Sabtu, 11 Oktober 2014

Dimana Deadline Dimulai

*Lanjutan dari postingan sebelumnya; Disinilah Kami Berulah

#PERINGATAN!! Membaca tulisan ini akan "membuang" waktumu lebih lama dari biasanya. Bersabarlah! Semoga.

***

Terjun ke lapangan. Kata-kata itu menjadi tema utama di tengah pelatihan jurnalistik yang kami ikuti. Para panitia yang sedari awal hanya kami pandang sekilas berseliweran di sekeliling ruangan pelatihan, memberikan bocoran tentang agenda beberapa jam selanjutnya.

“Jadi, kalian akan diterjunkan langsung ke lapangan,” ujar salah satunya.

“Tugas kalian, mencari sisi menarik dari tempat yang kalian kunjungi, temui narasumber-narasumber, olah menjadi berita, dan siap dituliskan. Ingat, cara membuat berita, sebagaimana yang telah diajarkan beberapa pemateri sebelumnya,” papar salah seorang diantaranya lagi, di sela-sela waktu lowong menanti agenda berikutnya.

Yeah! Hal seperti ini yang ditunggu-tunggu. Setelah kami dibagi dalam beberapa kelompok besar, beranggotakan 8-10 orang, kami diantar dengan bus kampus menuju “lapangan”. Bedanya dengan “lapangan” secara harfiah, dan menjadi tantangan tersendiri bagi kami, waktu peliputan justru dilakukan tepat pukul 12 malam. Pun, lokasinya mengambil tempat yang tak-lazim; area hiburan malam.

Kalau kata orang, lokasi-lokasi di sepanjang Jalan Nusantara itu merupakan tempat mangkal para pekerja-pekerja malam yang nekat menajajakan birahinya. Disana, ada banyak bangunan hiburan malam yang baru buka di waktu jelang dini hari. Gemerlap lampu begitu menggoda setiap lelaki yang melintas di sepanjang jalan pelabuhan itu, termasuk kami. Padahal, di siang harinya, bangunan-bangunan yang berjejer itu tak menunjukkan aktivitas apa-apa. Pintu tertutup rapat. Sunyi. Senyap.

Seperti yang dioceritakan, sisi lain gemerlap kota Makassar baru bisa disaksikan lewat tengah malam, disini, lokasi yang akan menjadi “lapangan” perdana kami.

Sebagai orang yang baru setahun hidup di kota Makassar, sebagian besar dari kami, para peserta pelatihan cukup terhenyak dengan lokasi peliputan ini. Berkeliaran lewat tengah malam, di lokalisasi seperti ini membuat jantung kami berdegup was-was.

“Jangan-jangan, ada preman yang akan menodong,” pikiran-pikiran yang tak lepas berkelebat.

Akan tetapi, diiringi pula dengan pikiran-pikiran "mesum" lainnya, “Mudah-mudahan ada salah satu ‘cewek’ yang menghampiri dan menggodai kami. Asal bukan yang jadi-jadian,” Hahaha...

Atau ngarep menyaksikan “perempuan-perempuan” seksi itu dari jauh, berbusana mini, melanggang masuk ke tempat-tempat yang menawarkan cahaya lampu yang berdentum. Tapi, pikiran-pikiran semacam itu cukup disembunyikan saja di benak masing-masing (laki-laki). Hahaha…

Intinya, kami, para calon jurnalis kampus, sudah diberi tugas. Sudah kewajban menjalankan tugas itu dengan tenggat waktu sejam semenjak diturunkan dari bus.

Sesuai kelompok, kami harus berpencar berpasangan untuk mencari narasumber. Kami diberi kebebasan untuk menentukan narasumber, asalkan tetap menyesuaikan dengan tema yang bakal kami angkat. Yah, kami mengakali pula denga mencari narasumber yang lebih mudah “dirangkul”, semisal pedagang-pedagang asongan non-stop-24-jam di sepanjang jalan tersebut. Untuk lebih meningkatkan sisi humanis cerita, kami mencari pedagang yang sudah nampak kelihatan tua. #ngeles

Akan tetapi, ada pula teman lainnya yang memilih pekerjaan “menantang”. Mereka mendatangi para bodyguard yang menjaga pintu-pintu masuk tempat hiburan. Mengobrol sebentar dengan mereka. Sok-sok minta api untuk merokok. Sedikit-sedikit, kalau boleh, diperbolehkan melihat sekilas gemerlap ruangan yang sedang berdentum memekakkan telinga.

Dalam rentang sejam, proses praktek lapangan kami harus diakhiri. Ada napas lega. Ada napas terburu. Berharap bisa kembali beristirahat sekadar merebahkan pantat di kursi empuk ruang pelatihan.

Namun, lagi, itu di luar prediksi kami. Kami dipaksa mengorbankan waktu tidur semalam suntuk demi menyelesaikan karya buletin masing-masing kelompok. Seperti media pada umumnya, usai proses peliputan, kami dituntut menuangkannya dalam sebuah buletin. Kami mesti berpikir seolah-olah bahwa kami adalah media massa lazimnya di kota. Oleh karena itu, deadline mulai ditegakkan!

