Selasa, 28 Oktober 2014

Ngedoodle dan Ketekunan

Oktober 28, 2014
Hari ini, bertepatan dengan berpulangnya salah seorang seniman kawakan Sulsel, Asdar Muis. Dunia seni, sastra, dan budaya lagi-lagi harus berduka karena kehilangan seorang maestronya. Semoga Tuhan menghadiahkan amalan terbaik untuknya. Aminn.

Saya mendapat tantangan untuk menulis postingan perihal "kesenian" dari seorang teman Bimo Aji Widyantoro. Tantangan Blogbucket ini digelar dalam rangka memperingati #SewinduAM Blogger Angingmammiri. Tentang kesenian itu, bukan suatu kebetulan saya sedang menjajarinya (iseng) belakangan ini. Merupa-rupa dan membuka alur baru untuk otak kanan saya.

***

Surat kabar di pagi hari. (Foto: ImamR)

Saya kini punya kebiasaan baru. Doodling. Disebut doodle art. Salah satu seni menggambar ala anak kecil, dengan beberapa objek yang tak jelas, dan cenderung bermakna abstrak. Di masyarakat umum, gambar doodle juga lebih banyak dipakai untuk mural, yakni menggambar atau menghiasi dinding dengan lukisan-lukisan abstrak.

Doodle Art sendiri adalah suatu gaya menggambar dengan cara mencoret, terlihat abstract, ada yang tidak bermakna juga ada yang bermakna, terkadang karya yang dihasilkan tidak memiliki bentuk yang benar namun terlihat unik dan menarik. --Desain Art Studio--

Nge-doodle lebih banyak saya lakukan di tengah pekerjaan menunggu, terutama menunggu dosen. Apalagi di masa-masa saya sekarang, akan lebih banyak menghabiskan waktu menunggu dosen demi proses bimbingan dan konsultasi calon-skripsi. Selain itu, saya juga kerap kali menggambar doodle di kala mengisi waktu yang membosankan alias tak ada kerjaan.

Kebiasaan baru ini dimulai semenjak tiga mingguan yang lalu. Seorang teman memperkenalkannya, meskipun sebenarnya saya sudah seringkali mendengar istilah doodle. Di sela-sela tak ada kerjaan, saya mencoba mencorat-coret blocknote yang biasanya saya ramaikan dengan catatan tangan wawancara. Satu-dua gambar berhasil diselesaikan dengan nasib mengenaskan. Amatir.

Mungkin melihat gambar yang mengenaskan itu, seorang teman iba dan menghadiahkan sebuah pena gambar (drawing pen) pada saya dan seorang teman lainnya. Pemberian yang sederhana sih, tapi mampu mendorong rasa tanggung jawab saya untuk menghabiskan tintanya sesegera mungkin. #ehh

“Saya cukup senang menghadiahi orang lain dengan begituan. Anggap saja supaya lebih bersemangat ngedoodle-nya,” kata teman yang memang jago menggambar abstrak itu.

Saya mengenalnya lebih dari  sebulan yang lalu, sebagai orang yang sangat-teramat fanatik dengan salah seorang teman saya lainnya. Yah, bisa dibilang penggemar rahasianya teman saya.

Dimulailah perjalanan saya, hari demi hari, menghabiskan tinta “mahal” itu.

Tak ada kertas, kotak makanan pun jadi. (Foto: ImamR)
Lagi malas nunggu panitia. (Foto: ImamR)
Ada saya dan Cappuccino itu... (Foto: ImamR)

Amplop pun jadi "korban" latihan saya. (Foto: ImamR)

Isinya.... (Foto: ImamR)

Untuk setiap orang yang membutuhkannya. (Foto: ImamR)

Di masa saya masih imut-imutnya dulu, sekolah dasar, saya memang anak yang paling suka menggambar. Yah, meskipun saya menggambar asal-asalan saja. Atau gambar saya paling bagus hanya terbatas pada pemandangan lengkungan dua gunung, dengan jalanan yang berpangkal perspektif di sela-selanya. Di kiri-kanan jalanan itu ada pematang sawah dan rumah-rumah penduduk. Biasanya ditambahi dengan anak-anak yang bermain layangan. Padinya, ya, yang bergambar huruf V dan ditambahi garis vertikal tepat di tengahnya.

Saya paling senang pula mencontohi gambar tokoh-tokoh kartun favorit saya kala itu. Ada Son Goku (Dragon Ball), Doraemon, Crayon Sinchan, dan termasuk juga tokoh-tokoh tokusatsu Jepang; Power Ranger dan Ultraman. Biasanya sih gambar-gambar itu cenderung satu gaya, sesuai dengan gambar contohnya. Saya mengulang-ulanginya sampai hafal di luar kepala. 

Alhasil, kalau sekarang saya disuruh menggambarnya, saya hanya akan ingat gambar Son Goku dengan pose kacak pinggang sembari mengeluarkan kekuatan Super Saiya-nya. Paling tidak, keahlian seni ini saya manfaatkan untuk bisa lebih dekat dengan anak-anak, sebagaimana saya menyenanginya.

***

Saya mempelajari bahwa bakat tidak sekadar “bawaan lahir”. Setiap orang lahir dengan suci, tanpa tahu apa-apa. Lingkungan lah yang kemudian membentuknya menjadi orang dengan keahlian-keahlian tertentu, khususnya keluarga. Wajar jika ada anak yang peka dengan segala aransemen musik, dikarenakan ia dibesarkan dari keluarga yang selalu bermusik. Ada anak yang pandai menggambar, karena orang tuanya senang membawanya atau memperlihatkan lukisan padanya. Ada anak yang senang berbicara, mungkin karena orang tuanya senang berdiskusi apa saja dengannya. Jadi, ini bukan perkara “bawaan-lahir’ seutuhnya, kebiasaan yang berpola.

“Bakat dapat membawamu begitu jauh, tapi kerja keras dapat membawamu kemana saja,” –Hiruma, Eyeshield 21--

Ketekunan selalu nomor satu. Alah bisa karena biasa. Keahlian seni apapun bisa dipelajari. Asalkan konsisten dalam berbuat dan merumuskannya. Tidak sekadar omongan, “Akh, saya juga bisa,” atau “Saya juga mau...”

Ada banyak orang yang paham tentang sesuatu, tapi hanya sebagian yang mau melakukannya, bahkan hanya untuk sekadar mencoba. Mungkin, di luar sana, ada banyak orang bertalenta musik. Namun hanya sedikit yang mau menjalaninya. Ada banyak orang yang pandai menulis, namun hanya sedikit yang mau menuliskannya. Semua, tergantung pula dari passion yang hendak dilakoni setiap orang.

Namun, paling tidak, saya akhirnya punya satu keahlian (iseng) seni baru. Hahahaha!


--Imam Rahmanto--

Senin, 27 Oktober 2014

“Rumah” Untuk Apa Saja

Oktober 27, 2014
Dahulu kala…

Memasuki usia awal perkuliahan, saya orang yang kerap bolak-balik menyambangi warung internet (warnet). Maklum, saya berasal dari daerah yang sangat minim akses internet. Hanya satu sekolah kejuruan di tingkat kecamatan yang dilengkapi dengan akses internet di laboratoriumnya. Pun, satu-dua-tiga komputer aktif. Kalau ingin mencicip internet, jarak yang ditempuh kesana sekira 15 menit berkendara motor.

Wajar, di kala tersentuh teknologi internet untuk pertama kalinya di perkotaan, saya menjadi penasaran tingkat akut. Obsesif. Saking akutnya, tiada hari tanpa masuk warnet.

Saya menyelami banyak hal. Mulai dari membuat akun jejaring sosial, hingga download hal-hal yang tidak jelas. Namun, paling utama, saya tergiur membuat blog. Alasannya sederhana; saya juga ingin terkenal di dunia maya, sebagaimana orang-orang yang terkenal karena telah  berbagi di dunia maya. Mereka biasanya fokus untuk berbagi pada item-item tertentu: software, ebook, gambar, musik, komik. Saya pun ingin demikian.

Mulailah saya membuat blog dengan nama yang keren dan mudah diingat. Tampilannya dipermak agar terlihat lebih teknologi-banget. Seringkali saya menghabiskan berjam-jam lamanya hanya untuk learning by doing persoalan template. Saya lantas membuat akun-akun penyimpanan file di ziddu dan sejenisnya. File-file tertentu saya unggah dan sediakan tautan unduhannya di dalam blog. Hal itu berlangsung cukup lama. Hanya saja…tak konsisten dan agak hambar. Ada ruang di hati saya yang masih kosong…

Berselang lama, blog saya “lumutan” dan dipenuhi sarang laba-laba. Tak pernah lagi dikunjungi pemiliknya sendiri. Mungkin, saya juga disibukkan dengan kegiatan di dunia nyata, selaku mahasiswa. Apalagi perjalanan saya di perkuliahan mulai melingkupi aktivitas pers mahasiswa dan segala tetek-bengek nulis beritanya. Kami adalah orang-orang yang akrab dengan deadline.

Dunia berita juga erat kaitannya dengan dunia menulis. Saban hari saya harus berinteraksi dengan narasumber dan menuliskannya menjadi rangkaian berita utuh. Rasanya juga menantang. Bedanya, saya menulis berita karena tekanan deadline dan tanggung jawab. Nyaris sama taste-nya dengan menyelesaikan tugas-tugas kampus. Sebuah perkara-yang-tidak-boleh-tidak-untuk -diselesaikan.

“Sekali-kali cobalah untuk menulis atas dasar keinginan sendiri. Menulis, yang bukan karena tuntutan. Menulis, yang bukan karena tugas. Menulis, yang bukan karena disuruh. Melainkan menulis, yang karena kita ingin menulis. Tentang apapun itu,” pikiran saya yang mencuat suatu waktu.

Saya butuh melegakan pikiran dengan menulis hal lain, yang benar-benar ditulis karena kita mau. Sehingga tekanan atas berita bisa diseimbangkan. Alur minat saya terhadap blog kemudian berubah seiring passion yang ingin saya asah secara konsisten itu, yakni menulis.

Restart, saya mengubah blog lebih sederhana. Mulai dari nama, hingga tampilannya. Saya cukup membangun satu hal; kekonsistenan.

Doodle by me. (Foto: ImamR)

Berangsur-angsur, saya kemudian paham bahwa ngeblog tak lagi soal tampilan yang keren (dan ngejreng), blog yang sering dikunjungi, blog yang menyimpan beratus-ratus file donlotan, blog yang berulang-ulang menjadi acuan tulisan orang lain, hingga blog yang sudah berkawan akrab dengan Google.

Blog ibarat rumah di dunia maya dengan segala isi dan perabotannya. Apapun yang ingin dituangkan pemiliknya adalah hak prerogatifnya sendiri. Berbeda halnya dengan jejaring sosial yang kini menjamur, saya menganggap mereka (facebook, twitter, picasa, flickr, soundcloud, youtube, dll) hanya sebagai ruang publik di dunia maya.

Facebook atau twitter, sebagai area berdiskusi dan mencari teman. Picasa atau flickr hingga instagram, sebagai ruang pameran karya-karya foto. Soundcloud, sebagai ruang bersenandung bebas. Begitu pula dengan youtube yang selalu menjadi primadona di kalangan orang-orang yang ingin memamerkan audio-visual mereka.

Secara komplementer, jika dunia nyata punya areanya masing-masing, maka dunia maya merepresentasikannya secara “tak nyata” area-area itu. Jika blog adalah “rumah”, maka dunia maya juga punya representasinya sendiri atas rumah sakit, kantor polisi, tempat perbelanjaan, taman, dan sebagainya. Nah, dari sini saya menyimpulkan, gelandangan dunia maya adalah orang-orang yang tak memiliki blog atau website sebagai “rumah” tempat bernaung. 

Blog yang keren bukan dilihat dari seberapa memikat tampilannya, melainkan seberapa konsisten pemiliknya mengisi dan memperbaharuinya. Percuma memiliki rumah keren dan megah kalau tak pernah diisi atau ditinggali, bukan?

Saya tak peduli lagi dengan tampilan blog yang sederhana. Saya hanya ingin terus menulis. Mengabadikan atau sekadar membekukan setiap momen-momen penting yang terjadi dalam hidup saya. Kelak, ketika saya beranjak tua, ada tulisan-tulisan yang mengingatkan saya sekadar mengurut dada, mengerutkan kening, hingga mengulas senyum malu-malu. Pun, saya bisa dengan bangga memamerkannya kepada anak-cucu saya kelak.

Blog adalah tempat saya kembali, melepas penat dari dunia nyata. Tempat penuangkan ide ataupun keluh kesah. Tempat berbagi banyak hal yang terjadi dalam hidup ini. Tak peduli ketika orang membacanya atau tidak. Tak peduli orang mencibir atau melipir. Bagi saya, yang terpenting, adalah terus menulis.

Kita takkan pernah tahu bahwa ada orang-orang yang terinspirasi atas cerita-cerita yang kita bagikan. Atau ada yang sekadar tersenyum-senyum membaca tulisan itu. Bahkan, bisa saja ada orang yang diam-diam mengagumi tulisan kita. Karena sejatinya, tulisan merepresentasikan sebagian besar jiwa dan kepribadian penulisnya. Nah, lewat tulisanlah, orang-orang bisa mengenal dan dikenal.

Dan “rumah” ini adalah tempat saya pulang dan menyambut tetamu…


--Imam Rahmanto--


Catatan: tulisan untuk menyambut Hari Blogger Nasional yang jatuh pada hari ini, 27 Oktober, sekaligus diikutkan pada event #SewinduAM blogger Angingmammiri.

Kamis, 23 Oktober 2014

20# Terjegal Lagi

Oktober 23, 2014

Kalau ada yang bertanya tentang kabar anak-pinak-calon-skripsi saya, secara meyakinkan saya akan menjawabnya, “Semua baik-baik saja.” Namun pada kenyataannya, banyak hal yang selalu berlaku di luar rencana kita, bukan? Nyaris mirip dengan orang-orang yang memilih menyembunyikan luka ketimbang menampakkannya kepada orang lain.

Saya tidak begitu mengeluhkan keribetan yang kerap kali menjadi momok bagi sebagian besar mahasiswa. Dosen pembimbing saya orang baik-baik. Salah satunya justru langsung meng-accepted proposal saya tanpa perlu mengoreksi isinya. Dia bahkan bersedia menandatangani apa pun sayang butuhkan ditandatangani olehnya. Saya jadi berpikir, bagaimana kalau sekali waktu saya menyetor rekening cek yang berjumlah jutaan rupiah? Hahaha…

Yang satunya lagi, malah menyarankan untuk segera mengajukan permohonan ujian, meskipun proposal yang telah saya setor padanya belum disentuhnya sedikit pun. Sekadar corat-coret untuk direvisi, saya meyakininya; belum. Sudah nyaris sebulan lamanya. Ergh...

“Aduh, saya belum periksa,” ujarnya setiap kali kami bertabrakan dan ia menjatuhkan buku yang dibawanya dan kemudian tangan saya bersentuhan dengannya dalam adegan slow-motion bertemu.

Ia sudah hafal benar saya sebagai anak bimbingannya. Oleh karena itu, sering kali, motivasi utama saya datang ke kampus hanya untuk “setor-muka” agar ia tersadar betapa lamanya proposal saya teronggok di ruang kerjanya.

“Kapan kamu mau ujian proposal?” tanyanya basa-basi.

Ia menghentikan langkahnya di selasar jurusan di saat menjumpai wajah saya yang cukup “manis”(?) untuk dikenali. Saya sedang duduk-duduk (menunggu) bersama teman lainnya. "Teman” disini adalah adik-adik junior di bawah angkatan saya. Di semester akhir begini, amat-teramat sulit menemukan teman-teman seangkatan di kampus. Sama sulitnya dengan mencari uang receh di tumpukan pakaian kotor. Sebagian besar sudah berbahagia dengan kehidupannya selepas kuliah. Nganggur, atau bekerja, hingga berkeluarga.

“Emm…secepatnya sih, Bu,” jawaban yang standar.

“Mungkin bisa kalau kau masukkan saja dulu format persetujuannya, biar nanti saya tanda tangani,” lanjut pembimbing saya.

Tuh kan! Pembimbing saya baik-banget. Dia tidak ingin mengekang mahasiswa bimbingannya terlalu lama di kampus. Tapi...

Saya pikir tak segampang itu. Proposal penelitian yang tak direvisi dalam proses konsultasinya dengan para pembimbing bukan berarti dalam keadaan “baik-baik saja”. Justru kebalikannya. Kalau koreksi hanya kecil-kecilan di proses konsultasi dengan pembimbing. Maka di ujian nanti, bisa jadi para penguji yang akan “mengoreksi” besar-besaran. Ckck…

Seminggu lalu, saya ogah-ogahan masuk kampus. Dalam benak saya sudah terpatri bahwa proposal saya pasti belum diperiksa oleh pembimbing yang satu itu. Agak malas juga harus duduk-duduk sepanjang siang di jurusan hanya untuk menunggu satu-dua orang dosen, yang sering kali lupa bahwa ada yang sedang menunggunya.

Baru di minggu ini saya kembali gigih “maen” ke kampus. Saya, lagi-lagi, harus menyesuaikan diri dengan nuansa kampus agar tak kehilangan ruh-nya. Semakin sering saya menjauhi kampus, maka semakin mudah pula setan akan menggoda saya dengan kesibukan-kesibukan di luar sana.

Sumber gambar: 1cak.com

Seorang teman baru-baru ini bertanya pada saya,

“Mam, ada nggak temenmu yang susah buat mulai penelitian? Kalau kayak gitu, gimana ngedorongnya?”

Salah satu sahabatnya sama sekali belum berproses pada penyelesaian studinya. Bahkan, menurut dia, semester kemarin sahabatnya itu absen ke kampus. Waduh! 

Seandainya mau masa bodoh, saya pasti juga bakal melakukan hal yang sama. Kesibukan-kesibukan selepas kuliah terasa memanggil-manggil di luar sana. Apalagi kalau kita sudah punya pekerjaan yang lebih “menghasilkan”. Ijazah terasa asing lagi. Sebagian besar pekerjaan keren kan memang tak butuh ijazah kuliah. Karena pun menyadari, ketika saya terbiasa tidak ngampus, lamat-lamat saya akan melupakan kampus sampai isi-isinya.

Wajar, dalam tahap penyelesaian studi ini, metode "maksa-ngampus" adalah hal utama. Bagi saya, untuk menumbuhkan minat nye-kripsi, harus dibiasakan ngampus dulu. Analoginya seperti calon dokter. Dibiasakan dulu membaui aroma obat-obatan, melihat darah, dan semacamnya, baru bisa jadi dokter. Jauhh!!

Saya kerap menghubungi teman-senasib-lainnya untuk ngampus. Tak peduli jika hanya sekadar jalan-jalan tanpa arah di lorong-lorong jurusan. Duduk menatap kosong pada setiap orang yang lewat. Memilah satu-satu sambil ngarep, ada ndak yah teman seangkatan saya yang senasib? Atau bahkan sekadar menimbang-nimbang maba-cewek yang melintas; beautiful or not. Intinya, ya, merasakan suasana kampus dulu lah. Alah bisa karena terbiasa. 

Pepatah Jawa mengatakan, Weting Tresno Jalaran Soko Kulino. Cinta tumbuh karena terbiasa. Cinta pada skripsi tumbuh karena terbiasa ngampus. Halahh…

Seribet-ribetnya pembimbing, selalu ada titik kelemahannya. Ngampus juga bisa memberikan banyak petuah bagi kesulitan-kesulitan proses itu. Ada teman-teman yang berpengalaman menyelesaikan studinya. Ada pula mereka yang sekadar mendengar desas-desus, namun selalu menyemangati untuk selalu berjuang. Tak jarang ada yang justru menawarkan pertolongan. #terharu. Semuanya patut dipelajari.

Serius loh. Di kala saya sedang tak bersemangat dengan proses penyelesaian akhir itu, justru teman-teman itu yang selalu menyemangati. Karena ngampus tak pernah bikin mampus.

Nah, Tuhan, saya sudah berusaha, meski saya sadar seminggu kemarin dan kini belum maksimal. Tapi Engkau Maha Melihat ke dalam hati setiap hamba-Mu, bukan? Emm..kini saya akan berusaha sekuat hati dan tenaga. Selebihnya, saya selalu percayakan pada-Mu. Just believe it! 

***

“Nanti hari Jumat, yah,” pesan pembimbing terakhir kali saya berjumpa dengannya, Rabu kemarin.

Tak masalah. Kini, duduk-duduk sendirian menunggu dosen tak lagi membosankan. Saya menemukan hobi baru. Saya mengisi waktu menunggu itu dengan mencorat-coreti lembaran blocknote saya. Doodling. Hasilnya? Kapan-kapan lah saya pamer disini. (*)


--Imam Rahmanto--

Selasa, 21 Oktober 2014

Membaca, ya Membaca!

Oktober 21, 2014
“Jangan kebanyakan baca buku. Gara-gara itu, kamu kehilangan kesempatan untuk mencari pacar,” timpal salah seorang teman setiap kali melihat saya sedang berkutat dengan sebuah buku.

Hah! Darimana kecocokannya? Membaca ya membaca. Nyari pacar ya nyari pacar.

Apa yang salah dengan membaca? Tak ada. Sepanjang waktu dan kehidupan, tak seorang pun yang menganggap membaca itu kebiasaan buruk. Mungkin dianggap kebiasaan buruk jikalau sudah sampai merusak mata. Ada tuh ya orang yang saking seringnya membaca, sampai lupa kalau matanya sudah nempel di depan permukaan buku.

Persoalan punya pacar atau tidak, bukan dilihat dari kebiasaan membaca, bukan? Saya membaca, karena saya butuh. Saya membaca, karena merasa kurang banyak tahu tentang banyak hal. Saya membaca bukan sekadar mengisi waktu luang atau bahkan sekadar membuang-buang waktu.

Sumber gambar: Facebook
Justru, dengan membaca, saya bisa melihat dunia dari kaca-mata yang berbeda. Dengan membaca, kita tahu bagaimana bersikap sekaligus menambah kekayaan imajinasi kita (dan kosa kata). Pekerjaan membaca cenderung didekatkan dengan “kutu buku”, culun, cupu, dan tidak-keren lainnya. Akh, lagi-lagi paradigma yang ditanamkan media televisi sudah begitu mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, jika ingin mengamati secara luas, ada banyak kok orang-orang keren di luar sana yang juga senang membaca.

Apa yang dikatakan teman saya itu, persis dengan apa yang selalu diucapkan oleh bapak saya.

“Pengalaman itu tidak dipelajari dari buku. Pengalaman ya dijalani,” kata bapak.

Akh, orang-orang zaman dulu masih belum dilimpahi banyak literasi seperti zaman kini. Memang benar bahwa pengalaman harus dijalani. Namun, pengalaman hanya bisa dilalui sepanjang kita hidup, yang sering kali tidak mencapai usia seabad penuh. Maka dibutuhkan pula kita menimba ilmu dari orang lain, atau hal lain. Alternatif termudah, dengan membaca pengalaman orang lain di buku atau literasi lainnya. Kalaupun bukan pengalaman nyata, paling tidak pengalaman yang “diprediksi” oleh orang lain (selaku penulisnya) akan terjadi di dunia nyata.

Bagi saya, membaca itu serupa meneguk Cappuccino. Saya mencanduinya. Saya memacarinya. Ehh. Mungkin seperti para perokok, yang tak pernah bisa lepas dari kretek-nya. Rasanya kurang maknyus kalau saya tidak membaca buku barang seminggu saja.

Saya tak punya banyak koleksi buku, namun saya punya cukup banyak “koleksi” teman. Dari mereka lah saya bisa meminjam buku secara cuma-cuma. Ada berbagai jenis buku. Mulai dari novel lokal, hingga novel terjemahan. Novel naratif, hingga novel inspiratif. Novel melankolis hingga novel sadis. Ketimbang saya harus membaca buku diktat kuliah.

Kelebihannya membaca novel dimana? Di samping memberikan hiburan (film di alam bawah sadar), penulis yang cerdas akan menyisipkan ilmu pengetahuan maupun filosofi hidup di dalamnya. Romansa dan drama, hanya bumbu yang mengiringi pesan utamanya.

Cara terbaik untuk mendidik tanpa menggurui adalah dengan bercerita. Itulah mengapa, orang tua di zaman dulu mendidik anaknya dengan membacakan dongeng sebelum tidur. Lantas, kemana kebiasaan itu kini? Nyaris punah! Anak-anak sekarang lebih senang menonton tivi sampai ketiduran. Dan film-filmnya yang sekelas GGS = Ganteng-ganteng Serigala = Ganteng-ganteng SetanG = Gudang Garam Surya. Euhhh...

Olehnya itu, saya lebih senang membaca (atau mendengar) cerita. Tak peduli novel ataupun komik. Setiap minggu saya bahkan menjadi pembaca setia manga One Piece, Naruto, Bleach, dan Fairy Tail. Pun, kelak, ketika sudah berkeluarga, saya ingin mengajarkan budi pekerti hidup pada anak-anak melalui dongeng-dongeng sebelum tidur. It’s called family time…

Saya mempelajari banyak hal dari membaca buku. Saya jadi tahu bahwa dunia tak benar-benar selebar daun kelor saja. Saya jadi tahu dunia mana saja yang menarik untuk dikunjungi. Saya jadi tahu bermacam-macam karakter manusia. Dan untuk bekal menulis, saya memperbaharui setiap perbendaharaan kosa-kata saya. Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. 

Meski, kata teman, saya terlalu banyak berkhayal sebagai akibat dari kebanyakan membaca buku. Saya justru memikirkan “ke-tak-biasa-an” atas setiap hal yang saya jalani. Kreativitas dibangun atas pemikiran-pemikiran yang tak terpikirkan orang lain. Percabangan neuron di otak saya malah bertambah! Yeah, imajinasi!

“Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world, and all there ever will be to know and understand.” --Albert Einstein

“Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan. Pengetahuan hanya terbatas pada apa yang kita ketahui dan pahami. Sementara imajinasi meliputi seluruh jagat raya, dan segala hal yang akan kita ketahui dan pahami.”

Lagi-lagi, saya harus menekankan, membaca buku tak erat kaitannya dengan membaca hati! Dalam teori kombinasi Matematika, keduanya berlaku saling-lepas. Oleh karena itu, membaca ya membaca. Persoalan tentang hingga saya yang hingga kini masih dalam status jomblo single, itu perkara pribadi dong! Karena sejujurnya saya masih terlalu hati-hati dan antipati.

Kelak, saya akan mencocokkan diri dengan orang-orang yang gemar membaca. Mereka yang tidak suka membaca, takkan mampu membaca pikiran saya. Karena sebenar-benarnya perasaan dan pikiran seorang penulis, adalah yang dituangkan lewat tulisannya…


--Imam Rahmanto--


P.s: Tulisan ini diterbitkan pula di Koran Tempo Makassar (Edisi 27 Desember 2014) pada rubrik LITERASI.


Jumat, 17 Oktober 2014

“Celengan Rindu”

Oktober 17, 2014




Teruntuk Einstein dan Aljabar…

*Tepatnya, harus dilabelkan, angkatan 5.

Hei, sebentuk kerinduan itu muncul lagi seminggu yang lalu. Dan dituntaskan juga seminggu lalu. Saya tak pernah begitu percaya dengan orang-orang yang memilih memendam kerinduannya. Bagi saya, kerinduan itu untuk dituntaskan. Bukan sekadar didiamkan dan dipendam hingga berlarut-larut dan terlupakan.

Ah ya, pernah dengar tentang Celengan Rindu? Tentang lagu yang dinyanyikan seorang penyanyi Indie Fiersa Besari, yang menabung keping-keping rindu dalam celengannya sendiri yang kelak akan dituntaskan dalam setiap momen yang diinginkannya. Berdenting, memecahkan celengan rindunya. Coba, sekali-kali kalian dengarkan dan tuntaskan liriknya. Mungkin, bisa pula menjadi rekomendasi lagu untuk Novi dan Sheila.

Kerinduan itu, antara dipendam dan ditabung, bedakan diferensiasinya. Dipendam, nyaris mendekati pemaknaan ngarep. Sementara ditabung, lebih condong kepada hal-hal yang memang sudah dijanjikan atau dipastikan. Wajar jikalau orang-orang yang gemar memendam rindu hanya akan berbuah tekanan batin. Semacam pilu yang disimpan diam-diam.

Sudahlah, kalian jangan terlalu banyak membahas tentang bahasa-bahasa abstrak demikian. Pun, saya menyampaikan tulisan ini bukan untuk mendebat tentang kerinduan itu? Setiap orang punya definisinya masing-masing. Tapi tak setiap orang mau menerima kebenaran atas definisi itu.

Saya tetap memilih menuntaskannya kepada kalian. Sudah kukatakan, kalian tetap punya one value bagi kehidupan saya, masa lampau atau masa kini. Tak perlu heran ketika saya harus menjawab pertanyaan kalian dengan abstrak,

“Kak, apa hanya gara-gara mau jenguk teman-teman, makanya bela-belain kesini?” tanya salah seorang diantara kalian.

Saya cukup mengiyakan hal itu. Ada banyak hal yang memang tidak bisa kita langsung pahami dalam hidup ini. Sejauh dan sebanyak apapun alasan yang dipaparkan. Terkadang, membiarkan waktu berlalu dan membelajarkan kita adalah cara terbaik untuk memahaminya.

“Karena kalian itu berharga buat saya,” cukup jawaban itu saja yang kalian terima. Oh iya, disertai dengan senyuman paling manis dari saya. :)

Awamnya, agak rikuh juga mendengar hal semacam itu. Mungkin, kesannya agak melankolis begitu ya? #Aku rapopo. Saya cuma menyuarakan apa yang terlintas di kepala saya, sejujur-jujurnya.

Seminggu kemarin, saya bisa tahu bagaimana keadaan kalian yang sesungguhnya. Kecemasan-kecemasan yang sempat menyibak kepala tergantikan dengan rasa syukur. Betapa menyenangkannya menemukan kalian dalam keadaan, ya, baik-baik saja. Masih saja dengan beberapa kekonyolan dan kepolosan yang mengiringi laku  keseharian kalian. Eh, tapi masih juga dengan kisah asmara yang berganti-ganti setiap bulan atau tahunnya. Hahaha…

Serius loh. Melihat informasi-informasi yang tersebar luas di jaringan dunia maya tentang sekolah kalian, mendadak memberatkan kepala saya. Apalagi dengan selentingan orang yang tak habis-habisnya menyalahkan wartawan sebagai penyedia informasi, yang berbuah pencemaran nama baik sekolah kalian. Jelas saja, saya yang punya jalur hidup sebagai kuli tinta ikut “tersulut” bertanya-tanya, “Ada apa?”

“Ada 93 teman kami yang terjangkit penyakit Hepat, Kak,” terang salah seorang diantara kalian melalui pesan BBM-nya.

Ingat loh ya. Wartawan, selaku pewarta atau pengabar informasi, tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas”berita-berita buruk” yang berkembang di kalangan masyarakat. Kabar-kabar semacam itu memang disampaikan dalam kadar kebenarannya, agar orang-orang mengerti dan paham realita yang terjadi.

Akh, saya jadi sungkan dengan profesi kejurnalistikan yang tiba-tiba menjadi “momok” di sekolah kalian. Padahal, profesi sebagai pewarta itu keren loh! :D *di luar gajinya yang mungkin bisa dibilang pas-pasan. Hahaha…

Nah, mendadak kerinduan itu menguat. Saya harus memecahkannya saat itu juga.

Beruntung bagi kita, kalian tidak banyak berubah. Kesehatan kalian membaik. Arfandi, Diana, dan Anna yang sebelumnya, katanya, sempat didapati mengidap gejala-gejala penyakit itu, akhirnya sudah bisa dirawat di rumah masing-masing. Keadaannya cukup baik.

Tak berbeda, ketika saya mengunjungi rumah sakit yang menjadi “penampungan” teman-teman kalian, tak satu pun siswa dari kelas Einstein dan Aljabar ’05 yang dirawat disana. Bahkan, Gadis, yang sebelumnya sempat dua kali bolak-balik dilarikan ke rumah sakit, ternyata sudah dipulangkan ke rumahnya, beberapa jam sebelum kunjungan saya ke ruang Bougenville.

Sumber: cardooo.com
Maaf untuk dua orang lainnya, Saeful dan Anca, yang tidak sempat menjadi area “penjelajahan” kami. Saya tidak punya banyak waktu untuk bercengkerama dengan kalian. Melihat keadaan kalian baik-baik saja itu sudah melegakan. Kabar-kabar tentang kalian yang dirujuk hingga kota Makassar, ternyata hanya isapan jempol belaka.

Duh, melihat kalian bisa tertawa-tawa dan bercanda lagi adalah sebuah momen yang direkam kepala saya. Ketika melihat selintas kekinian itu di wajah-wajah kalian, terlintas pula beberapa potongan adegan-adegan di dalam kelas setahun silam.

“Deh, Kak Imam ma’do lagi,” kata kalian sewaktu-waktu.

Jika sudah begitu, saya ingin menjitak kepala kalian satu per satu. -_-“

***

Terima kasih untuk keempat orang yang selalu siaga menjadi guide untuk keliling-kelilingnya, tanpa perlu banyak komando. Imce, Lisa, Ifa, dan Ayu (yang tetapi banyak bicara) serta Yaya, bersama-sama mengunjungi satu-satu rumah para “korban” penyakit itu. Terima kasih pula, di depan sekolah, atas sambutan hangat kalian yang masih dirindukan. Saya menemukan perbedaan yang mulai terbagi kadarnya pada diri kalian.

Seperti Ade, yang sudah mulai agak kurusan. Kabarnya, setiap petang, Ade jogging demi menurunkan berat badannya. Ia juga menambahinya dengan olahraga berenang. Alhasil, Ade, kamu agak kurusan! Selamat! Semoga benar-benar bisa mencapai mimpinya, sebagai Putri Indonesia ya! :D

Informasi-informasi berharga lainnya masih terbaik dari kelas kalian. Seperti perihal Arfandi yang menduduki jabatan keren; Ketua OSIS, dengan wakilnya dari kelas sebelah, Maman. Saya ingat betul, Maman yang terlalu membagi fokusnya pada banyak hal. Yaya juga menduduki jabatan pengelola intinya, Sekretaris ya kalau tidak salah?.Si Hera yang jadi Ketua Aspuri. Wah! Ternyata anak bapak keren-keren! #sok tua

Informasi-informasi kepo lainnya, terlepas dari kisah asmara di kelas kalian. Saya agak risih (dan ingin tertawa sendiri) mendengar tentang siapa-pacarnya-siapa diantara kalian. Seolah-olah ingin membandingkan dan memaklumatkan bahwa “saya sudah punya pacar”.

Okelah, itu hak kalian. Tak apa sedikit mewarnai masa-masa SMA dengan kisah romantika seperti itu. Akan tetapi, ingat saja, apa yang kalian lakukan sekarang masih jauh dari kehidupan sebenarnya. Jadi, ada baiknya kalian lebih mempersiapkan diri untuk hal yang lebih penting, seperti pendidikan, ketimbang sibuk bergalau-galau memikirkan “anaknya orang”.

Nah, Einstein yang mempelajari rumus Aljabar,

Kalau ada sumur di ladang,
Bolehlah kita menumpang mandi

Kalau ada umur yang panjang,
Bolehlah kita berjumpa lagi

Terima kasih untuk perjumpaannya, lagi.


--Imam Rahmanto--


Ps: Lain kali, kalian yang traktir saya ya? :D

Bukan Emas

Oktober 17, 2014
Saya akhirnya paham bagaimana sebentuk kekecewaan itu. Amat dekat dengan kemarahan. Hanya dipisahkan oleh beberapa pintal emosi kesabaran.

Dulu, dalam film-film horor yang saya tonton semenjak kecil, saya tak habis pikir, bagaimana mungkin orang-orang yang bukan “dedengkot” pembunuhan harus menerima hukuman yang sama atas pembunuhan yang tidak mereka lakukan.

Hantu yang bergentayangan, biasanya wanita, menuntut balas atas kematiannya. Hanya saja, ia tidak hanya meneror para pelaku atas kematiannya. Akan tetapi, teman-temannya, yang menurut saya tak bersalah, juga menjadi korban keganasan “alam lain” itu.

Memuncak pada anti-klimaks film bertemakan “pembalasan dari kubur”, kita para penonton biasanya akan disuguhkan alasan pembalasan dendam itu. Alur cerita dimundurkan ke masa silam, dimana si hantu masih hidup sebagai manusia biasa. Dan alasan atas terornya kepada teman-temannya sederhana: karena teman-temannya itu hanya diam menyaksikan tindakan kejahatan yang dilakukan pada dirinya. Mereka bisa mencegahnya, namun mereka hanya terpaku. Mereka mengetahui, namun mereka menutupinya. Diam.

Tak masuk akal, bukan? Hanya gegara “diam” mereka juga harus dibunuh satu-satu oleh si empunya dendam.

Akh, bagi saya, refleksi tersebut dalam realita memang sebenar-benarnya terjadi. Film itu hanya perumpamaan bahwa “diam” nyatanya juga bukan hal yang benar-benar pantas dilakukan. Peribahasa “diam adalah emas” hanya mitos belaka. Bagian mana di dunia ini yang memberikan best value untuk orang-orang yang hanya bisa diam?

Lihatlah para tokoh-tokoh besar di luar sana, para penemu hingga pemimpin besar. Mereka adalah para orator ulung. Pembicara. Bahkan, untuk menjadi seorang pemimpin yang disegani, seorang King George VI harus menghilangkan sikap gagapnya, dengan menjalani terapi kepada Lionel Louge.

“If I am King, where is my power? Can I form a government? Levy a tax?Declare a war? No! And yet I am the seat of all authority because they think that when I speak, I speak for them. But I can’t speak.” --King’s Speech, film

Saya kemudian mulai merasakan sendiri, bagaimana menganggap orang lain bersalah atas diamnya itu. Bagaimana kekecewaan dimulai atas pengharapan. Bagaimana kebenaran disembunyikan dalam keheningan. Dan ketika orang-orang lain, yang tak termaktub sebagai “pelaku”, merasa dibenci atas hal-hal yang tak diketahuinya, mereka seharusnya mulai paham bagaimana menyuarakannya. Bukankah kita harus menyuarakan? 

Seperti analogi film-film hantu tadi, tidak hanya pelaku pembunuhan yang akan diteror si hantu. Mereka yang mendiamkan tindakan-tak-benar itu pun akan memperoleh balasan serupa. Karena sejatinya luka fisik hanya berlangsung sementara. Namun luka batin akan berlangsung selamanya. Luka yang disebabkan diamnya orang-orang dipercaya, yang semestinya mampu menolong dan bersuara. (*)


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 11 Oktober 2014

Dimana Deadline Dimulai

Oktober 11, 2014
*Lanjutan dari postingan sebelumnya; Disinilah Kami Berulah

#PERINGATAN!! Membaca tulisan ini akan "membuang" waktumu lebih lama dari biasanya. Bersabarlah! Semoga.

***

Terjun ke lapangan. Kata-kata itu menjadi tema utama di tengah pelatihan jurnalistik yang kami ikuti. Para panitia yang sedari awal hanya kami pandang sekilas berseliweran di sekeliling ruangan pelatihan, memberikan bocoran tentang agenda beberapa jam selanjutnya.

“Jadi, kalian akan diterjunkan langsung ke lapangan,” ujar salah satunya.

“Tugas kalian, mencari sisi menarik dari tempat yang kalian kunjungi, temui narasumber-narasumber, olah menjadi berita, dan siap dituliskan. Ingat, cara membuat berita, sebagaimana yang telah diajarkan beberapa pemateri sebelumnya,” papar salah seorang diantaranya lagi, di sela-sela waktu lowong menanti agenda berikutnya.

Yeah! Hal seperti ini yang ditunggu-tunggu. Setelah kami dibagi dalam beberapa kelompok besar, beranggotakan 8-10 orang, kami diantar dengan bus kampus menuju “lapangan”. Bedanya dengan “lapangan” secara harfiah, dan menjadi tantangan tersendiri bagi kami, waktu peliputan justru dilakukan tepat pukul 12 malam. Pun, lokasinya mengambil tempat yang tak-lazim; area hiburan malam.

Kalau kata orang, lokasi-lokasi di sepanjang Jalan Nusantara itu merupakan tempat mangkal para pekerja-pekerja malam yang nekat menajajakan birahinya. Disana, ada banyak bangunan hiburan malam yang baru buka di waktu jelang dini hari. Gemerlap lampu begitu menggoda setiap lelaki yang melintas di sepanjang jalan pelabuhan itu, termasuk kami. Padahal, di siang harinya, bangunan-bangunan yang berjejer itu tak menunjukkan aktivitas apa-apa. Pintu tertutup rapat. Sunyi. Senyap.

Seperti yang dioceritakan, sisi lain gemerlap kota Makassar baru bisa disaksikan lewat tengah malam, disini, lokasi yang akan menjadi “lapangan” perdana kami.

Sebagai orang yang baru setahun hidup di kota Makassar, sebagian besar dari kami, para peserta pelatihan cukup terhenyak dengan lokasi peliputan ini. Berkeliaran lewat tengah malam, di lokalisasi seperti ini membuat jantung kami berdegup was-was.

“Jangan-jangan, ada preman yang akan menodong,” pikiran-pikiran yang tak lepas berkelebat.

Akan tetapi, diiringi pula dengan pikiran-pikiran "mesum" lainnya, “Mudah-mudahan ada salah satu ‘cewek’ yang menghampiri dan menggodai kami. Asal bukan yang jadi-jadian,” Hahaha...

Atau ngarep menyaksikan “perempuan-perempuan” seksi itu dari jauh, berbusana mini, melanggang masuk ke tempat-tempat yang menawarkan cahaya lampu yang berdentum. Tapi, pikiran-pikiran semacam itu cukup disembunyikan saja di benak masing-masing (laki-laki). Hahaha…

Intinya, kami, para calon jurnalis kampus, sudah diberi tugas. Sudah kewajban menjalankan tugas itu dengan tenggat waktu sejam semenjak diturunkan dari bus.

Sesuai kelompok, kami harus berpencar berpasangan untuk mencari narasumber. Kami diberi kebebasan untuk menentukan narasumber, asalkan tetap menyesuaikan dengan tema yang bakal kami angkat. Yah, kami mengakali pula denga mencari narasumber yang lebih mudah “dirangkul”, semisal pedagang-pedagang asongan non-stop-24-jam di sepanjang jalan tersebut. Untuk lebih meningkatkan sisi humanis cerita, kami mencari pedagang yang sudah nampak kelihatan tua. #ngeles

Akan tetapi, ada pula teman lainnya yang memilih pekerjaan “menantang”. Mereka mendatangi para bodyguard yang menjaga pintu-pintu masuk tempat hiburan. Mengobrol sebentar dengan mereka. Sok-sok minta api untuk merokok. Sedikit-sedikit, kalau boleh, diperbolehkan melihat sekilas gemerlap ruangan yang sedang berdentum memekakkan telinga.

Dalam rentang sejam, proses praktek lapangan kami harus diakhiri. Ada napas lega. Ada napas terburu. Berharap bisa kembali beristirahat sekadar merebahkan pantat di kursi empuk ruang pelatihan.

Namun, lagi, itu di luar prediksi kami. Kami dipaksa mengorbankan waktu tidur semalam suntuk demi menyelesaikan karya buletin masing-masing kelompok. Seperti media pada umumnya, usai proses peliputan, kami dituntut menuangkannya dalam sebuah buletin. Kami mesti berpikir seolah-olah bahwa kami adalah media massa lazimnya di kota. Oleh karena itu, deadline mulai ditegakkan!

“Oke, apa nama yang bagus untuk media kita?” tutur salah seorang diantara kami.

Tik…tok…beberapa menit berlalu.

Kami berpikir satu-satu. Melontarkan ide bergantian. Alhasil, nama Jurnal6 terpilih sebagai nama buletin kami. Mengapa Jurnal6? Seingat saya, itu merupakan penyingkatan dari istilah “jurnalistik kelompok 6”, yang beranggotakan: akh, saya lupa!! -___-"

***

Mengingat-ingat kembali masa deadline dadakan itu, membawa saya pada beberapa keseruan yang cukup saya nikmati. Apalagi DJMTD angkatan kami merupakan angkatan terakhir yang mewajibkan mesin ketik sebagai alat utamanya. Di tahun-tahun berikutnya, peserta sudah diperbolehkan mengetik via aplikasi Microsoft Word dan mencetaknya pada printer-printer yang disediakan panitia.

Sebelum mengikuti pelatihan, saya harus mencari mesin ketik kesana-kemari. Lazimnya di fakultas kami, mesin ketik biasanya menjadi perkara wajib bagi mahasiswa yang gemar menulis laporan. Menurut kabar, mahasiswa di jurusan Kimia diwajibkan membuat banyak makalah atau laporan dengan ketikan manual. Jadilah saya meminjam mesin ketik dari sana. Hahahaha…

Meskipun berat, namun mengetik “manual” semacam itu memberikan pengalaman tersendiri bagi kami. Hanya bunyi ketukan logam yang terdengar di malam menjelang pagi itu. Tik! Tik! Tik! Terkadang dalam tempo yang lambat, tak jarang pula dalam tempo yang dipercepat, tergantung dari empunya mesin ketik. Kalau kelelahan, ada cemilan yang disediakan panitia di masing-masing “meja kerja” kelompok. Hm…saya merasa diperlakukan dengan baik oleh panitia. Jarang-jarang loh ya saya begadang ditemani secangkir kopi atau susu (atau mix), roti, dan teman-teman yang tekun dengan pekerjaannya masing-masing.

Sebagian dari kami memangkas waktu dengan menuliskan apa saja di atas kertas. Pasalnya, mesin ketik yang tersedia tidak sebanyak jumlah anggota kami. Tenggat waktu yang disediakan hanya sampai pukul enam pagi. Sleepless. Asli, tanpa tidur. Mau tak mau, bagi mereka yang tak tahan begadang, sebisa mungkin mencuri-curi waktu untuk terlelap di antara jejeran meja, sembari menyembunyikan diri dari kerlingan mata panitia.

Begadang sudah menjadi kebiasaan saya semenjak menjejak bangku kuliah. Bahkan, di kalangan mahasiswa beredar mitos, “Kalau tidurnya di bawah jam 12 malam, berarti bukan mahasiswa.” Namun,  bagi saya, hal itu sebenarnya bukan gurauan semata. Karena pada dasarnya, setiap mahasiswa memang dituntut mampu memanajemen waktu yang dimilikinya.

Bocoran bagi mahasiswa baru, kuliah amat berbeda dengan waktu pendidikan sekolah dulu. Di masa kuliah, banyak tugas menumpuk. Semuanya serba laporan-makalah-presentasi sekaligus kerja kelompok. Kalau di masa sekolah, pekerjaan rumah hanya sebatas 5-10 nomor. Maka di waktu kuliah, tugas yang menumpuk itu, tidak dibatasi urutan angka, melainkan dibatasi per lembar HVS yang siap disalin atau di-copypaste. Nah, hal semacam itu sedikitnya akan memberikan penegasan, “Mahasiswa memang harus mampu terjaga hingga tugasnya terselesaikan!” 

Kondisi deadline dadakan itu diperparah dengan padamnya penerangan di dalam ruangan. Panitia sengaja memadamkan lampu dan menggantikannya dengan lilin di setiap meja kelompok. Ala-ala candle light dinner writing!

“Agar kalian lebih memahami bagaimana kesulitan para jurnalis tempo dulu dalam memperjuangkan kebenaran. Selain itu, hal-hal seperti ini akan memaksa kalian beradaptasi,” kata salah seorang panitia senior di depan kami, para peserta.

Yah, kami harus beradaptasi. Harus! *sambil mata mengerjap-ngerjap. Kelelahan.

Suatu pagi, di kala kami menyelesaikan runutan pelatihan di lokasi terakhir. (Dok. Profesi)

***

Apa yang saya jalani kini adalah sebagian perjalanan alur saya di dunia jurnalistik. Pilihan saya akan dunia asing yang satu ini, menunjukkan pilihan-pilihan yang harus saya putuskan sendiri. Sama halnya ketika saya harus merelakan side-job sebagai gurui les privat, mengorbankan label “asisten” di jurusan saya, dan mengucapkan selamat tinggal untuk organisasi himpunan jurusan yang juga pernah membelajarkan. Pun, organisasi daerah tak pernah lagi sekadar mendapat tempat di hati saya.

Bukannya abai. Saya justru menutup segala keruwetan pikiran yang akan menerpa saya di kemudian hari jika memegang terlalu banyak tampuk organisasi. Sejujurnya, saya dulu berpikir bahwa memiliki banyak organisasi dalam waktu bersama merupakan hal terkeren sebagai seorang mahasiswa. Namun seiring waktu, hal itu malah menjadi “bom waktu” yang siap meledak kapan saja, dan mendesak pilihan-pilihan buruk dihadapkan pada kita. Oleh karena itu, sebelum semuanya terlambat, maka kita harus mampu memilih sebelum dipilihkan sendiri.

Saya bangga akan pilihan ini. Ketika, kelak, seseorang bertanya tentang bidang yang ditekuni, secara gamblang saya akan menjawabnya dengan tenang hati.

“Jurusan apa?” seseorang yang bertanya tentang jurusan dan kampus asal.

“Matematika Jurnalistik,” kalau boleh, saya akan menegaskannya demikian.

Potongan tabloid yang mengabadikan setiap konversi-status pengelola, setiap tahun. Betapa membanggakannya muka-
muka ganteng/ centik ini masuk tabloid yang dibaca ribuan mahasiswa. Hehe... (Foto: ImamR)
Pengalaman baru pula bagi kami, menjadi tukang loper koran. Akh, di lembaga pers satu ini, kami diajarkan multitalent.
Mulai dari mencuci piring(?), membersihkan rumah(?), loper koran, melobi, sampai peliputan. (Foto: Jane)
Teman-teman #Ben10 yang hingga kini masih berpegang satu sama lain, yang memendam impian masing-masing, bermula dari pertemuan kami di lembaga pers ini. Kami, bersepuluh, adalah generasi terakhir dari angkatan yang menjalani pelatihan di tahun 2010.

Dimulai dari 80-an peserta, yang tersaring atas keinginan mereka bergabung sepenuhnya di lembaga kuli tinta ini. Hari-hari sebagai pra-magang dan magang berjalan (kode reporter: PR10), kemudian terseleksi oleh aturan intensitas-loyalitas-produktivitas yang ditetapkan redaksi, menyisakan kami; bersepuluh.

Memasuki dunia pers yang asing, dulu, kami tak pernah tahu masa depan kami kelak seperti apa. Kami tak pernah tahu seperti apa deadline-deadline memacu dan mempersatukan kepala kami. Pun, kami tak pernah menyadari seberapa seringnya cacian  atas liputan menyatukan perasaan kami. Secara profesional, kami adalah partner liputan. Secara profesional, kami adalah saudara, sekaligus sahabat, hingga akhir waktu.

Saya, dan teman-teman tak hanya berusaha berjalan beriringan. Berpegangan tangan. Meskipun, satu-dua-tiga-empat orang ada kalanya merasa ingin mengibarkan bendera putih saja. Namun bertahan sampai akhir adalah inti pengalaman kami sebagai seorang jurnalis. Saya menghargai setiap pengalaman yang ditawarkannya.

Sejatinya, kita, mahasiswa akan memperoleh banyak hal dimana pun kita menghabiskan pengalaman bersosialisasi selama mengenyam dunia kampus. Tidak bisa dipungkiri, setiap orang punya passion yang berbeda-beda. Menulis. Memotret. Menyiar. Menari. Menyanyi. Meneliti. Berdakwah. Berpolitik. Menjaga keamanan. Mencintai alam. Bersosialisasi. Mendonorkan darah. Mengantisipasi bencana. Dan lainnya.

Sebagai orang yang tak lagi dianggap anak kecil, sudah sewajarnya menentukan pilihan atas impian-impian yang sedari dulu dibangun. Ingin jadi apa kita kelak? Tidak sekadar lulus dengan IPK cumlaude dan justru menambah-nambahi “pengangguran terpelajar”.

Hidup tidak bisa dijalani hanya dengan mengandalkan otak (kiri). Akan tetapi, hidup membutuhkan keterampilan dan kepekaan (sensitivitas) atas kesulitan orang lain. Dengan demikian, kita akan memahami, mengapa label orang “terbaik” (dalam semua agama) di dunia ini adalah mereka yang paling berguna bagi orang lain. [end]

Merekalah yang terpilih! (dok. Profesi)
Para penggawa UKM se-UNM. (dok facebook)

***

“Untuk apa memberitakan hal-hal buruk, jika hanya menciderai pihak-pihak tertentu?”

“Setiap informasi adalah hak setiap orang, tanpa mengurangi atau menambah-nambahinya, sesuai dengan realita. Karena kita belajar pentingnya kebenaran, dengan bercermin dari kesalahan,”


--Imam Rahmanto-- 

Kamis, 09 Oktober 2014

Gerhana Rindu

Oktober 09, 2014
#Karena beberapa teman menebak-nebak bahwa saya akan menuliskan perihal gerhana kemarin, maka saya akan sedikit mengabulkan permintaan mereka. :)


Foto yang diambil salah seorang teman saya dari atas atap.
(Foto: Fajrianto)
Semalam, saya melihat gerhana bulan untuk pertama kalinya. Entahlah kalau di usia saya yang masih-muda-karena-masih-berstatus-mahasiswa, pernah terjadi gerhana serupa. Hanya saja, perdana, saya bisa menyaksikan blood moon itu dari atas atap redaksi kami.

Bulan yang terlihat jelas di langit kota Makassar, dimulai sejak matahari terbenam. Cukup langka, karena dianggap sebagai full lunar eclipse yang hanya terjadi di Indonesia. Walaupun begitu, tidak semua orang di Indonesia bisa menyaksikannya. Seperti di beberapa kota besar, termasuk Jakarta, kata berita-berita di media, bulan tidak bisa terlihat karena tertutup awan. Kesempatan bagi Kota Daeng menjelajahi penampakan gerhana.

Lantas, saya berpikir. Jika semalam adalah purnama, apakah waktu Idul Adha yang jatuh di hari Sabtu adalah sudah benar? Sementara yang berlangsung di hari Minggu, mengalami sedikit kesalahan prediksi (atas sidang isbat)? Karena setahu saya pun, purnama memang selalu jatuh di pertengahan bulan (dalam hal ini, hari ke-15) dalam tarikh hijriah. #thinkagain Sekadara catatan, saya berlebaran di hari Sabtu.

Saya tidak sendirian. Berselang menit, beberapa teman lainnya menyusul. Berjejer segaris di puncak atap, menghadap tepat ke arah timur, dimana bulan nyaris kehilangan cahayanya. Lalu lalang kendaraan di bawah sana tak henti-hentinya menyeruakkan suara tentang gerhana yang disebut media sebagai gerhana langka.

Atap redaksi kami tidak cukup sulit untuk dipanjat. Sebenarnya, siapa pun bisa memanjat. Hanya butuh sedikit keberanian merangkak di sisi rangka atap dan melangkah agak ke pinggir diantara tulang-tulang gentengnya. Apalagi dinding depannya tidak sampai dua meter tingginya membatasi lahan kosong di sebelahnya, arah utara. Berseberangan dengan masjid kompleks.

“Seandainya kita tidak di kota, minimal di perkampungan, pasti melihat bulannya lebih keren,” saya menyaksikan bulan yang tampak seperti bola pimpong. Kemerah-merahan.

“Wah, seperti di tempat KKN saya, di rumahnya Pak Kepala Desa, keren sekali melihat langit malam. Waktu supermoon tempo hari, keren sekali,” tanggap teman saya, yang baru sebulan lalu meninggalkan lokasi KKN-nya. Bagaimanapun, kehidupan KKN selalu berpengaruh bagi sebagian kehidupan mental dan ingatan setiap mahasiswa.

Diantara teman-teman yang sedang mengabadikan gambar bulan (dan berlomba-lomba membaginnya di social media) saya memutar ingatan ke belakang. Masa kemarin  tiba-tiba melintas di benak saya. Di waktu saya juga sedang perhatiannya dengan langit malam. Kala saya menghabiskan waktu hampir tiga bulan lamanya, mengabdi di kampung orang.

Saya ingat, betapa Pak Haji, pemilik rumah yang kami bai’at sebagai posko, selalu mengingatkan kami dari bawah rumah untuk memeriksa air di dalam tangki besar di atas loteng rumahnya.

“Sudah penuh atau belum?” teriaknya dari bawah jika air sudah terdengar meluap dari dalam tangki.

“Sudah, Pak Haji!” salah satu dari kami biasa meneriakkannya jika malas melangkah turun, mematikan pompa air.

Kami bermukim di lantai dua, selantai dengan loteng Pak Haji yang luasnya hanya sekira 2x2 meter persegi. Di loteng itu, yang ada tangki besarnya, tempat kami bergantian mencuci pakaian, sekaligus menjemurnya.

Di sebelah tangki, ada palang kayu yang cukup kokoh untuk jadi dudukan. Di depannya, dibatasi oleh pagar beton setinggi dada orang dewasa. Nah, di atas palang kayu itu lah, saya senang menghabiskan waktu sore menyaksikan matahari terbenam. Senja yang dibatasi atap-atap rumah penduduk kompleks. Senja yang sesekali mengingatkan warnanya yang berpendar dalam komposisi resolusi warna serupa; merah. Sesekali, ekor mata tak lepas memandang ke arah lain.

Jikalau langit mulai menggelap, saya sesekali masih duduk di palang kayu itu. Tergantung dari arah mana bulan akan muncul. Sering kali saya lebih memilih tidur-tiduran di lantai loteng dengan wajah menghadap ke atas langit. Berbekal karpet pinjaman. Di saat teman-teman lain mempertaruhkan permainan kartu bridge-nya, saya justru menghitung perkara bintang di langit. Merenung. Kalau beruntung, menjumpai bulan yang sedang terang benderang oleh purnamanya.

Kebiasaan saya menyaksikan langit malam dari tempat-tempat yang tinggi, mungkin saja bermula dari sana. Redaksi kami, rumah terpojok kompleks perumahan, punya atap yang cukup tinggi untuk ditongkrongi. Meskipun cahaya lampu jalanan memolusikan pendar cahaya bintang di langit, bulan cukup keren untuk dipandangi dari ketinggian itu. Seperti saat kami memandangi gerhana bulan, bersama-sama, kemarin.

Senja yang saya dapati di tengah perjalanan ke Makassar, di Maros, sehari sebelum full lunar eclipse semalam. Matahari yang bersitatap langsung dengan bulan di ufuk timur sana. (Foto: ImamR)

***

“Kenapa gerhana bulan kali ini warnanya kelihatan agak merah?”

“Karena bulan menyimpan kerinduannya yang penuh luka pada matahari. Matahari yang bersinar di kala siang, tak pernah tahu. Ia hanya melihat bulan putih, sepolos langit siang. Namun ketika malam menjelang, dan matahari menghilang, bulan baru memperlihatkan kemuramannya yang berdarah-darah.”

“Jadi, matahari tak pernah tahu bulan merindukannya, penuh luka?”

“Ya. Beberapa hari jelang gerhana, mereka hanya bersitatap dari jauh. Tak ada yang aneh dari bulan, di sisi penglihatan matahari yang akan membenamkan senja.” 

“Lantas, bagaimana dengan purnama, yang justru menampakkan benderang kebahagiaannya?”

“Hm…ya seperti itulah. Bulan hanya menunjukkan kesedihannya, yang tak tertanggung, dua kali setahun. Di malam-malam berikutnya, ia hanya akan menunjukkan wajah riangnya dengan bersinar terang di kala purnama. Sisa-sisa cahaya dari matahari itu didekapnya hingga fajar menjelang. Tapi, tahukah kau, cahaya itu tampak sendu.”

“Kenapa tampak sendu?” 

“Karena, lewat ruang dan waktu, ia banyak memendam rindu…”


--Imam Rahmanto--


[Update]:
Seorang teman mengirimkan gambar doodle-nya, yang katanya terinspirasi dari tulisan-random ini. Duh, betapa berharganya setiap karya yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Yah, meskipun atap redaksi dan bangunan di sekitarnya tidak "semegah" itu. Hehehe... Overall, nice doodle. :)

Terima kasih buat Kak @Meylancholia yang mengirimkan gambar
doodle-nya pagi ini. Kerenn!! (Doodle by Meylacholia

Selasa, 07 Oktober 2014

Pilihan

Oktober 07, 2014
“Memilih, memang selalu menyulitkan. Namun, mempertahankan pilihan itulah yang jauh lebih sulit”

Banyak hal yang semestinya menjadi pertimbangan dalam menjalani hidup. Bapak saya, orang yang selalu keras terhadap anak-anaknya, selalu mengatakan hal itu. Bahwa memilih, apa pun, harus memikirkan garis masa depan. Segala sesuatu punya resiko. Segalanya punya dampak. Segalanya punya musabab dan tantangan. Ada aksi, ada reaksi.

“Yah, terserah awakmu lah, Mam. Kalau menurutmu itu bagus, dan bisa kamu jalani,” petuah Bapak di tengah-tengah kami menonton tivi. Ia berbaring di samping saya. Saban hari, ia hanya tergolek disana gara-gara penyakit yang setahun belakangan ini menghinggapinya, paraplegia.

“Tapi, Pa’e cuma bisa kasih pertimbangan. Kalau itu…” lanjutnya lagi.

Segala kebimbangan yang dirasakan dipaparkannya satu demi satu. Pilihan tak langsung lantas ditawarkannya, sebagaimana kebanyakan orang tua yang menginginkan anaknya jadi Pe-En-Es. Mungkin, dalam hatinya, ia berahrap anaknya bisa menjadi pegawai pemerintahan resmi. Punya dana pensiun yang jelas. Punya pakaian dinas yang membanggakan. Akan tetapi, sebagaimana saya, tak seperti kabanyakan teman lainnya, tak berkeinginan menjadi Pe-En-Es.

Saya selalu menemukan, sebagian orang yang tertelungkup dalam pilihan-pilihannya. Pilihan-pilihan yang mungkin dasarnya diambil, namun bukan pilihannya. Pilihan yang di kemudian hari dijalaninya, namun tak dihidupinya. Pilihan yang kemudian menelikungnya pada beragam penyesalan, dan menguak pintu-pintu masa lalu. Apa benar penyesalan selalu datang belakangan, dengan warna-warni kata “seandainya”?

“Asalkan kamu bisa njalani, ya rapopo. Setiap orang tua cuma kepengen anak-anaknya hidup lebih baik dari apa yang diusahakannya,”

Saya tidak banyak menyelanya. Ketika pilihan dan argumennya sudah disampaikan, yang tersisa adalah sekadar membuktikannya. Saya tak tertarik lagi mendebat Bapak saya dengan hal-hal yang belum dilihatnya sendiri. Tak peduli seberapa unbelieveable-nya Bapak kepada anaknya, saya memakluminya, mengingat ada banyak kejadian yang menimpa kami setahun belakangan ini. Tidak terkecuali, hal-hal paling nekat yang pernah dilakukan anaknya sendiri.

“Saya hanya butuh kepercayaan,” gumam saya dalam hati, “dan Deadline…”

Dan saya bersyukur, segala hal yang perlu dijalani, adalah pilihan dasar yang bisa saya pertahankan. Sejauh apapun hidup dan pengalaman itu akan menggerus titik nadir, pilihan masih tetap ada di tangan sendiri. Karena hidup, kelak, akan tiba masanya perlu dijalani sendiri(an)…

"Kita dapat menjadi orang yang merasa tidak beruntung karena lahir di tengah-tengah keluarga miskin, bermimpi ketiban rezeki semacam "durian runtuh" agar bisa membeli benda-benda idaman, atau membayangkan hal-hal lain yang menggiurkan seperti nasib baik anak-anak orang kaya. Tapi, kita juga dapat memilih menjalani hidup dengan wajar dan penuh keriangan, berusaha membantu orang tua sedapat mungkin, meraih segala yang didamba dengan keringat sendiri, dan tetap antusias memandang masa depan." -- Sepatu Dahlan, Khrisna Pabhicara


--Imam Rahmanto--

Kamis, 02 Oktober 2014

Menulis? Lakukan Saja!

Oktober 02, 2014
“Bagaimana caranya menulis?” beberapa waktu lalu, seorang teman bertanya.

Saya sendiri heran, atas angin apa ia bertanya begituan pada saya? Lebih dari 4 tahun ini, saya cuman bergelut menulis di bidang jurnalistik dan sekali-dua kali menyempatkan membuang kejenuhan lewat menulis di “rumah” sendiri. Sementara menghasilkan karya yang betul-betul bisa dinikmati atau pun dibaca banyak orang, sungguh masih di cakrawala awang-awang.

Agak bosan juga sih jika ditanya demikian. Lusinan pertanyaan serupa saya temui, dengan orang yang berbeda pula. Rasanya, saya lebih malas menyampaikan jawaban untuk itu ketimbang harus memaparkan ulasan proposal penelitian.

Pada mulanya mereka bersemangat dan meledak-ledak hendak menulis. Bercerita menggebu-gebu. Membuat sebuah “rumah” di dunia maya. Mempercantik tampilannya. Berjanji (pada entah siapa) akan rutin mengisinya. Dan selanjutnya, bisa ditebak (dan akan selalu begitu), “rumah” tulisannya itu hanya hidup sekian minggu, atau bahkan cuma hitungan hari. Mangkrak. Seperti kata pepatah kuno, “Panas-panas kotoran ayam”

Tak perlu heran, ketika pertanyaan seperti itu datang pada masanya, saya hanya bisa tersenyum masam, sembari bertaruh dengan diri sendiri dan bergumam, “Akh, ini cuma semangat-semangat kuno." Semangat itu seperti api yang membakar kertas. Apinya membesar di permulaan, tapi dengan cepat melalap habis kertas. Menyisakan abu yang bakal hilang tertiup angin.

Tak ada teori pasti dalam menulis. Do you know, theory is relative, but practice is absolute! Saya hanya bisa menyarankan, bagi yang benar-benar ingin melakukannya, cukup lakukan saja dulu. Just do it! Jangan menanti diberi wejangan bijak seperti Mario Teguh, baru memulai menulis. Itu!! #ala-ala Mario teguh 

Seperti orang yang ingin belajar kungfu, butuh pemanasan dulu agar mampu memahami seperti apa teknik bertarung yang bakal dipelajarinya. Terlebih dahulu ia harus bangun pagi, mengangkat air naik-turun bukit, membersihkan halaman, memotong kayu, bahkan sampai memijat gurunya. Bagi yang tidak ikhlas belajar, bisa-bisa gugur hanya gara-gara payah kebosanan.

Sama saja dengan menulis. Beragam teori yang disampaikan sejatinya tak berguna sama sekali kalau tak diraktekkan. Menulis cuma butuh dilakukan kok bukan sekadar dibayangkan dan dibijak-bijaki. Just do it!

Sumber: google.com

“Apa saja yang bisa ditulis?”

Aduh! Apapun yang menjadi latar belakang menulis, itu merupakan hak prerogatif siapa saja yang ingin melakukannya. Tidak butuh suara banyak orang, apalagi DPR untuk memilih isi tulisan yang dikehendaki. Kita tidak bisa membatasi kebebasan ber-tulis-an setiap warga negara. Terkadang, membatasi tulisan itu hanya akan berakhir pada tulisan-tulisan yang tidak mencerminkan sosok pribadi penulisnya. Padahal, yang namanya tulisan, genre apapun, selalu mencerminkan seperti apa jiwa penulis itu sendiri, disadari atau tidak oleh yang menuliskannya.

Menulis, beda pula dengan menjual. Ketika hendak menjual, maka kita memikirkan keinginan para pelanggan. Tentunya, kita tak ingin pelanggan tak menyukai apa yang kita jual. Kita berhitung untung-rugi barang dagangan. Sedangkan menulis seharusnya dilakukan atas dasar kesukaan kita. Sepanjang dengan menuliskannya bisa memberi kepuasan pada batin, masa bodoh lah dengan orang-orang yang akan membaca tulisan tersebut. Eh, untuk tulisan yang menjual, ada saatnya ketika seseorang telah banyak berproses pada tulisan-tulisannya.

Apa pun bisa menjadi “bahan” yang menarik untuk ditulis. Rumah, tempat tinggal. Cerita perjalanan di tempat-tempat baru. Masa lalu yang menggugah. Kisah sedih di malam minggu. Tanggal-tanggal penting. Kekasih. Kekasih orang lain. Kekasih selingkuhan orang lain. Kekasih yang tak terlupa. Kekasih yang tak sampai. Kekasih yang balikan. Nah loh?

Bahkan, orang-orang yang berdalih tak bisa menulis karena terpengaruh badmood bisa mulai menulis dengan menceritakan alasan badmood-nya itu. Dan orang-orang yang beralasan tak punya waktu luang untuk menulis (tapi punya kemauan, katanya), bisa mulai menuliskan kesibukannya sehari-hari.

Nah, apa yang sulit dari menulis itu sendiri? Kalau memang sudah punya kemauan, ya mbok ya cukup dilakukan saja tah. Saya justru skeptis atas orang-orang yang di mulutnya berkata, “Saya mau sekali (pake banget) menulis,” sementara komitmennya belum bisa diterapkan secara konsisten. Kadang-kadang, banyak orang yang menulis hanya karena euforia sesaat. Saya banyak menemukan d an mempelajari perilaku orang-orang seperti itu.

Ketimbang terlalu banyak menekuri tulisan-tulisan teori seperti ini, ada baiknya segera menuliskan sesuatu – yah kalau berminat. Mungkin, sesuatu yang sedikit lebih panjang dan berkesan dibanding sekadar status, tweet, atau profile message. Kebanyakan teori hanya akan membuat seseorang semakin jauh berharap tanpa kepastian. Kalau kata AA Gym sih; mulailah dari diri sendiri, mulailah dari diri sendiri, dan mulailah dari sekarang! 

***

Bagi saya, menulis bukan hanya perkara menuangkan kata-kata indah di atas kertas atau monitor komputer. Tak perlu sekadar berlagak pamer atas pengetahuan yang dimiliki. Bukan semata-mata ingin tenar di mesin pencarian Google, apalagi di rak-rak perpustakaan kota. Pun, tidak sekadar menjadi lahan curahan hati dan keluh kesah di kala resah.

Bagi saya, tak peduli seberapa indah tulisan saya dikonsumsi orang lain, sungguh menyenangkan bisa mengabadikan perjalalanan hidup sendiri. Saya senang berbagi cerita. Berbagi pengalaman. Berbagi pelajaran lewatnya tanpa berusaha menggurui orang lain. Dan yang terpenting, saya cuma menuntut tak ingin dilupakan. Betapa berbahagianya ketika anak-cucu saya kelak mengetahui rupa perjalanan kakek-neneknya lewat tulisan-tulisan yang didongengkan menjelang tidur tiap malam.

“There will come a time when all of us are dead. All of us. There will come a time when there are no human beings remaining to remember that anyone ever existed or that our species ever did anything.” --The Fault in Our Stars

“Akan tiba masanya ketika kita setiap orang mati, tak terkecuali. Pada waktu itu, tidak ada satupun orang yang akan mengingat bahwa seseorang pernah ada atau bahkan pernah melakukan sesuatu.” --The Fault in Our Stars, novel

Manusia memang takkan pernah hidup selamanya di dunia ini. Selain budi yang dihargai, manusia selayaknya menyisakan karya untuk dikenang. Akan tetapi, warisan paling sederhana bagi kita yang tetap ingin dikenang, ya dengan meninggalkan tulisan untuk dibaca orang lain. Sesederhana itu.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan ditelan sejarah” --Pramoedya Ananta Toer