Minggu, 28 September 2014

Disinilah Kami Berulah...

#Lanjutan dari postingan sebelumnya; Di Sinilah kami Bermula…

Adalah hal wajar ketika seorang mahasiswa menimbang-nimbang jadwal kuliahnya untuk bisa mengikuti pelatihan jurnalistik yang diadakan kurun empat hari. Dimulai Kamis, berakhir Minggu. Terlebih, tidak semua dosen punya kebijakan tertentu atas mahasiswa yang meninggalkan kuliahnya demi mengikuti kegiatan organisasi. Sebagian besar dosen justru agak antipati terhadap mahasiswa-mahasiswa yang menekuni dunia organisasi. Hati-hati.

Akan tetapi, disinilah pilihan itu mesti ditentukan!

Status sebagai mahasiswa bukan lagi status remaja abal-abal. Setiap orang bebas menentukan pilihannya sendiri atas apa yang akan ia jalani. Mahasiswa, erat kaitannya dengan kedewasaan. Ya, kedewasaan untuk menentukan pilihan…

Bagi saya, meninggalkan satu-dua mata kuliah, tak apa-apa. Padahal saya sebenarnya sudah galau setengah akut dengan salah satu mata kuliah yang dosennya benar-benar killer. Paling tidak, absen saya di salah satu mata kuliah, apapun, tidak mencapai batas “awas”. Lagipula, kesempatan untuk mereguk ilmu dan pengalaman jurnalistik hanya datang di kesempatan ini. Tahun esok, saya sudah mencapai “semester tua” untuk bisa mengawali partisipasi di lembaga atau organisasi manapun.

Sebenarnya, saya kekeuh pula ingin bergabung di Profesi, dulu, karena diam-diam menyukai seorang teman kelas yang sudah lebih dulu bergabung di lembaga kuli tinta itu. Atas ajakannya, saya tertarik untuk bergabung pula. Apalagi ketika ia mengajak, “Ayo, ikut!”, sembari mengulas senyum manisnya. Manis sekali. *Mendadak, slow-motion-around-us.

Yah, meskipun suka, saya tak cukup berani untuk bilang “suka”. Saya termasuk seorang “pemendam” sejati kala itu. Hahaha…. Dan kelak, saya tidak begitu peduli lagi dengannya. Pun kelak, Tuhan ternyata akan mempertemukan saya dengan seseorang yang ternyata benar-benar mampu menggugah perasaan saya untuk sekadar berani berucap, “Saya menyayangimu.” #cut, cut!! Fokus, woi! Fokus!!

#Pelatihan Jurnalistik Dimulai

Sungguh, saya benar-benar menikmatinya. Diantara teman sekelas lainnya, cuma saya yang berminat untuk mengikuti pelatihan jurnalistik lingkup universitas. Meskipun teman lain yang berasal dari jurusan Matematika juga ada yang ikut. Menjadi “satu-satunya” terasa sangat asing, namun menyenangkan. Betapa berharganya menemukan banyak banyak teman-teman baru, yang berasal dari 9 koloni fakultas.

(Dok. Profesi)
Saya jadi banyak menemukan karakter-karakter baru. Diawali senyum malu-malu. Diam-diam mengamati yang lainnya. Sedikit mengamati dan menilai dari pandangan pertama. Oh, seandainya saya percaya dengan jatuh cinta pada pandangan pertama, saya akan jatuh cinta pada setiap orang yang saya kenal.

“Hai, nama saya……..”

“Oh, saya……”

Dilanjutkan dengan jabat tangan dan senyum keramahan. Terkadang, pembicaraan akan berlanjut pula pada sudut pertanyaan, “Dari jurusan mana?”, “Prodi apa?”, “Kenal dengan si A?”, hingga pada gurauan “Anak yang di sebelah sana cantik ya?” Hahaha….

Hiruk pikuk peserta yang tidak mencapai 100 orang itu memenuhi ruangan di lantai 3 gedung rektorat UNM. Untuk pertama kalinya, saya menginjakkan kaki di pusat kampus saya ini. Oh ya, jumlah peserta yang mengikuti pelatihan tersebut dibuat seramping mungkin dengan alasan efisiensi penerimaan materi diklat. Lagipula, menurut teman saya, sebanyak apapun jumlah mahasiswa yang mengikuti diklat jurnalistik hanya akan menyisakan belasan jurnalis-jurnalis kampus militan.