“Oke, apa nama yang bagus untuk media kita?” tutur salah seorang diantara kami.

Tik…tok…beberapa menit berlalu.

Kami berpikir satu-satu. Melontarkan ide bergantian. Alhasil, nama Jurnal6 terpilih sebagai nama buletin kami. Mengapa Jurnal6? Seingat saya, itu merupakan penyingkatan dari istilah “jurnalistik kelompok 6”, yang beranggotakan: akh, saya lupa!! -___-"

***

Mengingat-ingat kembali masa deadline dadakan itu, membawa saya pada beberapa keseruan yang cukup saya nikmati. Apalagi DJMTD angkatan kami merupakan angkatan terakhir yang mewajibkan mesin ketik sebagai alat utamanya. Di tahun-tahun berikutnya, peserta sudah diperbolehkan mengetik via aplikasi Microsoft Word dan mencetaknya pada printer-printer yang disediakan panitia.

Sebelum mengikuti pelatihan, saya harus mencari mesin ketik kesana-kemari. Lazimnya di fakultas kami, mesin ketik biasanya menjadi perkara wajib bagi mahasiswa yang gemar menulis laporan. Menurut kabar, mahasiswa di jurusan Kimia diwajibkan membuat banyak makalah atau laporan dengan ketikan manual. Jadilah saya meminjam mesin ketik dari sana. Hahahaha…

Meskipun berat, namun mengetik “manual” semacam itu memberikan pengalaman tersendiri bagi kami. Hanya bunyi ketukan logam yang terdengar di malam menjelang pagi itu. Tik! Tik! Tik! Terkadang dalam tempo yang lambat, tak jarang pula dalam tempo yang dipercepat, tergantung dari empunya mesin ketik. Kalau kelelahan, ada cemilan yang disediakan panitia di masing-masing “meja kerja” kelompok. Hm…saya merasa diperlakukan dengan baik oleh panitia. Jarang-jarang loh ya saya begadang ditemani secangkir kopi atau susu (atau mix), roti, dan teman-teman yang tekun dengan pekerjaannya masing-masing.

Sebagian dari kami memangkas waktu dengan menuliskan apa saja di atas kertas. Pasalnya, mesin ketik yang tersedia tidak sebanyak jumlah anggota kami. Tenggat waktu yang disediakan hanya sampai pukul enam pagi. Sleepless. Asli, tanpa tidur. Mau tak mau, bagi mereka yang tak tahan begadang, sebisa mungkin mencuri-curi waktu untuk terlelap di antara jejeran meja, sembari menyembunyikan diri dari kerlingan mata panitia.

Begadang sudah menjadi kebiasaan saya semenjak menjejak bangku kuliah. Bahkan, di kalangan mahasiswa beredar mitos, “Kalau tidurnya di bawah jam 12 malam, berarti bukan mahasiswa.” Namun,  bagi saya, hal itu sebenarnya bukan gurauan semata. Karena pada dasarnya, setiap mahasiswa memang dituntut mampu memanajemen waktu yang dimilikinya.

Bocoran bagi mahasiswa baru, kuliah amat berbeda dengan waktu pendidikan sekolah dulu. Di masa kuliah, banyak tugas menumpuk. Semuanya serba laporan-makalah-presentasi sekaligus kerja kelompok. Kalau di masa sekolah, pekerjaan rumah hanya sebatas 5-10 nomor. Maka di waktu kuliah, tugas yang menumpuk itu, tidak dibatasi urutan angka, melainkan dibatasi per lembar HVS yang siap disalin atau di-copypaste. Nah, hal semacam itu sedikitnya akan memberikan penegasan, “Mahasiswa memang harus mampu terjaga hingga tugasnya terselesaikan!” 

Kondisi deadline dadakan itu diperparah dengan padamnya penerangan di dalam ruangan. Panitia sengaja memadamkan lampu dan menggantikannya dengan lilin di setiap meja kelompok. Ala-ala candle light dinner writing!

“Agar kalian lebih memahami bagaimana kesulitan para jurnalis tempo dulu dalam memperjuangkan kebenaran. Selain itu, hal-hal seperti ini akan memaksa kalian beradaptasi,” kata salah seorang panitia senior di depan kami, para peserta.

Yah, kami harus beradaptasi. Harus! *sambil mata mengerjap-ngerjap. Kelelahan.

Suatu pagi, di kala kami menyelesaikan runutan pelatihan di lokasi terakhir. (Dok. Profesi)

***

Apa yang saya jalani kini adalah sebagian perjalanan alur saya di dunia jurnalistik. Pilihan saya akan dunia asing yang satu ini, menunjukkan pilihan-pilihan yang harus saya putuskan sendiri. Sama halnya ketika saya harus merelakan side-job sebagai gurui les privat, mengorbankan label “asisten” di jurusan saya, dan mengucapkan selamat tinggal untuk organisasi himpunan jurusan yang juga pernah membelajarkan. Pun, organisasi daerah tak pernah lagi sekadar mendapat tempat di hati saya.

Bukannya abai. Saya justru menutup segala keruwetan pikiran yang akan menerpa saya di kemudian hari jika memegang terlalu banyak tampuk organisasi. Sejujurnya, saya dulu berpikir bahwa memiliki banyak organisasi dalam waktu bersama merupakan hal terkeren sebagai seorang mahasiswa. Namun seiring waktu, hal itu malah menjadi “bom waktu” yang siap meledak kapan saja, dan mendesak pilihan-pilihan buruk dihadapkan pada kita. Oleh karena itu, sebelum semuanya terlambat, maka kita harus mampu memilih sebelum dipilihkan sendiri.

Saya bangga akan pilihan ini. Ketika, kelak, seseorang bertanya tentang bidang yang ditekuni, secara gamblang saya akan menjawabnya dengan tenang hati.

“Jurusan apa?” seseorang yang bertanya tentang jurusan dan kampus asal.

“Matematika Jurnalistik,” kalau boleh, saya akan menegaskannya demikian.

Potongan tabloid yang mengabadikan setiap konversi-status pengelola, setiap tahun. Betapa membanggakannya muka-
muka ganteng/ centik ini masuk tabloid yang dibaca ribuan mahasiswa. Hehe... (Foto: ImamR)
Pengalaman baru pula bagi kami, menjadi tukang loper koran. Akh, di lembaga pers satu ini, kami diajarkan multitalent.
Mulai dari mencuci piring(?), membersihkan rumah(?), loper koran, melobi, sampai peliputan. (Foto: Jane)
Teman-teman #Ben10 yang hingga kini masih berpegang satu sama lain, yang memendam impian masing-masing, bermula dari pertemuan kami di lembaga pers ini. Kami, bersepuluh, adalah generasi terakhir dari angkatan yang menjalani pelatihan di tahun 2010.

Dimulai dari 80-an peserta, yang tersaring atas keinginan mereka bergabung sepenuhnya di lembaga kuli tinta ini. Hari-hari sebagai pra-magang dan magang berjalan (kode reporter: PR10), kemudian terseleksi oleh aturan intensitas-loyalitas-produktivitas yang ditetapkan redaksi, menyisakan kami; bersepuluh.

Memasuki dunia pers yang asing, dulu, kami tak pernah tahu masa depan kami kelak seperti apa. Kami tak pernah tahu seperti apa deadline-deadline memacu dan mempersatukan kepala kami. Pun, kami tak pernah menyadari seberapa seringnya cacian  atas liputan menyatukan perasaan kami. Secara profesional, kami adalah partner liputan. Secara profesional, kami adalah saudara, sekaligus sahabat, hingga akhir waktu.

Saya, dan teman-teman tak hanya berusaha berjalan beriringan. Berpegangan tangan. Meskipun, satu-dua-tiga-empat orang ada kalanya merasa ingin mengibarkan bendera putih saja. Namun bertahan sampai akhir adalah inti pengalaman kami sebagai seorang jurnalis. Saya menghargai setiap pengalaman yang ditawarkannya.

Sejatinya, kita, mahasiswa akan memperoleh banyak hal dimana pun kita menghabiskan pengalaman bersosialisasi selama mengenyam dunia kampus. Tidak bisa dipungkiri, setiap orang punya passion yang berbeda-beda. Menulis. Memotret. Menyiar. Menari. Menyanyi. Meneliti. Berdakwah. Berpolitik. Menjaga keamanan. Mencintai alam. Bersosialisasi. Mendonorkan darah. Mengantisipasi bencana. Dan lainnya.

Sebagai orang yang tak lagi dianggap anak kecil, sudah sewajarnya menentukan pilihan atas impian-impian yang sedari dulu dibangun. Ingin jadi apa kita kelak? Tidak sekadar lulus dengan IPK cumlaude dan justru menambah-nambahi “pengangguran terpelajar”.

Hidup tidak bisa dijalani hanya dengan mengandalkan otak (kiri). Akan tetapi, hidup membutuhkan keterampilan dan kepekaan (sensitivitas) atas kesulitan orang lain. Dengan demikian, kita akan memahami, mengapa label orang “terbaik” (dalam semua agama) di dunia ini adalah mereka yang paling berguna bagi orang lain. [end]

Merekalah yang terpilih! (dok. Profesi)
Para penggawa UKM se-UNM. (dok facebook)

***

“Untuk apa memberitakan hal-hal buruk, jika hanya menciderai pihak-pihak tertentu?”

“Setiap informasi adalah hak setiap orang, tanpa mengurangi atau menambah-nambahinya, sesuai dengan realita. Karena kita belajar pentingnya kebenaran, dengan bercermin dari kesalahan,”


--Imam Rahmanto-- 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar