Kamis, 25 September 2014

Dari Sinilah Kami Bermula...

Jelang dua minggu lagi, event Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (DJMTD) dilangsungkan. Jelang pula, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di kampus Orange tersebut akan menemukan bibit-bibit barunya. Seperti halnya saya, dulu…

Pikiran di kepala mendadak terputar, berpilin, dan berganti sisi. Seperti kaset tape recorder yang hanya menyediakan pita cokelat selama sejam . Kini sisi “today” beralih kepada sisi “yesterday”. 

Saya sedang mengunjungi masa lalu. Awal segala kehidupan dan perjalanan saya sekarang.

***

Memasuki masa-masa kuliah, bagi saya, adalah hal yang menyenangkan. Amat menyenangkan malah. Meskipun target utama saya bukan di jurusan Matematika, namun betapa menyenangkannya menapaki fase kedewasaan, dimana kita tak dianggap lagi sebagai anak kecil.

Saya tak lagi harus memakai seragam jika ingin belajar di kampus. Tak ada lagi aturan-aturan pokok yang terkadang mengekang kebebasan sebagai anak muda di dunia kampus. Di dunia perkuliahan pun, kemandirian secara perlahan akan dipelajari sendiri. Tak ada lagi “keluar-jam-segini’ atau “pulang-jam-segini” harus melalui izin orang tua. Tak ada lagi orang tua yang membangunkan pagi-pagi sekali setiap hari, untuk memaksa ke sekolah. Tak ada lagi ibu yang memasakkan masakan setiap tiga kali sehari.

Yang paling menyenangkan, ketika kami berkenalan satu sama lain sebagai teman-teman baru. Apalagi jika berkenalan dengan teman perempuan yang parasnya cantik. Manis. Serasa panah asmara Dewa Amor ditembakkan dalam jarak dekat. Sangat dekat. Hingga tak ada kesempatan untuk berkedip. Aih, asmara remaja nyaris dewasa. Kelak, saya tak heran lagi jika menemukan mahasiswa-mahasiswa baru “berjodoh” dengan teman kelasnya di tahun pertama kuliahnya.

Sebenar-benarnya kedewasaan, dipelajari ketika kita telah jauh dari pengawasan orang tua. Bagaimana kita mengurus diri sendiri, hingga bersosialisasi dengan orang-orang yang akan kita kenal di kemudian hari.

Saya, di masa-masa masih "cute" dan labil bersama dengan teman-teman laki-laki, sekelas. (dk. pribadi)

Tapi…

Percaya atau tidak, menjalani masa-masa kuliah sebatas itu hanya akan membawa pada kejenuhan. Istilah kerennya, mahasiswa Kupu-kupu alias Kuliah-Pulang-Kuliah-Pulang. Saya pun merasakannya. Demi waktu, saya dan mahasiswa lainnya dipaksa untuk menjadi seorang introvert sekaligus anti-sosial. Kampus, pada hakikatnya, lebih banyak menciptakan orang-orang pandai ketimbang orang-orang cerdas.

Tak heran, ketika memasuki semester awal tahun pertama, saya berusaha mencari “pelarian” lain atas kejenuhan belajar di kampus. Apa tidak bosan hanya dicekoki dengan teori-teori-teori-teori-teori dalam perkuliahan? Sebagai orang yang pernah bergelut di dunia organisasi, saya memilih untuk berpartisipasi dalam salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di kampus.

Ihwal kegemaran dalam dunia menulis, saya manfaatkan untuk ikut dalam perekrutan anggota salah satu lembaga penelitian di kampus. Menurut sosialisasi “door to door”nya sih, di dalam kelas saya, lembaga itu menampung mahasiswa-mahasiswa yang punya kegemaran (atau bakat) dalam bidang tulis-menulis. Saban kegiatannya selalu bersentuhan dengan tulis-menulis. Apalagi, menurut beberapa senior saya di jurusan, UKM tersebut selalu menorehkan prestasi bagi kampus. Wajar kalau anggotanya berjubel dan selalu diberi kesempatan untuk bersosialisasi kepada kami, para anak-anak baru.

“Saya juga mau ikut. Saya ingin berprestasi seperti mereka,” gumam saya dalam hati. Maklum, saya selalu terdominasi prestasi semenjak sekolah.

Pun, ada beberapa orang teman saya yang tergiur untuk ikutan. Jadinya, saya merasa “tidak-sendiri-saja” kalau memutuskan untuk bergabung. Bagi mahasiswa baru seperti kami, melakukan sesuatu secara berkelompok (atau bergerombol) menjadi hal yang “wajib”. Kami masih tervaksinasi virus “senasib-sepenanggungan” di kampung orang. Mulai dari memprogram mata kuliah (sama-sama), sampai piknik (sama-sama).

