Selasa, 07 Oktober 2014

Pilihan

“Memilih, memang selalu menyulitkan. Namun, mempertahankan pilihan itulah yang jauh lebih sulit”

Banyak hal yang semestinya menjadi pertimbangan dalam menjalani hidup. Bapak saya, orang yang selalu keras terhadap anak-anaknya, selalu mengatakan hal itu. Bahwa memilih, apa pun, harus memikirkan garis masa depan. Segala sesuatu punya resiko. Segalanya punya dampak. Segalanya punya musabab dan tantangan. Ada aksi, ada reaksi.

“Yah, terserah awakmu lah, Mam. Kalau menurutmu itu bagus, dan bisa kamu jalani,” petuah Bapak di tengah-tengah kami menonton tivi. Ia berbaring di samping saya. Saban hari, ia hanya tergolek disana gara-gara penyakit yang setahun belakangan ini menghinggapinya, paraplegia.

“Tapi, Pa’e cuma bisa kasih pertimbangan. Kalau itu…” lanjutnya lagi.

Segala kebimbangan yang dirasakan dipaparkannya satu demi satu. Pilihan tak langsung lantas ditawarkannya, sebagaimana kebanyakan orang tua yang menginginkan anaknya jadi Pe-En-Es. Mungkin, dalam hatinya, ia berahrap anaknya bisa menjadi pegawai pemerintahan resmi. Punya dana pensiun yang jelas. Punya pakaian dinas yang membanggakan. Akan tetapi, sebagaimana saya, tak seperti kabanyakan teman lainnya, tak berkeinginan menjadi Pe-En-Es.

Saya selalu menemukan, sebagian orang yang tertelungkup dalam pilihan-pilihannya. Pilihan-pilihan yang mungkin dasarnya diambil, namun bukan pilihannya. Pilihan yang di kemudian hari dijalaninya, namun tak dihidupinya. Pilihan yang kemudian menelikungnya pada beragam penyesalan, dan menguak pintu-pintu masa lalu. Apa benar penyesalan selalu datang belakangan, dengan warna-warni kata “seandainya”?

“Asalkan kamu bisa njalani, ya rapopo. Setiap orang tua cuma kepengen anak-anaknya hidup lebih baik dari apa yang diusahakannya,”

Saya tidak banyak menyelanya. Ketika pilihan dan argumennya sudah disampaikan, yang tersisa adalah sekadar membuktikannya. Saya tak tertarik lagi mendebat Bapak saya dengan hal-hal yang belum dilihatnya sendiri. Tak peduli seberapa unbelieveable-nya Bapak kepada anaknya, saya memakluminya, mengingat ada banyak kejadian yang menimpa kami setahun belakangan ini. Tidak terkecuali, hal-hal paling nekat yang pernah dilakukan anaknya sendiri.

“Saya hanya butuh kepercayaan,” gumam saya dalam hati, “dan Deadline…”

Dan saya bersyukur, segala hal yang perlu dijalani, adalah pilihan dasar yang bisa saya pertahankan. Sejauh apapun hidup dan pengalaman itu akan menggerus titik nadir, pilihan masih tetap ada di tangan sendiri. Karena hidup, kelak, akan tiba masanya perlu dijalani sendiri(an)…

"Kita dapat menjadi orang yang merasa tidak beruntung karena lahir di tengah-tengah keluarga miskin, bermimpi ketiban rezeki semacam "durian runtuh" agar bisa membeli benda-benda idaman, atau membayangkan hal-hal lain yang menggiurkan seperti nasib baik anak-anak orang kaya. Tapi, kita juga dapat memilih menjalani hidup dengan wajar dan penuh keriangan, berusaha membantu orang tua sedapat mungkin, meraih segala yang didamba dengan keringat sendiri, dan tetap antusias memandang masa depan." -- Sepatu Dahlan, Khrisna Pabhicara


--Imam Rahmanto--

2 komentar:

  1. Oh, jadi ayahmu pengen kamu jadi Pe-En-Es? Kamu enggak sendirian, Mam. Ada banyak temenku di sini yang juga didorong orang tuanya jadi PE-En-Es, padahal mereka punya cita-cita sendiri. Solusinya sih mereka minta waktu pembuktian..

    BalasHapus
  2. @Dian Kurniati Yapp...waktu pembuktian. #merenung daleeem banget

    BalasHapus