Jumat, 12 September 2014

18# Auto-Imun-Skripsi

"Bagaimana skripsimu?" 

"Kapan wisuda?"

Biassaa.... Saya sudah "kebal" dengan pertanyaan-pertanyaan demikian. Kepala saya secara otomatis sudah membentuk "sistem imunnya" sendiri. Sudah terlalu banyak dicekoki dengan virus "skripsi", maka otak di kepala saya menjalankan fungsi pertahanan sebagaimana mestinya. Kekebalan emosi pun meningkat drastis. 

Momok? Sudahlah. Saya tak peduli lagi. Ketika pertanyaan diajukan, maka jawaban cukup dilontarkan. Sederhana. Sesederhana melebarkan bibir ketika tersenyum. Dan lagi, selalu menghindar atas pertanyaan seperti itu hanya akan menjerumuskan pada penjara diri sendiri. 

Melawan ketakutan, itu yang terpenting. Setiap masalah harus dihadapi, bukan dihindari. Yang namanya masalah, tidak akan berhenti ketika dihindari. Not to escape. Just face it! Lha wong pertanyaannya cukup dijawab saja, susah amat!

Yah, meski tak dipungkiri, mengurus tugas akhir kuliah itu sebenarnya bukan perkara mudah. Butuh sedikit kesabaran dan keuletan. Serius!

Saya juga butuh sedikit kepercayaan... Sebagaimana saya tahu betapa menyakitkan rasa tak dipercayai, saya menghindari untuk tak mempercayai orang lain. Kepercayaan yang diberikan kepada orang lain, adalah memilin harapan di kepalanya. 

Seperti halnya judul proposal saya yang akhirnya bisa di-accepted oleh kedua pembimbing, yang sudah semenjak sebulan lalu dipatok. Hanya.....saya baru memulai (memerangi kemalasan) seminggu belakangan ini. Hahahaha....

Alamat beruntung bagi saya. Pasalnya, kedua pembimbing saya merupakan dosen yang cukup "mempermudah" proses bimbingan mahasiswanya. Apalagi salah satu diantaranya merupakan orang yang sudah jauh mengenal saya ketika masih aktif di lembaga pers kampus. Tak ada proses yang mblibet. 

"Saya ingin sedikit mengubah redaksi kata.....bla...bla...bla, karena.... bla...bla...," saya menerangkan pada salah satu pembimbing yang juga merangkap sebagai Penasehat Akademik di kampus saya. Tak lupa, saya menyertakan dua judul proposal skripsi, judul before dan judul after.

"Ya, saya setuju dengan usulanmu itu. Bagus. Saya juga pernah dengar itu. Sudah bagus. Saya lebih cenderung memilih itu....," tanggapnya lugas.

Haha....tak butuh waktu lama untuk menerapkan "proses-penanaman-wacana" kepada dosen saya itu. Dengan sedikit keahlian "iseng", proses inception itu berhasil. Yeah!! Untuk sementara, saya tak perlu khawatir. Asalkan ulet dan ada kemauan, Tuhan selalu menciptakan keajaiban-Nya. 

Saya jadi ingat dengan kalimat bijak di buku-buku catatan masa sekolah dulu,

"Where there's a will, there is a way" --- dimana ada kemauan, disitu ada jalan

Setiap keinginan yang kuat selalu menemukan pintunya. 

Perkara tugas akhir mahasiswa, katanya, hanya persoalan "mampu atau tidak" "mau atau tidak". Sebobrok-bobroknya kuliah seorang mahasiswa, selama ia "mau" menyelesaikan kuliahnya, nothing impossible. 

Seperti halnya salah seorang kakak senior saya yang baru-baru ini sudah memasuki deadline drop out. Masa tujuh tahun kuliah, pada akhirnya bisa diselesaikannya dengan tersenyum lebar menenteng toga. Padahal, bagi sebagian orang yang mengenalnya, kelulusannya sungguh di luar dugaan. Tak ada satu ihwal pun yang mendukung sisi positifnya. Dan toh ia dengan mulusnya bisa selesai tepat waktu. Luar biasa!

Asalkan mau....

Asalkan ulet...

Asalkan gigih...

Asalkan pantang menyerah...

Belajar dari sana, sedikit demi sedikit, saya mulai memupus momok "skripsi" itu di kepala. Saya ingin bersahabat dengan momok itu. Membangun hubungan emosional yang mutualisme. Menghindarinya dan membangun benteng pertahanan, justru semakin memantulkan refleksi terburuk atas keinginan yang ingin dicapai. 

Minimal, saya tidak perlu mengerutkan kening ketika ada orang yang menohok dengan pertanyaan semacam itu. Setidaknya, saya menuai semangat dari orang-orang yang masih peduli pada saya karena memepertanyakannya. Kepedulian itu beragam versi.

"Bagaimana skripsimu?"

"Sudah, sudah... sudah sampai Bab II, kok," sambil melemparkan senyum. Tentu saja, senyum yang teramat tulus. :)



***

Makassar dirundung kekeringan. Saya agak prihatin dengan kondisi teman-teman saya yang beberapa hari tidak menemukan air untuk MCK. Sejak dua hari lalu, PDAM Kota Makassar menghentikan distribusi air bersihnya, dan akan berlangsung hingga Sabtu. Termasuk saya juga sih...

Di kost-kost, termasuk di pondok saya, orang berbondong-bondong mengangkat air dari sumur. Menampungnya di bak. Menghabiskannya. Mengangkat air lagi. Begitu seterusnya. Bagi yang tidak beruntung karena tak memiliki sumur, maka kost tetangga menjadi tempat menciduk air. Pun, larut malam, kegiatan "bertamu" itu tak bisa dihentikan.

Ps: "now playing" di handphone saya adalah siaran horor tengah malam salah satu radio di kota Makassar. Iya, ini Malam Jumat, Men!!


--Imam Rahmanto--

 

2 komentar:

  1. banyak yang takut ketemu skripsi atau TA , sama seperti sayaa .. ingin rasanya kuliah tanpa TA di akhir :(

    BalasHapus
  2. @Tokopenjual Susah masuknya, ternyata lebih nyusahin keluarnya. Hahahaha....

    BalasHapus