Berselang minggu selama proses perekrutannya, nyatanya saya tidak menemukan chemistry-nya. Diskusi berjalan dari fakultas ke fakultas, tetap menyisakan “kekosongan” di hati. #ehh

Saya baru menyadari, menulis ilmiah bukanlah passion saya. Saya tidak begitu menyukai hal-hal yang sangat terikat dan sistematis. Bayangkan saja, di kampus, kami sudah dijejali dosen dengan laporan dengan latar belakang, rumusan masalah, landasan teori, dsb, yang menghasilkan sebagian copy-paste  karya ilmiah, dan lagi, saya harus mengerjakannya di luar waktu kuliah. #akh!!

Mencari aktivitas tambahan di luar kuliah, semestinya yang tidak membawa-bawa perkara “tetek-bengek-kuliah” lagi.

Saya berhenti di tengah jalan, melanjutkan rutinitas kuliah, yang membosankan.


#Setahun kemudian…

Saya menemukan yang telah lama terabaikan. Dulu, sebelum menasbihkan diri untuk mengikuti perekrutan unit kegiatan mahasiswa yang bergerak di bidang penelitian itu, salah satu UKM lainnya sempat terlintas di pikiran untuk menjadi pilihan. “Ekskul” pers mahasiswa yang bergerak di bidang kepenulisan, namun dalam genre yang berbeda. Yah, kelak saya benar-benar mengetahui perbedaannya di ujung kelopak mata para dosen dan pejabat kampus.

Akan tetapi, persoalan keuangan sempat mengganjal kala itu. Saya masih ingat betul, kontribusi yang ditawarkan untuk mengikuti diklat lembaga pers tersebut, cukup mahal; Rp 50 ribu. Jangan salah. Uang sebegitu, bagi saya sebagai anak baru di kota Makassar, cukup besar. Apalagi saya masih mengandalkan kiriman dari orang tua. Wajar ketika ada “ekskul” lain yang – saya kira bergerak dalam genre sama - menawarkan perekrutan dengan kontribusi lebih murah. Saya tergiur.

(Foto: ImamR)
Dimulailah di tahun kedua, saya benar-benar mengitikadkan diri mencoba dunia pers mahasiswa. Sebagaimana yang saya yakini, menulis berita adalah perkara “kebebasan”. Saya dibuai angin segar atas chemistry sebagai seorang pewarta kampus. Menulis adalah perkara membekukan momen. Dan ada banyak momen yang diabadikan lewat tulisan maupun foto seorang jurnalis.

Kalau karya ilmiah menekankan pada fakta, penulisan cerita menekankan pada fiksi, maka jurnalistik menekankan pada fakta yang diramu menjadi sebuah cerita menarik. Esensinya, kaidah penulisan jurnalistik berada di antara keduanya, sekaligus menyatukan keduanya. Finally, I got it!

Kaidah jurnalistik membawa dan meyakinkan saya pada kebenaran mengungkapkan fakta berdasarkan data, wawancara, maupun observasi lapangan. Sebagaimana para wartawan itu – yang saya lihat di baliho besar terpampang di depan kampus – adalah orang-orang yang banyak bergerak di lapangan. Setiap hari, mereka berkenalan dengan orang-orang baru, pejabat-pejabat kampus, melintasi setiap fakultas, dan menuliskannya. Kalau beruntung, berkenalan pula dengan calon jodoh. #ehh 

Saya bahkan membayangkan berada sebagai aktor pada salah satu momennya.

Saya sedang berlari-lari kecil mengejar narasumber demi satu tulisan yang telah memasuki tenggat deadline!. Kartu pers bergelantungan di leher. Di tangan kiri ada blocknote untuk mencatat history percakapan. Sedangkan tangan satunya lagi sibuk mencoret-coret dengan alat tulis seadanya. Tentu saja, masih dengan narasumber yang harus diiringi langkahnya sembari menanyakan poin-poin pertanyaan seperlunya. Sementara di kiri-kanan saya, pewarta lain sedang sibuk melakukan hal serupa, diiringi letupan-letupan cahaya blitz kamera fotografer.

Akh, saya begitu menginginkan adegan memacu adrenalin itu!

Seorang teman perempuan sekelas, yang tahun sebelumnya lebih memilih bergabung dengan lembaga pers itu, menjadi jembatan untuk mengenal pers mahasiswa lebih jauh. Terlebih lagi, saya dan dia merangkap sebagai seorang asisten yang sama di laboratorium komputer di jurusan Matematika. Selain karena ajakannya, saya juga mengaskan bergabung karena….emm….emm… agak susah membahasakannya.

Dari sana, dari pandangan ke baliho yang memuat wajah-wajah yang saling tegur-sapa di kemudian hari, langkah saya menapaki dunia jurnalistik bermula…

(Foto: ImamR)



Berlanjut ke:
2. Disinilah Kami Berulah
3. Dimana Deadline Dimulai


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar