi rakyat, katanya. Tak pelak, saking seringnya berakhir onar, maka pengamanan besar-besaran dikerahkan. Polisi dan TNI. Begitulah rupa kota kami, yang mendapat julukan kota demontrasi, pelopor gerakan-gerakan mahasiswa.

Hampir semua kampus diliburkan dalam rentang dua minggu belakangan, tak terkecuali kampus saya. Karena libur, saya makin terlena tak melakukan apa-apa. Bagaimana tidak, kampus begitu ketat ditutup untuk kehidupan-kehidupan sebagaimana biasanya. Pagar dan aparat berdampingan. Setiap mahasiswa yang hendak melintas masuk, harus berakhir dengan tanya ini-itu. Apa pula?

Tak perlu saya ceritakan bagaimana kronologis aksi-aksi demonstrasi yang senantiasa merentang di kota kami. Silakan ketikkan saja kata kunci kota kami di kolom pencarian dunia maya, maka banyak ditemukan referensi dari media-media lokal hingga nasional. Pagi ini, bahkan, media massa lokal menerbitkan hadline tentang kerusuhan (demonstrasi) di kampus swasta kota kami. Benar-benar rusuh. Parahnya, untuk kedua kalinya, setelah kampus kami, aparat main nyelonong saja masuk ke kampus sana. Menyisir. Membekap. Memukuli. Duh, ini bukan lagi aparat, tapi keparat! Bayangkan saja, masjid pun dilempari gas air mata!

Aduh, saya terbawa emosi. Saya tak bermaksud membahas kerusuhan di kota kami. Tapi, khusus di kampus saya, aktivitas perkuliahan telah dimulai kembali hari ini.

Dua hari yang lalu, berturut-turut, kampus kami menghelat seremonial penamatan mahasiswa. Entah mengapa, kepala saya kok suka berdenyut-denyut ya melihat teman-teman lain di-wi-su-da? Ini hanya majas metafora saja sih. Meskipun pada kenyataannya, saya benar-benar diburu waktu agar bisa menyelesaikan studi tepat waktu. Ada banyak hal yang ingin saya capai setamat kuliah ini. Harus!

Perihal tenggat pribadi, saya sendiri merumuskannya di akhir tahun nanti. Jadi, di bulan Desember mendatang, saya telah memperoleh gelar “di atas kertas” yang diidam-idamkan banyak orang itu. Tak peduli jika saya mesti menantikan seremoni penamatannya (baca: wisuda) di bulan tiga atau empat mendatang. Di sela-sela saya menunggu itu, saya akan mempunyai pekerjaan selayaknya. Hingga kelak melalui seremoni penamatan itu, saya tak punya waktu sekadar menyematkan diri pada kata “pengangguran”.

“Seperti halnya pindah rumah. Sebelum memindahkan barang dan perabotan, terlebih dahulu kita harus menemukan rumah baru. Kalau sudah dapat, barulah barangnya dipindahkan semua. Kalau belum dapat,, ya disimpan saja dulu di rumah, sembari mencari-cari rumah yang dianggap tepat.” 


Saya (memaksa) yakin pada diri sendiri. Segala target yang ditetapkan harus ditepatkan. Kalaupun tak, setidaknya saya telah meniatkan berbuat baik dengan rencana-rencana itu. Sebagaimana prinsip, apa yang telah saya mulai harus saya selesaikan.


--Imam Rahmanto--


NB: Di tengah berondongan teman-teman “pembimbing” yang menanyakan kabar-kabar perkembangan skripsi, saya baru memulainya lagi malam ini. Asli, baru mengacak-acak proposal penelitian beserta instrumennya. Padahal besok hari libur kampus, ya? Sudahlah, setidaknya saya hanya ingin membuang perasaan “menunda-nunda” saya.

Jumat, 28 November 2014

Aku yang Tak Tahu Hendak Menyampaikannya

November 28, 2014
Selamat berbahagia…

Engkau, nun jauh waktu yang pernah mempertemukanku denganmu sebagai puzzle terpenting dalam hidupku. Tak apalah jika kukatakan demikian. Karena pada kenyataannya memang demikian. Kau selalu istimewa, sampai kapan pun. Aku takkan segan menyangkalnya.

Aku ingin berterima kasih pada waktu yang pernah menjabatkan tangan kita, meski tak erat. Hingga waktu pula yang kemudian memisahkannya. Atau memang karena perasaanku yang bodoh ya? Tak pernah menyadari betapa kuatnya seorang perempuan betah menanti yang dikasihinya. Orang lain hanya dizinkan bertamu sampai di depan ruangnya. Mengetuk dan memberi salam. Mengobrol di depan pintu hatinya. Tak lebih. Ia tak merasa perlu menyilakan seseorang masuk lebih jauh dan menemukan orang yang dijaganya ketat di dalam sana.

Kau masih suka menangis? Aku kira, kau telah menjadi seorang wanita yang tangguh kini. Di luar sana, kulihat senyummu menampar mentari. Kau rentangkan tangan menyambut hangat peluk teman-teman barumu.  Mungkin, tak lagi senang berdiam di rumah, tanpa menyibukkan diri dalam kegiatan-kegiatan sosial. Atas nama hidup, kau kini lebih banyak berjuang dan menenggelamkan perasaan bersama teman-teman dan orang yang kau kasihi. Sejenak, kau akan melupakan segala pahitnya hidup. Atau pahitnya kenyataan atas penantianmu? Namun, kau memang selalu kuat, sebagaimana kau yang selalu benci dikasihani, bukan?

Seremoni kemarin, sebagai pertanda kau akan lebih gigih memperjuangkan hidup. Kau akan semakin mengenal dan dikenal dunia yang sebenarnya. Kau selalu lebih tahu dariku…

Dunia luar, bukan lagi soal hitam di atas putih. Bukan pula soal teori-teori yang dijejalkan habis di dalam ruang pengap. Pun, bukan perkara nilai yang dilomba-lombakan setiap bidang yang merangkai teori itu. Karena selayaknya, jauh sebelum ini, kau pun sudah tahu. Pelajaran hidup begitu sulit didapatkan tanpa kita berani melangkah keluar. Kata orang, out of the box. Feel it!

Seutas pengalaman itu memang dijalani “untuk” jati diri, namun bukan berarti hanya “demi” diri sendiri. Sehebat apapun kita dalam memandang hidup, kita tak seeloknya sendiri. Engkau akan selalu butuh teman-teman yang setia mendorong dan menjagamu. Ya, kau akan selalu punya teman baik. Bukankah kau sekarang memilikinya, lebih dari yang pernah kau bayangkan? Maka untuk apa lagi menangis? Akh, sekali lagi maaf. Bukannya aku bermaksud mengatur-atur hidupmu.

Rupa-rupanya, janji memang selalu terwujud dalam aneka rupa. Kau tentu masih ingat, atau biar kuingatkan saja, pernah mengancamku (aku bingung ingin menuliskannya seperti apa) bahwa takkan pernah mengenalku lagi jika sampai waktunya aku tak menyelesaikan studiku yang nyaris dimakan usia ini. Dan kenyataannya, entah bagaimana waktu mengalir dan Tuhan mengatur skenarionya, kau memang telah jauh. Nyaris tak lagi mengenalku. Atau kita berdua yang memang saling memutuskan tak lagi kenal-mengenal? Sejauh yang kupahami, aku hanya bisa menyebutkan namamu di hadapan teman-temanku, tanpa menimbulkan gaungnya di hadapanmu. Teman-temanku, masih senang meledek dan membumbui, seperti halnya yang kau kenal sekilas tentang mereka.

Tetibamu lebih dulu pada panggung nyata kehidupan, teruslah melangkah.

Pernah, suatu masa, aku tak peduli lagi pada alur yang mungkin tak pernah serius kau sampaikan itu. Hanya sebatas pemanis di ujung alat komunikasi. Aku terlalu naïf menanggapinya dengan wajah kembang-kempis. Tapi, aku kehilangan alasanku setelah itu. Maaf, betapa bodoh pernah menjadikanmu alasan untuk beberapa hal dalam hidupku. Aku kini sadar, tak lagi menjadikan orang lain sebagai alasan bagiku meraih sesuatu. Karena, kelak, tiba masanya ketika kehilangan orang itu, maka alasan itu ikut raib dan terkubur tak hendak muncul ke permukaan.

“Hei, bagaimana kabarnya temanmu yang pernah kau bawa saat berkunjung ke rumah Paklikmu? Apa dia juga sudah selesai?”

Tahukah kau? Ayah pernah menanyakan kilasan tentang dirimu padaku. Aku cukup menjawabnya dengan, ya, ia sudah selesai tahun ini. Dan pertanyaannya tak berlanjut lagi. Apa peduliku? Aku juga tak ingin melanjutkan obrolan yang mengingatkanku padamu.

Ayahku, masih sama seperti dulu, selain usianya yang kian mendekati uzur. Itu pun kalau kau menanyakan kabarnya padaku, aku akan senang menjawabnya. Tak ada pengobatan yang paten atas penyakitnya. Saban hari, ia hanya terbaring kuat dan ramah di atas tikarnya. Ya, benar. Jangan pernah membayangkan ia terbaring lemah tak berdaya. Karena kenyataannya, ia masih kuat sekadar menyambut tetamu yang bertandang ke rumah, meski hanya bisa terbaring atau duduk bersandar seadanya.

Aku dan keluargaku, baik-baik saja. Justru, aku berterima kasih sekali kau pernah menjadi alasan untuk sesuatu yang nyaris kubuang; kehangatan keluarga. Ayah masih menyayangiku. Ibuk masih menyayangiku. Adikku sangat-sangat menyayangiku. Dan aku menyayangi semuanya, sebagaimana menyayangi… akh, lupakan.

Tentang studiku yang nyaris di ujung jari, aku tetap melanjutkannya. Teman-teman disini, di kampus, di jalan, betapa gigihnya mendorong dan menyemangatiku. Sekadar sindiran-sindiran halus. Namun itu serupa bentuk kepedulian mereka padaku. Di kampus, aku banyak belajar dari teman-teman yang telah menyelesaikan studinya. Pembimbingku di dunia nyata, bukan hitam di atas putih, ada banyaaak sekali. Aku jadi bingung harus menuliskan terima kasih di halaman skripsi kelak untuk siapa saja.

Belum lagi sampai di tahap skripsi, aku sudah berlagak mau menuliskannya ya? Haha…tak apalah. Paling tidak, sekadar untuk kau ketahui saja, tahap pertamanya telah sukses kulalui. Teman kita banyak membantu. Bahkan sekadar menyambangi dan mempersiapkan hal-hal yang belum berpengalaman bagiku. Di ruang pengap seukuran kamarku itu pun, yang menjadi ruang ujian bagiku, ada banyakteman yang menyertai kewarasanku. Tahu tidak, pembimbing yang kau kenali pernah menjadi pendamping di kuliah kerja nyata kita, ikut pula menyempil diantara belasan peserta dalam seremoni ujian itu. Sungguh, tak kusangka ia akan mengajukan pertanyaan bersemangat buatku. Tanpa perlu mengecewakannya, kusambut ia dengan sukacita. Aku tahu, ia mengenalku cukup baik. Emm…mungkin, ia amat mengenaliku sebagai mahasiswa yang dua kali raib di jadwal kunjungannya dulu.

Selamat berbahagia dan menyibukkan diri dengan dunia kenyataan berikutnya…

"Kalian begitu mirip," seringkali aku mendapati ucapan demikian.

Sejujurnya, aku tak pernah menemukan orang yang lebih baik darimu, seperti katamu. Terlalu banyak kutemukan diriku dalam cerminan dirimu. Pantas saja orang-orang disana menganggap kita berdua begitu mirip. Namun, pada akhirnya, sejauh yang dipahami, dua orang yang benar-benar “sama” akan sulit untuk “bersama”.

Apakah karena aku mencintai diriku sendiri? Tidak. Pernahkah kau sekadar menonton film fenomenal 5 Cm. Ada adegan di dalamnya dimana Ian memberikan petuahnya kepada Genta yang diam-diam suka pada Riani.

“Orang yang tidak berani mengungkapkan cintanya kepada orang lain, itu karena kecintaannya yang terlampau besar untuk dirinya sendiri.”  

Bukankah, dulu, sudah pernah kuberanikan diri mengungkapkan seluruh curahan rasaku padamu, yang justru menjadi bahan senyumanmu? Aku selalu suka melihatmu tersenyum. Apalagi ketika kau ikut pula menularkannya pada anak-anak kecil di sekelilingmu.

Kau tahu, aku banyak belajar. Menyampaikan hal seperti itu tidak semudah menyampaikan presentasi di dalam ruangan. Butuh pilihan kata yang tepat untuk menggambarkan keseluruhannya, dengan hati yang benar-benar berdebar, merusak segala ritme isi kepala. Bagiku, presentasi ataupun sekadar berbicara di depan ribuan orang jauh lebih mudah, ketimbang menyampaikan kebenaran hati untuk satu orang. Tapi, sudahlah. Itu sudah berlalu, tak usah diungkit-ungkit lagi.

Aku selalu berdoa atas keinginanmu yang kau gantungkan di atas sana. Kabarnya, kau hendak melanjutkan pendidikan ya? Kau masih mengejar kota itu, kan? Semoga Tuhan selalu mengabulkan setiap inginmu dan “ingin-ingin” orang yang kau sayangi untukmu.

Selamat wisuda, kamu… *

Keterangan: Bayangkan saja diriku tersenyum, demi melihat lengkungan simetris bibirmu yang merona. Semoga kau selalu menyunggingkan senyum.

***

Ia menyudahi tulisannya. Entah coretan yang ke berapa. Sulit membahasakan perasaannya yang telah lama dikubur dalam-dalam. Entah kepada siapa pula ia akan menyampaikannya. Beberapa kertas di pojok ruangan berserakan. Beberapa tulisan sebelumnya ia remas-remas dan lempar tak tentu arah ke pojok ruangan. Untuk surat yang telah berhasil ia rangkai sejauh ini, ia menggumpalnya.

Lama berselang, ia memandangi jejeran kata di atas kertasnya itu. Kilas-kilas ingatannya memaksa untuk dikeluarkan. Ia memang tak pernah berniat melupakannya. Baginya, selalu manis dan mengenangkan.

“Randi!” suara dari luar kamarnya memanggil. Ia tergeragap, membereskan suratnya dan menaruhnya ke dalam laci meja.

“Ya, tunggu sebentar!” Ia berjalan ke arah pintu dan membukanya.

Dengan senyuman khasnya, Dimas sudah ada di depan pintu berkacak pinggang. Tas ransel disampirkan di sebelah bahunya.

Ngopi yuk!” katanya kemudian.

“Asal kamu yang bayarin, ya?” todong Randi masih berdiri di bawah pintunya.

“Beres, Bos!”

“Ok, tunggu sebentar,”

Randi segera masuk ke dalam kamarnya. Pintunya dibiarkan terbuka agar Dimas bisa masuk. Ia merapikan mejanya. Kertas-kertas yang berserakan di lantai dibuangnya. Sementara, ia melupakan surat yang ditulisnya tadi. Di dalam laci, dibiarkannya surat itu tak tersentuh. Untuk malam ini, ia butuh segelas cappuccino pahit, yang bisa membantunya sadar dari kenyataan.

***

Selamat wisuda...

Teruntuk siapa saja yang mengecap hari bahagianya sebagai eks-mahasiswa kemarin, dan kemarinnya lagi. 

Habis kuliah, kemana? (Created by: ImR)


Makassar, 28 November 2014
--Imam Rahmanto--

Minggu, 23 November 2014

7 Hal yang Nyaman Saya Kerjakan dengan Segelas Cappuccino

November 23, 2014
Setiap orang punya minuman (pendamping hidup) masing-masing. Ada kalanya minuman itu dikonsumsi untuk meningkatkan daya konsentrasi maupun sekadar pengisi waktu luang. Selayaknya suplemen, ia juga bisa jadi obat mujarab bagi orang-orang yang sudah merasainya sebagai candu.

“Dalam sehari, ada berapa kali menenggaknya?”

Itu pertanyaan paling dasar yang kerap dilontarkan atas kebiasaan saya berdampingan dengan cappuccino. Tak perlu heran. “Rumah” ini pun dibuat karena proporsi  kebiasaan saya yang hampir menyamai kebiasaan para perokok. Tapi, maaf, saya bukan perokok, demi masa depan anak-istri saya kelak. Saya tak bisa memastikan berapa kali dalam sehari menikmati minuman berkafein itu. Saya hanya tahu, ketika saya membutuhkannya, saya akan merasainya. Tegukan demi tegukan.


Saking seringnya menyeduh sachet-an, saya jadi peka membedakan rasa antara merek-merek dagang yang beredar di pasaran. Sebut saja Go****y, Tor****a, Nes***e, atau Ind****e. Saya juga bisa dengan mudah mengetahui, kebanyakan cappuccino di warung-warung kopi (warkop) hanya oplosan yang ditambahi susu kental manis. Sungguh berbeda dengan campuran espresso sebenarnya.

Jangan pernah berpikir bahwa saya mencandui minuman anak-pinak kopi itu seperti halnya “pemakai” mencandui obat-obatan terlarang. Kalau memang tuntutan keadaan tak bisa memenuhinya barang sehari-dua hari, saya takkan mengalami kejang-kejang meradang atau keringat dingin. Saya harus paham dengan kondisi keuangan sebagai seorang mahasiswa-nyaris-selesai. Dikondisikan, meskipun BBM naik tak mempengaruhi harga cappuccino di kafe maupun sachet oplosan.

Untuk beberapa momen, saya baru merasa nyaman ketika berdampingan dan “mengobrol” dengan segelas (atau beberapa gelas) cappuccino. Diantaranya:


#Nongkrong di Coffee Shop
Siapa saja pasti tahu apa yang mesti dipesan di Coffee Shop. Orang-orang mengenalnya kafe. (Bedakan antara kafe dan warkop!). Dari namanya saja, sudah jelas minuman yang disediakan disana dominan berkafein. Minuman lainnya hanyalah pemanis bagi pengunjung yang tidak menyukai kopi namun hendak menghabiskan waktu nongkrong disana.

Sekali-dua kali saya juga doyan nongkrong di kafe. Apalagi kalau biaya secangkir cappuccino-nya ditanggung teman sendiri. Saya punya rekomendasi kafe yang cukup elit namun pas dengan budget mahasiswa.

Ada banyak hal yang bebas saya kerjakan di tengah hiruk-pikuk para pengunjung, yang terkadang tak tahu malu. Yeah, karena tak jarang mereka membawa-bawa pasangannya dan menganggap bahwa dunia ini milik mereka berdua. Ini agak mengesalkan, berlebihan, dan asli membuat iri, kan?

Di kafe, saya bisa mengerjakan apa saja yang memang nyaman saya kerjakan dengan bertemankan cappuccino. Selain mengerjakan tugas kuliah, saya kerap pula menghabiskan waktu seharian di kafe hanya untuk menjelajah dunia maya. Yah, kalau keuangan saya sedang mengalami surplus saja.

Wah, nongkrong  di kafe pinggir jalan seperti ini, di kota Paris, sungguh menggiurkan! (Sumber: googling)

#Hujan
Saya bukan tergolong orang yang melankolis, romantis, dan agak puitis ketika hujan. Saya justru agak kedinginan ketika mendung mulai hilir-mudik menandai hujan. Hawanya yang sejuk (mendinginkan) lebih sering mendorong nafsu untuk nge-cappie. Apalagi, bulan ini mengawali musim penghujan di Indonesia. Sebentar lagi, di penghujung bulan November, hujan akan semakin sering menyiram bumi.

Saya senang menikmatinya sembari duduk-duduk menonton hujan di beranda. Kalau perlu, sesekali tempiasnya boleh mengenai wajah. Semakin keren kalau hangatnya cappuccino dinikmati berhadap-hadapan usai kehujanan dengan sang kekasih. 


Di depan pemandangan terbuka, ketika hujan, bersama segelas minuman hangat. (Sumber: googling)

#Pagi Hari
Ini merupakan ritual wajib saya. Setiap pagi, saya memulai hari dengan segelas cappuccino. Ibarat pepatah, tiada pagi tanpa cappuccino. Mengawali hari dengan memacu adrenalin.

Kebiasaan ini agak mirip dengan bapak-bapak-yang-telah-sukses -dan-akan-menjalani-kesibukan-super-padat. Saya menyelinginya dengan membaca koran. Di redaksi yang kerap menjadi tempat bermalam saya, ada dua pilihan koran cetak  dan puluhan media online yang siap dilahap sembari menyeruput minuman hangat itu. Selain karena kamar kost saya tidak mendukung fasilitas kelengkapan untuk persediaan air panas tentunya.

#Menulis
Cappuccino juga menjadi pendamping wajib ketika mengerjakan segala kegiatan yang sarat kaitannya dengan menulis. Untuk aktivitas yang satu ini, saya kerap mewajibkannya. Entah menulis cerita, berita, atau postingan tak penting di “rumah” ini. Ia berupa stimulan untuk merangsang sel saraf di kepala saya agar bisa berimajinasi dengan baik. Bagi saya, menjentikkan jari di atas keyboard rasanya menjadi ringan jika diselingi dengan minum cappuccino. Pikiran bebas memahami dan mengolah apa saja. Writter’s block lenyap untuk sesaat.

Tahu tidak, sebagian besar penulis kerap menstimulasi ide, inspirasi, atau imajinasinya lewat kebiasaan-kebiasaan menikmati minuman hangat, termasuk kopi. Ada banyak pemikir dan sastrawan yang lahir dari kebiasaan-kebiasaan minum kopi, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Di Indonesia sendiri, penulis buku Filosofi Kopi yang juga bakal difilmkan, Dewi “Dee” Lestari, mengaku senang menikmati kopi. Ia sering menikmati coffee moment-nya di pagi hari.

It’s not worth it menghabiskan coffee moment dengan minum kopi kualitas abal-abal setara kopi jagung. Padahal Indonesia adalah negara yang kaya akan jenis kopi terbaik,” –Dewi Lestari, dalam wawancara media

Tak apa-apa lah, Mbak Dee, kalau saya masih lebih sering menikmati sachetan. Kelak, kalau sudah punya penghasilan yang menghidupi, saya akan membeli mesin coffee-maker sendiri dan mengolah cappuccino dari kopi tanah kelahiran saya, Kopi Kalosi. ^_^

Cappuccino time. (Sumber: googlingi)

#Membaca buku
Ini adalah satu alasan saya senang menghabiskan waktu di coffee shop. Meski ramai oleh pengunjung lain, namun tak ada yang menyela kegiatan membaca dan menenggak cappuccino.

Selain di kafe, saya juga menikmati reading time di beranda. Saya bermimpi, kelak membangun rumah yang memiliki beranda yang menghadap ke laut atau pemandangan luas. Setiap pagi istri saya sudah tahu harus membuatkan minuman apa.

Kost saya tidak memiliki beranda yang bagus. Jadinya, beranda kecil dengan bangku panjang di depan redaksi sering menjadi tempat “pelarian” saya sekadar menamatkan bacaan. Selain menghadap ke arah jalanan kompleks, saya juga bisa menunggu momen hujan sembari menghangatkan diri bersama segelas cappuccino. Weuw, so romantic and melancholic…

Tentu saja, saya lebih banyak meminjam buku. #ehh (Sumber: googling)

#Begadang
Kebanyakan mahasiswa senang membolak-balikkan waktu tidurnya. Dalihnya, tugas kuliah. Apalagi kalau sudah menyentuh dunia-dunia organisasi atau lembaga kemahasiswaan. Karena sudah menjadi kebiasaan, maka tidur pun terasa mubazir kalau di awal waktu. Minuman hangat menjadi “pelarian” untuk menemani waktu mengobrol dengan teman senasib lainnya, cenderung kopi. Saya lebih suka cappuccino. Dan saya, juga, adalah, mahasiswa.

#Mengerjakan Skripsi
Ehmm…emm…tentu saja. Karena saat ini saya sedang berjibaku dengan tahap penyelesaian studi.

#Galau
Go to the hell!

***

Pagi ini, tepat ketiga matahari sudah mulai meneroboskan sinarnya di bilik jendela, mata saya masih kuat terjaga. Segelas cappuccino di sebelah saya sudah tandas beberapa jam yang lalu. Gelas keempat untuk malam ini.

Selepas mengakhiri tulisan ini, nampaknya saya bersiap merebus air dan menyeduhkannya ke cappuccino pertama untuk hari ini. Sekadar mengawali pagi.


--Imam Rahmanto-- 

Selasa, 18 November 2014

25# Lega!

November 18, 2014
Tentang hujan kedua, saya merasainya di sela-sela luapan seremonial selaku mahasiswa tingkat akhir. Sebagaimana riuhnya atap dijatuhi bulir-bulir air dari langit. Sejenak, orang-orang mengalihkan fokusnya, sekadar menegaskan bahwa hujan benar-benar turun, untuk kedua kalinya di kota yang meradang ini.

“Ya, hujan pun tiba di seremonial kecil itu, menegaskan diri sebagai teman.”

***

Saya kini cukup berlega hati lantaran telah melalui tahap pertama menyelesaikan studi di kampus; seminar proposal. Pun, seminar proposal dikategorikan sebagai salah satu mata kuliah di jurusan saya yang menghimpun 2 satuan kredit semester (sks). Namanya Tugas Akhir I (TA I). 

Bagi sebagian besar mahasiswa, menjalani seminar proposal adalah hal yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang cukup istimewa. Tidak bagi saya, yang tercatat sudah lama menunda-nundanya. Akh, tahap itu, saya menganggapnya sebagai suatu loncatan yang cukup menyenangkan sekaligus membahagiakan. Saya menghargainya, teruntuk diri sendiri. Saya hanya selalu berusaha memberikan penghargaan atas usaha apapun yang telah dilakukan, baik orang lain maupun diri saya sendiri.

Wajar saja ketika jadwal ujian seminar telah ditetapkan, betapa hebohnya saya menyampaikannya kepada teman-teman lainnya. Tak lepas saya menginformasikan jadwal ujian kepada siapa saja yang saya temui. Layaknya orang yang hendak menikah, undangan disebar kemana-mana. Huahaha…

Untuk ujian seminar yang telah berlangsung hari itu, saya ingin mengucap terima kasih kepada siapa saja yang menyempatkan diri duduk seruangan memperhatikan saya mengoceh kepada para penguji. Saya justru lebih menghargai teman-teman yang hadir demi menghabiskan konsumsi di dalam ruangan ketimbang mahasiswa-mahasiswa yang hendak memenuhi kartu kontrolnya. Dan kenyataannya, mereka yang hadir tidak lebih dari 20 orang di ruangan saat itu, merupakan teman-teman yang secara sukarela hadir mendampingi ujian singkat saya itu. Yeah, saya membanggakan kalian! 

Hihihi...keren banget presentasinya. #ehh (Foto: Dhiny)
Saya mencatat yang hadir diantaranya, adalah teman-teman sejurusan, seangkatan, yang kini juga tengah menyelesaikan skripsi seperti saya. Yang telah sarjana juga ada. Ada teman-teman sejurusan yang selalu berbagi pengalaman skripsinya dengan saya. Ada beberapa orang teman dari jurusan lain. Ada teman-teman yang merupakan rekan kerja di lembaga pers. Bahkan ada dosen yang selang beberapa menit kemudian ikut nimbrung di dalam ruang ujian dan memberikan pertanyaannya kepada saya. Hm…dosen itu pernah menjadi pembimbing di masa KKN saya, dulu.

Kepada mereka, saya ingin berterima kasih. Hadir dan berjibaku mata, sungguh memberikan daya tiada terkira dalam ruangan sempit itu. Bagaimanapun, banyak semangat yang saya peroleh dari sana, dari teman-teman itu. Sekadar mengangguk-angguk atas pendapat saya. Atau sekadar bertanya dan menanggapi apa yang tersampaikan dalam presentasi singkat.

Masa-masa sulit itu bisa terlalui dengan cukup baik. Bagaimana saya harus dibangunkan pagi-pagi oleh seorang teman. Dipaksa menyiapkan segalanya lebih awal ketimbang hari-hari biasanya. Teman saya yang mengurusi konsumsi itu juga sempat ditilang polisi lalu lintas. Menyisakan perasaan deg-degan bagi saya yang menanti-nanti kehadiran dosen penguji dan pembimbing di kampus. Saya mendapati pula teman-teman lain yang telah lebih dulu hadir di jurusan ketimbang saya yang empunya acara.

Saya juga harus bertaruh dengan keadaan, dimana kampus baru saja mengalami dukanya yang begitu mendalam. Insting UNM. Puluhan polisi, sehari sebelumnya, baru saja menyerang kampus kami dengan brutal, merusak segala fasilitas kampus, fasilitas mahasiswa, motor, kendaraan, hingga mengusir dan bertindak kekerasan kepada warga kampus, gegara demonstrasi penolakan kenaiikan BBM oleh mahasiswa di kampus kami. Yang paling bikin kesal dan geram adalah tindakan mereka melukai beberapa wartawan media yang hendak meliput penyerangan itu. Damn! 

Kampus di Pettarani harus diliburkan selama beberapa hari. Berbeda, di kampus saya yang terpisah dengan kampus pusat, perkuliahan masih terus berlangsung. Alhasil, ujian saya masih bisa tetap berlanjut.

Ketika penguji memberikan penutupnya, menyampaikan sedikit hal yang butuh perbaikan dalam proposal yang saya ajukan, senyum lebar mengembang di wajah. “Ternyata selesai juga,” saya membatin. Senyum itu menular kepada teman-teman lainnya sembari berucap selamat. Kalau kita mau, ternyata selalu ada jalan, kan?

"Nah, selanjutnya kita akan bertemu untuk perbaikanmu ya?" ujar pembimbing saya. Ia tersenyum memberikan selamat sesaat meninggalkan ruangan seminar. Saya mengangguk.

Terima kasih. Selanjutnya, giliran kalian! (Foto: Dhiny)

***

Saya sedang berbahagia, namun bingung bagaimana membahasakannya. Karena sekadar terima kasih mungkin tak sepadan. Cukup lama saya harus menyiapkan diri menuliskan ini. Selain karena laptop kesayangan sedang bermasalah, saya sedang ingin bersantai dengan perasaan-perassan lega ini, sejenak waktu. Dan tulisan ini hanya sebagian kecil menggambarkan kebahagiaan saya. Anggap saja saya sedang tersenyum-senyum sendiri sepanjang waktu.


--Imam Rahmanto--

Selasa, 11 November 2014

24# Bersiap!

November 11, 2014
Saya lagi-lagi harus berterima kasih pada keajaiban yang tiba hari ini. Keajaiban yang membawa saya pada bidang-bidang semu merupa nyata. Di kala saya nyaris kehabisan napas karena terlalu lama menunggu, mengosongkan harapan untuk hari ini, kesempatan itu datang. Tepat ketika saya nyaris tak acuh padanya.

Siang kemarin, saya banyak menghabiskan waktu di kampus. Jadwal seminar proposal yang tertunda harus diurusi kelangkapannya hari itu. Sebenarnya bukan kelangkapan sesuatu-bagaimana. Hanya saja, saya butuh mengecek secara berkala apakah-jadwal-dan-undangannya-sudah-keluar? Jadi, saya cuma menunggu. Yah, hanya menunggu.

Saya hanya butuh memastikan siapa dosen yang akan bertanggung jawab menjadi penguji. Adalah momok mendapati dosen yang disegani dan ditakuti banyak mahasiswa akan menguji kajian proposal penelitian saya.

Di kampus, seperti biasa, saya banyak bertemu dengan teman-teman yang merupakan adik angkatan saya. Mencari teman-teman seangkatan yang masih berdiam di kampus itu bak mencari jarum di tumpukan paku. #ehh. Berbincang dan berbagi dengan mereka setidaknya memberikan saya banyak wawasan baru dan semangat untuk memperjuangkan calon-skripsi saya. Bahkan untuk penantian keputusan seminar proposal, saya harus bolak-balik dari lantai 2 gedung jurusan sampai 4 kali.

Bagi sebagian orang, menjalani seminar proposal masih jauh panggang api dari kata “selesai”. Anggapannya, seminar proposal itu tidak begitu sulit. Mudah.

“Baru ki seminar proposal?”

“Iya.” Sepolos-polosnya saya menjawab. Selugu-lugu mungkin.

Ditanggapi saja dengan “O” yang panjang oleh mereka yang sudah menyelesaikan kuliahnya dari berbulan-bulan lalu. Namun masih saja mereka betah mondar-mandir di kampus saya. Iya, kampus saya dong! Mereka yang sudah lulus kuliah seharusnya sadar akan kampus “kehidupan” yang lebih besar lagi. Maaf saja kalau nganggur. :P

Saya sungguh bahagia bisa menjalani seminar proposal beberapa hari kelak. Betapa menggembirakannya usaha yang berbuah hasil. Kalau dipikir-pikir, saya sudah lama teralih dari dunia “penyelesaian” seperti ini. Saya tidak banyak mengurusinya. Namun, dalam tempo dua bulan ini, saya sudah bisa mencicipi sulitnya berurusan dengan skripsi. Sebenarnya tak sulit juga sih. Asal ada kemauan saja.

Wajar kalau saya berusaha mengapresiasi diri sendiri. Sedikit memberikan penghargaan atas usaha keras yang saban hari dipraktekkan. Seberapa sepele jalan yang disusuri, setidaknya “terima kasih” bukan barang langka untuk diucapkan. “Terima kasih” paling sederhana, ya dengan mengembangkan senyum. Saya tersneyum lebar malah sepanjang hari. :D Tak ada kata terlambat untuk menghargai diri sendiri.

Bagi orang lain, seminar mungkin hal sepele. Tidak bagi saya. Sungguh prestasi luar biasa setelah lama teralihkan dari dunia kampus. Beberapa minggu kesana-kemari mengorbankan (membuang) waktu membuahkan hasil yang sungguh manis. #prokprokprok

Apalagi saya juga pernah bersepakat dengan seseorang tentang penyelesaian kuliah di jadwal wisuda bulan ini. Meskipun saya tak mungkin mengejarnya lagi. Saya hanya butuh bulan terakhir di tahun ini. Saya ingin menuntaskan, dan mulai mengisi resolusi baru di tahun berikutnya.

Bosan menunggu (nyaris) seharian, saya hendak pulang. Niat mundur demi menyusun strategi esok hari. Eh, di tengah jalan persimpangan fakultas, saya yang mengendarai motor melintasi dosen pembimbing yang sedari lama saya tunggui. “Akh, ini dia!” teriak saya dalam hati.

Tanpa perlu diolah otak dan rasa lebih lama, masih sempat mengabaikannya juga sih, saya menghentikan kendaraan di tepi jalan. Memarkirnya di sembarang tempat. Saya hanya meniru motor lainnya yang terparkir serampangan di pinggir jalan, tepat di belakang gedung sekretariat BEM fakultas.

Bayangkan saja adegan di film-film…

Saya mengejar dosen tempat ia tadi berhenti sebentar karena mengobrol dengan mahasiswa. Akan tetapi saya tak menemukannya.

“Kemana Ibu dosen tadi?” saya random saja bertanya kepada adik angkatan, yang saya sama sekali tidak mengenal mukanya. Masih botak. Lagipula, statistik peluang matematis untuk mendapatkan jawaban dari mereka adalah 99,999... persen.

“Oh, kesana, Kak. Ke jurusan!” beberapa dari mereka yang saya temui nyaris berbarengan menunjukkannya.

Selang beberapa menit, saya menunggunya di jurusan. Menit berlalu seiring dengan pesta kecil-kecilan salah satu program studi baru di jurusan saya atas dikukuhkannya status prodi tersebut oleh Dikti. Di tengah-tengah kerumunan anak prodi tersebut, saya duduk-kalem-manis menunggu sambil mengikutkan mata pada sosok dosen pembimbing yang saya tuju.

Di tangan saya hanya terselip bacaan lama untuk menemani, yang belum pernah saya tuntaskan; buku karangan Raditya Dika. Wajar ketika orang-orang di samping kiri-kanan saya melongo melihat saya terkadang tertawa-tawa hah-hihi sendiri.

Karena bosan menunggu, hingga waktu beranjak selepas Ashar, saya mengusulkan kepada dosen pembimbing untuk menitipkan saja instrumen yang niatnya mau dikonsultasikan langsung. Ia nampak sibuk berbenah sajian pesta. Saya sungkan mengganggunya (dan menunggu terlalu lamai). Pada sela-sela waktunya itu, ia menemui saya. Alhasil, ia mengiyakan dan jadilah saya “memanjat-lagi” ke lantai 3 gedung jurusan sekadar menyimpan instrumen itu di meja kerjanya. Lagi-lagi jiwa jurnalisme saya bisa dimanfaatkan. Hahaha…

Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Saya memutuskan untuk mengecek lagi jadwal di ruang administrasi lantai 2 sebelum benar-benar pulang. Biarpun sudah empat kali mencoba sepanjang hari dan hasilnya nihil, tak ada salahnya mencoba lagi. Keep trying! Dan taraa!! Staf tata administrasinya mengenali dan memperlihatkan undangan yang usai dicetak. #bernapas lega

Tertera: Jumat, di waktu pagi, saya harus siap menantang para penguji. Oleh karena itu, siapa pun, dari dekat, dari jauh, teman, kenalan, keluarga, mari berbagi dukungan. Tak perlu voting: Aku YES, Aku NO! Karena kata Tuhan, partikel doa di langit tak pernah ada batasnya.


--Imam Rahmanto--

Senin, 10 November 2014

Tentang Hujan Pertama di Kota Kami

November 10, 2014
Tik tik tik... 

Bunyi hujan di atas genteng...

Beberapa menit telah berlalu semenjak hujan pertama melancong ke bumi. Ini hujan pertama di kota kami. Kata pengamat, hujan ini akan berlangsung hingga bulan April 2015. Hujan, yang seharusnya juga baru dimulai akhir bulan ini. Hujan, yang katanya lagi, telat dari waktu yang sewajarnya. Ada kemarau yang terlampau lama menyela hujan kali ini. Kemarau yang menyumbangkan banyak umpatan tiada berguna.

Antara derai hujan sore itu, kami berteduh di beranda. Seperti orang-orang yang menunggu senja, kami menanti hujan reda. Akh, tidak, tidak. Tidak lah kami menunggu. Tepatnya, kami menikmati bercumbu dengan hujan. Tak ada salahnya menyapa hujan yang baru pertama menghadiri undangan yang dipanjatkan para manusia berpeluh debu. Lantas semilir petrichor menjadi bau-bauan yang selalu dirindukan para penikmat hujan, seperti saya.

Tapi, maaf, saya bukan orang-orang yang senang mengaitkan hujan dengan kerinduan. Hujan yang sendu tak pernah sengaja memayungi kerinduan berlebih. Hanya orang-orang dramatis saja yang punya skenario menyangkutpautkan hujan dengan iklimitisasi kerinduan. Wajar, ada banyak orang di luar sana yang terjebak dalam genangan masa lalunya. #jangan memandangi saya 

Airnya turun tiada terkira...

Dahan dan ranting pohon di depan beranda kuyup disirami hujan. Tempiasnya menebar kemana-mana. Kertas-kertas surat kabar yang tercecer di kursi jadi basah semua. Sebagiannya lagi memang dipakai untuk melindungi diri dari hujan yang semakin menderas. Hujan pertama, betapa hujan yang berderai. Disambangi cahaya kilat yang saling menyalak dari kejauhan.

“Hei, laptopku...” Saya mengambil koran bekas yang terserak basah sebagian. Menutupkannya pada laptop. Agak menggeser posisi ransel di sebelahnya.

“Saya ingin berhujan-hujanan,” gumam saya dalam hati. Ini kesempatan.

Sudah lama saya menginginkan hujan seperti ini. Langit yang menggelap semenjak petang, membawa kabar-kabar hujan. Apalagi dengan gelegar petir yang memekakkan telinga. Pertanda yang memperkuat hujan akan menyapa pertama kalinya.

Saya dan keempat orang lainnya masih berlindung dari hujan. Sungkan beranjak. Bercengkerama memperbincangkan segala hal. Menertawai banyak hal. Sesekali mengikutkan ekor mata pada hujan yang tak kunjung mereda dalam beberapa menit ke depan.

“Kapan kira-kira hujan ini akan berhenti?” tanya seorang teman.

“Mungkin, sebelum Isya sudah mereda,” jawab saya ngasal. Hujan pembuka biasanya tidak berlangsung begitu lama. Ada banyak awan yang terpencar untuk dikondensasi menjadi uap-uap air. Berikutnya, mungkin hujan akan mengusung awan yang lebih pekat. Kalau bisa, lebih menyeramkan dan menggelapkan.

Cobalah tengok dahan ranting

Dan ketika azan maghrib berkumandang, saya berjalan sendirian ke warung di tepi jalan raya. Sengaja berhujan-hujanan. Ada hangat yang ingin diuapkan lewat segelas (sachet) cappuccino.

Beberapa orang yang menggilai hujan, hanya peduli pada hawa dinginnya. Menikmati sebatas tirai-tirai air untuk mengimbangi suhu panas bumi. Sementara mereka enggan, sekadar bermandikan tempiasnya. Enggan mencintai hujan dengan mengenyahkan payungnya. “Siapa pula yang mau berbasah-basahan? Seperti anak kecil,” Bukankah ketika orang terlalu lama dewasa, ia terlalu sungkan merindukan masa kecilnya? Akh, rindu lagi. Rindu lagi. Saya tak ingin mendekap rindu yang kata orang selalu diprakarasi hujan.

"Kapan-kapan tibalah lebih pagi. Bangunkan aku. Ciumi wajahku. Telusuri rambutku. Kutunjukkan bagaimana cara mencintaimu."


--Imam Rahmanto--

Minggu, 09 November 2014

23# Branding

November 09, 2014
Saya sedang tak ada kerjaan di kamar kost. Ketimbang merenung-mengharap-merenung, saya lebih baik menuliskan sesuatu. Ada banyak hal yang perlu dibekukan. 

Proposal penelitian yang telah saya daftarkan untuk ujian seminar proposal, masih belum nampak hasilnya. Yah, jadwalnya belum ditetapkan. Menurut petugas administrasi di jurusan, jadwal ujian beserta pengujinya baru bisa diketahui Senin. Padahal, saya sudah mendaftarkan proposal jauh hari sebelumnya. Mengecewakan.

Seandainya saja para pengelola administrasi jurusan bisa sedikit lebih mengutamakan pelayanannya, tentu saya tidak perlu menunggu sampai sejauh ini. Saya tidak perlu bolak-balik-naik-turun tangga hanya untuk ke lantai dua gedung jurusan. Saya tidak perlu berlari-lari kecil (saking semangatnya) mengecek di ruang administrasi. Sayya tidak perlu mengumpat di dalam hati. Segalanya, hanya berujung pada kata “belum”. Saya butuh melampiaskannya.

Saya sudah lama tidak memprakarsai desain-desain grafis. Sebenarnya, graphic design juga menjadi salah satu keterampilan saya di lembaga jurnalistik yang menaungi saya 4 tahun terakhir. Meskipun, sejak dulu, saya tidak berambisi menjadi seorang desainer ataupun ilustrator. Pasalnya, saya lebih jatuh cinta perihal “menulis” dan segala tetek-bengeknya.

“Saya lupa” atau “Saya tidak tahu” terkadang menjadi tameng tersendiri untuk menghindari segala hal yang berhubungan dengan desain jikalau teman-teman bertanya atau meminta sesuatu. Lagipula saya juga bukan manusia-serba-tahu. Bahkan, beberapa kali ada teman-teman yang meminta bantuan bantuan sebagai pemateri layout/ graphic design di acara-acara kepelatihan dasar, saya menolaknya mentah-mentah. Saya terkadang kesal ketika teman-teman masih mengidentikkan saya sebagai seorang layouter.

Tak hanya itu, saya bahkan belum lama ini ditawari bekerja sebagai layouter di sebuah media lokal. Namun saya menolaknya.

"Seharusnya kau berpikir tentang kerja dulu. Apalagi pekerjaan begitu tidak akan memberikan pengeluaran banyak. Amat berbeda dengan pekerjaan sebagai wartawan," banding seorang teman.

Untuk saat ini, saya mencari pekerjaan yang cocok dan sesuai dengan kesibukan saya mengurus proposal penelitian skripsi. Sebelum saya menamatkan skripsi itu, saya tidak akan mengambil pekerjaan yang menyita banyak waktu. Apalagi yang tidak sesuai dengan passion saya. Jam kerja di media lokal itu tidak sesuai dengan kriteria alokasi waktu saya.

“Syukuri saja. Namanya juga anugerah. Tidak banyak orang loh yang diberi kesempatan untuk menguasai banyak skill sekaligus,” kata teman. Saya selalu mensyukurinya. Selalu. 

Belajar dari businessman, saya tak ingin membangun branding diri sebagai seorang desainer. Saya justru ingin dikenal sebagai penulis, jurnalis, wartawan, travel-writer, editor, copywriter, blogger, atau apapun yang erat kaitannya dengan passion saya di bidang ini. Untuk saat ini, saya belum memutuskan bakal berprofesi sebagai apa. Maklum, saya belum menamatkan kuliah. Sadar atau tidak, sedari awal, setiap orang sudah seharusnya membangun branding diri sebelum memasuki dunia kerja yang lebih profesional.

"Just do it and you will find a way. It’s not about money, It’is dignity" --Ainun Chomsun, Founder Akademi Berbagi

Perihal graphic design, saya hanya menjadikannya sampingan. Sama halnya ketika saya begitu menyukai fotografi. Kelak, saya ingin memiliki kamera DSLR pribadi. Saya butuh banyak hal yang direkam dengan kamera.

***


Ide ini muncul begitu saja. karena terkadang ide memang muncul dadakan, dan secepatnya butuh divisualisasikan dalam realisasi. Dipendam lama-lama, justru membikin ide bakal memudar.

Berenam, kami dipersatukan dalam lembaga jurnalistik kampus dengan latar jurusan yang berbeda-beda. Tahun ini, sudah seharusnya menjadi tahun ideal kami menamatkan kuliah. Hanya saja, kami memiliki kesibukan yang berbeda-beda, dan punya impian yang digantung 5 cm di depan kening kami. *ala-ala film 5 Cm.

Dan tersebutlah kami berenam yang menunggu impian dipulangkan pada waktu masing-masing. Yang menunggu, pada seberapa besar usaha berputar di kepala kami.

Dhiny, si Cengeng yang menyimpan banyak ingatan, dan kerap menjadi ladang “rahasia” bagi kami. Asri, si Cambang yang punya potensi menjadi politikus handal karena keahliannya melobi. Ical, si Kadal yang gandrung bermain game dan dinanti-nanti kekasihnya untuk menyelesaikan kuliah. Cinno, si Poligami, yang kelak di kemudian hari mungkin menggunakan keahliannya beretorika untuk menikahi banyak gadis. Iyan, si Buaya perencana yang punya sejuta tempat untuk dikunjungi dalam perjalanannya sebagai gembel-packer.

“Imam, buatkan juga untuk semua personil #Ben10. Biar nanti saya mau cetak dan buatkan baliho,” tukas seorang teman.

Hmm…masih ada 4 orang dari kami yang tersisa. Sayangnya, mereka sudah lebih dulu “lulus” ketimbang kami. Nantilah kita genapkan. Saya harus mengurusi proposal penelitian dulu…


--Imam Rahmanto--

Rabu, 05 November 2014

22# Redup yang Berkobar

November 05, 2014
Atas apa yang telah terjadi hari ini, ada dorongan membuncah melemaskan tangan saya. Ada perasaan di kepala saya yang ingin terbebaskan. Apa saja, tak acuh. Sesederhana saya hanya ingin menulis. Itu saja.

Saya menantikan senja, yang amat manis dalam kenyataan di awang-awang pikiran. Tak peduli ketika lapisan awan putih menutupi hampir semua permukaan langit. Masa bodoh dengan matahari yang telah menggelap jelang setengah jam lagi di batas cakrawala. Lebih cepat dari lazimnya. Pun, rumah yang berjajar dan berimpit di kompleks perumahan ini menghalangi sekadar memperoleh satu garis cahaya sore.

Saya membayangkannya. Sendirian, saya duduk di beranda redaksi yang sudah berteman empat tahun lamanya lamanya. Dalam banyak hal, kesunyian di petang beranda membawa saya pada alur yang mendamaikan. Udara sepoi-sepoi memilin lembut di perantara jemari ini. Kelak, saya memimpikan rumah dengan beranda yang menghadap matahari terbit dan halaman belakang yang menantang matahari tenggelam. Di setiap sesi penghubung waktu itu, saya akan menyisipkan waktu bersantai meracuni diri dengan beberapa mili kafein cappuccino dan latte.

Entah mengapa senja di petang ini tak secerah biasanya. Orang-orang akan berharap hujan meluncur dari atas langit sana. Gerimis pelan atau lebat sekaligus. Dikarenakan, kabar hujan datang dari teman-teman yang berdomisili di pinggiran kota. Hujan, katanya. Meski disini pertanda hujan belum menemukan pangkalnya sama sekali.

Bukan main, kemarau terlampau lama. Orang-orang serasa terpanggang di siang bolong. Para pedagang minuman dingin dan es-es di luar sana tertawa kegirangan. Keuntungan mereka sebanding dengan tingkat kecerahan matahari. Semakin cerah, semakin gerah, semakin laris.

Namanya kerja keras, tak pernah berakhir sia-sia. Bukankah manusia terlahir untuk memenuhi hasrat hidupnya? Manusia harus bekerja atas keinginan-keinginan yang ingin diwujudkannya. Tanpa itu, hidup takkan berputar lama.

Ah, tentang kerja sungguh-sungguh itu... Saya nyaris kehilangannya.

Kenyataan senja yang manis itu hanya betul-betul bersumber dari kepala saya. Pikiran saya terlampau girang hari ini. Senja itu merefleksikan kesungguhan yang manis. Bagaimana saya nyaris lumpuh dan tak berbuat apa-apa lagi karena dihentikan pencarian tanda tangan yang tak berujung. Satu tanda tangan terakhir itu, nyaris tertunda karena si empunya sedang berada di luar kota. Ketua jurusan saya itu, baru kembali Jumat, lusa. Sementara, saya punya deadline pada diri sendiri menyelesaikan proposal dalam tempo seminggu ini.

Nyaris, nyaris saja saya, lagi-lagi, harus menunda keinginan mengejar deadline tugas akhir. Kalau saja saya tidak berbagi dengan seorang teman, maka saya akan benar-benar menganggap bahwa usaha maksimal saya sudah berujung disini. Segitu saja.

Nyatanya tidak. Di tengah-tengah saya melarikan kesal ke secangkir besar es tongtong, chat singkat dari teman saya itu membuka jalan lain. Usaha yang seolah-olah sudah saya kerjakan secara maksimal, ternyata masih bisa dimaksimalkan lagi. Di balik belukar itu, ada jalan pintas!

“Di balik rencana A, masih ada rencana B, rencana C, rencana D, hingga abjadnya benar-benar habis dikombinasikan. Tidak boleh terpaku pada satu rencana yang gagal saja.”

Sejujurnya, saya selalu terharu mendengar pesan itu diulang-ulang oleh salah seorang teman redaksi. Seorang perekam yang baik. Ia mengingatkan atas apa yang pernah saya ajarkan padanya, dan teman-temannya.

“Tanda tangannya bisa kok diwakili oleh sekretarisnya. Saya dulu begitu,” secercah petunjuk dimunculkan teman kampus saya, lewat pesan singkat di BBM.

Atas petunjuknya, saya ingin bertaruh lagi. Saya mengenyahkan segala “alasan-pembenaran” yang menghadang di kepala. Just move and try it!

Nyatanya benar. Saya menyelesaikan remeh-temeh tanda tangan itu. Kesungguhan yang berlanjut. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang berpangkal mula itu, saya melanjutkannya ke jenjang tahap berikutnya. Saya lantas menutupnya dengan manis. Puas dan menang telak terhadap ego malas yang merongrong saban hari. Malas butuh ditentang hingga ditendang.

Sungguh. Saya senantiasa mengembangkan senyum jikalau mengingat-ingat kejadian hari ini.

Bagaimana saya semenjak pagi harus duduk sendirian di lorong jurusan, memprediksikan si empunya tanda tangan bakal mengajar sesuai jadwal pagi itu. Bagaimana saya kemudian pulang karena tak menjumpainya sejam-dua jam ke depan. Bagaimana saya datang lagi, berharap lazimnya menemukan ia beristirahat di kantornya. Bagaimana usaha itu nihil dan mendorong saya mengirimkan pesan singkat yang dibalas dengan pemberitahuan bahwa dirinya sedang berada di luar kota. Kesal? Tentu saja. Bagaimana saya kesal dan melampiaskannya dengan pulang dan menahan pedagang es tongtong yang lewat, memborongnya segelas besar, segelas kecil, beberapa roti. Terakhir, bagaikan oase di padang gurun, petuah dari teman saya itu muncul begitu saja usai mengomentari gambar es tontong yang saya unggah di media android.

Lantas, segaris senyum itu menularkan semangat untuk terus bekerja  dan bersungguh-sungguh. Partikel senyum merupakan hal paling mendasar untuk menularkan semangat kepada siapa saja. Kesungguhan selalu menemukan jalannya. Di samping saya mempercayai pula betapa keajaiban selalu hadir nyata di kehidupan kita. Racikannya sedernana; percaya dan bersungguh-sungguh.

Saya teringat dengan pepatah masa kecil dulu, “Where is the will, there is a way.” – Dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Sejak dulu, saya ingin menambahkannya, “Kalau sudah ada jalan, maka harus mau!”

Betapa menguatkannya harapan itu ketika dituntaskan di tengah-tengah momen nyaris kehilangan harapan. Dan itulah sebenar-benar semangat. Di kala nyaris terjatuh, masih ada kekuatan untuk terus bangkit dan membuahkan hasil. Manis. Teramat manis. Dan karenanya, saya siap menantang seminar proposal skripsi pekan depan… ^_^

Ini juga dikerjakan di sela-sela menunggu. (Doodle by ImR)

Dan kenyataan paling membuat saya terharu adalah; saya belum mandi sejak pagi “menunggu” tersebut hingga jelang petang bolak-balik memenuhi pertaruhan tanda tangan itu. Hahaha…apalah arti mandi. Yang terpenting itu…ada disini. *nunjuk dada.


--Imam Rahmanto--

Senin, 03 November 2014

21# Bukan Perkara Tempat

November 03, 2014
Usai saya menerima revisi dari pembimbing dan mendiskusikannya dengan pembimbing lainnya, ada jeda yang menyela proses penulisan saya berikutnya. Pembimbing saya benar-benar menepati janjinya. Alibinya, “tidak-menemukan-tempat-yang-cocok” mengerjakan proposal.

“Kerjakan di kamar kost?”

“Aduh, kalau di kamar kost, saya tidak bisa fokus. Ada perasaan selalu mau tertidur, karena suasananya yang benar-benar cocok untuk menyendiri dan mengantuk. Yah, selain karena sumpek juga sih,” pikiran-pikiran saya menjawab sekenanya.

“Kerjakan saja di kamar kost teman, atau di rumah teman,”

“Aduh. Saya justru lebih senang berbagi cerita disana,”

“Kalau begitu, bagaimana dengan kampus?”

“Di kampus? Saya memang sudah sering ngampus. Hanya saja, saya menikmati obrolan ringan bersama teman-teman senasib disana. Di samping itu, saya lebih suka mengamati (sembari duduk-duduk menunggu) di selasar kampus. Oiya, sambil nge-doodle,”  

“Kerjakan di perpustakaan? Ada banyak referensi buku loh”

“Hm..waktu yang disediakan disana terbatas, dari jam buka sampai jam tutup. Apalagi disana tidak punya terminal listrik yang memadai. Emm…disana saya juga lebih tergoda membuka-buka novel dan sastra,”

“Kalau di redaksi? Dilengkapi jaringan internet sebagai referensi pula,”

“Terlalu ramai. Malah tidak bisa fokus. Sedikit-sedikit dapat gangguan. Sedikit-sedikit menarik perhatian. Sedikit-sedikit menjelajahi dunia maya tak henti. Selalu ada godaan bercengkerama dan berdiskusi disana,”

“Di Coffee Shop atau kafe langganan?”

“Hm…agak meragukan. Dulu, saya menyelesaikan proposal-skripsi di kafe dekat-dekat redaksi. Namun, di momen-momen hari berikutnya, saya justru lebih banyak membuang waktu, tanpa memulai mengerjakan perbaikan proposal tersebut. Nyatanya lebih banyak menguras kantong juga, kan? Saya lebih suka menikmati “reading-time” atau “lonely-time” disana. Hehe…”

“Jadi??”

Berdebat tanpa berbuat justru akan semakin menghabiskan waktu yang berguna untuk bertindak. Sebaiknya, memulai yang perlu dimulai. Bagi saya, mencari-cari alasan termasuk salah satu perkara paling mudah setelah urutan ”mencari-cari kesalahan orang lain”. Lazimnya, saya memang terlalu bodoh untuk mencari-cari alasan atas kemalasan yang selalu berkumpul di sekeliling saya.

Akhirnya saya sadar, tempat yang paling baik mengerjakan sesuatu bukan tempat yang mahal, sepi, sejuk, berpemandangan menarik, hingga berfasilitas lengkap. Tempat yang paling nyaman, sejatinya, ada di dalam hati dan pikiran saya. Kalau pikiran mampu ditata dengan baik, apa pun akan dikerjakan dengan sepenuh hati. Karena tempat yang dirindukan ada di dalam diri sendiri…


***

“Jadi, bagaimana?”

Saya tanpa sengaja bertemu dengan pembimbing di jurusan. Seperti yang sudah saya katakan, ia mengenali saya.

“Emm…saya sudah ketemu dengan beliau kemarin, Bu. Dan memang ada seikit perbaikan di judulnya, dan beberapa masukan atas proposal saya. Tapi selebihnya, tidak mengubah isinya. Saya juga sudah memperbaiki proposal saya, Bu,”

Saya menyorongkan lembaran draft proposal yang baru dicetak pagi sebelumnya. Lembaran yang dituai dari mempertahankan kantuk semalaman sembari bernyanyi keras-keras sendirian – berbekal earphone - di redaksi. Saya memaksa diri mengerjakannya di redaksi. Lembaran yang harus diselesaikan demi menekan angka kemalasan saya, dan mengebut skripsi. Lembaran yang sempat terancam gagal-setor akibat charger laptop yang rusak di sepertiga malam, dan membuat saya harus memaki-maki di dunia maya. #fiuhh

“Hmm..” gumam pembimbing melihat sekilas judul yang sebelumnya telah ia permak habis.

Tak lupa saya melampirkan draft proposal sebelumnya yang penuh dengan coretan tangannya + coretan tangan pembimbing satunya lagi.

“Bagaimana dengan instrumennya?” tanyanya kemudian, menyerahkan kembali proposal itu.

Sekadar catatan, instrumen adalah kelengkapan bahan yang akan digunakan dalam proses penelitian. Untuk penelitian saya, instrumennya berupa pedoman wawancara dan angket.

Dengan jawaban yang telah dipersiapkan sebelumnya, saya menjwabnya biasa-biasa saja. Perihal instrumen, saya sebenarnya belum menyelesaikannya. Namun di depan pembimbing, saya bersikap seolah-olah telah menyelesaikannya. Nah, ini dia keterampilan ala jurnalis dipakai.

“Apalagi, instrumen itu baru divalidasi usai seminar nanti, kan, Bu?” saya meyakinkannya.

“Ya.. Kalau begitu kau mendaftar mi saja dulu seminar. Maju lah,” sarannya, “Mana persetujuanmu untuk saya tanda tangani?”

Saya sumringah. Kata-kata “majulah” terngiang-ngiang di kepala saya. Padahal, saya menyangka akan mengalami sekali lagi perbaikan sebelum disetujui mengikuti seminar proposal. Pun, tujuan saya ke kampus mulanya hanya untuk menyetorkan perbaikan draft proposal yang saya kerjakan semalaman itu. Tanpa dinyana, saya justru didorong lebih maju.

Akh, manis sekali! Tahap yang semakin manis ketika bisa diselesaikan dengan baik. Usaha keras memang tak pernah sia-sia. Seperti kata lagu, semua akan indah pada waktunya. Syalalalala….

“Emm…… saya belum print, Bu,”

#nahloh??


--Imam Rahmanto--