Cukup menyenangkan menjelajahi materi dari pakar-pakar jurnalistik. Beragam pengalaman disampaikan sesuai dengan temanya masing-masing. Ada yang menggebu-gebu. Ada pula yang mendayu-dayu. Tak dipungkiri pula, ada juga segelintir pemateri yang membuat mata saya kejap-kejap karena mengantuk.

“Para wartawan itu tak pernah berhenti berpikir. Mereka  pun harus skeptis dan kritis atas segala kejadian. Setiap ide dan kejadian yang diliputnya mesti dituangkan dalam sebuah naskah berita.”

“Berita itu memiliki unsur 5W + 1H. What, Who, Where, When, Why, dan How.”

“Seorang jurnalis itu harus menghormati kode etik jurnalistik yang ia emban. Segala jenis pemberian dari narasumber, mesti dikesampingkan demi profesionalismenya,”

“Jadi jurnalis itu enak. Kita jadi punya kartu-bebas-kemana-saja.”

“Tahu apa perbedaan antara wartawan dan ilmuwan? Kalau ilmuwan, sedikit tahu tapi banyak. Kalau wartawan, banyak tahu, tapi sedikit,”

Akan tetapi, hal paling menyenangkan tiba di saat kami diajak berkeliling dan berkunjung ke beberapa media ternama di kota Makassar. Seumur-umur, saya baru pertama kalinya menyaksikan proses kerja sebuah media massa. Mulai dari proses layouting hingga proses pencetakan yang meibatkan mesin-mesin besar dan gelondongan kertas raksasa.

Yeah, seperti inilah keberuntungan itu.
(Dok. Profesi)

Tentu, perjalanan itu tak hanya dinikmati ala kadarnya. Di kunjungan media tersebut, kami diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan para pakar media. Menimba ilmu dari sana. Tak terkecuali dengan reporter-reporter yang sedang mengetik berita, para onliner yang setiap saat memantau perkembangan update berita, ataupun layouter yang sedang sibuk menyusun dan mendesain perwajahan surat kabar. Merekalah manusia-manusia Deadline! Keren!

Yah, tak lupa pula diantara kerumunan kami itu diselingi jepretan kamera dengan berbagai blitz-nya. Bagi yang beruntung - dengan wajah cukup menjual – ia akan nongol di media bersangkutan keesokan harinya.

Perjalanan kami dalam pelatihan excited itu belum berakhir. Kunjungan media hanyalah proses perkenalan akan kerja-kerja media yang sesungguhnya, dari mencari berita hingga memproduksinya ke khalayak luas. Selanjutnya, pengalaman lebih mendebarkan menanti kami.

Proses mencari berita tak semudah membalikkan telapak tangan. Saya justru merasainya sebagai pengalaman menantang di hari terakhir. Dan kami akan diterjunkan ke lapangan, layaknya para pencari berita. Tapi dalam situasi dan kondisi yang berbeda; tengah malam. Ada gemerlap kehidupan kota di pinggiran sana yang mengancam birahi untuk tetap waspada. Kehidupan kota yang pulas di siang hari, namun bergeliat di malam hari.…

This is we are, in #DJMTD2010. And me? Tak perlu dicari deh. Huahaha... (Dok. Profesi).

***

“Wartawan tak mengenal istilah libur. Jadi, bagi kalian yang hanya ingin bersantai saja dan hanya mengejar gaya-gayaan, maka dari sekarang berhenti saja!” pesan salah seorang jurnalis yang memberi arahan sekaligus wejangannya di redaksi.

Ya, saya memahaminya di kemudian hari. Bahwa passion di bidang jurnalistik benar-benar menguras tenaga dan perasaan.

Di saat teman-teman lainnya bisa bersantai di senggang kuliah, kami harus berkejaran dengan tenggat deadline demi memenuhi satu angle berita. Di saat teman-teman lain bisa menonton film kesayangan sepuasnya, kami harus berdiam di depan komputer kesayangan untuk mengetik satu-dua berita. Tak jarang harus menerima cibiran atau makian redaktur. Di saat jantung teman-teman lainnya berdegup tak menentu karena nge-date dengan gebetan-nya, kami justru berkenalan dengan pejabat-pejabat kampus yang tak jarang mengintimidasi dan mengundang jantung berdetak lebih kencang.

Namun...

Ketika teman-teman lain bisa lulus dengan nilai akademik sempurna, saya yakin, kami bisa bersaing di lapangan profesional dengan nilai sosialisasi dan skill lebih sempurna. :)

***

Berlanjut ke:
3. Dimana Deadline Dimulai

--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar