Kamis, 09 Oktober 2014

Gerhana Rindu

#Karena beberapa teman menebak-nebak bahwa saya akan menuliskan perihal gerhana kemarin, maka saya akan sedikit mengabulkan permintaan mereka. :)


Foto yang diambil salah seorang teman saya dari atas atap.
(Foto: Fajrianto)
Semalam, saya melihat gerhana bulan untuk pertama kalinya. Entahlah kalau di usia saya yang masih-muda-karena-masih-berstatus-mahasiswa, pernah terjadi gerhana serupa. Hanya saja, perdana, saya bisa menyaksikan blood moon itu dari atas atap redaksi kami.

Bulan yang terlihat jelas di langit kota Makassar, dimulai sejak matahari terbenam. Cukup langka, karena dianggap sebagai full lunar eclipse yang hanya terjadi di Indonesia. Walaupun begitu, tidak semua orang di Indonesia bisa menyaksikannya. Seperti di beberapa kota besar, termasuk Jakarta, kata berita-berita di media, bulan tidak bisa terlihat karena tertutup awan. Kesempatan bagi Kota Daeng menjelajahi penampakan gerhana.

Lantas, saya berpikir. Jika semalam adalah purnama, apakah waktu Idul Adha yang jatuh di hari Sabtu adalah sudah benar? Sementara yang berlangsung di hari Minggu, mengalami sedikit kesalahan prediksi (atas sidang isbat)? Karena setahu saya pun, purnama memang selalu jatuh di pertengahan bulan (dalam hal ini, hari ke-15) dalam tarikh hijriah. #thinkagain Sekadara catatan, saya berlebaran di hari Sabtu.

Saya tidak sendirian. Berselang menit, beberapa teman lainnya menyusul. Berjejer segaris di puncak atap, menghadap tepat ke arah timur, dimana bulan nyaris kehilangan cahayanya. Lalu lalang kendaraan di bawah sana tak henti-hentinya menyeruakkan suara tentang gerhana yang disebut media sebagai gerhana langka.

Atap redaksi kami tidak cukup sulit untuk dipanjat. Sebenarnya, siapa pun bisa memanjat. Hanya butuh sedikit keberanian merangkak di sisi rangka atap dan melangkah agak ke pinggir diantara tulang-tulang gentengnya. Apalagi dinding depannya tidak sampai dua meter tingginya membatasi lahan kosong di sebelahnya, arah utara. Berseberangan dengan masjid kompleks.

“Seandainya kita tidak di kota, minimal di perkampungan, pasti melihat bulannya lebih keren,” saya menyaksikan bulan yang tampak seperti bola pimpong. Kemerah-merahan.

“Wah, seperti di tempat KKN saya, di rumahnya Pak Kepala Desa, keren sekali melihat langit malam. Waktu supermoon tempo hari, keren sekali,” tanggap teman saya, yang baru sebulan lalu meninggalkan lokasi KKN-nya. Bagaimanapun, kehidupan KKN selalu berpengaruh bagi sebagian kehidupan mental dan ingatan setiap mahasiswa.

Diantara teman-teman yang sedang mengabadikan gambar bulan (dan berlomba-lomba membaginnya di social media) saya memutar ingatan ke belakang. Masa kemarin  tiba-tiba melintas di benak saya. Di waktu saya juga sedang perhatiannya dengan langit malam. Kala saya menghabiskan waktu hampir tiga bulan lamanya, mengabdi di kampung orang.

Saya ingat, betapa Pak Haji, pemilik rumah yang kami bai’at sebagai posko, selalu mengingatkan kami dari bawah rumah untuk memeriksa air di dalam tangki besar di atas loteng rumahnya.

“Sudah penuh atau belum?” teriaknya dari bawah jika air sudah terdengar meluap dari dalam tangki.

“Sudah, Pak Haji!” salah satu dari kami biasa meneriakkannya jika malas melangkah turun, mematikan pompa air.

Kami bermukim di lantai dua, selantai dengan loteng Pak Haji yang luasnya hanya sekira 2x2 meter persegi. Di loteng itu, yang ada tangki besarnya, tempat kami bergantian mencuci pakaian, sekaligus menjemurnya.

Di sebelah tangki, ada palang kayu yang cukup kokoh untuk jadi dudukan. Di depannya, dibatasi oleh pagar beton setinggi dada orang dewasa. Nah, di atas palang kayu itu lah, saya senang menghabiskan waktu sore menyaksikan matahari terbenam. Senja yang dibatasi atap-atap rumah penduduk kompleks. Senja yang sesekali mengingatkan warnanya yang berpendar dalam komposisi resolusi warna serupa; merah. Sesekali, ekor mata tak lepas memandang ke arah lain.

Jikalau langit mulai menggelap, saya sesekali masih duduk di palang kayu itu. Tergantung dari arah mana bulan akan muncul. Sering kali saya lebih memilih tidur-tiduran di lantai loteng dengan wajah menghadap ke atas langit. Berbekal karpet pinjaman. Di saat teman-teman lain mempertaruhkan permainan kartu bridge-nya, saya justru menghitung perkara bintang di langit. Merenung. Kalau beruntung, menjumpai bulan yang sedang terang benderang oleh purnamanya.

Kebiasaan saya menyaksikan langit malam dari tempat-tempat yang tinggi, mungkin saja bermula dari sana. Redaksi kami, rumah terpojok kompleks perumahan, punya atap yang cukup tinggi untuk ditongkrongi. Meskipun cahaya lampu jalanan memolusikan pendar cahaya bintang di langit, bulan cukup keren untuk dipandangi dari ketinggian itu. Seperti saat kami memandangi gerhana bulan, bersama-sama, kemarin.

Senja yang saya dapati di tengah perjalanan ke Makassar, di Maros, sehari sebelum full lunar eclipse semalam. Matahari yang bersitatap langsung dengan bulan di ufuk timur sana. (Foto: ImamR)

***

“Kenapa gerhana bulan kali ini warnanya kelihatan agak merah?”

“Karena bulan menyimpan kerinduannya yang penuh luka pada matahari. Matahari yang bersinar di kala siang, tak pernah tahu. Ia hanya melihat bulan putih, sepolos langit siang. Namun ketika malam menjelang, dan matahari menghilang, bulan baru memperlihatkan kemuramannya yang berdarah-darah.”

“Jadi, matahari tak pernah tahu bulan merindukannya, penuh luka?”

“Ya. Beberapa hari jelang gerhana, mereka hanya bersitatap dari jauh. Tak ada yang aneh dari bulan, di sisi penglihatan matahari yang akan membenamkan senja.” 

“Lantas, bagaimana dengan purnama, yang justru menampakkan benderang kebahagiaannya?”

“Hm…ya seperti itulah. Bulan hanya menunjukkan kesedihannya, yang tak tertanggung, dua kali setahun. Di malam-malam berikutnya, ia hanya akan menunjukkan wajah riangnya dengan bersinar terang di kala purnama. Sisa-sisa cahaya dari matahari itu didekapnya hingga fajar menjelang. Tapi, tahukah kau, cahaya itu tampak sendu.”

“Kenapa tampak sendu?” 

“Karena, lewat ruang dan waktu, ia banyak memendam rindu…”


--Imam Rahmanto--


[Update]:
Seorang teman mengirimkan gambar doodle-nya, yang katanya terinspirasi dari tulisan-random ini. Duh, betapa berharganya setiap karya yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Yah, meskipun atap redaksi dan bangunan di sekitarnya tidak "semegah" itu. Hehehe... Overall, nice doodle. :)

Terima kasih buat Kak @Meylancholia yang mengirimkan gambar
doodle-nya pagi ini. Kerenn!! (Doodle by Meylacholia

4 komentar:

  1. Ahaaaaiiii....gerhana rindu dan syaa rindu tukang potonyaa

    BalasHapus
  2. @o hara kireinaBanyak tukang fotonya, Kak. Termasuk juga saya... :P

    BalasHapus
  3. Oh, keren banget.. Di Semarang bulannya baru keliahatan di menit-menit terakhir, dan aku kelewatan lihatnya.. -_-

    BalasHapus
  4. @Dian KurniatiKalau di Makassar emang yang termasuk ngeliat jelas bulannya, menurut para pakarnya. *baca di berita juga

    BalasHapus