Selasa, 28 Oktober 2014

Ngedoodle dan Ketekunan

Hari ini, bertepatan dengan berpulangnya salah seorang seniman kawakan Sulsel, Asdar Muis. Dunia seni, sastra, dan budaya lagi-lagi harus berduka karena kehilangan seorang maestronya. Semoga Tuhan menghadiahkan amalan terbaik untuknya. Aminn.

Saya mendapat tantangan untuk menulis postingan perihal "kesenian" dari seorang teman Bimo Aji Widyantoro. Tantangan Blogbucket ini digelar dalam rangka memperingati #SewinduAM Blogger Angingmammiri. Tentang kesenian itu, bukan suatu kebetulan saya sedang menjajarinya (iseng) belakangan ini. Merupa-rupa dan membuka alur baru untuk otak kanan saya.

***

Surat kabar di pagi hari. (Foto: ImamR)

Saya kini punya kebiasaan baru. Doodling. Disebut doodle art. Salah satu seni menggambar ala anak kecil, dengan beberapa objek yang tak jelas, dan cenderung bermakna abstrak. Di masyarakat umum, gambar doodle juga lebih banyak dipakai untuk mural, yakni menggambar atau menghiasi dinding dengan lukisan-lukisan abstrak.

Doodle Art sendiri adalah suatu gaya menggambar dengan cara mencoret, terlihat abstract, ada yang tidak bermakna juga ada yang bermakna, terkadang karya yang dihasilkan tidak memiliki bentuk yang benar namun terlihat unik dan menarik. --Desain Art Studio--

Nge-doodle lebih banyak saya lakukan di tengah pekerjaan menunggu, terutama menunggu dosen. Apalagi di masa-masa saya sekarang, akan lebih banyak menghabiskan waktu menunggu dosen demi proses bimbingan dan konsultasi calon-skripsi. Selain itu, saya juga kerap kali menggambar doodle di kala mengisi waktu yang membosankan alias tak ada kerjaan.

Kebiasaan baru ini dimulai semenjak tiga mingguan yang lalu. Seorang teman memperkenalkannya, meskipun sebenarnya saya sudah seringkali mendengar istilah doodle. Di sela-sela tak ada kerjaan, saya mencoba mencorat-coret blocknote yang biasanya saya ramaikan dengan catatan tangan wawancara. Satu-dua gambar berhasil diselesaikan dengan nasib mengenaskan. Amatir.

Mungkin melihat gambar yang mengenaskan itu, seorang teman iba dan menghadiahkan sebuah pena gambar (drawing pen) pada saya dan seorang teman lainnya. Pemberian yang sederhana sih, tapi mampu mendorong rasa tanggung jawab saya untuk menghabiskan tintanya sesegera mungkin. #ehh

“Saya cukup senang menghadiahi orang lain dengan begituan. Anggap saja supaya lebih bersemangat ngedoodle-nya,” kata teman yang memang jago menggambar abstrak itu.

Saya mengenalnya lebih dari  sebulan yang lalu, sebagai orang yang sangat-teramat fanatik dengan salah seorang teman saya lainnya. Yah, bisa dibilang penggemar rahasianya teman saya.

Dimulailah perjalanan saya, hari demi hari, menghabiskan tinta “mahal” itu.

Tak ada kertas, kotak makanan pun jadi. (Foto: ImamR)
Lagi malas nunggu panitia. (Foto: ImamR)
Ada saya dan Cappuccino itu... (Foto: ImamR)

Amplop pun jadi "korban" latihan saya. (Foto: ImamR)

Isinya.... (Foto: ImamR)

Untuk setiap orang yang membutuhkannya. (Foto: ImamR)

Di masa saya masih imut-imutnya dulu, sekolah dasar, saya memang anak yang paling suka menggambar. Yah, meskipun saya menggambar asal-asalan saja. Atau gambar saya paling bagus hanya terbatas pada pemandangan lengkungan dua gunung, dengan jalanan yang berpangkal perspektif di sela-selanya. Di kiri-kanan jalanan itu ada pematang sawah dan rumah-rumah penduduk. Biasanya ditambahi dengan anak-anak yang bermain layangan. Padinya, ya, yang bergambar huruf V dan ditambahi garis vertikal tepat di tengahnya.

Saya paling senang pula mencontohi gambar tokoh-tokoh kartun favorit saya kala itu. Ada Son Goku (Dragon Ball), Doraemon, Crayon Sinchan, dan termasuk juga tokoh-tokoh tokusatsu Jepang; Power Ranger dan Ultraman. Biasanya sih gambar-gambar itu cenderung satu gaya, sesuai dengan gambar contohnya. Saya mengulang-ulanginya sampai hafal di luar kepala. 

Alhasil, kalau sekarang saya disuruh menggambarnya, saya hanya akan ingat gambar Son Goku dengan pose kacak pinggang sembari mengeluarkan kekuatan Super Saiya-nya. Paling tidak, keahlian seni ini saya manfaatkan untuk bisa lebih dekat dengan anak-anak, sebagaimana saya menyenanginya.

***

Saya mempelajari bahwa bakat tidak sekadar “bawaan lahir”. Setiap orang lahir dengan suci, tanpa tahu apa-apa. Lingkungan lah yang kemudian membentuknya menjadi orang dengan keahlian-keahlian tertentu, khususnya keluarga. Wajar jika ada anak yang peka dengan segala aransemen musik, dikarenakan ia dibesarkan dari keluarga yang selalu bermusik. Ada anak yang pandai menggambar, karena orang tuanya senang membawanya atau memperlihatkan lukisan padanya. Ada anak yang senang berbicara, mungkin karena orang tuanya senang berdiskusi apa saja dengannya. Jadi, ini bukan perkara “bawaan-lahir’ seutuhnya, kebiasaan yang berpola.

“Bakat dapat membawamu begitu jauh, tapi kerja keras dapat membawamu kemana saja,” –Hiruma, Eyeshield 21--

Ketekunan selalu nomor satu. Alah bisa karena biasa. Keahlian seni apapun bisa dipelajari. Asalkan konsisten dalam berbuat dan merumuskannya. Tidak sekadar omongan, “Akh, saya juga bisa,” atau “Saya juga mau...”

Ada banyak orang yang paham tentang sesuatu, tapi hanya sebagian yang mau melakukannya, bahkan hanya untuk sekadar mencoba. Mungkin, di luar sana, ada banyak orang bertalenta musik. Namun hanya sedikit yang mau menjalaninya. Ada banyak orang yang pandai menulis, namun hanya sedikit yang mau menuliskannya. Semua, tergantung pula dari passion yang hendak dilakoni setiap orang.

Namun, paling tidak, saya akhirnya punya satu keahlian (iseng) seni baru. Hahahaha!


--Imam Rahmanto--

2 komentar:

  1. huuuukkk "fanatik"..bisa kata itu diganti atau bagian cerita soal fanatik dihilngkan saja..hihihi merusak citra tulisanmu,,,

    BalasHapus
  2. @o hara kireina Ah, ogah ah... Nulis, saya yang nulis... :P

    BalasHapus