Selasa, 02 September 2014

Sebanding

Saya selalu percaya bahwa usaha atau kerja keras itu akan selalu membawa hasil yang terbaik. Memang, tidak selalu seperti yang diinginkan. Namun Tuhan merupakan sutradara terbaik untuk memilihkan manusia hal-hal yang menurut-Nya terbaik. Sebagaimana Tuhan Maha Melihat (nurani), maka Tuhan pun Maha Tahu.

Manusia, tak tahu apa-apa. Segala yang diketahuinya hanya berlangsung dalam bingkai penglihatan dan pengalamannya saja. Apa yang akan terjadi, manusia, kita, hanya meraba-raba. Prediksi. Memperkirakan. Hingga meramal. Sayangnya, apa yang diperkirakan senantiasa mengalahkan apa yang telah diketahui. Seolah-olah, apa yang diperkirakan itu menjelma menjadi sesuatu yang lebih diketahui kebenarannya dibanding apa yang telah diketahui sebelumnya.

“Kak Imam, percaya tidak kalau usaha dan kerja keras itu membawa hasil yang lebih baik?”

Setiap usaha selalu berbanding dengan hasil yang akan didapatkan. Saya percaya hal demikian. Bahkan, baru menanamkan tekad saja, semakin kuat, - Tuhan selalu tahu dan mampu mengukur sejauh mana tekad yang dimiliki manusia – semakin besar kemungkinan untuk terciptanya keajaiban. Saya percaya hal itu. #justbelieveit

“Ndak percaya ma. Saya ndak percaya lagi sama usaha dan kerja keras untuk hasil yang baik. Yang benar itu Takdir. Berarti kata-katanya Thomas Alva Edison yang katanya – jenius adalah 1% bakat dan 99% kerja keras – itu salah.”

Pesan singkat itu datang dari salah seorang adik di sekolah menengah yang pernah menjadi tempat saya menghabiskan waktu mengabdi nyaris 3 bulan lamanya. Semenjak pertama kali mengamatinya, di sekolah, di kelasnya, saya sedikitnya tahu ada “sesuatu” yang senantiasa ia sembunyikan dari balik wajah dan kata-katanya.

Sumber gambar: googling.
Saya nyaris tertawa ketika ia mengutip quote dari sang Penemu bola lampu itu. Mungkin, Thomas merupakan salah satu ilmuwan favoritnya. Apalagi hingga kini, hasil temuannya masih digunakan turun temurun, sebagai bukti perkembangan zaman dan teknologi.

Oiya, seingat saya, kelas-kelasnya juga dinamakan sesuai dengan nama ilmuwan-ilmuwan yang ternama pada masanya. Hm..makanya wajar ia mengutip salah satu perkataan ilmuwan yang termasyhur itu.

Akan tetapi…., saya tahu, bukan itu intinya.

Apakah si ilmuwan bola lampu itu tak bercerita mengenai kegagalannya pula padamu, wahai adikku yang berkacamata? Bahwa ketika pertama kalinya si nenek moyang lampu itu menemukan bahan lampu pijar, ia telah banyak mengalami kegagalan. Menurut cerita, hingga 99 kali kegagalan. 

Anehnya, ketika ia ditanya perihal perasaannya setelah 9.955 kali gagal menemukan bola lampu, di hadapan para wartawan surat kabar di masa itu, ia justru menganggap hal itu bukanlah kegagalan. “Saya tidak pernah gagal. Saya justru berhasil menemukan 9.955 bahan yang tidak cocok dibuat lampu pijar,” katanya dengan bangga. Dengan demikian, gagal atau tidak, tergantung dari cara memandang lewat “kacamata” setiap orang, bukan?

Akh, lagi-lagi, bukan itu intinya. Bukan tentang bola lampu, kan?

Saya pikir, setiap usaha yang diwujudkan dalam kerja keras hingga doa, selalu menemukan jalannya. Cepat atau lambat. Kontan atau kredit. Instan atau bertahap. Otomatis atau manual.

Selain itu, setiap orang punya takaran usahanya masing-masing. Usaha yang dianggap “keras”, belum tentu melebihi rata-rata usaha keras orang lainnya. Atau pilihan lainnya, Tuhan justru menyimpan hasil yang akan diberikannya pada saat yang tepat kelak. Percayalah.

Segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini, menurut saya, ya takdir. Seperti apa tampang manusia saat lahir ke dunia. Siapa bapak-ibunya. Siapa teman-temannya. Apa yang akan dikerjakannya ketika beranjak dewasa. Dimana ia tinggal bersama jodohnya. Sebanyak apa rezeki yang dilimpahkan Tuhan padanya. Semuanya itu takdir. Selalu, bagi umat Muslim, percaya yang namanya takdir.

Meskipun setiap takdir sudah digariskan, namun Tuhan pun sudah memberikan kuasa kepada manusia untuk mampu mengubahnya. Baik jodoh, maupun rezeki, takkan datang dengan sendirinya jika kita tak mencarinya atau menjadi “sebab”nya. Saya justru tak pernah percaya sepenuhnya dengan kalimat-kalimat yang senantiasa menjadi perisai pembenaran atas usaha manusia;

“Kalau jodoh takkan kemana. Kalau sudah digariskan dengan kita, maka apapun jalannya, pasti akan bersama kita.”

Sama halnya dengan,

“Kalau rezeki takkan kemana.”  

Akh, semua itu omong kosong. Bedakan antara “pasrah” dan “tawakkal”!

Jangan menganggap bahwa takdir akan berjalan sekehendak Sang Pencipta. Sementara Tuhan sendiri sudah menggariskan manusia untuk bisa mengubah keadaannya sendiri, bukan?

“Setidaknya jangan singkirkan jauh-jauh orang yang juga mau berusaha. Kan ndak adil toh?”

Percayalah, adikku sayang. Tuhan tak pernah berdiam diri melihat hamba-Nya yang jatuh bangun mencapai setiap keinginannya. Bahkan, sekecil apapun kata hatimu, Tuhan selalu mendengarnya. Setiap usaha selalu menemukan jalannya. Sejauh mana manusia berusaha, bukan diukur dari hasil yang tampak oleh mata. Melainkan sejauh mana kedewasaan kita bertindak atas usaha itu.

Intinya, jangan berhenti berusaha. Jangan berhenti percaya pada Tuhan.

Saya paling suka dengan quote satu ini, meskipun sudah amat usang,

“Keberhasilan bukan berarti kita tak pernah gagal. Tak pernah terjatuh. Tak pernah tersungkur. Keberhasilan justru diukur dari seberapa sering kita bangkit di saat jatuh dan tersungkur itu.”

Dan setiap tekad yang diwujudkan dalam bentuk usaha keras, akan merupa menjadi keajaiban tak terkira. Jangan lupa dengan "pemanisnya"; doa. #justbelieveit []


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar