Jumat, 17 Oktober 2014

“Celengan Rindu”





Teruntuk Einstein dan Aljabar…

*Tepatnya, harus dilabelkan, angkatan 5.

Hei, sebentuk kerinduan itu muncul lagi seminggu yang lalu. Dan dituntaskan juga seminggu lalu. Saya tak pernah begitu percaya dengan orang-orang yang memilih memendam kerinduannya. Bagi saya, kerinduan itu untuk dituntaskan. Bukan sekadar didiamkan dan dipendam hingga berlarut-larut dan terlupakan.

Ah ya, pernah dengar tentang Celengan Rindu? Tentang lagu yang dinyanyikan seorang penyanyi Indie Fiersa Besari, yang menabung keping-keping rindu dalam celengannya sendiri yang kelak akan dituntaskan dalam setiap momen yang diinginkannya. Berdenting, memecahkan celengan rindunya. Coba, sekali-kali kalian dengarkan dan tuntaskan liriknya. Mungkin, bisa pula menjadi rekomendasi lagu untuk Novi dan Sheila.

Kerinduan itu, antara dipendam dan ditabung, bedakan diferensiasinya. Dipendam, nyaris mendekati pemaknaan ngarep. Sementara ditabung, lebih condong kepada hal-hal yang memang sudah dijanjikan atau dipastikan. Wajar jikalau orang-orang yang gemar memendam rindu hanya akan berbuah tekanan batin. Semacam pilu yang disimpan diam-diam.

Sudahlah, kalian jangan terlalu banyak membahas tentang bahasa-bahasa abstrak demikian. Pun, saya menyampaikan tulisan ini bukan untuk mendebat tentang kerinduan itu? Setiap orang punya definisinya masing-masing. Tapi tak setiap orang mau menerima kebenaran atas definisi itu.

Saya tetap memilih menuntaskannya kepada kalian. Sudah kukatakan, kalian tetap punya one value bagi kehidupan saya, masa lampau atau masa kini. Tak perlu heran ketika saya harus menjawab pertanyaan kalian dengan abstrak,

“Kak, apa hanya gara-gara mau jenguk teman-teman, makanya bela-belain kesini?” tanya salah seorang diantara kalian.

Saya cukup mengiyakan hal itu. Ada banyak hal yang memang tidak bisa kita langsung pahami dalam hidup ini. Sejauh dan sebanyak apapun alasan yang dipaparkan. Terkadang, membiarkan waktu berlalu dan membelajarkan kita adalah cara terbaik untuk memahaminya.

“Karena kalian itu berharga buat saya,” cukup jawaban itu saja yang kalian terima. Oh iya, disertai dengan senyuman paling manis dari saya. :)

Awamnya, agak rikuh juga mendengar hal semacam itu. Mungkin, kesannya agak melankolis begitu ya? #Aku rapopo. Saya cuma menyuarakan apa yang terlintas di kepala saya, sejujur-jujurnya.

Seminggu kemarin, saya bisa tahu bagaimana keadaan kalian yang sesungguhnya. Kecemasan-kecemasan yang sempat menyibak kepala tergantikan dengan rasa syukur. Betapa menyenangkannya menemukan kalian dalam keadaan, ya, baik-baik saja. Masih saja dengan beberapa kekonyolan dan kepolosan yang mengiringi laku  keseharian kalian. Eh, tapi masih juga dengan kisah asmara yang berganti-ganti setiap bulan atau tahunnya. Hahaha…

Serius loh. Melihat informasi-informasi yang tersebar luas di jaringan dunia maya tentang sekolah kalian, mendadak memberatkan kepala saya. Apalagi dengan selentingan orang yang tak habis-habisnya menyalahkan wartawan sebagai penyedia informasi, yang berbuah pencemaran nama baik sekolah kalian. Jelas saja, saya yang punya jalur hidup sebagai kuli tinta ikut “tersulut” bertanya-tanya, “Ada apa?”

“Ada 93 teman kami yang terjangkit penyakit Hepat, Kak,” terang salah seorang diantara kalian melalui pesan BBM-nya.

Ingat loh ya. Wartawan, selaku pewarta atau pengabar informasi, tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas”berita-berita buruk” yang berkembang di kalangan masyarakat. Kabar-kabar semacam itu memang disampaikan dalam kadar kebenarannya, agar orang-orang mengerti dan paham realita yang terjadi.

Akh, saya jadi sungkan dengan profesi kejurnalistikan yang tiba-tiba menjadi “momok” di sekolah kalian. Padahal, profesi sebagai pewarta itu keren loh! :D *di luar gajinya yang mungkin bisa dibilang pas-pasan. Hahaha…

Nah, mendadak kerinduan itu menguat. Saya harus memecahkannya saat itu juga.

Beruntung bagi kita, kalian tidak banyak berubah. Kesehatan kalian membaik. Arfandi, Diana, dan Anna yang sebelumnya, katanya, sempat didapati mengidap gejala-gejala penyakit itu, akhirnya sudah bisa dirawat di rumah masing-masing. Keadaannya cukup baik.

Tak berbeda, ketika saya mengunjungi rumah sakit yang menjadi “penampungan” teman-teman kalian, tak satu pun siswa dari kelas Einstein dan Aljabar ’05 yang dirawat disana. Bahkan, Gadis, yang sebelumnya sempat dua kali bolak-balik dilarikan ke rumah sakit, ternyata sudah dipulangkan ke rumahnya, beberapa jam sebelum kunjungan saya ke ruang Bougenville.

Sumber: cardooo.com
Maaf untuk dua orang lainnya, Saeful dan Anca, yang tidak sempat menjadi area “penjelajahan” kami. Saya tidak punya banyak waktu untuk bercengkerama dengan kalian. Melihat keadaan kalian baik-baik saja itu sudah melegakan. Kabar-kabar tentang kalian yang dirujuk hingga kota Makassar, ternyata hanya isapan jempol belaka.

Duh, melihat kalian bisa tertawa-tawa dan bercanda lagi adalah sebuah momen yang direkam kepala saya. Ketika melihat selintas kekinian itu di wajah-wajah kalian, terlintas pula beberapa potongan adegan-adegan di dalam kelas setahun silam.

“Deh, Kak Imam ma’do lagi,” kata kalian sewaktu-waktu.

Jika sudah begitu, saya ingin menjitak kepala kalian satu per satu. -_-“

***

Terima kasih untuk keempat orang yang selalu siaga menjadi guide untuk keliling-kelilingnya, tanpa perlu banyak komando. Imce, Lisa, Ifa, dan Ayu (yang tetapi banyak bicara) serta Yaya, bersama-sama mengunjungi satu-satu rumah para “korban” penyakit itu. Terima kasih pula, di depan sekolah, atas sambutan hangat kalian yang masih dirindukan. Saya menemukan perbedaan yang mulai terbagi kadarnya pada diri kalian.

Seperti Ade, yang sudah mulai agak kurusan. Kabarnya, setiap petang, Ade jogging demi menurunkan berat badannya. Ia juga menambahinya dengan olahraga berenang. Alhasil, Ade, kamu agak kurusan! Selamat! Semoga benar-benar bisa mencapai mimpinya, sebagai Putri Indonesia ya! :D

Informasi-informasi berharga lainnya masih terbaik dari kelas kalian. Seperti perihal Arfandi yang menduduki jabatan keren; Ketua OSIS, dengan wakilnya dari kelas sebelah, Maman. Saya ingat betul, Maman yang terlalu membagi fokusnya pada banyak hal. Yaya juga menduduki jabatan pengelola intinya, Sekretaris ya kalau tidak salah?.Si Hera yang jadi Ketua Aspuri. Wah! Ternyata anak bapak keren-keren! #sok tua

Informasi-informasi kepo lainnya, terlepas dari kisah asmara di kelas kalian. Saya agak risih (dan ingin tertawa sendiri) mendengar tentang siapa-pacarnya-siapa diantara kalian. Seolah-olah ingin membandingkan dan memaklumatkan bahwa “saya sudah punya pacar”.

Okelah, itu hak kalian. Tak apa sedikit mewarnai masa-masa SMA dengan kisah romantika seperti itu. Akan tetapi, ingat saja, apa yang kalian lakukan sekarang masih jauh dari kehidupan sebenarnya. Jadi, ada baiknya kalian lebih mempersiapkan diri untuk hal yang lebih penting, seperti pendidikan, ketimbang sibuk bergalau-galau memikirkan “anaknya orang”.

Nah, Einstein yang mempelajari rumus Aljabar,

Kalau ada sumur di ladang,
Bolehlah kita menumpang mandi

Kalau ada umur yang panjang,
Bolehlah kita berjumpa lagi

Terima kasih untuk perjumpaannya, lagi.


--Imam Rahmanto--


Ps: Lain kali, kalian yang traktir saya ya? :D

2 komentar: